
Raisa pun berbalik beranjak pergi dari rumah Aqila kembali ke tempat yang lain tadi masih berkumpul.
Raisa melambaikan tangannya dari jauh dan menghampiri teman-temannya itu.
"Aku kembali! Kalau kalian ingin kembali pulang ke rumah masing-masing. Pulanglah." Ujar Raisa
Raisa berusaha bersikap santai sebisa mungkin. Padahal ia sedang merasa gelisah dan gugup. Mulutnya bisa saja berkata kembali pulang ke rumah masing-masing. Tapi, ia tak memiliki rumah di dunia itu dan masih harus menjaga Rumi di rumahnya.
"Raisa, bukankah kau pergi untuk mengambil tas milikmu? Lalu, di mana tasmu?" Tanya Ian
"Sudah kusimpan di dalam inti sihirku supaya tidak sulit membawanya." Ungkap Raisa
"Berarti kau akan ke rumah Rumi bersamanya ya?" Tanya Chilla
"Sepertinya begitu, aku kan sudah berjanji pada Ayahnya untuk menjaga Rumi." Jawab Raisa
"Minta tolong padamu untuk menjaga temanku yang satu ini ya, Raisa." Ucap Morgan
"Tenang saja, kupastikan akan aman!" Kata Raisa
"Kalau begitu, kita semua pulang saja. Sudah malam, pasti Ibuku sudah menunggu." Ujar Morgan
"Ya, mungkin aku juga akan dapat omelan Ibuku." Kata Devan
"Ya sudah, kita semua pulang saja. Kau dan Rumi berjalan perlahan saja menuju ke rumahnya." Ucap Morgan
"Kami pergi dulu!" Pamit Ian
"Sampai jumpa besok!" Kata Chilla
"Raisa, kuserahkan sisanya padamu!" Kata Devan
Yang dimaksud Devan adalah ia percayakan Rumi pada Raisa untuk menjaganya.
Morgan, Devan, Ian, dan Chilla pun pergi membali ke rumah masing-masing. Mereka meninggalkan Raisa dan Rumi berdua saja.
"Hmm, ayo! Rumi, kita menuju ke rumahmu. Kita jalan kaki saja." Ucap Raisa
"Baiklah." Patuh Rumi
Rumi meraih tangan Raisa untuk digenggamnya saat jalan beriringan berdua. Merasa sedikit terkejut, tapi Raisa hanya membiarkannya.
"Letak inti sihirmu yang tertera lambang sihir di tanganmu kan? Kau menyimpan tasmu di dalam inti sihirmu, apa tanganmu tidak merasa pegal?" Ujar Rumi bertanya.
"Tidak juga, aku harus terbiasa." Kata Raisa
Berjalan berdua di malam yang sepi. Beratapkan langit malam yang bermandikan cahaya bulan. Suasana malam yang sangat mendukung suasana menjadi lebih romantis. Raisa cukup menikmatinya walau sebenarnya ia merasa gugup dan gelisah di dalam hatinya. Ia menantikan saat-saat seperti ini. Tapi, di dalam hatinya masih terasa sedikit kosong. Walau ia sekarang sedang bersama dengan lelaki pujaan hatinya. Bagaimana pun mereka berdua masih hanya sekedar teman biasa, belum memiliki status pasti apa-apa. Berharap pun mereka akan tetap hanya bisa seperti ini saja. Seperti menjalin hubungan tanpa status.
Terasa sedikit menyakitkan, memang! Tapi, dengan begini pun sudah cukup membahagiakan bagi Raisa...
