Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
40 - Mereka Yang Cemas.


__ADS_3

Setelah lama berbasa-basi menunda perpisahan mereka, satu persatu dari mereka pun memasuki portal antar dimensi. Bersama si pelaku yang ikut dibawa bersama untuk mendapat hukuman yang sepantasnya di dunia sana...


Shaaa!


Setelah semua pergi, perlahan pintu portal antar dimensi pun tertutup! Menyisakan Raisa seorang diri di sana~


Tetap dengan senyuman yang terlihat dipaksakan itu, Raisa mengusap ujung matanya yang mengeluarkan titik air bening...


...'Rasa kesedihan itu memang menghampiri lagi, tapi setidaknya perasaan terasa sedikit lega karena sudah melihat mereka walau hanya sebentar...' Batin Raisa...


"Yap, tugasku di sini sudah selesai! Waktunya pulang! Semoga orang rumah ga terlalu khawatir karena aku pergi cukup lama." Gumam Raisa


Raisa pun memakai cara yang sama dengan mengirim semua temannya ke dunia asal mereka untuk pulang. Raisa menggerakkan satu tangannya untuk kembali ke rumahnya.


Syuuuhh~


Shaaa~~


Lingkaran misterius kembali terbuka menunju ke sebuah lokasi... Terlihatlah sebuah bangunan yang sangat familiar bagi Raisa, yaitu rumah kedua orangtuanya sekaligus tempatnya tinggal.


Raisa tersenyum senang~ Kekuatan sihirnya benar-benar praktis, mempermudah aktivitasnya, pikirnya...


Dengan senyum manis itu, Raisa melangkah masuk ke dalam portal yang dibukanya dan di langkah selanjutnya, Raisa sudah berada di halaman samping rumahnya.


Raisa sudah memikirkan sebelumnya. Titik buta rumahnya jika dilihat dari sisi luar pagar, di situlah ia menapaki kakinya yang ke luar dari portal sihir antar dimensinya...


Dilihatnya nampak Ibu dan Bapaknya serta Kakak perempuannya yang sama-sama sedang menunggu kepulangannya.


"Bu, Pak, Kak Raina... Raisa pulang!" Ucap Raisa


Raisa pun melangkah menghampiri kedua orangtua dan Kakak perempuannya itu...


"Raisa, kamu udah pulang, Nak?" Sambut Sang Ibu, Bu Vani, dengan cemasnya.


"Syukurlah, Sayang... Ibumu sedari tadi menunggu dengan cemas." Kata Pak Hilman, Bapak Raisa


"Tenang, Bu. Raisa, baik-baik aja. Lihat tuh... Ya, kan, Pak, Kak?" Ujar Raisa sembari memutar tubuhnya perlahan untuk menunjukkan bahwa dirinya kembali pulang dengan kondisi yang utuh dan baik-baik saja.


"Raisa, gimana kamu bisa tiba-tiba muncul? Dari mana kamu datang?" Tanya Raina, Kakak Raisa, kebingungan.


"Aku muncul dari sana, Kak. Lewat portal sihir. Teknik sihir teleportasi..." Jawab Raisa seraya menunjuk arah tempatnya muncul dengan portal.


"Kamu gunain sihir kamu untuk ke sini? Tadi aja kamu pake segala terbang bawa Arka ke sini. Untung ga ada yang lihat karena pada sibuk berlindung diri di dalam rumah... Gimana kalo barusan ada yang lihat?" Cerocos Raina mengkhawatirkan identitas lain Sang Adik.


"Kakak, tenang dulu. Ga usah khawatir soal itu, aku udah mikirin semuanya matang-matang kok. Pas tadi aku antar Kak Arka ke sini, aku pakai sihir penyamaran, terus pas tadi aku pulang dengan portal, aku udah mikir tempat yang ga akan terlihat dari luar gerbang sana. Jadi, aman kok!" Jelas Raisa


"Yang terpenting dari semua itu, kenapa kamu lama sekali pulangnya, Nak? Kamu ga kesulitan kan selama pergi tadi?" Tanya Bu Vani


"Enggak kok, Bu. Kita masuk dulu, yuk. Aku cerita di dalam rumah aja." Kata Raisa


"Yasudah... Ayo, kita masuk ke dalam rumah dulu. Ceritanya biar di dalam aja..." Ujar Pak Hilman


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah...


