
Raisa pun mulai memasuki lingkaran hitam misterius itu. Keberadaannya pun menghilang seiringan lingkaran hitam misterius itu tertutup~
Sejak hari ini datang, Raisa terus merasa tidak sabar menantikan. Dan perasaannya bahagia sekali! Rasanya sangat senang akan bisa bertemu teman-teman spesialnya itu. Terutama, Rumi! Sang lelaki pujaan hatinya...
Namun, di balik perasaan kegembiraan yang membuncah itu, di dalam hatinya, Raisa sedikit merasa gelisah. Entah kenapa, itu membuat perasaannya sedikit merasa tak enak. Bahkan tanda dari inti lambang kekuatan yang tersembunyi di telapak tangannya perlahan mulai muncul.
Bunga Teratai Putih~
Tanda bunga yang tersembunyi di telapak tangan Raisa itu muncul dengan warna merah. Itu tanda bahaya! Tanda dari lambang inti kekuatannya itu mempunyai koneksi dengan siapa saja orang yang pernah Raisa tanamkan tanda yang serupa dengan miliknya itu. Itu artinya seorang temannya di dunia dimensi lain itu sedang dalam keadaan bahaya! Entah itu terluka atau semacamnya.
Sedari tadi Raisa terus memikirkan Rumi, orang yang paling dirindukannya dari pada yang lain. Dan kini perasaannya semakin tak karuan, perasaannya jadi tidak enak. Tapi, Raisa segera menepis pikiran negatif dan rasa khawatirnya. Tanda bahaya itu memang muncul. Tapi, Raisa berharap keadaan bahaya yang mungkin menyerang salah satu temannya itu mungkin tidak akan parah dan di dunia sana sudah ada teman lain yang menolong si korban itu.
..."Semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka semua. Termasuk kau, Rumi! Semoga siapa pun yang sedang dalam keadaan bahaya sudah dapat bantuan dari seseorang." Batin Raisa...
Dengan senyuman yang tidak luntur dan terus mengembang itu, Raisa masih berada di dalam portal teleportasi antar dinensinya, melakukan perjalanannya. Dan lubang berbentuk lingkaran terbuka di ujung pandangannya. Pada detik berikutnya, kaki Raisa pun mendarat di suatu tempat. Ia telah ke luar dari perjalanan portal teleportasi antar dimensinya. Setelah ia ke luar, gerbang portal teleportasi antas dimensi itu langsung menutup dannmenghilang...
Raisa memandang sekeliling. Ia tau tempat keberadaannya kini di suatu dunia yang ditinggali teman-teman spesialnya itu. Kemudian, Raisa pun melangkahkan kakinya mencari keberadaan teman-temannya di sana. Sampai akhirnya, Raisa melihat sosok yang dikenalnya di dunia itu. Ia pun menghampirinya.
"Morgan!" Seru Raisa memanggil seseorang.
Sosok yang Raisa lihat ternyata adalah Morgan. Raisa melihat sosok Morgan saat masih dari kejauhan. Saat ia menghampiri sosok salah satu temannya itu, ternyata Morgan sedang berbicara dengan Aqila. Namun, di sana tidak ada Rumi. Sosok lelaki yang paling ia rindukan. Sosok lelaki yang ia suka, cinta, yang menarik perhatiannya, yang membuatnya jatuh hati.
Raisa merasa sedikit heran. Biasanya Morgan, Aqila, Rumi, adalah satu paket lengkap. Karena mereka bertiga adalah satu tim. Lalu, kemana perginya Rumi? Tidak mungkin Rumi telat datang untuk berkumpul karena ia bukan tipe orang yang seperti itu.
"Oh, Raisa! Kau datang?" Ujar Aqila
"Iya, aku menepati janjiku. Di duniaku sedang libur panjang jadi aku bisa datang." Ungkap Raisa
Raisa menatap Morgan. Tak biasanya dia hanya diam. Ia sedang terlihat seperti merasa gelisah sekarang.
