
Usai sarapan berdua, Raisa dan Rumi langsung pergi ke luar rumah untuk beranjak menuju ke rumah lainnya untuk menemui keluarga (Raisa).
"Apa kalian berdua udah makan?" tanya Bu Vani
"Kami berdua udah sarapan di rumah tadi, Bu," jawab Raisa
"Maaf, aku lupa. Harusnya kami makan bersama di sini aja," sambung Raisa
"Gak apa-apa. Yang penting udah makan. Sarapan itu penting, jadi gak boleh sampai gak sarapan," ujar Bu Vani
Setelah menunggu yang lainnya hingga selesai sarapan, semua pun ke luar dari rumah dan tak lupa juga Raisa mengunci pintu rumah tersebut.
Mereka semua telah bersiap untuk kembali menuju ke Jakarta.
"Yakin ,nih, mau balik sekarang juga? Gak mau ke suatu tempat dulu?" tanya Raisa
"Yakin. Gak perlu pergi ke mana-mana lagi, yang ada nanti kita gak jadi balik hari ini," jawab Pak Hilman
"Ya, gak perlu pergi jalan-jalan seperti kemarin juga, mau mampir ke satu toko, misalnya? Atau ada barang yang lupa dibeli? Kan, sayang kalau ternyata ada yang kelupaan," ujar Raisa bertanya.
"Kalau kelupaan beli sesuatu, di Jakarta juga banyak kok, Kak. Kalau emang cuma ada di sini dan gak ada di Jakarta, kan, bisa minta Kak Raisa dan Kak Rumi untuk bawain di lain waktu," kata Raihan
"Onty Icha, Uncle Rumi, sekarang kita pisah di sini dong?" tanya Farah
"Jangan sedih, Sayang. Kan, kemarin Farah sendiri yang bilang ke Onty untuk jangan sedih. Lagi pula, Onty Icha dan Uncle Rumi bakal ikut ke Jakarta kok," jawab Raisa
"Benar, nih?" tanya Farah lagi untuk lebih memastikan.
"Benar kok. Uncle Rumi juga sudah menitipkan izin dengan teman, jadi kami berdua bisa ikut pergi," jawab Rumi
"Hore ... seenggaknya kalau di Jakarta, kita gak bakal jauh-jauhan atau bingung nantinya kalau Onty Icha dan Uncle Rumi ada di sini," kata Farah
"Oh, ya, Kak Rumi ... maaf, aku gak sempat kembalikan laptopnya, tapi laptopnya aku taruh dengan baik di rumah Kak Raisa," ujar Raihan
"Tidak apa dan biarkan saja laptop itu ada di sana," kata Rumi
"Kalau begitu, semua udah siap, kan? Aku mau buka pintu sulapnya," ujar Raisa
Semua pun mengangguk.
Raisa pun membuka portal sihir teleportasi yang dimaksud dengan pintu sulap itu dengan kemampuan sihir miliknya.
Satu per satu dari mereka pun memasuki lingkaran hitam hingga akhirnya portal sihir teleportasi itu kembali ditutup oleh Raisa.
Mereka semua pun tiba menginjakkan kaki di halaman belakang rumah kedua orangtua 3R (Raina, Raisa, dan Raihan).
"Nah, sekarang kita sudah sampai. Yuk, masuk ke dalam rumah," ujar Raisa
"Mih, Pih, kita pulangnya nanti sore atau besok aja, ya. Sekarang kita di rumah Nenek Kakek dulu, aku masih mau main sama Om Ehan, Onty Icha, dan Uncle Rumi. Onty Icha dan Uncle Rumi, juga pulangnya nanti, kan?" tanya Farah
Raisa menoleh dan menatap ke arah Rumi, meminta suaminya itu untuk menjawab pertanyaan dari keponakan perempuannya.
"Uncle Rumi, sih, terserah saja karena ikut dengan Onty Icha," jawab Rumi yang seolah menyerahkan keputusan pada sang istri.