"Di mana rumahmu itu, Rumi? Sudah dekat atau masih jauh?" Tanya Raisa
"Seperti sebelumnya, apa kau sudah tau bagaimana rumahku dari mimpimu tapi tidak tau letak pastinya?" Ujar Rumi
"Ya, begitulah. Walau banyak yang kulihat di dalam mimpiku tapi semua mimpiku itu tidak menunjukkan secara rinci." Ungkap Raisa
"Rumahku tidak terlalu jauh kok. Kita akan segera sampai." Kata Rumi
"Sepertinya aku harus berkeliling di Desa kalian ini supaya aku bisa tau segala macam tempat di sini. Aku akan mulai kapan dan dengan siapa ya? Padahal aku ingin kau yang menemaniku berkeliling dan memanduku. Tapi, sepertinya kau masih harus banyak istirahat." Ujar Raisa
"Kalau begitu, tunggu aku pulih saja. Lagi pula, sebenarnya aku sudah baik-baik saja kok." Kata Rumi
"Baiklah... Baiklah! Aku akan menunggumu sampai kau bisa menemaniku saja. Sampai saat itu, nanti kau harus menemaniku berkeliling desa ini sepuasnya ya, Rumi!" Ucap Raisa
"Ya, aku berjanji!" Kata Rumi
"Baguslah. Sekarang, bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?" Ujar Raisa
"Setelah tubuhku diberi penawar racun, aku merasa sedikit aneh pada tubuhku. Tapi, sekarang aku sudah baik-baik saja." Jawab Rumi
Bibi Rina sampai meminta seseorang menjaga dan merawat Rumi saat telah sampai di Desa Daun, Raisa kira ada sesuatu pada kondisi tubuh Rumi. Makanya ia sanggup dan menerima tugas itu untuk menjaga Rumi. Saat ditanya, Rumi selalu menjawab dirinya sudah baik-baik saja. Tapi, Raisa kira itu hanya sebuah alasannya agar Raisa tidak merasa khawatir padanya. Jadi, Raisa terus memerhatikannya dan benar-benar akan menjaganya. Raisa tak tau bahwa memang Rumi sudah benar-benar baik-baik saja. Dan soal menjaga Rumi hanyalah rencana yang dibuat Bibi Rina agar Raisa dan Rumi menjadi lebih dekat dan mungkin juga bisa memastikan hubungan mereka berdua.
Setelah terus mengobrol ringan sambil diselingi canda tawa saat dalam perjalanan menuju rumah Rumi, mereka berdua akhirnya sampai di rumah Rumi.
Rumi pun mengajak Raisa memasuki rumahnya bersamanya. Setelah Rumi memutar kunci dan membuka pintu rumahnya, ia pun mempersilakan Raisa masuk ke dalam rumah bersama dengannya.
"Silakan masuk, Raisa." Ujar Rumi mengajak Raisa masuk ke dalam rumahnya yang sudah terlebih dulu ia masuki.
"Baik, aku masuk. Permisi..." Kata Raisa yang memasuki rumah Rumi.
"Selamat datang di rumahku yang sederhana." Ucap Rumi
"Terima kasih." Kata Raisa
__ADS_1
"Rumahku kecil dan sempit ya?" Tanya Rumi
"Tidak kok. Kau kan tinggal di rumah ini sendiri, jauh dari orangtua, dan membiayai hidupmu sendiri di sini. Kau memiliki rumah ini sejak kau pindah ke desa ini, rumah ini cukup luas jika untukmu tinggal sendiri di sini." Ujar Raisa
Setelah memasuki rumah Rumi, Raisa menatap ke sekeliling...
Setelah masuk dari pintu depan, ada sebuah ruangan yang terdapat sofa, lalu ada sebuah gang seperti koridor kecil yang menghubungkan langsung ke kamar tidur. Tanpa ada pintu penghubung ke dalam kamar terlebih dulu, itu langsung sebuah ruangan berisi ranjang kasur untuk satu orang. Ruangan tidur itu cukup luas namun tak terdapat banyak barang, hanya terdapat ranjang kasur, lemari pakaian, sebuah meja. Di dinding ruangan itu terdapat jendela kaca besar yang menghubungkan dengan luar rumah. Dari ruangan itu juga menghubungkan ke suatu ruangan di bagin paling dalam rumah itu. Yaitu, dapur dan kamar mandi di sisi sebelah kiri ruangan akhir itu.
Itulah rumah Rumi yang terlihat cukup luas namun tak banyak barang yang mengisi di segala ruangan pada rumah itu.
Sekarang Raisa,sudah berada di inti rumah itu, tempat beristirahat, yaitu ruang tidur Rumi. Bersama Rumi disana, ia baru sadar tempatnya berada setelah sibuk memperhatikan isi ruangan rumah tersebut.
"Raisa, kau bisa menaruh tas dan barang-barangmu di sana." Ucap Rumi menunjuk suatu sudut di dekat jendela kaca di ruang kamar tidurnya.
"Ah, ya, akan kuletakkan nanti. Sekarang apa yang kau butuhkan malam ini? Sebelum tidur, apa kau membutuhkan sesuatu?" Ujar Raisa bertanya.
