Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
117 - Kesimpulan Dari Kecemburuan.


__ADS_3

Setelah bersama-sama kembali menuju ke peternakan, teman-teman yang sudah lebih dulu berada di sana menghampiri Raisa, Rumi, dan Sandra yang datang bersama Kang Arif. Karena begitu khawatir dengan insiden kuda mengamuk yang terjadi, semuanya menjejali ketiga temannya itu dengan pertanyaan yang menanyai kabar mereka bertiga. Akhirnya, Sandra yang menjelaskan kronologis insiden itu terjadi sampai Raisa dan Rumi datang menolong...


Begitu sampai di sana, Pak Wisnu pun langsung memeriksa keadaan kuda pilihan Sandra yang sempat mengamuk di jalan desa. Selain tidak ada luka cedera, kondisi psikis kuda tersebut pun hanya mengalami sedikit syok yang tersisa setelah mengalami insiden yang dialaminya. Atas insiden yang terjadi, Raisa pun meminta maaf beribu maaf karena merasa menjadi penyebab insiden tersebut secara tidak langsung. Begitu pun semua teman Raisa yang juga ikut meminta maaf... Pak Wisnu pun tidak bisa menyalahkan Raisa dan teman-temannya karena bagaimana pun dirinya juga memperbolehkan perjalanan berkeliling desa dengan menunggang kuda seperti cara berlatih berkuda yang sudah ada sejak dulu.


Setelah memastikan kondisi semua kuda dalam keadaan cukup aman dan baik-baik saja, Raisa pun melunasi semua biaya sewa pemakaian kuda dan biaya latihan selama berlatih berkuda tadi. Setelah memastikan segala urusan di peternakan milik Pak Wisnu itu sudah selesai, Raisa pun mengajak semua temannya untuk kembali ke vila...


Raisa dan semua temannya pun pulang untuk beristirahat.


"Apa kalian menikmati saat berlatih menunggang kuda tadi?" Tanya Raisa


"Ya, cukup menyenangkan walau sedikit merepotkan!" Jawab Devan


"Mungkin hanya kau yang sangat menikmatinya, Raisa. Terlihat jelas saat kau mampu menguasai cara berkuda dengan mudahnya dalam waktu singkat." Ujar Morgan


"Benar, mungkin hanya aku yang menikmati saat latihan berkuda tadi. Sandra, bahkan mrngalami insiden yang sangat nengejutkan. Maaf, telah membuat kalian merasakan hal yang kurang menyenangkan, atau bahkan sangat tidak menyenangkan. Semua terjadi karena aku yang memaksa kalian untuk mengikuti keinginanku." Ucap Raisa yang merasa bersalah.


"Jangan berkata seperti itu. Aku pergi karena juga ingin merasakan hal yang kau dambakan sejak kecil itu. Meski pun tidak langsung menunggang kuda dengan kemampuan sendiri dan sedikit merasa takut, aku lumayan menikmatinya." Ujar Amy


"Brnar yang Amy katakan. Aku juga menikmatinya kok, ya kecuali insiden tadi sih. Tapi, bukan salahmu saat terjadi insiden tadi, itu hanya kebetulan saja. Kau tidak perlu merasa bersalah begitu." Ucap Sandra


"Aku malah sangat menikmatinya!" Kata Rumi


"Itu karena kau juga cepat menguasai cara berkuda seperti Raisa, Rumi!" Ujar Ian


"Benar kata Sandra. Selain terjadinya insiden yang mengejutkan itu, kami cukup menikmatinya kok. Kami juga jadi tahu bisa merasakan asiknya belajar cara berkuda, akhirnya kami tahu alasanmu sangat mendambakan saat menunggang kuda. Ternyata rasanya cukup mengasikkan." Ucap Wanda


"Aku juga jadi ikut menunggang kuda walau rencana awalnya tidak begitu." Ujar Dennis


"Ya, itu karena aku yang terlalu gugup tadi. Kau jadi mengambil alih kendali kudanya." Kata Marcel menyahuti ucapan Dennis.


"Todak perlu merasa bersalah dan jangan terlalu dipikirkan, Raisa. Kami lumayan menikmatinya kok dan kami pun baik-baik saja." Ucap Aqila


"Baiklah, kalau begitu. Kalian semua bisa beristirahat. Setelah waktu ini, Bu Weni dan Pak Danu mungkin akan datang lagi untuk menyiapkan makanan. Besok, rencananya aku ingin membawa kalian pergi berbelanja." Ujar Raisa


"Tepat sekali! Aku sudah sangat ingin pergi istirahat." Ucap Billy


"Kau juga istirahatlah, Raisa." Kata Chilla


"Baik. Aku akan ada di dalam kamarku jika kalian mencariku." Ucap Raisa


Semua pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat...


