
Begitu acara lamaran selesai, Rumi dan Paman Elvano langsung pamit. Raisa pun mengantarkan kedua tamunya beranjak ke luar dari rumah.
"Hari ini sungguh mengejutkan. Aku tidak tahu harus bagaimana berkata-kata dan masih tidak menyangka," kata Raisa
"Yang harus kau tahu, ini adalah kenyataan dan bukan sekadar mimpi," ujar Rumi
Raisa pun tersenyum seiring hatinya yang menjadi hangat.
"Paman Elvano, aku sungguh berterima kasih karena kau sudah bersedia membantu kami sejauh ini," ucap Raisa
"Sudah sepatutnya aku turut membantu kalian," kata Paman Elvano
"Ucapanmu yang mengatakan sudah menganggapku seperti anak, apa itu benar?" tanya Raisa
"Tentu saja. Bahkan Aqila juga menganggapmu sebagai saudarinya sendiri," jawab Paman Elvano
Dianggap sebagai bagian dari keluarga oleh orang yang diidolakan dan dihormatinya sungguh membuat Raisa merasa terharu.
"Apa ini? Kau sudah mau menangis lagi hanya karena hal ini? Jangan menangis. Sudah cukup kau menangis saat di dalam rumahmu tadi. Jangan sampai kau membuat Rumi jadi ikut sedih karena kau," ujar Paman Elvano
Raisa pun terkekeh pelan.
"Aku sudah ingin melakukan ini dari lama. Paman Elvano, apa aku boleh memelukmu?" tanya Raisa meminta izin karena ingin memeluk Paman Elvano.
"Tidak ada yang salah dengan anak yang memeluk orangtuanya," kata Paman Elvano yang berarti memberi Raisa izin untuk memeluknya.
Raisa pun langsung berhambur ke arah Paman Elvano dan memeluk pria itu.
"Aku sangat senang bisa menjadi bagian dari keluargamu, Paman. Terima kasih karena sudah pernah memberiku nasehat untuk hubungan kami padaku dulu sampai kini kau bersedia membantu kami," ucap Raisa
Paman Elvano pun membelai lembut puncak kepala Raisa dengan perasaan kasih sayang dari seorang ayah.
Kalau saja tidak mengindahkan hubungan Raisa dan Paman Elvano yang sudah seperti anak dan ayah, Rumi pasti sudah dibuat cemburu dengan pemandangan kasih saat melihat Raisa memeluk Paman Elvano.
"Sudah kubilang, jangan menangis," kata Paman Elvano
"Aku tidak menangis. Aku hanya merasa sangat bahagia," ungkap Raisa yang masih dalam keadaan memeluk Paman Elvano.
Paman Elvano pun melepaskan pelukan dari Raisa.
Terlihat Raisa yang berusaha menahan air di sudut matanya agar tidak terjatuh. Paman Elvano pun menghapus ***** air di sudut mata Raisa itu.
"Sudah ... jangan terlalu lama memelukku. Nanti ada yang cemburu," ujar Paman Elvano
Lagi-lagi Raisa terkekeh kecil.
"Sekarang apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Raisa
"Kami akan menetap di sini untuk langsung mempersiapkan pernikahan kalian," jawab Paman Elvano
"Memangnya kalian sudah tahu persyaratannya?" tanya Raisa
"Syarat untuk menikah itu tidak jauh berbeda di dunia mana pun," ujar Paman Elvano
"Tapi, tetap saja ... dunia kita berbeda," kata Raisa
Raisa pun menatap ke arah Paman Elvano dengan serius.
"Apa maksudnya kau akan-" Raisa menggantungkan kalimatnya.
"Untuk itu aku ada di sini untuk membantu. Akan kulakukan meski harus memalsukan dokumen persyaratannya. Aku yang akan menanggungnya dan kujamin tidak akan ada yang menyadarinya," jelas Paman Elvano
*jangan ditiru, yah.
Raisa tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat itu hingga membuatnya melongo begitu saja.
"Yang benar saja ... itu perbuatan ilegal," gumam pelan Raisa
Raisa mematung. Di dunianya, mrnikah dengan Rumi memang sulit. Apa lagi Raisa sudah bilang ke semua orang bahwa Rumi berasal dari luar negara, yaitu Jepang. Namun, ia tidak menyangka bahwa akan menghalalkan perbuatan curang seperti memalsukan dokumen. Jika, ia sungguh ingin nenikah dengan Rumi di dunianya, tak ada cara lain selain mau tak mau mengikuti langkah yang dikatakan Paman Elvano.