"Tidak ada. Jika, sudah saatnya ingin tidur biasanya aku langsung tidur saja." Jawab Rumi
"Baik. Kalau begitu, sekarang aku mau menumpang ke kamar mandi dulu. Sebentar ya, Rumi." Kata Raisa
Raisa pun beranjak ke kamar mandi di rumah Rumi. Ia berlarian kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya, Raisa meletakkan tas pinggangnya di atas washtafel yang ada di sana. Di hadapan cermin washtafel tersebut, ia merenungkan sesuatu. Ia tak menyangka ada saat-saat seperti ini... Ia berada di rumah seorang lelaki dan hanya berdua dengan pemilik di dalam rumahnya! Dan lelaki itu adalah Rumi, lelaki pujaan hatinya sendiri!
..."Diberi tugas menjaga seperti ini, aku benar-benar melupakan satu hal! Walau rumah ini terlihat cukup luas tetap saja ini rumah untuk satu orang. Hanya ada satu ruang tamu sederhana, ruang tidur, dapur, dan kamar mandi ini. Itu pun hanya satu ranjang kasur! Lalu di mana aku akan tidur malam ini?! Aku benar-benar hanya fokus pada seseorang yang harus dijaga sampai melupakan hal sepele yang sebenarnya sangat gawat ini! Bagaimana ini!? Apa yang harus kulakukan!?!" Batin Raisa...
Raisa langsung menyalakan keran washtafel dan mencuci wajahnya. Guna untuk menjernihkan pikirannya yang kacau. Lalu, ia pun bercermin. Menatap pantulan bayangan dirinya yang ada di dalam cermin dan segera berpikir keras!
Di mana Raisa bisa tidur?
Ada sofa di ruang tamu. Tapi, yang namanya menjaga harus berada di dekat seseorang itu. Sangat tak mungkin ia tidur di ranjang kasur yang sama bersama pemiliknya dan tidur berdua. Padahal ruang tidurnya cukup luas... Ah, Raisa terpikirkan sesuatu! Ia akan menggunakan cara yang ada di pikirannya itu!
Raisa pun melanjutkan membersihkan dirinya di dalam kamar mandi tersebut. Menyempatkan berganti pakaian, ia pun ke luar dari kamar mandi dengan tak lupa membawa kembali tas pinggangnya.
Raisa pun ke luar dari kamar mandi dengan menyempatkan diri mengganti pakaiannya di dalam sana sebelumnya. Ia sempat mengeluarkan tas koper yang dibawanya di dalam inti sihirnya di sudut kamar mandi yang berlantai kering. Menganti pakaiannya dengan yang lebih santai dan simpel. Dengan atasan kaos sederhana dan celana train yang nyaman dipakai di malam hari untuk tidur. Walau nyaman ia masih harus terlihat sopan di rumah orang lain, apa lagi rumah seorang lelaki. Sebelum ke luar dari kamar mandi, tentu ia menyimpan kembali tas kopernya ke dalam inti sihirnya.
Raisa kembali menemui Rumi di ruang tidurnya. Ternyata Rumi sedang menunggu dirinya dengan duduk di tepi ranjang kasur.
"Kau belum tidur, Rumi?" Tanya Raisa
"Aku menunggumu." Jawab Rumi
..."Menunggu apanya?! Tidur tinggal tidur saja, untuk apa menunggu!?! Lagi-lagi dibuat salah paham dengan ucapanmu." Batin Raisa...
"Kau mengganti pakaianmu, Raisa?" Tanya Rumi
"Iya, supaya nyaman di malam hari. Kau juga bersihkanlah dirimu dulu sebelum tidur atau sekedar mencuci wajah. Dan sebaiknya kau menggunakan air hangat. Atau mau kusiapkan air hangat untukmu dulu? Sebentar, akan kusiapkan." Ujar Raisa
Raisa hendak berbalik pergi kembali ke kamar mandi. Tapi, Rumi sudah lebih dulu menahan tangannya agar tidak pergi. Raisa pun menoleh...
"Tidak usah kau yang siapkan untukku, biar aku sendiri saja. Aku akan menurutimu menggunakan air hangat. Tenang saja, aku tidak akan membantah." Ucap Rumi
Rumi pun beranjak ke kamar mandi meninggalkan Raisa sendiri. Raisa pun melakukan sesuatu hal lainnya...