"Kalau begitu, Onty Icha dan Uncle Rumi pulangnya setelah Farah dan Mami Papi pulang aja," ujar Raisa
"Oke, deh ... tapi, kalau gak pulang nanti sore, besok harus pulang, ya," kata Raina
"Siap!" seru Farah
"Ayo, masuk ... " kata Bu Vani
Semua pun masuk ke dalam rumah melewati pintu belakang setelah Bu Vani membuka kunci pintu.
Semua langsung menuju ke ruang tengah untuk beristirahat di sana.
"Finally, back to my home!" seru Raihan
"Sekarang waktunya buka oleh-oleh dari Desa Daun," kata Arka
"Apanya yang oleh-oleh? Yang ada, kita semua belanja di Desa Daun untuk diri kita sendiri di sini. Meski yang beliin emang Raisa dan Rumi, sih ... " ujar Raina
Mereka pun terkekeh bersama. Lalu, mereka pun membuka barang belanjaan masing-masing yang dibawa dari Desa Daun.
Saat itu, Bu Vani menghampiri sambil membawa nampan berisi gelas minuman sirup jeruk untuk mereka semua.
"Nih, Ibu bawain minuman. Hati-hati, ya, jangan sampai tumpah ke barang belanjaan ... oleh-oleh kalian," ujar Bu Vani
"Terima kasih, Bu," ucap Rumi
__ADS_1
Mereka semua pun berkumpul untuk membuka oleh-oleh barang belanjaan yang dibeli dari Desa Daun sambil minum sirup jeruk yang telah dibuatkan oleh Bu Vani.
Mereka semua tampak senang nemperlihatkan satu per satu barang milik satu sama lain, meski itu semua adalah pemberian yang dibelikan oleh Raisa dan Rumi. Pasangan suami istri itu pun tampak merasa senang karena bisa membuat keluarga merasa senang seperti saat ini.
"Ayo, yang gak dipakai dan gak dimakan sekarang lebih baik dirapikan dan disimpan. Jangan buat berantakan," ucap Pak Hilman
"Habis itu kita main!" seru Farah
Mereka pun kembali merapikan barang belanjaan dan menyimpannya. Setelah itu, dengan riang dan semangatnya, Farah mengajak bermain.
"Kita udah balik dari kampung halaman Uncle Rumi, tapi rasanya masih ada yang disayangkan," kata Farah
"Apa itu? Kenapa Farah tidak mengatakannya saat masih di sana?" tanya Rumi
"Aku mau lihat pertunjukan sulap yang lebih banyak lagi," jawab Farah
"Bukannya Onty Icha dan Uncle Rumi udah buat aksi pedang dan sulap api?" tanya Arka
"Rasanya masih belum puas, masih belum cukup. Kan, sulap itu ada banyak," jawab Farah
"Farah, Sayang ... di sini berbeda sama di sana. Kalau di sini sulap adalah pekerjaan yang lebih ke bidang hiburan, tapi kalau di sana sulapnya lebih mementingkan pekerjaan yang melakukan hal penting seperti yang kita tonton filmnya di bioskop di sana. Yaitu, pertaruhan seperti perjuangan dan keselamatan. Makanya, di sana lebih banyak sulap dari pada di sini, tapi meski banyak yang bisa sulap gak boleh sembarang dilakukan. Kadang-kadang emang ada sulap untuk pertunjukan hiburan, tapi itu dilakukan secara berpindah tempat dan kita gak menemukan tempat seperti itu saat ada di sana," jelas Raisa
"Tapi, Farah jangan sedih. Gimana kalau Onty Icha kasih sesuatu pakai sulap aja? Mau gak? Ini hadiah," sambung Raisa
"Hadiah apa? Mau dong!" seru Farah
"Sulap apa yang bisa dijadikan hadiah untuk orang?" tanya Raihan
"Ada, deh ... lihat aja dulu," kata Raisa
Raisa memperlihatkan salah satu telapak tangannya yang mengeluarkan api dengan menggunakan kemampuan sihirnya dan satu tangan lainnya bergerak memutari api tersebut hingga menutupi permukaan api dengan lapisan es di sekelilingnya dengan menggunakan kemampuan sihirnya.
