
Usai mengadakan pesta pernikahan selama tiga hari tiga malam, akhirnya Aqila dan Morgan bisa bersantai dengan nafas lega setelah pesta pernikahan telah berakhir.
Kini Aqila dan Morgan sedang berada di dalam kamar pengantin untuk beristirahat.
Keduanya sedang bersiap untuk membersihkan tubuh sebelum tidur malam setelah menyelesaikan pesta terakhir.
"Akhirnya pesta selama tiga hari tiga malam berakhir sudah," ucap Morgan sambil menghela nafas lega.
"Iya. Setelah malam ini kita benar-benar bisa bersantai," kata Aqila
"Rumi juga bisa menikmati pestanya karena Raisa bisa datang. Padahal sebelum Raisa datang, Rumi terus terlihat murung. Tapi, sayangnya besok Raisa sudah akan kembali ke dunianya," sambung Aqila
"Sepertinya kau sangat peduli dengan hubungan Raisa dan Rumi," ujar Morgan
"Tentu saja. Sangat disayangkan kalau hubungan mereka berdua harus berakhir hanya karena dunia yang terpisah, padahal selama ini keduanya tampak saling mencintai," ucap Aqila
"Apa lagi kalau bukan karena terungkapnya hubungan mereka berdua, kau tidak akan berani mengungkapkan cintamu padaku dan mengajakku berpacaran hingga akhirnya kita bisa menikah seperti sekarang. Bisa dibilang karena mereka berdualah kita bisa sampai ke tahap pernikahan," sambung Aqila
"Iya, deh, aku mengerti. Tapi, untungnya saja papamu bilang akan membantu Rumi, kan? Kita bisa lega karena itu. Kira-kira apa alasan papa Elvano sampai bersedia membantu Rumi? Dan papa Elvano akan membantu soal apa?" tanya Morgan
Sudah sejak dua hari yang lalu, Morgan tidak lagi memanggil Papa Aqila dengan sebutan Paman Elvano, melainkan kini memanggilnya dengan sebutan Papa Elvano karena pria itu kini telah menjadi papa mertuanya.
"Kan, Raisa sudah banyak berjasa. Papa merasa telah berhutang nyawa dan budi karena Raisa telah berulang kali menyelamatkan kita dan seisi desa karena itulah papa bersedia membantu Rumi jika itu berkaitan dengan Raisa. Dari yang kudengar sepertinya papa akan membantu perihal persiapan pernikahan Raisa dan Rumi. Dua teman kita itu pasti akan bisa segera menikah setelah ini cepat atau lambat," jelas Aqila
"Bagus, kalau begitu. Kita berdua tidak perlu merasa khawatir tentang hubungan Rumi dan Raisa lagi. Sekarang kau hanya pedulikan tentang kita berdua," ujar Morgan
"Kita berdua sudah menikah. Memangnya apa lagi yang perlu dikhawatirkan tentang kita berdua?" tanya Aqila
Morgan mendekat ke arah Aqila yang sedang duduk di tepi ranjang dan langsung memeluk tubuh gadis cantik yang kini telah sah menjadi istrinya itu dari samping. Morgan pun tak segan-segan menciumi pipi istri cantiknya itu.
"Justru karena kita berdua sudah menikah kau harus jadi peduli. Ini tentang malam pengantin kita," jawab Morgan
"Apanya yang malam pengantin? Mandi dulu sana ... kau bau," kata Aqila yang langsung mendorong dada Morgan untuk menjauh dan melepaskan pelukan dari suami sahnya itu kini.
"Lagi pula setelah kita menikah dua hari yang lalu, kita juga bukannya belum pernah melakukannya sama sekali," sambung Aqila yang langsung merona malu mengingat malam panas yang sudah pernah ia lalui bersama Morgan setelah menikah.
Setelah menikah dengan Morgan dua hari yang lalu, selama dua malam itu juga Aqila selalu merasa lelah hingga pagi menjemput karena aktivitas di malam pengantin keduanya. Selama pesta masih berlangsung pun Aqila selalu menahan lelah karena ulah dan keganasan Morgan di malam hari.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita berdua langsung mandi bersama saja?" Tanpa izin dan ba-bi-bu lagi, Morgan langsung mengangkat tubuh Aqila dan menggendongnya ala bridal style menuju dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar pengantin itu.
Aqila pun memekik kencang karena perlakuan tanpa permisi suaminya itu.
"KYAAA! Turunkan aku. Dasar, m*sum!"
