
Tak lama berselang, Chilla datang bersama Aqila dan Morgan. Mereka bertiga menghampiri Rumi yang menunggu di depan salah satu ruang tindakan di rumah sakit tersebut.
"Rumi ...."
"Kalian sudah datang. Raisa sedang ditangani di dalam," kata Rumi
Bibi Sierra pun ke luar dari dalam ruangan.
"Mama, bagaimana dengan kondisi Raisa?" tanya Aqila
"Akhirnya kalian sampai juga. Raisa masih dalam penanganan di dalam. Kalian juga periksakanlah kondisi kalian. Rumi bilang, kalian juga diserang," ujar Bibi Sierra menjawab.
Aqila pun mengangguk setelah menerima isyarat Sang Mama. Bibi Sierra ingin agar Rumi melupakan sejenak kekhawatirannya pada Raisa dan memeriksakan kondisinya juga bersama yang lain.
"Biarkan Raisa di sini untuk ditangani. Rumi, ayo ikut kami untuk melakukan pemeriksaan. Raisa pasti ingin kau juga baik-baik saja," ucap Aqila
"Ayo! Aku akan ikut untuk mengantar kalian," kata Chilla
Akhirnya Rumi pun pasrah untuk ikut melalukan pemeriksaan.
Mereka berempat pun beranjak menuju tempat pemeriksaan lainnya..l
"Sudah cukup lama setelah Raisa diperiksa dan belum ada pemberitahuan tentang kondisinya. Aku masih sangat mengkhawatirkannya," ucap Rumi
"Tenanglah, Rumi. Sudah ada yang menangani Raisa, dia berada di tangan orang-orang yang baik dan tepat," ujar Morgan mencoba menghibur Rumi.
Rumi pun mengangguk lesu mencoba untuk terus berpikir positif.
...
Setelah lama menangani Raisa, Bibi Sierra dan Nyonya Sunny baru hanya bisa meredakan sedikit hawa panas yang nenyelimuti Raisa, namun bahkan sampai sekarang Raisa masih belum juga sadarkan diri.
Peluh mulai bercucuran di wajah kedua ahli medis tersebut.
"Ssh~ Eunggh ...."
Mata Raisa mulai mengerjap perlahan dan sedikit demi sedikit terbuka~
"Raisa, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Bibi Sierra tanpa menghentikan penanganan yang dilakukannya.
"Bibi, tolong kalian berhenti saja. Ini takkan berhasil," kata Raisa
"Apa maksudmu, Raisa? Kau harus diobati. Jangan banyak bergerak dulu," ujar Nyonya Sunny
Raisa berusaha untuk bangkit dari posisi rebahnya.
"Sudah berapa lama kalian mencoba memulihkanku? Bukan kondisiku jadi lebih baik, tapi tenaga kalian yang terus terkuras. Sudah kubilang, ini takkan berhasil. Tolong bawa aku pada air, aku ingin berendam. Aku tahu cara memulihkan kondisiku saat ini," ujar Raisa yang tentunya tahu dengan jelas perbuatan dan cara memulihkan kondisi tubuhnya.
"Bukankah kau lemah terhadap dingin? Kenapa malah mau berendam?" tanya Bibi Sierra
"Hanya itu satu-satunya cara yang kutahu untuk memulihkan kondisiku. Aku rasa tubuhku jadi aneh setelah terkena serangan misterius tadi," jawab Raisa
Bibi Sierra pun melirik Nyonya Sunny yang mengangguk setuju dengan permintaan Raisa.
"Baiklah. Aku akan menyiapkan airnya. Tunggu sebentar," kata Nyonya Sunny
Setelah permintaan disediakan, Bibi Sierra pun membantu Raisa menuju suatu kamar mandi dalam suatu ruang rawat di rumah sakit tersebut.
