Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
106 - Couple.


__ADS_3

Setelah sarapan bersama dan waktunya berkumpul bersama pun, Raisa masih tetap merasa canggung pada Rumi. Baik saat berpapasan, berhadapan, bersebelahan, atau saat apa pun yang mengharuskan keduanya bertemu atau berdekatan...


Seperti halnya saat ini, saat semuanya santai dan berkumpul bersama... Raisa memilih duduk di dekat Raina dan Arka bersama Farah dari pada yang sebelumnya selalu berdampingan bersebelahan dengan Rumi.


"Onty, kok gak duduk di dekat Paman ganteng lagi?" Tanya Farah dengan polosnya yang tak mengerti bahwa Raisa sedang berusaha menghindari Rumi untuk saat ini.


"Oh, haha. Sudah terlanjur duduk di sini, tempatnya juga sudah penuh. Duduk dekat sama Mami dan Papi juga sama saja." Jawab Raisa dengan segenap rasa canggungnya.


"Yang Farah bilang, Paman ganteng itu Paman Rumi ya? Teman Onty Raisa kan ada banyak... Kenapa yang dipanggil ganteng cuma Paman Rumi aja? Emangnya yang lainnya gak ganteng?" Tanya Raina


"Semua teman Onty, ganteng dan cantik kok. Tapi, kan Onty biasanya dekat sama Paman Rumi aja." Jawab Farah


"Ah, masa sih? Aunty dekat sama siapa saja kok, sama semuanya juga dekat. Kalau berteman itu gak boleh pilih-pilih ya, Farah." Ujar Raisa


"Oke, Onty!" Kata Farah


Sebelum ini pun, Raisa pernah terus berusaha untuk menghindari Rumi. Namun, kali ini bukannya merasa sedih, Rumi malah terus tersenyum melihat upaya penghindaran dari Raisa. Pasalnya, kali ini upaya itu bukan ingin untuk benar-benar menjauh darinya, hanya saja Raisa merasa malu-malu karena suatu peristiwa yang tak pernah terduga oleh keduanya yang telah terjadi. Kini, Rumi justru senang melihat Raisa yang malu-malu memalingkan wajahnya saat kedua mata mereka bertemu. Karena menurut Rumi, ekspresi Raisa itu sangat imut dan menggemaskan! Tak jarang, Rumi pun terkekeh kecil karena memergoki ekspresi malu-malu Raisa itu...


"Kata Pak Danu, 3 hari ini dari sore sampai malam ada perayaan panennya sawah desa ini. Sampai ada semacam pasar malam juga loh! Pada mau lihat-lihat dan main ke sana gak?" Ujar Raihan


"Oh iya, tapi di mana ya?" Tanya Arka


"Kalau gak salah sih di tanah lapang samping kantor desa, mulai dari sana!" Jawab Raihan


"Pasar malam itu apa, Raisa?" Tanya Morgan


"Pasar malam itu seperti wahana bermain sederhana, ada banyak yang berjualan juga di sana. Semua sengaja dilaksanakan karena adanya perayaan panen padi di desa ini sebagai tanda syukur semua warga desa di sini." Jelas Raisa


"Oh, jadi seperti festival ya?" Tanya Aqila


"Tepat sekali!" Jawab Raisa


"Aku mau ikut dong, Mih! Aku mau main banyak mainan! Boleh ya?" Ujar Farah


"Boleh aja! Nanti kita pergi sama-sama." Kata Arka


"Oke deh, boleh!" Setuju Raina


"Yes! Nenek Kakek mau ikut juga gak?" Tanya Farah


"Enggak deh. Nenek Kakek di sini aja jaga vila." Jawab Pak Hilman


"Main, boleh ya... Tapi, pulangnya gak boleh kemalaman." Kata Bu Vani


"Selain Ibu dan Bapak, yang lain ikut semua kan? Kak Raisa, juga ikut kan?" Tanya Raihan


"Iya, deh... Aku ikut!" Jawab Raisa


Malam harinya...


