Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
131 - Raisa Diculik!


__ADS_3

Selama liburan di Desa Daun kali ini, Raisa benar-benar merasa sibuk. Selain belajar cara menulis laporan misi bersama dengan Aqila dan Devan, Raisa juga mendapat misi bersama tim lainnya beberapa kali. Dari misi yang mudah sampai yang terbilang susah. Saat mendapat misi bersama tim Dennis, Marcel, dan Billy... Raisa harus memberi pengertian lebih untuk Rumi bahwa dirinya hanya pergi untuk menjalankan misi bersama tim tersebut. Walau Rumi bilang mengerti, Raisa masih menyadari bahwa lelaki itu sedang cemburu terbukti dengan wajahnya yang langsung berubah muram. Dan saat ada waktu, di malam hari... Seperti biasa, Raisa akan bertemu dengan Rumi tanpa diketahui yang lain untuk mempererat hubungan mereka walau terkadang keduanya hanya asik mengobrol topik yang tidak penting sekali pun.


Karena sudah tidak ada kewajiban untuk bersekolah lagi, liburan kali ini berlangsung cukup lama. Namun, Raisa juga masih harus kembali ke dunianya sendiri untuk menjalani kehidupan aslinya di sana. Saat waktunya sudah dirasa tepat, Raisa pun hendak berpamitan.


Pagi-pagi sekali, Raisa sudah bersiap untuk pulang ke dunianya. Barang yang akan dibawa kembali ke dunia asalnya pun sudah dikemas rapi. Saat masih mengingat-ingat yang mungkin terlupa, pintu utama rumahnya diketuk dari luar. Karena Raisa berpikir itu adalah Rumi, tanpa ragu dan memeriksa lebih lagi, Raisa pun membuka pintu rumahnya dari dalam. Senyuman ramah sudah siap mengembang, namun saat melihat siapa yang datang Raisa terkejut!


"Siapa kalian!?" Pekik Raisa terkejut dan bertanya. Pasalnya yang datang bukanlah Rumi atau orang yang dikenalnya dan tidak hanya seorang saja melainkan tiga orang asing sekaligus.


Senyuman yang sudah siap mengembang pun kembali pudar dan menghilang...


Raisa masih bersikap waspada. Ia masih berpikir positif, mungkin mereka yang datang adalah petugas desa yang tak dikenalnya dan diminta datang ke rumahnya.


"Siapa pun yang berada di rumah ini, harus ikut dengan kami!" Katanya dengan misterius.


"Kalian belum menjawab-- AKH!! Hhh~"


Belum usai Raisa berucap, ia sudah diserang hingga tak sadarkan diri. Raisa terjatuh dan segera ditangkap oleh salah satu orang asing misterius yang datang ke rumahnya.


Walau sudah menjaga sikap waspada, saat serangan datang tiba-tiba... Raisa masih tidak bisa mencegahnya hingga ia berhasil ditumbangkan. Walau begitu, tak sepenuhnya kesadarannya hilang. Karena kewaspadaannya, alam bawah sadarnya masih bekerja dan secara tak langsung Raisa mengirimkan sinyal darurat dengan kemampuan sihirnya.


"Lihat, apa masih ada orang di dalam!? Cepat!"


"Rumah ini tidak begitu luas, aku sudah memeriksa ke seluruh ruangan yang ada dan tidak ada orang lain lagi. Dia hanya tinggal sendiri di sini."


"Kalau begitu, ayo! Kita segera pergi dari sini sebelum ada orang yang menyadari keberadaan kita bertiga!"


Ketiga orang itu pun langsung melesat pergi dengan cepat. Dengan salah satu orang di antara mereka yang membawa Raisa yang sedang tak sadarkan diri.


...


Rumi sudah berpenampilan rapi hendak menghampiri Raisa di rumahnya. Namun saat hendak membuka pintu rumahnya, Rumi merasakan sesuatu... Begitu melihat telapak tangannya, Rumi melihat suatu tanda muncul di sana. Itu adalah bunga teratai dengan warna merah! Lambang sihir yang Raisa berikan seharusnya berwarna putih karena itulah lambang sihir miliknya, Bunga Teratai Putih... Namun, tanda yang muncul malah berwarna merah. Itu pertanda bahaya!


