Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 79 - Ada yang Datang Melamar.


__ADS_3

Jika saja Rumi tidak pandai mengontrol diri, mungkin saja ia sudah menangis saat dihadapkan dengan pertanyaan yang seolah menusuk hatinya seperti serangan pada batinnya. Lelaki itu takut jika lamarannya akan ditolak.


"Ini ... saya tidak kuasa mengendalikan perasaan milik Raisa. Saya tidak pernah ingin melihat atau bahkan membuat orang yang saya cintai menangis, terlebih lagi saya tidak tahu kalau Raisa sering menangis diam-diam. Yang saya tahu, Raisa adalah gadis kuat yang tegar, sabar, dan ceria. Saya sendiri juga tidak kuasa mengendalikan perasaan di dalam hati. Jujur saja, saya sering merindukan Raisa saat kami terpisah oleh dunia tempat kami masing-masing tinggal dan merasa sedih karena hal ini," jelas Rumi


"Maaf jika saya mengatakan ini, tapi saya rasa bukan saya yang menyebabkan sedihnya Raisa hingga ia menangis. Melainkan keadaan dan kenyataan bahwa kami harus saling berjauhan. Karena itu, saya ingin menghapus keadaan ini dengan mengikat Raisa ke dalam hubungan pernikahan," sambung Rumi


"Kalau sudah tahu kalian berdua merasa tersiksa dengan keadaan yang membuat kalian harus terpisah, kenapa kamu tidak relakan saja hubungan dengan Raisa dan melepasnya? Kenyataannya memang kalian berdua tinggal di dunia yang berbeda dan sepertinya memang takdir kalian akan sulit jika ini terus berlanjut. Bukannya kamu bilang mencintai anak kami? Tapi, kenapa malah kamu yang terus membuatnya menderita akan kesedihan?" tanya Pak Hilman


Lagi-lagi Rumi terdiam. Ia ingin terus berjuang dalam mempertahankan dan melanjutkan hubungannya dengan Raisa walau terasa sangat sulit. Ia masih akan terus berusaha.


"Dalam hal ini saya akui saya memang egois, tapi saya memang tidak berniat untuk atau ingin menyerah. Raisa memang bersedih, tapi saya pun sama. Saya ingin terus berjuang dan mempertahankan kelanjutan hubungan kami. Karena kami berdua saling mencintai," jawab Rumi


"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Raisa juga mencintai kamu? Kenapa kamu sangat yakin dengan itu?" tanya Pak Hilman


"Karena kami berdua sudah saling berjanji untuk selalu bersama," jawab Rumi


"Sebenarnya sulit bagi saya meyakinkan Paman dan Bibi untuk hal ini, tapi saya bisa memastikannya ... karena perasaan di dalam hati kami, kami sendiri yang merasakannya. Saya sangat yakin," sambung Rumi


"Membina rumah tangga bukan hal yang mudah, apa lagi bagi pasangan baru. Akan ada banyak cobaan yang datang, keutuhan di dalamnya pun akan goyah. Bagaimana kamu mengatasi hal ini nantinya?" tanya Bu Vani


"Untuk hal ini ... saya akan terus ada untuk dan bersama Raisa, saya tidak akan pernah meninggalkannya. Kami akan berusaha menghadapi segala cobaan yang datang dan mempertahankan keutuhan dalam hubungan kami bersama-sama. Saya akan bersikap jujur dan percaya bahwa hubungan kami akan baik-baik saja, tentunya saya juga berharap Raisa juga bisa bersikap sama seperti itu. Ini akan menjadi komitmen kami dalam menjalani hubungan yang serius." Kali ini Rumi langsung menjawab tanpa harus berpikir lama.


Bu Vani dan Pak Hilman tampak tersenyum tipis dan tidak lagi seserius sebelumnya. Sepertinya keduanya cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh Rumi.