"Ini dia hadiahnya ... namanya bola bulan abadi," ungkap Raisa
"Apa itu? Api atau es? Api dan es gak mungkin bisa dijadikan satu, kan? Apa aku gak salah lihat? Terus, kenapa namanya bola bulan abadi?" tanya Arka
"Aku udah pernah buat ini sebelumnya untuk anak-anak di panti asuhan. Saat itu aku kasih benda ini nama bulan buatan atau bulan tiruan, tapi dua nama itu gak keren, jadi untuk yang satu ini aku kasih nama bola bulan abadi. Benda ini adalah penggabungan dari sihir api dan es," jelas Raisa
"Kenapa dikasih nama seperti itu? Lalu, ini adalah api yang dibungkus oleh es. Kenapa bisa? Yang ada di dalam lapisan es ini adalah api suci abadi, jadi apinya gak akan pernah padam meski dilapis oleh es dan esnya pun gak akan mencair karena api suci abadi yang ada di dalamnya gak bersifat membakar yang mematikan. Lalu, aku buat benda ini untuk meniru bulan asli dan karena apinya gak akan padam di dalam lapisan bola kristal es ini, makanya aku kasih nama bola bulan abadi," sambung Raisa
Raisa pun memberikan bola bulan abadi buatannya pada keponakan kecilnya, Farah.
"Wah, keren! Benar-benar kayak bulan asli! Terima kasih Onty Icha!" seru Farah
"Kok bisa terpikir buat benda seperti itu. Itu betulan gak akan padam atau mencair?" tanya Raihan
"Bisa dong. Ya, itu gak akan pernah padam atau mencair, makanya dikasih nama bola bulan abadi. Gak akan pernah rusak kecuali sesuatu yang fatal terjadi pada pengguna sihir yang membuat benda itu, yaitu aku," jawab Raisa
Semua pun terdiam. Semua tidak menyangka. Artinya Bola Bulan Abadi tersebut bisa menunjukkan kondisi Raisa karena jika saja Bola Bulan Abadi itu rusak artinya Raisa sedang dalam keadaan celaka.
"Berarti Farah harus jaga baik-baik hadiah dari Onty Icha ini, ya. Karena ini benda yang spesial," kata Raina
"Oke, Mih ... " patuh Farah
"Yang lain, kenapa diam? Raihan, kamu juga mau hadiah dari Kak Raisa juga? Mau benda yang terbuat dari sihir juga? Atau mau Bola Bulan Abadi juga kayak punya Farah?" tanya Raisa
"Gak usah deh. Buat apa juga? Maaf, Kak, tapi itu kayak hadiah buat anak kecil. Kalau mau kasih hadiah untuk aku, kasih pedang aja. Kan, aku emang mau belajar cara berpedang," jawab Raihan meminta.
"Kamu mau pedang? Gak bisa. Kakak butuh pedang punya Kakak itu dan di sini gak bisa sembarangan beli pedang seperti di sana karena itu benda yang merupakan senjata tajam berbahaya," ujar Raisa
"Kalau pedang, aku bisa berikan punyaku. Aku juga jarang menggunakan pedang saat misi dan lebih sering menggunakan belati," kata Rumi
"Asik ... dapat hadiah pedang!" seru Raihan dengan girang.
Rumi pun membuka tas pinggangnya hendak mengeluarkan pedang miliknya yang telah disimpan di dalam gulungan kertas sihir yang dibawa olehnya. Saat Rumi hendak mengeluarkan gulungan kertas sihir miliknya, Raisa menahannya.
