
"Aku akan melihat-lihat lantai atas," ucap Raisa
"Aku ikut denganmu, Raisa," kata Rumi
"Baiklah. Paman Elvano, kau bisa istirahat dulu. Di lantai bawah ini ada satu kamar yang sudah ada ranjangnya. Kalau kau lelah kau bisa istirahat di sana," ujar Raisa
Paman Elvano hanya mengangguk kecil.
Raisa pun beranjak melangkah menaiki tangga bersama Rumi untuk menuju lantai dua rumah tersebut.
Saat berada di lantai atas, Raisa langsung bergerak menuju ke rooftop rumah gaya minimalis tersebut. Rumi pun terus mengikutinya.
Di sana, Raisa menumpu kedua tangannya pada pagar pembatas. Sedangkan Rumi, tangannya menggenggam pagar pembatas tersebut.
Keduanya menikmati semilir udara yang menerpa kulit tubuh dengan lembut. Rambut Raisa jadi berterbangan karena udara yang terus menyapanya dengan nakal.
Raisa menghirup udara cukup dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Udara kompleks perumahan baru yang belum banyak menempati rumah di sana, cukup segar untuk dinikmati.
Keduanya menatap ke depan sejauh mata memandang. Sesekali mereka berdua mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Saat ini baru berselang 2 bulan setelah pernikahan Aqila dan Morgan, kan? Aku tidak menyangka akan mendapat lamaran darimu secepat ini," ujar Raisa
"Itu karena aku ingin ketidak-jelasan atau dalam hubungan kita segera menghilang. Kita juga bisa selalu bersama kapan pun kita mau. Selamanya," ungkap Rumi
"Aku tidak menyangka kau bisa memikirkan hal seindah itu. Aku tidak bermaksud untuk meragukan kesungguhanmu dan aku sungguh sangat senang saat ini. Tapi, kau tidak mungkin terus tinggal di sini, kan? Karena bagaimana pun juga pekerjaanmu ada di sana," ucap Raisa
"Namun, aku tidak akan memintamu untuk selalu tinggal dan menemaniku di sini. Karena bagaimana pun juga kehidupan aslimu ada di sana. Aku juga memiliki sebagaian kehidupanku di sana. Saat kau memang harus bekerja, kau bisa pergi ke duniamu. Saat aku sempat, aku juga akan menyusulmu ke sana. Saat kau punya waktu libur, kau bisa kembali ke sini untuk menemaniku," sambung Raisa
Rumi menoleh untuk menatap gadis cantik yang dicintainya. Raisa pun membalas tatapannya sambil tersenyum lembut.
"Maksudmu, kau memperbolehkan aku untuk pergi ke dunia sana untuk bekerja ... menjalani misi di sana setelah menikah nanti?" tanya Rumi
"Tentu saja. Mana mungkin aku melarangmu untuk pergi, itu hakmu. Apa lagi kau pergi ubtuk bekerja dan bukan untuk main-main. Bagaimana pun juga di sana adalah kampung halamanmu," jawab Raisa
"Setelah menikah nanti, duniaku akan menjadi duniamu. Begitu pun juga sebaliknya. Meski pun kedua dunia tidaklah sama, tapi setelah menikah, kedua dunia akan menjadi dunia kita bersama," sambung Raisa sambil tersenyum manis.
"Terima kasih, Raisa. Aku senang mendengarnya," ucap Rumi yang ikut tersenyum.
"Kata-kata Raisa barusan sama seperti yang pernah Aqila dan Morgan padaku. Aku tidak salah memilih jalan seperti ini," batin Rumi
"Memangnya kau pikir aku akan melarangmu, begitu?" tanya Raisa
"Tidak, bukan seperti itu. Aku tahu kau itu orang yang pengertian dan baik hati, tapi kukira ... aku yang akan meminta izinmu setelah menikah nanti. Aku tidak menyangka akan mendengarnya secara langsung dari mulutmu secepat ini. Bahkan kita masih belum menikah," jawab Rumi
Raisa tersenyum senang. Ia pun kembali menatap ke arah depan. Sedangkan Rumi, masih saja terus menatap ke arah gadis cantik pujaan hati yang berada tepat di sampingnya.
"Rumi, bagaimana menurutmu tentang rumah baru ini?" tanya Raisa
"Awalnya aku ingin membelikan orangtuaku rumah baru untuk menghadiahkan dan menyenangkan hati mereka berdua. Tapi, mereka malah menolak dan berkata, dari pada membelikan rumah baru untuk mereka yang sudah punya rumah sendiri, lebih baik membeli rumah untukku sendiri. Aku tidak menyangka, aku akan memakai rumah ini bersamamu nanti," sambung Raisa
Rumi tidak menjawab pertanyaan Raisa. Lelaki itu hanya diam karena terlalu fokus memandangi wajah gadis cantik yang tepat berada di sampingnya.
