Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
122 - Mulai Sekarang Namamu Adalah Tristan!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Setelah semua terbangun di pagi hari, seperti biasa semuanya mengawali hari dengan sarapan bersama. Hanya perlu menunggu diam duduk di masing-masing kursi pada meja makan yang sama, semua makanan akan dihidangkan oleh pengurus vila tersebut. Berbeda dengan saat di vila keluarga Raisa yang semua serba sederhana, kali ini di vila keluarga Dennis semuanya bagaikan diurus oleh profesional seperti pelayanan di istana kerajaan saja.


"Wah, semua makanannya terlihat enak!" Seru Chilla


"Aku tidak pernah menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini, aku belum pernah mengalaminya sampai saat ini." Ucap Raisa


"Yah, orang kaya memang berbeda!" Kata Ian


"Selamat menikmati!" Seru Dennis


"Selamat makan, semuanya!" Serempak semuanya bersamaan.


Semua pun menikmati sarapan bersama...


Setelah semua selesai sarapan, semua ke luar dari vila untuk menghirup udara bebas yang menyegarkan.


"Ini seperti liburan, bahkan lebih baik dari itu. Menyenangkan sekali!" Kata Raisa


"Menurutku, biasa dan sama saja. Bagaimana kalau kita berolahraga atau berlatih? Di sini juga ada tempat khusus untuk latihan lho." Ujar Dennis


"Kalau begitu, ayo! Kita bergegas!" Seru Morgan


Tak butuh waktu lama, dipimpin oleh Dennis... Semua berjalan dan tiba di tempat khusus latihan yang ada di vila tersebut.


"Vila keluargamu ternyata luas sekali ya, Dennis." Kata Aqila


"Tempat latihan yang besar dan lengkap. Sepertinya bahkan lebih baik dari pada yang tersedia di akademi." Ujar Marcel


"Tempat ini memang termasuk yang dibanggakan oleh keluarga dari generasi ke generasi. Karena walau sejak dulu keturunan ahli sihir di keluarga kami tidak terlalu mahir dalam sihir bertarung, kebanyakan dari kami mengasah kemampuan itu di sini. Ini pertama kalinya aku ke sini lagi setelah sekian lama, terakhir kali aku ke sini saat ayahku menunjukkan sedikit kemampuannya untuk mendorong keinginanku untuk ikut masuk akademi." Ungkap Dennis


"Kalau saat itu adalah terakhir kali kau ke sini... Apa kau pernah berlatih di sini selama waktu belajar di akademi?" Tanya Billy


"Tidak. Saat masa di akademi kan aku lebih sering berlatih bersama kalian. Terakhir kali aku ke sini, aku masih kecil. Mencoba berlatih pun tidak pernah baik." Jawab Dennis


"Aku memang tahu ada tempat berlatih seperti ini, tapi aku baru kali ini melihatnya secara langsung." Ucap Raisa


Mereka yang ingin pun langsung berlatih di sana dan mereka yang enggan pun hanya akan menunggu di kejauhan. Awalnya Raisa pun hanya melihat dari kejauhan...


"Aku tidak akan membakar kalori yang kukumpulkan di dalam tubuhku ini, ini adalah tenaga yang susah payah kukumpulkan!" Ujar Chilla


"Aku malah ingin mencoba latihan seperti yang lain." Kata Raisa


"Kau ingin mencoba berlatih juga, Raisa?" Tanya Rumi yang langsung mendekat.


Raisa tersenyum dan mengangguk kecil.


"Aku ingin mencoba membidik dengan tepat sasaran!" Jawab Raisa


"Kalau soal membidik sih mudah! Selama ini bagaimana cara kau berlatih?" Ujar Morgan


"Selama ini aku hanya berlatih cara menggunakan sihir." Kata Raisa


"Lalu, bagaimana dengan cara bertarungmu?" Tanya Sandra


"Kalau soal bertarung sederhana saja. Aku lebih melatih cara memperkuat pukulan atau tendangan dengan memusatkan tenaga pada anggota tubuh yang digunakan untuk menyerang lawan. Kalau untuk lainnya, aku lebih memekai insting atau mempertajam penglihatan untuk melihat arah serangan lawan." Jelas Raisa


"Kau ingin ikut berlatih bersamaku, Raisa?" Tanya Rumi lebih seperti ajakan.


