
Raisa dan Aqila sama-sama menarik ke luar pedangnya dari sarung pelindung dan saling berhadapan satu sama lain.
"Aku akan siap ketika kau juga siap, Aqila," ucap Raisa
"Tentu, aku siap!" sahut Aqila
"Kalau begitu, mulai!" kata Paman Elvano memberi aba-aba.
Klang!!~~
Raisa dan Aqila sama-sama maju saat memulai.
Suara benturan antar kedua pedang menjadi tanda mulainya pertarungan berpedang antara Raisa dan Aqila.
Merasa taktik pertarungan sebelumnya berbuah hasil, Raisa kembali memakai taktik yang sama saat berduel pedang melawan Aqila kali ini.
Raisa hanya fokus melihat ke arah pedang milik Aqila tanpa memikirkan apa pun lagi.
Walau dari segi kekuatan, keduanya seimbang bahkan Aqila lebih unggul... Aqila masih merasa Raisa masih bisa mengunggulinya seperti saat duel tanpa senjata sebelumnya. Raisa pun terlihat berwajah datar tanpa ekspresi dan hanya fokus pada pertarungan dengannya.
Aqila pun mulai berpikir. Sebenarnya Raisa memakai taktik apa untuk melawannya? Kenapa ia tidak terlihat goyah sedikit pun? Padahal berbeda dari sebelumnya, duel kali ini menggunakan senjata yang mungkin akan jadi jauh lebih berbahaya. Kali ini pun Aqila tidak bisa memprediksi gerakan Raisa.
Saat Aqila sedang sibuk berpikir, Raisa terus maju melawannya sampai berhasil terus membuatnya melangkah mundur tak berkutik hanya menerima serangan.
Namun, saat kalimat yang sama terus terpikir olehnya, akhirnya Aqila menyadari sesuatu!
"Oh, ternyata seperti itu... Aku baru menyadarinya!" batin Aqila
Begitu sadar, Aqila pun menambah kekuatannya untuk menyerang dan lebih fokus pada pertarungannya dengan Raisa.
Raisa yang merasa seolah didesak oleh kekuatan yang besar pun sadar bahwa Aqila sudah mengetahui taktik pertarungannya. Namun, Raisa tak mau mengalah atau pun menyerah. Justru, ia bertambah semangat!
Aqila yang telah menyadari taktik bertarungan lawan pun tidak lagi menyerang dengan ganas seperti api yang membara. Namun, serangannya tetaplah tajam dan lebih menjurus seperti petir yang menyambar.
Raisa pula mengganti cara menyerangnya yang tidak lagi hanya seperti air yang mengalir dengan tenang, melainkan penggabungan dari air dan angin seolah menciptakan badai secara tidak terduga yang terkesan tenang, tapi ternyata lebih berbahaya~
Kekuatan melawan semangat...
Tidak ada yang menang atau pun kalah! Keduanya terlihat seimbang.
Ketika kekuatan dan semangat saling bertemu saat Aqila dan Raisa menyerang bersamaan, keduanya menyebabkan bentrokan keras! Keduanya pun terseret mundur secara bersamaan~
"Cukup! Pertarungan selesai!" kata Paman Elvano
Raisa dan Aqila pun sama-sama saling memasukkan pedangnya ke dalam sarung pelindung. Di akhir, keduanya saling memberikan hormat sebagai akhir dari pertarungan...
"Kalian berdua, ke marilah!" pinta Paman Elvano
Raisa dan Aqila pun berjalan mendekat ke arah Paman Elvano.
"Bagaimana pertarungan kali ini? Apa yang kalian bisa pelajari?" tanya Paman Elvano
"Aqila, sekarang kau sudah tahu, apa yang membuat Raisa bisa menyeimbangimu meski kekuatannya tidak lagi setara denganmu?" lanjut Paman Elvano bertanya.
"Ya, aku sudah menyadarinya," jawab Aqila
"Raisa, bisa kau jelaskan ... bagaimana caramu bisa menyeimbangi Aqila?" tanya Paman Elvano
Raisa mengangguk kecil.
"Dengan berpikir tanpa berpikir," ungkap Raisa menjawab.
"Maksudnya, pada awalnya aku memikirkan cara untuk lolos dari sihir Aqila yang bisa memprediksi gerakanku. Namun, sebenarnya gerakan itu sendiri dikendalikan oleh pikiran. Jadi, aku memilih untuk tidak memikirkan apa pun selama pertarungan berlangsung, maka Aqila tidak akan bisa memprediksi gerakanku. Aku pun hanya menyerang dengan tenang tanpa memikirkan atau mengkhawatirkan apa pun," lanjut Raisa menjelaskan.
