Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 69 - Koleksi Foto Album.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di pagi hari setelah bangun tidur, Raisa langsung bersiap. Mandi, membersihkan tubuh. Memakai pakaian dan merapikan penampilan. Membuat serta makan sarapan sederhana.


Saat pintu utama rumahnya diketuk dari luar, Raisa bergegas berlarian menuju pintu dan membukanya.


Senyum manis Raisa merekah sempurna saat melihat siapa yang datang. Itu adalah Rumi yang menjemputnya sesuai permintaannya semalam karena ingin berkunjung ke rumah Aqila.


"Raisa, sesuai kataku ... aku datang menjemputmu. Selanat pagi," kata Rumi sekaligus menyapa.


"Selamat pagi juga, Rumi," balas sapa Raisa


"Apa kau ingin langsung pergi ke rumah Aqila atau singgah ke tempat lain dulu?" tanya Rumi


"Tunggu dulu. Sebelum kita pergi, aku ada sesuatu untukmu," kata Raisa


Raisa pun berlalu menuju ke dapur, meninggalkan Rumi sejenak seorang diri.


"Tapi, Raisa ... aku sudah sarapan tadi. Aku makan roti isi sandwich," ungkap Rumi yang tahu Raisa ingin memberinya sesuatu untuk dikonsumsi.


Raisa pun kembali sambil membawa segelas minuman untuk diberikan pada Rumi.


"Aku tahu, tapi ini minuman. Jus buah, minumlah. Aku sudah membuatkannya untukmu," ucap Raisa sambil menyerahkan gelas berisi minuman jus buah pada Rumi.


"Kau buat jus buah apa?" tanya Rumi saat menerima gelas jus buah dari tangan Raisa.


Rumi pun langsung meminum jus buah buatan Raisa itu.


"Bagaimana ... enak tidak? Itu adalah jus buah naga. Aku tidak tahu kau pernah sudah mengonsumsi buah ini atau tidak. Aku membawa buahnya dari duniaku," ujar Raisa


"Rasanya enak dan segar. Aku belum pernah merasakan buah yang seperti ini sebelumnya. Namanya buah naga? Apa dinamai seperti itu karena bentuknya seperti naga?" tanya Rumi


"Kurang lebih seperti itu. Apa kau suka?" tanya balik Raisa usai menjawab pertanyaan dari Rumi.


"Aku suka. Rasanya manis, tapi tidak semanis dirimu," jawab Rumi


"Terima kasih, Sayang," sambung Rumi


"Sama-sama," balas Raisa yang lalu mengambil alih kembali gelas dari tangan Rumi.


Raisa menaruh gelas tersebut asal di atas meja ruang tamunya.


"Ayo, kita langsung pergi saja," kata Raisa yang langsung ke luar dari rumahnya sambil menarik lengan Rumi.


Raisa pun mengunci pintu rumahnya dari luar, lalu menyimpan kunci rumahnya ke dalam saku pakaiannya.


"Lain kali kalau ingin minum atau makan, kau duduklah dulu. Supaya pencernaanmu tidak terganggu nantinya," ucap Raisa sambil menyentuh pelan perut milik Rumi.


"Hei ... itu usahamu untuk menahanku sedikit lebih lama bersamamu atau kau ingin menggodaku?" tanya Rumi yang langsung saja merasa ge'er hanya karena Raisa menyentuh pelan perutnya.


"Kau ini ... diberi tahu yang benar malah berpikir ke arah lain," sebal Raisa


"Sudahlah. Kita langsung pergi ke rumah Aqila saja," sambung Raisa


Raisa langsung menarik satu tangan Rumi sambil menggenggamnya. Rumi pun tersenyum tipis karena merasa senang.


Keduanya pun berjalan perlahan menuju ke rumah Aqila.


Saat tiba di rumah Aqila, rumah yang biasanya terlihat kosong karena selalu ditinggal pergi, kini terlihat ada yang menempati meski juga tidak terlihat ramai.