"Morgan, kau kenapa? Kenapa kalian hanya berdua? Di mana Rumi?" Tanya Raisa
Melihat ekspresi Morgan yang hanya diam dan gelisah, Raisa memberanikan diri bertanya tentang Rumi. Rasa khawatirnya kembali datang, ia jadi merasa gelisah juga. Pasalnya tanda peringatan bahaya dengan lambang inti kekuatannya yang muncul masih saja belum hilang.
"Rumi, dia sedang pergi mengunjungi tempat orangtuanya karena hari ini kami sedang tidak ada tugas." Jawab Morgan
Jawaban yang Morgan berikan masih kurang memuaskan untuk Raisa. Raisa merasa ada yang belum Morgan katakan padanya. Karena tiba-tiba Wanda, Amy, Sandra tiba-tiba saja datang. Perhatian langsung saja teralihkan pada ketiga gadis yang baru datang itu.
"Raisa, kau sudah datang? Aku merindukanmu!" Ujar Amy
Amy yang baru saja datang dan melihat kehadiran Raisa di sana langsung berhambur memeluk Raisa dengan erat.
"Aku juga merindukanmu, Amy. Aku rindu kalian semua. Kalian bertiga datang, apa karena sudah janjian bertemu di sini sebelumnya? Di mana Sanari?" Ucap Raisa yang juga bertanya.
"Sanari, dia sudah kembali bertugas meneliti peralatan sains. Di sini sudah tidak sedang libur, banyak tugas berdatangan. Tapi, kami sedang tidak diberi tugas." Jelas Wanda
"Oh, begitu. Padahal aku datang karena sedang hari libur. Ternyata memang jadwal libur kita berbeda ya." Kata Raisa
"Kalian tidak sedang janjian? Lalu, apa tidak ada latihan bersama dengan tim masing-masing? Kalian berkumpul untuk apa?" Tambah Raisa, bertanya.
"Morgan yang menyarankan untik berkumpul." Jawab Sandra
"Kau sudah tau tanda itu kan, Raisa? Ada muncul tanda berwarna merah, berarti ada bahaya." Ujar Aqila bertanya
"Tentu saja, aku tau. Kalian semua terhubung dengan aku yang adalah inti dari tanda lambang itu. Apa kalian tau siapa yang dalam bahaya? Apa kalian sedang mencari tau siapa orangnya?" Balas Raisa
"Aku menyarankan untuk berkumpul karena hal itu. Aku sudah menelpon teman-teman dan sudah tau siapa yang dalam bahaya itu, kami sedang merencanakan berkumpul untuk membahas tentang ini. Semua teman yang kutelpon ternyata baik-baik saja, kecuali satu. Orang yang tidak bisa dihubungi karena sedang dalam perjalanan. Rumi! Dialah satu-satunya orang yang tidak bisa kuhubuni dan tidak baik-baok saja. Dia sedang dalam bahaya!" Jelas Morgan
"Apa!?" Respon Raisa yang terkejut.
Raisa terperangah karena terkejut! Ternyata ini sebabnya Morgan terlihat seperti sedang merasa gelisah. Dan ternyata, firasat Raisa benar! Rasa khawatirnya, rasa gelisahnya yang sama seperti yang Morgan rasakan karena sesuatu sedang terjadi pada Rumi! Rumi, sosok lelaki pujaan hatinya sedang dalam keadaan bahaya!
Raisa merasa seperti jantungnya berhenti berdetak seketika! Namun, detik berikutnya jantungnya malah berpacu dengan cepat. Raisa takut! Ketakutannya terjadi! Rasa takut, panik, khawatir, gelisah tak menentu langsung menerpa dirinya. Matanya perlahan memerah karena menahan tangis. Matanya itu membelalak! Nafasnya sesak, suaranya tertahan di tenggorokan karena menahan suara isakan yang terus memaksa ke luar dari mulut dan bibirnya.