Setelah makan malam bersama, semua baru berangkat pergi ke pasar malam perayaan panen padi yang dilaksanakan di desa. Karena Farah terus merengek ingin pergi, akhirnya semua pun bersiap untuk berangkat. Meninggalkan Bu Vani dan Pak Hilman yang tetap menjaga di vila.


"Farah, boleh ikut, tapi gak boleh rewel dan harus nurut kata Mami ya." Pesan Raina


"Iya, Mih..." Patuh Farah


"Sini, Farah biar sama Papi aja yang gendong." Kata Arka


Farah pun langsung berlarian kecil menuju Arka yang siap menggendongnya. Arka pun langsung mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam gendongannya.


"Semuanya udah pada siap kan? Yuk, berangkat!" Ujar Raihan


Semuanya pun mulai berjalan beriringan ke luar dari wilayah vila yang cukup besar itu.


Karena Farah digendong oleh Arka dan berjalan lebih dulu bersamaan dengan Raina, Raisa jadi tidak ada teman bicara yang akan memecahkan kesunyian dan rasa canggungnya. Pasalnya, sejak ke luar dari vila, Rumi terus mencari celah kesempatan untuk berjalan berdampingan dengan Raisa. Walau seharian ini Raisa terus nencoba menghindari lelaki itu, pada akhirnya Raisa juga tak dapat lari selamanya karena Rumi terus dengan gencar menemukan kesempatan untuk mendekati Raisa. Akhirnya, Raisa hanya bisa pasrah berjalan bersampingan dengan Rumi walau hanya tetap berdiam diri tanpa mengeluarkan suara...


"Raisa, mau sampai kapan kau hanya diam dan terus menghindariku?" Tanya Rumi


Sepanjang perjalanan menuju ke pasar malam, Raisa berharap Rumi pun tetap mengabaikannya. Tapi, ternyata lelaki itulah yang lebih dulu mengajaknya bicara. Dan karena sudah mendiamkannya sepanjang hari, mau tak mau kali ini Raisa harus menanggapi pembicaraan yang Rumi mulai lebih dulu...


"Eh, siapa yang menghindarimu? Aku, tidak kok!" Sangkal Raisa


"Kau berusaha menyangkal ya? Padahal, anak sekecil Farah saja bisa menyadarinya." Ujar Rumi


"Aku bilang, tidak! Perasaanmu saja yang menganggapnya seperti itu. Tahu sendiri, Farah itu masih kecil, omongannya tak bisa semuanya dianggap serius." Elak Raisa


"Bicaramu semakin pandai saja ya... Padahal bicaranya anak kecil sudah pasti jujur." Kata Rumi


Karena tak bisa terus nenanggapi Rumi berbicara, Raisa berencana berjalan dengan cepat untuk mendahului Rumi dan meninggalkannya. Tapi, seolah tahu Raisa akan terus mencoba menghindarinya, Rumi sudah terlebih dulu menahan langkah Raisa dengan mencekal tangannya agar tak dapat berjauh-jauhan...

__ADS_1


"Kau mau ke mana lagi kali ini? Tujuan kita kan sama, jalan bersamaku saja. Jangan jauh-jauh atau menghindariku lagi." Ujar Rumi


"Ah, iya. Baiklah, aku mengerti! Bisakah kau lepaskan tanganmu dariku?" Kata Raisa


Rumi pun melepaskan cekalannya dari tangan Raisa.


Rumi tersenyum... Kerena walau pun Raisa masih tak mampu menatapnya langsung, setidaknya ia bisa menahan Raisa untuk tetap di sisinya seperti saat ini. Rumi masih bisa memaklumi sikap malunya Raisa, tapi setelah ini ia akan mengajak Raisa bicara berdua lagi untuk meluruskan dan mengakhiri suasana canggung di antara keduanya...


Setelah tiba di pintu masuk, Farah langsung kegirangan ingin langsung bermain banyak permainan yang ada di dalam. Mereka semua pun mengantre lebih dulu untuk membeli tiket masuk pasar malam.