"Apa yang harus kulakukan? Apa memang harus menggunakan cara yang seperti itu? Apa sudah tidak ada cara lain lagi?" tanya Raisa dengan suara pelan.
Baru kali ini Raisa dipojokkan oleh keadaan hingga harus melakukan hal yang tidak disukainya, yaitu kecurangan. Raisa benar-benar dihadapkan dengan jalan buntu.
Melihat Raisa merasa gelisah karena harus melakukan tindakan yang tidak disukainya, Rumi pun menggenggam tangan Raisa dengan erat. Raisa pun menatap lelali tampan itu dengan tatapan bingung.
"Raisa, kita sudah tidak punya cara lain lagi selain harus berbuat seperti yang Paman Elvano katakan. Apa kau menyesal dan jadi tidak ingin menikah denganku?" tanya Rumi
"Entahlah, Rumi. Aku jadi merasa bingung," jawab Raisa
"Tenang saja, Raisa. Sudah kubilang aku yang akan menanggungnya. Kau hanya perlu menunggu dengan tenang," kata Paman Elvano
"Alu sudah membawa dokumen asli milik Rumi untuk syarat pernikahan. Ada Kartu Pengenal (KTP), Surat (Akta) Kelahiran, Dokumen Rommy sebagai orangtua Rumi, dan lain-lain. Semuanya data asli, aku hanya perlu membuat orang-orang di sini percaya bahwa semua dokumen itu buatan asli dari duniamu dengan menggunakan sedikit jurus sihir ilusi. Kita tidak sepenuhnya berbuat curang, hanya sedikit saja," sambung Paman Elvano
"Tetap saja, kan-"
"Aku mengerti kalau kau berpikir ini tidak adil dan tidak ingin menggunakan caraseperti ini. Bagaimana pun juga ini bukan kecurangan sepele anak kecil yang mencontek saat ujian. Kau pasti merasa kau akan menipu orang dengan cara seperti ini, tapi seperti kata Rumi tadi ... sudah tidak ada cara lain lagi dan ini adalah satu-satunya cara," ucap Paman Elvano
__ADS_1
"Sudah kubilang aku yang akan menanggungnya dan melakukannya seorang diri. Sebagai wali dari Rumi, aku yang akan mengurusnya dan akan kujamin tidak akan ada yang menyadari dan tidak akan terjadi apa-apa. Kalian hanya perlu mempersiapkan diri untuk hari pernikahan nanti dengan tenang," sambung Paman Elvano
Raisa menenggelamkan wajahnya pada dada milik Rumi untuk bersembunyi dan menenangkan pikirannya. Kedua tangan Rumi pun merangkul tubuh Raisa dan mendekapnya dengan erat dan hangat.
"Aku tidak tahu. Aku akan melewatkan itu untuk sementara waktu," ucap Raisa
"Jangan memikirkan hal yang sulit dulu dan tenangkan dirimu," kata Rumi
"Ya. Jangan sampai kau merasa stress," sahut Paman Elvano
Raisa mengangguk di dalam dekapan Rumi. Lelaki tampan itu pun mengusap pelan punggung Raisa untuk menenangkannya.
Setelah merasa tenang, Raisa pun melepaskan diri dari dekapan Rumi.
"Benar juga. Aku harus menyiapkan tempat tinggal untuk kalian berdua yang ingin menetap di sini. Kalian berdua tidak bisa menginap di rumah ini karena Kak Raina bersama suami dan anaknya juga akan menginap di sini," ujar Raisa
"Bukankah kami bisa menggunakan vila keluargamu seperti biasa?" tanya Rumi
"Tidak bisa. Vila itu berada di luar kota. Tidak praktis jika harus terus membuka portal sihir teleportasi," jawab Raisa
"Aku akan mengantarkan kalian ke tempat lain," sambung Raisa
"Ke mana?" tanya Rumi
"Kau juga akan tahu begitu sampai di sana nanti," jawab Raisa dengan misterius.
"Ya. Ke mana pun itu, aku akan ikut. Karena terserah padamu," kata Paman Elvano
Mereka bertiga pun bersiap untuk pergi dengan memesan taksi online lebih dulu.
