Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 135 - Inspeksi Pekerja.


__ADS_3

Entah kenapa Raidsa merasa menikmati hidangan bersama Rumi serasa seperti sedang kencan saja. Padahal keduajlnya sedang berada di kafe milik pribadinya.


Entah apa pun itu, yang penting Raisa merasa senang dan dirinya akan menganggap saat itu adalah kencannya bersama sang suami.


"Bagaimana rasanya? Enak tidak?" tanya Raisa


"Aku menikmatinya asalkan bersamamu," jawab Rumi


"Kebanyakan menu di sini berdasarkan resep yang pernah aku coba membuatnya sendiri. Tentunya aku juga mengambil kerja sama dengan koki yang memang berbakat. Selain itu koki di sini juga masih muda," ucap Raisa


"Apa kau sengaja hanya memperkerjakan wanita yang masih muda di sini?" tanya Rumi


"Tidak juga. Hanya saja memang kebanyakan wanita saja yang melamar saat aku mencari pegawai untuk kafe baru ini dan mereka masih muda," jawab Raisa


"Lalu, hari ini yang datang bekerja hanya mereka bertiga saja karena memang ini hari pertama, jadi waktu bukanya pun tidak akan terlalu lama karena yang penting adalah pengenalan toko baru pada khalayak ramai. Tapi, mulai besok jumlahnya akan ditambah dan akan ada lelaki juga. Serta akan buka hingga malam menggunakan jadwal shift kerja," sambung Raisa


Raisa menikmati sepotong strawberry cheese cake dan beberapa pieces macaroon berdua dengan Rumi. Serta Raisa meminum ice vanilla latte dan Rumi meminum ice matcha latte.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah dengan wajahku?" tanya Rumi


"Jangan khawatir. Wajahmu masih tetap tampan dan aku selalu menyukainya," jawab Raisa


"Ada apa denganmu? Apa kau tidak percaya diri saat aku tatap? Atau kau tidak suka jika aku menatapmu?" tanya balik Raisa


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak terbiasa. Biasanya selalu aku yang hanya terus menatapmu hingga akhirnya kau malu-malu. Aku suka saat melihatmu yang seperti itu dan aku juga suka jika kau terus menatapku seperti saat ini," ungkap Rumi


Raisa pun tersenyum manis.


"Makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutku jadi terasa lebih manis saat melihatmu tersenyum. Atau, tidak ... ternyata, semuanya malah terasa hambar karena senyummu mengalahkan semua rasa manis yang ada," ucap Rumi


"Mulai lagi, deh ... gombal," kata Raisa


"Apa kau menginginkan sesuatu? Atau, apa tebakanku salah?" tanya Rumi yang sebenarnya tahu bahwa Raisa menatapnya karena ada sesuatu yang diinginkan darinya.


"Sebenarnya aku ingin mencoba minumanmu. Apakah boleh?" tanya balik Raisa


"Kalau kau ingin, kenapa tidak bilang dari tadi? Tentu saja, kau boleh meminumnya juga. Jangankan hanya segelas minuman, semua yang kumiliki adalah milikmu juga," ujar Rumi sambil nemberikan gelas minumannya pada sang istri.


Raisa pun langsung meraih gelas minuman sang suami beserta sedotannya. Wanita itu menyedot hingga 3 kali sedotan kecil, lalu kembali menyerahkan gelas minuman tersebut pada sang suami.


"Aku sudah mencobanya. Terima kasih," ucap Raisa


"Yakin, sudah? Bukankah kau baru meminum sedikit?" tanya Rumi


"Aku hanya ingin mencoba sedikit. Aku suka rasa matcha, tapi jika kebanyakan juga tidak terlalu suka. Makanya, aku sengaja memesankan rasa itu untukmu agar aku bisa ikut mencicipi sedikit. Aku lebih suka rasa vanila," jelas Raisa


"Begitu, rupanya ... " kata Rumi


"Kau tidak merasa keberatan, kan?" tanya Raisa


"Tentu saja, tidak. Akan kuberikan semua yang kubisa dan kupunya untukmu," jawab Rumi


"Sebenarnya, sih ... aku lebih suka dengan rasa dirimu," bisik Raisa menggoda.


