Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
58 - Menyukaimu.


__ADS_3

"Aku ingin menemani kesendirianmu. Boleh, kan?" Ujar Rumi


Rumi pun mendaratkan dirinya untuk duduk di samping Raisa.


"Tentu saja, silakan." Balas Raisa


"Apa yang kau lakukan sendirian di sini?" Tanya Rumi


"Memandang langit. Indah, bertabur bintang." Jawab Raisa


Raisa kembali mendongakkan kepalanya menatap langit lepas yang jauh...


Rumi pun ikut pada arah tatap Raisa yang menengadah ke atas.


"Kulihat tadi, kau sempat berbaring di atas rumput ini. Apa rasanya? Memang kau tidak takut kotor?" Tanya Rumi lahi


"Aku hanya ingin menikmati waktu-waktu ini, suasana, dan kesendirian ini. Kalau dibuat kotor, tinggal kubersihkan saat di dalam nanti. Di sini langit malam terasa indah... Di lingkungan rumahku jarang terdapat bintang. Aku mau mengenang pemandangan ini." Ungkap Raisa


"Kau terus membahas bintang. Di langit sana juga ada bulan. Kau lebih suka mana, bintang atau bulan?" Ujar Rumi


"Aku suka sesuatu yang indah dan cantik memesona. Terlebih lagi jika itu bersinar. Tapi, mungkin aku lebih suka bintang. Saat aku sendirian, seperti akulah satu-satunya pusat perhatian yang ditatapnya." Jelas Raisa


...'Seperti dirimu. Kaulah bintangku! Aku ingin hanya dirikulah satu-satunya perempuan yang selalu berada di tatapan matamu. Katakan saja bahwa aku egois. Biarkan saja!' Batin Raisa...


Pandangan Raisa beralih pada Rumi. Ia menoleh ke samping menatap Rumi.


"Kalau kau pasti lebih suka matahari. Seperti kau suka Morgan, temanmu yang menyinarimu bagaikan matahari. Morgan adalah mataharimu, kan?" Ucap Raisa


"Ya. Aku serta duniaku bagaikan malam yang dingin. Sejak aku bertemu dengan Morgan, duniaku jadi lebih cerah karenanya. Sifatnya yang ceria membuat hari-hariku yang kelabu menjadi lebih indah dan hangat karena sinaran senyuman dan semangatnya." Ungkap Rumi


...'Padahal aku juga ingin jadi mataharimu, Rumi. Tapi, itu tidak mungkin! Karena seseorang dan dunianya takkan bisa mempunyai 2 matahari sekaligus. Jika itu terjadi, maka dunia akan kiamat. Ternyata memang aku harus menjauh darimu dan takkan bisa bersama denganmu.' Batin Raisa...


Raisa tertunduk diam dan lesu...


"Tapi, aku takut! Sinarnya terlalu menyilaukan saat aku mendekat, sampai-sampai terkadang aku takut terluka. Tidak! Aku takut dia yang terluka karenaku." Ujar Rumi


Mendengar itu, Raisa yang tertunduk sontak langsung mendongak dan menoleh menatap Rumi di sampingnya...


"Kenapa kau harus takut?! Sinar matahari tak selalu menyakiti orang. Matahari juga bisa menghangatkan orang-orang yang terkena sinarnya, seperti kau yang merasakan hangat karena sinarnya. Sinar matahari juga baik untuk kesehatan! Kau takkan terluka karenanya. Saat kau mendekatinya, kau hanya akan merasakan kehangatan yang nemelukmu. Lagipula, Morgan bukanlah matahari yang sesungguhnya. Dia juga takkan terluka karenamu. Kau bahkan selalu ada untuk menyelamatkannya selama ini dan juga ke depannya. Bukankah, begitu?" Ucap Raisa


"Benar, itu semua benar! Aku akan selalu melindunginya." Kata Rumi


"Karena itu, Rumi... Kau jangan pernah merasa takut dan khawatir lagi. Jika, aku ada di dekat kalian semua, aku juga akan melindungi dan menyelamatkan kalian." Ujar Raisa sambil mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Rumi.


Rumi menatap Raisa dalam-dalam saat Raisa menggenggam tangannya. Rumi pun membalas genggaman tangan Raisa dengan sangat erat.


Sadar akan kelakuannya, Raisa pun langsung menarik kembali tangannya yang digenggam erat oleh Rumi dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ya, aku takkan merasa begitu lagi." Kata Rumi dengan senyuman tipisnya.