"Rumi, kau membawa ponselmu, kan?" tanya Raisa
"Tentu saja. Aku selalu membawanya saat datang ke sini," jawab Rumi
Rumi pun mengeluarkan ponsel yang sudah miliknya dan menunjukkannya pada Raisa.
"Bagus. Kali ini aku akan memgajarkanmu untuk memesan kendaraan dengan menggunakan ponsel. Kau sudah harus tahu cara bepergian di sini," ucap Raisa
Raisa pun merapatkan dirinya di samping Rumi dan kelas mengajar akan dimulai.
Raisa mengambil alih ponsel milik Rumi dan menunjukkan cara pemesanan kendaraan secara online.
"Aku akan memberi tahu padamu caranya. Ponsel ini pernah kupakai dulu, jadi aplikasinya masih lengkap. Pertama kau harus membuka aplikasi ini untuk memesan kendaraan. Setelah itu, pilih jenis kendaraannya. Untuk kali ini pilih mobil. Lalu, tulis alamatmu berada saat ini dan alamat tujuan," jelas Raisa sambil mengetikkan alamat keberadaan saat ini dan alamat tujuan.
"Ini sangat mudah. Namun, kau harus tahu alamat banyak tempat di sini. Kalau kau kesulitan, kau bisa bertanya pada orang sekitar atau mencari petunjuk lokasi dengan melihat papan jalan terdekat," sambung Raisa
"Kalau sudah berhasil dipesan, kita hanya perlu menunggu kendaraan menjemput," ujar Raisa
"Lihat, di sini tertera informasi plat mobil yang dipesan. Kita hanya perlu menunggu mobil dengan nomor plat ini datang menjemput. Plat kendaraan ada di bagian depan dan belakang kendaraan tersebut," sambung Raisa
Rumi mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Mereka bertiga pun menunggu mobil online yang dipesan hingga datang menjemput.
"Itu dia mobil yang dipesan sudah datang. Paman Elvano, kita akan naik mobil itu," ucap Raisa begitu melihat mobil online yang dipesan sudah datang.
"Baiklah," kata Paman Elvano
"Raisa, aku duduk bersamamu ya," pinta Rumi
"Baiklah. Kalau begitu, Paman Elvano, duduk di depan, ya," ujar Raisa
"Terserah saja," pasrah Paman Elvano
Raisa pun membukakan pintu mobil depan di samping pengendara untuk Paman Elvano masuk ke dalamnya.
"Silakan masuk dan duduk di dalam, Paman," kata Raisa yang mempersilakan Paman Elvano untuk lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih," ucap Paman Elvano
Raisa hanya mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Rumi telah membukakan pintu belakang mobil seperti yang Raisa lakukan dan mempersilakan gadis cantik itu untuk masuk lebih dulu.
"Silakan masuk, Nona Raisa yang Cantik ... " ujar Rumi
Raisa terkekeh kecil. Lalu, ia pun masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih, Tampan ... " ucap Raisa
Setelah Raisa duduk di dalam mobil, Rumi pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Raisa.
"Sudah semua, ya, Mba? Tujuan sesuai yang ada di aplikasi, kan?"
"Iya, Pak."
Setelah itu, mobil pun melaju menuju lokasi tujuan yang tertera di aplikasi pemesanan.
Setelah menempuh perjalanan dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka pun tiba di lokasi tujuan. Mobil pun berhenti.
__ADS_1
"Sudah sampai."
"Ya. Ayo, turun ... " kata Raisa
Raisa pun memanggil Paman Elvano yang duduk di jok depan samping pengendara sambil berbisik. Lalu, Raisa memberi tahu Paman Elvano cara membuka pintu mobil saat ia membuka pintu mobil belakang. Paman Elvano pun memperhatikan cara Raisa membuka pintu mobil. Begitu juga dengan Rumi.
"Kalian berdua, turunlah dulu," kata Raisa
Paman Elvano dan Rumi pun beranjak ke luar dari mobil.
"Pembayarannya sudah lunas, ya, Pak. Ini tambahannya," ujar Raisa sambil memberi uang sejumlah Rp.20.000 untuk sang supir.
"Ya. Terima kasih."
"Terima kasih kembali," ucap Raisa
Pembayaran memang telah dilakukan via transfer aplikasi dan Raisa juga menambahkan sedikit uang tip untuk sang supir.
