
"Raisa, aku menyukaimu!" Kata Rumi
"Apa!?" Respon Raisa yang lambat.
..."Aku bukannya tidak dengar. Tapi, lagi-lagi hatiku belum siap untuk mendengarnya..." Batin Raisa...
"Aku menyukaimu, Raisa! Aku tahu aku sudah pernah mengatakannya padamu. Tapi, aku tak tahan lagi dengan semua yang kurasakan ini! Aku suka padamu! Bukan sebagai teman, tapi lebih dari itu! Aku menyukaimu sebagai lawan jenisku, sebagai seorang lelaki kepada perempuan... Jadi, maukah kau menerima perasaanku ini dan menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman denganku?" Luap Rumi mengungkapkan segala perasaannya.
Raisa mengedipkan matanya berulang kali seolah tak percaya! Dan ia kini bingung harus bagaimana!?!
..."Kenapa tiba-tiba sekali?! Selain tidak siap, aku bingung! Bagaimana aku harus meresponnya? Kenapa dia tiba-tiba sekali mengungkapkan semuanya padaku? Pakai mengajakku menjalin hubungan lebih segala! Aku harus apa? Bagaimana ini?!" Batin Raisa kebingungan....
"Kenapa kau tiba-tiba, Rumi? Jadi, ini yang mau kau bicarakan padaku?" Tanya Raisa, gelagapan.
"Ya. Bagaimana dengan tanggapan dan jawabanmu?" Ujar Rumi
"Kau serius ya? Kukira kau sedang bercanda..." Gugup Raisa
"Kau juga pasti tau, aku bukan orang yang suka bercanda." Kata Rumi
..."Itu benar! Aku bodoh sekali! Bagaimana bisa jadi begini? Hari ini aku mendapat dua pernyataan dari lelaki yang berbeda! Ini berbeda dari sebelumnya. Karena yang kali ini aku juga suka padanya, aku jadi bingung harus menjawab apa?! Eh, tunggu dulu!" Batin Raisa...
"Rumi, tadi pagi kau melihatku dan menguping pembicaraanku dengan seorang lelaki ya?" Tanya Raisa menginterogasi karena merasa curiga.
Raisa merasa bingung dengan sikap aneh Rumi hari ini dan tidak ada angin atau hujan secara tiba-tiba dia menyatakan perasaan dengan sungguh-sungguh. Apa alasannya melakukan ini? Apa tebakan Raisa benar bahwa ada rasa yang mendorongnya setelah ia melihat Raisa mendapat pernyataan dari lelaki lain?
"Ya. Aku tidak peduli dia siapa, yang kupedulikan adalah aku takut kau akan bersama lelaki lain. Aku tak mau sampai itu terjadi, jadi aku pikir harus memberanikan diriku untuk mengatakan semuanya padamu. Tapi, tadi kau malah terus asik bermain dengan Mika!" Ungkap Rumi
..."Jadi, saat aku merasakan ada seorang yang memerhatikanku tadi pagi ternyata itu adalah Rumi yang mengupingku sedang bicara dengan Levi? Padahal Rumi tidak tahu siapa lelaki itu, tapi merasa perasaannya terancam. Dia cemburu, bahkan dengan seekor kucing kecil juga! Aku memang juga menyukainya, tapi aku harus menghindarinya! Bagaimana caraku menolaknya?" Batin Raisa...
Raisa merasa harus menolak. Ia pun bersiap dengan apa pun reaksi atau perubahan sikap Rumi setelah menolaknya nanti. Raisa pun menarik dan menghela nafas untuk mempersiapkan diri dan segala sesuatu nantinya...
"Bukan apa, tapi aku merasa tidak pantas!" Ucap Raisa
"Kenapa? Dengan apa kau sampai merasa tidak pantas?" Tanya Rumi yang merasa bingung.