"Aku hanya berbuat seperti ini padamu, istriku sayang ... "
Dan terjadilah di dalam kamar mandi tersebut, bukan hanya dua orang yang sekadar mandi bersama saja. Suara keduanya terdengar ribut. Untung saja kamar mandi dan kamar tersebut merupakan ruangan kedap suara hingga tidak ada orang lain yang mendengar suara keributan yang begitu panas dan menggairahkan.
•••
Keesokan harinya.
Usai makan siang, Rumi terus menemani Raisa yang katanya ingin kembali ke dunianya hari itu juga. Rumi ingin mengantarkan kepergian gadis cantik pujaan hatinya agar bisa berpamitan sebelum pergi.
Namun, saat Raisa hendak pergi dengan membuka portal sihir teleportasi, tiba-tiba saja Amon datang menghampirinya dan Rumi dengan langkah yang tergesa-gesa dan nafas yang memburu.
"Raisa ... tunggu!" teriak Amon dari kejauhan.
"Ada apa kau datang mencari Raisa dengan terburu-buru seperti ini?" tanya Rumi
Saat langkahnya berhenti, Amon langsung mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Tenangkan dirimu baik-baik, Amon," kata Raisa
"Tuan Pemimpin Desa memanggil kalian berdua. Kalian berdua harus menemuinya sekarang juga. Dia menunggu di kantor kepemimpinannya," ungkap Amon
__ADS_1
"Ada perlu apa Tuan Pemimpin Desa memanggil kita berdua? Padahal Raisa sudah ingin kembali ke dunianya," kata Rumi
"Sepertinya ada urusan penting. Ayo, kita ke sana saja. Kalau tidak ada apa-apa pun aku jadi bisa berpamitan sebelum pergi dengannya," ujar Raisa
Raisa, Rumi, dan Amon pun sama-sama beranjak pergi menuju ke Kantor Pemimpin Desa untuk menemui Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa.
Saat masuk ke dalam kantor pemimpin desa, mereka bertiga bertemu dengan Sanari yang tepat berada di depan ruang kerja Pemimpin Desa.
"Sanari, kau juga ada di sini?" tanya Raisa sambil menyapa.
"Iya. Amon yang memberi tahu padaku kalau aku dipanggil oleh Tuan Pemimpin Desa, tapi Amon juga harus memanggil kau dan Rumi, jadi aku menunggu sampai kalian datang dulu," jelas Sanari
"Sebenarnya, apa tujuanmu memanggil kita semua ke sini, Amon?" tanya Rumi
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya diberi tahu untuk memanggil kalian saja dan kita semua harus menemui Tuan Pemimpin Desa bersama-sama," jawab Amon
"Kalau begitu, kita langsung masuk ke dalam saja," ujar Raisa
Raisa, Rumi, Amon, dan Sanari pun melangkah masuk ke dalam ruang kerja Pemimpin Desa setelah mengetuk dan nembuka pintunya secara perlahan.
"Sesuai yang kau minta, aku sudah memanggil mereka semua untuk datang menemuimu, Tuan Pemimpin Desa," lapor Amon
"Maaf karena sudah memanggil kalian semua secara mendadak. Terutama kau, Raisa. Padahal kau sudah akan pulang ke duniamu," ujar Tuan Nathan
"Tidak apa. Aku tahu pasti ini adalah urusan penting yang mendesak sampai Anda harus memanggil kami semua," kata Raisa
"Jadi, ada urusan apa sampai Tuan Pemimpin Desa memanggil kami berempat ke sini?" tanya Sanari
"Ada misi yang cukup mendesak saat ini. Sebenarnya ini adalah misi yang tertunda karena datang saat mendekati hari pernikahan Morgan dan Aqila dan tidak ada yang bisa mengambil misi ini karena yang lain sibuk dengan misi lain. Aku harap kalian berempat bisa mengambil dan mengerjakan misi ini dengan segera," ungkap Tuan Nathan
"Diketahui ada monster yang tiba-tiba muncul belakangan ini dan Desa Bambu menjadi salah satu desa yang terkena imbas dari kemunculan monster tersebut. Jadi, kalian berempat akan pergi ke Desa Bambu untuk menangani masalah kemunculan monster tersebut dalam misi kali ini," sambung Tuan Nathan
"Desa Bambu ... bukankah itu adalah tempat persemayaman Burung Api Legendaris dulu? Kali ini monster seperti apa lagi yang muncul di sana?" tanya Rumi
"Informasi dan data untuk misi kali ini tidak lengkap karena kebanyakan warga di sana bersembunyi di dalam rumah untuk melindungi diri dan belum ada yang pernah melihat dengan jelas atau secara langsung monster apa itu. Harap kalian semua bisa berhati-hati," jawab Tuan Nathan
"Desa Bambu adalah tempat tinggalmu dulu. Apa kau tahu sesuatu tentang kemunculan monster di sana kali ini, Helio?" tanya Raisa yang mencoba berkomunikasi dengan Sang Phoenix, Burung Api Legendaris yang ada dalam dirinya.