Kimi mereka bertiga berada di kompleks perumahan. Dan di hadapan mereka adalah sebuah rumah berlantai dua.
Raisa mengeluarkan sebuah kunci dari tas wanita yang dibawanya dan membuka pintu rumah tersebut dengan kunci miliknya. Setelah kunci terbuka, Raisa pun membuka pintu rumah tersebut.
"Ayo, masuk ke dalam," kata Raisa
Mereka bertiga pun beranjak masuk ke dalam rumah tersebut.
"Maaf, kalau keadaan rumahnya kotor. Rumah ini masih belum ditempati siapa pun," ujar Raisa
"Aku akan membersihkannya segera," sambung Raisa
Di dalam rumah yang terlihat masih baru itu, ada banyak debu karena belum ditinggali. Raisa pun menggunakan kemampuan sihir elemen udaranya untuk mengangkat seluruh partikel debu dan mengeluarkannya dari dalam rumah.
"Raisa, kau menggunakan sihirmu di sini ... memangnya tidak takut terlihat oleh orang lain?" tanya Paman Elvano
"Di sini adalah kompleks perumahan baru. Masih belum banyak yang tinggal di sekitar sini. Jadi, aku tidak perlu khawatir. Namun, cara membersihkan rumah seperti ini juga sangat praktis," jelas Raisa
Meski pun terlihat baru, di dalam rumah itu telah diletakkan cukup banyak perabotan meski belum lengkap.
Di ruang tamu di sana telah terisi sofa, meja, dan televisi.
"Silakan duduk dulu di sofa," kata Raisa
"Omong-omong, ini rumah siapa, Raisa?" tanya Rumi
"Rumah ini milikku. Aku membelinya dengan upah pekerjaan yang kutabung selama ini. Tapi, karena aku masih tinggal bersama orangtuaku, rumah ini masih belum ditempati," jawab Raisa
"Kita bisa menggunakan dan tinggal di rumah ini setelah menikah nanti," sambung Raisa sambil berbisik.
"Aku jadi merasa tidak enak. Sebagai seorang calon suami harusnya aku yang membelikan rumah untuk kita tinggali nanti, tapi ini malah sebaliknya," ucap Rumi
"Sebenarnya rumah ini masih dalam tahap pencicilan alias belum lunas. Kau bisa membantuku melunasinya setelah kita menikah nanti," ungkap Raisa
"Kalau begitu ... baiklah," ujar Rumi
Mereka bertiga pun duduk di sofa bersama.
"Karena sudah ada di sini, ayo, kita bicarakan rencana selanjutnya," ucap Raisa
"Kalau begitu, ayo, mulai rencanakan pernikahan kalian secepatnya karena pasti prosesnya tidak mudah dan tidak cepat," ujar Paman Elvano
"Benar. Kalau memang seperti itu, besok kita langsung saja mengurus surat keterangan tempat tinggal untuk Rumi. Bilang saja Rumi yang akan tinggal di sini," ucap Raisa
"Karena aku sudah mengungkap jika Rumi adalah orang dari luar negeri, sebelum menikah harus memiliki tempat tinggal di dalam negeri dan mengurus suratnya," sambung Raisa
Paman Elvano mengangguk tanda mengerti. Rumi pun menyimaknya.
"Lalu, setelah mengurus surat keterangan tempat tinggal ... baru kita bisa mengurus surat keterangan yang menyatakan bisa menikah dengan warga lokal bagi Rumi ysng merupakan warga asing," ujar Raisa
"Dan setelah menikah nanti, Rumi juga harus mengurus kartu pengenal dalam negeri," sambung Raisa
"Ternyata prosesnya seperti itu," kata Rumi
"Seperti kata Paman Elvano, prosesnya mungkin akan lama. Apa tidak masalah Paman Elvano dan Rumi terus berada di sini dalam waktu yang lama?" tanya Raisa
"Memang harus begitu, kan. Tidak apa kok. Aku juga sudah mengajukan cuti pada Tuan Pemimpin Desa," jawab Rumi
"Ya, tidak masalah karena aku memang ingin membantu. Jadi, harus kuselesaikan sampai tuntas," jawab Paman Elvano
"Bagaimana dengan Bibi Sierra atau Aqila?" tanya Raisa
"Mereka sangat mendukungku," jawab Paman Elvano
"Syukurlah, kalau begitu ... " ujar Raisa
.
•
__ADS_1
Bersambung ...