"Walau suasananya berbeda, tapi tetap ramai ya..." Kata Marcel


"Benar! Pasar malam ini tidak sepenuhnya sama seperti di taman bermain saat itu. Karena bagaimana pun acara ini hanya diselenggarakan pihak desa untuk menghibur para warganya, tapi tenang saja, tetap seru kok!" Ucap Raisa


Setelah masing-masing mendapat tiket masuk pasar malam, mereka semua pun mulai masuk satu persatu.


"Nah, karena kita semua berakai-ramai begini... Bisa pecah kelompok mainnya ya, soalnya kan gak mungkin mau ngantri bareng-bareng banyak orang begini." Ucap Arka


"Kalau begitu, Farah sama Mami Papi... Raihan, kamu ikut sama kakak aja. Raisa sama teman-temannya biar urus kelompok mereka sendiri." Kata Raina


"Lho, kok? Aku kan mau sama Onty Icha juga!" Rengek Farah


Onty Icha adalah panggilan kesayangan Farah untuk Raisa.


"Onty Icha? Nama panggilan itu lucu juga!" Batin Rumi


"Eit, apa kata Mami sebelumnya? Farah harus nurut sama Mami kan?" Tanya Raina


"Udah gapapa, sama Om Raihan juga sama aja kan..." Kata Raihan


"Eh, kok begitu? Aku juga kan mau main bareng Farah juga." Protes Raisa


"Udahlah, kamu kan bukan anak kecil lagi, Raisa. Kasihan teman-teman kamu dong kalau kamu mainnya sama Farah terus." Ucap Raina


"Huh, iya deh..." Pasrah Raisa


Raisa ingin dengan Farah bukan hanya ingin bermain bersamanya, tapi itu juga sebagai alasannya untuk mencari-cari kesempatan untuk menghindar dari Rumi lagi.


"Ya udah, kita pisah di sini, ngumpul lagi di sini juga ya." Kata Raina


Raina, Arka, Farah, dan Raihan pun berpisah diri dari yang lainnya meninggalkan Raisa dan teman-temannya.


"Buat apa harus buat kelompok lagi? Merepotkan! Pakai sesuai tim kita masing-masing saja..." Ujar Devan


"Tapi, aku tak mau bersamamu dan Ian! Aku mau dengan Aqila saja! Yuk, bermain bersama, Aqila!" Kata Chilla


"Ah, baiklah..." Pasrah Aqila saat Chilla sudah menariknya ubtuk pergi berdua bersama.


"Siapa juga yang ingin bersama gadis gendut sepertimu! Aku dan Devan bisa bermain bersama Morgan! Yuk, pergi!" Ucap Ian


"Baiklah, ayo!" Seru Morgan


Morgan, Ian, dan Devan pun menhadi satu kelompok bersama dan beranjak pergi untuk bermain.


Seperti tim masing-masing biasanya... Amy, Wanda, dan Sandra pun langsung pergi menjajaki permainan. Begitu pula dengan Billy, Dennis, dan Marcel. Dan hanya meninggalkan Raisa dan Rumi saja!


"Hei, kenapa kalian meninggalkanku!? Jangan lupakan aku!" Kesal Raisa ditinggalkan bersama Rumi seorang saja.


"Semuanya sudah pergi bermain, tinggal kita berdua saja. Yuk, bermain bersamaku, Raisa!" Ucap Rumi yang juga menarik Raisa pergi untuk bermain bersama berdua dengannya.


Saat dirinya ditarik untuk mengikuti langkah Rumi, Raisa hanya bisa pasrah menerimanya begitu saja...


"Kau ingin bermain apa, Raisa?" Tanya Rumi


"Apa ya? Entahlah... Kalau bermain beberapa permainan dan berhasil memenangkannya bisa mendapat hadiah atau menaiki wahana, tapi aku tidak tahu ingin memulai dari mana." Ujar Raisa


"Kalau begitu, biar aku yang pilih saja. Aku akan memenangkan hadiah untukmu atau membuatmu senang dengan menaiki wahana bermain." Kata Rumi


Rumi pun mulai mengajak Raina memainkan permainan berhadiah. Awalnya masih terasa canggung bagi Raisa membuatnya hanya diam menyaksikan Rumi yang antusias ingin memenangkan hadiah untuknya. Namun, lama kelamaan hanya melihat Rumi bermain saja mulai terasa seru bagi Raisa dan mulai membuatnya menyemangati Rumi atau malah meminta untuk ikut bermain bersama.