"Airnya sudah kusiapkan, sudah kuhangatkan airnya supaya kau lebih nyaman saat berendam," kata Nyonya Sunny
"Ya. Terima kasih, Nyonya Sunny, Bibi Sierra ... " ucap Raisa
Satu persatu kaki Raisa melangkah masuk ke dalam bath up yang berisi air hangat yang telah disiapkan oleh Nyonya Sunny. Lalu, Raisa pun mengalirkan tenaganya ke dalam air rendamannya. Seketika air yang merendam tubuh Raisa menjadi bercahaya~
Bibi Sierra dan Nyonya Sunny yang melihat proses Raisa memulihkan diri pun mengerti cara kerja pemulihan tersebut.
Bibi Sierra dan Nyonya Sunny pun ikut mengalirkan tenaga mereka ke dalam air yang merendam tubuh Raisa.
"Kami akan membantumu memulihkan diri," kata Nyonya Sunny
"Terima kasih banyak sekali lagi," ucap Raisa seraya tersenyum lembut.
"Sudah tugas kami membantumu untuk pulih," kata Bibi Sierra
10 menit berlalu.
"Sudah cukup. Bibi Sierra dan Nyonya Sunny, sudah bisa istirahat. Tinggalkan saja aku di sini. Aku sudah jadi lebih baik sekarang, aku akan melanjutkan pemulihan ini sendiri dan akan ke luar sebentar lagi," Ucap Raisa
"Baiklah. Kalau itu maumu, kami akan ke luar," ujar Nyonya Sunny
"Aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Gantilah pakaianmu yang basah setelah selesai berendam nanti," kata Bibi Sierra
"Baik, aku mengerti. Terima kasih," ucap Raisa
Bibi Sierra dan Nyonya Sunny pun ke luar meninggalkan Raisa yang berendam di dalam kamar mandi di suatu ruang rawat.
Setelah meneruskan berendam, Raisa pun pulih sepenuhnya dengan cepat. Ia pun segera ke luar dari bath up dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang sudah disiapkan Bibi Sierra. Pakaian itu masih merupakan setelan rumah sakit, itu tandanya dirinya masih diminta untuk menetap di rumah sakit untuk sementara waktu ini.
Setelah berganti pakaian, Raisa pun ke luar dari kamar mandi tersebut. Di dalam ruang rawat itu, Pemimpin Desa sudah menunggu. Melihat Tuan Nathan berada di ruangan itu untuk menunggunya, Raisa tidak lagi terkejut atau bingung karena itu sudah pernah terjadi padanya sebelumnya.
Tuan Nathan menunggunya bersama Bibi Sierra dan Nyonya Sunny tanpa ditemani Tuan Rafka.
"Raisa, berbaringlah lagi di ranjang rawatmu. Kau baru saja memulihkan diri, kan?" ujar Tuan Nathan bertanya.
Raisa pun mengangguk mengerti.
Ia berjalan ke arah ranjang rawat dan merebahkan tubuhnya di sana~
"Tuan tidak datang bersama Tuan Rafka lagi?" tanya Raisa karena biasanya Tuan Nathan dan Tuan Rafka adalah rekan kerja yang tidak pernah terpisahkan.