"Bagus! Itu memang benar!" kata Paman Elvano
"Jadi, Aqila ... apa penjelasan Raisa ini adalah hal yang kau sadari di akhir pertarungan?" lanjut Paman Elvano bertanya.
"Ya. Awalnya aku memang sempat merasa bingung. Padahal aku sudah mengaktifkan sihirku, tapi aku tidak bisa memprediksi gerakan Raisa. Namun, akhirnya aku sadar ... saat melihat Raisa bertarung dengan tenang seolah tidak ada beban, aku baru sadar kalau Raisa tidak berpikir apa pun selama bertarung. Raisa hanya sekadar ... bertarung, itu saja! Tidak sepertiku yang terus berpikir dengan bingung, makanya aku merasa terus dipojokkan di awal. Setelah sadar, aku pun memilih menambah kekuatanku untuk bertarung alih-alih berpikir lebih banyak lagi," ungkap Aqila
"Benar. Itu sebabnya pertarungan kalian berdua berakhir seimbang," kata Paman Elvano
"Awalnya, kalian berdua bertarung seolah seperti ganasnya api yang membara melawan air yang mengalir dengan tenang saat bertarung tanpa senjata. Tapi, di akhir ... kalian bertarung seolah seperti kecepatan petir yang menyambar dengan tajam dan tepat melawan penggabungan dari air dan angin yang mendatangkan badai tak terduga yang tenang tapi berbahaya. Keduanya sama kuatnya dan sepadan. Kekuatan melawan semangat, tidak ada yang kalah mau pun menang. Itu sebabnya pertarungan kalian berdua berakhir dengan seri," ungkap Paman Elvano melanjutkan.
Raisa dan Aqila sama-sama mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Kalian berdua istirahatlah. Setelah ini, aku akan lanjut melatih sihir Aqila. Sementara, latihanmu hari ini sudah selesai, Raisa," ucap Paman Elvano
"Baiklah, Paman," kata Raisa
"Baik, Papa," patuh Aqila
Raisa dan Aqila pun duduk bersama untuk beristirahat. Sementara Paman Elvano mendampingi mereka berdua.
"Aku terlambat menyadari siasatmu. Kalau saja, aku tidak benar-benar menyadarinya saat akhir, aku pasti akan dikalahkan olehmu. Kau hebat, Raisa!" puji Aqila
"Terima kasih!" ucap Raisa yang tersenyum lembut.
Raisa dan Aqila beristirahat sambjl mengobrol, sedangkan Paman Elvano hanya memperhatikan dan mendengarkan.
"Kalau saja, Rumi ada di sini. Dia pasti merasa takjub dan bangga denganmu, Raisa. Harusnya tadi aku datang bersamanya," ujar Aqila
"Sebaiknya, tidak usah. Takutnya dia malah merasa khawatir berlebihan melihatku berlatih seperti ini. Awalnya saja, Papamu juga khawatir, apa aku bisa berlatih atau tidak. Sampai aku harus membujuknya agar bersedia melatihku lagi," ucap Raisa
"Tapi, akhirnya aku melatihmu juga, kan ... " ujar Paman Elvano
Raisa mengangguk.
"Untuk itu, aku berterima kasih, Paman," kata Raisa
"Sekarang waktunya kau berlatih sihir, Aqila," kata Paman Elvano
"Baik, Papa," patuh Aqila
Aqila pun bangkit mengikuti Paman Elvano.
"Semangat, Aqila! Kau bisa!" seru Raisa berteriak.
"Sihir apa yang ingin kau pelajari?" tanya Paman Elvano
"Sihir untuk membuka portal teleportasi," jawab Aqila
"Tingkatan sihirmu sudah sampai tahap itu?" tanya Paman Elvano
Aqila mengangguk.
"Saat Raisa sempat kehilangan nafasnya tempo hari, aku begitu menderita mengira telah kehilangan teman. Itulah saat aku menerobos tahap," ungkap Aqila memberi penjelasan.
"Ternyata, itu yang terjadi ... " kata Paman Elvano
Aqila dan Paman Elvano sama-sama menatap ke arah Raisa yang terus tersenyum. Raisa yang ditatap kembali memberikan semangat untuk Aqila.
Sebenarnya, Raisa mendengar semuanya dan tahu bahwa kedua anak dan Ayah di hadapannya sedang merasa tak enak hati dengannya. Namun, Raisa memilih berpura-pura tidak tahu dan tidak mendengar apa pun. Raisa tidak ingin ada kecanggungan antara dirinya dan siapa pun.