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Raisa langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang kasur yang empuk nan nyaman itu. Beristirahat sejenak sebelum menantikan kembali waktu makan. Karena saat menginap kali ini sudah ada Bu Weni dan Pak Danu yang bertanggung jawab atas makanan, kali ini Raisa bisa sedikit lebih bersantai menikmati waktu saat istirahatnya di vila.


.........


Setelah waktu makan malam, Raisa memberi tahu semua temannya jika ingin pergi mencari udara sekaligus mencerna makanan dengan berjalan santai di sekitar halaman vila.


Setelah setengah berkeliling, Raisa berhenti di tempat yang menurutnya nyaman. Raisa duduk di atas hamparan rumput hijau halaman vila tersebut dan menengadahkan kepalanya untuk menatap langit malam penuh bintang...


Raisa menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan untuk merasakan ketenangan tenangnya semilir angin malam yang menyejukkan~


Raisa juga memejamkan matanya sejenak untuk mengusir beban pikiran yang memenuhi kepalanya...


"Sepertinya kau sangat suka suasana serta pemandangan saat malam hari ya, Raisa?" Tanya Rumi yang baru saja datang sampai membuat Raisa terkejutkan.


"Rumi, aku baru saja memejamkan mataku tadi! Lagi-lagi kau membuatku terkejut! Bukankah aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku sangat menyukai pemandangan langit malam bertabur bintang?" Ujar Raisa


"Kau benar. Aku duduk di sini ya." Kata Rumi yang sudah langsung mendaratkan p*ntatnya di samping Raisa.


"Ada perlu apa kau ke sini? Kau mencariku?" Tanya Raisa


"Aku memang selalu mencarimu untuk bisa selalu bersamamu." Jawab Rumi


Raisa tersenyum mendengar perkataan yang ke luar dari mulut dan bibir Rumi. Kata-katanya selalu saja manis. Dasar, lelaki gombal!


"Di balik ketenangan dan senyumanmu, sepertinya sedang ada yang kau pikirkan. Apa itu?" Ujar Rumi


"Entahlah, aku pun sepertinya tidak tau pasti apa itu. Menurutmu, apa?" Kata Raisa


"Apa itu tentang insiden yang dialami Sandra? Kau masih merasa bersalah atas itu?" Tanya Rumi berusaha menebak permasalahan Raisa.


"Mungkin saja. Aku senang saat kalian semua bilang cukup menikmatinya, tapi sepertinya aku masih saja merasa bersalah atas terjadinya insiden itu. Bagaimana kau bisa menebaknya? Apa itu sangat terlihat?" Ujar Raisa


"Kau ini tipe orang yang suka memendam rasa bersalah, rupanya. Itu cukup terlihat pada raut wajahmu. Sudahlah... Yang lainnya juga tidak terlalu memikirkannya, kenapa malah kau yang merasa pusing sendirian? Mereka sudah bilang cukup menikmatinya dan itu juga bisa terlihat kok. Jadi, kau tidak perlu mempermasalahkan hal ini sendirian." Ucap Rumi


"Benar juga katamu. Aku sudah sangat senang bisa kenal dan berjumpa dengan kalian semua. Sekarang, jika harus berpisah dan kembali ke dunia kita masing-masing pun rasanya tidak akan terlalu merindukan kalian lagi karena aku memiliki foto kenangan kita bersama. Kita pun masih bisa jumpa di lain waktu lagi. Hal seperti hari ini harusnya tidak perlu kupikirkan lagi, karena yang terpenting bagiku kalian semua baik-baik saja. Hh~ Hari ini terasa sedikit melelahkan... Pasti rasanya nyaman jika berbaring di atas rerumputan sambil melihat pemandangan lagit malam bertabur bintang!" Ungkap Raisa yang langsung merebahkan tubuhnya sembarang di atas hamparan rumput.


Rumi pun ikut berbaring di sampung Raisa...