"Aku merasa tidak pantas bagimu dan juga untukmu. Kau orang yang hebat sedangkan aku memiliki banyak kekurangan dan tidak berpendirian kuat. Sampai saat ini, aku masih saja ragu dengan diriku sendiri dan itu tidak sebanding denganmu. Kau juga tau, aku pernah bercerita padamu... Untuk mendapat takdir spesial dari kemampuan yang kupunya ini, sebelum itu terjadi bahkan aku sempat mengalami sakit. Ada yang bermasalah dengan jantungku! Walau itu seperti hanya pemantasan dan pengujian untukku mendapat takdir spesial ini, kurasa tak hanya itu. Kurasa masalah itu benar-benar riwayat penyakitku. Tak hanya itu, saat aku sakit dulu sepertinya yang bermasalah bukan hanya jantungku, tapi paru-paruku juga. Ini berbahaya! Bisa saja aku menularkan penyakit padamu atau aku bisa saja mati lebih cepat! Pokoknya, aku tidak pantas untuk bersamamu!" Jelas Raisa yang hanya beralasan kosong lagi palsu untuk menolak Rumi.
..."Itu semua hanya alasanku untuk menolak. Aku tidak tahu, apa hubungannya semua ini dengan penyakit. Tapi, kuharap dia bisa percaya dan menerima bahwa aku menolaknya bahkan merasa jijik padaku yang mungkin menularkan penyakit atau tak berumur panjang. Masa bodoh! Yang penting Rumi tak lagi memiliki perasaan lebih padaku!" Batin Raisa...
"Aku tidak peduli! Bagiku soal itu tidak masalah... Tapi, bisakah kau jangan berkata akan mati lebih cepat? Aku sungguh tak bisa tanpamu, Raisa." Ujar Rumi
"Bagaimana kau tau akan tak sanggup jika kau belum mengalaminya? Kau pasti baik-baik saja meski tanpa diriku." Kata Raisa
"Kau juga! Bagaimana bisa kau berkata akan mati lebih cepat saat kini kau baik-baik saja? Jadi, kumohon jangan katakan yang seperti itu... Tapi, sepertinya kau tidak ada niat untuk menerimaku dan malah berniat menolakku ya, Raisa?" Ucap Rumi
__ADS_1
..."Tidak, bukan seperti itu! Kita tak bisa bersama karena dunia kita berbeda. Untuk apa bersama jika nantinya malah terluka karena harus berpisah? Lebih baik kita jalani masing-masing saja seperti sebelumnya. Walau sebenarnya pun aku juga menyukaimu, Rumi! Tapi, inilah yang terbaik untuk kita berdua." Batin Raisa...
Walau pun terus merasakan getaran cinta saat bersama Rumi, tapi pendirian Raisa tetap tak tergoyahkan! Ia masih merasa mereka tak seharusnya bersama karena dunia mereka yang berbeda. Lebih baik seperti ini, terluka sekarang dari pada merasa tersakiti nanti. Lebih baik jalani masing-masing dari pada berpisah saat rasanya sangat sulit terpisahkan. Itu akan lebih menyakitkan!
"Kalau memang itu alasanmu menolakku... Sebenarnya, aku lebih tidak pantas lagi buatmu. Kau pasti sudah tahu semua tentangku, kan? Ayahku bukanlah orang baik, dia adalah orang yang sangat jahat! Walau pun itu hanya masa lalu dan dia sudah berubah, tetap saja aku tak pantas untukmu karena itu. Selain itu, aku pun bukan manusia sempurna... Kau juga pasti tahu, kan? Aku hanyalah manusia buatan yang diciptakan oleh Ayahku. Bicara tentang mati lebih cepat, saat menciptakannku Ayahku memprogramku tidak boleh melakukan kesalahan fatal. Ayahku membuat tanda kutukan pada jantungku! Sekali saja aku melakukan kesalahan fatal yang membahayakan orang lain, dengan adanya tanda kutukan itu, jantungku akan langsung meledak dan aku akan mati dalam sekejap mata! Aku yang seperti ini lebih tidak pantas lagi untukmu..." Tutur Rumi mengungkapkan semuanya.
Saat Rumi mengungkapkan semua identitasnya, Raisa tak henti menatapnya. Raisa tak percaya Rumi akan mengatakan semuanya langsung padanya. Pasti sulit rasanya mengungkapkan hal yang telah disimpan dalam-dalam. Tak banyak yang tahu tentang ini, hanya sedikit sekali! Raisa pun merasa dirinya curang dan tidak pantas saat mengetahui tentang semua itu lewat mimpi ajaibnya walau sebenarnya ia tak ingin mengetahuinya, tapi ia merasa sedikit beruntung dapat mengetahuinya lebih dulu dari pada orang lain. Itu sebabnya, Raisa tak menyangka Rumi akan menceritakan semua padanya...
