Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 141 - Sepotong Kecil Cokelat.


__ADS_3

Masih dalam posisi berpelukan sambil berbaring, tiba-tiba saja Rumi terpikirkan sesuatu setelah membahas masalah kewanitaan dengan sang istri.


Rumi pun bergerak melepaskan pelukannya dengan sang istri.


"Kalau begitu, apa kita tidak usah punya anak saja? Supaya kau tidak perlu merasakan sakit yang lain lagi," ujar Rumi


"Perkataan macam apa itu? Anak adalah suatu anugerah dalam kehidupan rumah tangga. Masa kau ingin menolak atau melarang anugerah datang pada kita?" tanya Raisa


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau merasa kesakitan," jawab Rumi


"Rasa sakit itu hal yang sangat lumrah terjadi pada setiap manusia, apa lagi pada seorang wanita yang sedang mengandung atau saat melahirkan. Namun, pada saat punya anak atau masa-masa mengandung itu adalah suatu kebahagiaan untuk seorang wanita. Juga bisa dibilang kami adalah wanita yang sesungguhnya jika sudah pernah merasakan melahirkan secara normal. Rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa bahagia yang dirasakan," jelas Raisa


"Apa lagi kau sendiri yang bilang bahwa aku adalah orang yang hebat dan kuat. Ibuku saja bisa punya aku, kak Raina, dan Raihan. Kakakku juga punya Farah. Aku pasti bisa melewatinya seperti mereka berdua. Jadi, kau jangan bilang tidak usah atau melarang aku untuk punya anak. Hidup kita pasti jadi lebih bahagia setelah punya anak nanti," sambung Raisa


"Kau benar. Aku telah salah karena berpikir berlebihan," kata Rumi


"Teruslah jadi kuat yang terhebat, Sayang, agar kau bisa selalu menemani sisa hidupku. Jangan pernah meninggalkan aku," sambung Rumi


"Tentu saja, Sayang," sahut Raisa


Rumi kembali memeluk Raisa dan kini wajahnya disembunyikan pada leher sang istri dan kepalanya bersamdar pada dada istri cantiknya.


Rumi menghirup aroma tubuh sang istri dari leher mulus itu. Namun, Raisa sepertinya merasa agak risih apa lagi dirinya masih belum mandi pagi ini. Dan sepertinya Rumi tidak peduli atau mempermasalahkan hal itu.


"Sayang, kau sedang apa, sih? Aku belum mandi pagi, lho," ujar Raisa


"Tidak masalah. Aroma pertama wanita itu lah yang seksi. Apa lagi kau juga selalu harum kok. Kau juga tidak terganggu dengan aroma tubuhku, maka aku juga tidak terganggu dengan aroma tubuhmu yang harum ini," kata Rumi


"Kau mengada-ada saja. Lepaskan aku," pinta Raisa


"Sayang, jangan lupa untuk jangan dulu mengonsumsi yang dingin atau pedas. Kan, itu bisa menambah rasa sakit yang kau rasakan saat datang bulan," ujar Rumi mengingatkan sang istri sambil melongkarkan pelukannya.


"Aku yang paling tahu dengan kondisiku, Sayang. Kau juga tahu itu karena aku yang memberi tahukannya padamu. Tenang saja, aku tidak mungkin mau mempersulit diriku sendiri," ucap Raisa


"Lagi pula, kan, kau bisa mengingatkan aku setiap hari jika saja aku jadi teledor atau lupa," sambung Raisa


"Sepertinya tidak bisa," kata Rumi


"Kenapa tidak bisa?" tanya Raisa


"Karena aku sudah akan pergi bekerja," jawab Rumi


"Maksudmu, kau sudah akan pergi ke kampung halamanmu sana untuk bekerja? Kapan kau akan pergi? Apa hari ini juga?" tanya Raisa lagi.


"Ya, mungkin aku akan langsung pergi setelah sarapan nanti," jawab Rumi


"Cepat sekali. Kenapa baru memberi tahu sekarang padaku? Alasanmu pergi bukan karena aku tidak bisa melayanimu saat periode datang bulanku kali ini, kan?" tanya Raisa


"Tidak kok, Sayang. Aku pergi karena merasa sudah lama tidak bekerja," jawab Rumi


"Jangan sedih dong, Sayang. Jangan menangis seperti ini," sambung Rumi sambil menghapus air yang menetes ke luar dari mata sang istri dengan menggunakan ibu jarinya.