Raisa merangkul tubuh Sang Ibu yang masih terasa bergetar sambil sesekali menenangkannya. Sedangkan Pak Hilman berjalan berdampingan dengan putri sulungnya.


Di dalam rumah, sudah ada kakak ipar, adik lelaki, dan keponakan kecil cantiknya Raisa yang menunggu kepulangannya. Melihat Sang Tante yang telah kembali dari sekolahnya, si kecil Farah langsung berlarian memeluk kaki jenjangnya. Ia merengek meminta Aunty-nya untuk menggendong dan memangkunya saat semuanya duduk. Walaupun lelah dan yang lain melarangnya, tapi Raisa tetap memenuhi keinginan keponakannya yang menggemaskan itu. Bermain dan memanjakan si kecil Farah adalah caranya untuk melepas penat. Di hadapi dengan si lucu yang menggemaskan itu, ia seperti mendapat pasukan tenaga dan semangat yang baru yang bisa membuang rasa lelahnya secara otomatis...


Merasakan perasaan itu, ia kembali mengingat Rumi. Lelaki yang beberapa saat lalu memeluknya dengan sangat erat. Sepertinya ia benar-benar sadar, bahwa dirinya tidak bisa menolak keinginan dan perlakuan kedua orang ini. Karena kedua orang itu sama-sama dapat memulihkan dan meningkatkan kebahagiaannya yang tanpa disadarinya terjadi begitu saja~


Setelah bercerita dengan keluarganya, Raisa langsung memasuki kamar tidurnya. Beristirahat di sana...


Saat bercerita tadi, Raisa menceritakan bahwa dirinya banyak terbantu dengan teman-teman dunia lainnya yang datang di saat ia merasa sulit tatkala dirinya hendak mengamankan pelaku sihir yang sudah menebar terror sebelumnya. Lebih dari sepuluh orang yang datang melalui portal teleportasi antar dimensi ke dunianya yang sedang kacau. Raisa menceritakannya dengan sangat semangat!


Semua yang mendengar ceritanya pun sangat antusias...

__ADS_1


Mereka mendengarkan dengan teliti cerita Raisa yang sangat senang mendapati teman-teman dunia lainnya itu. Raisa yang menyertai kesenangannya dalam bercerita karena bertemu semua temannya selain memang sangat terbantu, ia juga bisa sekaligus melepas rindu. Semua yang nendengar cerita Raisa terikut senang dan bersyukur Raisa telah mendapat bantuan di saat yang tepat. Namun, di antara semuanya, Raisa menyadari Sang Ibu yang tidak merasa demikian...


Raisa dapat mengerti perasaan Sang Ibu. Bukan beliau tidak senang dan bersyukur tentang semua itu... Tapi, ini mengenai takdir anak gadisnya, Raisa!


Bu Vani khawatir dengan putrinya yang mempunyai takdir yang membuatnya memikul tanggungjawab besar itu akan banyak menemui kesulitan dan itu juga akan membuatnya jauh dari putrinya. Namun, ia juga harus segera menerima kenyataan bahwa ia telah melahirkan anak yang mempunyai takdir spesial.


Dan, Raisa pun sangat berharap Ibunya bisa sesegera mungkin segala kenyataan yang ada terutama tentang takdir besarnya itu...


...


Raisa yang baru memasuki kamarnya, meletakkan tasnya di meja belajar. Tangannya yang menggenggam ponsel itu langsung menghempaskan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Tempat ternyaman yang begitu bersentuhan dengan tempat itu bisa langsung melemaskan otot-ototnya yang semula tegang.


Baru saja berusaha untuk menjernihkan pikirannya dari semua masalah hari ini, ponsel yang berada di genggaman tangannya berdering. Nada yang terdengar menandakan panggilan masuk... Videocall!


Panggilan video yang masuk menunjukkan dua nama yang tertera. Nama yang tidak asing lagi bagi sang empunya telepon pintar itu... Maura, Nilam


...'Ada apa lagi? Tadi kan aku udah kirim chat ke mereka...' Batin Raisa sambil melihat layar ponselnya. ...