"Semua ucapan dan jawaban saya adalah kejujuran dari dalam hati yang terdalam. Saya tidak pernah ragu meski harus berpikir sebelum memberi jawaban, tapi itu demi menyampaikan apa yang ada di dalam hati tanpa adanya kebohongan," ungkap Rumi


"Saya sangat mencintai Raisa dengan segala ketulusan yang ada dan serius ingin menikah dengannya," sambung Rumi


"Rumi sudah menyampaikan niat baik serta ketulusannya dengan serius. Saya sebagai walinya berharap Anda berdua bisa menerima niat baiknya dan merespon lamarannya ini dengan baik pula," ucap Paman Elvano


"Kalau begitu, kita hanya perlu menunggu Raisa untuk memberi jawaban atas lamaran ini," ujar Pak Hilman


Rumi merasa senang dan sedikit lega mendengar perkataan Pak Hilman. Sepertinya peluang lamarannya akan berhasil lumayan besar.


"Apa ini artinya Paman dan Bibi akan merestui hubungan kami jika Raisa menerima lamaran dari saya?" tanya Rumi


"Seperti yang saya katakan, kami berdua tidak bisa sembarangan mengambil keputusan tanpa sepengetahuan Raisa. Jadi, mari kita tunggu jawaban dari Raisa bersama-sama," ujar Pak Hilman


"Apa saya boleh tahu pendapat Paman dan Bibi terhadap saya? Saya ingin tahu penilaian Paman dan Bibi terhadap diri saya," pinta Rumi


"Kami berdua gak terlalu kenal dengan Rumi, sebaliknya justru Raisa mengenal Rumi dengan baik. Jika Raisa menilai kamu secara positif, maka kami pun sama dengannya yang menilai kamu secara positif. Kamu bisa tenang, karena pendapat kami tidak terlalu penting. Jika benar kalian berlanjut ke tahap pernikahan, kalianlah yang akan hidup bersama. Jadi, cukup dengan penilaian Raisa terhadap kamu. Kami hanya berharap kamu bisa perlakukan putri kami dengan baik," tutur Bu Vani


"Tentu saja, saya akan memperlakukan Raisa dengan sangat baik. Dia adalah orang yang penting dan berharga bagi saya," kata Rumi


"Tapi, apa Bibi dan Paman akan menerima saya? Mungkin Bibi dan Paman tidak tahu tentang ini, tapi saya adalah pengguna sihir dengan ciri khas seperti ular. Jika orang melihatnya, pasti menganggap saya sebagai siluman ular. Apa Bibi dan Paman akan menerima saya yang seperti siluman ular ini? Yang saya tahu di dunia ini orang-orang sangat membenci dan menjauhi hal seperti saya ini karena siluman ular dianggap sebagai pembawa malapetaka dan bencana. Benar-benar membawa sial," sambung Rumi


"Untuk hal ini, kami berdua percaya pada Raisa bahwa dia tidak mungkin menjalin hubungan dengan orang yang sembarangan, terlepas apa pun hubungan yang dijalaninya. Kami yakin bahwa putri kami bisa memilih orang-orang yang baik dalam lingkup hubungan kesehariannya. Kami juga percaya kalau Rumi adalah orang yang baik. Itu sudah cukup," ungkap Pak Hilman


"Ya. Kami berdua juga tidak bisa terus berpikir terlalu kolot di zaman seperti sekarang ini. Lagi pula, dunia kita mungkin punya kesamaan, tapi tentunya juga punya perbedaan. Buktinya, selain putri kami yang istimewa, di dunia ini sudah tidak ada lagi jejak pengguna sihir seperti mayoritas di dunia sana, dan juga jenis sihir di kedua dunia jelas berbeda. Kami menganggap kemampuan milik Rumi hanya sebatas kemampuan kamu dalam bekerja seperti pekerjaan sampingan. Atau hanya sekadar kemampuan sulap. Semacam itu ... " jelas Bu Vani


