Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 13 - Mimpi dan Firasat.


__ADS_3

"Sepertinya benar kata Raisa ... kita hanya bisa tenang selama kurun waktu 5 tahun. Setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda Sang Dewa akan menyerang, ternyata ... hanya berselang 4 tahun tanda-tanda peenyerangannya muncul kembali," ujar Tuan Rafka


"Kita harus mengungsikan para warga untuk melindungi mereka semua. Terutama kita harus melindungi Rumi yang masih menjadi incaran dan Raisa yang saat ini sedang berada di sini," ucap Tuan Nathan


•••


Raisa merasa sunyi karena sedang berada di dalam ruang hampa yang gelap dan sepi karena tidak ada siapa pun di sana selain dirinya.


"Di mana ini?"


Raisa berjalan ke sana ke mari untuk mencari sesuatu yang mungkin akan ditemuinya di sana. Namun, benar-benar tidak ada pun di sana.


Saat Raisa sedang berusaha mencari tanpa henti, ia menemukan cahaya biru muncul di sana. Cahaya berwarna biru itu terlihat sangat kecil kerena berada sangat jauh darinya. Raisa pun berjalan mendekati cahaya biru itu.


Saat Raisa terus berjalan mendekat ke arah cahaya biru itu, ia menemukan bahwa cahaya berwarna biru itu ternyata adalah api biru.


"Api biru ... apa ini? Bahkan aku tidak mengingat punya sihir api berwarna biru seperti ini."


Raisa merasa sangat kebingungan dengan tempatnya berada saat ini dan benda apa yang menyerupai api biru yang ditemuinya itu.


"Benar! Kau memang tidak punya sihir api berwarna biru seperti ini, Raisa. Bahkan sekarang kemampuan sihirmu telah hilang, lenyap, dan tak bersisa!"


Suara orang bicara terdengar di sana. Namun, Raisa tidak menemukan siapa pun lagi selain dirinya di sana.


Raisa merasa semakin bingung. Dan berpikir bahwa api biru yang ia temui itu sendirilah yang bicara dengannya. Raisa pun berusaha meraih api biru di hadapannya untuk memastikan benda apakah itu sebenarnya ....


Saat sudah hampir menyentuh api biru yang ada tepat di hadapannya ... tiba-tiba saja api biru itu padam dan hilang begitu saja.


Raisa kehilangan cahaya dan seketika saja di sekelilingnya kembali menjadi sangat gelap hingga membuatnya tak bisa melihat apa-apa.


Raisa mulai merasa gelisah. Dan kegelisahan itu semakin menjadi-jadi saat ia mendengar suara, tapi tidak bisa menemukan atau melihat apa pun di sana.


"Kau sudah tidak memiliki apa pun lagi sekarang!"


"Raisa, kau adalah orang yang tidak berdaya!"


"Ingatlah semua itu mulai sekarang!"


Suara-suara itu terus berulang dan berdengung di telinganya. Tidak pernah berhenti. Membuat Raisa merasa frustasi.


Raisa pun merasa ketakutan dan kehilangan arah.


"KYYAAAAAAAH!!~~"


Hosh ... hosh~


Hosh!


Raisa terduduk begitu saja dengan nafas yang tersenggal-senggal dan keringat yang bercucuran.


Raisa melihat ke sekelilingnya dan menyadari ia sedang berada di dalam kamar tidurnya di rumah yang berada di Desa Daun.


"Hanya mimpi, rupanya ... " gumam kecil Raisa

__ADS_1


..."Tadi itu sebenarnya mimpi tentang apa? Aku merasa sangat gelisah karena mimpi aneh itu. Aku tidak pernah mimpi seperti itu sebelumnya," batin Raisa...


Melihat cahaya matahari telah masuk ke dalam celah jendela kamarnya, Raisa pun memutuskan untuk berbenah diri karena hari sudah pagi.


Usai sarapan di rumahnya, Raisa ke luar dari rumahnya dan berjalan seorang diri. Desa Daun saat ini terlihat begitu sepi. Raisa tidak menemukan satu orang pun di jalan atau pun salah satu dari temannya.


..."Kenapa sepi begini, ya? Tidak seperti biasanya. Firasatku jadi tidak enak," batin Raisa...


Meski kemampuan sihirnya telah hilang sepenuhnya, firasat yang dimiliki Raisa masih tetap kuat dan akurat. Mungkin sedang atau akan terjadi sesuatu.


Untunglah Raisa membawa pedang miliknya pergi bersamanya. Untuk berjaga-jaga jika ada bahaya yang memang mengintai atau malah menyerangnya.