Saat Rumi berada di dalam kamar mandi. Raisa melakukan sesuatu di dapur. Kamar mandi itu sendiri berada di ruangan yang sama dengan dapur, hanya dibatasi oleh dinding dan pintu di sisi sebelah kiri dapur tersebut. Raisa dapat mendengar suara air di dalam kamar mandi dan Rumi dapat mendengar suara dentingan alat makan di dapur. Namun, saat Rumi ke luar dari kamar mandi, ia tidak melihat Raisa di dapur. Padahal ia yakin dan mendengar suara yang pasti adalah Raisa yang berada di dapur.
Rumi pun mencari keberadaan Raisa. Rumi kembali ke ruang tidurnya, ternyata Raisa ada di sana. Dengan membelakangi posisinya yang datang dari dapur, Rumi pun menghampiri Raisa.
"Raisa, kau sedang apa? Apa kau tadi habis dari dapur?" Tanya Rumi
"Ya, aku habis membuat susu di dapur. Ini, kubuatkan satu gelas juga untukmu." Jawab Raisa yang berbalik menghadap Rumi.
Raisa pun memberikan segelas susu putih hangat di satu tangannya yang lain pada Rumi. Rumi pun menerima pemberian dari Raisa...
"Kau sudah tau sebelumnya kan? Aku meminum susu sebelum tidur. Kau juga coba dan minumlah. Ini rasanya manis dan hangat." Ujar Raisa
Raisa pun lebih dulu menenggak susu putih hangatnya sampai habis. Melihat itu, Rumi pun ikut menenggak susu putih pemberian Raisa untuknya itu.
"Bagaimana rasanya? Enak, bukan?" Tanya Raisa yang menanyakan susu buatannya pada Rumi.
Rumi menatap Raisa yang terlihat antusias menantikan jawaban darinya. Ia pun tersenyum... Lalu, tangannya terulur~
Rumi mengulurkan tangannya untuk membersihkan jejak bekas susu pada ujung atas bibir Raisa yang lembut. Setelah mengusap bekas susu di ujung atas bibir Raisa dengan menggunakan ibu jarinya, Rumi memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut untuk mengecap dan menjilatnya.
"Kau benar! Rasanya sangat manis dan hangat." Ungkap Rumi
Bluuushh!~
Pipi Raisa merona sangat merah melihat perlakuan Rumi tepat di depan matanya.
..."Rumi, mengusap bekas susu di bibirku dan mencicipnya sendiri? Apa maksudnya itu!?! Dia mau menggodaku?! Sejak kapan dia belajar perbuatan seperti ini!?" Batin Raisa...
Raisa mengerjapkan benerapa kali matanya dan menggelengkan kecil kepalanya untuk menjernihkan pikiran.
__ADS_1
"Uhm... Ah! Aku sudah mengupaskan beberapa buah, ada di atas meja samping ranjang kasurmu. Kau makanlah." Ucap Raisa yang sudah langsung membalikkan badannya dan memunggungi Rumi.
Rumi menoleh ke arah meja sampung ranjang kasurnya. Terdapat sepiring berisi potongan buah-buahan di sana.
"Baik. Akan kumakan." Kata Rumi
"Aku akan melakukan sesuatu." Ujar Raisa yang beranjak pergi meninggalkan Rumi.
Raisa menuju ruang tamu dan tak butuh waktu lama ia kembali ke ruang tidur Rumi.
"Kau melakukan apa?" Tanya Rumi
Raisa mengulurkan tangannya. Menggunakan sihirnya dan dari tangannya itu ke luar benda besar yaitu sofa Rumi. Raisa meletakkan sofa milik Rumi ke sebelah ranjang kasur.
"Aku memindahkan sofa yang ada di ruang tamu ke mari. Tidak apa kan?" Ujar Raisa
Di ruang tamu sebelumnya, Raisa menyimpan sofa sebesar itu ke dalam inti sihirnya. Dan saat di ruang tidur, ia mengeluarkan kembali sofa yang ia simpan ke dalam inti sihirnya di samping ranjang kasur milik Rumi. Inilah ide Raisa supaya ia bisa tidur di dekat Rumi untuk menjaganya tapi tidak di tempat tidur yang sama. Yaitu, dengan memindahkan sofa ke samping ranjang kasur.
"Untuk apa?" Tanya Rumi
"Aku akan tidur di atas sofa ini. Karena aku tidak mungkin tidur di ranjang kasur bersamamu juga." Jawab Raisa
Rumi melihatnya dan membiarkannya. Padahal ia pernah tidur bersama di samping Raisa saat Raisa tak mrngetahuinya. Tapi, ia tak mungkin mengungkapkan hal itu pada Raisa karena di hari itu memang ia sembunyikan dari Raisa.