"Sama seperti dalam kasus Raisa. Ada alasan dia tidak bisa menggungkap jati dirinya yang memiliki kemampuan sihir pada orang-orang. Karena meski dulu dia pernah dipuji karena menyelamatkan banyak orang di balik kedok Putri Burung Teratai Putih, di sini mayoritas orang menganggap pengguna sihir adalah suatu hal yang buruk seperti ajaran sesat. Tidak peduli seperti apa sihir yang digunakan, banyak orang yang beranggapan seperti itu dan itu adalah suatu yang pasti. Sama halnya dengan Rumi yang beranggapan orang-orang akan mengecap kamu sebagai siluman ular. Di sini itu adalah hal yang lumrah dan dianggap tabu," sambung Bu Vani


Pak Hilman pun mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan ucapan sang istri.


Paman Elvano hanya terus menyimak.


"Ini seperti yang pernah Raisa katakan dulu. Bibi dan Paman pun menerima sosokku yang seperti ini sama seperti Raisa. Apa artinya aku juga memiliki kesamaan seperti Raisa? Apa ini adalah hal baik?" batin Rumi


Raina yang sedari tadi menguping bersama sang suami pun mendorong Arka yang berada di belakangnya untuk menyuruhnya berhenti menguping.


"Berhenti menguping di sini, gak baik. Lebih baik kita ke tempat lain aja," kata Raina


Arka pun mengangguk patuh dengan perkataan sang istri. Ia dan Raina pun beranjak pergi dari sana.


"Rumi datang melamar Raisa," gumam Raina


"Raisa, ada Rumi yang datang melamar kamu. Kenapa kamu malah belum pulang juga, sih? Ayo, dong ... cepat pulang," batin Raina

__ADS_1


"Bukan itu yang penting, kan? Ternyata banyak hal yang gak diketahui tentang Rumi. Raisa pasti udah tahu tentang hal ini, tapi kenapa dia merahasiakan dari kita semua? Atau cuma aku yang belum tahu? Kenapa Raisa bisa jatuh cinta dan lebih pilih Rumi dari banyaknya lelaki di dunia?" tanya Arka dengan suara pelan.


Raina menggeleng pelan.


"Justru bukan itu yang penting. Apa pun dan siapa pun yang dipilih Raisa itu adalah haknya untuk jatuh cinta pada siapa pun orangnya. Dia juga pasti punya alasan sendiri kenapa lebih pilih Rumi. Lagi pula, kita gak bisa mengendalikan hati kita untuk memilih siapa yang kita cintai. Itu terjadi secara naluriah dan gak bisa dikendalikan. Contohnya, aku. Aku aja masih suka gak nyangka ... kok bisa, sih, aku pilih kamu untuk jadi suami," ujar Raina


"Yang terpenting itu justru kedatangan Rumi untuk melamar Raisa. Itu sebabnya ibu dan bapak kasih segudang pertanyaan ke Rumi seolah lagi mengintrogasi dan sekarang mereka lagi tunggu Raisa untuk menjawab lamaran dari Rumi," sambung Raina


"Kok jadi aku, sih? Emang kenapa kalau aku yang jadi suami kamu?" tanya Arka lagi.


"Kamu itu kayak gak ada kelebihannya sampai aku suka heran sendiri kenapa bisa mau nikah sama kamu," jawab Raina


"Dih ... masa ngomongnya begitu. Tapi, Mih ... ada orang yang datang melamar Raisa, apa Raisa gak perlu dikasih tahu tentang ini?" tanya Arka untuk ke sekian kalinya.


"Benar juga, tapi aku gak boleh langsung kasih tahu kalu Rumi datang melamar. Biar Raisa tahu sendiri pas pulang nanti," kata Raina


Raina langsung merogoh saku celananya dan mengambil ponsel dari dalamnya untuk menghubungi Raisa.


