
Setelah Raisa, Rumi, dan Daffa kembali masuk ke dalam studio pemotretan, mereka semua jadi terjebak di dalam karena para reporter masih saja berkerumun di luar.
"Kalau para reporter itu masih saja menunggu di luar, lalu bagaimana cara kita ke luar? Masa kita harus terus menunggu sampai mereka semua pergi? Tapi, sampai kapan?" tanya Sandra
"Ya. Apa lagi sebentar lagi sudah mau jam makan siang," kata Wanda
"Ah, aku jadi langsung merasa lapar," sahut Chilla
"Gimana kalau kita pesan makanan untuk dimakan di sini saja? Setelah itu baru memikirkan cara untuk membuat para wartawan itu pergi mungkin dengan mengelabui mereka," ujar Daffa
"Ya, seperti itu juga baik. Kita pesan makanan yang mudah saja. Aku yang traktir. Sekalian buat para staf di studio pemotretan ini juga," ucap Raisa
"Kamu traktir aku aja. Buat para staf di sini biar aku yang bayar makanannya. Jadi, kita berdua patungan. Pokoknya jumlah pembayarannya kita bagi dua secara rata aja," kata Daffa
Raisa pun mengangguk tanda setuju. Setelah sepakat, mereka pun memesan makanan lewat internet. Makanan sederhana yang dipesan hanya seputar junk food. Seperti burger, pizza, dan fried chicken dengan tambahan nasi atau ayam geprek.
Saat pesanan diantar, kurir makanan yang datang pun kesulitan mengantar makanan sampai ke tempat karena terhalang oleh banyaknya kerumunan reporter. Untungnya, para penjaga membantu kurir tersebut dengan mengambil makanan dari tangannya.
Para penjaga juga yang mengantar makanan ke dalam studio pemotretan. Karena hendak makan bersama, di dalam suatu ruangan di studuo pemotretan itu pun telah digelar tikar untuk alas duduk. Mereka membuat suasana seperti piknik dalam ruangan. Tidak buruk juga.
"Boss, ini ada yang antar banyak makanan tadi."
"Oh, ya. Terima kasih. Yang satu ini buat para security. Bagi rata, ya," ucap Daffa
Daffa memberikan paket pizza untuk para penjaga.
"Siap, Boss. Terima kasih."
Para penjaga pun kembali ke pos mereka sambil membawa paket pizza pemberian dari Daffa.
"Kalian makan aja duluan. Aku mau kasih jatah para staf dulu," kata Daffa yang kemudian berlalu sambil membawa bingkisan makanan untuk para staf studio pemotretan.
Saat Daffa kembali, semua makanan sudah tertata dengan rapi. Namun, belum ada satu pun orang yang menyentuh makanan yang telah dihidangkan tersebut.
"Kan, udah kubilang makan duluan aja. Kok makanannya belum ada yang makan sama sekali?" tanya Daffa
"Teman-temanku sangat menganut tata krama saat makan. Mereka menunggu semua orang lengkap dulu baru bisa makan," jelas Raisa
"Ayo, duduk dan makan bersama," sambung Raisa
"Oh, oke. Maaf, udah buat kalian nunggu," kata Daffa
Daffa pun ikut duduk untuk makan bersama yang lain.
"Selamat makan!"
"Selamat makan, semuanya."
Mereka pun mulai melahap makanan bersama.
Usai makan bersama, mereka mulai membuar rencana mengelabui para reporter untuk pergi dari studio pemotretan.
"Aku lihat para wartawan itu emang sedikit berkurang, sih, tapi nasih banyak juga yang nunggu di luar. Mungkin mereka sepakat pergi makan bergiliran," ucap Daffa
"Kalau begitu, kita benar-benar harus mengelabui mereka semua," ujar Maura
"Daffa, studio pemotretan ini ada pintu ke luar lain selain pintu depan gak?" tanya Nilam
Daffa mengangguk.
"Ada satu pintu samping dan satu lagi pintu belakang," jawab Daffa
Mereka pun mulai berdiskusi.
Rencananya adalah bus yang digunakan rombongan Raisa diminta pergi lebih dulu ke suatu tempat, lalu Maura dan Nilam ke luar lebih dulu dari pintu depan. Saat para reporter bertanya dan meminta Raisa untuk ke luar lagi, Maura dan Nilam akan bilang Raisa sudah pergi. Maka para reporter pasti langsung terpikir adanya pintu lain dan saat mengetahui Raisa sudah pergi, para reporter pun akan bubar dengan sendirinya. Saat itulah Raisa dan teman-teman bisa pergi. Namun, bukan dari pintu depan melainkan pintu belakang. Raisa dan teman-teman akan pergi ke suatu tempat di mana bus sudah menetap di sana sesuai yang sudah dijanjikan sebelumnya.