"Aku tidak tahu, Raisa," jawab Helio, Sang Phoenix yang menyahuti dari dalam tubuh Raisa.
"Sungguh?" tanya Raisa lagi.
"Aku tidak tahu pasti karena aku tidak menyaksikannya secara langsung, tapi itu mungkin adalah temanku yang muncul setelah siklus reinkarnasinya," jelas Helio
"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih atas informasinya, Helio," ucap Raisa
"Sama-sama, Raisa," balas Helio
Komunikasi antara dirinya dan Sang Phoenix sudah berakhir. Setidaknya Raisa punya sedikit informasi tentang misi yang akan dijalaninya kali ini untuk sekadar berjaga-jaga dari situasi yang tidak memungkinkan nanti.
"Karena anggota untuk misi kali ini diatur olehku secara mendadak, aku menunjuk Sanari dan Raisa sebagai ketua dalam misi kali ini. Tidak boleh ada penolakan," ucap Tuan Nathan
"Dimengerti. Aku dan Raisa akan menerima tugas ini dengan baik. Kami semua juga akan segera merencanakan keberangkatan misi kali," kata Sanari
Raisa pun mengangguk tanda setuju.
"Menunjuk dua orang gadis untuk jadi ketua dalam misi yang mungkin akan berbahaya. Tidakkah seharusnya kau tunjuk seorang lelaki saja untuk jadi ketuanya?" tanya Amon
"Tidakkah kau dengar bahwa tidak boleh ada penolakan? Sudahlah ... serahkan dan percayakan saja pada dua gadis hebat ini, Amon," ujar Rumi
"Sebelum pergi, sekali lagi aku mengucapkan selamat atas pernikahan anak Anda, Morgan dengan Aqila. Kami permisi dulu ... " ucap Raisa
Amon pun akhirnya menerima keputusan tentang ketua misi yang diatur oleh Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa. Setelah itu, mereka berempat pun beranjak ke luar dari ruang kerja Pemimpin Desa.
"Sebaiknya kita segera berangkat ke Desa Bambu saja," kata Amon
__ADS_1
"Aku setuju. Kasihan dengan warga di sana yang selalu bersembunyi karena takut dengan monster itu. Kita harus segera menanganinya," ucap Sanari
"Raisa, apa Helio tidak mengatakan apa pun padamu tentang kemunculan monster di tempat tinggal lamanya kali ini?" tanya Rumi
"Aku sudah menyempatkan untuk bertanya pada Helio tadi. Dia bilang, tidak tahu pasti, tapi mungkin monster itu adalah temannya yang muncul setelah siklus reinkarnasinya. Hanya itu saja," ungkap Raisa
Setelah Raisa mengungkapkan sedikit informasi tentang monster itu dari Helio pada ketiga temannya, mereka berempat pun memutuskan untuk langsung bersiap-siap supaya dapat berangkat ke Desa Bambu dengan segera dalam misi kali ini.
Usai bersiap-siap, mereka berempat pun langsung pergi menuju ke stasiun kereta setelah saling berkumpul.
Tidak banyak data dan informasi tentang misi kali ini, Raisa pun hanya bisa menebak-nebak tentang monster yang muncul di Desa Bambu karena sedikit informasi dari Sang Phoenix.
Karena itulah mereka berempat memutuskan untuk segera berangkat ke lokasi tujuan misi tanpa harus membuat rencana lebih dulu.
"Kita beli tiket keretanya bersama saja. Aku ingin tahu cara pembelian tiket di sini," kata Raisa
Begitu sampai di stasiun kereta mereka berempat langsung mengantre di loket untuk membeli tiket bersama sesuai perkataan Raisa.
Raisa memang tahu cara pembelian tiket secara umum. Namun, sebenarnya Raisa belum pernah mengantre untuk membeli tiket kereta. Meski begitu, bukan berarti ia belum pernah naik kereta di dunianya. Hanya saja biasanya ia membeli tiket secara online atau tiket dibeli secara rombongan oleh teman-teman yang ikut pergi bersama menaiki kereta.
Selama mengantre, Raisa dapat melihat bahwa cara pembelian tiket di sana tak jauh berbeda dengan cara pembelian tiket di dunianya pada umumnya.