__ADS_1


"Benar katamu, ternyata rasanya cukup nyaman." Kata Rumi


"Tentu saja! Rasanya seperti kebebasan..." Timpal Raisa


"Kau sudah membuang beban masalahmu tadi. Apa masih ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Rumi


"Tidak ada. Kenapa? Kau bertanya seolah ingin aku memikirkan sesuatu di dalam pikiranmu juga..." Ujar Raisa


"Aku selalu merasa cemburu denganmu saat kau dekat dengan siapa pun, bahkan hari ini aku cemburu dengan Pak Wisnu yang pernah kau panggil dengan sebutan kakak saat kau masih kecil, juga dengan si Putri kuda pilihanmu tadi juga. Apa kau sedikit pun tidak merasa cemburu denganku?" Tutur Rumi


"Jadi, ini tentang kau? Atau aku? Atau kau ingin membandingkan antara kau dan aku? Atau apa sih? Kau mengharapkan jawaban seperti apa dariku? Atau kau ingin aku ada perasaan cemburu denganmu?" Tanya Raisa yang justru merasa heran dengan ucapan Rumi.


"Hari ini kau mempermasalahkanku yang ingin menggantikanmu menggendong Sandra, padahal aku hanya tidak ingin kau kelelahan jika menggendongnya. Apa ini bisa kuanggap bahwa kau cemburu denganku dan Sandra?" Ujar Rumi


"Apa? Jadi, tentang ini? Tidak kok, aku tidak cemburu. Jadi, kau benar-benar berharap aku cemburu tentang itu?" Kata Raisa


Rumi mengangguk pelan...


Raisa pun terkekeh kecil~


"Ahaha, sebenarnya ada sih sedikit rasa cemburu. Dari pada cemburu, aku kurang suka dengan caramu mengkhawatirkan aku. Karena aku pun tahu, kau yang ingin menggantikanku menggendong Sandra adalah rasa kepedulianmu padaku. Aku kurang suka caramu saat itu... Dari pada apa yang kau katakan hari ini tadi, aku lebih suka kau berkata begini... 'Tidak usah kau yang menggendong Sandra, nanti kau bisa lelah. Biar aku saja yang gantikan menggendong Sandra.' Memang terdengar seperti biasa dan sama saja, tapi dari sisiku tetap berbeda. Jika kau mengatakan seperti yang kukatakan, akan terasa lebih berkesan karena kau peduli dan perhatian padaku tanpa melupakan perasaanku. Kalau yang kau katakan hari ini tadi, walau pun kau peduli terasa seolah caramu itu kasar dan kurang lembut karena seperti kau yang hanya peduli rasa lelahku tapi tidak peduli perasaanku yang akan membuatku cemburu. Itulah segi pandang sebagian perempuan sepertiku ini. Karena percuma saja peduli dengan rasa lelah tanpa peduli perasaan seseorang, sama saja bohong. Sebagian orang merasa perasaan itu lebih penting karena jika perasaanmu terluka akan terasa lebih melelahkan dari pada rasa lelah itu sendiri. Tapi, tidak ada yang terjadi antara kau dan Sandra, itu pun sudah lewat. Jadi, aku tidak jadi cemburu, itu sia-sia saja. Aku sudah bicara panjang lebar begini, kau pasti bisa mengerti kan?" Ungkap Raisa


"Ya, aku bisa langsung mengerti. Ternyata, aku masih punya banyak kekurangan." Kata Rumi


"Kekurangan juga adalah hal yang manusiawi. Itu hal yang wajar dan seperti itulah kehidupan manusia. Yang penting aku menyukaimu apa adanya. Kekurangan yang ada padamu itu jugalah yang membuatku suka padamu. Ketidak-pekaanmu atas ketidak-tahuanmu karena sifat polosmu itulah yang menurutku lucu. Aku suka semua itu dari dirimu!" Ucap Raiaa


"Lalu, apa kau tidak pernah merasa cemburu sama sekali?" Tanya Rumi lebih seperti berharap.


"Kau masih mengharapkan aku merasa cemburu? Dari pada dengan Sandra, aku lebih cemburu pada Morgan. Rasanya seperti sangat tidak adil Morgan lebih dulu mengenalmu dari pada aku, padahal aku sangat menyukaimu sampai seperti ini. Walau awalnya dia pun tidak begitu memahami dirimu, tapi pada akhirnya kalian menjadi begitu dekat dan saling mengerti. Itulah yang membuatku iri dan inilah rasa kecemburuanku. Bahkan rasanya sampai kapan pun aku tidak bisa menggantikan posisi Morgan yang berarti bagimu. Tapi, kalau bukan karena pertemanan kalian yang begitu erat sepertinya aku pun tidak akan bisa memahami dirimu sampai akhirnya jadi menyukaimu. Tapi, itu semua tetaplah hal wajar dan seperti inilah kehidupan. Karena yang penting bagiku siapa pun yang membuat kita cemburu, aku akan tetap dan selalu mencintaimu dan kau tetap mencintaiku. Mau bagaimana pun roda kehidupan ini berputar, kita akan tetap kembali pada cinta kita. Itulah kesimpulannya!" Jujur Raisa


