Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 145 - Negosiasi Ancaman.


__ADS_3

Rumi dan anggota tim lainnya sedang istirahat sejenak sebelum melanjutkan misi.


Pria itu sedang memandangi setangkai bunga mawar merah pemberian dari sang istri yang selalu dibawa olehnya. Ia merasa cukup dekat dengan sang istri tercinta hanya dengan memegang dan memandang setangkai bunga mawar merah itu meski nyatanya terpisah jauh san sangat rindu.


"Kukira apa yang selalu kau bawa dan kau pandang itu, ternyata bunga mawar," ujar Morgan


"Kenapa kau berubah jadi mellow dan menyukai hunga, Rumi?" tanya Devan


"Ini adalah bunga yang diberikan oleh Raisa untukku. Aku ingin selalu membawanya karena membuatku merasa dekat dengan istriku," ungkap Rumi


"Rumi pasti sedang merasa rindu dengan Raisa," kata Chilla


"Ian, apa kau tahu cara merawat bunga agar bertahan hidup dengan lama? Bukankah bibi Irene punya toko bunga? Pasti kau juga cara menjaga dan merawat bunga seperti ibumu, kan?" tanya Rumi


"Rumi, aku adalah seorang lelaki yang tidak paham dengan hal yang berbau wanita. Lagi pula, yang punya dan suka merawat bunga adalah ibuku dan bukan aku. Maaf, aku tidak bisa beri bantuan tips untukmu," jelas Ian


"Kau mungkin salah bertanya dengan Ian, Rumi. Kecuali kau bertanya pada pacarnya, Monica, karena adik Morgan itu punya hobi mengoleksi dan merawat bunga," ucap Aqila


"Ya, kau benar, Aqila. Setelah kembali ke desa nanti, aku akan langsung bertanya pada Monica saja," kata Rumi


Rumi tersenyum sambil memandangi setangkai bunga mawar merah itu, lalu kembali menyimpannya karena setelah ini ia dan yang lainnya akan kembali melanjutkan menjalankan misi.


---


Karena ingin makanan kuah yang hangat, Monica mengajak Raisa untuk makan sajian mie. Selain menyukai burger seperti sang kakak, Monica juga suka makan mie seperti sang ayah.


Saat ini Raisa dan Monica sedang makan makanan yang bernama mie bangsawan di salah satu kedai makan di pasar kuliner Desa Daun. Kenapa dinamakan mie bangsawan? Karena sajian mie ini memiliki banyak topping lezat yang kaya akan rasa yang unik dan karena dulu biasanya mie disebut sebagai makanan rakyat jelata, sang penjual sengaja menambahkan kata bangsawan untuk sajian mie yang dijual olehnya.


Sebenarnya, Raisa pun bukan karena hanya alasan saat musim dingin baru ingin makan makanan berkuah yang hangat, tapi juga memang karena masih pada masa datang bulannya, Raisa hanya merasa lebih nyaman di perutnya saat makan makanan dengan kategori tersebut.


Usai makan mie bersama, Raisa dan Monica beralih dari kedai mie. Beranjak mencari lokasi tujuan lain.


"Setelah ini kita mau apa dan ke mana lagi? Apa masih mau lanjut makan yang lain?" tanya Monica


Raisa mengangguk kecil sebagai ganti jawaban atas pertanyaan dari adik perempuan Morgan itu. Monica pun terkekeh pelan.


"Kak Raisa, ingin makan apa lagi?" tanya Monica


"Karena tadi makan mie tidak dengan nasi, rasanya masih belum puas. Kalau ingin kenyang tanpa makan nasi, jawabannya adalah makanan manis," jawab Raisa


"Apa spesifiknya makanan manis itu? Di sini juga banyak terdapat makanan manis. Apa Kak Raisa ingin aku yang merekomendasikannya lagi?" tanya Monica


"Aku tetap ingin makanan manis yang hangat. Aku ingin makan bubur. Bubur kacang merah atau bubur jagung ... atau mungkin keduanya," ungkap Raisa


"Rupanya memang jalan-jalan kita kali ini adalah wisata kuliber malam. Apa Kak Raisa masih sanggup makan kedua bubur itu setelah kita makan mie tadi?" tanya Monica


"Tidak juga, tapi jika aku memang sangat ingin keduanya maka aku akan pesan masing-masing setengah porsi bubur. Jadi, apa ada kedai yang menjual dua jenis bubur itu secara bersamaan?" tanya balik Raisa usai menjawab.


"Ada. Itu adalah kedai bubur manis gurih. Letaknya berbeda blok dari sini. Kita harus jalan sedikit jauh," ungkap Monica


"Tidak apa, bukan masalah. Ayo, kita ke sana," kata Raisa


Keduanya pun mulai kembali berjalan sambil mengobrol bersama.