"Kami beli 4 tiket menuju ke Desa Bambu," pesan Sanari
"Ke Desa Bambu, ya? Untunglah kalian datang di waktu yang tepat. Keberangkatan menuju ke Desa Bambu hanya tersisa sekali lagi saja dan dan keberangkatan setelah ini adalah yang terakhir di hari ini," ungkap pelayan loket.
"Kenapa seperti itu?" tanya Amon
"Kami tidak tahu, tapi itu pengaturan dari stasiun di Desa Bambu. Mereka melarang kereta ke luar masuk desa pada waktu yang berdekatan dengan sebelum matahari terbit dan terbenam," jelasnya
"Dari yang terdengar itu ulah monster yang kembali muncul di sana. Ini tiketnya, 4 menuju ke Desa Bambu. Harap berhati-hati dan semoga harimu menyenangkan," sambungnya
Salah satu alasan Raisa ingin mereka membeli tiket bersama selain ingin tahu cara pembelian tiket di dunia itu, ia memang sengaja karena kemungkinan bisa mendengar suatu informasi dari sana seperti saat ini.
Usai melakukan pembayaran, mereka berempat pun menunggu kereta dengan jadwal keberangkatan menuju ke Desa Bambu yang berangkat sebentar lagi.
"Monster yang kembali muncul. Apa monster dari roh kegelapan sebelumnya muncul kembali? Tapi, rasanya itu tidak mungkin. Bukankah saat itu kita sudah memastikan para monster itu sudah tenang dan tidak akan mengancam desa lagi?" tanya Rumi
"Sudah tenang dan tidak akan mengancam desa lagi? Sebenarnya apa yang kalian lakukan pada saat misi kali itu? Kalian tidak memusnahkan monsternya dan hanya membuat mereka tenang? Kalau begitu, bukankah memang pantas monster itu membuat ulah lagi?" tanya Amon
"Keduanya tidak mungkin. Monster dari roh kegelapan tidak mungkin muncul kembali atau membuat ulah dengan mengancam desa lagi. Karena monster saat itu adalah roh suci yang berubah menjadi roh kegelapan karena ulah manusia yang mengganggu mereka. Kami menenangkan mereka karena mereka tidak bisa musnah karena bisa bangkit dari cahaya atau dalam kegelapan. Mereka tidak akan mengganggu kalau memang tidak lebih dulu diganggu karena tujuan mereka hidup hanya melindungi kelestarian dan menjaga kesucian hutan bambu di pedalaman hutan di sana," jelas Raisa
"Bagaimana kau bisa sangat yakin dengan itu?" tanya Amon
"Karena aku adalah salah satu yang menenangkan para monster dan roh di sana. Buktinya adalah Burung Api Legendaris yang merupakan penopang hidup hutan tersebut telah mempercayaiku bahkan sampai rela mengikuti dalam diriku," jawab Raisa yang langsung membuat Amon tidak bisa lagi meragukannya.
"Raisa bukan sekadar salah saru yang menenangkan mereka, malah hanya satu-satunya yang berhasil menenangkan mereka karena yang lain hanya menyaksikan saat itu. Raisa juga yang berhasil menaklukkan kemarahan Burung Api Legendaris seorang diri," ungkap Rumi
"Kalau Burung Api Legendaris yang jadi penopang hidup hutan tersebut sekarang berada di dalam tubuh Raisa, apa kemunculan monster kali ini karena dia marah karena penopang hidup hutan tidak ada di sana?" tanya Sanari
"Itu juga sepertinya tidak mungkin. Karena meski pun Burung Api Legendaris meninggalkan hutan itu, dia telah meninggalkan api abadi suci miliknya di sana untuk menopang kehidupan hutan suci di sana. Jadi, pasti kehidupan hutan suci di sana tetap aman dan tidak akan ada monster yang akan muncul ke desa lagi," jawab Raisa
"Dugaan sementara adalah ada manusia di sana yang kembali mengganggu dan membuat para monster itu marah seperti dulu atau ini adalah ulah monster baru yang berbeda dari yang dulu," sambung Raisa
"Raisa, ingin mengetahui cara pembelian tiket di sini hanya alasanmu saja. Kali ini kau sengaja ingin kita membeli tiket bersama supaya bisa sama-sama mendengar informasi dari sana, kan?" tanya Rumi
"Ya. Itu memang salah satu alasanku yang lain," jawab Raisa
"Bijak sekali, Raisa ... " puji Sanari
"Ini hanya cara sederhana biasa," kata Raisa
Yang telah ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Kereta keberangkatan menuju ke Desa Bambu pun telah siap berangkat. Mereka berempat pun langsung beranjak naik ke dalam kereta tersebut.
.
__ADS_1
•
Bersambung ...