"Dia kusuruh mengerjakan pekerjaan yang lain, dia juga sibuk sekarangg. Kau tidak perlu tegang dengan kedatanganku ke sini," ujar Tuan Nathan
Raisa menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
"Tidak akan. Aku sudah mrngerti dengan tujuan Tuan mencariku ke sini," kata Raisa
"Begitu, ternyata. Kalau begitu, kau akan berkerja sama untuk menjawab pertanyaanku, kan?" ujar Tuan Nathan bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja. Silakan saja, aku akan menjawab semua pertanyaan Tuan," kata Raisa
"Kalau begitu, aku tidak akan banyak bertanya lagi. Aku hanya memintamu untuk menceritakan semua yang kau alami hari ini," pinta Tuan Nathan
"Hari ini aku dalam rencana hendak menjelajah kuliner di pasar barat desa bersama Chilla. Lalu, aku berpisah dengan Chilla yang ingin membeli makanan yang berbeda, aku pun mengantri di salah satu kedai yang katanya cukup populer di sini. Saat hendak memesan, kompor masak di sana tiba-tiba meledak! Aku bisa sedikit mengendalikan api itu, tapi tidak bisa memadamkannya. Aku pun membawa korban ke luar untuk menyelamatkan diri, lalu mengobati luka bakar mereka di dekat sungai yang ada di sana. Itulah awal semua terjadi," cerita Raisa
"Sejak ada ledakan, aku merasa ada sesuatu yang aneh seperti ada seseorang yang mengendalikan peristiwa yang terjadi di kedai itu. Dia menargetkan diriku! Ke mana pun aku pergi terror api bermunculan, aku yang tak sanggup lagi mengendalikan serangan api itu akhirnya terbakar api misterius itu. Untuk bisa memadamkan api yang berusaha membakarku itu, aku terpaksa menceburkan diri ke sungai. Api itu berhasil padam, tapi tenagaku banyak yang terkuras. Setelah ke luar daei sungai, terror api memang sudah tidak ada, tapi terror berganti dengan amukan tanah bagaikan ombak yang ingin melahap dan menguburku hidup-hidup. Aku pun segera melarikan diri! Tak berhenti sampai di situ, aku merasa ada bahaya lain yang menyerang temanku yang lain.
Aku pun mencari mereka yang berada dalam bahaya, lalu aku menemukan Aqila, Morgan, dan Rumi sedang diserang terror yang persis sama dengan yang mengincarku sebelumnya. Saat itu aku menyadari, pelaku di balik ini bukannya mengganti terget uncaran mereka, melainkan mereka menargetkan dua orang sekaligus, yaitu aku dan Rumi! Mereka tahu aku akan pergi pada teman-temanku, makanya mereka mengganggu Rumi yang ada di sana.
Terror itu berhasil menimpa Rumi, Aqila, dan Morgan dengan gelombang tanah. Aku pun segera menyelamatkan mereka bertiga setelah mengirim terror pada pelaku tersembunyi itu seperti mereka menerror kami, yaitu dari serangan sihir dari jarak jauh. Terrorku berhasil terkirim dengan baik dan aku berhasil menyelamatkan Rumi, Aqila, dan Morgan, tapi aku jatuh pungsan setelahnya. Saat sadar aku sudah ada di sini dengan Bibi Sierra dan Nyonya Sunny yang berusaha memulihkanku," jelas Raisa mengungkapkan keseluruhan kronologi penyerangan yang dialaminya.
"Apa yang kau alami terbilang misterius. Pelakunya sangat berhati-hati sampai menyerangmu dengan terror jarak jauh dan tersembunyi. Apa kau menyadari sesuatu?" ujar Tuan Nathan bertanya.
"Aku menyadari beberapa kemungkinan. Seperti kataku, pelaku menargetkanku dan Rumi sebagai incaran utama mereka, Aqila dan Morgan ikut terlibat dalam kejadian ini karena ikut berada di sana. Saat api misterius menyerangku, sebenarnya tenagaku terus tersedot ke luar. Ini mungkin berarti pelaku menginginkan sumber tenaga sihirku dengan cara membakar diriku dengan sihir elemen api untuk menyerap dan mengambil alih sumber tenaga sihir di dalam diriku. Pelakunya juga menginginkan tubuh Rumi yang spesial, makanya pelaku menggunakan sihir elemen tanah untuk menimpa tubuhnya untuk diambil setelah Rumi tak sadarkan diri, tapi usaha mereka telah digagalkan olehku. Dugaanku, pelaku kali ini berorganisasi dengan pelaku yang menculikku sebelumnya. Mereka mencoba memanfaatkanku untuk mendapatkan Rumi, namun kali ini mereka juga ikut menargetkanku.
