Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 64 - Tempat Istirahat Ternyaman.


__ADS_3

Setelah memperlihatkan Burung Api Legendaris, semua masalah hari ini terselesaikan. Semua percaya pada ucapan Raisa dan mengakui kemampuannya yang hebat.


•••


Keesokan harinya.


Pagi ini, semuanya berkumpul untuk sarapan bersama. Bahkan Tuan Johan pun ikut bergabung karena telah puas beristirahat semalam.


"Setelah sarapan, rencananya aku dan Raisa akan kembali ke Desa Daun. Bagaimana menurutmu, Raisa?" tanya Rumi


"Aku ikut kau saja," jawab Raisa


"Kau bahkan baru mengonfirmasi kepulangan kalian dengan Raisa sekarang? Rumi, kau tergesa-gesa sekali," ujar Nona Rina


"Benar kata Rina. Apa kalian berdua tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi?" tanya Tuan Rommy


"Kurasa aku sudah melakukan semua hal yang ingin kulakukan di sini. Aku datang karena ingin mengunjungimu, Ayah. Aku bahkan sudah membawa Raisa ke sini karena katanya kau ingin berjumpa dengannya lagi. Aku juga sudah melakukan dua kali pemeriksaan. Itu sudah cukup," jawab Rumi


"Lagi pula, masih akan ada hal yang harus kami lakukan di Desa Daun," sambung Rumi


"Baiklah kalau memang itu keputusanmu. Kau datang berkunjung bersama Raisa saja sudah cukup. Sering-seringlah datang berkunjung lain kali," ucap Tuan Rommy


Rumi pun mengangguk. Sedangkan Raisa hanya tersenyum kecil.


Usai sarapan Raisa pun langsung merapikan barang-barang bawaannya untuk kembali ke Desa Daun. Begitu, ia ke luar dari kamar tamu, Rumi sudah berdiri dan menunggunya di sana.


"Kau sudah siap, Raisa?" tanya Rumi


"Tak banyak yang kubawa, jadi aku sudah siap," jawab Raisa sambil mengangguk.


"Kalau begitu, ayo ... " ujar Rumi


"Ya, ayo. Tapi, di mana yang lainnya?" tanya Raisa


"Sepertinya mereka semua sudah bersiap-siap dan menunggu kepergian kita di luar kediaman," jawab Rumi


Raisa pun mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Lalu, ia dan Rumi pun beranjak ke luar dari kediaman dengan saling bergandengan tangan.


Di luar kediaman, semua kerabat Rumi sudah menunggu. Di sana para penjaga juga ikut bersiap siaga karena khawatir para tahanan bebas bersyarat seumur hidup di kediaman itu kabur tanpa izin.


"Sering-seringlah datang bersama Raisa karena aku ingin banyak mengobrol dengannya," ucap Logan


"Boleh saja. Asal kau tidak mengganggu Raisa," ujar Rumi


"Aku tidak seperti itu kok," kata Logan sambil tersenyum tipis.


"Saat kembali, sampaikanlah salamku pada Nathan dan Elvano. Pasti mereka berdua sedang sangat sibuk sekarang," pesan Tuan Rommy


"Sampaikan juga salamku untuk Aqila, ya, Raisa, Rumi ... " pesan Nona Rina


"Baiklah," kata Rumi dan Raisa secara serempak dengan kompak.


"Raisa, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu karena telah membantuku menghilangkan kutukan pada tubuhku," ucap Tuan Johan


"Aku hanya membantu. Tidak perlu sungkan seperti itu," ujar Raisa


"Tidak banyak yang ingin kusampaikan. Hanya saja ... kau hebat, Raisa," kata Tuan Garry


"Ah, ya. Semoga hubungan kalian berdua selalu awet dan langgeng," sambung Tuan Garry


..."Apanya yang langgeng? Seperti kami berdua sudah menikah saja," batin Raisa yang tersipu malu....


"Terima kasih, Garry," ucap Rumi


Tuan Garry pun tersenyum lebar. Sama seperti Rumi yang merasa sangat bahagia mendapat ucapan seperti itu darinya.


"Kalau begitu, kami berdua pamit pergi, ya ... " ujar Rumi


Raisa pun langsung menggunajan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi menuju ke Desa Daun.


Dengan tetap bergandengan tangan, Raisa dan Rumi melangkah masuk ke dalam portal sihir teleportasi. Dan di langkah selanjutnya, keduanya sudah ke luar dari portal sihir teleportasi dan telah berada di Desa Daun.