Sebelum Raisa membuka portal untuk pulang ke rumah, ia memang sudah mengirim pesan kepada dua sahabatnya yang memberitau mereka jika ia sudah pulang ke rumah. Walaupun sebenarnya belum, ia hanya tak ingin membuat khawatir kedua sahabatnya lagi. Dan, sekarang untuk apa lagi mereka menelponnya?


Tak mau banyak berpikir dan membuat kedua sahabatnya menunggu, Raisa pun menerima panggilan video itu dan mengangkatnya...


Dan terpampang dengan nyatalah wajah kedua sahabatnya itu pada layar ponselnya.


"Halo... Ada apa, Ra, Nil?" Sapa Raiaa saat mengangkat panggilan video tersebut dan bertanya.


'Sa, kok tadi kamu lama sih ngasih kabar ke kita kalo kamu udah pulang ke rumah?' Tanya Nilam


'Terus, itu kenapa juga kamu masih pake seragam sekolah? Kamu bum salin baju*?' Tanya Maura juga.


*Salin (menyalin) baju, naksudnya berganti pakaian.


"Ah, tadi aku ga langsung pulang. Mampir ke suatu tempat buat neduh, tadi juga sempet ada gempa... Aku baru ngabarin pas udah di rumah aja. Ini aku belum ganti baju, abis gegoleran dulu. Capek nunggu di perjalanan pulang." Jelas Raisa


Raisa memang harus menyembunyikan kebenarannya dan memilih berbohong seadanya. Walau ia sudah lelah terus melakukan dusta.


'Eh, kita ganggu kamu dong?' Tanya Maura


'Maaf ya, kamu keliatan capek gitu. Tapi, selama di perjalanan pulang, kamu baik-baik aja, kan?' Ujar Nilam


"Kalian ga ganggu kok. Aku udah balik fresh lagi nih, apa lagi liat wajah-wajah sahabat terbaikku ini. Kayak dapet pencerahan, langsung semangat lagi, bertenaga lagi... I'm okay! Aku baik-baik selama perjalanan pulang tadi." Ucap Raisa


'Sebenernya tadi aku cemas banget tau... Apalagi liat cuacanya, kan? Bikin ngeri ga sih? Ya, kan?' Kata Nilam


'Banget! Hujan mendadak... Hujan reda, tiba-tiba gempa. Hilang timbul, begitu aja. Setelah ga berhenti ga karuan gitu, terus tiba-tiba balik cerah lagi! Terkesan seram ga sih?! Kayak suatu pertanda gitu...' Ucap Maura


"Emang agak aneh dan cukup mengerikan sih. Tapi, kayaknya kalian terlalu berlebihan karena terlalu berpikir dan mikir yang negatifnya aja. Kalian parno kayak orang tua! Haha, pikir positifnya aja. Setelah musibah pasti ada berkah. Dan yang terpenting, sekarang semuanya udah balik baik-baik aja kayak semula." Tutur Raisa


...'Sebenarnya sih, itu emang suatu pertanda dan telah terjadi sesuatu. Tapi, itu semua sudah berlalu dan sudah berhasil teratasi. Dan semua sudah balik baik-baik aja seperti semula. Lebih baik kalian berdua ga tau apa yang telah terjadi, jangan sampai kalian terlampau khawatir.' Batin Raisa...


'Iya, juga sih. Untung ga ada apa-apa...' Kata Maura


'Ya, syukurlah semua baik-baik aja...' Imbuh Nilam


'Yaudah, udahan dulu ya.' Pamit Maura


'Iya nih, kamu juga harus istirahat. Kita ketemu lagi di lain hari... Bye-bye!' Pamit Nilam


"Oke, jumpa lagi... Dah!"


Raisa pun mengakhiri panggilan video dengan kedua sahabatnya itu.


Raisa menaruh ponselnya di ranjang kasurnya, tepat di samping bantal tidurnya. Lalu, ia mengganti pakaiannya dari seragam sekolah menjadi baju santai sehari-harinya. Setelah itu, ia memilih untuk istirahat. Memejamkan matanya perlahan... Berharap, jika ia sudah membuka matanya kembali maka semua menjadi lebih baik lagi~


•••

__ADS_1


Esok hari yang sangat cerah mengawali hari bagi setiap insan di bumi pertiwi ini...