"Benar, aku sudah tahu semua tentang dirimu itu. Aku tidak percaya kau mau mengungkapkan cerita itu padaku. Tapi, Rumi, semua orang bukanlah manusia sempurna, tidak ada manusia yang seperti itu. Manusia adalah wadah dari kesalahan. Kenapa kau bicara begitu? Baik itu Ayahmu yang pernah jadi orang jahat atau kau yang tidak bisa tidak berbuat salah, kalian berdua dan kita semua tetaplah manusia dan semua manusia sama di mata Tuhan. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Dan kau adalah manusia ciptaan Tuhan melalui perantara Ayahmu. Tuhan menciptakan Ayahmu serta kecerdasannya dan karena itulah kau ada, di sini, saat ini, di dunia ini... Soal kematian, aku juga tidak tahu. Kau hanya tinggal berusaha menjadi orang baik, tidak melakukan kesalahan fatal, dan jantungmu takkan meledak, kau pun akan tetap hidup. Jangan bicara seolah kau tidak pantas hidup dan hanya pantas untuk mati. Kau pantas menikmati semua kehidupan ini, jadi jangan bicara seperti itu lagi!" Ucap Raisa
Raisa berniat menolak Rumi. Tapi, tidak tega mendengar Rumi mengatakan semua yang sulit dia ungkapkan. Raisa seperti mendengar cerita sedih...
Dan, itulah kenyataannya! Memang mengejutkan!
Rumi adalah MUTAN! Manusia buatan! Rumi ada karena diciptakan oleh Ayahnya, Tuan Rommy, yang dijuluki Si Jenius Gila, Sang Petapa Sihir Legendaris, yang tetap terlihat muda walau di usia yang tua. Rumi adalah sebuah ciptaan yang sempurna yang tidak boleh melakukan kesalahan fatal! Dan jika itu terjadi ia akan mati karena jantungnya akan meledak saat tanda kutukan mendeteksi kesalahannya~
Tapi, itu semua tidak pantas dikatakan! Karena semua manusia itu sama! Tidak bisa diukur oleh sempurna atau tidak. Manusia tetap bisa melakukan kesalahan, biar kecil maupun besar...!
"Kalau begitu, lalu bagaimana dengan dirimu, Raisa? Bukankah kita berdua sama saja? Kau juga membicarakan tentang ketidak-pantasan seseorang, kau juga membicarakan hal yang sama sekali masih belum terjadi! Jika, aku tidak boleh merasa tidak pantas dengan diriku sendiri, dengan dirimu, atau dengan hidup ini... Kenapa kau merasa tidak pantas untukku? Atau akulah yang seperti ini memang tidak pantas untukmu atau aku tidak pantas dan tidak berhak bahagia? Kebahagiaanku saat ini adalah dirimu, hanya kau yang membuatku merasa bahagia dan hidup seperti layaknya manusia biasa saja. Apa aku tidak pantas untuk itu? Katakan, Raisa... Ayo, jawab aku!" Ujar Rumi
Selama pembicaraan ini berlangsung, Raisa maupun Rumi, mereka berdua masih saling menatap walau mungkin sedikit sulit. Tapi, kini Rumi menundukkan pandangannya. Menghindari pandangan mata Raisa~ Baru kali ini Rumi melakukannya. Itu karena ia merasa takut. Ia takut mendengar penolakan lagi dari Raisa saat dirinya sudah memberanikan diri sebisa mungkin sejauh ini...
"Tidak bisakah kau terima aku saja, Raisa? Sesulit itukah? Setidak-pantas itukah aku? Apa yang harus kulakukan jika kau masih tetap menolakku? Sekarang aku harus bagaimana? Bagaimana cara agar kau mau menerimaku? Kau adalah orang baik! Aku tidak mungkin bisa memaksamu. Maka itu, jangan menolakku. Kumohon..." Batin Rumi
Ia mengulas senyum tipis... Dan pandangan matanya menengadah menatap langit malam penuh bintang~
Saat Raisa hendak bicara, Rumi sudah kembali menatapnya yang memandang ke arah langit. Rumi melihat senyuman Raisa, tapi baru kali ini ia merasa hatinya terasa berat saat melihat senyuman manis itu. Dikarenakan ia takut akan penolakan...