Kali ini, mereka lebih dulu menargetkanku kemudian Rumi. Karena mereka tahu Rumi akan mencariku yang sedang dalam bahaya seperti kejadian penculikanku sebelumnya. Rumi akan sedikit menjauh dari keramaian desa, lalu menangkapnya dan aku setelah berhasil mengalahkan kami. Itu kemungkinan langkah yang mereka rencanakan. Tidak tahu apa mereka ikut menargetkan Aqila dan Morgan atau tidak," ungkap Raisa
"Kalau seperti dugaanmu, berarti pelakunya masih sama. Orang-orang dari organisasi Mata Dewa," kata Tuan Nathan
Raisa mengangguk.
"Raisa, bisa kau jelaskan tentang pemulihanmu yang memilih dengan cara berendam itu?" pinta Bibi Sierra
"Tubuhku panas akibat terbakar sebelumnya dan tenagaku terus tersedot. Maka aku memilih berendam dengan air untuk memulihkan suhu tubuhku sambil mengaliri air itu dengan tenaga sihir yang tersisa untuk menghentikan dan memutuskan pengaruh sihir yang terus menyedot tenaga sihirku. Berkat Bibi Sierra dan Nyonya Sunny yang nembantu memberikan tenaga sihir kalian ke dalam air itu, maka aku bisa pulih lebih cepat. Terima kasih untuk itu," jelas Raisa seraya berterima kasih.
"Jadi, itu sebabnya kau melarang kami untuk mentransfer tenaga langsung ke tubuhmu untuk memulihkanmu?" tanya Nyonya Sunny
"Benar. Jika memulihkanku langsung dengan mentransfer tenaga kalian padaku yang ada tenaga kalian ikut tersedot ke luar karena pengaruh sihir yang ada padaku. Makanya, aku memakai media air sambil berendam untuk melepas pengaruh sihir itu sekaligus memulihkan diri. Sebenarnya aku mengetahui cara ini dari buku sihir keluargaku zaman dahulu yang pernah kutemukan dan kubaca. Cara ini bisa memanggil roh kami yang terlepas ke luar tubuh karena pengaruh sihir yang dikirim seseorang secara misterius. Di duniaku ini disebut sihir santet, teluk, guna-guna, dan lain semacamnya. Kugunakan cara ini untuk mengambil kembali tenagaku yang disedot ke luar dari tubuhku seperti memanggil kembali roh seperi yang kubilang tadi," jawab Raisa menjelaskan.
"Sebenarnya aku baru saja menyadari satu hal lagi dari kejadian kali ini, tapi ini hanya dugaanku yang entah benar atau tidak," ucap Raisa
"Apa itu?" tanya Tuan Nathan
"Sebenarnya sebelum kejadian kimpor meledak di kedai, aku merasakan hawa tubuh manusia walau wujudnya tidak terlihat. Saat tidak melihat wujud itu, aku pikir aku hanya salah menduga atau itu hanya perasaanku saja. Tapi, ledakan itu terjadi! Aku menduga pelaku itu sebenarnya ada di sana, hanya saja ia memiliki kemampuan sihir yang dapat membuatnya berubah menjadi wujud lain. Yaitu, menjadi gas atau asap. Ia menyamarkan diri dalam wujud gas atau asap, lalu menciptakan ledakan dengan sihir elemen api yang dimilikinya. Bukankah dulu di dunia ini ada satu suku seperti ini? Namun, suku ini sudah musnah sejak lama, tapi di antara kita ada satu-satunya orang yang tersisa dari suku itu walau kemampuannya merubah menjadi wujud lain itu sudah hilang karena pengaruh modifikasi sihir oleh Tuan Rommy. Tuan Nathan dan Bibi Sierra pasti tahu jelas siapa orang ini," ungkap Raisa
Bibi Sierra dan Tuan Nathan saling temu pandang~
"Tuan Tara," sebut Bibi Sierra
"Tidak! Kapten Tara adalah orang Desa Daun, dia tidak mungkin berkhianat," sangkal Tuan Nathan
"Aku tidak berniat menuduhnya mau pun bilang dia berkhianat, tapi ada kemungkinan lain. Pelaku bisa saja mengambil sesuatu dari sel tubuh Tuan Tara atau menggali sesuatu yang telah hilang dari tempat asal suku asap ini agar bisa mendapatkan kemampuan spesial ini. Cara ini seperti pembangkitan sihir yang telah musnah! Cara ini sudah ada dan terjadi sejak dulu, di zaman yang semakin maju teknologinya ini cara modifikasi dan pembangkitan bukan lagi hal yang sulit," ujar Raisa