"Eit, sedikit lagi saja kau bisa mengenainya tadi. Ayo, lakukan lagi! Kau harus memenangkan permainan ini, katanya kau ingin mendapatkan hadiahnya untukku. Masih ada satu kesempatan lagi, kau harus menang! Semangat, Rumi!" Ucap Raisa


"Baiklah, yang satu kali ini aku pasti menang!" Kata Rumi


Rumi tersenyum senang saat melihat Raisa mulai antusias dengan permainan yang dimainkannya dan mulai kembali ceria seperti biasanya.


Rumi pun bersiap pada kesempatan terakhir permainan yang sedang dimainkannya. Rumi akan mengetuk palu untuk meraih posisi tertinggi di puncak akhir batasan permainan tersebut. Untuk dapat mencapai puncak teratas permainan ini, Rumi harus mengerahkan seluruh tenaganya supaya dapat memenangkan permainan tersebut.


TAK!!

__ADS_1


Tringg...


Jackpot!


Rumi meraih posisi batasan terakhir permainan mengetuk palu tersebut.


"Pacar Mba-nya kuat juga ya. Selamat! Ini hadiahnya khusus untuk couple yang main permainan ini!" Ujarnya penjaga kios permainan ketuk palu tersebut.


"Ah, haha... Terima kasih!" Ucap Raisa yang menerima hadiah berupa sepasang boneka tupai yang lucu.


Raisa dan Rumi pun beranjak pergi dari kios permainan tersebut.


"Couple yang dimaksud pria tadi itu artinya apa, Raisa?" Tanya Rumi


"Couple itu artinya pasangan, makanya hadiahnya ada sepasang. Karena bonekanya ada dua, ini kuberikan satu padamu yang lelaki, dan yang perempuan untukku. Terima kasih sudah memenangkan permainan tadi untukku ya, Rumi." Ujar Raisa


"Aku mengerti! Setelah ini mau bermain apa lagi?" Kata Rumi bertanya.


"Aku yang tentukan permainan selanjutnya! Aku teringat satu permainan ini dan ingin memainkan permainannya. Lewat sini, aku sempat melihat kios permainannya tadi!" Ucap Raisa yang langsung mengajak Rumi menjejaki satu kios permainan lainnya.


Raisa dan Rumi pun berhenti di salah satu kios permainan yaitu permainan menembak kaleng bersusun. Dengan sangat antusiasnya, Raisa langsung memesan bola penembak untuk memulai bermain.


Setelah mencoba tiga kali kesempatan menembak, Raisa dapat mengenai dua susunan kaleng dan mendapat hadiah berupa kotak musik kecil.


"Hadiah permainannya cukup menarik dan ternyata ikut bermain itu rasanya seru sekali!" Kata Raisa


"Setelah ini masih mau bermain lagi?" Tanya Rumi


"Kita istirahat dulu saja, setelah itu aku ingin menaiki beberapa wahana." Jawab Raisa


Raisa dan Rumi pun memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum berencana ingin menaiki beberapa wahana. Raisa dan Rumi duduk beristirahat sambil memakan permen kapas yang sering disebut juga kembang gula atau gulali. Beberapa hadiah pernainan yang berhasil didapatkan, walau tak semua permainan yang dimainkan dapat dimenangkan. Beberapa hadiah pun merupakan hadiah couple yang lucu dan manis. Ada boneka, gantungan kunci, dan lainnya.


"Hmm, rasanya manis sekali!" Gumam Raisa


"Tapi, tetap tidak semanis senyumanmu, Raisa." Kata Rumi


"Kau ini bicara apa? Dasar, gombal!" Ujar Raisa


"Apa itu gombal?" Tanya Rumi


"Pandai merayu atau menggoda hanya untuk membual." Jawab Raisa


"Eh, tapi aku tidak berbual. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya saja." Kata Rumi


"Terserah kau saja! Bonekanya lucu sekali, menggemaskan!" Ucap Raisa seraya melihat bobeka hadiah dari permainan yang sempat dimenangkan untuknya.