"Ada apa, Raisa?" tanya Rumi
"Jangan berikan pedang milikmu itu pada Raihan. Aku melarang itu, adikku masih belum boleh memiliki pedang sendiri kecuali dia benar-benar menguasai cara menggunakannya. Setidaknya Raihan harus mahir lebih dulu," jawab Raisa
"Benar juga. Maaf, Raihan ... " kata Rumi
Rumi pun mengurungkan niatnya mengeluarkan pedang mipiknya dari dalam gulungan kertas sihir untuk diberikan pada Raihan.
"Yah ... padahal aku udah senang banget mau dapat pedang. Terus, nanti kalau aku mau latihan berpedang sama Kak Raisa gimana?" tanya Raihan
"Kakak bisa kasih pinjam pedang punya Kakak dulu untuk kamu latihan nantinya. Lagi pula, kamu gak mau latihan langsung sekarang juga, kan?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari sang adik lelaki.
"Iya, sih ... latihannya nanti-nantian aja, lain kali," jawab Raihan
__ADS_1
"Kamu gak mau hadiah yang lain aja? Lagi pula, kenapa harus pedang, sih?" tanya Raisa lagi.
"Gak usah, Kak. Aku gak mau apa-apa lagi. Kan, aku mau punya pedang karena emang mau latihan cara menggunakannya," jawab Raihan
Raisa jadi merasa tidak enak pada adik lelakinya. Padahal wanita itu sendiri yang menawarkan ingin memberikan hadiah. Namun, saat sang adik lelaki meminta sesuatu untuk dijadikan hadiah untuknya, Raisa malah tidak bisa memberikan sesuai keinginannya.
Raihan hanya menginginkan pedang sebagai hadiah untuk dirinya, tapi Raisa tidak bisa berikan benda itu karena bisa saja membahayakan.
"Kamu serius mau belajar cara menggunakan pedang, ya. Pedang ... " gumam Raisa yang tampak sedang berpikir.
"Kakak bisa aja kasih kamu pedang sihir atau belati sihir, tapi kamu harus janji harus hati-hati sewaktu menggunakannya dan menjaganya dengan baik," ucap Raisa
"Benar, nih, Kak?" tanya Raihan
Raisa mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Belati atau pedang sihir? Aku belum pernah melihatmu membuat benda seperti itu dari dan menggunakan kemampuan sihir. Bagaimana bentuk jadinya?" tanya Rumi
"Jangankan senjata sihir, sepertinya aku juga bisa membuat senjata aslinya menggunakan sihir pengendali logam. Bahan logam akan aku cairkan menggunakan sihir elemen api, lalu aku akan membentuknya menjadi bentuk senjata sesuai keinginan," jelas Raisa
"Lalu, belati atau pedang sihir ini berbeda, kan? Aku jadi merasa penasaran ... akan jadi seperti apa bentuk jadinya?" tanya Rumi
"Semua juga pasti merasa penasaran. Kalau begitu, lihat saja ... " ujar Raisa menjawab.
"Raihan, ulurkan satu tanganmu," sambung Raisa yang beralih bicara pada sang adik lelaki.
Raihan pun langsung mengulurkan salah satu tangannya pada Raisa.
"Gak akan bahaya, kan, Kak?" tanya Raihan
"Gak kok. Mana ada seorang kakak yang mau membahayakan adiknya sendiri! Tenang aja," jawab Raisa
Raisa pun mengatupkan kedua tangannya satu sama lain dengan rapat dan erat, lalu ia mulai menggunakan kemampuan sihir miliknya.
Saat Raisa membuka dan memisahkan katupan kedua tangannya, muncullah benda yang terbuat dari sihir elemen es yang berbentuk menjadi sebuah bulu. Lalu, bulu es sihir tersebut dibentuk menjadi melengkung oleh Raisa dan dilingkarkan pada lengan Raihan menjadi sebuah gelang.