"Masalahnya lagi, setelah aku tau semua baik-baik saja setelah kuhubungi, kecuali Rumi. Aku sudah meminta Ayahku untuk menelpon ke tempat orangtua Rumi. Ayahnya Rumi berkata, Rumi tidak ada di sana. Rumi masih belum sampai ke tempat orangtuanya." Ungkap Morgan
"Bukannya kau tau dan pernah datang ke tempat orangtua Rumi? Kenapa kau tidak mencoba menyusulnya, melakukan perjalanan untuk mencarinya?" Tanya Raisa yang sudah dikuasai oleh perasaan panik.
"Awalnya aku juga berencana begitu. Tapi, Ayah juga sudah meminta kabar dari orang-orang yang menjaga sekitar wilayah tempat tinggal orangtua Rumi dan perbatasan desa. Kata mereka, tidak ada satu orang pun dari mereka yang melihat Rumi datang atau melintas. Jadi, aku butuh berdiskusi dengan yang lain." Jawab Morgan
__ADS_1
"Sekarang kami sedang menunggu Devan, Ian, dan Chilla. Sedangkan Dennis, Marcel, dan Billy sedang ada tugas jadi tidak bisa datang untuk ikut berkumpul." Ucap Aqila
..."Terlalu lama kalau menungu mereka yang belum hadir untuk datang. Kalau begitu, Rumi, bisa saja lebih gawat lagi kondisinya!" Batin Raisa...
Raisa melepaskan koper kecil dan tan ransel yang ia bawa begitu saja...
"Aku titip barang-barangku sama kalian!" Kata Raisa
Tanpa ba-bi-bu lagi, Raisa langsung menggunakan sihirnya. Mengeluarkan sepasang sayap burung di balik punggungnya. Dan mulai bersiap-siap untuk mengudara.
"Hei, Raisa! Kau mau pergi ke mana?" Tanya Aqila
"Mencari Rumi! Tanda lambang bunga itu terhubung denganku sebagai inti kekuatannya. Hanya aku yang bisa langsung mengetahui posisi Rumi di mana sekarang. Aku akan menemukannya! Saat tanda dari lambang di tangan kalian sudah berubah warna menjadi warna hijau itu berarti Rumi sudah aman bertemu denganku. Saat itu mungkin rencananya aku akan membawanya ke tempat aman terdekat, kemungkinan besar ke tempat orangtuanya tinggal." Ungkap Raisa
Raisa pun mulai menggunakan kekuatan sepasang sayap sihirnya untuk terbang. Ia pun mulai mengudara dan terbang menjauh pergi~
"Raisa, apa kau tidak bisa menunggu kami untuk pergi bersama?!" Tanya Morgan berteriak.
"Maaf, aku harus cepat! Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menemukan Rumi. Tunggu saja kabar baiknya!" Jawab Raisa berteriak.
Raisa terus terbang menjauh hingga kini sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan mata.
Saat keberadaan Raisa telah menghilang, tibalah Devan, Ian, dan Chilla di sana.
"Morgan!" Seru Devan
"Yang lain sudah datang?" Tanya Ian
"Itu tas dan koper siapa? Ada yang mau pergi mencari Rumi dengan membawa tas itu?" Tanya Chilla
"Itu milik Raisa!" Jawab Amy
"Dia sudah datang, lalu mana orangnya?" Tanya Chilla lagi.
"Baru saja pergi." Jawab Wanda
"Mencari Rumi!" Jawab Sandra
"Apa yang terjadi?" Tanya Devan
"Raisa, dia datang. Setelah mendengar dan tau Rumi dalam bahaya dan menghilang saat dalam perjalanan, dia langsung pergi terbang dengan sihirnya." Jelas Morgan
"Raisa berkata, karena dia yang memberi lambang bunga pertanda ini, dia terhubung dengan kita semua seperti kita yang juga saling terhubung. Bedanya, jika kita tak tau posisi pasti yang lainnya, dia yang sebagai inti dari kekuatan lambang ini bisa langsung tau di mana posisi orang yang sedang dalam kondisi bahaya itu. Jadi, dia langsung pergi karena harus cepat. Dia bilang, tunggu saja kabar baiknya. Jika, tanda pada telapak tangan kita sudah berubah menjadi warna hijau berarti Rumi sudah aman bertemu dengannya." Ungkap Aqila
"Aku sudah bilang untuk menunggu agar kita bisa mencari Rumi bersama-sama. Tapi, dia tetap pergi sendiri." Ucap Morgan
"Cih, sangat merepotkan!" Decih Devan
"Menurutmu bagaimana, Devan?" Tanya Aqila
Devan pun tampak mulai berpikir.
