
Keesokan harinya.
Seperti yang pernah dibicarakan sebelumnya, Rumi mengambilkan ponsel di rumah Raisa. Saat di rumah sakit, Raisa pun menonton video bersama Rumi dari ponsel miliknya.
"Tarian di video ini bagus! Ayo, kita lakukan juga bersama," ujar Rumi
"Untuk apa?" tanya Raisa
"Tentu saja ... untuk terapimu," jawab Rumi
"Gerakannya terlalu sulit, kita tidak bisa melakukannya. Aku masih belum bisa berjalan dengan normal lagi, kau juga baru belajar dansa kali ini. Yang ada kita akan mudah sering terjatuh. Aku hanya ingin melakukan dansa yang berpusat pada langkah kaki," ucap Raisa
"Lalu, kenapa kau menontonnya denganku sampai videonya berakhir?" tanya Rumi
"Itu karena kau terlihat tertarik. Sebelum membuka videonya, aku tidak tahu jenis tariannya akan terlihat sulit, tapi setelah menontonnya sebentar kau terlihat tertarik, jadi kubiarkan kau melihatnya sampai akhir," ungkap Raisa
"Kalau begitu, kita masih bisa melakukannya setelah kau pulih nanti," ujar Rumi
"Aku tidak menyangka, ternyata kau suka berdansa. Padahal kukira kau tidak akan menyukai hal yang semacam itu," ucap Raisa
"Karena selama apa pun yang kulakukan bersamamu, aku akan merasa senang," ungkap Rumi
Raisa pun terdiam. Ia kira ada alasan khusus yang nembuat Rumi jadi tertarik dengan dansa atau tarian, ternyata psda akhirnya semua akan kembali tertuju pada dirinya.
Saat itu, Bibi Sierra pun masuk untuk jadwal terapi berlatih berjalan Raisa.
"Ternyata, Rumi sudah lebih dulu datang. Apa kalian akan terapi sambil menari berdua lagi?" ujar Bibi Sierra bertanya.
"Entahlah. Itu tergantung ... apa Rumi mau melakukannya denganku," kata Raisa
"Tentu saja. Sudah sangat jelas, kan! Kita bahkan baru selesai menonton video dansa bersama tadi," ucap Rumi
"Itu ... aku menontonnya bersamamu karena... Karena kau tertarik dengan dansa! Aku masih belum tahu kalau kau ingin terus menemani dan membantuku saat terapi." Raisa mencari-cari alasan karena dirinya malu karena Rumi masih saja sangat peduli padanya.
"Demi dirimu, aku akan melakukan apa pun, Raisa," kata Rumi
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita mulai saja terapinya. Rumi, kau bantulah Raisa untuk berdiri. Lalu, kalian bisa melakukan sesi terapi dansanya bersama," ujar Bibi Sierra
Seperti yang Bibi Sierra katakan. Terapi akan berlangsung. Rumi pun membantu Raisa berdiri, lalu melakukan seperti yang dilakukan kemarin. Rumi menaruh kedua tangan Raisa di pundaknya dan memegangi pinggang gadis itu. Keduanya pun mulai berdansa bersama.
"Apa kau masih merasa ingin mendorongku?" tanya Rumi
Raisa menggeleng pelan karena malu dan tidak menyangka, bahwa ternyata ia pernah mengatakan hal yang kekanakan seperti itu.