"Tapi, Maura dan Nilam akan pergi sungguhan setelah ke luar dari pintu depan? Kalian berdua gak ikut lagi sama kami semua?" tanya Raisa
"Ikut kalian ke vila lagi? Kayaknya enggak deh, aku dan Nilam langsung pulang berduaan aja," jawab Maura
"Ya, Raisa. Meski besok hari Minggu, kami berdua gak bisa terus-terusan liburan karena punya acara masing-masing juga. Gak apa, kan?" tanya Nilam
"Gak apa kok. Aku juga bukan mau paksa kalian berdua ikut sama kami. Aku kira kalian berdua masih mau main bareng lagi," jawab Raisa
"Masih banyak waktu lainnya kalau emang mau bareng lagi. Lain kali, ya," kata Maura
"Have fun and enjoy," sahut Nilam
"Lain kali ajak-ajak aku juga kalau mau pada main bareng lagi, ya. Apa lagi kalau pas Raisa pergi ke tempat kalian di Jepang. Jangan lupain dan ajak kita bertiga juga dong," pinta Daffa
"Hahaha. Iya, siap. Itu bisa diatur nanti," kata Raisa disertai tawa canggungnya.
__ADS_1
Kali ini pun Daffa juga jadi tahu dari saat Raisa diwawabcara oleh para reporter bahwa teman-teman Raisa berasal dari negera sakura Jepang. Padahal itu hanya kebohongan belaka yang dipaksakan dan terpaksa dikatakan.
"Karena Maura dan Nilam tidak ikut bersama kita lagi, bagaimana kalau minta Kang Arif bawa busnya pulang sendiri dengan Teh Sinta? Nanti kita kembali ke vila dengan portal sihir teleportasi saja?" tanya Raisa melalui sihir transmisi suara yang dibagikan pada teman-teman ahli sihirnya.
"Apa tidak masalah jika seperti itu?" tanya balik Marcel
"Asal tidak membebanimu karena takut terungkap ... kami, sih, tidak masalah," kata Aqila
"Ya. Terserah kau saja," balas Morgan
"Aku setuju saja," kata Ian
"Ikut sesuai maumu saja, Kak Raisa," sahut Monica
Raisa diam-diam saling pandang dengan semua teman ahli sihirnya dan mereka mengangguk setuju dengan rencana tersembunyi darinya.
"Jadi, semuanya udah setuju, ya?" tanya Daffa
Mereka semua pun mengangguk dengan mantap. Semua pun beranjak berdiri.
"Kalau begitu, aku hubungi Teh Sinta dan Kang Arif dulu. Sekalian mau ke toilet," ujar Raisa
Raisa pun beranjak menuju ke toilet. Sebenarnya, toilet hanya alasan agar ia bisa menjalankan rencana yang berbeda saat menghubungi Sinta dan Arif tanpa diketahui orang lain.
Di toilet, Raisa langsung menghubungi nomor ponsel Sinta melalui pesan singkat sesuai dengan rencananya.
Di tempat lain.
"Ada sms dari Neng Raisa. Kita berdua disuruh pulang duluan aja. Katanya mungkin pekerjaannya kali ini bakal lama dan banyak reporter di depan tempat kerjanya tadi, jadi dia bakal susah ke luar dari sana," ungkap Sinta yang meski menjelaskan isi pesan singkat dari Raisa, ia juga menunjukkan ponsel miliknya dan membiarkan Arif melihatnya sendiri dan membaca isi pesannya bersama.
From: Neng Raisa.
Teh Sinta, tolong sampaikan sama Kang Arif. Kalian berdua pulang aja duluan dan bawa busnya pulang balik ke Puncak. Pekerjaan saya sepertinya akan memakan waktu yang lama dan karena banyak reporter di depan tempat kerja saya, kami semua jadi kesulitan untuk ke luar sekarang. Maaf karena sudah merepotkan kalian berdua serta atas perubahan rencana yang mendadak ini. Dan terima kasih sudah mau mengantar kami semua sampai ke Jakarta dengan selamat.
Seperti itulah isi lengkap dari pesan singkat yang dikirim oleh Raisa.
