Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
21 - Kata-kata Perpisahan.


__ADS_3

Beberapa teman telah berkumpul demi perpisahan dengan Raisa.


Sanari, Amy, Wanda. Devan, Ian, Chilla. Billy, Marcel, Dennis. Mereka sudah datang kecuali Morgan, Aqila, dan Rumi yang entah tak bisa dihubungi sementara ini karena kemungkinan sedang menerima tugas baru...


"Bisa-bisanya kau akan pergi tapi baru memberitau kami sesaat sebelum kau pergi..." Sindir Billy


"Maaf ya. Sebebarnya aku memang sudah memustuskannya, tapi aku baru memberitau kalian supaya tidak lebih membebani kalian lagi." Ungkap Raisa


"Kami justru akan kepikiran jika seperti ini..." Ujar Marcel


"Aku sungguh minta maaf ya..." Kata Raisa


"Kalau begitu, berjanjilah kau akan kembali ke sini lagi menemui kami." Pinta Dennis


•••


"Kalau begitu, berangkatlah besok. Persiapkanlah diri kalian atau apapun itu yang diperlukan." Ucapnya, Paman Nathan.


"Untuk apa menunggu dan menunda sampai besok. Hari ini saja langsung berangkat, sekarang juga kami akan bersiap-siap." Elak Morgan


Saat ini Morgan, Aqila, Rumi, dan juga Guru Kevin sedang mendiskusikan tugas baru yang akan mereka laksanakan dengan Pemimpin Desa bersama Paman Rafka, Sang Penasehat di kantor kepemimpinan desa.


"Tidak bisa seperti itu, Morgan... Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang, juga strategi yang akan kita jalankan. Tidak bisa seenaknya." Ucap Guru Kevin, Guru ketua tim.


"Morgan, sepertinya kita harus menunggu besok untuk tugas kali ini. Kita harus menemui yang lainnya... Itu kalau kau tidak ingin ketinggalan perginya Raisa. Katanya, Raisa akan kembali ke dunia dimensinya hari ini. Pasti yang lainnya sedang berkumpul untuk berpisah dengannya." Bisik Aqila memberitau Morgan.


"APA!? Yang benar saja... Kenapa sebelumnya Raisa tidak bilang? Dari mana kau tau ini?" Bisik Morgan


"Mama-ku yang memberitau semalam. Raisa akan pulang ke dunianya dan sepertinya waktunya itu hari ini." Bisik Aqila


"Dasar... Kenapa kau tidak beritau sejak saat bertemu tadi?!" Sewot Morgan


"Kenapa kau menyalahkanku?! Kau sendiri yang sangat semangat dengan tugas baru!" Kesal Aqila


"Ada apa, Morgan, Aqila?" Tanya Rumi


"Baiklah... Maaf! Kami akan mengambil tugas ini dan berangkat besok." Ucap Morgan memustuskan.


"Eh, kau berubah pikiran?" Heran Rumi


"Kami harus pergi sekarang... Rumi, kau juga ikut!" Ujar Morgan


"Ya, baiklah... Kalian boleh pergi. Selesaikan dulu urusan kalian." Ucap Paman Nathan yang sepertinya mengetahui permasalahan mereka.


"Hei, kalian akan kemana? Kenapa tiba-tiba mendadak ingin pergi? Bukankah tadi semangat sekali ingin pergi berangkat tugas hari ini juga?" Tanya Guru Kevin


Morgan, Rumi, dan Aqila pun langsung pergi begitu saja...


"Tunggu aku, Morgan!!" Seru Aqila yang sedikit tertinggal


"Maaf, Kak Kevin... Kami buru-buru. Akan kujelaskan nanti!" Teriak Morgan dari jauh...


"Kenapa tidak menjelaskan apapun padaku?! HEI!!" Geram Guru Kevin


"Dasar, Anak itu...!" Keluh Paman Rafka, Sang Penasehat.


Morgan, Aqila, dan Rumi pun pergi dengan tergesa-gesa dengan berlarian.


