Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 45 - Baby Zoo.


__ADS_3

Ketua pertunjukan dan pemain pertunjukan bernama Mawar langsung menghampiri dan menghadap pada Raisa.


"Raisa, tolong maafkan tindakan saya yang sudah tidak bertanggung-jawab dan memaksa Anda untuk ikut bermain peran dalam pertunjukan kami. Saya sangat menyesal atas perbuatan yang telah saya lakukan. Tolong jangan laporkan hal ini." Mawar langsung membungkuk di hadapan Raisa untuk meminta maaf.


"Saya mengaku bahwa mengajak Anda ikut bermain peran dalam pertunjukan adalah tindakan yang tidak bertanggung-jawab. Itu adalah kesalahan kami semua dan merupakan kelalaian saya. Saya mohon maafkan kami. Tolong jangan bawa atau laporkan hal ini." Ketua pertunjukan di sana pun ikut meminta maaf.


"Sudah, tidak apa. Lagi pula, memang saya yang setuju untuk ikut bermain peran dalam pertunjukan tadi. Saya tidak akan melaporkan hal ini. Tidak perlu minta maaf atau terlalu sungkan," ucap Raisa


"Terima kasih."


"Terima kasih banyak."


"Sebenarnya saya senang bisa ikut bermain peran dalam pertunjukan cowboy karena saat saya menyaksikan pertunjukan cowboy di sini 20 tahun yang lalu, saya langsung suka dan berangan-angan ingun melakukan aksi hebat yang sama seperti yang ada di dalam pertunjukan cowboy itu. Ini juga termasuk mewujudkan harapan saya," ujar Raisa


"Meski pun saya sempat bingung kenapa saya sebagai penonton bisa diajak bermain peran dalam pertunjukan, jujur saya sangat menikmati peran yang saya lakukan tadi. Meski begitu, mengajak penonton untuk ikut bermain peran memanglah tindakan yang kurang bertanggung-jawab, tapi yang penting kesalahan seperti itu sudah disadari dan disesali. Saya harap hal seperti ini tidak terjadi atau terulang lagi pada orang lain. Saya tidak akan memperpanjang masalah ini. Tenang saja," sambung Raisa


"Ya, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi lain kali," sesal Mawar


"Saya tidak bisa berkata-kata lagi. Terima kasih atas pengertian serta kebaikan hati Anda yang sudah mau memaklumi kesalahan kami," ucap Ketua pertunjukan.


"Tidak apa, tidak masalah. Jangan berkecil hati atau saling menyalahkan karena hal ini. Semangat dan sukses selalu untuk setiap pertunjukannya, ya," kata Raisa


"Tidak ada lagi yang bisa kami ucapkan selain banyak-banyak terima kasih," ujar Ketua pertunjukan.


"Sama-sama," balas Raisa


"Masalah ini sampai di sini saja. Kalau begitu, saya pamit pergi dulu. Teman-teman saya masih menunggu, soalnya. Permisi," sambung Raisa


Raisa mengangguk kecil untuk menunjukkan hornat dan sopan santun sebelum akhirnya berbalik dan berlalu pergi dari sana. Raisa pun langsung mencari dan menghampiri teman-temannya yang sudah menunggu.


"Kamu masih beruntung karena Raisa tidak akan memperpanjang masalah ini lebih lanjut lagi, Mawar. Dan kita semua juga beruntung karena Raisa ternyata suka dengan pertunjukan cowboy kita dan peran yang dilakukannya dalam pertunjukan kali ini. Meski begitu, kalau tidak mau dipecat, kamu masih harus mengembalikan uang yang kamu terima pada pemiliknya. Ini adalah batas toleransi yang saya berikan untuk kamu," ucap Ketua pertunjukan.


"Saya mengerti. Akan saya lakukan sekarang juga," kata Mawar


Baru saja Mawar mengambil uang yang diberikan padanya dan hendak pergi mencari orang yang menyuruhnya, tiba-tiba saja Lina menghampiri ke balik layar dengan entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.


"Kamu!"


"Maaf, tapi Anda siapa? Di sini bukan tempat yang sembarang orang boleh masuk," ujar Ketua pertunjukan menegur kehadiran Lina di sana.