"Sinta, coba kamu telepon dia. Cuma untuk lebih memastikan aja," pinta Arif
Sinta mengangguk patuh. Ia pun langsung mendial nomor ponsel Raisa.
"Halo. Neng Raisa?"
"Halo. Iya, Teh Sinta. Ada apa?"
"Iya. Teh Sinta dan Kang Arif pulang duluan aja. Pekerjaan saya di sini masih belum selesai dan akan lama. Kami juga kesulitan ke luar dari sini karena ada banyak reporter di luar. Gak apa, kalian berdua duluan aja. Nanti biar kami semua balik ke Puncak dengan cara lain."
"Oh, iya udah, Neng. Saya dan Arif cuma mau pastiin aja."
"Maaf sudah merepotkan dan mengganti rencana dengan tiba-tiba dan terima kasih sudah mau mengantar kami sampai ke Jakarta. Tapi, Teh Sinta dan Kang Arif mau langsung balik ke Puncak atau gimana, nih?"
"Gak apa, sama-sama. Kayaknya kami mau langsung balik ke Puncak aja karena udah lewat jam makan siang juga."
"Kalau begitu, hati-hati jalan pulangnya. Sekali lagi maaf dan terima kasih."
"Iya, Neng. Saya tutup teleponnya, ya."
Tut!
Sambungan telepon pun terputus.
"Katanya kita balik duluan aja, Kang," ungkap Sinta
"Ya udah. Mau langsung pulang sekarang aja, kan? Yuk, kita ke studio pemotretan tadi dulu buat ambil busnya," kata Arif
"Neng Raisa, tuh, gimana, ya ... katanya mau diantar balik ke Puncak bareng, tapi tiba-tiba gak jadi gitu aja," ujar Sinta
"Kan, dia juga gak tahu kalau ternyata kerjanya bakal lebih lama bahkan sampai ada reporter juga. Maklumin ajalah," ucap Arif
"Karena dia dan teman-temannya juga kita berdua jadi bisa jalan-jalan ke Jakarta. Kamu juga senang, kan? Syukurin ajalah apa yang ada," sambung Arif
"Iya, sih. Aku senang," kata Sinta
Arif dan Sinta pun langsung beranjak menuju ke studio pemotretan untuk mengambil bus dan pulang setelahnya.
"Ternyata, benar. Ada banyak reporter di sini," kata Sinta begitu sampai di halaman studio pemotretan dan melihat gerombolan reporter yang ada di sana.
"Kalau sebanyak ini reporternya, sih, wajar aja yang ada di dalam gak bisa ke luar. Ya udah, yuk. Kita langsung pulang aja," ujar Arif
Arif dan Sinta pun naik dan masuk ke dalam bus, lalu segera beranjak pergi dari sana untuk pulang menuju ke Puncak.
Reporter yang melihat kedatangan keduanya pun hanya bersikap acuh karena menganggap bukan orang penting.
__ADS_1
Padahal Raisa sudah mengirim pesan singkat. Namun, Sinta tetap meneleponnya untuk meyakinkan. Untunglah Raisa memilih pergi ke toilet untuk menghubungi Sinta dan Arif. Jadi, tidak ada orang lain yang tahu jika ia menjalankan rencana lain yang berbeda dari kesepakatan.
Usai menghubungi Sinta dan Arif, Raisa langsung ke luar dari toilet dan membali menghampiri teman-temannya.
"Raisa, sudah selesai?" tanya Maura
Raisa mengangguk sebagai ganti jawabannya.
"Kalau begitu, kita tunggu busnya pergi agak jauh dulu baru lakuin langkah selanjutnya," ujar Nilam
Setelah melihat bus yang telah pergi dan menghilang, Maura dan Nilam pun beranjak ke luar dari studio dari pintu depan untuk melakukan langkah selanjutnya.
Melihat ada yang ke luar dari dalam studio pemotretan, para reporter kembali berkerumun.
"Lihat, ada yang ke luar!"
"Permisi ... tapi, di mana Raisa dan Rumi?"
"Bisa tolong panggilkan mereka berdua untuk ke luar juga?"
"Maaf, tapi Raisa dan teman-temannya sudah pergi dari tadi. Kalian lihat bus yang pergi dari sini tadi, kan? Itu bus yang udah disewa Raisa," ujar Maura
"Bagaimana bisa? Padahal kami semua menunggu di luar sini dan gak pernah pergi dari tadi."