"Lihatlah, kau bisa melakukannya, Raisa! Kau bukanlah orang yang lemah, justru kau adalah orang yang kuat. Kau pasti bisa melewati semua ini dan kembali pulih," ujar Rumi
"Ini berkat dirimu, Rumi. Kau ada untukku dan bersedia membantuku. Sebelumnya, aku merasa bahwa diriku lemah dan tidak ingin ada orang lain yang melihatku seperti ini. Di situlah letak kesalahanku, justru karena aku merasa seperti itu, makanya aku merasa lemah. Aku lemah karena aku berusaha seorang diri. Semua orang juga tahu, kita bisa menjadi kuat karena punya orang yang kita cintai. Kaulah yang membuatku seperti itu dan membuatku sadar. Aku bisa menjadi kuat karena kau ada. Kaulah yang menjadi kekuatanku, kau juga bersedia membantuku. Terima kasih, Rumi," ycap Raisa
"Syukurlah, karena aku bisa selalu ada untukmu. Aku bersyukur karena bisa menjadi orang yang berguna untukmu dan bisa dicintai olehmu," kata Rumi
"Ya, kau sangat berharga untukku! Karena itu, saat aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, kumohon jagalah dan lindungi dirimu sendiri. Prioritaskan keselamatanmu lebih dulu. Jika sudah begitu, baru kau bisa melindungi yang lain. Jangan jadi seperti diriku yang bodoh ini, meski aku tidak menyesalinya. Aku hanya ingin kau bisa jadi lebih baik dari pada diriku dan belajar dari pengalamanku. Hiduplah demi kehidupan banyak orang dan berbahagialah bersama semuanya ... " tutur Raisa
"Akan selalu kuingat baik-baik perkataanmu," patuh Rumi
"Ya. Kau harus selalu mengingatnya," kata Raisa
"Bagus! Tingkatkan terus perasaanmu, Raisa. Perasaan senang bisa mempercepat kesembuhanmu dan mempermudah proses terapinya," ucap Bibi Sierra
"Baik," patuh Raisa
Keberadaan Bibi Sierra yang mengawasi sesi terapi seolah terlupakan. Dan Raisa merasa malu karena telah berkata-kata sok puitis dan bijak di hadapan Bibi Sierra. Bibi Sierra menyaksikan dan mendengar semuanya secara langsung dan Raisa hanya bisa menahan rasa malunya.
"Aku harusnya tidak mengganggu kemesraan mereka berdua, harusnya aku tidak ada di sini! Oh, ya ampun! Mereka memang masih muda dengan jiwa yang menggelora," gumam Bibi Sierra dengan pelan. Namun, Raisa masih bisa mendengarnya. Dan mungkin Rumi juga sama, hanya saja ia tidak terlalu mempedulikannya. Berbeda dengan Raisa.
Raisa yang malu terlihat tersipu. Pipinya bersemu merah~
"Kau tidak perlu merasa malu, Raisa ... " bisik Rumi
"Tidak. Aku hanya merasa panas karena berusaha mengerahkan tenaga pada kedua kakiku," sangkal Raisa beralasan.
Raisa pun berusaha menenangkan dirinya.
Saat itu, teman-teman datang berkunjung. Kedatangan mereka yang seperti tergesa-gesa menyebabkan suara keras karena benturan di pintu masuk.
Raisa yang terkejut jadi tidak fokus melangkah dan membuatnya menyandung kaki Rumi. Tubuhnya bergerak oleng dan hampir terjatuh. Rumi pun dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh dengan mengeratkan rengkuhan pada pinggang Raisa.
Saat itu juga, pintu terbuka.
Aqila, Morgan, Devan, Ian dan Chilla pun menyaksikan langsung posisi canggung Rumi yang menjaga tubuh Raisa agar tidak terjatuh.
"Wah, hebat! Pemandangan langka!" seru Chilla
__ADS_1
"Kalian sedang apa?" tanya Ian yang bingung melihat postur tubuh Raisa dan Rumi saat ini.
"Sudah kubilang ... kau harus memperhatikan langkahmu saat di rumah sakit terutama di koridor seperti ini, Morgan!" ucap Devan
"Raisa, Rumi... Kalian berdua tidak apa-apa?" tanya Bibi Sierra
Rumi pun segera membantu Raisa untuk kembali berdiri tegak dengan tetap merengkuh pinggang Raisa agar tidak terjatuh lagi.
"Apa kau merasa sakit, Raisa?" tanya Rumi
"Tidak apa, aku baik-baik saja," jawab Raisa
"Kalian ini kenapa? Datang-datang berisik sekali! Rumah sakit itu tempat yang butuh ketenangan! Bagaimana kalau kalian datang seperti itu saat pasien sedang tidur?! Kalian benar-benar mengganggu!" omel Bibi Sierra
"Semua gara-gara kau, Morgan!" kesal Aqila
"Maafkan aku, sungguh ... " sesal Morgan
"Bibi Sierra, apa kami boleh istirahat dulu sebentar?" tanya Rumi
"Ya, baiklah. Kalian berdua istirahat saja dulu," jawab Bibi Sierra
Rumi pun langsung menggendong (ala bride style) Raisa dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Kau pasti terkejut, ya, Raisa? Tenangkanlah dirimu dulu," ujar Rumi
"Ya, aku baik-baik saja kok," kata Raisa sambil tersenyum.
Teman-teman yang menjenguk pun menghampiri.