"Baguslah, kekhawatiranmu sudah hilang. Jangan pernah merasa takut lagi. Kau itu lelaki, jadilah berani. Kau pasti bisa melewati hari-harimu dengan baik." Ujar Raisa


"Kalau bisa, aku juga ingin melindungimu, Raisa. Tapi, kau sudah hebat, tak ada yang tak bisa kau lakukan. Aku jadi merasa tak pantas." Ucap Rumi


"Kata siapa?! Aku ini perempuan, tak sehabat itu, juga bisa ceroboh, juga punya kelemahan. Aku juga butuh seseorang untuk melindungiku, butuh seseorang untuk tempat bersandar..." Tukas Raisa


"Jadi, aku boleh melindungimu? Jika kau mau, kau juga bisa bersandar padaku, Raisa." Ujar Rumi


"Hng... Tentu saja! Sesama teman, kita memang harus saling nelindungi." Kata Raisa


Rumi terus tersenyum melihat tingkah Raisa yang menurutnya lucu dan imut. Ia tak tau, jika sebenarnya Raisa sedang menahan rasa gugup karena dirinya sekarang.


Perlahan tapi pasti, Rumi meraih tangan Raisa untuk digenggamnya lagi dengan erat. Raisa tersentak! Terus menahan kegugupan dalam hatinya. Satu tangan Rumi yang lain digunakannya untuk menyentuh pipi Raisa, mengelus, dan menolehkan, membawa pandangan Raisa agar menatap dirinya. Raisa pun mengikuti giringan tangan Rumi agar menatapnya, tepat pada kedua manik matanya.


Perasaan Raisa kini sangat tak karuan. Jantungnya hampir melompat ke luar dari tempatnya. Angin dingin malam pun tak cukup untuk menyejukkan hatinya yang terus berdebar. Udara pun terasa sangat tipis membuat nafasnya sedikit tercekat di tenggorokan.


"Raisa, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Ucap Rumi


"Langsung katakan saja, apa itu?" Kata Raisa

__ADS_1


Hati Raisa terus merasa tak menentu. Ia yakin rona merah telah muncul pada kedua pipinya. Ia terus menahan perasaan di hati, menutupi kegugupannya.


...'Ayo, cepat! Katakan! Agar aku bisa langsung mengalihkan pansanganku. Kau membuatku sport jantung!' Batin Raisa...


"Raisa, sebenarnya... Akhir-akhir ini, aku merasa- Uhm, Raisa... Aku menyukaimu! Aku suka padamu~" Ungkap Rumi dengan jujur.


Mata Raisa membulat sempurna seketika! Ia terperangah... Tak menyangka, ternyata Rumi mengatakan ini, menyatakan perasaan padanya.


Setelah mengatakannya, Rumi terus menatap Raisa. Tak mengalihkan pandangannya satu inci pun dari wajah cantik Raisa.


Wajah Raisa terlihat cantik bermandikan cahaya bulan dan disoroti sinar ribuan bintang. Ekspresi keterkejutannya pun menjadikannya terlihat lebih memukau. Rumi benar-benar menyukainya!


Tak ada lagi satu kata pun yang terdengar setelah pengakuan itu. Raisa yang terus ditatap oleh Rumi merasa gelisah. Keheningan yang terjadi menambah kegugupannya. Suasana pun menhadi canggung dan mendebarkan~


...'Tunggu! Apa maksudnya tadi? Apa yang barusan saja kudengar?! Juga, apa maksud tatapannya itu? Dia menunggu respon jawaban dariku? Aku harus menjawab seperti apa? Ayo, katakan sesuatu! Siapa pun, tolong aku! Ke luarkan aku dari situasi ini!' Batin Raisa...


"Ah, aku... T-tentu saja, juga menyukaimu. Sebagai teman memang harus saling merasa suka agar bisa menjadi teman. Kalau tidak, maka itu musuh namanya!" Balas Raisa


DEG!


Raisa langsung menarik lepaskan tangannya dari genggaman Rumi. Ia juga langsung mengalihkan pandangannya ke suatu arah~


Entah seperti apa ekspresi wajah Rumi saat ini... Raisa tak mampu melihatnya. Untuk sedikit menoleh bahkan melirik ke samping pun, Raisa tak sanggup! Ia pun terus merutuki dirinya dalam hati... Bodoh! -Umpatnya dalam hati~


'Aku menyukaimu sebagai yang teristimewa, lebih dari sekedar teman. Tapi, ternyata kau hanya menganggapku sebatas ini. Aku hanya bisa menerima. Menunggu, juga mungkin masih bisa.' Batin Rumi


...'Aku yang sudah mengatakan seperti itu. Tapi, kenapa aku yang merasa sakit hati? Rumi, menyukaiku? Jika benar dia nerasa begitu, pasti dia merasa hatinya lebih sakit dari pada aku. Bagaimana pun kita menjalin hubungan itu mustahil, takkan bisa bersama! Apa yang kulakukan ini sudah benar?' Batin Raisa yang merasa menyesal....