"Coba saja tanyakan pada Tuan Tara. Apa dia pernah diserang atau ada yang mencoba menerobos kediaman Tuan Rommy? Tuan Tara menjadi penjaga di sekitar kediaman Tuan Rommy, kan? Bisa saja pernah terjadi penyerangan di kediaman Tuan Rommy untuk mengambil sel dari tubuh Tuan Tara dan menculik Rumi saat dia sakit sebelumnya," lanjut Raisa
"Kemungkinan ini memang masih saling berhubungan dan saling bersangkutan. Aku akan memeriksa ini. Terima kasih atas kerja samamu, Raisa! Kesaksianmu sangat membantu," kata Tuan Nathan
"Aku akan terus membantu sebisaku. Tidak perlu sungkan lagi padaku dan cari saja aku jika memang dibutuhkan," balas Raisa
"Tapi, jangan selalu membahayakan atau mengorbankan dirimu sendiri untuk itu," ucap Nyonya Sunny
"Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menjaga dunia ini. Aku juga ingin menjadi seperti kalian yang terus berusaha melindungi semua yang berharga," kata Raisa sambil tersenyum.
Tok-tok-tok!
Pintu terbuka setelah ada yang mengetuknya.
Rumi menampakkan dirinya dan masuk ke dalam ruangan~
"Rumi, kau ada di sini?" tanya Raisa menyapa.
"Maaf kalau aku sudah mengganggu," kata Rumi
Rumi datang dengan membawa bungkusan plastik dan sebuah mangkuk lengkap dengan sendoknya. Semua yang melihat pun tahu niat Rumi yang membawakan makanan untuk Raisa. Ia sangat perhatian pada kekasihnya.
"Tidak apa, kami sudah selesai kok. Kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Raisa, kau istirahatlah baik-baik," ujar Tuan Nathan
"Kami semua ke luar untuk mengurus pekerjaan lainnya," kata Nyonya Sunny
"Kami takkan mengganggu kalian lagi. Selamat istirahat," ucap Bibi Sierra
Tuan Nathan, Bibi Sierra dan Nyonya Sunny pun ke luar meninggalkan sepasang kekasih dan tidak mengganggu mereka lagi.
Rumi menaruh bawaannya di meja kecil di sana, lalu duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang rawat Raisa.
"Bagaimana kondisimu, Raisa? Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Rumi sambil menggenggam tangan Raisa dan menyentuh pipi kekasihnya itu.
Rumi berniat memeriksa suhu tubuh Raisa yang sebelumnya sangat ringgi itu. Raisa tersenyum lembut lalu memegang kedua tangan Rumi yang menyentuh bagian tubuhnya itu.
"Jangan pasang raut wajah khawatir begitu. Aku sudah baik-baik saja, 100% sudah pulih, tapi sepertinya aku masih harus berada di sini sebentar lagi," jawab Raisa
"Kau melihat raut kekhawatiran di wajahku? Biasanya orang-orang berkata wajahku selalu datar?" heran Rumi bertanya.
"Itu karena mereka tidak memahamimu dengan baik atau hanya melihat sekilas wajahmu, tapi jika lebih diperhatikan lagi pasti bisa langsung mengetahui apa yang kau rasakan lewat raut wajah dan matamu, seperti sekarang ini," ungkap Raisa
"Kau sudah tahu aku akan seperti ini dan selalu khawatir padamu, tapi kenapa kau selalu dan terus saja membuat dirimu terlibat dalam bahaya?" tanya Rumi
"Aku hanya ingin melakukan yang terbaik yang kubisa untuk semuanya. Lagi pula, hanya insiden kecil. Aku sudah kembali pulih seperti sedia kala," jawab Raisa
"Insiden kecil, katamu? Kau tidak tahu seberapa khawatir dan paniknya aku saat menyentuh seluruh tubuhmu yang basah tapi terasa sangat panas tadi!" sebal Rumi dengan kebiasaan Raisa yang selalu menempatkan dirinya dalam bahaya.