Setelah itu, Raisa pun langsung menutup kembali portal sihir teleportasi yang dibuka olehnya.


"Kita sudah sampai di Desa Daun!" seru Raisa sambil tersenyum senang.


"Beberapa hari ini kau sudah berbuat banyak dengan menggunakan kemampuan sihirmu, kau bahkan telah menghilangkan kutukan pada tubuhku dan Johan. Terima kasih banyak, Raisa. Namun, kau pasti merasa lelah," ucap Rumi


"Aku tidak merasa lelah sama sekali kok. Setelah kemampuan sihirku pulih, kemampuanku semakin banyak dan berkembang pesat. Aku juga tidak mudah merasa lelah. Sebaliknya, aku merasa selalu dalam kondisi prima setiap saat," ungkap Raisa


"Jangan bohong," tukas Rumi


"Aku bersungguh-sungguh," kata Raisa


"Meski begitu, sebaiknya kita istirahat dulu," ujar Rumi


"Kita istirahat di rumahmu saja," sambung Rumi


Sambil terus bergandengan tangan, Raisa dan Rumi pun berjalan menuju rumah Raisa. Keduanya masih mengobrol sambil berjalan.

__ADS_1


"Atau sebenarnya kau yang merasa lelah, ya, Rumi? Katakan padaku, sekararang apa yang kau rasakan?" tanya Raisa


"Aku baik-baik saja, tidak merasa lelah sama sekali. Perasaanku juga biasa saja, kecuali aku memang merasa detak jantungku terus meningkat jika bersama denganmu," jelas Rumi


"Kau ini ... aku sedang serius, tapi kau malah seperti ini," kata Raisa


"Aku juga serius. Katamu, kini aku memiliki api abadi yang melindungi inti kehidupan pada jantungku. Kini aku merasa selalu hangat lebih dari biasanya. Meski pun kehangatannya tidak sebaik saat kau ada di dekatku," ungkap Rumi


"Kau semakin pandai menggoda saja. Dasar, gombal ... " sebal Raisa


"Sudah kubilang ini serius. Tentu saja bukan gombalan," kata Rumi


"Tapi, tetap saja ... kau tidak merasa aneh dengan rasa hangat dari api abadi yang ada dalam tubuhmu, kan?" tanya Raisa


"Kenapa aku harus merasa aneh?" tanya balik Rumi


"Aku tidak tahu, makanya aku bertanya padamu. Ini hanya sekadar asumsiku ... kau yang memiliki karakter dingin nungkin saja jadi merasa aneh, asing, atau tidak terbiasa dengan rasa hangat? Atau itu tidak saling berkaitan?" tanya balik Raisa lagi.


"Sepertinya itu tidak saling berkaitan. Meski pun memang, sih, awalnya aku tidak terbiasa dengan perasaan hangat. Namun, sudah jadi berbeda saat kau hadir dalam hidupku. Kaulah yang selalu membawa kehangatan untukku," jawab Rumi


"Jangan bicara seperti itu. Kau merasa hangat bukan karena diriku melainkan karena Morgan, temanmu yang bagai matahari itu," sangkal Raisa sambil tersenyum kecut.


Rumi pun menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Raisa yang membuat gadis cantik itu juga ikut berhenti melangkah.


"Kaulah yang jangan bicara seperti itu, Raisa. Sekarang bagiku keberadaanmu lebih penting dari pada Morgan. Kau telah membuatku jauh lebih merasa hangat dibanding saat bersama Morgan. Di dalam hatiku kau sangat istimewa lebih dari siapa pun. Percayalah padaku," tutur Rumi


"Bagiku Morgan memang bagaikan matahari, kau juga bilang matahari tidak bisa lebih dari satu karena itu bisa menimbulkan kiamat. Namun, bagiku karena kau juga bukan berasal dari dunia ini, aku menganggap dirimu sebagai matahariku dari dunia yang lain dan justru jika kau tidak ada, aku merasa dunia akan segera kiamat. Mungkin ini memang terdengar konyol dan egois, tapi bagiku inilah kenyataannya," sambung Rumi


Tanpa melepas genggaman tangannya, satu tangan Rumi yang lain terulur untuk menyentuh dan membelai lembut pipi mulus Raisa.


..."Apa ini artinya keinginanku yang juga ingin menjadi matahari bagi Rumi sudah terkabul? Entah memang terdengar konyol atau egois, aku merasa senang," batin Raisa...


