Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
85 - Kembali Dari Misi.


__ADS_3

"Ah, kami ketahuan!" Kata seorang penyusup dengan seringai di wajahnya.


"Siapa yang menyuruh kalian menyusup ke sini? Dan apa tujuan kalian?!" Selidik penjaga Negara Angin


"Yang kami inginkan adalah barang dari Desa Daun yang kalian bawa!"


"Kalian bercanda! Aku sudah kelelahan dengan melawan 8 orang tadi, sekarang masih ada 3 orang lagi?! Memusingkan sekali!" Gumam pelan Raisa


"Kenapa, kau sudah kehabisan tenaga sebelum melawan kami bertiga?"


Ketiga penyusup itu pun langsung bergerak maju menyerang orang yang menghalangi mereka. Wanda, Amy, Sandra, Raisa, dan seorang penjaga Negara Angin pun membalas serangan mereka bertiga.


Raisa tidak sungguhan lelah menghadapi penjahat yang menghalangi perjalanan misi pertamanya kali ini. Ia hanya malas meladeni mereka. Ia tak menyangka bahwa di mana pun berada, ada saja orang yang memiliki niat jahat. Jika, masalah tenaga, jangan sampai meremehkannya! Karena ia adalah salah satu pemilik tenaga sihir terbesar walau masih di usia remaja...


"Apa kalian bekerja sama dengan 8 orang lain yang menghadang kami wilayah masuk Negara Angin tadi?" Tanya Wanda


"Benar! Tapi, tidak disangka mereka bisa dikalahkan dengan empat gadis kecil seperti kalian. Menyusahkan sekali!"


Tanpa tim Desa Daun dan ketiga penyusup ketahui, bala bantuan dari staf pusat Negara Angin datang dengan berjumlah 4 orang. Dari arah belakang ketiga penyusup, 4 orang yang datang itu langsung meringkus mereka tanpa disadari. Ketiga penjahat pun langsung tertangkap dan tak berdaya, rupanya keempat bala bantuan yang datang memakai teknik sihir penyegel hingga bisa langsung menghentikan aksi ketiga penyusup.


"Syukurlah, ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut." Lega Amy


"Ya, kukira prosesnya kali ini pun akan lama." Kata Sandra


"Terima kasih sudah segera datang ke sini." Ucap seorang penjaga. Keempat bala bantuan yang datang pun mengangguk sebagai balasan.


Ternyata saat earphone saling terhubung, seorang penjaga tersebut menyebutkan lokasinya berada dan bertemu tiga orang asing sehingga keempat bala bantuan datang atas perintah ketua mereka untuk menangkap para penyusup.


"Terima kasih sudah menolong kami semua." Ucap Wanda pada keempat bala bantuan yang datang dari pusat Negara Angin dan seorang penjaga di sana.


"Tidak apa, ini sudah jadi tugas kami. Lagi pula, kalianlah yang telah membantu karena sebenarnya orang-orang ini adalah buronan Negara Angin yang telah lama kami cari, terbasuk yang berada di wilayah masuk negara ini yang telah kalian kalahkan. Justru kamilah yang harus berterima kasih pada kalian." Ungkap salah satu bala bantuan Negara Angin yang datang.


"Kalau begitu, senang bisa membantu Negara Angin." Ujar Wanda


"Begini... Dengan kalian yang telah membantu kami menangkap penyusup, bisakah kalian berempat ikut dengan kami untuk memberi laporan pada pemimpin desa kami?"


"Kami berempat menemui Tuan Pemimpin Desa Pasir dari Negara Angin?" Tanya Amy memperjelas pernyataan yang ada.


"Benar. Ikutlah dengan kami!"


"Ini permintaan khusus, tentu kami akan ikut." Patuh Wanda


"Tapi, bagaimana dengan rombongan pengantar barang dari Desa Daun? Mereka masih belum sampai tempat tujuan." Tanya Raisa


"Mereka biar aku yang antarkan sampai lokasi penyerahan barang, kalian ikut saja untuk menghadap pemimpin desa kami." Jawab sang penjaga


"Benar. Yang penting kalian sudah mengantar kami dengan selamat sampai memasuki Desa Pasir. Lagi pula, sampai sini kami sudah punya penjaga desa yang akan ikut mengawal kami juga. Tanpa kalian kami masih bisa melanjutkan perjalanan dengan aman. Kalian juga bisa langsung pulang ke Desa Daun setelah bertemu Tuan Pemimpin Desa Pasir, sedangkan kami masih harus mencari dan membeli barang antik dari negara ini untuk kami bawa kembali ke Desa Daun nanti." Ucap ketua rombongan pengantar barang


"Kalau begitu, kerja sama kita berakhir sampai di sini." Kata Wanda


"Ya, terima kasih atas pengawalan baik dari kalian."