"Kalau kamu gak mau kasih tahu tentang lamaran ke Raisa, untuk apa kamu chat dia? Kenapa gak sekalian aja tunggu sampai dia pulang? Biar sekalian kayak kasih supprise ... jeng jeng jeng, gitu, kan, biar seru?" tanya Arka lagi dan lagi.


"Apanya yang seru? Yang ada Raisa bisa syok dan kaget. Udahlah, gak usah banyak tanya. Lihat aja nanti," ujar Raina


"Jangan gitu dong. Aku juga mau tahu rencana kamu," kata Arka


"Kalau kamu mau tahu ... aku chat Raisa untuk tanya dia kapan pulang, sebisa mungkin suruh dia cepat pulang. Kan, kasihan kalau mereka terlalu lama tunggu Raisa. Biar kita juga bisa cepat tahu jawaban Raisa soal lamaran Rumi pas dia pulang nanti," ungkap Raina


"Tapi, ini aku ngetiknya salah terus. Gara-gara kamu kebanyakan nanya. Udah tahu orang lagi ketik chat malah nyenggol-nyenggol terus dari tadi," sambung Raina


"Gak biasanya kamu salah ketik. Ya udah, kamu langsung aja telelon Raisa," ujar Arka


"Karena kamu mengganggu. Ya, ini aku juga mau telepon Raisa," kata Raina


Yang awalnya Raina ingin mengirim pesan online pada Raisa, kini ia beralih untuk menelepon sang adik perempuannya itu.


"Halo. Ada apa, Kak Raina?"


"Aku udah lagi di jalan pulang kok, Kak. Semalam aku nginap di lokasi syuting, katanya dibolehin pulang nanti sore, tapi ternyata bagian aku syutingnya selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang cepat. Kenapa, Kak? Kakak lagi ada di rumah, ya?"


"Iya. Farah udah nunggu kamu pulang, mau ketemu Onty-nya, katanya ... kalau kamu udah dekat chat kakak, ya. Biar bisa jadi kejutan buat Farah. Sekarang dia lagi main sama Raihan."


"Aku udah dekat kok, kak. Sebentar lagi sampai rumah. Iya, aku bakal masuk rumah diam-diam nanti, biar jadi kejutan buat Farah."


"Oh, kamu udah hampir sampai. Ya udah, hati-hati."


"Iya, kak. Ya udah ... aku tutup teleponnya, ya."


Tut!


Sambungan telepon pun terputus.


"Raisa udah di jalan pulang, sebentar lagi sampai. Aku mau tunggu dia datang. Kamu di dalam aja," kata Raina


"Ok. Tapi, kok kamu malah ke dapur?" tanya Arka


"Bawel banget, ih. Aku mau ke luar lewat pintu belakang, gak enak sama tamu," jawab Raina


Akhirnya Arka diam dan mengangguk tanda mengerti.


Raina pun beranjak ke luar rumah melalui pintu belakang.


Kini Raina sedang menunggu Raisa pulang di luar pagar rumahnya. Tak lama kemudian, Raisa sampai dan menuruni taksi online.


"Kak Raina, datang dari kapan?" tanya Raisa begitu tiba.


"Belum terlalu lama kok," jawab Raina


"Raisa, sebenarnya di dalam ada tamu yang cari kamu," sambung Raina

__ADS_1


"Tamu buat aku? Siapa? Oh, Kakak telepon aku dan tanya kapan pulang sebenarnya soal ini, ya?" tanya Raisa lagi.


"Iya. Udah ... kamu masuk dulu aja," kata Raina


Raisa hanya mengangguk kecil.


"Tumben banget ada tamu cari aku. Siapa, ya. Kok aku jadi berdebar gini? Apa karena udah lama gak ada tamu yang cari aku?" batin Raisa


Raisa pun melangkah masuk ke dalam rumah bersama sang kakak, Raina.