Aqila dan Paman Elvano pun melanjutkan sesi latihan.
"Aqila, untuk membuka portal teleportasi butuh ketepatan. Selain itu, juga perasaan dan ingatan," ucap Paman Elvano
"Harus membuka ruang dimensi yang tepat agar kau tidak tersesat. Untuk itu sangat dibutuhkan ingatan! Kau harus mengingat suatu tempat agar bisa berpindah ke tempat tersebut dan kau harus merasa yakin saat membuka portal teleportasi agar dimensi yang kau buka bisa tepat di tempat ysng kau inginkan. Di sinilah peran perasaan itu dibutuhkan, kau tidak boleh merasa ragu selama menggunakan teknik sihir ini," jelas Paman Elvano
"Tidak hanya itu saja. Saat kau ingin mengejar musuh yang memakai jurus sihir yang sama, maka kau akan bisa merasakan dimensi mana yang dibuka oleh musuhmu. Kau harus merasakannya dengan seksama agar kau bisa mengejarnya dengan membuka portal teleportasi ke dimensi yang sama agar bisa menemukannya. Jadi, yang dimaksud perasaan yang kau butuhkan saat menggunakan jurus ini juga dimaksud dengan kepekaanmu terhadap unsur tenaga sihir," lanjut Paman Elvano
"Aku mengerti, Papa," kata Aqila sambil mengangguk.
"Kalau begitu, sekarang cobalah gunakan sihirmu untuk membuka portal teleportasi! Untuk memastikan ketepatan tempat yang kau tuju, cobalah untuk memilih tempat yang mungkin terdapat orang yang kau kenal di sana. Tapi, yang untuk uji yang pertama, cobalah pergi ke rumah!" ujar Paman Elvano
"Baik, Papa," patuh Aqila
Aqila pun segera mencobanya. Menggunakan sihir dan memfokuskan diri. Ia mulai membayangkan lokasi rumahnya dan ingin segera pulang.
Lingkaran misterius pun muncul di depan mata! Perlahan lingkaran itu terbuka~ Dan karena letak tempat yang dituju cukup dekat dengan lokasinya saat ini, gambaran isi rumahnya langsung terlihat.
"Berhasil! Kau hebat, Aqila! Aku tahu kau pasti bisa! Ternyata, seperti ini tampak dalam rumahmu. Kemarin aku berkunjung ke sana, tapi hanya berdiam di luar," ujar Raisa memberi pujian.
Aqila tersenyum senang saat mengetahui bisa menggunakan sihir teleportasi dengan baik.
"Apa kau ingin pergi untuk melihat-lihat, Raisa?" tanya Aqila
"Tidak perlu. Aku tidak ingin membuang-buang waktumu, lanjutkan saja latihanmu," jawab Raisa
"Bagus, Aqila!" puji Paman Elano
__ADS_1
"Sekarang tutup portalnya dan coba pergi ke tempat yang berbeda," pinta Paman Elvano melanjutkan sesi latihan.
"Baiklah," patuh Aqila
Aqila pun menutup portal yang telah dibuka olehnya. Lalu, mencoba membukanya lagi ke lain tempat.
"Kali ini, ke akademi?" Paman Elvano melihat ke lokasi yang Aqila tuju saat membuka portal teleportasi.
"Ya. Apa Papa ingin mampir untuk melihat-lihat sebentar?" Ujar Aqila bertanya.
"Tidak perlu. Dari kejauhan pun terlihat kalau tempat itu tetap sama. Pasti tidak ada yang jauh berbeda, tetap tempat yang membosankan," jawab Paman Elvano
"Baiklah. Kalau begitu, kututup portalnya," kata Aqila
Paman Elvano mengangguk kecil.
Aqila pun segera menutup portal teleportasinya.
"Langkah terakhir! Kau cobalah pergi masuki portal yang kau buka. Pergilah ke tiga tempat sekaligus, yang jauh pun tidak apa. Setelah itu, kembalilah ke sini. Saat kau kembali, latihanmu untuk kali ini akan selesai," tutur Paman Elvano
Aqila mengangguk tanda mengerti.
"Apa itu tidak masalah? Yang kutahu, sihir teleportasi ini membutuhkan banyak tenaga?" tanya Raisa karena merasa cemas.
"Tidak apa, Raisa. Aku sudah belajar cara pengolahan tenaga sihir dengan Mama. Jadi, harusnya tidak akan ada masalah," jawab Aqila
"Lagi pula, aku bisa merasakan portal yang dibuka Aqila. Jika memang dalam waktu yang lama Aqila tidak kembali, aku bisa pergi mencarinya dan menyusulnya," ucap Paman Elvano
"Benar, aku telah khawatir berlebihan. Kalau begitu, lakukanlah, Aqila. Meski pergi ke tempat yang jauh, jangan pergi terlalu lama, dan cepatlah kembali!" ujar Raisa berpesan.