Wanda, Amy, Sandra, dan Raisa pun bersalaman dengan ketua rombongan pengantar barang sebagai tanda berakhirnya kerja sama mereka. Setelah itu mereka berempat ikut dengan 2 orang yang datang sebagai bala bantuan tadi untuk menemui Pemimpin Desa Pasir, sedangkan 2 orang lainnya ikut bersama sang penjaga menjadi pengawal dan penunjuk jalan untuk para rombongan pengantar barang dari Desa Daun sampai ke tempat tujuan mereka.


"Tugas sebagai pengawal memang seperti ini ya? Hanya mengantar ke tempat tujuan tanpa mengawal mereka kembali pulang ke Desa Daun juga? Jika, mereka ingin pulang ke Desa Daun berarti mereka harus minta bekerja sama dengan orang Desa Pasir ini untuk mengawal mereka pulang. Benar, begitu bukan?" Tanya Raisa yang baru pertama kali ikut menjalankan tugas misi. Ini seperti riset pengalaman baginya.


"Benar! Kau pandai memahaminya juga!" Jawab Wanda


"Aku pernah melihatnya, makanya aku tahu. Aku hanya ingin lebih memastikan." Ujar Raisa. Maksudnya yang pernah melihat adalah melihat detailnya dalam mimpi ajaibnya.


"Kita akan segera menemui pemimpin desa di sini. Apa kau juga tahu seperti apa orangnya, Raisa?" Tanya Amy


"Ya, aku tahu. Seorang lelaki dewasa bernama Tuan Jimmy, dia juga adalah Pamannya Devan, adik dari Ibunya Devan kareba Nyonya Tania berasal dari sini, bukankah begitu?" Ujar Raisa. Ia juga mengetahui tentang ini dari mimpi ajaibnya.


"Wah, kau bahkan sampai tau sampai situ. Aku baru pertama kali akan bertemu pemimpin desa lain karena baru pertama ini diminta menghadap ke sana." Ucap Sandra


"Kalau untuk bertemu, aku juga baru pertama kali ini kok." Kata Raisa


"Tapi, kau sudah tau seperti apa orangnya!" Tutur Sandra


Setelah menghadap pada Pemimpin Desa Pasir untuk ikut melaporkan kejadian penting di wilayah mereka, Wabda, Amy, Sandra, dan Raisa memutuskan untuk mencari makan di Desa Pasir untuk mengisi perut kosong mereka dan beristirahat sekaligus berwisata kulliner di sana. Setelah perut terisi hingga cukup merasa kenyang, mereka memutuskan untuk kembali pulang ke Desa Daun dengan menaiki kereta bawah tanah.


Dan saat ini mereka berempat sedang berada dalam gerbong kereta yang sama duduk menikmati perjalanan mereka untuk pulang.


"Ahirnya, bisa satai menunggu untuk pulang!" Kata Amy

__ADS_1


"Raisa, aku tak sangka Tuan Pemimpin Desa Pasir bisa langsung menyadari dan mengenalimu yang adalah gadis yang banyak dirumorkan dari Desa Daun." Ucap Wanda


"Bukan hal yang spesial. Tuan Jimmy, Pemimpin Desa Pasir pasti tahu karena sudah diberi kabar oleh Ayahnya Morgan, Tuan Nathan, Pemimpin Desa Daun bahwa aku akan datang saat misi ke negaranya. Mungkin awalnya dia juga penasaran denganku sebelum diberi info tentangku." Jelas Raisa


"Kudengar, Pemimpin Desa Pasir memiliki seorang anak angkat lelaki dan masih melajang, ya?" Tanya Sandra


"Benar! Anaknya bernama Samuel." Ungkap Raisa


"Ya, itu benar sekali!" Kata Amy


"Ternyata ada sesuatu yang kau tau juga tentang Desa Pasir, Sandra." Ujar Wanda


"Hanya tau sedikit itu saja." Kata Sandra


"Oh, ya! Setelah misi selesai, di antara kita harus ada yang menulis laporan selama misi berlangsung, kan? Bolehkah aku ikut saat penulisan laporan untuk melihat? Aku ingin belajar cara membuatnya karena pasti ada langkah tertentunya, aku mungkin juga bisa bantu menuliskannya." Ujar Raisa


"Kau menyadarkan hal menyebalkan setelah misi berakhir, yaitu menulis laporan. Akulah yang berkewajiban menulisnya karena aku ketua timnya. Boleh saja kalau kau ingin melihat cara penulisannya, tapi mungkin besok saja mengerjakannya karena saat ini hari sudah malam. Malam ini kita sama-sama istirahat saja memulihkan diri setelah menjalankan misi." Ucap Wanda


"Baiklah, kalau begitu." Kata Raisa


Saat perjalanan kembali ke Desa Daun dengan kereta bawah tanah memang hari sudah mulai malam, tentunya saat tiba di Desa Daun hari pun semakin malam. Karena itulah mereka berempat harus beristirahat untuk memulai kembali hari esok...