Melihat tanda bahaya itu, kewaspadaan Rumi pun meningkat! Dan yang pertama diingatnya adalah sosok Raisa...


Dengan terburu-buru, Rumi pun ke luar dari rumahnya. Saat hendak beralih ke rumah Raisa yang berada tak jauh dari rumahnya, Rumi menyadari bahwa ada yang baru saja pergi dari sana. Rumi pun menoleh dan menyapukan pandangannya bermaksud memeriksa sekeliling. Rumi pun melihat beberapa orang yang bepergian di kejauhan dan ia juga melihat sosok tak asing yang sudah sangat dikenalnya. Itu adalah Raisa!


Tanpa berpikir panjang lagi, Rumi langsung mengikuti jejak kepergian beberapa orang tersebut dan juga Raisa. Rasa khawatir di benaknya sudah tak bisa ditahan lagi! Rumi menyadari sosok Raisa yang pasrah saat dibawa pergi beberapa orang tak dikenal itu, pasti Raisa telah dipaksa dan kehilangan kesadarannya. Masih beruntung Raisa masih bisa menggunakan kemampuan sihirnya untuk memgirim sinyal pertanda bahaya.


"Raisa berada dalam bahaya! Pasti Raisa sendiri yang mengirim tanda bahaya itu!" Batin Rumi


Pikiran Rumi mulai kalut. Ia hanya bisa mengikuti kepergian orang-orang asing yang membawa Raisa. Namun, mungkin langkahnya yang mengikuti dari kejauhan di belakang dapat diketahui sekelompok orang asing itu, membuat mereka menghilangkan jejak kepergian mereka... Dengan bubuk mesiu dan peledak, orang-orang asing itu menghilangkan jejak mereka. Rumi yang sudah semakin mendekat ke arah mereka pun menyadari teknik penghilang jejak itu dan langsung melayangkan belatinya untuk mencegah kepergian mereka. Namun, bubuk mesiu berhasil diledakkan dan menimbulkan asap yang mengaburkan pandangan. Rumi pun memggunakan sihir elemen anginnya untuk menghilangkan keberadaan asap itu dengan meniupnya~ Saat asap menghilang jejak perginya orang asing yang membawa Raisa pun ikut menghilang. Ternyata, belati yang Rumi layangkan tak dapat mencegah perginya orang-orang asing yang membawa Raisa dan menancap asal di pohon yang ada di sekitar sana.


Sejak awal mengikuti para penculik itu pergi, Rumi memang ragu untuk menyerang. Karena takut setelah menyerang, para penculik tersebut malah mengancam keselamatan Raisa yang berada di tangan mereka atau serangannya salah sasaran dan menyasar pada Raisa yang mereka bawa. Ternyata, sesuatu yang buruk benar terjadi setelah Rumi mencoba menyerang dan kini ia malah kehilangan jejak para penculik yang membawa pergi Raisa itu.


Baru saja, Rumi ingin melanjutkan langkahnya untuk mencari Raisa dengan segala firasat dan instingnya... Morgan dan Aqila datang menemuinya.


"Rumi, kau ada di sini? Kami mencarimu!" Ujar Aqila


"Rumi, kau sudah tahu, bukan? Kau melihat tandanya?" Tanya Morgan


"Ya, Raisa dalam bahaya!" Jawab Rumi


"Apa?! Ternyata, itu Raisa? Pantas saja, saat aku menyadari tandanya muncul, aku langsung terbayang dan melihat Raisa dalam pikiranku! Apa ini maksudnya kita bisa langsung mengetahui seseorang yang berada dalam bahaya itu? Tapi, bagaimana bisa Raisa dalam bahaya? Dia kan bukan orang yang mudah dikalahkan?" Oceh Morgan penuh tanda tanya.


"Itu bisa saja terjadi jika dia tidak dikalahkan, tapi mendapat serangan dadakan. Raisa selalu bilang, belum banyak pengalaman bertarung. Dia pasti sulit mengatasi serangan mendadak." Ucap Aqila


"Aku harus segera pergi mencari Raisa!" Kata Rumi


Rumi hendak bergegas, tapi Aqila menahannya.