"Aku jadi bingung harus pergi ke mana," gumam Raisa yang hanya terus berjalan tanpa memutuskan lebih dulu ingin pergi ke mana.


Karena tidak tahu harus pergi ke mana dan terus berjalan, Raisa akhirnya memutuskan untuk menemui Bibi Sierra di rumah sakit.


Saat masuk ke rumah sakit pun, Raisa hanya bertemu dengan kesepian di sana. Raisa pun mencoba masuk lebih dalam dan akhirnya bertemu dengan Bibi Sierra yang ingin ditemuinya.


"Raisa ... " sapa Bibi Sierra saat berpapasan dengan Raisa.


"Akhirnya aku bertemu orang yang kukenal juga," kata Raisa


"Ada apa kau datang ke rumah sakit? Apa ada keluhan? Kau sedang sakit?" tanya Bibi Sierra


"Tidak kok. Aku hanya bosan dan tidak bertemu dengan siapa pun sejak ke luar dari rumah tadi. Bibi Sierra, apa kau tahu alasan desa sedang sepi saat ini?" tanya balik Raisa usai menjawab.


"Aku sudah ada di sini saat lingkungan masih sangat sepi pagi-pagi sekali, jadi aku pun tidak tahu ada apa," jawab Bibi Sierra


"Sepertinya rumah sakit pun sedang sepi sekarang, ya?" tanya Raisa


"Begitu, rupanya ... " Raisa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Sebenarnya, saat ini rumah sakit sedang kekurangan tenaga karena sedang banyak pegawai yang dikirimkan ke luar untuk jadi sukarelawan. Jadi ... Raisa, apa kau mau menjadi pengganti pegawai di sini hari ini?" tanya Bibi Sierra menawarkan pekerjaan.


"Wah, benarkah? Aku mau! Bagus sekali. Aku bisa dapat pengalaman baru. Apa yang harus kulakukan? Aku akan melakukan semuanya," jawab Raisa dengan sangat antusias.


"Aku akan mengantarmu ke bangsal rawat untuk membantu merawat pasien di sana, tapi sebelum itu kau harus ke ruang ganti untuk mengganti pakaianmu dengan seragam cadangan perawat di sini. Mari, ikut aku. Lewat sini," ujar Bibi Sierra


Bibi Sierra pun mengantar Raisa ke ruang ganti sebelum menuju bangsal rawat.


"Kau bisa menaruh dan menyimpan barangmu di sana. Hari ini kenapa kau membawa pedang ke rumah sakit pula?" tanya Bibi Sierra


"Ini kubawa hanya untuk berjaga-jaga saja karena sejak awal aku punya firasat buruk dan perasaanku juga tidak enak. Kau sendiri sedang berkomunikasi dengan siapa sampai harus memakai alat komunikasi kecil di telingamu saat kau sedang bekerja, Bibi Sierra?" tanya balik Raisa usai menjawab.


"Kau melihatnya, rupanya. Aku berkomunikasi dengan para perawat yang sedang menjadi relawan juga dengan tempat penelitian obat baru. Kami memang sedang sibuk sekarang," jawab Bibi Sierra


Alat komunikasi kecil yang Raisa maksud terlihat terpasang di telinga Bibi Sierra adalah earphone nirkabel (bluetooth).


"Seragam perawat cadangan ada di loker paling ujung sebelah kiri. Itu tidak dikunci. Kau bisa memilih seragam yang ukurannya pas untukmu karena tersedia lebih dari satu seragam cadangan. Kau juga bisa menyimpan barang milikmu di sana," jelas Bibi Sierra saat telah sampai di depan ruang ganti.


"Baik, aku mengerti. Aku masuk dulu untuk mengganti pakaianku," kata Raisa yang beranjak masuk ke dalam ruang ganti.


Bibi Sierra pun menunggu di luar ruang ganti karena masih harus mengantar Raisa ke bangsal rawat.

__ADS_1


Di dalam ruang ganti, Raisa membuka loker paling ujung sebelah kiri seperti kata Bibi Sierra. Sebelum berganti pakaian dengan seragam perawat, Raisa lebih dulu menaruh pedang miliknya di dalam loker.


..."Apa semua ini hanya perasaanku saja? Ternyata, tidak terjadi apa-apa dan semua memang sedang sibuk. Tapi, firasatku belum pernah meleset. Apa aku khawatir berlebihan karena mimpi sebelumnya?" batin Raisa dalam perasaan bingung....