Melihat Lina berada di sana, Mawar langsung menghampirinya.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa menerima uang dari Anda. Yang tadi itu kelalaian saya," ucap Mawar menyerahkan kembali uang yang diterimanya. Namun, Lina masih enggan mengambilnya kembali.


"Ada apa ini? Padahal kalau kamu masih mau membantu saya melakukan sesuatu, saya akan tambahkan jumlah uangnya. Kenapa uang yang tadi malah mau dikembalikan? Apa kamu tidak mau cek uang yang saya janjikan tadi?" tanya Lina


"Saya sudah tidak mau lagi. Saya tidak akan melakukan hal lainnya lagi. Karena menuruti kata Anda, saya hampir saja kehilangan pekerjaan," jawab Mawar menolak.


"Jadi, Anda yang mempengaruhi staf di sini dan mengiming-iminginya dengan uang. Maaf, Nona ... meski itu juga kesalahan dan kelalaian kami, itu juga adalah tindakan tidak bertanggung-jawab Nona yang sudah seenaknya menyuruh staf di sini. Harap Nona tidak memiliki niat lainnya lagi dalam hal yang sama. Dan kehadiran Nona juga tidak diterima di sini. Tolong Nona pergi saja dari sini," ujar Ketua pertunjukan


"Apa ini? Kamu mengusir saya?" tanya Lina merasa tidak terima dengan perlakuan yang didapatnya.


"Ya. Karena Nona sudah jadi pengaruh buruk di sini. Silakan Nona pergi," jawab Ketua pertunjukan dengan tegas.


Ketua pertunjukan itu pun menghadang Lina dan membalikkan tubuhnya dengan paksa untuk mengusirnya.


"Hentikan. Saya bisa pergi sendiri," kata Lina dengan wajah kesalnya.


Lina pun melangkah pergi dari sana.


"Kamu masih belum kembalikan uangnya juga, Mawar!" tegur Ketua pertunjukan sambjl berbisik.


Tak ingin dapat amukan dari atasannya lagi, Mawar pun menghampiri Lina dan langsung menyerahkan uang yang sebelumnya ia terima langsung ke tangan Lina.


"Saya tidak bisa menerima uang ini, jadi saya kembalikan. Silakan Nona pergi," kata Mawar


Lina pun menerima kembali uang miliknya dari Mawar dengan kasar dan memasukkan kembali ke dalam tas yang dibawanya.

__ADS_1


"Dasar, orang-orang udik yang gak tahu diuntung. Uang sebanyak ini malah ditolak dan dikembalikan," dumel Lina dengan suara pelan.


Lina pun beranjak pergi dari sana. Saat itu, ia melihat Raisa yang sudah berada bersama teman-temannya lagi.


"Kali ini kamu masih beruntung Kak Raisa. Lain kali akan langsung kurebut Rumi dari sisimu. Akan aku buat Rumi gak mau berdekatan sama kamu lagi. Coba aja aku bisa menghasut pemain pertunjukan itu lagi. Pasti akan aku suruh dia untuk membuat kamu malu dan terhina di depan banyak orang di sini. Lain kali kamu gak akan seberuntung hari ini," batin Lina


Lina pun pergi dari sana dan juga memilih meninggalkan Taman Safari karena merasa sangat kesal. Meski begitu, ia masih terus menyusun rencana jahat untuk Raisa di otaknya.


Karena tidak bisa menunggu di dalam aula pertunjukan terlalu lama, teman-teman Raisa pun akhirnya hanya bisa menunggu Raisa di luar pintu masuk aula pertunjukan dan Raisa pun menghampiri mereka semua di sana.


"Maaf, sudah membuat kalian semua menunggu lama lagi," kata Raisa


"Kenapa kau lama sekali, Raisa? Apa kali ini pun kau dimintai tanda tangan lagi?" tanya Morgan


"Tidak. Tadi ada ketua pertunjukan di sini menemuiku dan berterima kasih padaku. Mereka semua sangat sungkan karena aku sudah ikut menyukseskan pertunjukan kali ini. Aku jadi harus menangani itu dulu," jawab Raisa tak memberitahu keseluruhannya.