"Kita tidak boleh gegabah, kita harus menyusun rencana untuk menyelamatkan Raisa." Saran Aqila


"Aku tidak bisa tinggal diam! Aku sendiri melihat Raisa dibawa oleh orang-orang tak dikenal, Raisa diculik!" Panik Rumi


"Apa kau tahu, Raisa dibawa pergi ke mana?" Tanya Aqila


"Tidak. Sayangnya, aku kehilangan jejak mereka tadi." Jawab Rumi

__ADS_1


"Dengan kau yang kehilangan jejak, pasti penculikan Raisa sudah direncanakan. Dengan begitu, kita juga harus punya rencana untuk menyelamatkannya. Dan juga menurut katamu, penculiknya pasti tidak hanya satu orang saja. Karena itu, kita lebih memerlukan rencana yang matang." Ucap Aqila


"Kurasa, Aqila, ada benarnya. Kita harus menyusun rencana dan minta bantuan teman yang lain juga. Tenang dan sabarlah dulu, Rumi. Aku tahu kau khawatir. Raisa itu teman kita semua dan kita pasti akan bisa menyelamatkannya." Ujar Morgan


"Baiklah." Patuh Rumi setelah dapat bujukan.


"Kalau begitu, ayo! Kita temui teman-teman yang lain. Mereka semua juga pasti sudah melihat tandanya." Kata Morgan


Rumi mengangguk...


Sebelum berlalu pergi, Rumi lebih dulu menoleh pada arah terakhir saat melihat Raisa dibawa pergi. Setelah itu, ia pun bergegas mengikuti Aqila dan Morgan untuk berkumpul dengan teman lainnya.


"Raisa, tunggulah sebentar saja. Aku pasti datang untuk menolongmu. Kumohon, bertahanlah dan semoga kau baik-baik saja saat kita bertemu nanti." Batin Rumi


Aqila, Morgan, dan Rumi pun langsung memasuki Resto Cita Rasa Petir yang sudah seperti markas bagi mereka dan teman-temannya. Benar saja, di sana teman-teman yang lain sudah menunggu kedatangan mereka.


"Kalian bertiga, dari mana saja? Kami semua menunggu kalian dari tadi..." Ujar Chilla


"Tanda bahaya itu muncul lagi!" Kata Ian


"Mereka bertiga sudah datang dan sepertinya baik-baik saja. Berarti orang yang sedang dalam bahaya kali ini adalah..." Tebak Devan sambil menggantungkan ucapannya.


"Ya! Aku melihatnya sendiri, Raisa dibawa oleh tiga orang tidak dikenal. Aku kehilangan jejak mereka saat berusaha mengejar tadi. Kita harus menyelamatkannya dan kita butuh rencana." Ucap Rumi


"Ya ampun, Raisa! Hiks..." Sedih Amy


"Siapa yang sebenarnya mengincar Raisa?" Tanya Dennis


"Aku punya kemungkinannya!" Kata Rumi


"Langsung katakan saja." Timpal Billy


"Orang-orang itu kemungkinan adalah rekan target yang sempat kami lawan saat misi di Negara Petir. Mereka bergerak secara terorganisir dalam kelompok banyak anggota. Raisa sendiri yang melawan dan mengalahkan mereka saat misi sebelumnya. Kami juga sudah mencuri benda penting mereka. Ini adalah alasan mereka memculik Raisa. Mereka tidak mungkin menculik kami semua yang ada saat itu, jadi mereka hanya membawa Raisa yang berperan sebagai musuh besar yang sudah mengalahkan mereka untuk mengancam kita yang berusaha menghalangi tujuan mereka. Mereka bisa mengetahui keberadaan Raisa, mungkin karena sudah menaruh sihir pelacak pada tubuh Raisa saat pertarungan malam itu." Ungkap Rumi


"Untuk sekarang, hanya inilah kemungkinan besar alasan penculikan Raisa. Jadi, kita perlu rencana!" Kata Devan


---


..."Ah, tubuhku berat sekali! Ternyata, kaki dan tanganku diikat!" Batin Raisa yang baru aja tersadar dari pingsannya....


Walau sadar dirinya diculik, Raisa tetap tenang. Karena walau dirinya diikat, keadaannya sendiri masih utuh dan baik-baik saja. Itu tandanya, ia masih berguna dan mungkin akan dimanfaatkan untuk kepentingan si penculik. Raisa tak masalah dengan itu, karena masih banyak kesempatan untuknya melarikan diri. Sementara itu, ia masih akan mengikuti permainan si penculik karena kemungkinan bisa mengorek informasi penting dari sana...