"Aku memang merasa agak sedih, tapi sepertinya aku menangis karena memang kondisi suasana hatiku yang mudah berubah saat datang bulan. Perasaanku jadi lebih sensitif. Tapi, aku tidak apa kok. Maaf, harusnya aku tidak seperti ini," ucap Raisa sambil tersenyum.


Rupanya, hari ini Rumi memutuskan akan pergi kembali ke dunianya untuk kembali bekerja menjalankan misi seperti biasa. Pria itu merasa sudah cukup untuk dirinya bercuti.


Akhirnya, Raisa pun bangkit dari posisi tidurnya.


"Kalau begitu, aku harus cepat bangun dan bersiap-siap. Aku akan buatkan sarapan yang enak nanti. Aku mandi duluan, ya, Sayang," ujar Raisa


Rumi hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan sang istri. Sedangkan Raisa langsung beranjak menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut untuk membersihkan diri.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi meninggalkanmu, Sayang. Maaf," gumam Rumi setelah sang istri masuk ke dalam kamar mandi.


Begitu ke luar dari kamar mandi, Raisa langsung mendekat ke arah lemari pakaian dan memilih setelan untuk dipakai karena saat ini wanita itu hanya memakai jubah handuk untuk membungkus tubuh polosnya.


Tak lupa Raisa juga memilihkan pakaian untuk digunakan sang suami setelah mandi nanti.

__ADS_1


"Karena ingin pergi, jangan lupa kau harus kenakan pakaian yang kupilihkan untukmu nanti," ucap Raisa


"Kan, selama ini aku memang selalu menggunakan pakaian yang dipilih olehmu, Sayang," kata Rumi


"Ya, memang benar. Kalau begitu, kau mandi dulu sana. Di dalam kamar mandi sudah kusiapkan air hangat untukmu," ujar Raisa


"Baiklah. Aku mandi dulu," patuh Rumi


"Setelah dari sini, aku akan memasak. Jadi, kalau kau mencariku, aku ada di dapur, ya, Sayang," ucap Raisa


Rumi hanya mengangguk, kemudian terus berjalan masuk menuju ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Sedangkan, Raisa langsung mengenakan setelan pakaian yang telah diambil dari dalam lemari pakaian dan setelah itu beranjak menuju ke dapur untuk memasak dan meninggalkan sang suami yang masih berada di dalam kamar mandi di sana.


Di dapur, usai memasak untuk sarapan, Raisa beralih membuat jus buah sebagai minuman pendamping sarapan bersama sang suami nanti.


Raisa pun memasukkan campuran air, gula, dan potongan buah jambu biji ke dalam blender. Setelah menutup blendernya, Raisa langsung memencet tombol power on dan menunggu hingga buah menjadi menyatu hancur menjadi minuman jus.


Menunggu blenderan menjadi minuman jus buah, tak terasa air mata terjatuh begitu saja pada pipi mulus Raisa.


Raisa menjadi begitu mellow karena akan ditinggal pergi oleh sang suami dan wanita itu juga jadi lebih sensitif karena sedang datang bulan.


Raisa langsung menghapus air matanya yang terus mengalir karena tidak ingin sang suami melihatnya menangis jika saja pria tampan itu menghampirinya ke dapur.


"Aku ini kenapa, deh? Padahal gak lagi potong bawang atau cabai," gumam Raisa yang masih ingin mengelak dari rasa sedih di hatinya.


Benar saja, bersamaan saat Raisa memencet tombol off pada blender, ada sepasang tangan yang melingkar pada pinggangnya dari arah belakang.


"Harum sekali masakannya. Apa yang kau masak kali ini?" tanya sang suami yang baru saja datang ke dapur setelah mentelesaikan mandi di lantai atas.


"Kau sudah selesai mandi, ya. Aku sudah selesai masak dan sekarang aku sedang buat jus buah," ujar Raisa tanpa menjawab pertanyaan dari sang suami.


"Sementara aku menuang jusnya ke dalam gelas, tolong bawakan dulu piring nasi gorengnya ke atas meja makan dong, Sayang," sambung Raisa meminta.