"Kau mau mengajariku caranya membidik, Rumi?" Tanya balik Raisa


"Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu. Dengan senang hati akan kulakukan." Jawab Rumi


"Kalau begitu, aku mau! Ayo, latih aku, Guru!" Girang Raisa


"Sejak kapan Rumi jadi gurumu, Raisa?" Tanya Devan


"Tidakkah kalian tahu? Teman itu adalah guru yang berharga, musuh saja bisa jadi guru!" Ujar Raisa


Mulailah Rumi mengajari Raisa cara membidik sasaran...


"Kau ingin berlatih cara membidik kan, Raisa? Banyak senjata yang digunakan untuk membidik, kali ini kita gunakan senjata seadanya saja, yaitu belati. Ini, kupinjamkan belatiku untukmu berlatih..." Ujar Rumi seraya memberikan belati kecilnya pada Raisa.


"Cara memegang senjata juga harus benar, kan? Bagaimana caranya?" Tanya Raisa yang susah memegang belati kecil pemberian Rumi di tangannya.


Rumi pun menunjukkan cara membidik dengan tepat sasaran. Rumi mempraktekkan cara memegang senjata, sampai cara mengayunkan senjata ke arah sasaran.


"Kau sudah menunjukkan caranya padaku, aku pun sudah melihatnya. Tapi, aku malu jika akan gagal saat mencoba. Aku selalu saja tidak percaya diri di saat seperti ini." Ucap Raisa


"Gagal saat pertama kali mencoba memang adalah hal yang wajar. Kau hanya perlu yakin saat melakukannya." Kata Rumi


"Memang mudah mengatakannya saat kau sudah pandai melakukannya! Makanya, jangan terlalu sering berlebihan memujiku, aku jadi malu saat gagal melakukan sesuatu padahal aku sudah mendapat banyak pujian itu." Ujar Raisa


"Kau seperti ini sedang malu-malu, rupanya! Lucu sekali!" Pelan Rumi, namun masih mampu Raisa dengar.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan dan aku mendengarmu. Jangan menertawakanku!" Kata Raisa


Raisa pun mencoba membidik untuk pertama kalinya!


Syuuh~


Jleb!


Bidikan Raisa berhasil mengenai papan sasaran, namun belum tepat sasaran...


"Kau berhasil, Raisa!" Seru Rumi

__ADS_1


"Berhasil, apanya? Bidikanku tidak tepat sasaran!" Sebal Raisa


"Itu sudah cukup bagus! Kau hanya perlu lebih sering berlatih, kau pasti bisa mengenai tepat sasaran." Kata Rumi


"Benar! Biasanya orang yang baru pertama kali berlatih membidik bahkan tidak bisa mengenai papannya, tapi kau hanya meleset dari sasaran sedikit saja. Kalau terus mencoba, kau pasti bisa, Raisa!" Ucap Aqila yang menyaksikan Raisa berlatih.


"Kau berhasil mengenai papan walau belum tepat sasaran saja sudah bisa menyebutmu sebagai jenius!" Kata Morgan yang ikut menyaksikan.


"Kau hanya perlu lebih yakin lagi saat melempar bidikan dan sedikit menggunakan tenaga." Ujar Rumi


"Sering kali angin berhembus kencang, jadi membidik juga memerlukan tenaga, kan? Tapi, seberapa besar tenaga yang harus dikeluarkan? Juga harus memperhatikan kecepatan gerakan?" Tanya Raisa


"Tepat sekali! Kau sudah tahu teori dan prakteknya pun hanya perlu dilatih sedikit lagi. Kalau bisa, kau gunakan sekuat tenaga agar mendorong gerakanmu menjadi cepat dan membuahkan bidikan yang mematikan bagi lawan. Gerakanmu saat membidik tadi sudah benar, kau hanya perlu lebih yakin lagi. Ingat, kuncinya hanya perlu yakin! Kau harus percaya diri akan kemampuanmu sendiri, jangan pernah sedikit pun untuk ragu!" Ungkap Rumi


Rumi beralih berdiri di belakang tubuh Raisa...


"Kau mau apa?" Tanya Raisa melirik Rumi yang berada di belakangnya.


"Membantu menuntunmu melakukan bidikan." Jawab Rumi


"Oh." Raisa hanya ber-'oh' ria.