"Oho! Gadis cantik, sudah bangun, rupanya!"


"Siapa kalian!? Di mana ini?! Untuk apa kalian membawaku ke sini?! Dasar pec*nd*ng! Kalau berani, lepas dan lawan aku! Jangan hanya diam saja!" Geram Raisa


"Diam kau! Di sini nyawamu dipertaruhkan, harusnya kau baik-baik dalam bersikap!"


"Untuk apa aku bersikap baik dengan penjahat pec*nd*ng yang beraninya hanya pada seorang gadis seperti kalian?! Cepat, lepaskan aku!" Kesal Raisa


"Kubilang, diam! Kalau saja bukan seorang gadis, sudah kuberi kau pelajaran! Kau masih beruntung, ketua ingin bertemu denganmu!"


"Aku tidak takut! Coba kulihat, seperti apa bos kalian? Pasti tak jauh tampang pec*nd*ngnya seperti kalian atau malah lebih parah! Tahunya hanya memberi perintah, tapi tak mau turun tangan langsung!" Remeh Raisa


"Ketua adalah orang yang berpengaruh tinggi! Dia tidak tidak sepadan untuk berurusan langsung denganmu yang hanya seorang gadis kecil yang congkak!"


Hanya melepas ikatan kaki tanpa melepas ikatan tangannya, Raisa dipaksa ikut untuk menemui orang yang merencanakan penculikan dirinya, yang disebut ketua. Saat membawa Raisa ke hadapan ketuanya, mereka menodongkan belati pada leher Raisa agar tidak banyak berkutik.


"Ketua, ini dia orangnya! Mau kita apakan dia?"


"Halo, gadis cantik?"


"Tidak usah basa-basi lagi! Katakan, apa tujuan kalian membawaku ke sini? Dan juga, cepat! Lepaskan aku!" Marah Raisa


"Tidak usah terburu-buru, kau masih berguna. Kau akan dijadikan umpan untuk menangkap tangkapan yang sebenarnya. Kau sendiri yang akan membawanya padaku dan akan dianggap menjadi pengkhianat oleh desamu sendiri. Sekarang katakanlah, kenapa kau yang hanya seorang gadis lemah berusaha menghalangi tujuan besar kami? Dan ada di mana barang yang kau curi tempo hari ini itu?"


"Tidak akan kuberi tahu! Sebaliknya, siapa yang berusaha kau tangkap selain aku?" Cecar Raisa

__ADS_1


"Sayangnya, kau di sini bukan untuk bertukar informasi denganku..."


"Kalau bukan karena ulahmu dan teman-temanmu malam itu, rencana kami akan berjalan mulus hanya dengan menunggu beberapa rencana lainnya. Sedikit lagi! Kalau bukan karena Dominic yang bodoh itu! Tapi, karena kau sudah ada di tanganku, rencana yang sempat tertunda itu akan berjalan sempurna. Dan pemimpin besar pasti akan memujiku dan memberiku hadiah besar!"


"Ternyata, masih ada orang lain di balik ini semua... Kalian sekelompok pec*nd*ng! Memangnya dengan kalian mengikatku, aku jadi tidak bisa berbuat apa-apa?! Percaya atau tidak, aku bisa membebaskan diri dari kalian!?" Kesal Raisa


Raisa pun mengunakan kemampuan sihirnya dengan mengeluarkan kobaran api dari kepalan tangannya hingga membakar habis tali yang mengikat pergelangan tangannya untuk membebaskan diri. Tak hanya itu, Raisa juga mengendalikan belati yang ditodongkan padanya untuk menyerang orang yang disebut ketua itu. Karena ketua mereka dalam bahaya, maka para bawahan lainnya tak mampu berbuat banyak.


"Hei, apa yang kau lakukan!? Jauhkan belati itu dari ketua!"


"Diam! Kalau kalian tidak ingin ketua kalian yang terhormat ini terluka, maka...! UKH!!" Ucapan Raisa terhenti karena darah yang mengalir ke luar dari mulutnya.


Karena terkejut saat memuntahkan darah, belati yang Raisa kendalikan terjatuh begitu saja...