"Soal itu juga akan kuberikan untukmu jika kau mau. Lalu, aku juga suka rasa dirimu. Kau adalah canduku," sahut Rumi membalas merayu.


Raisa dan Rumi pun terkekeh pelan bersama.


"Nilam, kamu jadi menerima rekrutanku untuk jadi manager di sini, kan?" tanya Raisa


"Kalau kamu bersedia menerima aku kerja di sini, aku akan kerja dengan senang dan sepenuh hati," jawab Nilam


"Kamu gak perlu jadi sungkan seperti itu. Kan, memang aku yang merekrut kamu lebih dulu," ujar Raisa


"Siap, Bu Boss!" seru Nilam


"Selain Nilam yang akan mengisi posisi manager, aku butuh seorang wakilnya untuk menggantikan posisi jika Nilam sedang punya urusan lain. Siapa yang bersedia jadi wakil manager di sini?" tanya Raisa


Semua terdiam.


"Andien, Hasna, atau Maura?" tanya Raisa lagi.


"Aku gak bisa karena udah kerja," jawab Hasna


"Aku juga sama," jawab Maura

__ADS_1


Hasna memang sudah bekerja di sebuah Bank. Maura pun sama, sudah bekerja di suatu perusahaan meski hanya jadi karyawan biasa.


"Kalau, Andien?" tanya Raisa


"Aku emang punya usaha pribadi di rumah, tapi kalau cuma jadi wakil manager mungkin aku bisa," jawab Andien


"Oke, berarti udah diputuskan seperti ini, ya. Nilam lebih muda satu tahun, tapi kamu yang jadi wakilnya. Kamu gak merasa keberatan, kan, Andien?" tanya Raisa


"Ya, aku gak masalah dengan itu," jawab Andien


"Karena susunan jabatan udah ditetapkan, sekarang waktunya inspeksi pekerja," ucap Raisa


Inspeksi pekerja adalah pertemuan para pekerja untuk membicarakan sesuatu tentang masalah pekerjaan.


"Karena ini adalah inspeksi pekerja, jadi cuma Nilam dan Andien yang aku ajak. Untuk Hasna dan Maura, tolong jaga kafe sebentar, ya," ujar Raisa


"Siap, Raisa!" seru Hasna dan Maura secara serempak.


"Rumi, kau mau ikut denganku tidak?" tanya Raisa


"Katamu, ini inspeksi pekerja, jadi aku di sini saja," jawab Rumi


"Baiklah, kalau begitu ... " kata Raisa


"Tapi, cepat kembali, ya," pinta Rumi


Raisa mengangguk sambil tersenyum, lalu bangkit berdiri. Wanita itu pun beranjak ke suatu tempat diikuti dengan kedua temannya, Nilam dan Andien. Juga meminta ketiga pegawai kafenya untuk ikut bersamanya.


"Kalian bertiga, ikut saya juga," ucap Raisa pada ketiga pegawai kafenya.


Ketiga pegawai kafe tersebut pun ikut beranjak bersama Raisa, Nilam, dan Andien.


Mereka berenam beranjak masuk ke dalam ruang manager pada kafe tersebut.


Saat berada di dalam ruang manager, semua berdiri. Tak ada satu pun yang duduk, termasuk juga dengan Raisa.


Ketiga pegawai kafe di sana tampak tegang di hadapan para atasannya. Entah apa yang akan dibahas kali ini.


"Kalian bertiga pasti udah tahu kedua teman saya yang akan jadi atasan kalian di sini. Perkenalannya nanti aja. Saya mau tanya sesuatu," ucap Raisa


Ketiga pegawai di sana hanya diam sambil menunduk, tak ada suara sedikit pun apa lagi untuk menjawab.


"Jawab yang jujur. Gak mungkin dari pihak teman saya yang menghubungi wartawan karena saya pun sudah bertanya pada mereka sebelumnya," ujar Raisa


"Mengaku dan katakan aja. Saya gak akan beri hukuman," sambung Raisa


Kalau atasan sudah berkata seperti itu biasanya kenyatannya malah akan sebaliknya atau malah akan memberi hukuman yang jauh lebih berat dari pada dugaan. Maka, yang harus dilakukan adalah mengaku.


"Itu ... saya. Maaf." Salah satu pegawai kafe akhirnya mengaku.