Setelah tiba di Desa Daun, seperti yang telah direncanakan, mereka segera kembali pada rumah masing-masing untuk langsung beristirahat.


•••


Keesokan harinya...


Di pagi hari, Raisa ke luar dari rumahnya langsung menemui timnya yang kemarin menjalankan misi bersama. Ia, Amy, Wanda, dan Sandra berkumpul di suatu tempat bersama. Mereka berkumpul untuk membahas sesuatu dan mendiskusikan hal untuk membuat laporan yang Raisa ingin belajar untuk mengetahui caranya...


Raisa pun duduk bersebelahan dengan Wanda yang menuliskan laporan agar dapat mengetahui cara keseluruhannya.


"Lihatlah, seperti inilah caranya! Pertama, tuliskan nama setiap anggota tim. Lalu, tulis misi apa yang ditugaskan pada tim, tulis lokasi tujuan jika memang sudah ditentukan oleh pemberi misi. Langkah akhir, tinggal tulis penjelasan keseluruhan proses saat menjalani misi tanpa terlewat suatu apa pun, semua harus lengkap!" Jelas Wanda


"Kalau hanya begitu, itu mudah! Aku saja yang menulis laporannya, aku sangat suka menulis!" Ujar Raisa


"Tidak apa, kali ini aku saja yang menulis, kau cukup melihat saja. Penulisan laporan misi memang mudah karena misi yang kita jalankan juga terbilang mudah. Tapi, jika itu misi sulit maka akan malas untuk menulisnya karena laporannya harus sangat terperinci!" Ucap Wanda


"Tapi, kau bersiaplah, Raisa! Karena sepertinya peranmu di sini seperti anggota cadangan. Kau akan ditugaskan di mana pun dan misi apa pun yang kekurangan anggota. Itu artinya kau bisa saja kedapatan misi yang sangat sulit!" Tutur Sandra


"Wah, kau orang yang punya semangat tinggi! Kau pasti semua kesempatan seperti yang kau inginkan." Ujar Amy


"Semoga saja!" Kata Raisa


Saat mereka berkumpul di sana, tiba-tiba teman-teman yang lain datang menghampiri mereka berempat dan ikut berkumpul bersama di sana.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tanya Aqila


"Kami berkumpul di sini untuk menulis laporan." Jawab Wanda


"Pantas saja kami tidak melihat kalian berempat di tempat kumpul biasa, ternyata kalian berkumpul di sini!" Kata Morgan


"Karena kalau kami ikut berkumpul bersama kalian semua, yang ada kalian mengganggu kami menulis laporan!" Ucap Sandra


"Tapi, bukankah yang harus menuliskan laporan hanya seorang saja? Kenapa yang lain juga harus repot? Sepertinya Wanda yang sedang menulisnya ya?" Tanya Ian mendekati posiai Wanda untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.


"Kau, jangan mendekat!" Risih Wanda yang terganggu dengan Ian yang mendekatinya.


"Hei, Ian! Jangan ganggu Wanda, biarkan dia fokus pada tulisannya!" Tegur Raisa dengan wajah menyeramkan khas perempuan yang sedang marah dengan sorot mata yang menakutkan.


"Menyeramkan sekali!" Kata Marcel


"Baik, aku tidak ganggu lagi. Kau tidak perlu menunjukkan wajah yang seperti akan menerkamku dong!" Pasrah Ian yang nyalinya ciut seketka.


"Perempuan yang sedang marah memang sangat menakutkan! Makanya, kau jangan macam-macam pada kami!" Ucap Chilla


"Benar! Sekalinya Raisa sudah emosi, akan sangat menyeramkan! Kemarin aku menyaksikannya sendiri, sangat menakutkan!" Imbuh Amy


"Kami mengerti untuk takkan pernah mengganggu kalian lagi, para perempuan!" Kata Dennis


"Kalian berempat kembali dari misi saat malam hari ya?" Tanya Billy


"Ya, kami kembali cukup malam dan langsung pulang untuk tidur." Jawab Sandra


"Aku melihat saat Raisa berjalan pulang ke rumahnya, itu sudah cukup larut. Aku pikir, aku bisa mengobrol sebentar, tapi Raisa hanya mengucapkan, 'Sampai jumpa besok!'" Ucap Rumi

__ADS_1


"Ah, itu! Aku harus langsung istirahat supaya tidak telat bangun pagi." Kata Raisa


"Sepertinya misi kalian berjalan sangat lancar ya?" Tanya Devan


"Tidak juga. Dan kami sempat bertemu Tuan Pemimpin Desa Pasir kemarin." Jawab Amy


"Eeh, untuk apa?" Tanya Morgan


"Kami sedikit membantu pihak sana saat misi kemarin, jadi kami diminta untuk menghadap." Ungkap Sandra


"Sudah selesai!" Girang Wanda saat selesai menuliskan laporan misi.