"Kak Raisa, sedang ingin makan ini dan itu. Apa mungkin Kak Raisa sedang hamil?" tanya Monica


"Jika saja memang benar, tapi nyatanya tidak. Tapi, membayangkannya lucu juga, mungkin nantinya aku akan merengek minta dibelikan ini dan itu pada Rumi," jawab Raisa


"Maaf, Kak. Aku bukan bermaksud ingin menyinggung perasaan Kak Raisa dengan membahas masalah kehamilan," kata Monica yang merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa kok. Lalu, bagaimana dengan Aqila? Apa kakak iparmu itu sudah mengandung? Kalau iya, bukankah berbahaya kalau menjalankan misi saat sedang mengandung?" tanya Raisa


"Masih belum. Katanya, kak Morgan dan kak Aqila ingin menunda punya anak karena masih ingin merasakan rasanya menjalankan misi bersama pasca menikah. Padahal keduanya sudah sering menjalankan misi bersama sejak dulu dan belum atau sudah menikah pasti rasanya sama saja," ungkap Monica


"Mungkin mereka berdua memang tidak ingin terburu-buru. Lalu, bagaimana denganmu, Monica? Kapan rencananya kau ingin menikah dengan Ian?" tanya Raisa


"Aku juga tidak ingin terburu-buru, Kak. Saat ini yang sedang mempersiapkan pernikahan adalah kak Devan dengan pacarnya, kak Yolanda. Kak Amon dan kak Sanari juga mulai merencanakan untuk menikah," jawab Monica


"Sudah ingin menikah pun Devan masih saja pergi menjalankan misi dan ternyata kau didahului olehnya. Padahal kaulah yang mendapat lemparan bunga saat pernikahanku dengan Rumi. Mungkin berkah bunga itu tidak cukup besar karena kau membaginya menjadi dua dengan Sanari karena kalian menangkapnya secara bersamaan. Sudah terbagi dua pun kau masih membaginya menjadi dua lagi dengan Ian karena dia adalah pacarmu. Jadinya malah Sanari yang lebih dulu merencanakan pernikahannya dengan Amon," ujar Raisa


"Lempar bunga saat pernikahan hanya tradisi kegemaran. Meski orang tua mengatakan itu memiliki berkah untuk segera menikah bagi yang mendapatkan bunganya, tapi aku tidak terlalu percaya dengan itu dan aku pun tidak membebani diriku dengan target untuk segera menikah," ucap Monica


"Kau benar, Monica. Aku pun tadi hanya sembarang beropini saja," kata Raisa


Saat sedang terus berjalan bersama, Raisa dan Monica menemui adanya penghibur jalanan keliling yang menampilkan sedikit aksi sirkus badut dengan iringan tabuhan drum. Keduanya pun secara otomatis berhenti sejenak untuk melihat pertunjukan jalanan tersebut.


Lalu, Raisa dan Monica sama-sama menyumbangkan uang yang dimasukkan ke dalam topi yang tergeletak di tanah sebagai bayaran karena telah ikut menyaksikan pertunjukan jalanan tersebut.


"Ayo, kita lanjut jalan lagi, Kak," ajak Monica


"Ya, ayo ... " kata Raisa


Raisa dan Monica pun kembali lanjut berjalan meski pertunjukan yang disaksikan di jalanan itu belum berakhir hingga usai.


Setelah cukup jauh melewati pertunjukan jalanan, keduanya tiba di titik sepi pada jalan tersebut. Hingga akhirnya keduanya berhenti berjalan saat tiba-tiba butiran salju turun dari langit. Kedua perempuan itu sama-sama terdiam sambil menadahkan tangan serta pandangan ke langit malam.


Raisa terhanyut dalam ingatan saat sebelum menikah dengan Rumi. Wanita itu teringat saat mengalami salju pertama bersama pria yang dicintainya itu. Wanita cantik itu jadi merindukan pria yang telah menjadi suaminya itu.


Berusaha menepis rasa rindunya, Raisa jadi teringat dengan keponakan perempuannya. Teringat bahwa keponakannya ingin melihat suasana tempat yang bersalju dan ia bahkan telah berjanji untuk membawa keponakannya untuk melihat momen bersalju. Bahkan Raisa juga ingat kalau Farah juga ingin menyaksikan pertunjukan jalanan seperti yang disaksikannya bersama Monica tadi.