"Raisa pulang!" serunya


"Raisa, kamu udah pulang, Nak ... " sambut Bu Vani


"Raina, kok kamu masuk bareng Raisa? Kapan ke luarnya?" tanya Pak Hilman


"Itu, Pak ... tadi aku sempat telepon Raisa. Aku ke luar dari pintu belakang," jawab Raina


Saat itu juga, Raisa terkejut saat melihat kehadiran sosok dua orang yang dikenalnya di ruang tamu bersama kedua orangtuanya. Itu adalah Rumi dan Paman Elvano yang ada di sana.


"Lho, kok ada Rumi dan Paman Elvano di sini? Tamu yang dibilang Kak Raina itu kalian berdua?" tanya Raisa dengan heran.


"Katanya, Raina udah telepon kamu. Emangnya kakakmu gak bilang siapa tamunya?" tanya Bu Vani


"Enggak. Di telepon tadi, Kak Raina cuma tanya aku kapan pulang, terus di luar tadi cuma bilang ada tamu yang datang cari aku, tapi gak bilang siapa tamunya," jelas Raisa


"Selamat siang, Raisa ... " sapa Paman Elvano


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Raisa ... " sapa Rumi sambil tersenyum tipis.


Meski hanya senyum tipis itu sudah berhasil membuat jantung Raisa semakin berdebar tak karuan. Jujur saja, gadis itu telah terpesona.


"Ah, iya ... selamat siang juga, Paman, Rumi. Senang bisa bertemu kalian berdua lagi," balas Raisa menyapa kedua tamu penting itu.


"Aku baru pulang bekerja. Maaf, kalian harua menunggu lagi. Aku harus bersih-bersih diriku dulu sebentar. Permisi ... " sambung Raisa


Raisa pun beranjak pergi dari sana sambil menarik Raina bersamanya.


"Kak Raina, sejak kapan mereka berdua datang?" tanya Raisa


"Lumayan, sih ... gak lama aku datang, terus mereka juga datang," jawab Raina


"Ada perlu apa, ya, sampai Rumi datang bersama Paman Elvano?" tanya Raisa lagi.


"Kupikir kamu udah tahu soal kedatangan mereka karena, kan, kamu yang paling kenal sama mereka. Aku juga gak tahu mereka mau apa, ibu dan bapak yang berhadapan langsung sama mereka berdua. Aku cuma bantu buat minuman aja," jawab Raina dengan sedikit bumbu dusta.


"Kak Raina, aku minta tolong dong. Buatkan minuman untuk mereka lagi. Sepertinya teh itu sudah dingin dan ada yang gelasnya sudah kosong juga. Soalnya aku mau mandi lagi dulu sebentar," pinta Raisa


"Kalau ada yang datang dari sana, bahasa kamu langsung berubah jadi baku, ya. Ya udah, kamu tenang aja. Kakak bakal buat minuman lagi yang baru untuk mereka," ucap Raina


"Sudah jadi kebiasaan, Kak. Terima kasih. Kalau begitu, aku mau mandi dulu," ujar Raisa


"Santai aja. Gak usah buru-buru," kata Raina


Raisa mengangguk. Lalu, ia beranjak masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mandi di dalam kamar mandi yang ada di sana.


Sebenarnya Raisa sudah lebih dulu mandi di lokasi syuting sebelum pulang. Namun, entah kenapa ia memilih untuk mandi ulang. Mungkin ingin jadi segar lagi.


Raina pun membuatkan minuman yang baru seperti permintaan Raisa. Begitu jadi, ia membawakannya ke ruang tamu. Kali ini ia membawakan 4 gelas es sirup jeruk.


"Ini saya ganti minumannya sama yang baru. Tadi yang hangat, sekarang yang segar. Ada camilan juga. Silakan dinikmati sambil menunggu Raisa," ucap Raina


Raina pun menukar minuman. Mengambil minuman yang lama dengan menaruh minuman yang baru. Setelah itu, ia kembali berlalu pergi dari sana.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2