"Sudah jadi. Gelang itu adalah pedang sihir untuk kamu dari Kak Raisa," kata Raisa
"Kan, ini gelang. Udah jelas banget. Dari mananya kalau ini pedang?" tanya Raihan dengan bingung.
"Gelang itu bisa berubah menjadi pedang," jawab Raisa
"Tapi, kan, aku gak bisa pakai sihir kayak Kak Raisa," kata Raihan
"Makanya, dengar dulu sampai habis, Kakak belum selesai bicara," ujar Raisa
"Gelang dengan bentuk bulu es ini bisa diluruskan kalau kamu mau meluruskannya. Setelah diluruskan, kamu pegang tangkai bulu es itu ... dengan tekad yang sungguh-sungguh dan bicaralah dalam hati aku ingin menggunakannya dengan baik, maka bulu es itu akan berubah jadi pedang es," sambung Raisa menjelaskan.
"Benar bisa, nih, Kak?" tanya Raihan
"Iya, kamu bisa coba nanti. Lalu, satu lagi ... Kakak mau buatkan belati sihirnya," jawab Raisa
Dengan cara yang sama seperti sebelumnya, Raisa membuatkan belati dari dan menggunakan kemampuan sihir elemen es miliknya. Namun, belati es sihir itu masih dalam ukuran mini.
Raisa pun menyerahkan mini belati es sihir itu pada satu tangan Raihan yang lainnya.
"Belati es sihir ini masih berukuran mini, kamu bisa memperbesarnya dengan cara yang sama seperti mengubah bulu es sihir menjadi sebuah pedang, pegang gagang mini belati es ini, ... lalu bertekadlah dengan sungguh-sungguh dan ucapkan dalam hati, aku akan menggunakannya dengan baik," ucap Raisa
"Proses membuat dua senjata sihir ini adalah menggunakan air suci abadi yang dibekukan menjadi es. Karena bahannya adalah air suci abadi, senjata itu akan berubah sesuai keinginanmu menjadi pedang atau belati dengan ukuran normal jika kamu berniat menggunakan kedua senjata itu dengan tujuan yang baik. Jika kamu memiliki niat yang gak baik saat ingin menggunakannya, bulu es sihir atau mini belati es sihir itu gak akan berubah menjadi pedang atau belati ukuran normal. Sekarang cobalah ubah bentuk dua senjata itu dengan cara yang Kakak ajari tadi," sambung Raisa
Raihan mengangguk.
Lelaki SMA itu pun bangkit berdiri dari posisi duduknya, lalu mencari posisi yang agak luas di dalam rumah orangtuanya itu untuk mengubah wujud dari dua benda sihir pemberian dari kakak perempuan keduanya.
"Aku masih belum bisa menguasai cara berpedang artinya aku belum bisa menggunakan pedang, kan? Berarti bulu es sihir ini gak mau berubah seperti kemauan aku dong?" tanya Raihan
"Kuncinya adalah niat baik menggunakannya dengan tekad yang sungguh-sungguh. Kamu hanya perlu bertekad kuat untuk belajar cara berpedang dengan baik dan ucapkan kalimat seperti yang Kakak ajari tadi," jawab Raisa
"Oke, aku mau ubah ukuran belatinya dulu. Setelah itu baru bulu esnya," kata Raihan
Dengan tangan kirinya, Raihan memegang gagang mini belati es sihir tersebut. Jika dilihat saat ini, adik Raisa itu seperti sedang nemengang pisau mainan berukuran mini.
Lalu, Raihan pun berharap dengan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh ingin berlatih menggunakan belati itu dengan baik sambil berucap dalam hati, "aku akan menggunakannya dengan baik!"
Belati es sihir berukuran mini itu pun berubah ke ukuran normal yang mampu memenuhi genggaman tangan Raihan.
Semua tampak tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat itu juga dan Raihan pun tersenyum senang.
.
__ADS_1
•
Bersambung.