"Bukankah kau harusnya sedang terapi, Raisa? Tapi, kenapa saat kami datang justru melihat kau sedang menari bersama Rumi?" tanya Morgan
"Seperti seorang Putri dan Pangeran," kata Chilla
"Raisa mengalami kesulitan pada terapi sebelumnya dan Rumi menemukan terapi baru yang cocok sekaligus membantunya," jelas Bibi Sierra
"Dengan cara menari bersama?" heran Ian bertanya.
"Merepotkan sekali!" kata Devan
"Apa salahnya? Jika memang bisa cocok, kenapa tidak dicoba? Menurutku itu ide bagus," ujar Aqila
"Bibi Sierra, terapi hari ini ... apa boleh dihentikan sampai sini dulu?" tanya Raisa
"Terima kasih," ucap Raisa
"Sama-sama. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku tidak akan mengganggu kebersamaan kalian," ujar Bibi Sierra
"Oh ya, apa aku tidak perlu mengawasi terapimu lagi untuk yang selanjutnya, Raisa? Sepertinya kau akan lebih nyaman jika hanya bersama Rumi?" tanya Bibi Sierra sebelum benar-benar pergi.
"Jangan. Aku masih butuh arahan dan nasehatmu demi kesembuhanku, Bibi Sierra," jawab Raisa
"Baiklah, kalau begitu. Aku pergi dulu. Permisi ... " kata Bibi Sierra yang berlalu pergi ke luar dari kamar rawat tersebut.
Raisa berusaha menggerakkan satu per satu kakinya dengan kedua tangannya. Rumi langsung mendekat, ingin membantunya.
"Aqila, tolong ke mari dan bantu aku," pinta Raisa
Aqila mengangguk dan langsung menghampiri Raisa.
"Kau mau apa? Mau ke mana? Biar aku saja yang membantumu," ujar Rumi
"Tidak perlu, biar aku dengan Aqila saja," kata Raisa
Raisa minta duduk di kursi roda dan Rumi masih saja membantunya bersama Aqila.
"Aku juga ikut, ya?" tanya Rumi
"Kau diamlah! Aku ingin ke toilet. Makanya, kubilang biar aku dengan Aqila saja," ucap Raisa
"Baiklah," Kata Rumi
Aqila pun membantu Raisa mendorongkan kursi rodanya sampai masuk ke dalam toilet hingga kembali ke luar.
"Seharusnya kami datang nanti saja bersama yang lainnya juga," ucap Devan
"Kedatangan kami berdua tidak mengganggu kalian berdua, kan, Raisa, Rumi?" tanya Ian
"Tidak sama sekali," jawab Rumi
"Tadi itu, kami hanya sedang terapi dan Rumi membantuku," jelas Raisa
__ADS_1
"Kakiku sangat lemah sampai tidak bisa berlatih seorang diri. Lalu, Rumi memberi saran untuk mengganti terapi dengan cara yang terpikir olehnya dan membantu menemaniku selama terapi. Dan itu mulai bekerja. Entah kakiku ini bisa kembali kuat untuk berjalan lagi atau tidak," lanjut Raisa
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa terapi yang dipilihkan Rumi mulai bekerja, artinya kau masih bisa berjalan lagi seperti dulu," ujar Aqila
"Ya, aku pun merasakannya saat latihan walau kita baru berlatih bersama dua kali. Langkah kakimu semakin kuat, Raisa. Kau bisa pulih kembali," ucap Rumi
"Kau hanya perlu semangat untuk terus berlatih, Raisa ... " kata Morgan
"Dan perbanyaklah makan makanan yang bergizi yang bisa menutrisi. Kalsium yang paling baik untukmu saat ini," pesan Chilla
"Ya, aku mengerti. Terima kasih semuanya!" ucap Raisa
"Lain kali, apa kami boleh melihat saat terapimu sedang berlangsung, Raisa?" tanya Morgan
"Sebaiknya jangan. Itu akan mempengaruhi sesi terapi dan Raisa bisa saja jadi tidak fokus jika kalian memperhatikannya," jawab Rumi membantu Raisa memberi jawaban.
Saat itu, teman lainnya pun datang menjenguk Raisa.
Dennis, Billy, Marcel, Amy, Wanda, dan Sandra pun masuk ke kamar rawat Raisa.