"Ayo, fokuskan perhatianmu pada papan sasarannya!" Kata Rumi


"Baiklah." Patuh Raisa yang langsung memandang papan sasaran yang berada jauh di depannya dengan baik-baik.


"Yang mana yang jadi target sasaranmu?" Tanya Rumi


"Tentu saja, titik yang paling tengah itu!" Jawab Raisa


"Benar, karena itu adalah titik pusat sasaran. Yakinlah kau mampu membidik titik pusat sasaran itu. Gerakan membidikmu tadi sudah tepat. Bagaimana kau melakukan awal gerakan itu?" Ujar Rumi


"Seperti ini, kan?" Raisa mempraktekkan gerakan awal sebelum membidik.


"Benar, seperti itu! Tahan sebentar... Ini belati baru untukmu berlatih lagi." Kata Rumi seraya memberikan belati baru untuk digenggam tangan Raisa.


Raisa pun menggenggam erat belati pemberian Rumi di tangannya dan memfokuskan pandangannya pada papan sasaran...


Tangan Rumi bergerak menggenggam tangan Raisa yang memegang belati.


"Aku akan menunjukkan caranya sekali lagi sambil menuntunmu untuk melakukannya juga. Kita lakukan bersama! Fokus dan yakinlah! Perhatikan dan pelajarilah!" Ucap Rumi


1, 2, 3...


Rumi mulai menghitung~


Pada hitungan ke-3, Rumi pun menuntun Raisa dengan menggerakkan tangannya untuk melakukan bidikan.


Belati pun dilempar...


Syuuh~


Jleb!


"Itu, tepat sasaran!" Seru Raisa


"Lihatlah! Mudah, bukan?" Ujar Rumi


"Kau ikut membantuku. Tentu saja, jadi lebih mudah!" Ucap Raisa


"Sekarang, kau cobalah lakukan lagi sendiri!" Kata Rumi


Rumi memanjangkan tangannya menggunakan sihir untuk mencabut belati yang tertancap di papan sasaran dan memberikan belati pada Raisa untuk kembali melatih bidikannya.


"Jika, aku nenggunakan tenaga yang sama besarnya denganmu saat kau melakukannya tadi... Akankah aku berhasil membidik tepat sasaran?" Ujar Raisa


"Memangnya kau bisa tahu seberapa besar tenaga yang Rumi gunakan untuk membidik tadi?" Tanya Devan


"Aku bisa merasakan aliran darah Rumi saat membantuku melakukan bidikan tadi, dari situ aku bisa memperkirakan seberapa besar tenaga yang Rumi gunakan tadi." Jawab Raisa


"Wah, itu hampir mirip seperti kemampuan Aqila yang dapat memperkirakan gerakan lawan dan menjadikannya sebagai jurus sendiri untuk menghadapi lawan dengan jurus yang sama!" Takjub Morgan


"Coba saja, Raisa!" Kata Aqila


Raisa pun mencobanya sekali lagi! Melakukan bidikan dengan menggunakan jumlah tenaga yang sama dengan saat Rumi melakukannya, bahkan lebih besar dari itu. Dengan menfokuskan diri dan yakin bidikannya akan tepat sasaran... Raisa pun melempar belati yang ada di genggaman tangannya ke arah papan sasaran~


Jleb!


Raisa melemparkan dua belati sekaligus dan kedua belati itu menancap mulus di titik pusat sasaran.


"Yes, kedua-duanya tepat sasaran!" Girang Raisa


"Kau berhasil, Raisa!" Kata Aqila


"Kau hebat, Raisa!" Puji Rumi


"Hmm, terima kasih sudah mengajariku caranya membidik, Rumi!" Ucap Raisa sambil tersenyum.


"Sama-sama, apa pun untukmu..." Balas Rumi


Rumi memberikan sebuah belati lain lagi pada Raisa.


"Itu kuberikan untukmu, simpanlah!" Kata Rumi


"Kau memberikan ini untukku sebagai hadiah karena telah berhasil mempelajari cara membidik?" Tanya Raisa


"Sebagai apa pun itu terserah kau menganggapnya, aku hanya ingin memberimu itu. Kau juga memerlukan suatu senjata untuk pertahanan diri selama kau berada di sini. Kau juga pasti lebih tahu, di sini bisa jadi tidak lebih aman dari pada di duniamu." Jawab Rumi

__ADS_1


"Baiklah, akan kusimpan dengan baik. Terima kasih!" Ucap Raisa


Rumi tersenyum sebagai balasannya...