Begitu memasuki pekarangan rumah Aqila, Raisa dan Rumi bertemu dengan Paman Elvano.


"Selamat pagi, Paman Elvano ... "salam dan sapa Raisa dan Rumi secara bersamaan.


"Selamat pagi, Raisa, Rumi. Kalian ingin bertemu dengan Aqila, ya? Dia ada di dalam," ujar Paman Elvano


Raisa mengangguk kecil.


"Paman Elvano, apa kabar?" tanya Raisa


"Aku baik. Raisa, sejak kapan kau datang?" tanya balik Paman Elvano


"Aku sudah datang sejak 5 hari yang lalu," jawab Raisa


"Paman, ayahku menitipkan salam dan mengucapkan selamat untukmu," ungkap Rumi


"Baiklah. Sampaikan terima kasihku pada ayahmu jika kau bertemu dengannya nanti," pesan Paman Elvano


"Baik," kata Rumi


"Aku tidak sangka kau telah rela melepas satu-satunya putri kesayanganmu," ucap Raisa


"Itu masih belum terjadi," kata Paman Elvano


"Bagaimana dengan perasaanmu melihat putrimu sudah hampir membangun rumah tangganya sendiri?" tanya Raisa


"Bagiku Aqila adalah putri kecilku. Aku agak menyayangkan sosoknya yang sangat cepat menjadi dewasa di saat aku jarang menghabiskan waktu bersamanya karena selalu sibuk di tempat lain sejak dia masih kecil," ungkap Paman Elvano


"Aku hanya perlu memberi pelajaran pada Morgan yang menjadi suaminya nanti kalau sampai dia menyakiti Aqila. Dia pasti tidak keberatan dan dia harus menjaga putriku dengan baik menggantikan aku selalu papanya," sambung Paman Elvano

__ADS_1


"Apa karena alasan ini kau berada di rumah saat-saat ini? Karena kau ingin menemani dan terus bersama Aqila sampai dia menikah nanti?" tanya Raisa lagi.


"Aku berharap bisa seperti itu. Itu pun kalau tidak ada urusan mendesak saat-saat seperti ini," jawab Paman Elvano


"Aku mengerti. Kalau begitu, aku izin masuk untuk menemui Aqila, ya, Paman ... " ujar Raisa


"Silakan," kata Paman Elvano


"Kau masuklah lebih dulu, Raisa. Aku ingin lebih lama di sini dulu," ucap Rumi


Raisa mengangguk tanda mengerti.


Raisa pun masuk ke dalam rumah seorang diri mencari keberadaan Aqila meninggalkan Rumi dan Paman Elvano yang tetap berada di luar.


Mungkin Rumi dan Paman Elvano sedang mengobrol topik lelaki berdua saja.


"Permisi. Aqila, ini aku, Raisa. Aku datang berkunjung," ujar Raisa


Saat itu muncullah seorang gadis. Namun, itu bukanlah Aqila melainkan Monica, adik perempuan Morgan.


"Kak Raisa, kau datang!" seru Monica tampak senang bertemu dengan Raisa.


"Monica, kau ada di sini juga?" tanya Raisa


"Ya. Aku menginap di sini untuk menemani Kak Aqila sejak semalam," jawab Monica


"Siapa yang datang itu, Monica?" tanya Aqila yang baru saja muncul dari suatu kamar.


"Kak Raisa yang datang, Kak," jawab Monica


"Hai, Aqila. Bagaimana kabarmu?" tanya Raisa sambil menyapa.


"Raisa ... aku baik. Sejak kapan kau datang?" tanya balik Aqila usai menjawab.


"Pertanyaanmu sama seperti papamu tadi. Aku sudah datang sejak 5 hari yang lalu. Aku tidak tahu kalau Monica juga ada di sini. Aku tidak mengganggu acara calon ipar berdua ini, kan?" tanya balik Raisa lagi.