"Sudah? Cepat sekali! Padahal aku ingin membantu menuliskannya!" Ujar Raisa


"Aku ahli dalam menulis cepat!" Kata Wanda


"Periksa sekali lagi sebelum menyerahkannya." Pesan Amy


Wanda pun memeriksanya dengan membacanya dengan seksama...


"Kalau sudah, ayo! Kita serahkan laporan itu!" Kata Sandra


Wanda mengangguk saat selesai memeriksa laporan yang ditulisnya sekali lagi. Setelah itu, ia, Amy, Sandra, dan Raisa pun sesegera mungkin untuk menyerahkan laporan misi mereka.


"Kami pergi dulu!" Pamit Raisa


Mereka berempat pun beranjak pergi untuk menyerahkan laporan misi kemarin.


---


"Biasanya yang memberikan misi bukannya panitia misi ya? Kemarin, Tuan Pemimpin Desa lah yang langsung memberikan kami misi, lali kita harus menyerahkan laporannya pada siapa kali ini? Haruskah kita menemui Tuan Pemimpin Desa untuk menyerahkan laporan?" Tanya Raisa


"Sepertinya begitu!" Kata Wanda


Mereka berempat pun langsung menuju kantor pemimpin desa...


---


"Tuan Pemimpin Desa, kami datang untuk menyerahkan laporan misi yang kemarin pada Anda." Ucap Wanda


Wanda pun melangkah maju untuk menaruh gulungan kertas laporan misinya pada meja Pemimpin Desa. Saat ini mereka berempat sedang berada di dalam kantor Pemimpin Desa...


"Baik, kuterima laporan misi kalian." Kata Tuan Nathan yang meraih dan mengambil gulungan kertas laporan misi tersebut dan menaruhnya ke dalam laci meja kerjanya.


"Ini, upah misi kalian kemarin! Di dalamnya masing-masing sudah ada bonus dari Desa Pasir yang memintaku untuk memberikannya pada kalian. Pemimpin Desa Pasir sekali lagi mengucapkan terima kasih pada kalian karena sudah membantu mereka. Kukatakan selamat untuk kalian berempat karena sudah menyelesaikan misi dengan baik!" Ungkap Tuan Nathan seraya memberikan masing-masing satu amplop berisi upah misi pada Wanda, Amy, Sandra, dan Raisa.


"Terima kasih banyak, Tuan!" Serempak keempatnya.


Setelah menyerahkan laporan misi dan menerima upah misi, mereka berempat beranjak pergi meninggalkan kantor pemimpin desa.


Setelah dari kantor pemimpin desa, mereka berempat bertemu dengan Guru Helen dan berpapasan di jalan. Guru Helen adalah guru pembimbing dari tim yang terdiri dari Wanda, Amy, dan Sandra.


"Guru Helen!" Seru mereka bertiga kecuali Raisa.


"Oh, anak-anak! Kita bertemu di sini. Kalian sedang apa?" Ujarnya Guru Helen


"Kami baru saja dari menyerahkan laporan misi yang kemarin kami jalankan, Guru." Ungkap Amy


"Oh, yang kudengan kalian menjalankan musi bersama Raisa ya? Padahal kemarin aku baru saja pulang saat kalian perhi menjalankan misi." Ucap Guru Helen


"Halo, Nona Helen. Kita bertemu lagi! Aku, Raisa. Masih ingatkah Anda?" Ujar Raisa menyapa.


"Aku ingat! Kau, Raisa, yang waktu itu, kan? Bagaimana misi pertamamu bersama anak didik dari timku? Mereka bertiga tidak merepotkanmu, kan?" Ucap Guru Helen


"Guru, kami tidak seperti itu!" Kata Sandra


"Kami saling bekerja sama kok, Nona. Atau harus kupanggil Anda dengan sebutan Guru?" Ujar Raisa


"Terserah kau saja. Kau adalah bagian dari kami sekarang." Kata Guru Helen


Guru Helen pun telah diberitahukan perihal Raisa yang telah menjadi kesatuan dalam Desa Daun, Negara Api tersebut.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2