Menyesal pun tak berguna! Semua sudah dikatakan. Toh, ini juga sesuai dengan pikirannya. Apa yang harus berjalan akan tetap berjalan seperti semestinya. Semua yang menanti tetap akan dihadapi. Yang sudah berlalu biarkanlah... Semua akan tetap berjalan seperti yang sudah dituliskan oleh Sang Kuasa.


'Aku akan tetap berusaha dan terus berada di sampingmu, Raisa. Lain kali, lihatlah aku.' Batin Rumi


Raisa membuang nafas beratnya~ Ia harus tetap terus melangkah maju jauh ke depan sana...


"Sudah semakin dingin di sini. Aku akan kembali masuk ke dalam, aku juga masih harus menyiapkan makan malam. Rumi, kau mau masuk bersama denganku? Atau, masih mau di sini? Kalau begitu, aku takkan mengganggumu." Ucap Raisa


Raisa pun bangkit dari duduknya hendak berlalu pergi.


"Baiklah. Ayo, masuk." Balas Raisa


Raisa dan Rumi pun berjalan beriringan masuk kembali ke dalam vila bersama.


...'Yang bisa kulakukan hanya sebatas ini. Berjalan bersampingan denganmu, Rumi. Aku tak bisa mengharapkan lebih dari ini. Tidak boleh!' Batin Raisa...


Saat berjalan bersamaan kembali menuju ke dalam vila, Rumi kembali meraih tangan Raisa untuk digenggamnya lagi untuk ke sekian kalinya. Raisa pun menoleh pada Rimi dan seakan bertanya melalui tatapan matanya...


"Kau bilang sendiri, malam semakin dingin di luar sini. Aku akan menggenggam tanganmu sampai kita masuk ke dalam vila untuk menghangatkanmu." Ujar Rumi


'Untuk kali ini saja, biarkan aku melakukannya sebentar. Jangan lepaskan genggaman tanganku lagi. Kumohon, Raisa...' Batin Rumi


Raisa pun tersenyum manis penuh kehangatan.


"Terima kasih, Rumi. Terima kasih juga, kau telah menemaniku di luar sini malam ini." Ucap Raisa


Rumi pun hanya membalas dengan senyumannya juga. Namun, melihat Raisa yang tersenyum manis ke arahnya, membuatnya merasakan sesuatu dalam hatinya.


'Senyumanmu membuat hatiku menghangat dan merasa tenang, Raisa. Aku selalu ingin melihat senyumanmu yang seperti ini hanya untukku. Kau sama seperti Morgan bagiku dan di mataku.' Batin Rumi


Sesampainya di dalam vila, benar saja! Raisa langsung melepaskan genggaman tangan Rumi dari tangannya.


"Aku akan menyiapkan makan malam. Kau tunggulah di sini, Rumi, bersama yang lain juga." Kata Raisa


"Aku akan membantumu, Raisa." Ucap Sanari


"Aku juga mau ikut membantu!" Sambar Amy


Sanari dan Amy pun bangkit dari posisinya dan menghampiri Raisa untuk membantunya menyiapkan makan malam bersama.


Biasanya, selalu Sanari dan Aqila, yang membantu Raisa menyiapkan makanan dan memasak. Namun, kali ini Aqila memilih tetap berkumpul bersama yang lain dan membiarkan Amy yang membantu menggantikan dirinya. Entah mungkin sebelumnya mereka sudah bersepakatan tentang hal ini atau mungkin juga Amy yang meminta dan mengajukan diri untuk menggantikan Aqila.

__ADS_1


Rumi menatap Raisa yang lagi-lagi pergi menjauh darinya.


Rumi memandangi tangannya yang tadi sempat digenggam oleh Raisa. Kini, lagi-lagi dan berulang kali, Raisa terlepas dari genggamannya. Rumi menyadari bahwa Raisa terus berusaha menghindari dan menjauh darinya. Tak peduli seberapa seringnya ia berusaha menggapai dan mendekati Raisa, Raisa selalu saja lari. Berhasil pergi dan lolos dari jangkauannya. Padahal ia ingin sekali selalu berada di dekat dengan Raisa. Selalu bersama berdua...


"Kau habis dari mana, Rumi?" Tanya Marcel


"Menemai Raisa di luar tadi." Jawab Rumi yang lalu duduk bergabung dengan yang lainnya.


"Akhir-akhir ini kau selalu bersama dengannya dan terus mencarinya. Kenapa?" Tanya Devan


"Ingin lebih mengenalnya. Apa memerlukan alasan untuk berteman baik dengan seseorang?" Ujar Rumi


"Tidak juga, sih. Devan, kan hanya bertanya padamu, Rumi." Ucap Dennis


"Kau jadi lebih sensitif seperti perempuan saja." Kata Billy


Walaupun berkumpul bersama. Namun, saat ini, para lelaki lebih bergabung bersama sesamanya dan para gadis memisahkan diri untuk membicarakan masalah pribadi.