"Tidak kok. Aku hanya sedang menunjukkan foto lamaku pada Monica sekalian merapikan ulang," jawab Aqila


"Benar juga. Kau harus menyisakan tempat untuk foto pernikahanmu dengan Morgan nanti," kata Raisa


Setelah itu, Aqila membuatkan minuman dan mengambil camilan untuk mereka tiga orang gadis. Mereka bertiga pun mengobrol bersama sambil makan dan minum juga melihat kumpulan foto-foto lama.


"Maaf, ya, aku datang ke sini tanpa membawa apa-apa dan jadi merepotkan. Padahal niatnya aku ingin membantu dan tadi Rumi sempat menawarkan padaku untuk singgah ke tempat lain sebelum ke sini. Harusnya aku mampir untuk membeli sesuatu dulu," ucap Raisa


"Tidak apa, Raisa. Kau sama sekali tidak merepotkan. Aku justru senang kau sudah bersedia datang berkunjung ke rumahku," kata Aqila


"Omong-omong, Kak Raisa datang ke sini bersama dengan Kak Rumi? Sekarang di mana dia?" tanya Monica


"Apa yang sedang mereka berdua bicarakan, ya?" tanya Monica yang merasa penasaran.


"Entahlah. Mungkin sedang bicara urusan lelaki," jawab Raisa sambil menaikan kedua bahunya.


"Monica, apa tidak masalah jika kau terus di sini? Maksudku tidak buruk, tapi Ian mungkin sedang merana," sambung Raisa


"Aku juga sudah memintanya pulang jika dia ingin, tapi Monica ingin terus menetap di sini. Padahal aku sudah sangat senang dengan dia yang sudah mau menemaniku dan menginap semalam," ucap Aqila


"Tidak apa. Aku juga sudah memberi tahu pada Kak Ian jika aku ada di sini. Dia bisa mencariku ke sini jika dia mau, tapi sepertinya dia masih istirahat karena merasa lelah," jelas Monica


"Benar juga. Dia mungkin merasa lelah karena kami kembali dari misi lumayan larut semalam," kata Raisa


"Kau juga ikut dalam misi semalam, Raisa?" tanya Aqila


"Ya. Aku, Rumi, Morgan, Amon, Devan, Ian, dan Chilla. Kami semua tergabung menjadi anggota dalam misi semalam. Membutuhkan anggota yang banyak karena misinya terbilang sulit, Rumi bahkan sempat terluka parah, tapi syukurlah ... kami semua bisa pulang dengan cepat dan selamat," jelas Raisa


"Semalam itu misi seperti apa?" tanya Monica


"Itu adalah misi mencari dan menangkap target yang menjadi buronan selama 8 tahun lamanya. Dia telah mencuri benda yang dianggap menjadi pusaka di Desa Daun. Semalam kami dikirim ke lokasinya yang berada di Negara Tanah. Itu tidak terlalu jauh, jadi kami bisa cepat kembali setelah menyelesaikan misi," ungkap Raisa


Ketiganya nengobrol sambil melihat-lihat koleksi foto lama. Bahkan ada foto orangtua Aqila dan yang lainnya yang menjadi teman karib sejak dulu, lalu ada foto Aqila dan Morgan yang sudah dekat dari kecil bahkan dari bayi, dan banyak juga foto mereka berdua dan semua teman lainnya.


"Kau dan Morgan sudah menjadi dekat sejak kecil karena orangtua kalian juga berteman. Tidak heran jika kalian berdua jadi berjodoh sekarang bahkan sudah mau menikah," ucap Raisa


"Benar. Sejak kecil aku juga jadi sering bermain bersama Kak Aqila. Tentunya dengan Kak Mprgan juga," sahut Monica


"Ya. Sejak dulu kalian sudah seperti keluarga meski Morgan dan Aqila sering bertengkar," kata Raisa


Aqila tersenyum kecil menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya sedang tersipu malu.