"Raisa berkata, hanya dia yang bisa langsung tau posisi Rumi?" Devan balik bertanya.
"Ya, Raisa bilang seperti itu." Jawab Amy
"Raisa juga mengatakan, jika tanda ini sudah berubah menjadi warna hijau, dia akan membawa Rumi ke tempat aman terdekat. Kemungkinan besar ke tempat orangtua Rumi tinggal." Ungkap Sandra
"Dia bilang begitu?" Tanya Devan untuk memastikan.
Morgan, Aqila, Amy, Wanda, dan Sandra pun langsung mengangguk cepat.
Devan masih terlihat menimbang-nimbang dalam pikirannya.
"Berarti seperti katanya saja, kita tunggu kabar baiknya." Ujar Devan
"Apa kita hanya diam saja menunggu di sini? Bukankah kita berkumpul untuk berdiskusi cara mencari dan menyelamatkan Rumi?" Tanya Morgan
"Bukankah sekarang Raisa adalah teman kita?" Tanya Devan
__ADS_1
"Kau bertanya apa sih! Tentu saha, Raisa adalah teman kita." Jawab Morgan
"Bukankah kau juga percaya pada Raisa? Apa kau juga petcaya pada kekuatannya dan dia yang bisa menemukan Rumi?" Tanya Devan lagi.
"Aku percaya. Tapi, apa hubungannya itu dengan masalah ini?" Ujar Morgan
"Tentu, ada hubungannya! Makanya kita tunggu saja seperti yang dia katakan. Percayakan saja padanya!" Ucap Devan
"Tapi, masa kita hanya diam dan menunggu saja? Tidak melakukan apa-apa sedangkan Rumi dalam bahaya dan hanya Raisa saja yang mencarinya?" Tanya Morgan dengan perasaan gelisahnya.
"Kau tenang saja! Kau percaya dengan Raisa, aku pun begitu. Dia bisa menemukan Rumi. Kita tunggu saja dan saat tanda ini susah berubah menjadi warna hijau, maka kita baru mencari mereka menuju tempat orangtua Rumi tinggal. Jangan sampai tenaga kita terbuang sia-sia kerena melakukan perjalanan yang tidak pasti untuk mencari Rumi karena kita belum tau posisi pastinya. Kita berdoa saja, semoga Raisa bisa cepat menemukan Rumi dan menyelamatkannya." Ucap Devan
"Raisa, pasti bisa! Kau tau kan dia tidak lemah dan banyak kemampuannya? Rumi, juga bukan orang yang lemah. Dia pasti bisa bertahan sampai Raisa menemukannya. Jadi, tenang dan bersabarlah, Morgan!" Ujar Aqila
"Si*l! Dasar, lemah!" Kata Morgan yang merutuki dirinya sendiri dan terus merasa gelisah.
"Semoga mereka berdua baik-baik saja. Dan semoga Raisa bisa cepat bertemu dengan Rumi." Ujar Amy
"Semoga saja!" Kata Wanda
"Ini semua karena kau, Chilla! Kita jadi terlambat datang berkumpul. Kalau saja kita bisa tepat waktu, kita semua pasti bisa mencari Rumi bersama-sama dengan Raisa." Ucap Ian
"Kenapa jadi aku yang salah?" Tanya Chilla tak terima.
"Karena saat menghampiri rumahmu, kau masih saja asik makan! Padahal sudah tau situasinya seperti ini." Ujar Ian
"Iya, aku yang salah. Terserah kau saja! Aku minta maaf." Kata Chilla
...