Raisa pun tersenyum manis.


"Aku mengerti. Ayo, katanya kita mau ke rumahku," kata Raisa


Kali ini Raisa yang melangkah lebih dulu membawa Rumi untuk berjalan beriringan dengannya.


Meski melihat Raisa tersenyum, Rumi mengira Raisa masih tidak percaya pada kata-katanya.


"Raisa, kumohon percayalah dengan kata-kataku. Apa aku harus mengatakannya sekali lagi untuk meyakinkan dirimu? Atau aku harus mengungkap hal lain atau semua yang kurasakan tentangmu?" Rumi terus bicara agar Raisa mau percaya padanya sambil terus berjalan.


"Tidak perlu. Aku percaya kok. Aku merasa senang meski hanya mendengarnya sekali," ucap Raisa


"Sungguh?" tanya Rumi


Saat keduanya berjalan pulang menuju ke rumah Raisa, di perjalanan keduanya bertemu dengan pasangan tim ... Amy-Dennis, Wanda-Billy, dan Sandra-Marcel.


"Raisa, kapan kau datang? Kenapa tidak memberi tahu kami?" tanya Amy


Melihat Raisa, Amy langsung menjauh dari Dennis, pacarnya untuk mendekat ke arah Raisa.


"Aku sudah datang sejak ... mungkin sekitar tiga hari yang lalu," jawab Raisa


"Kau sudah datang sejak tiga hari yang lalu, tapi tidak memberi tahu kami? Lalu, ke mana saja kau sampai kami tidak pernah melihatmu sejak kau datang?" tanya Wanda


"Sehari setelah Raisa datang, aku mengajaknya mengunjungi Ayahku," jawab Rumi


"Oh ... apa kau memperkenalkan Raisa secara serius pada Ayahmu kali ini?" tanya Billy


"Itu hanya kunjungan biasa," jawab Raisa


"Sudah dulu, ya. Kami baru saja kembali dari tempat Ayahku. Kami ingin istirahat," ujar Rumi


Saat itu Dennis langsung menarik Amy agar menjauh dari Raisa.


"Jangan menahan Raisa lagi, Amy. Dia ingin istirahat," ucap Dennis


"Amy, mengertilah dengan sikap pacarmu. Dia ingin terus bersamamu. Jangan sampai aku jadi pengganggu di antara kalian berdua," bisik Raisa


Amy tertegun sekaligus merasa malu.


Raisa tersenyum. Ia senang menggoda teman polosnya itu. Ia tidak ingin hanya selalu dia saja yang diledek karena hubungannya dengan Rumi. Raisa merasa rasa malunya saat mendapat ledekan terbalas.


"Aku akan menemui kalian lagi nanti. Sampai jumpa lagi," kata Raisa


Raisa pun segera dibawa pergi oleh Rumi.


"Sepertinya Rumi sangat menjaga Raisa sampai terkesan protektif," ucap Sandra


"Kau benar," sahut Marcel


Setelah Raisa dan Rumi pergi, ketiga pasangan itu pun juga melanjutkan perjalanan ke arah lain.


Raisa dan Rumi pun akhirnya sampai di rumah Raisa.


Begitu masuk, Raisa langsung mendaratkan b*kongnya di atas sofa seraya bersandar.


"Karena sebelumnya kau membahas soal istirahat, rasanya aku langsung mengantuk dan ingin tidur saja," ucap Raisa

__ADS_1


"Kalau kau memang ingin, tidur saja di dalam kamarmu. Aku akan menjagamu di sini," ujar Rumi


"Meski ingin, tapi tidak boleh. Ini masih pagi, aku tidak ingin jadi pemalas. Aku tidak ingin jadi terbiasa seperti itu," kata Raisa


"Sebagai gantinya, bisakah kau pasangkan film serial pahlawan desa yang sebelumnya? Ayo, kita menonton lanjutan filmnya lagi bersama-sama," sambung Raisa


"Baiklah," patuh Rumi


Rumi langsung menuruti ingin Raisa untuk menonton serial film pahlawan desa bersama. Setelah memasangkan filmnya, Rumi duduk di samping Raisa.


"Filmnya akan segera dimulai," kata Rumi


Raisa mengangguk tanda mengerti. Ia pun langsung menyandarkan kepalanya pada dada Rumi. Rumi pun memeluk Raisa dari arah belakang punggungnya hingga tangannya merengkuh pinggang gadis cantik itu dari samping.