"Ya, kau memang sangat hebat tadi. Tak salah mereka jadi seperti itu," kata Aqila


"Aksimu di pertunjukan tadi memang sangat keren, tapi itu memang sudah sering kau lakukan juga di tempat kami. Tidak mengherankan lagi," ucap Sandra


"Tapi, kali ini bukan tindakan yang disengajakan dan hanya akting. Itulag mengapa kau sangat amat hebat," kata Marcel


"Menurut kalian yang menontonnya seperti itu? Terima kasih," ujar Raisa


"Kau merasa lelah tidak, Raisa?" tanya Rumi yang sangat memperhatikan Raisa.


Saat melihat ada peluh di kening Raisa, Rumi langsung menghapusnya untuk Raisa.


"Tidak. Aku justru sangat menikmati peran yang kumainkan tadi," jawab Raisa


"Sayangnya, aku tidak bisa melihat pertunjukan yang kulakukan sendiri," sambung Raisa


"Kata siapa? Bisa kok. Aku udah rekam seluruh pertunjukannya pakai handicam yang selalu aku bawa. Di vila nanti, kita bisa tonton ulang lagi pertunjukannya sama-sama," ujar Maura


"Wah ... asik. Aku kira gak bisa lihat pertunjukanku sendiri," kata Raisa


Raisa mengangguk mengerti.


"Chilla, kau kenapa? Kenapa diam saja?" tanya Raisa


"Tidak usah dipikirkan. Dia orang yang benar-benar merepotkan di saat seperti ini," kata Devan


"Lapar ... sangat lapar. Aku sudah menunggu dari tadi." Chilla terus bergumam kecil seorang diri dengan tatapan mata yang kosong. Ia menjadi sangat aneh.


"Maaf, ya. Gara-gara aku kau jadi menunggu lama dengan perut kosong. Kalau begitu, ayo kita langsung pergi ke tempat makan yang ada di dekat sini. Setahuku di pintu masuk-keluar area tempat pertunjukan ada tempat makan. Kalian semua juga pasti melihatnya saat kita masuk ke area ini tadi. Kita ke sana saja," ujar Raisa


Chilla langsung menegakkan tubuhnya. Dengan sisa tenaga dan semangatnya, ia berjalan mengikuti Raisa dan yang lain dengan langkah besar dan cepat.


"Menunggu dengan perut kosong, apanya? Kalau benar Chilla seperti itu, sudah dari tadi dia jatuh pingsan. Selama berkeliling dan menonton pertunjukan dia sibuk memakan camilan. Tidak peduli orang lain dan tidak menjaga sikap. Benar-benar tidak seperti seorang gadis," cibir Ian


"Kak Ian, tidak boleh bicara seperti itu pada seorang gadis. Tidak sopan," tegur Monica


"Chilla, orangnya memang dari dulu seperti itu. Raisa yang membuatnya tak punya tenaga karena menunggu. Salahkan saja dia," kata Amon


"Amon, kau juga tidak boleh bicara seperti itu dong," tegur Sanari


Kedua pria bermulut pedas itu langsung terdiam saat ditegur oleh pacar tersayangannya. Benar-benar menjadi patuh.


Begitu tiba dan masuk ke tempat makan, semuanya langsung mencari tempat kosong untuk duduk. Chilla pun sibuk memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Setelah memesan makanan dan semua pesanan diantar, mereka semua pun makan dengan tenang.


"Selamat makan!"


"Semuanya makanlah yang banyak. Untuk Chilla, maaf sudah membuatmu menahan lapar karena menungguku," kata Raisa


"Tidak apa, Raisa. Aku tahu kau orang yang sangat memahamiku. Tadi itu kau hanya punya urusan lain saja. Tidak masalah. Kita ini saling memahami," ucap Chilla

__ADS_1


Raisa tersenyum mendengarnya. Ternyata ia dan Chilla saling memahani dan memaklumi.


"Raisa, apa kau tidak masalah hanya makan itu? Apa kau akan kenyang hanya dengan makan mie instan? Makan dan pesanlah makanan yang lain juga," ujar Rumi


"Aku tidak hanya makan mie instan, tapi juga ada telur rebus dan dimsum. Mie bisa jadi pengganti karbohidrat, telur adalah protein, dan dimsum ini berisi udang. Ini sudah cukup untukku," kata Raisa


"Aku memang jarang makan makanan berat jika di luar, kecuali memang sedang ingin atau sudah direncanakan. Aku benar-benar makan seperlunya atau hanya makan yang kuinginkan saja," sambung Raisa


"Meski begitu, makanlah ini juga. Kutahu kau suka paha ayam," ucap Rumi yang menyodorkan sendok dengan suwiran daging paha ayam pada Raisa.