"Kalian sudah datang ... " sambut Raisa
Setiap hari selalu seperti ini. Teman-teman selalu datang untuk menjenguk Raisa. Jika sedang ada keperluan atau sesang dalam misi, beberapa teman tidak datang. Namun, mereka yang masih tidak sibuk dan berada dalam desa tetap datang menjenguk. Yang mereka lakukan demi Raisa agar tidak merasa bosan atau kesepian selama berada di rumah sakit.
Raisa pun merasa senang. Namun, hatinya merasa sedikit hampa. Raisa merindukan keluarganya yang berada di dunia yang berbeda dengan tempatnya berada.
•••
Keesokan harinya.
Rumi sudah datang sejak pagi untuk menemani Raisa. Dan kini, Bibi Sierra pun telah datang untuk mengawasi terapi yang dijalani Raisa.
"Bibi Sierra, hari ini aku ingin coba berlatih sendiri," kata Raisa
"Kenapa, Raisa? Apa berlatih bersamaku membuatmu merasa tidak nyaman?" tanya Rumi
"Bukan begitu. Kau bilang langkah kakiku sudah semakin kuat dan aku pun sudah bisa banyak menggerakkan kaki semalam, jadi aku ingin coba berlatih sendiri. Aku tidak bisa terus bergantung padamu," jelas Raisa
Akhir-akhir ini, saat malam tiba Raisa memang meminta Rumi untuk pulang dan istirahat di rumah.
"Tidak masalah, kan?" tanya Raisa
"Jika kau sudah merasa bisa melakukan latihan sendiri, itu adalah hal yang bagus. Kalau begitu, mulai hari ini cobalah untuk berlatih sendiri. Tidak apa, Rumi. Kau masih bisa memberi Raisa semangat dari sini," ujar Bibi Sierra
"Baiklah," kata Rumi
Kali ini, Raisa kembali berlatih di tengah pegangan besi di kedua sisinya. Benar saja, sudah banyak langkah yang bisa Raisa lakukan meski masih harus berpegangan. Meski tubuhnya oleng dan terhuyung hampir terjatuh, Raisa sudah bisa menahan tubuhnya dengan semakin kuat berpijak dan mengeratkan pegangannya. Raisa pun sudah bisa berlatih berjalan bolak-balik sambil berpegangan. Itu tandanya kekuatan pada kedua kakinya sudah meningkat.
"Bagus, Raisa! Perubahanmu telah meningkat pesat ke arah yang lebih baik, tentunya. Ini karena suasana hatimu sedang baik. Sudah kubilang, ini akan berhasil. Jika terus seperti ini, kau bisa cepat kembali berjalan normal seperti dulu," ucap Bibi Sierra
"Selamat, Raisa! Terus semangat, ya ... " kata Rumi
Raisa pun tersenyum senang.
Raisa sudah kembali duduk di atas ranjang untuk istirahat.
"Latihanmu hari ini sudah sangat cukup. Kau tidak boleh terlalu lelah, jadi kau sudah bisa kembali istirahat sekarang. Aku pun sudah harus pergi," ujar Bibi Sierra
"Baik. Terima kasih untuk hari ini, Bibi Sierra," ucap Raisa
Bibi Sierra mengangguk, lalu beranjak pergi ke luar dari kamar rawat tersebut.
Rumi tetap berada di sana intuk menemani Raisa.
"Ada apa, Raisa?" tanya Rumi yang sedari tadi hanya memperhatikan Raisa.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya balik Raisa.
"Apa latihan hari ini terlalu menguras tenagamu? Apa kau lelah? Raut wajahmu terlihat kurang baik ... " ujar Rumi bertanya.
"Ternyata, kau bisa melihat dan menyadarinya. Tidak apa. Aku hanya rindu dengan keluargaku," ungkap Raisa sambil tersenyum sendu.
Mendengar itu, Rumi terdiam. Ia tidak bisa apa-apa jika sudah menyangkut tentang keluarga.
"Bukan maksudku, aku tidak senang selama berada di sini! Aku senang selama ini, aku bahkan punya banyak orang yang sangat peduli padaku. Hanya saja, rasanya agak berbeda. Aku mulai memikirkan kabar mereka di sana. Mungkin saja Ibuku mengkhawatirkan aku yang sudah lama tidak pulang, aku... Merindukan mereka," jelas Raisa
"Aku mengerti, Raisa. Tidak apa. Kau bisa kembali pada mereka setelah kau pulih nanti. Bersabarlah dulu dan fokus pada kesembuhanmu," ucap Rumi
Raisa tersenyum lembut.
.
__ADS_1
•
Bersambung...