"Ternyata begitu! Tapi, kenapa kau malah cemburu dengan Morgan? Aku dan dia sama-sama seorang lelaki... Tidak akan ada sedikit pun kemungkinan antara kita!" Ujar Rumi


"Kau pun sama! Kau bahkan cemburu dengan keponakan kecil perempuanku dan dengan seekor kuda! Apa kau pikir aku ada kemungkinan dengan mereka? Jika, diungkit itu akan membuatku merasa kesal! Huh! Orang dengan tipe sepertiku ini mengerti kalau kau hanya suka padaku, jadi yang sepertiku ini lebih cemburu pada pertemanan erat antara dirimu dan teman yang berarti bagimu, contohnya Morgan! Sampai sini, apa kau mengerti? Rumi-ku sayang...!?" Jelas Raisa


Rumi terkekeh kecil dengan perasaan senang...


Rumi pun mengganti posisi yang awalnya terlentang menjadi menghadap Raisa. Juga menumpu satu tangannya agar dapat menatap wajah Raisa yang sedang terbaring dengan sangat jelas. Bahkan Rumi pun meraih helaian rambut panjang milik Raisa untuk dimainkannya~


"Baik, aku sudah benar-benar mengerti sekarang! Jangan marah padaku ya, Raisa... Terima kasih juga karena kau telah mengajarkan banyak hal padaku. Berkat dirimu aku jadi bisa mengerti semua hal yang sebelumnya terasa sulit untuk dimengerti. Aku sungguh sangat beruntung!" Ucap Rumi yang lalu menghirup aroma harum rambut panjang milik Raisa yang membuatnya mendekati gadisnya itu~


"Kalau sudah mengerti, ya sudah... Kenapa kau ini!? Sudah cukup mendekat padaku, menjauhlah! Ini ruang terbuka, bagaimana kalau sampai ada yang melihat?!" Panik Raisa


"Hei, lihatlah tempat! Kita bisa dapat teguran dan kecaman keras jika sampai ada yang melihat!" Tegas Raisa


"Tidak akan ada yang melihat kita ke sini, bukankah vila keluargamu ini adalah wilayah pribadi? Sebentar saja, kau bisa mendorongku setelahnya..." Kata Rumi yang terus mendekat ke arah Raisa.


Satu tangan Rumi sudah berada pada pipi Raisa dan membelainya lembut~


"Haish, dasar! Kaulah kelemahanku yang sesungguhnya..." Dengan perkataannya ini, Raisa hanya bisa pasrah.


Tahu, Raisa tidak menolaknya... Rumi pun bergerak lebih dekat untuk mendaratkan bibirnya pada bibir manis milik Raisa...


Satu tangan Raisa nenggenggam tangan Rumi yang berada pada pipinya.


CUP!


Sepasang bibir kedua insan ini phn bersatu padu dengan lembut dan perlahan~


Langit malam berhiaskan bulan dan bertabur bintang pun menjadi saksi bisu kisah dan tindakan cinta mereka berdua!


Cukup lama keduanya memadu perasaan kasih, akhirnya satu tangan Raisa yang menganggur digunakannya untuk mendorong tubuh Rumi untuk mengakhirinya...


"Hahh~ Sudah cukup! Sekarang menjauhlah dariku..." Kata Raisa


"Baiklah... Terima kasih, Raisa!" Ucap Rumi yang tersenyum senang.


Raisa menyandarkan kepalanya pada bahu Rumi. Tangan Rumi pun bergerak merangkul ke belakang kepala Raisa yang berbaring.


"Aku ke sini tuh ingin mencari kenyamanan dan ketenangan di luar sini, tapi malah dibuat tegang karena perbuatanmu." Keluh Raisa


"Memangnya berada dekat denganku tidak bisa membuatmu merasa nyaman dan tenang?" Tanya Rumi


"Dekat denganmu memang bisa membuatku nyaman, tapi tidak untuk merasa tenang." Jawab Raisa


"Kenapa begitu?" Tanya Rumi


"Jantung ini tidak pernah merasa tenang saat dekat denganmu, selalu saja berdebar tak karuan!" Jawab Raisa


"Kalau itu, aku pun sama denganmu! Kau bisa coba merasakannya sendiri..." Kata Rumi yang lalu meraih dan meletakkan satu tangan Raisa pada dada kirinya.

__ADS_1


Tepat pada letak posisi jantung Rumi, Raisa dapat merasakan debaran jantung lelaki itu melalui telapak tangannya...