"Sambil menonton, aku akan istirahat sambil bersandar padamu," ucap Raisa


"Silakan saja, Sayang. Aku akan jadi tempat istirahat ternyaman untukmu," ujar Rumi


"Sepertinya aku akan tertidur sungguhan karena merasa terlalu nyaman bersandar padamu," kata Raisa sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Rumi.


"Kalau benar seperti itu, kau harus bangunkan aku. Aku ingin kita makan siang di luar supaya bisa sekalian bertemu teman-teman. Pastikan kau membangunkan aku. Jangan sampai tidak dengan alasan tidak tega karena tidurku sangat nyenyak," sambung Raisa


"Baiklah, aku mengerti. Aku pasti akan bangunkan Sayangku," patuh Rumi sambil mencolek ujung hidung Raisa dengan mesra.


Raisa pun tersenyum manis.


Saat film dimulai, keduanya pun fokus untuk menonton. Atau tidak sama sekali. Karena sebenarnya Rumi asik memainkan rambut halus Raisa yang harum. Sedangkan Raisa, perlahan tertidur setelah fokus pada film beberapa waktu sambil melingkarkan satu tangannya di depan perut Rumi.


Saat sudah masuk waktu makan siang, Rumi pun membangunkan Raisa yang tertidur. Rumi melakukan banyak cara untuk membangunkan Raisa dari tidurnya sambil terus menyerukan nama gadis yang masih tetap terlihat cantik meski pun sedang tertidur.


"Raisa, Sayang ... ayo, bangun. Katamu, ingin makan siang di luar."


Dari menggoyang pelan lengan Raisa, membelai sampai mencubit kecil pipi mulusnya, mencolek hidungnya, hingga nenciumi puncak kepala gadis tercintanya itu.


"Aku sudah membangunkanmu, ya, tapi kau sendiri yang sepertinya tidak mau bangun."


Raisa pun mulai terusik dengan semua cara yang Rumi gunakan untuk membangunkannya.


Tubuh Raisa menggeliat pelan dan jari jemari tangannya digunakan untuk mengucek satu per satu matanya.


"Sudah waktunya makan siang, ya?" tanya Raisa


"Hmmm ... " Rumi berdeham lembut sebagai ganti jawabannya.


"Kalau kau membangunkan aku dengan lembut seperti ini, tidak salah jika aku sulit untuk bangun,"ujar Raisa


"Yang penting aku sudah berusaha membangunkanmu," kata Rumi


"Harusnya kau bangunkan aku lebih keras lagi." Raisa pun menegakkan posisi duduknya lalu merenggangkan otot-ototnya dengan merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Aku mana bisa seperti itu," bantah Rumi


Raisa pun bangkit berdiri.


"Aku akan membasuh wajahku dulu. Setelah itu kita ke luar untuk makan," ucap Raisa yang langsung berlalu ke kamar mandi.


Rumi pun dengan patuh menunggu Raisa ke luar dari kamar mandi.


Setelah Raisa ke luar dari kamar mandi, Rumi pun bangkit berdiri.


"Kita mau makan di mana?" tanya Rumi


"Di mana saja. Bagus kalau kita bertemu teman-teman saat makan nanti," jawab Raisa


"Kalau begitu, ayo. Kita langsung pergi saja," ujar Rumi


Raisa pun langsung mengangguk tanda setuju.


Keduanya pun beranjak ke luar dari rumah Raisa dan seperti biasa, keduanya pergi sambil bergandeng tangan dengan mesra.


"Setelah aku tertidur saat menonton tadi, kau pasti merasa bosan karena menonton filmnya seorang diri," ucap Raisa yang mencari topik obrolan di perjalanan.


"Tidak kok. Aku langsung matikan filmnya," kata Rumi


"Kalau begitu, pasti lebih bosan lagi," ujar Raisa


"Tidak. Karena aku jadi bisa memandangi wajah cantikmu yang tertidur sepuasnya," ucap Rumi


"Aku sudah tahu isi filmnya karena sudah pernah menonton sebelumnya. Bagiku filmnya tidak penting. Jangan sampai filmnya malah menggangguku untuk terus memandangi wajahmu," sambung Rumi


Raisa tersipu malu mendengar ucapan Rumi yang terkesan romantis.


Keduanya pun melanjutkan perjalanan dengan hati yang berbunga-bunga.


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2