"Ternyata sihir pengendali senjata! Hanya dengan beberapa teknik kecil, kau pikir kau sudah bisa bebas? Aku sudah memasukkan racun ke dalam tubuhmu selagi kau tak sadarkan diri. Aku punya rencana matang, kau pikir aku bodoh?!"


"Heh, hanya racun!? Kau pikir aku masih tidak bisa membebaskan diri dari pengaruh racun ini?!" Enteng Raisa


Ketua itu melangkah mendekati Raisa dan berbisik di telinganya.


"Jika kau masih mencoba berontak dengan membebaskan diri, maka jangan pikir lelaki tercintamu akan baik-baik saja!" Ketua penculik itu berbisik dengan seutas senyuman licik di wajahnya.


DEG!


Tubuh Raisa membeku setelah mendengar bisikan itu.


..."Kupikir, kenapa mereka menjadikanku umpan. Ternyata mereka menargetkan Rumi! Rumi dalam bahaya! Bagaimana bisa mereka tahu hubunganku dengan Rumi? Apakah ada mata-mata yang menyusup masuk ke Desa Daun? Atau bukan penyusup, melainkan pengkhianat!" Batin Raisa...


"Ketua, seperti yang diduga! Mereka mulai bertindak! Mereka sedang bergerak mencari ke mari." Laporan dari seorang bawahan.


"Ternyata, cec*ng*k itu masih berguna dengan terus melaporkan keadaan di sana. Jangan tunggu mereka datang dan merusak ke sini, kalian yang pergi dan jemput tangkapan kita yang sebenarnya!"


..."Benar-benar ada pengkhianat di desa! Rumi, semoga kau baik-baik saja..." Batin Raisa...


"Yang kumasukan ke dalam tubuhmu bukan hanya racun, melainkan juga pengaruh sihir ilusi pengendali yang akan memegang kendali atas tubuhmu. Kalau kau ingin kekasihmu baik-baik saja, maka diamlah. Kau cukup bawa dia ke mari dan menukar dirinya denganmu. Maka, kau akan bebas setelah itu. Aku akan menambahkan pengaruh sihir pengendali pada dirimu, kau cukup diam saja."


Ketua itu menyentuh kening Raisa untuk menambahkan pengaruh sihir ilusi pengendali atau yang lebih sering dikenal sebagai hipnotis. Raisa hanya diam menunduk tak berkutik, ia juga memejamkan matanya.


Sebelum pengaruh sihor pengendali itu benar-benar bekerja pada dirinya, Raisa membuka matanya dan mengangkat kepalanya serta menatap tajam ketua penculik di hadapannya...


"Apa pun yang kau lakukan padaku takkan berhasil! Baik itu sihir pengendalianmu padaku atau semua tujuan jahatmu akan gagal! Kau takkan pernah bisa memanfaatkan aku! Aku mau pun dia, takkan pernah bisa kau dapatkan! Camkan itu!" Gertak Raisa


"Kita lihat saja! Buktinya kau hanya bisa diam di tanganku sekarang."


"Benar, kita lihat saja nanti!" Kata Raisa


..."Akan aku lakukan apa pun untukmu, demi menyelamatkanmu. Tenang saja. Rumi, kau akan baik-baik saja." Batin Raisa...


Sihir ilusi pengendali telah selesai memengaruhi Raisa, kini tingkahnya seperti tak mengenali dirinya sendiri...


Bola mata Raisa menjadi buram karena efek sihir ilusi pengendali yang memengaruhi dirinya.


"Hahaha! Aku berhasil! Kini kau ada di bawah pengaruh kendaliku! Siapa yang tadi mengatakan ini akan gagal?"


Raisa hanya diam tak berkutik dengan tatapan kosongnya...


.



Bersambung...


Kutipan Author:》


"Halo, semua!


Author Dilawrsmr telah kembali!

__ADS_1


Sebelumnya, Author mau minta maaf karena telah HIATUS tanpa beri kabar setelah mengucapkan kesan dan pesan tahun baru 2022. Dikarenakan sakit yang kambuh mendadak, HP Author disita sama orangtua. Alhamdulillah, sekarang kondisi Author sudah pulih seperti biasa. Novel ini pun akan kembali update tiap 3hari/ episode."


__ADS_2