Rumi melihat ruangan tidurnya. Selain sofa yang dipindahkan Raisa yang berada di sana, juga ada tas ransel yang pasti adalah milik Raisa.
"Raisa, tas itu milikmu kan? Bukankah katanya kau mempunyai dua tas selain tas pinggangmu. Lalu, mana satu tas lainnya?" Tanya Rumi
"Ada. Masih tersimpan di dalam inti sihirku. Akan aku ke luarkan nanti." Jawab Raisa
..."Barang yang di dalam tas itu adalah kebutuhanku yang lain, sedangkan isi tas yang masih tersimpan di dalam inti sihirku adalah pakaianku. Walau masih berada di dalam tas koper, mana mungkin aku meletakkan suatu yang berisi pakaian gadis di sembarang tempat milik lelaki?" Batin Raisa...
Raisa terduduk di sofa yang sudah diletakkan di samping ranjang kasur, sedangkan Rumi duduk di tepi ranjang kasurnya. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
Raisa merasakan sesuatu yang menggeliat di kakinya, seketika ia menegang. Raisa pun mengulurkan tangannya untuk mencekal tangan Rumi, ia sedikit merasa takut. Lalu, ia melihat ke arah bawah. Melihat apa yang ada di kakinya. Tubuhnya kembali melemas saat melihat itu adalah ular sihir milik Rumi. Ia tak perlu khawatir soal itu...
"Kukira apa yang ada di kakiku. Ternyata itu ular sihirmu. Hampir saja aku menubruk tubuhmu karena takut!" Ucap Raisa
"Kukira kau memegangi tanganku karena apa, ternyata kau merasa takut. Tapi, kalau kau memang mau memeluk tubuhku juga tidak apa..." ujar Rumi
Rumi pun langsung menarik tangan Raisa yang mencekal tangannya agar Raisa jatuh ke dalam pelukannya. Satu tanggannya yang lain pun mendekap erat tubuh Raisa.
"Aku sedikit takut karena merasa ada sesuatu yang aneh pada kakiku. Tapi, sekarang sudah tidak apa karena kutau itu ular sihirmu. Kau bisa melepaskanku, Rumi." Ungkap Raisa yang sebenarnya terkejut karena Rumi tiba-tiba memeluknya.
"Walau kau tidak merasa takut pun aku ingin memelukmu." Kata Rumi
"Lagi pula, kenapa kau mengeluarkan ular sihirmu itu?" Tanya Raisa
"Ular itu sengaja kutinggalkan di sini untuk mengawasi rumah." Jawab Rumi
Tiba-tiba saja Rumi melepaskan dekapannya pada Raisa.
"Walau ada ular itu yang mengawasi rumahku, aku tetap membutuhkanmu untuk menjagaku setidaknya untuk malam ini saja." Ucap Rumi
Raisa pun mengulurkan tangannya untuk memastikan suhu tubuh Rumi pada keningnya.
"Apa demammu muncul lagi? Apa racun masih bersarang di dalam tubuhmu? Kenapa kau khawatir berlebihan? Kenapa kau terus bersikap aneh?" Heran Raisa bertanya.
Raisa kira ada sesuatu yang terjadi pada Rumi yang membuatnya bersikap aneh dan merasa khawatir. Namun, suhu tubuh Rumi normal. Ia baik-baik saja...
"Aku tidak bisa bilang, kau yang menjagaku hanyalah rencana Rina. Agar kau tetap bersamaku supaya kita bisa semakin dekat. Sebenarnya aku sepenuhnya baik-baik saja. Kurasa ini adalah keegoisanku saja." Batin Rumi
"Kau tidak apa-apa. Tenang saja, sudah kubilang akan menjagamu. Kau tak usah khawatir." Ujar Raisa
"Hmm... Baiklah." Kata Rumi
"Bersiaplah untuk tidur. Aku akan tetap di sini." Tutur Raisa
"Baiklah." Patuh Rumi
Rumi pun mulai merebahkan tubuhnya di ranjang kasur.
"Pejamkan matamu. Aku akan menjagamu di sini." Kata Raisa
Perlahan, Rumi pun mulai memejamkan matanya untuk segera tidur. Raisa ikut merebahkan dirinya di sofa dengan tetap menghadap ke arah Rumi untuk memerhatikannya. Ia pun mulai memejamkan matanya.
Perlahan, keduanya pun terbuai ke dalam alam mimpi.
.
•
Bersambung...
__ADS_1