"Aqila, bagaimana perasaanmu saat ini yang sudah sampai ke tahap menuju dan merencanakan pernikahan dengan Morgan, teman masa kecilmu itu?" tanya Raisa


"Terasa biasa saja, tapi terkadang juga bertanya-tanya ... kok kenapa bisa? Namun, pada akhirnya seolah ... ternyata dialah jodohku. Hanya seperti itu, kami berdua hanya mengikuti jalannya takdir," ungkap Aqila


"Kalau Kak Raisa sendiri bagaimana dengan Kak Rumi? Kapan rencana kalian berdua akan menikah? Bukankah katanya kalian lebih dulu berpacaran dari pada Kak Morgan dan Kak Aqila?" tanya Monica


"Kami berdua, ya ... hanya terus menjalaninya seperti itu saja. Karena lebih sering berada di dunia yang berbeda, kami berdua belum membicarakannya sampai ke sana. Kalau bertemu pun kami malah jadi asik menghabiskan dan sibuk menikmati waktu bersama dari pada bicara hal seperti itu," jelas Raisa


"Aku hanya memiliki harapan sederhana. Aku ingin kisah kami ... biarlah seperti air yang mengalir, jadi kami hanya menjalaninya apa adanya dan lebih berharap dengan jalannya takdir. Mungkin kami berdua bisa menjadi seperti Morgan dan Aqila yang akan menikah juga nanti pada akhirnya," sambung Raisa


Raisa pun tersenyum kecil. Namun, kini senyumannya tidak tampak ceria atau cerah melainkan terlihat sendu dan suram seolah meratapi nasib.

__ADS_1


Aqila menjadi merasa tidak enak hati. Terutama Monica yang merasa bersalah karena telah menggiring pertanyaan yang sulit pada Raisa.


Halaman demi halaman dari sebuah album foto dibalik secara perlahan dan kini perhatian Raisa tertuju pada sebuah foto yang menampilkan saat Aqila sedang bersama Morgan dan Rumi yang telah menjadi kesatuan dalam sebuah tim. Itu adalah saat-saat pertama ketiganya tergabung dalam sebuah tim.


Raisa menyentuh foto teesebut dengan perasaan hati yang menghangat. Senyumannya yang tampak sendu dan suram pun berubah menjadi lebih cerah dan hangat.


"Aqila, apa boleh aku mengajukan satu permintaan padamu? Aku menginginkan foto ini. Apa kau bisa memberikan selembar saja foto ini padaku? Bolehkah?" tanya Raisa meminta.


"Boleh, kau ambil saja. Foto ini untukmu," jawab Aqila


Aqila pun mengambil salah satu lembar foto dari album miliknya dan memberikannya pada Raisa. Itu adalah foto yang diinginkan oleh Raisa.


"Terima kasih banyak, Aqila," ucap Raisa


"Sebenarnya, karena aku terbilang lambat kenal dan bertemu dengan Rumi, rasanya aku ingin memiliki foto Rumi yang kau punya. Tapi, itu tidak mungkin karena sejak awal itu bukan milikku. Tidak baik menginginkan milik orang lain," sambung Raisa


"Semua foto ini milikku, tapi Rumi akan jadi milikmu cepat atau lambat," kata Aqila


"Tapi, bukannya tidak ada cara lain. Foto-foto Rumi bukan termasuk foto lama, pasti data fotonya masih tersimpan. Lain kali aku akan mencetak semua foto Rumi untuk kuberikan padamu," sambung Aqila


"Itu berharga sekali. Dengan niatmu seperti ini aku sudah cukup berterima kasih padamu," ujar Raisa


"Kalau begitu, aku juga mau. Cetakkan foto Kak Ian yang Kak Aqila punya untukku. Lalu, aku juga ingin foto yang satu ini. Boleh, ya, kan, Kak Aqila? Ini sangat menarik perhatianku sejak awal aku melihatnya," pinta Monica


"Baiklah. Boleh kok. Silakan kau ambil, Monica," kata Aqila


Monica pun mengambil sendiri selembar foto yang nenunjukkan saat Morgan, Ian, dan Devan sedang bersama pada album foto milik Aqila tersebut.