Raisa terus terbang di udara mencari keberadaan sosok Rumi. Mencarinya dengan merasakan keberadaannya melalui inti sihirnya yang terhubung dengan lelaki itu. Matanya terus mencari-cari sosok Rumi dari kejauhan di atas. Ia bisa merasakan keberadaan lelaki pujaan hatinya dan terus terbang menuju tempatnya berada.
Perasaan Raisa terus tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat karena merasa panik, takut, khawatir, gelisah, dan tak sabar untuk bertemu dengan Rumi. Ia terus hampir ingin menangis namun ia terus menahannya. Sesekali suara isakan dan hembusan nafas berat ke luar dari mulut dan celah bibirnya.
..."Rumi, kau tunggu dan bertahanlah... Aku akan segera menemukan keberadaanmu. Aku akan datang kepadamu!" Batin Raisa...
Raisa mulai merasakan keberadaan Rumi yang sudah dekat dengannya. Raisa mulai terbang lebih rendah terus turun ke bawah. Ia terbang tidak lagi tinggi di atas dan matanya terus mencari keberadaan Rumi.
Mata Raisa mulai memicing mencari keberadaan sesosok lelaki. Kemudian, matanya membelalak kaget. Raisa menemukannya! Ia pun mendarat mendekat ke arah sosok yang dikenal yang ia cari.
"Rumi! Akhirnya aku menemukanmu!" Seru Raisa
Ssat menemukannya, Rumi dalam keadaan terbaring terkapar di tanah hampa yang tandus. Raisa tidak tau di mana mereka berdua berada tempat seperti apa karena walau telah sering memimpikannya, Raisa tidak pernah tau pasti tempat-tempat di dunia itu. Raisa pun menghampirinya. Duduk di samping posisi Rumi saat ini.
..."Rumi, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" Batin Raisa bertanya-tanya....
Raisa pun memeriksa keadaan Rumi dengan kemampuan sihir medisnya. Ternyata tubuh Rumi mengalami demam hebat entah karena apa, Raisa masih terus memeriksanya untuk menemukan penyebabnya.
"Panas sekali! Kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah daya tahan tubuhmu sangat kuat, Rumi?" Gumam Raisa
Yang awalnya Raisa menggunakan kedua tangannya untuk memeriksa tubuh Rumi dengan meletakkannya di dada Rumi, kini Raisa memindahkan salah satu tangannya pada dahi Rumi. Mencoba memeriksa ke dalam memorinya untuk mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
..."Banyak yang mengatakan, aku memiliki segala keberuntungan, aku punya macam-macam kemampuan. Semoga kali ini aku juga bisa tau dan melihat apa yang telah terjadi padamu. Apa yang sebenarnya kau alami sebelum ini, Rumi?" Batin Raisa...
"Kumohon, harus bisa. Aku harus tau apa yang telah Rumi alami sampi seperti ini. Perlihatkanlah padaku!" Gumam Raisa
Bersamaan dengan berhasil mengintip memori Rumi, Raisa juga berhasil menemukan dan mengetahui masalah pada tubuh Rumi!
Ternyata, Rumi sempat dikejar dan dicegat oleh beberapa orang dan terjadi pertarungan antara dirinya dan mereka yang tiba-tiba menyerangnya. Rumi hampir kehabisan tenaga sihirnya namun tetap berhasil mengusir dan membuat musuh pergi setelah ia kalahkan. Namun, tanpa disadarinya ternyata musuh telah berhasil berbuat sesuatu pada dirinya, memasukkan sesuatu pada tubuhnya! Raisa mengetahui itu semua!
"Rumi, telah berhasil diracuni!" Pekik Raisa dengan perasaan panik!
Seorang musuh yang menyerangnya berhasil menyuntikkan suatu cairan pada tubuh Rumi melalui tangannya. Kulit pada tubuh Rumi lebih keras dari tubuh orang biasa, itu membuatnya tidak menyadari telah disuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya.
.
•
Bersambung...
__ADS_1