"Salju pertama turun sedikit terlambat. Biasanya pada waktu ini tanah sudah dipenuhi dengan tumpukan salju atau bahkan berubah beku menjadi es. Musim panas kemarin juga berlangsun lebih lama dari biasanya. Mungkin karena itulah salju turun terlambat," ucap Monica


"Kak Raisa, kenapa hanya diam? Apa Kakak sudah merasa kedinginan? Apa kita kembali pulang saja?" tanya Monica karena Raisa terus terdiam dalam waktu yang agak lama.


"Tidak apa, kita lanjutkan saja jalannya. Rasa dingin akan hilang saat kita makan sesuatu yang hangat," sambung Raisa


"Baiklah. Ayo, kita jalan lagi," kata Monica


Raisa pun mengangguk tanda setuju. Ia pun melanjutkan berjalan bersama Monica.


Namun, baru beberapa langkah, keduanya kembali terhenti saat melihat ada lempengan tanah yang melayang di langit, dari kejauhan di atas dan terus turun hingga mendekat ke arah Raisa dan Monica.


Itu bukan lempengan tanah biasa atau kejadian aneh lainnya, melainkan adalah jurus sihir. Saat lempengan tanah itu sampai ke hadapan Raisa dan Monica, ternyata ada seseorang yang seolah berkendara di atasnya.


Sejak saat melihat lempengan tanah di langit itu melayang turun mendekat, Raisa sudah mengambil posisi siaga dan berjaga sambil menggenggam tangan Monica seolah bertekad untuk melindungi gadis itu.


Memang, sejak saat salju turun secara tiba-tiba dan teringat pada sang suami dan keponakan perempuannya, Raisa sudah merasakan keganjalan yang tidak mengenakkan di dalam hati akan adanya firasat buruk. Dan itu semua terjawab sudah saat melihat sosok yang seolah menunggangi dan mengendarai lempengan tanah yang mengapung di udara itu dengan jurus sihir.


Raisa bahkan mendelikkan kedua matanya dengan sangat tajam saat mengenali wajah orang yang datang dengan lempengan tanah sihir itu. Ia adalah sosok yang berbahaya. Salah satu dari bagian dari banyaknya Sang Dewa.


Raisa semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Monica karena ingin berusaha memberi rasa perlindungan pada gadis itu saat sosok misterius yang satang dengan cara misterius itu tersenyum tipis ke arah keduanya. Namun, senyuman itu seolah tampak seperti seringai jahat.


"Kak Raisa, siapa orang itu? Kenapa dia seolah mengenali kita?" tanya Monica


Raisa tetap diam sambil menatap dengan tajam ke arah orang misterius sebagai salah satu Sang Dewa itu. Ia merasa tidak bisa menjawab pertanyaan Monica saat situasi berbahaya itu dan hanya sibuk berpikir di dalam benaknya.


..."Bagaimana ini? Mau lari pun akan dikejar. Mau minta bantuan pun kerumunan orang yang menyaksikan pertunjukan jalanan tadi sudah pada bubar karena selertinya,pertunjukan itu telah usai, apa lagi tempat pertunjukan tadi itu cukup jauh dari sini, lagi pula jika meminta bantuan bisa saja malah membahayakan orang lain. Tapi, di sini ada Monica. Jika saja aku sedang sendiri, akan lebih mudah. Aku tidak ingin Monica sampai berada di dalam bahaya karena sosok Sang Dewa itu," batin Raisa...


"Apa yang harus kita lakukan, Kak?" tanya Monica saat menyadari sedang dalam situasi yang berbahaya.

__ADS_1


"Halo, Sang Dewi dan Putri Suci." Sosok yang dikenal oleh Raisa sebagai salah satu Sang Dewa itu mulai membuka suara.


"Kenapa kalian berdua tidak menjawab salam dariku? Tidak sopan jika kalian mengabaikan orang yang bersikap ramah," ujar Sang Dewa


"Kau adalah tamu yang tak diundang. Aku bukan seorang Dewi," pekik Raisa


"Namun, kau adalah manusia yang memiliki jiwa seorang Dewi yang telah berenkarnasi pada tubuhmu. Dan yang sedang bersamamu adalah seorang Putri dari keluarga bangsawan Dewa-Dewi yang memiliki mata suci. Maka dari itu, aku memanggil kalian dengan sebutan Sang Dewi dan Putri Suci. Kedua sebutan itu lebih enak didengar," ungkap Sang Dewa


..."Apa yang sebenarnya dia inginkan hingga mendatangi kami? Andai saja aku tidak sedang bersama Monica. Tidak! Dia tidak mungkin ingin membawa pergi Monica, kan? Dulu bibi Hani saja pernah diculik olehnya karena merupakan keturunan langsung keluarga bangsawan Dewa-Dewi. Apa Sang Dewa ingin mempersunting Monica seperti dulu ingin mempersunting bibi Hani? Gagal mendapatkan bibi Hani, apa dia mengincar putrinya?" batin Raisa bertanya-tanya....