Tidak biasanya Rumi memperlihatkan kekhawatirannya sejelas ini. Rupanya, Rumi sangat peduli padanya.
Raisa pun tersenyum merasakan perasaan dalam dari sang kekasih~
"Tidak biasanya kau jadi seperti ini, tapi bisakah kau tidak marah lagi padaku? Aku sudah merasa lapar karena tenagaku yang hilang sebelumnya. Apa yang kau bawa itu?" ujar Raisa bertanya.
Rumi pun beralih membukakan bungkus plastik yang tadi dibawa olehnya. Seporsi bubur dan sebotol air mineral.
Rumi pun menuangkan bubur pada mangkuk yang telah dibawa olehnya~
"Sekarang kau makanlah dulu. Akan kusuapi," kata Rumi
"Wah, bubur jagung! Aromanya lezat sekali," riang Raisa
Rumi pun mulai menyuapi Raisa. Sesendok demi sesendok. Raisa makan bubur jagung tersebut dengan lahap.
__ADS_1
"Raisa, berjanjilah padaku untuk tidak terluka lagi lain kali. Setidaknya, jika kau bertarung cobalah untuk mendapat sedikit saja luka," ujar Rumi meminta.
"Mana bisa begitu? Asal kau tahu, aku juga tidak ingin terluka karena pertarungan, terlebih lagi aku juga sudah berusaha untuk hanya mendapat sedikit luka, tapi seperti yang selalu kau lihat. Beginilah akhirku, selalu. Biar begitu, separah apa pun luka atau kondisiku, aku selalu bisa pulih dengan baik dan aku tahu kau akan selalu ada untukku di saat apa pun," ucap Raisa
"Itu sih, tentu saja! Aku akan selalu ada untukmu saat apa pun dan sampai kapan pun itu," kata Rumi
Raisa merasa tersentuh dengan suasana hangat sat ini, ia pun tersenyum kecil~
"Rumi ... " panggil Raisa dengan lembut.
"Ya?" sahut Rumi
"Terima kasih," ucap Raisa
Rumi tersenyum tipis.
"Dan ... aku mencintaimu!" Ungkap Raisa
Senyuman Rumi memudar, ia bangkit.
Lalu, mencium bibir Raisa sekilas~
CUP!
Rumi kembali duduk seperti semula.
"Aku juga mencintaimu," balas Rumi
"Aku tahu perasaanmu itu, tapi kau juga tidak harus menciumku di sini! Bagaimana jika sampai ada yang melihat," pelan Raisa sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya karena malu.
"Aku sangat mencintaimu, jadi aku pun harus sangat memperhatikanmu. Supaya bisa jadi pacar yang baik untukmu," ucap Rumi
Raisa terkekeh pelan.
"Oh, iya. Bagaimana dengan Aqila dan Morgan? Di mana mereka sekarang?" tanya Raisa
"Mereka berdua baik-baik saja dan mungkin sudah kembali ke rumah untuk istirahat setelah melakukan pemeriksaan tadi. Tadi juga ada Chilla yang mengantar mereka," hawab Rumi
"Lalu, kenapa kau ada di sini? Kenapa tidak pulang juga untuk beristirahat? Apa Chilla baik-baik saja?" tanya Raisa lagi.