"Dari pada boneka yang sudah didapatkan malam ini... Menurutmu, akan lebih bagus yang mana jika dengan boneka milikku untukmu?" Ujar Rumi


"Apa maksudmu? Apa kau punya boneka lain selain yang kau dapatkan malam ini?" Tanya Raisa


Rumi pun mengeluarkan sebuah boneka berbentuk ular putih dari dalam tas pinggangnya untuk diberikan pada Raisa. Raisa terkejut saat Rumi memberikan boneka ular itu padanya...


"Ini, untukku?" Takjub Raisa saat melihat boneka yang sudah lama diinginkannya itu.


"Ya, tentu saja untukmu. Aku ingat saat Sanari mengatakan padaku, kau menginginkan boneka ular itu saat kau menginap di rumahnya." Ucap Rumi


"Ah, Sanari mengatakan hal itu padamu, ternyata. Jadi, kau memberikan boneka ini padaku hanya semata-mata Sanari mengatakan bahwa aku menginginkannya? Karena Sanari meminta kau memberikan ini juga padaku, begitu? Kukira, boneka ini adalah sesuatu hadiah yang ingin kau berikan padaku seperti yang semalam kau katakan padaku." Ujar Raisa merasa sedikit kecewa.


"Bukan seperti itu! Aku memberikan boneka ini karena tahu kau menginginkannya. Walau kutahu hal itu dari Sanari, tapi bukan karena Sanari yang memintaku memberikannya juga padamu. Niatku, semata-mata ingin membuatmu merasa senang! Selain itu, boneka ular ini bukanlah hadiah yang ingin kuberikan padamu. Itu sesuatu yang berbeda lagi! Aku nengatakan hal yang sebenarnya padamu, sungguh!" Ungkap Rumi


Raisa memang pernah melihat boneka yang sama dalam genggamannya kini dengan yang dimiliki Sanari di rumahnya saat Raisa pernah menginap di sana tempo lalu. Sekali lihat boneka ular putih itu, Raisa dapat mengetahui dari siapa boneka itu Sanari dapatkan, walau Raisa juga tahu bahwa Rumi memberikan boneka tersebut pada Sanari sebagai hadiah perpisahan. Saat itu, Raisa memang menginginkan boneka itu. Mungin alasannya menginginkan boneka tersebut adalah karena dari awal Raisa sudah menyukai Rumi sebagaoli pemberi boneka tersebut...


"Benarkah? Jadi, aku masih bisa menanti sesuatu hadiah lain yang kau maksud itu? Tapi, sebenarnya sesuatu apa sih yang ingin kau berikan padaku sebagai hadiah lainnya itu?" Tanya Raisa


"Kau akan segera mengetahuinya. Ngomong-ngomong... Kau menginginkan boneka itu, apa karena kau sudah mulai menyukaiku sejak saat awal kau melihat boneka itu ada di rumah Sanari? Lalu, apakah jika memang benar alasanku memberikan boneka itu karena Sanari yang memintaku memberikannya juga padamu sebenarnya kau merasa kesal karena kau cemburu?" Ujar Rumi bertanya.


"Apa maksudmu itu? Aku menginginkan boneka ular ini saat kumelihatnya di rumah Sanari hanya karena aku merasa boneka ini lucu dan menggemaskan saja. Aku juga tidak crmburu, aku hanya merasa sedikit kecewa saja... Pokoknya, begitulah! Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi! Kalau begitu, terima kasih sudah memberikanku boneka ular ini." Ucap Raisa


"Hmm, sama-sama. Tapi, kalau bukan membahas hal ini, harusnya membahas apa? Apa aku harus membahas dan menanyakan padamu tentang mengapa kau mencoba menghindariku selama seharian sejak pagi tadi?" Ujar Rumi


"Apa katamu!? Aku sudah bilang, aku tidak menghindarimu!" Keukeuh Raisa masih tetap menyangkal.


"Benarkah?" Desak Rumi agar Raisa dapat mengatakan hal yang sebenarnya.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2