"Baiklah," kata Rumi


Rumi pun melepaskan pelukannya pada pinggang sang istri dan beralih mengambil dua piring nasi goreng untuk diletakkan ke atas meja makan.


Setelah menuangkan jus jambu dari blender ke dua gelas, Raisa langsung berbalik hendak menuju ke meja makan sambil membawa dua gelas jus jambu di masing-masing kedua tangannya. Saat itu juga wanita cantik itu dikejutkan oleh sang suami yang berdiri tak jauh di belakangnya.


"Ya ampun, Sayang ... kau mengejutkan aku saja. Untung saja jusnya tidak tumpah atau gelasnya jatuh," ujar Raisa


"Kau sudah lapar, ya? Tidak sabar ingin makan? Ayo, sarapan bersama," sambung Raisa


Raisa berjalan begitu saja menuju ke meja makan dan Rumi mengikuti istri cantiknya dari belakang. Saat sang istri ingin duduk di kursi meja makan, Rumi menahan tangan istrinya.


"Ayo, duduk. Kenapa masih berdiri saja?" tanya Raisa


"Moning kiss, aku masih belum mendapatkannya," jawab Rumi meminta jatah.


"Itu nanti saja. Sekarang kita makan dulu," kata Raisa


"Alu ingin dapat sekarang," keukeuh Rumi


Raisa tak ada pilihan lain selain memenuhi permintaan sang suami. Wanita cantik itu berdiri di hadapan dang suami dan berjinjit, sedangkan Rumi pun merengkuh pinggang sang istri.


Keduanya pun berciuman untuk menuntaskan jatah di pagi hari itu.


Sepasang suami istri itu selalu saja menunjukkan dan menyalurkan rasa cinta pada satu sama lain pada setiap tindakan, termasuk juga pada ciuman kali ini.


"Sepertinya aku akan sangat merindukanmu saat ada di sana nanti," ujar Rumi setelah ciuman berakhir sambil mengusap bibir sang istri yang basah karena ulahnya dengan menggunakan ibu jarinya.


"Padahal tadinya aku ingin berikan ciuman padamu sekalian sebelum kau pergi nanti," sahut Raisa sambil tersenyum manis.


"Ciuman sebelum pergi itu berbeda lagi nanti dong," kata Rumi


"Dasar ... rupanya, kau ini rakus juga," ujar Raisa meledek sang suami.


"Sudah kubilang, kau adalah cinta dan canduku, Sayang ... " sahut Rumi

__ADS_1


"Sudahlah. Ayo, duduk dan makan," kata Raisa


"Baiklah, Sayangku," patuh Rumi


Raisa dan Rumi pun duduk di kursi yang berhadapan yang dipisahkan oleh meja makan di tengah keduanya.


"Selamat makan!" seru Raisa dan Rumi secara bersamaan, lalu keduanya pun makan sarapan bersama.


"Maaf, ya, supaya lebih cepat aku hanya masak nasi goreng dan buat jus jambu. Padahal niat awalnya aku ingin buat makanan yang enak untukmu," ujar Raisa


"Tidak apa. Semua masakan buatanmu enak kok. Karena semua dibuat dengan penuh cinta. Aku sangat suka," ungkap Rumi yang mampu membuat sang istri tersenyum manis.


Usai makan sarapan bersama, Rumi langsung bersiap untuk pergi dan Raisa yang hendak mengantar kepergian suaminya dengan membuka portal sihir teleportasi menggunakan kemampuan sihir miliknya.


Saat ini sepasang suami istri itu sedang berada di halaman kecil di belakang rumah. Sang suami telah siap untuk pergi dan sang istri siap membuka portal teleportasi dengan menggunakan kemampuan sihir miliknya di sana.


Namun, sepertinya Raisa tidak memberikan kesempatan pada Rumi untuk mengucapkan salam atau kata-kata perpisahan karena wanita cantik itu sudah lebih dulu bicara seolah tanpa henti.


Bahkan Rumi tidak bisa berhenti tersenyum saat mendengar pesan yang disampaikan oleh sang istri tercinta.