"Ayahmu tidak memiliki istri, tapi bisa punya anak. Aku tahu dan kupikir istri Ayahmu adalah ambisi atau obsesi. Karena ada salah satu antara kedua itu, kau dan kakakmu ada di dunia ini. Aku tidak tahu, di antara dua sifat yang kusebut tadi itu yang mana sifat Ayahmu saat ini, juga tidak tahu niat Ayahmu itu baik atau buruk. Aku tidak peduli, tapi aku merasa bersyukur sekarang karena itu. Karena adanya antara kedua sifat itu, kau ada dan aku bisa bertemu denganmu. Aku juga sangat senang bisa mengenalmu. Menurutku, niat Ayahmu juga baik. Ayahmu menciptakanmu sampai juga membuat tanda kutukan pada jantungmu bertujuan supaya kau bisa membantu banyak orang, alasan diciptakan kutukan itu juga agar kau selalu ingat pada tujuan itu. Ya, walau mungkin cara Ayahmu sedikit salah. Tapi, itulah sifat dari kodrat manusia. Dan yang terpenting aku bisa bersama denganmu saat ini. Aku sangat bahagia! Sejujurnya, aku juga menyukaimu, Rumi! Maaf telah membuatmu merasa bingung." Ungkap Raisa yang jujur pada akhirnya.
"Benarkah?! Aku tidak sedang salah paham atau kau tidak sedang bercanda, kan?" Tanya Rumi dengan mata berbinar penuh harap.
"Ya, benar. Bagaimana mengatakannya, ya? Aku senang bisa bertemu denganmu, aku gugup saat pertama kali bicara denganmu, aku selalu rindu dan memikirkanmu saat tak bersamamu, aku sangat takut saat kau terluka, aku sangat gembira saat melihat senyumanmu yang tipis walau sedikit kaku, dan aku sangat bahagia saat bisa berdua denganmu. Itu karena aku juga menyukaimu, aku suka padamu sebagai gadis pada lelaki pujaan hatinya. Aku sangat menyukaimu entah dari kapan, tapi yang pasti jauh lebih dulu dan lebih besar dari pada rasa sukamu padaku. Apa ini bisa menuntaskan rasa penasaran akan semua pertanyaanmu itu, Rumi? Apa kau sudah puas dengan jawaban dan penjelasanku?" Ujar Raisa
GREP!
HUGS~
Rumi menarik tubuh Raisa ke dalam pelukannya. Ia mendekap gadis itu dengan erat. Keduanya tersenyum bahagia saat itu~
..."Keputusan yang kuambil ini adalah keegoisanku saat aku tahu kita berdua akan terpisahkan karena dunia tempat tinggal kita berbeda. Tidak apa kan kalau aku bersikap egois sedikit saja untuk saat ini? Aku hanya ingin bahagia untuk saat ini tanpa mempedulikan hal yang belum pasti datang dan aku juga tidak tega melihatmu bersedih, Rumi. Maafkan aku atas segala keegoisanku ini..." Batin Raisa...
Akhirnya, Raisa menyerah pada hatinya yang terus berperang dengan perasaannya. Menerima cinta yang ada dari lelaki di pelukannya kini. Dengan alasan untuk bahagia, ia pikir keputusan yang diambilnya hanya sebuah keegoisan. Namun, ia hanya ingin menjalani pilihannya sekarang ini. Walau mungkin nanti akan merasakan siksaan rindu akibat terpisah dunia tempat tinggal...
"Aku senang dan bahagia sekali! Ini tidak sedang bermimpi, kan?" Kata Rumi bergumam.
__ADS_1
Raisa terkekeh kecil. Ternyata pengakuan darinya masih belum dapat dipercaya. Mungkin memang sulit! Bagaimana tidak? Sebelumnya ia menolak dengan alasan yang tak pasti!