Raisa mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya, sebuah gantungan kunci. Gantungan kunci itu dilampirkan di lingkaran ujung belakang pada belati yang diberikan Rumi. Memberikan hiasan untuk mempercantik belati yang terkesan biasa itu.


"Lihat, jadi lebih cantik 'kan?" Ujar Raisa menunjukkan tampilan baru belati pemberian Rumi tersebut.


"Ini gantungan kunci yang kau dapatkan untukku saat bermain di pasar malam di duniaku sebelumnya. Aku selalu membawanya bersamaku karena belum punya sesuatu untuk kugantungkan gantungan kunci ini, sekarang jadi lebih berguna." Ungkap Raisa


"Aku punya satu gantungan kunci lagi, untukmu saja. Jadi, kita punya sepasang belati yang cantik menggunakan gantungan kunci yang serasi. Kau harus memakaikannya pada belatimu!" Ucap Raisa seraya memberikan satu gantungan kunci lain dari tasnya pada Rumi.


"Baik, sekarang juga aku pasangkan pada belatiku. Bagaimana, cantik bukan? Kau sudah puas?!" Ujar Rumi setelah menggantungkan gantungan kunci dari Raisa pada lingkarang ujung belakang salah satu belati miliknya.


"Ya, cantik sekali! Aku akan menyimpan belati ini dan tidak akan menghilangkannya, karena ini spesial. Kau pun tidak boleh sampai menghilangkan belatimu itu!" Kata Raisa


"Baiklah." Patuh Rumi


Raisa tersenyum senang dan Rumi pun terikut senang karena hal sederhana itu...


"Hei, ke mana perginya Dennis? Tiba-tiba dia tidak terlihat?" Tanya Wanda


"Tadi dia bilang, ingin melakukan sesuatu di tempat lain." Jawab Amy


"Itu, dia kembali datang. Dennis bersama pengurus vilanya, dia menaiki seekor kuda!" Ucap Chilla


Mendengar yang diucapkan Chilla, Raisa langsung menoleh mencari sosok Dennis. Mata Raisa langsung berbinar dan dari sana seolah dia telah berucap, "Uwwahh~" dengan kagum saat melihat seekor kuda.


Perlu ditekankan sekali lagi, Raisa terkagum saat melihat kuda. Tapi, Rumi sudah cemburu mengira Raisa senang saat melihat Dennis. Padahal yang Raisa kagumi adalah kudanya bukan orang yang menunggang di atas kuda tersebut, tapi itu sudah membuat hati seorang Rumi memanas! Baru saja Raisa tersenyum karena dirinya, tapi sekarang senyuman gadis itu digantikan saat melihat orang lain. Itulah pikiran Rumi...


Raisa langsung menyimpan belati pemberian dari Rumi untuknya dan beralih menghampiri kuda yang dinaiki Dennis...


"Wah, ini seperti kejutan untukku!" Kata Raisa


"Inikah alasanmu mengajak kami menginap di vila keluargamu ini, Dennis?" Tanya Marcel


"Ya. Sebenarnya aku ingat saat Raisa bilang di tempat legang ingin berkeliling menaiki kuda, itu sebabnya aku ingat vila ini yang ada menampung banyak kuda. Itu sebabnya saat tahu Raisa datang, aku ingin mengajak kalian semua menginap di sini agar bisa berlibur sambil menunggang kuda seperti saat di tempat Raisa..." Jawab Dennis


"Pantas saja saat Marcel tidak sanggup menunggang kuda saat itu, kaulah yang mengambil alih kudanya. Kenapa kau tidak bilang saja kalau memang bisa menunggang kuda?" Ujar Billy


"Sebenarnya saat kecil aku punya kenangan kurang menyenangkan dengan kuda, makanya awalnya aku enggan ikut berkuda saat di sana. Tapi, saat di tempat Raisa itu aku coba untuk memberanikan diri dan itu berhasil!" Ungkap Dennis


"Sewaktu kecil pernah ada kuda yang mengamuk dan hampir melukai Tuan Muda, setelah itu Tuan Muda sudah tidak pernah mengunjungi vila ini. Saya kira saat itu sudah membuat trauma untuk Tuan Muda sampai membuat Tuan Besar melarangnya ke sini atau mendekati kuda, saya sangat terkejut saat Tuan Muda datang membawa teman-temannya menginap di sini, terlebih lagi Tuan Muda meminta untuk menunggangi kuda. Jujur saja, saya khawatir terjadi apa-apa pada Tuan Muda Dennis." Ungkap pengurus vila yang mendampingi Dennis.