"Baiklah. Kalau kau yang memberikannya, aku tidak bisa menolak," patuh Raisa menerima suapan suwiran paha ayam dari Rumi.


"Huh! Bilang saja ingin pamer kemesraan dengan suap-suapan," dumel Devan


"Makan daging ini juga," kata Rumi yang kembali menyodorkan Raisa daging sapi.


Raisa mengangguk dan menerima suapan romantis dari Rumi.


Raisa memang hanya memesan mie instan rebus dengan tambahan telur rebus dan dimsum. Meski tidak ada nasi atau daging, itu pun sudah terbilang cukup. Namun, Rumi tidak merasa begitu dan menyuapi Raisa makanan lain dari miliknya.


"Sudah cukup, Rumi. Yang kau berikan padaku itu lemah hewani. Kalau kau terus menerus menyuapiku yang ada aku malah tidak bisa menghabiskan makananku sendiri. Bisa mubazir nanti jadinya," ucap Raisa


Rumi pun mengangguk mengerti. Ia pun berhenti menyuapi Raisa. Mungkin benar kata Devan, ia hanya ingin pamer kemesraan dengan menyuapi Raisa.


"Raisa, setelah ini kau ingin membawa kami semua melihat apa lagi?" tanya Billy


"Melihat hewan sambil berkeliling naik bus ... sudah, menyaksikan pertunjukan juga sudah, setelah ini giliran masuk ke area baby zoo atau kebun binatang bayi. Di sana kita bisa memberi makan hewan yang masih kecil, bisa berfoto bersama mereka juga. Intinya kita bisa berinteraksi dan berhadapan langsung dengan para hewan di sana," jawab Raisa


"Sepertinya akan menyenangkan," kata Wanda


Usai makan bersama, seperti kata Raisa, mereka langsung mengunjungi area baby zoo.


Saat memasuki area baby zoo, perhatian mereka semua langsung terbagi-bagi dengan hewan yang berbeda-beda. Mereka pun memilih berpencar karena di tempat itu mereka bisa sedikit lebih bebas.


Meski berpencar, Raisa dan Rumi tetap tidak terpisahkan. Yang lainnya pun sepertinya jalan bersama pasangan masing-masing. Namun, sesekali Maura dan Nilam menghampiri Raisa dan Rumi.


Salah satu hewan yang dilihat Raisa dan Rumi di sana adalah harimau kecil. Saat ini pun, Raisa dan Rumi sedang berfoto bersama pasangan anak kembar harimau kecil di pangkuan mereka berdua. Jika dilihat dari sisi lain, keduanya sudah tampak seperti suami istri yang sedang memangku anak kembar.


"Aku sangat suka dengan kucing. Meski pun harimau adalah spesis kucing besar, kedua harimau ini masih kecil. Sangat menggemaskan. Aku sangat senang," ucap Raisa


"Tapi, aku tidak terlalu senang saat mendengarmu bilang menggemaskan ke selain diriku," bisik Rumi


"Kau ini aneh. Lelaki lain sangat tidak suka dibilang menggemaskan, tapi kau justru cemburu karena hal seperti ini," kata Raisa sambil berbisik.


Selain berfoto sambil memangku harimau kecil, Raisa dan Rumi juga berpose menggendong kedua harimau kecil itu seperti bayi. Sungguh terlihat manis.


Selain harimau, Raisa dan Rumi juga berfoto bersama ular.


"Berapa usia ular ini?" tanya Raisa pada animal keeper di sana.


"Masih 2 tahun."


"Baru 2 tahun saja sudah sebesar ini," kata Raisa


"Kali ini apa alasanmu ingin berfoto dengar ular?" tanya Rumi


"Karena ular adalah khasnya dirimu. Aku juga jadi ingin terbiasa," jawab Raisa sambil berbisik.


Mendengar jawaban Raisa, Rumi pun merasa senang.


Raisa dan Rumi pun berfoto dengan saling mengalungkan masing-masing seekor ular di leher mereka berdua.


Memang. Rumi adalah pengguna sihir dengan kebanyakan jurus yang khas seperti siluman ular atau menggunakan ular. Bahkan tak jarang ia disebut sebagai lelaki ular atau pria ular.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2