"Tentu! Aku mulai, ya. Aku pergi dulu!" kata Aqila
Pengolahan tenaga sihir naksudnya adalah mengolah tenaga sihir miliknya dan membuat serta menyimpan tenaga sihir cadangan yang akan dibutuhkan dalam situasi tertentu.
Aqila pun kembali menggunakan sihir untuk membuka portal teleportasi. Kali ini tempat tujuannya tidak terlihat oleh mata yang artinya ia telah menuju ke tempat yang jauh. Aqila pun memasuki portal yang telah dibuka olehnya sendiri dan masuk ke sana seorang diri. Portal teleportasi tersebut pun segera tertutup setelah Aqila masuk ke dalam sana.
"Raisa, kau sudah berhasil unggul pada latihan duel kali ini, tapi apa kau mempelajari sesuatu dari latihan hari ini?" tanya Paman Elvano yang kembali menghampiri Raisa.
"Saat bertarung tidak boleh banyak berpikir dan merasa khawatir. Cukup bertarung saja dengan segala kemampuan yang dimiliki dengan baik," jawab Raisa
"Lagi, selain itu?" tanya Paman Elvano lagi.
Raisa terdiam tampak berpikir.
"Untuk hal seperti ini saja kau masih perlu berpikir?" tanya Paman Elvano, heran.
"Apa yang sedang coba kau bicarakan denganku, Paman Elvano?" tanya Raisa yang sepertinya sudah mengerti maksud Paman Elvano.
"Sepertinya kau sudah menyadarinya," kata Paman Elvano
"Pertarungan adalah sebagian proses kehidupan. Makanya, ada orang yang mengatakan pertarungan seperti kehidupan itu sendiri! Dalam hidup, kau tidak perlu banyak berpikir atau merasa khawatir berlebihan. Cukup jalani saja apa adanya dan ikuti kata hatimu, maka kau akan mendapat hasil yang memuaskan. Begitu juga dengan cinta, bukan? Banyak orang yang mengatakan, kalau sudah jodoh pasti tidak akan ke mana! Artinya kau pasti akan bertemu dengan jodohmu ... " tutur Paman Elvano melanjutkan.
"Aku mengerti. Ucapanmu kurang lebih sama dengan ucapan Bibi Sierra. Kalian memang jodoh sejati," ucap Raisa
"Bukan karena jodoh sejati, tapi memang seperti itulah kenyataannya," kata Paman Elvano
"Aku tahu, tapi seperti yang sudah kubilang ... aku ingin dapat petunjuk dari orang lain, tapi tetap takut ditipu dengan petunjuk yang diberikan. Itulah kenyataannya! Aku ini penakut yang tidak percaya diri! Lebih tepatnya aku ini p*c*nd*ng!" ungkap Raisa sambil tersenyum miris.
"Sabarlah, Raisa, tenang. Cukup jalani saja~ Jangan banyak berpikir atau khawatir berlebihan! Kau bisa melakukannya," ujar Paman Elvano
"Ya, aku memang sudah berusaha untuk menjalaninya saja apa adanya," kata Raisa
"Lalu, aku tahu harusnya tidak berkata seperti ini, tapi Aqila berhasil menerobos tahap karena dirimu. Terima kasih!" ucap Paman Elvano
"Tidak perlu merasa tidak enak hati padaku, Paman. Bagaimana pun juga, aku senang bisa membantu," kata Raisa sambil tersenyum lembut.
Aqila dapat menerobos tahap karena merasakan penderitaan besar saat Raisa sempat kehilangan nafas usai bertarung dengan Sang Dewa. Penderitaan yang dirasakan Aqila saat itu mengalahkan segala penderitaan yang ada karena mengira telah kehilangan teman baiknya. Namun, sebenarnya yang lebih menderita adalah Raisa. Meski dapat kesempatan hidup kembali, kini ia telah kehilangan kemampuan sihir sepenuhnya.
Sebab inilah, Paman Elvano merasa tidak enak meski ia sudah berterima kasih sekali pun. Karena berada di posisi Raisa tidaklah menguntungkan.
Setelah lama menunggu sambil mengobrol, akhirnya Aqila kembali muncul di sana dengan sihir teleportasi. Latihan sihir Aqila pun berhasil dengan sukses!
.
•
__ADS_1
Bersambung...