"Aku bisa istirahat di sini bersamamu, lagi pula kaulah tempatku untuk pulang. Dan di antara kami, hanya Chilla yang sepenuhnya baik-baik saja, tidak terluka sama sekali. Dia menemukan kita setelah kau pingsan tak sadarkan diri, lalu membantu kami," jawab Rumi
"Syukurlah, aku tidak perlu khawatir kalau begitu ... " lega Raisa
"Bisakah kau tidak membicarakan orang lain saat hanya berdua denganku? Fokus saja dengan kita berdua," ujar Rumi
"Kau lebih sensitif dari biasanya hari ini. Baiklah, aku mengerti! Sayangku~" ucap Raisa
Rumi tersenyum kecil. Ia tampak senang mendengar panggilan sayang yang ke luar dari mulut manis Raisa.
"Kau masih harus ingat untuk menceritakan padaku semua yang terjadi tadi. Ingat itu," tagih Rumi
"Kau masih mengingatnya? Aku juga tidak melupakan itu, tenang saja," kata Raisa
Rumi pun melanjutkan menyuapi Raisa bubur. Setelah bubur habis, Raisa pun mulai menceritakan yang sebenarnya telah terjadi.
"Kalau begitu, tetaplah bersamaku saat aku sedang tidak ada misi di desa. Akan kupastikan kau baik-baik saja dan terus melindungimu," ujar Rumi
"Kau berkata begitu, tapi setelah ini pasti kaulah yang terus mengikuti di sampingku setiap waktu. Biar pun begitu, kita masih harus berpisah saat malam untuk istirahat dan tidur di rumah masing-masing," ucap Raisa
"Ya, begitu saja. Dan malam ini aku akan tidur di sini denganmu," kata Rumi
"Apa??!" pekik Raisa
Malam harinya.
"Kau yakin ingin terus di sini? Kau pasti tidak nyaman tidur di sini, tidak senyaman kalau kau pulang dan tidur di rumah," ujar Raisa
"Tidak usah pikirkan itu. Kau tidur saja, aku akan tidur di atas sofa," kata Rumi
"Baiklah, jika itu maumu. Selamat malam," ucap Raisa
"Jumpa besok, Raisa! Sayangku~" balas Rumi
Pagi di keesokan harinya.
Raisa terbaring miring ke arah pintu. Saat matanya mulai terbuka, tubuhnya terasa berat~
Itu aneh! Padahal Raisa yakin, ia sudah baik-baik saja kemarin.
Saat Raisa berusaha menggerakkan tubuhnya itu terasa sangat sulit dan semakin berat. Dan ia baru menyadari ada tangan yang melingkar di pinggang rampingnya~
"Rumi ... " Raisa terkejut saat sadar Rumi memeluknya dari belakang selama tidur sepanjang malam.
Merasakan pergerakan Raisa, Rumi pun ikut terbangun. Ia membuka matanya~
"Selamat pagi, Raisa!" sapa Rumi mengawali harinya.
"Rumi, kenapa kau bisa tidur di sini?" tanya Raisa
"Aku terlalu takut kau menghilang saat aku terbangun di pagi hari, jadi aku nekat naik ke sini dan tidur bersamamu. Maafkan aku yang sudah lancang," jawab Rumi
Raisa bergerak perlahan dan berbalik menatap Rumi yang tepat berada di belakangnya~
"Aku sudah tahu kau sangat khawatir karena kejadian kemarin, aku berjanji tidak akan pergi sebelum mengatakannya padamu, terlebih lagi aku tidak akan menghilang dari pandanganmu. Jadi, jangan khawatir lagi atau pun mengulangi hal seperti ini lagi, ya. Kau harus ingat, walau kita berpacaran, kita tidak boleh beebuat seperti ini dan harus tahu batasannya," Ucap Raisa sambil mengusap lembut pipi Rami.
"Baiklah. Aku berjanji," kata Rumi yang lalu mengecup pelan telapak tangan Raisa yang membelai lembut pipinya.
"Jadi, bisakah kau turun sekarang? Aku ingin ke kamar mandi sebentar," ujar Raisa
Rumi pun mulai bangkit dan mengecup pelan pipi Raisa sebelum turun dari ranjang rawat~
"Ayo ... aku bantu kau ke kamar mandi," kata Rumi
.
•
__ADS_1
Bersambung...