"Padahal aku datang karena ingin memberi bantuan jika memang kau butuh sesuatu untuk pernikahanmu dengan Morgan nanti, tapi malah aku yang meminta sesuatu darimu. Ini agak memalukan," ucap Raisa


"Tidak apa. Itu bukan hal besar," kata Aqila


"Omong-omong, memangnya kapan pernikahan antara kau dan Morgan akan dilaksanakan?" tanya Raisa


"Itu masih lama. Sekitar 3 atau 4 bulan lagi," jawab Aqila


"Itu, sih, cukup lama. Padahal sepertinya sudah sangat heboh dibicarakan. Kupikir aku bisa sedikit membantu persiapannya mulai dari sekarang," kata Raisa


"Persiapannya memang sudah dimulai dari sekarang. Makanya aku sudah lebih dulu cuti karena harus menyiapkan banyak hal dari ini dan itu," ungkap Aqila


"Kalau begitu, jangan sungkan untuk minta bantuan dan panggil aku untuk hal apa pun. Alu bisa menemanimu atau memberi saran. Jika kau punya uneg-uneg atau keluh kesah pun aku siap jadi pendengar yang baik. Selagi aku ada di sini karena mungkin aku tidak bisa terus di sini selama menunggu hari h pernikahanmu dan Morgan," ujar Raisa


"Aku mengerti dan akan kuingat. Terima kasih atas niat baikmu," ucap Aqila


Raisa mengangguk sambil tersenyum.


Kembali pada Rumi dan Paman Elvano.


"Kalau ada apa pun, kau bisa katakan padaku, Rumi. Aku sempat pernah menjadi murid ayahmu, jadi aku juga termasuk walimu di sini. Jangan sungkan karena Raisa juga baik pada Aqila dan sering membantunya. Jadi aku pun bisa membantumu atau sekadar memberi saran atau juga menjadi pendengar yang baik," ujar Paman Elvano


"Baik, akan kuingat. Terima kasih," ucap Rumi


Saat itu, Morgan dan Ian pun datang.


"Lho, Rumi, Paman Elvano ... apa yang sedanh kalian berdua bicarakan di sini?" tanya Morgan


"Hanya obrolan lelaki biasa," jawab Paman Elvano


"Morgan, kau harus mulai membiasakan memanggil Paman Elvano dengan sebutan Papa seperti Aqila," ucap Ian


"Resmi menikah saja belum. Nanti saja," kata Morgan


"Kau datang bersama Morgan. Ada perlu apa, Ian?" tanya Rumi


"Dia ingin ikut denganku menjemput adikku yang menginap di sini semalam," jawab Morgan


"Bohong. Morgan hanya ingin bertemu dengan Aqila. Biar aku sendiri saja yang menjemput Monica. Kau sendiri ada perlu apa ke sini, Rumi?" tanya Ian


"Aku mengantar Raisa ke sini untuk berkunjung dan menemui Aqila. Dia ada di dalam sekarang," jawab Rumi


Morgan, Ian, dan Rumi pun masuk ke dalam rumah Aqila.


"Monica, pacarmu sudah datang, nih!" seru Morgan


"Maaf, aku baru datang, Monica. Padahal aku janji menjemoutmu pagi ini," ujar Ian


"Tidak apa. Ini juga masih pagi kok," kata Monica


"Karena Morgan, sang calon suami sudah datang ... mungkin kami harus menjauh dulu sebentar. Segera panggil aku kalau kau butuh, ya, Aqila ... " ucap Raisa


Aqila mengangguk pelan.


Raisa pun bangkit berdiri dan menghampiri Rumi. Begitu juga Monica yang langsung menghampiri Ian.


Monica-Ian dan Raisa-Rumi pun meninggalkan Aqila-Morgan berdua. Namun, kini giliran Paman Elvano yang masuk karena tidak ingin putri kesayangannya hanya berduaan dengan lelaki yang belum sah menjadi suami tanpa adanya pengawasan.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2