"Bagaimana Bibi Sierra bisa tau tentang ini, Aqila?" Tanya Morgan


"Mama-ku bilang, Raisa sudah nemutuskan sejak dia di kantor pemimpin desa hari itu. Mama-ku juga berpikir kita semua sudah tau, tapi Raisa tak pernah bilang apapun." Jawab Aqila

__ADS_1


"Dasar, Raisa! Bagaimana bisa dia pergi tanpa kita tau... Jangan sampai dia pergi sebelum kita datang!" Kesal Morgan


"Kita mau pergi kemana? Dan, ada apa dengan Raisa?" Tanya Rumi yang belum mengerti sepenuhnya.


"Raisa ingin pergi, pulang ke dunianya di dimensi asing itu. Tapi, dia tidak memberitau kita lebih dulu." Jelas Morgan


Mendengar itu, Rumi menambah kecepatan berlarinya. Mendahului Morgan dan Aqila.


"Raisa..." Gumam Rumi


"Rumi!~ Kita perlu cari tau dulu di mana Raisa akan membuka portalnya untuk pergi...!" Teriak Aqila


"Kalau begitu, ayo! Cepat cari tau..." Kata Rumi


"Heh~ Sepertinya Rumi lebih semangat ingin bertemu dengan Raisa sebelum dia pergi..." Ujar Morgan


•••


"Ya, berjanjilah kau akan kembali dan tidak akan melupakan kami semua di sini. Terutama aku!" Ucap Chilla


"Aku tidak akan melupakan kalian semua. Tapi, aku tidak bisa berjanji itu. Takut tidak bisa menepatinya. Aku tidak mau dibilang pembohong oleh kalian nantinya jika benar-benar ingkar. Karena janji bukan sekedar omong kosong belaka." Sangkal Raisa


"Apa susahnya untuk kau menepatinya? Apa kau memang benar-benar menghilang begitu saja dan melupakan kami? Berjanjilah saja!" Ujar Ian


"Baiklah, aku berjanji! Tapi, aku tidak janji tepatnya kapan akan kembali ke sini." Ucap Raisa


"Maka kau harus menepatinya!!" Teriaknya. Itu adalah Aqila!


"Raisa!!~" Seru Morgan dengan kencang.


Morgan, Aqila, dan Rumi akhirnya tiba. Menemukan lokasi di mana Raisa akan pergi. Di sana telah lengkap kecuali mereka bertiga saja...


Mereka bertiga pun berhenti dengan terengah-engah. Lalu mereka sibuk mengatur nafas agar dapat lancar berbicara.


"Raisa, bisa-bisanya kau ingin pergi tanpa memberitau kami?!" Tanya Morgan


"Maaf... Aku sudah mengungkapkan niatku ini saat di kantor pemimpin desa hari itu. Aku pikir kalian sudah tau dari orangtua kalian. Jadi, aku baru memberitau lagi saat aku benar-benar akan pergi saja." Jelas Raisa


"Dasar, Ayah kolot... Aku akan mempertanyakan ini padanya nanti!" Gumam Morgan


"Aku juga baru tau ini dari Ayah setelah tau kebenarannya dari Sanari yang menelpon tadi." Ucap Devan


"Aku juga baru tau hari ini dari Mama." Kata Aqila


"Aku bahkan tidak tau apa-apa dari Ayah." Ujar Ian


Karena baik itu Morgan, Aqila, Devan, maupun Ian, orangtua mereka ada di tempat saat Raisa mengungkapkan niatnya untuk kembali pulang ke dunianya di dimensi yang berbeda. Yaitu, saat di ruang kantor pemimpin desa...


"Berjanjilah kau akan kembali!" Keukeuh Morgan meminta Raisa berjanji.


"Hmm... Tapi, aku tidak bisa janji dan tak tau kapan pastinya aku akan kembali." Ungkap Raisa


"Kapan pun itu, kami takkan melupakanmu." Kata Morgan


"Hehe... Aku juga takkan pernah melupakan kalian. Jangan cuma aku yang berjanji. Aku kan sudah pernah bertemu kalian dan nengunjungi dunia kalian yang berbeda dimensi dengan duniaku, kalian juga... Jika ada kesempatan, kapan-kapan kunjungilah duniaku." Ucap Raisa


"Kami tidak sehebat kau yang bisa membuka portal berbeda dimensi dengan sesuka hati." Elak Morgan