Baru saja Raisa meraih seragam perawat cadangan untuk ia pakai menggantikan pakaiannya, terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat dan bicara dengan Bibi Sierra.


"Itu Nyonya Sunny." Dari suara yang terdengar, Raisa bisa mengetahui bahwa yang sedang bicara dengan Bibi Sierra adalah Nyonya Sunny.


Nyonya Sunny adalah ketua yayasan rumah sakit sekaligus dokter pengawas. Wajar jika ia ada di sana, tapi Raisa tetap merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui dan disembunyikan darinya.


Raisa pun mencuri dengar pembicaraan antara Bibi Sierra dan Nyonya Sunny dari balik pintu di dalam ruang ganti. Entah karena menguping dari dalam ruangan atau memang Raisa merasa keduanya sedang berbisik-bisik agar Raisa tidak mendengarnya dari dalam ruang ganti tersebut.


"Semua warga sudah mulai dikerahkan ke tempat pengungsian. Semua staf bergerak secara bersamaan."


"Pelan-pelan saja. Raisa ada di salam, hati-hati ... jangan sampai dia mendengarnya."


..."Ada apa dengan tempat pengungsian? Ada apa juga dengan aku?" batin Raisa semakin merasa ada yang tidak beres....


Raisa pun memutuskan untuk terus mendengarkan. Namun, tidak terdengar apa pun lagi dan suara langkah kaki kembali menjauh. Itu artinya Nyonya Sunny sudah pergi lagi.


Baru saja Raisa ingin ke luar dari ruang untuk meminta penjelasan dari Bibi Sierra, terdengar suara Bibi Sierra sedang berkomunikasi.


"Ya, seperti dugaan ... Raisa datang mencariku. Sekarang dia berada dalam pengawasanku. Tenang saja, aku akan menjaganya dan tidak akan membiarkannya pergi dari sini."


DEG!


Dugaan Raisa benar! Sesuatu sedang terjadi dan semua orang berkomplot untuk memberinya perlindungan secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.


..."Ternyata, memang ada yang disembunyikan dariku dan orang-orang sedang berusaha melindungiku ... " batin Raisa...


Raisa pun mengembalikan seragam perawat cadangan pada tempatnya semula dan mengambil kembali pedang miliknya.


..."Kalau memang benar sesuatu sedang terjadi ... aku tidak boleh diam saja dan merepotkan mereka untuk menjagaku. Aku harus ke luar dari rumah sakit ini!" batin Raisa...


Meski memutuskan untuk pergi, Raisa masih harus berpikir untuk lolos dari penjagaan Bibi Sierra yang sedang menunggunya di luar ruang ganti tersebut.


"Raisa, kau sudah selesai belum?" tanya Bibi Sierra dari luar ruang ganti.


"Belum, Bibi. Aku baru pertama kali memakai seragam perawat, jadi sedikit kesulitan," jawab Raisa


Padahal seragam perawat tidak sulit dipakai. Jadi, Bibi Sierra pun hendak masuk untuk membantu Raisa. Tidak akan jadi masalah karena keduanya sama-sama perempuan.


Raisa mengambil kesempatan itu untuk kabur. Saat Bibi Sierra masuk, Raisa ke luar dengan berlari cepat. Bibi Sierra yang tidak menduga Raisa akan kabur pun terjatuh karena bertabrakan dengan Raisa yang melarikan diri.


"Maafkan aku, Bibi Sierra. Aku tidak bisa diam saja jika memang ada sesuatu yang terjadi. Terima kasih sudah berniat ingin melindungiku, tapi aku menolak itu. Maaf!" teriak Raisa sambil terus berlari dengan membawa pedang miliknya.


"Raisa ... tunggu! Kau tidak seharusnya pergi dari sini. Di luar sana sangat berbahaya!" teriak Bibi Sierra


"Aku sudah punya firasat jika ada sesuatu akan atau sedang terjadi. Aku mencarimu, orang yang kukenal untuk bertanya. Ternyata, kalian sudah menduganya dan malah tidak memberitahu padaku apa yang terjadi dan memilih menyembunyikannya dengan dalih ingin melindungiku. Tapi, aku tidak ingin hanya diam dan menunggu, jadi aku memilih untuk pergi!" teriak Raisa


Bibi Sierra bangkit dan berlari untuk menghentikan Raisa. Namun, Raisa ke luar dari rumahnya dengan segala persiapan. Raisa pun melemparkan bom cahaya dan bom asap sebagai langkah pelarian diri.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2