"Kami berdua tidak memiliki urusan apa pun denganmu. Maka, pergilah dari sini!" seru Raisa


"Kalian berdua tidak punya urusan denganku, tapi akulah yang punya urusan denganmu, Dewi-ku. Hanya dengan dirimu, Sang Dewi," jelas Sang Dewa


Raisa terperanjat mendengar bahwa Sang Dewa memiliki urusan dengannya.


..."Tidak mungkin. Sang Dewa menginginkan ... yang dia inginkan adalah aku? Namun, itu tetap tidak boleh terjadi. Tidak bisa dibiarkan!" batin Raisa...


"Tenangkan dirimu, Dewi-ku. Jangan menatapku dengan tatapan yang tajam seperti itu. Ikutlah denganku. Ayo, kita bicara baik-baik," ucap Sang Dewa


"Tidak! Tidak boleh! Kak Raisa tidak boleh pergi dari sini! Kau saja yang pergi!" seru Monica


"Tenanglah, Monica. Biar aku saja yang bicara dengannya," kata Raisa


"Baik, Kak," patuh Monica


"Kak Raisa pergi bersamaku. Jika terjadi apa-apa dengannya akulah yang harus bertanggung jawab. Aku tidak boleh membiarkan Kak Raisa pergi atau dibawa pergi oleh orang itu! Kak Raisa harus pulang bersamaku. Tapi, Kak Raisa menyuruhku diam bahkan dia mencekal tanganku dengan sangat erat. Sudah jelas, dia berusaha melindungiku. Ternyata, aku hanya menjadi beban bagi Kak Raisa. Apa yang harus kami lakukan? Orang itu sepertinya bukan orang yang baik," batin Monica


"Aku tidak akan pergi dari sini tanpa izin dari suamiku dan lebih tidak akan pergi denganmu. Lebih baik kau pergi. Kau tahu ... aku sudah memiliki suami. Aku adalah seorang wanita bersuami," ucap Raisa


Sang Dewa itu tersenyum. Senyum yang mengejek.


"Aku memang sudah tahu tentang fakta itu dan sepertinya kau juga sudah tahu tentang apa yang pernah terjadi dahulu. Jika kau tidak ingin pergi bersamaku, apa aku harus membawa Putri Suci itu pergi bersamaku untuk menggantikan dirimu? Ya, siapa pun di antara kalian berdua yang ikut denganku, aku tidak akan merasa kerugian," ujar Sang Dewa


"Tidak! Kuperingatkan dirimu, jangan macam-macam atau menyentuhnya dan jangan mengancamku!" seru Raisa


Inilah yang Raisa takutkan. Sang Dewa itu sangat licik!


"Itu bukan ancaman dan tentu, aku tidak akan macam-macam, makanya aku hanya sedang bernegosiasi dengan kalian berdua. Salah satu dari kalian, ikutlah denganku, maka yang satu lainnya bisa tetap berada di sini." Sang Dewa itu memberikan pilihan yang memaksa.


"Waktunya tidak banyak. Kalian, bawa dia!" Sang Dewa mengeluarkan perintah.


Tiba-tiba orang-orang yang mengenakan jubah putih yang sama seperti yang digunakan Sang Dewa muncul seketika dalam sekejap waktu. Mereka seolah mengepung dan hendak merampas paksa.


"Tidak!" teriak Monica memecah keheningan malam yang dingin di jalan sepi itu.


"Jangan sentuh Monica, biarkan dia pergi. Bawa saja aku!" seru Raisa yang tak punya pilihan lain.


"Tidak ... jangan, Kak Raisa. Tidak ada salah satu dari kita yang boleh ikut dengannya atau pergi dari sini. Kita berdua pasti bisa lolos dari mereka semua," ucap Monica


"Maka, akan timbul kekacauan di tempat ini dan masalah akan menjadi lebih rumit dan panjang. Biar aku pergi dengannya. Tidak perlu merasa khawatir dan kau hanya perlu selamatkan dirimu," ujar Raisa


"Tapi, Kak Raisa, akan berada dalam bahaya," kata Monica


Kini berganti Monica yang menggenggam tangan Raisa dengan erat seolah tidak akan membiarkannya pergi. Gadis itu mulai merasa gelisah, gentar, dan panik.


Mungkin Monica sudah akan menangis jika saja tidak ditahan air matanya itu. Namun, Raisa hanya tersenyum dengan lembut dan hangat.


.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2