"Aku tahu kau pasti bisa menjaga dirimu baik-baik di sana, karena itu kau juga tidak perlu merasa khawatir dengan keadaanku di sini, aku bisa jaga diri dengan baik, jadi kau bisa pergi dengan tenang. Meski sedang jauh dariku, jangan lupa makan dengan baik dan teratur. Selalu berhati-hatilah saat sedang menjalankan misi. Perintah misi dan tim memang penting, tapi keselamatanmu tetap yang utama. Jangan sampai aku mendengar ada kabar bahwa aku telah jadi janda karena kau benar-benar meninggalkanku," pesan Raisa


"Baiklah, aku mengerti dan akan kuingat pesan darimu. Kalau begitu, mana?" tanya Rumi


"Apanya yang mana? Apa ada sesuatu yang tertinggal? Atau, apa pesan yang kukatakan masih kurang? Apa lagi yang harus kukatakan, ya?" tanya balik Raisa


"Bukan. Ciuman sebelum aku pergi, katanya kau ingin berikan itu padaku. Aku mau menagihnya," jawab Rumi


"Kapan aku bilang seperti itu? Yang kubilang adalah aku ingin berikan morning kiss sebelum kau pergi saja, tapi itu sudah kuberikan tadi. Jadi, aku tidak punya hutang untuk ditagih olehmu," ungkap Raisa


"Memang benar. Kalau begitu, akulah yang berkata menginginkan ciuman sebelum aku pergi darimu. Apa istriku bersedia memberikannya untukku?" tanya Rumi


"Pasti akan kuberikan karena kau yang memintanya sendiri," jawab Raisa sambil tersenyum.


Raisa pun berjinjit untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami dan mendaratkan ciuman pada bibir pria tampan itu. Rumi pun menghapus jarak dengan memeluk pinggang ramping sang istri dengan erat.


Ciuman itu menyiratkan rasa rindu meski keduanya baru akan berpisah setelah itu. Saat ciuman berakhir, Raisa tidak melepaskan kedua tangannya dari leher milik sang suami melainkan langsung memeluknya dengan erat.


"Aku akan menyusulmu ke sana setelag menyelesaikan urusanku di sini," ucap Raisa tepat di samping telinga sang suami yang lalu melepaskan pelukannya secara perlahan.


"Aku menantikan kedatanganmu di sana nanti. Lalu, ini untukmu," kata Rumi sambil memberikan sebatang coklat pada sang istri.


"Ini coklat yang kuinginkan. Kapan kau membelinya?" tanya Raisa saat menerima sebatang coklat pemberian dari sang suami.


"Semalam saat kau tidur. Aku membuat kloning diriku sendiri dari ular sihir dan mengirimnya pergi untuk membeli coklat itu ke minimarket," jelas Rumi


"Bagiku selama cintaku masih terus hidup, maka setiap hari adalah hari penuh kasih sayang. Namun, maaf karena baru memberikan coklat itu hari ini bukan pada hari Valentine kemarin saat kau menginginkannya," sambung Rumi


"Yang penting kau mengingatnya. Terima kasih," ucap Raisa


"Maaf, harusnya aku tidak seperti ini. Namun, tidak bisa kutahan," sambung Raisa saat kedua matanya mengeluarkan air tangisan.


Rumi pun menghapus air mata yang menetes pada pipi sang istri dengan menggunakan kedua ibu jarinya sambil tersenyum tipis. Raisa langsung membuka pembungkus coklat batangan pemberian sang suami dan memasukkan sepotong kecil coklat tersebut ke dalam mulutnya sendiri.


"Rasanya manis dan aku suka," ungkap Raisa


Lalu, Raisa kembali memotong kecil coklat tersebut. Namun, wanita itu tidak langsung melahapnya, melainkan menahan coklat tersebut pada gigitan di muka mulutnya. Raisa langsung berjinjit untuk memasukkan sepotong coklat kecil yang berada di permukaan mulutnya ke dalam mulut sang suami. Wanita cantik itu membiarkan Rumi menyicipi rasa manis dari coklat tersebut dengan cara menyuapi dengan mulut.


"Kau juga harus merasakannya," kata Raisa usai menyuapi sepotong kecil coklat ke dalam mulut sang suami dengan menggunakan mulutnya sendiri.


"Rasa coklat ini tidak semanis dirimu, Sayang. Aku lebih dan memang hanya menyukaimu," ungkap Rumi sambil menjilati bibirnya sendiri bermaksud menggoda sang istri.


Raisa terkekeh pelan saat mendengar ungkapan dan melihat tingkah menggoda sang suami.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2