DEG DEG DEG!


DEG DEG~


DEG...


Merasakannya mampu membuat detak jantung Raisa berdebar semakin tak menentu, juga seolah merasakan sengatan cinta!


Raisa pun segera menarik kembali tangannya dengan cepat~


..."Sengatan listrik!" Batin Raisa...


Raisa langsung bangkit terduduk setelahnya...


Rumi pun mengikuti perubahan posisi pergerakan Raisa menjadi duduk.


"Kita sudah terlalu lama mengobrol di sini, sudah waktunya kembali ke dalam vila. Malam juga sudah semakin terasa dingin..." Ujar Raisa


"Sebelum kembali masuk, bolehkah aku meminta satu hal permintaan padamu? Aku ingin mendengar lagi panggilan spesial srperti tadi darimu untukku... Bisakah?" Pinta Rumi


"Panggilan spesial seperti tadi? Yang mana? Kapan aku mengatakannya?" Bingung Raisa


"Masih belum lama kau mengatakannya kau sudah lups? Atau kau pura-pura melupakannya? Apa yang harus kulakukan supaya kau bisa mengingatnya lagi?" Tanya Rumi dengan sedikit mengancam dengan kembali mendekatkan dirinya pada Raisa.


"Baiklah, aku sudah ingat kembali! Tapi, sebelum itu aku ingin memberikan sesuatu padamu..." Kata Raisa yang langsung mendorong tubuh Rumi untuk menjauh darinya.


Raisa pun memberikan beberapa lembaran yang diletakkan pada telapak tangan Rumi setelah meraihnya... Itu adalah beberapa lembar foto!


"Itu adalah hasil cetak foto yang diambil saat kita bermain di pasar malam sebelumnya. Itu adalah foto kenangan manis kita berdua. Jadi, kau harus simpan dengan benar dan jaga baik-baik foto-foto itu ya, Rumi-ku sayang..." Ucap Raisa


Setelah mengucapkannya, Raisa pun bangkit berdiri dan berlalu pergi beranjak masuk kembali ke dalam vila dengan berlarian kecil menjauh segera dari Rumi...


Rumi pun melihat hasil cetak foto yang Raisa berikan padanya. Benar, itu adalah foto kenangan manis nan indah antara dirinya dan Raisa saat di pasar malam. Rumi tersenyum saat melihat hasil foto itu karena membuatnya mengingat momen asli saat pengambilan foto itu.


"Raisa, tunggu aku!" Seru Rumi


"Aku sudah mengucapkan panggilan spesialnya tadi kan..." Kata Raisa


"Kau curang langsung berlari setelah mengucapkannya! Aku masih kurang jelas mendengarnya!" Protes Rumi


"Pokoknya aku sudah mengucapkannya. Itu sudah cukup!" Keukeuh Raisa yang tak mau kalah.


Raisa pun tiba masuk kembali ke dalam vila sebelum Rumi~


"Kau kenapa terlihat seperti terengah-engah begitu, Raisa?" Tanya Morgan


"Rumi, dia dengan jahilnya mengejarku!" Jawab Raisa


"Raisa, kau meninggalkanku!" Seru Rumi yang baru saja sampai masuk ke dalam vila.


"Kalian bermain seperti anak kecil saja!" Kata Devan


"Raisa, besok kau akan mengajak kami berbelanja seperti apa?" Tanya Chilla


"Tentu saja, berbelanja apa yang kalian inginkan. Aku yang akan traktir! Itu bisa jadi oleh-oleh yang kalian bawa kembali ke dunia kalian nanti. Kalian kan akan kembali pulang besok lusa, kuharap kalian akan selalu mengingatku yang berada jauh di sini." Jawab Raisa


"Benarkah, boleh apa saja? Kalau begitu, aku harus cepat istirahat untuk mengumpulkan stamina untuk berbelanja besok!" Ujar Chilla


"Kalau begitu, kalian semua istirahatlah... Ini juga sudah malam." Kata Raisa


"Baik, kami akan istirahat." Sahut Aqila


"Sampai jumpa besok, semuanya." Kata Billy


"Sudah cukup untuk hari ini. Kau juga istirahatlah, Rumi." Ujar Raisa


"Baiklah, kau juga. Selamat malam, Raisa!" Kata Rumi


"Selamat malam juga. Jumpa lagi besok, semuanya!" Ucap Raisa


Semuanya pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat di malam hari sebelum menyambut esok hari yang cerah dan tak kalah bahagia dari hari-hari sebelumnya...


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2