Raisa pun melepaskan pelukan lelaki yang telah memberanikan diri itu...
Dan Raisa pun ikut memberanikan dirinya~
CUP!
Satu kecupan Raisa berikan pada pipi Rumi~
"Bagaimana? Terasa tidak? Kau tidak sedang bermimpi. Aku sedang membalas perasaanmu... Aku pernah bilang kan, cium di pipi tanda suka. Aku juga menyukaimu, Rumi!" Ucap Raisa seraya mengulas senyum manisnya.
Rumi menyentuh pipinya sendiri... Ia merasakan sentuhan lembut bibir Raisa pada pipinya. Ini nyata, bukan hanya dalam mimpi!
"Akhirnya, aku dapat ciuman di pipi! Aku juga pernah mencium di pipimu..." Gumam Rumi yang memelan di akhir kalimatnya.
"Kau pernah mencium pipiku? Kapan? Tidak, eh! Tunggu..." Raisa mengakhiri ucapannya saat merasa ada yang ganjal di benaknya.
Raisa pun berpikir sambil menatap Rumi... Lelaki di sampingnya pernah mencium pipinya. Raisa tak pernah ingat hal itu. Tidak pernah! Kecuali, saat...
Raisa pun menatap Rumi seolah bertanya dan meminta penjelasan!~
"Benar, saat itu! Saat sedang berlibur di vila keluargamu dan kau mengira terjadi dalam mimpi karena saat itu kau memang sedang tidur." Jujur Rumi seolah paham dengan tatapan mata Raisa yang menuntut penjelasan.
"APA!? Yang benar saja!! Jadi, perasaan itu bukan dalam mimpi, tapi nyata saat aku tertidur? Bagaimana bisa kau... Ih, kenapa kau tidak pernah bilang!? Kau ini, Rumi!" Kesal Raisa
"Karena kau menganggap itu mimpi indah dan kau memang ingin menganggap seperti itu dan sebatas itu saja. Jadi, aku pikir itu lebih baik dan tidak mengatakan yang sesungguhnya padamu." Jelas Rumi
"Jadi, kau masuk diam-diam ke dalam kamarku? Itu hal yang tidak boleh dilakukan, tahu!" Sebal Raisa
"Tidak boleh? Bahkan setelah itu, aku juga tidur bersamamu di malam hari saat kau tidur lebih dulu dan tidak tahu aku tidur di sampingmu. Saat malam itu, aku juga mencium keningmu." Ungkap Rumi
"APA!?!! Tidur bersama?!! Itu hal yang paling tidak boleh dilakukan! Aduh, Rumi...! Ingat ini, kau tidak boleh melakukan dan mengulang hal seperti itu lagi! Di duniaku itu adalah larangan keras! Kau tidak boleh melakukannya dan aku pun tak mau melakukannya... Mengerti!?" Kritik keras Raisa memperingati Rumi.
"Tidak boleh dilakukan dan mengulanginya lagi, karena dilarang keras. Aku mengerti! Aku berjanji, tidak akan pernah lagi! Kecuali dengan izinmu...!" Ucap Rumi
..."Jadi, hal-hal indah itu bukan mimpi tapi kenyataan?! Tidur bersama...?? Bagaimana bisa sampai terjadi? Untung teman-teman yang lain saat itu tak ada yang tahu, apa lagi orang-orang di duniaku tak ada yang menginap di vila itu juga. Karena kalau sampai ketahuan, bisa gawat! Tahu gitu, aku ga bilang-bilang tentang mimpi indah itu ke teman-teman saat itu! Tapi, kenapa Rumi santai sekali? Apa di dunia sini sama seperti budaya orang Amerika yang bebas? Kalau aku mau pun, aku takkan mengizinkannya, tahu! Itu masalah dan bahaya besar!! Aku harus sering mengingatkan Rumi tentang hal ini!!" Batin Raisa yang seperti kebakaran jenggot!...
Bagaimana tidak? Tidur bersama berdua dengan Rumi? Kacau sudah pikirannya! Bukan hanya dilarang tapi juga tidak pantas! Untung tidak terjadi apa-apa saat itu...
.
•
Bersambung...
__ADS_1