"Oh ... mungkin ada pintu ke luar lain dan Raisa pergi lewat sana, lalu janjian di tempat lain untuk naik ke busnya. Makanya, bus tadi pergi."
"Tapi, maaf ... kalian berdua siapanya Raisa, ya?"
"Kami berdua teman selaligus manager dan penata fashion Raisa," ungkap Nilam
"Kalau begitu, apa benar Raisa dan R yang bernama Rumi menjalin hubungan, tapi hanya sebatas hubungan tanpa status?"
"Yang kami tahu, Raisa dan Rumi emang saling suka dan keduanya yang paling terlihat sangat dekat jika sedang bersama-sama," jawab Maura
"Maaf, tapi kami berdua harus pergi karena masih banyak urusan. Sudah dulu, ya," kata Nilam
Maura dan Nilam pun berusaha keras untuk ke luar dari kerumunan reporter itu.
Sebenarnya Maura dan Nilam merasa agak sedih. Padahal Raisa sangat terkenal belakangan ini. Namun, mereka berdua tidak ikut dikenali padahal selalu ada bersama Raisa.
Karena diberitahu Raisa sudah tidak ada di sana, para reporter pun mulai membubarkan diri karena sudah tidak ada kepentingan lagi di sana.
"Maura dan Nilam udah berhasil pergi, tuh. Reporternya juga udah pada bubar," kata Daffa
"Kalau begitu, kami semua juga pergi, ya, Daff," ujar Raisa
"Ayo, aku antar sampai pintu belakang." Daffa pun mengantar Raisa dan yang lain sampai dan menunjukkan pintu belakang studio pemotretan tersebut.
"Aku cuma antar sampai sini, ya," kata Daffa yang membukakan pintu belakang untuk Raisa dan yang lainnya.
"Terima kasih untuk hari ini, ya. Maaf juga sudah merepotkan," ucap Raisa
"Yo, sama-sama. Hati-hati jangan sampai terciduk kamera lagi," kata Daffa
Meski para reporter sudah pergi, Raisa dan yang lain tetap ke luar dari pintu belakang untuk berjaga-jaga kalau mungkin para reporter itu belum pergi jauh dari sana.
Raisa dan yang lain pun ke luar dari studio pemotretan dari pintu belakang, lalu Daffa kembali menutup pintu tersebut.
Di sana, sudah ada Lina yang mengintip diam-diam.
"Untung aja aku tahu ada pintu belakang dan udah duga mereka akan ke luar lewat sini," gumam Lina
Lina terus memerhatikan ke mana mereka akan pergi. Namun, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ia pun segera mengecek ponsel miliknya.
"Apaan, sih? Untung aja aku pakai mode getar minimum," batin Lina
Lina yang bersembunyi tidak terlihat di sana. Raisa yang tidak melihat siapa pun di sana langsung membuat batasan transparasi menggunakan sihirnya agar saat membuka portal sihir teleportasi tidak ada yang melihat mereka semua tiba-tiba menghilang.
Lalu, Raisa membuka portal teleportasi dan masuk ke dalam lingkaran sihir tersebut bersama teman-temannya secara bergiliran kemudian menghilang dari sana setelah portal sihir teleportasi ditutup.
Usai mengecek ponselnya dengan terburu-buru, Lina tetap ketinggalan langkah perginya rombongan Raisa. Lina tidak melihat Raisa atau salah satu temannya di sana.
"Ke mana mereka semua ... menghilang? Aku cuma periksa HP untuk lihat yang masuk itu pesan atau telepon sebentar. Itu cuma sepersekian detik. Mereka semua gak mungkin pergi secepat itu. Jumlah mereka semua cukup banyak, paling enggak masih ada satu atau dua orang yang terlihat atau terdengar suaranya. Tapi, ini gak sama sekali seolah mereka hilang ditelan bumi," batin Lina
"Aku yakin tadi masih lihat dan mendengar suara mereka semua di sini, tapi tiba-tiba hilang gitu aja. Ini seperti wakru itu aku lihat tangan Kak Raisa terluka, tapi mendadak sembuh tanpa bekas. Ini gak mungkin sulap atau sihir dan semacamnya, kan? Itu terlalu mustahil!" gumam Lina
Lina bahkan mencari ke sekeliling dan beberapa tempat, tapi nihil. Usahanya tetap sia-sia. Ia pun menyadari adanya keanehan dan kejanggalan di sana, terutama pada Raisa.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...