Raisa bersama seluruh anggita keluarganya mengawali hari dengan sarapan bersama di meja makan. Dengan hanya memakan sarapan dengan menu yang lebih ringan seperti roti, Raisa mengoleskan selai stroberi di lapisan rotinya sambil memperhatikan ponselnya yang diletakkan di meja makan di samping piring totinya.


Hari ini, Raisa memakai pakaian rumahan biasanya jika menetap di rumah. Karena untuk sementara waktu sekolahnya diliburkan sampai waktu yang tak ditentukan. Raisa tak memusingkan hal itu kareaa ia tau yang mebyebabkan demikian. Sekolahnya mengalami kerusakan setelah kemarin mendapat terror dari orang misterius, yakni pria yang kemarin pula Raisa melawannya.


Meskipun demikian, Raisa tetap akan belajar di rumahnya seperti yang telah dianjurkan oleh guru-guru sekolahnya. Mengingat saat ini Raisa berada di tingkat akhir sekolahnya yang sedang menantikan ujian kelulusan. Namun, mungkin berbeda dengan yang lain. Yang mungkin saja, murid yang lainnya mensyukuri adanya libur tersebut karena tak ingin repot-repot lagi bersekolah yang akan membuat mereka sakit kepala karena pelajarannya. Karena begitulah kebanyakan watak para pelajar zaman sekarang...


Setelah dengan roti dan selainya, Raisa pun menggigit sedikit demi sedikit menu sarapannya itu. Sambil sesekali menyeruput susu putih hangat favoritnya, Raisa juga men-scrool halaman media sosial pada ponselnya.


"Raisa, sarapan yang benar dulu, Sayang... Jangan sambil main HP gitu, ah! Nanti makan kamu jadi tersedak." Nasehat Bu Vani


"Iya, fokus dong sarapannya... Jangan malah mata kamu ke HP terus!" Imbuh Pak Hilman


"Hehe, maaf, Bu, Pak. Aku lagi nyari-nyari dan baca berita nih. Mana tau ada yang penting hari ini atau belakangan ini..." Kata Raisa disertai kekehannya di awal kalimatnya.


GLUK... GLUK~


Pffrt!


Uhuk uhuk!~


"Tuh, kan! Baru juga dibilangin... Keselek, kan, kamu!" Kata Pak Hilman


"Pelan-pelan minum susunya, Nak. Ini, minum air putihnya dulu. Buat redain batuknya." Ucap Bu Vani yang menyerahkan segelas air mineral pada putrinya.


"Ekhem! Terima kasih, Bu." Ujar Raisa seraya menerima uluran gelas dari Sang Ibu.


"Emang apa sih yang kamu lihat, apa yang kamu baca sampai tersedak, begitu?" Tanya Pak Hilman


"Raisa, kamu udah tau ya?" Selidik Raina hati-hati.


"Hmm..."


Drap Drap...


DRAP!


"Kak Raisa! Kak... Kakak di mana sih?! Udah lihat belum!?" Ribut Raihan yang berlarian mencari keberadaan Raisa, kakaknya.


Raihan beserta kehebohannya pun muncul di ruang makan menghampiri Raisa bersama yang lainnya yang sedang sarapan.


"Ada apa sih, Han? Ga usah heboh sendiri gitu juga kali..." Ujar Raisa


"Kakak viral di sosmed! Kakak, udah tau?" Tanya Raihan


"Viral apa? Kenapa bisa?" Tanya Ibu Bapak dengan serempaknya.


.



Bersambung...


¤: [Kutipan Author]


"Episode ini sudah panjang, kan? Panjang dong! (nanya sendiri, jawab sendiri. Hehe)


Semoga cukup panjang ya, pemirsa...


Maaf, kalau episode kali ini agak pendek (walau, kalau menurut Author udah panjang), Author agak sibuk belakangan ini. Di episode selanjutnya nanti Author usahakan akan sepanjang biasanya.


Selamat menantikan episode selanjutnya 3 hari lagi...


Semoga kalian terhibur~"

__ADS_1


__ADS_2