"Atau, jangan-jangan kau menyukai Raisa? Apa begitu, Rumi?" Tanya Ian


"Ya, aku menyukainya. Dia sama cerianya sama Morgan." Ungkap Rumi


"Hei, aku tak sama dengannya! Aku lelaki, dia perempuan! Dia sering mengeluh tidak seperti aku!" Tukas Morgan yang menolak dikatakan sama dengan Raisa


"Kau juga suka mengeluh jika gagal saat bertugas." Imbuh Ian


"Pokoknya aku berbeda dengannya!" Tegas Morgan yang tak mau kalah.


Yang lain mengira pemberanan yang diakui Rumi bahwa dirinya menyukai Raisa hanyalah sekedar pertemanan ketika Rumi mengatakan karena sifatnya yang ceria sama seperti Morgan. Mereka tak mengetahui jika sesungguhnya Rumi memang benar-benar menyukai Raisa lebih dari sekedar teman. Rumi menganggap Raisa adalah istimewa baginya dalam hatinya.


...


Memasak untuk menyiapkannmakan malam yang sederhana hampir selesai. Raisa, Sanari, dan Amy sudah mulai menata makanan di atas piring.


"Raisa, selama aku di sini, aku merasa kau seperti seorang Ibu." Ucap Amy


"Eh, kenapa begitu? Apa mungkin karena aku yang terlalu mengatur urusan menginap kalian di sini? Apa aku bersikap menyebalkan?" Tanya Raisa


"Tidak, kau sangat baik! Kau memerhatikan kami semua seperti seorang Ibu. Kau sangat perhatian." Jawab Amy


"Ya, kau mengayomi kami persis seorang Ibu." Kata Sanari


"Itu karena aku ingin yang terbaik selama kalian semua di sini. Aku tidak ingin mengecewakan kalian." Ujar Raisa


"Kau baik hati sekali, Raisa! Aku menyukaimu! Kalau bisa, aku ingin menikah denganmu agar kita selalu bersama." Ucap Amy yang berhambur memeluk Raisa dari samping.


Amy memeluk Raisa dengan erat seolah sedang memeluk Ibunya. Raisa tau, dibalik perkataannya, Amy, sedang bersedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan Raisa karena besok sudah harus pulang ke dunianya. Amy sedang menutupi kesedihannya dengan berkelakuan seperti ini agar tak menangis seperti biasanya.


Amy yang memeluk Raisa, ternyata dilihat oleh Rumi yang datang ingin membantu membawakan makanan makan malam. Ia memerhatikan kedua gadis itu. Terbesit dalam hatinya, ingin melakukan hal yang sama seperti yang Amy lakukan pada Raisa. Namun, ia harus menahan keinginannya itu karena tak ingin Raisa merasa risih dan tersinggung karenanya.


"Amy, aku senang kau memelukku. Tapi, aku dan pakaianku pasti kotor karena sempat merebahkan diri di atas rerumputan saat di luar tadi. Aku masih belum membersihkan diriku." Ucap Raisa


"Biarkan saja, aku tak peduli!" Kata Amy


Amy membenamkan wajahnya pada lengan Raisa saat memeluknya. Raisa tau, Amy sedang berusaha keras untuk tidak menangis lagi. Jadi, Raisa hanya bisa membiarkannya memeluknya seperti ini. Raisa pun tidak keberatan atau tidak suka dengan perilakunya.


'Kalau aku yang memelukmu, apa kau juga akan suka, Raisa? Aku ingin sekali bisa memelukmu seperti yang dilakukan Amy. Tapi, aku takut kau malah semakin menjauhiku.' Batin Rumi


Raisa pun menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Amy. Mengusap lengannya lembut agar perasaan Amy lebih tenang.


"Apa kalian sudah selesai? Apa ada yang bisa kubantu bawakan ke meja makan?" Tanya Rumi


Rumi yang tiba-tiba muncul dan berbicara membuat ketiga gadis di dapur itu terkejut. Itu juga membuat Amy melepaskan pelukannya pada Raisa.


Jujur saja! Sebenarnya, Rumi sengaja tiba-tiba masuk begitu saja ke area dapur. Ia ingin Amy dan Raisa menyudahi pelukan mereka. Karena dalam hatinya terbesit rasa cemburu! Ia tak ingin orang lain berlama-lama memeluk gadis pujaan hatinya. Sekali pun itu adalah sesama seorang gadis!


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2