"Hehe, akhirnya kau mengakui ada orang lain yang hebat selain dirimu. Tapi, kalian semua hebat kok. Yang terpenting adalah tekad yang kuat. Dengan kalian yang mempunyai tekad untuk melindungi orang-orang yang kalian sayangi saja kalian sudah sangat hebat. Lagi pula, kan ada Aqila. Aqila mempunyai darah kehebatan Paman Elvano. Aku yakin dengan bantuannya, kalian akan bisa bepergian ke dimensi lain seperti Papa-nya. Sampai waktu itu, kalian sering-seringlah berkunjung ke duniaku." Tutur Raisa


"Eh, aku!? Apa aku bisa...?" Ujar Aqila

__ADS_1


"Pasti bisa! Kau kan bercita-cita ingin menjadi pemimpin desa yang mampu melindungi semua orang. Kau pasti akan menjadi sangat hebat nantinya. Bersama teman-teman hebatmu yang lainnya yang akan terus mendukungmu." Ucap Raisa


"Ya! Aku akan terus berjuang untuk meraih semua itu...!" Kata Aqila dengan semangatnya.


Raisa tersenyum...


Lalu, ia teringat akan sesuatu!


"Ah, karena kita semua lengkap di sini... Bagaimana kalau kita berfoto sebentar, untuk kenang-kenangan." Ujar Raisa


"Berfoto lagi?"


"Ayo!~"


Raisa pun kembali meminta bantuan Rumi untuk memengang ponselnya untuk memotret...


Cekrikk cekrik!


Cekriik...


Cekrik~


"Hasilnya bagus. Terima kasih sekali lagi ya, Rumi..." Kata Raisa


"Sayang sekali tidak bisa mencetaknya langsung, padahal sudah bayak foto yang diambil yang ada di ponselmu itu kan, Raisa?" Ujar Dennis


"Iya... Tapi, lain kali aku ke sini lagi akan kubawakan foto yang sudah tercetaknya untuk kalian." Ucap Raisa


"Ini tidak adil! Hanya kau yang mempunyai fotonya untuk kenang-kenangan, sedangkan kami tidak..." Kata Marcel


"Oh~ Jadi itu sebabnya, kau terus merengek meminta foto bersama seperti anak kecil! Kau ingin menyimpannya untukmu sebagai kenang-kenangan karena kau akan segera kembali pulang ke duniamu. Kau curang, Raisa!" Ucap Morgan yang baru menyadarinya.


"Maaf deh, aku tidak mengungkapkan niatku saat itu. Jangan marah, ya." Kata Raisa


Mendengar dan melihat ekspresi Raisa saat berbicara, Rumi menyadari sesuatu...!


...'Ekspresi itu...!?!' Batin Rumi...


Rumi melangkahkan kakinya mendekati Raisa.


"Jadi, itu sebabnya kau menunjukkan ekspresi yang berbeda saat melihat-lihat hasil foto kemarin. Kau menyimpan perasaan itu sendiri karena sebenarnya kau ingin segera pulang." Ucap Rumi sambil menatap lekat wajah Raisa.


...'Dia menyadarinya! Dan apa maksud tatapannya itu?' Batin Raisa...


"Kau hebat sekali, Rumi! Kau sudah mengerti sekarang dan bahkan ternyata kau menyadarinya." Ujar Raisa


"Aku akan selalu mengingat pesanmu. Kau bisa tenang dan kembalilah lagi ke sini jika kau ada kesempatan." Kata Rumi


"Iya, pasti! Kau jagalah dirimu baik-baik, jangan pernah memaksakan dirimu lagi. Kalian semua juga sama... Harus baik-baik di sini. Terima kasih atas kebaikan hati kalian semua karena sudah menerimaku di sini. Aku juga sangat berterima kasih pada Sanari sudah mengizinkanku menumpang menginap di rumahmu. Pokoknya, terima kasih sekali kalian sudah sangat baik padaku selama aku di sini. Terima kasih banyak!" Ucap Raisa


"Kau terlalu sungkan, Raisa. Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Sudah pasti kami menerimamu sebagai tamu yang berjasa. Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Ujar Sanari


"Iya..."


"Benar!"


.


.


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2