"Saya sangat senang dan antusias saat dapat kabar kalau saya diterima kerja di sini, apa lagi saya bekerja di Kafe Putri milik idola saya. Dan saat mendapat kabar penerimaan kerja itu, saya sedang bersama teman yang seorang wartawan. Karena udah terlanjur tahu, saya jadi kasih tahu tentang hari pertama dubukanya kafe ini," jelasnya


"Saya minta maaf. Saya gak kepikiran kalau emang gak boleh ada wartawan yang tahu sampai mereka yang datang untuk mewawancara ke sini. Sekali lagi saya minta maaf. Tolong jangan hukum saya," sambungnya


Raisa tersenyum mendengar pengakuan dari salah satu pegawai kafenya itu. Namun, bagi pegawai kafe itu mungkin senyumnya terlihat bagai seringai yang mengerikan.


"Terima kasih karena udah mau mengaku. Saya gak akan menghukum kamu karena saya udah bilang seperti itu," ucap Raisa


"Sebenarnya bukan gak boleh memanggil wartawan, tapi seenggaknya kamu harus bilang sama saya lebih dulu. Kali ini saya biarkan karena dengan kesempatan ini saya jadi bisa mempromosikan kafe dan toko bunga saya sekaligus mengklarifikasi tentang pernikahan saya dengan Rumi yang belum diberitahukan ke pihak media, tapi lain kali hal seperti ini harus dipertimbangkan lebih dulu," sambung Raisa


"Jika mau panggil wartawan datang, seenggaknya harus karena punya hal penting yang diumumkan, jangan sampai aktivitas jual beli dengan pelanggan jadi terganggu, dan harus izin dulu ... kalau gak ke saya, bisa izin ke Nilam atau Andien sebagai atasan kalian. Jika, Nilam dan Andien yang mau panggil wartawan pun harus minta pendapat para pegawai dulu. Semua harus sepakat dengan keputusan yang seperti ini atau seenggaknya ambil suara terbanyak. Semua hal harus diurus dengan baik dan harus ingat dengan sistem kerja sama tim," tambah Raisa lagi.


Salah satu pegawai kafe itu mengangguk pelan.


"Jika pegawai melakukan kesalahan, atasan wajib menegur. Jika kesalahan fatal, kalian harus dihukum. Jika atasan melakukan kesalahan, pegawai wajib mengingatkan. Jika itu kesalahan fatal, langsung laporkan pada saya. Saat itu saya yang akan membuat keputusan," ujar Raisa


"Pendapat masing-masing di antara kalian juga sangat penting di sini. Selain menggunakan sistem kerja sama tim, kita juga memakai sistem rasionalitas pendapat. Jika pendapat itu bagus dan masuk akal, maka itu akan diterima. Lalu, juga keterbukaan. Saling bersikap jujurlah satu sama lain agar hubungan kita semua di sini bisa terjalin dengan baik. Jika ada kesulitan, bertanya dan ceritalah. Yang lain akan mencoba membantu. Ini berlaku untuk semuanya dan akan menjadi ketetapan di sini. Saya harap kalian semua bisa mengerti," sambung Raisa


"Baik. Kami mengerti!" seru Nilam, Andien, dan ketiga pegawai kafe.


"Bagus. Sekarang, coba perkenalkan diri kalian satu per satu. Mulai dari kalian bertiga," pinta Raisa


"Saya Yeni, bertugas di kasir."


"Saya Gita, sebagai koki."

__ADS_1


"Saya Fira, sebagai waitress."


Setelah ketiga pegawai, giliran Nilam dan Andien yang memperkenalkan diri.


"Saya Nilam, sebagai manager di sini."


"Saya Andini atau Andien, sebagai wakil manager."


"Lalu, hanya sebagai informasi. Ruangan ini adalah ruangan manager yang akan dipakai oleh Nilam dan Andien. Keduanya akan berbagi ruangan ini atau menggunakannya bergantian saat salah satu di antaranya gak bisa hadir di kafe," ujar Raisa


"Kalau ada yang mau cari di antara Nilam atau Andien, kalian bisa menemuinya di ruangan ini," sambung Raisa


"Baik!" seru Fira, Gita, dan Yeni secara serempak.