"Lihat, Tuan pengurus vila masih tidak percaya dengan kemampuanku saat aku meminta ingin menunggang kuda." Ucap Dennis


"Tenang saja, Tuan! Dennis benar-benar mempunyai kemampuan ini sekarang. Bahkan jika bukan karena sekarang menceritakan tentang kejadian saat masa kecilnya, aku tidak tahu jika Dennis hampir atau pernah mengalami trauma. Tuan Muda-mu ini benar-benar pemberani!" Ujar Morgan


"Maafkan aku, Dennis. Aku tidak tahu kau pernah mengalami hal seperti itu di masa lalu dan malah seenaknya mengajakmu berlatih berkuda saat itu, kau pasti mengalami kesulitan saat itu." Ucap Raisa


"Tidak apa, Raisa. Bukan salahmu jika kau tidak tahu, saat itu aku juga tidak menolak saat diajak. Lagi pula, bisa dibilang berkat ajakanmu saat itu aku tidak lagi takut saat mendekati kuda dan traumaku jadi hilang begitu saja." Kata Dennis


"Tidak ada yang salah, kami semua sangat bersenang-senang saat liburan bersamamu, Raisa. Jangan lagi-lagi kau merasa bersalah..." Ujar Sandra


Dennis beranjak turun dari punggung kudanya...


"Kau ingin coba menungganginya, Raisa?" Tawar Dennis


"Bolehkah?" Raisa masih tak percaya jika dapat kesempatan bermain dengan kuda lagi.


"Atau kau ingin memilih sendiri kuda yang lain? Kepala pengurus vila akan membantumu..." Ujar Dennis


"Tidak perlu, kalau boleh aku ingin yang ini saja." Kata Raisa


"Kalau begitu, silakan saja." Dennis pun mempersilahkan Raisa untuk bermain dengan kuda vilanya.


Raisa pun melangkah lebih mendekati kuda yang dibawa Dennis tersebut. Raisa sudah terpikat dengan kecantikan dan keanggunan serta kegagahan kuda putih yang satu itu. Tangan Raisa terulur untuk menyentuh kepala kuda dan mengusap-usap lehernya.


"Kuda baik... Senang jumpa denganmu!" Gumam Raisa mengajak kuda putih itu bicara.


Tanpa disangka, kuda putih tersebut menyamput baik perlakuan lembut dari Raisa dan seolah menjadi jinak dengan orang yang pertama kali bertemu dengannya.


"Apa dia sudah punya nama? Siapa namanya?" Tanya Raisa menanyakan nama kuda putih itu.


Dennis melirik kepala pengurus vila keluarganya dan pengurus tersebut menggelengkan kepalanya sebagai isyarat.


"Sepertinya belum." Jawab Dennis


"Bolehkah aku yang memberinya nama? Dia jantan atau betina?" Tanya Raisa


"Ini adalah kuda putih jantan yang paling tangguh di sini." Jawab kepala pengurus vila.


"Oh, ternyata jantan. Padahal aku baru saja terpikir nama yang cantik." Ujar Raisa


"Hei, kuda tampan! Maukah kau aku beri nama? Bolehkah?" Lagi-lagi Raisa mengajak kuda putih itu berbicara.


"Boleh saja kau memberi nama pada kuda putih ini, sepertinya dia juga menginginkannya. Tapi, jangan dengan nama yang cantik yang baru saja terpikir olehmu itu." Ucap Dennis


"Sungguh, boleh? Tenang saja, aku baru saja terpikir nama lain yang lebih cocok untuknya." Ujar Raisa


"Aku beri kau nama, Tristan...! Bagaimana, apa kau suka dengan nama itu?" Sambung Raisa


"Dia pasti menyukainya, itu nama yang cocok untuknya." Kata Dennis


"Baik! Mulai sekarang namamu adalah Tristan!" Kata Raisa


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2