"Mungkin setelah ini saya akan pergi dari sini bersama Rumi. Kalian semua baik-baik di kafe, ya," ucap Raisa


"Karena baru hari pertama buka, kalian gak perlu buka kafe sampai malam. Pada jam 3 atau 5 sore kalian bisa tutup kafenya. Yang bekerja besok juga akan bertambah 1 atau 2 orang dan akan diberlakukan shift kerja yang udah disepakati sebelumnya," sambung Raisa


"Emangnya kamu mau ke mana, Bu Boss Raisa?" tanya Andien


"Belum tahu. Sebenarnya aku masih cuti, tapi mungkin aku mau ke studio untuk pemotretan bareng Rumi," jawab Raisa


"Harus banget, ya, kamu panggil aku pakai sebutan seperti itu?" tanya balik Raisa


"Harus dong. Kan, sekarang aku kerja di tempat kamu dan masih dalam waktu kerja. Kalau masalah sebutannya, emang kamu mau dipanggil apa lagi? Nona, eh bukan ... Nyonya? Nilam tadi juga sempat panggil kamu Bu Bos, kan?" tanya balik Andien lagi.


"Terserah kalian aja, deh ... " jawab Raisa


"Sebelum kerja jadi manager di sini sebelumnya aku ini manager kamu. Apa kamu mau aku temani ke studio, Raisa?" tanya Nilam


"Gak usah. Aku sama Rumi aja. Kamu di sini aja sama Andien dan yang lain. Aku juga butuh kabar pendapat kalian tentang saat di hari pertama buka kafe ini nantinya," jawab Raisa


"Saya yang akan pergi setelah ini ... kalian semua gak keberatan, kan?" tanya Raisa


"Gak kok, Bu," jawab Fira, Gita, dan Yeni secara bersamaan.


"Kalau begitu, kalian semua bisa kembali bekerja," ujar Raisa


"Baik, kami permisi ... " pamit Fira, Gita, dan Yeni secara bersamaan.


Ketiga pegawai kafe itu pun beranjak ke luar dari ruangan tersebut.


Melihat Nilam dan Andien yang ingin ikut ke luar dari ruangan, Raisa pun menahan keduanya dengan pertanyaan.


"Kalian berdua mau ke mana? Kenapa gak di sini aja?" tanya Raisa


"Mau bantu-bantu di luar. Kan, semua harus saling bantu," jawab Andien


"Iya, kalau kami berdua tetap di sini juga gak bisa ngapa-ngapain. Mau buat laporan keuangan, laporannya belum masuk. Jadi, kita bantu pelayanan aja dulu," ujar Nilam


"Ya udah, terserah aja. Kalian yang akur sama yang lainnya, ya," kata Raisa


Andien dan Nilam mengangguk.


Raisa dan kedua temannya itu pun berjalan ke luar dari ruang manager tersebut.


Andien dan Nilam menghampiri Hasna dan Maura. Sedangkan Raisa menghampiri Rumi. Lalu, ketiga pegawai kafe kembali pada posisi kerja masing-masing.


"Raisa, kau sudah selesai? Apa saja yang kau lakukan tadi?" tanya Rumi


"Ya, sudah. Aku hanya mengatakan beberapa ketetapan di sini. Tadi aku merasa seolah sedang menjelma mendadi seorang guru yang mungkin dianggap menyebalkan oleh para muridnya," ungkap Raisa


"Kalau kau memang seperti itu, aku pasti akan rajin masuk sekolah setiap hari karena ada guru secantik dirimu," ucap Rumi


"Bukankah saat masih belajar di akademi dulu, kau sering mengikuti Morgan? Saat dia membolos, kau juga ikut bolos sama seperti dia, kan? Kalian berdua seperti teman yang tak terpisahkan. Kalau di dunia ini tidak ada atau memandang gender, aku pasti mengira kau pacaran dengan teman bagai mataharimu itu," ujar Raisa menyindir sang suami.


"Itu hanya masa lalu, Sayang. Lagi pula seperti apa pun kelihatannya, kami tetap hanya berteman bahkan hingga saat ini. Dan, sekarang yang terpenting bagiku adalah dirimu. Kini hingga masa depan nanti," kata Rumi


Rumi berkata sambil menggenggam tangan sang istri. Raisa pun tersenyum karena suaminya itu dan Rumi pun ilut teesenyum.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2