"Aku hanya mampu membeli rumah tipe minimalis ini dibandingkan rumah mewah dengan uang upah berkerjaku yang selama ini kutabung. Bahkan aku juga masih belum melunasinya." Raisa yang masih belum mendengar pendapat Rumi tentang rumah baru tersebut pun kembali mengajukan pertanyaan.
"Rumahnya jelek, ya?"
Rumi pun langsung tersadar dari kesibukannya memandangi wajah gadis cantik yang dicintainya itu.
"Tentu, tidak. Rumahnya bagus kok," jawab Rumi
"Kau memilih membeli rumah ini pasti karena kau menyukainya. Aku pun suka dengan rumah barumu. Sangat khas dan menggambarkan dirimu," sambung Rumi
__ADS_1
"Menggambarkan diriku ... memangnya tubuhku kecil sampai kau samakan dengan rumah minimalis ini?" tanya Raisa
"Kau tidak menyadarinya, rupanya. Kau itu bertubuh tinggi semampai, tapi tubuhmu juga kecil dan pinggangmu pun ramping. Hingga terkadang aku tidak tega memelukmu dengan erat hingga kupikir kau akan hancur karena aku berpikir bahwa kau sangat rapuh, tapi kalau aku tidak memelukmu, aku berpikir aku bisa kehilanganmu kapan saja," jelas Rumi
"Seperti saat ini. Meski pun kau sudah menerima lamaranku, aku masih saja takut akan kehilanganmu. Karena kau sangat cantik mempesona, pasti banyak lelaki yang menyukaimu. Memikirkannya saja sudah membuatku merasa cemburu. Namun, aku tidak bermaksud untuk meragukan perasaanmu," sambung Rumi
Rumi pun bergerak menarik Raisa ke dalam pelukannya. Lelaki tampan itu memeluk gadis cantik pujaan hatinya dengan cukup erat.
"Tapi, aku salah jika berpikir kau adalah gadis yang rapuh dan mudah hancur. Karena yang kutahu dan lihat selama ini, kau adalah sosok gadis yang kuat dan tegar," ucap Rumi
Rumi sedikit merenggangkan pelukannya pada Raisa dan berniat untuk mencium bibir manis gadis cantik itu.
Rumi mendekatkan wajahnya ke arah wajah Raisa dengan sedikit memiringkan kepalanya.
Saat sudah sangat dekat dan bibirnya hampir menyentuh bibir milik Raisa, gadis cantik itu pun menghalangi bibir Rumi dengan telapak tangannya. Raisa juga sedikit mendorong tangannya untuk menjauhkan wajah Rumi dari wajahnya.
Gagal untuk bisa melancarkan aksinya, Rumi menghela nafas dengan keadaan tangan Raisa masih menutupi bibirnya. Mungkin karena kesal.
Raisa yang merasakan helaan nafas Rumi pada tangannya pun merasa darahnya mendesir hebat dan jantungnya berdebar tak karuan. Namun, ia berusaha untuk tetap mengendalikan dirinya agar tidak terbuai dengan godaan lelaki tampan yang masih memeluk tubuhnya itu. Raisa pun tersenyum lembut.
"Sebagai seorang perempuan, aku memang lebih rapuh dari pada kau yang seorang lelaki. Jadi, ucapanmu tadi tidak salah," kata Raisa
Setelah Raisa selesai berkata-kata, Rumi pun menarik tangan gasis cantik itu dengan lembut, tapi juga dengan tenaga. Lelaki tampan itu mencoba mengulang melancarkan aksinya dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang pujaan hati. Namun, kali ini Raisa langsung bergerak mendorong tubuh Rumi untuk menjauhkan dirinya dari lelaki tampan yang tidak sepenuhnya berbahaya itu.
"Ayo, kita kembali ke bawah. Paman Elvano mungkin sedang menunggu kita. Atau entah dia sedang beristirahat di kamar tidur yang ada di bawah," ujar Raisa yang berusaha mengalihkan dirinya.
Raisa pun langsung membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Rumi dengan berjalan lebih dulu.
Rumi pun buru-buru menyusul langkah kaki Raisa dengan cepat. Ia menyempatkan untuk menghentikan langkah kaki Raisa dengan menahan tangannya. Lalu, lelaki tampan itu pun mengecup kilas pipi kanan Raisa yang putih mulus itu.
CUP!
"Ini baru adil. Setidaknya aku bisa mengecup pipimu walau tidak bisa kudapatkan bibir manismu itu," kata Rumi
"Dasar, tidak mau kalah." Raisa berkata sambil terkekeh pelan.
Rumi langsung menggenggam tangan Raisa. Keduanya pun beranjak menuruni anak tangga bersama dan kembali menuju lantai bawah rumah tersebut.
Saat sampai di bawah, ternyata Paman Elvano masih berada di ruang tamu dan duduk di sofa. Terlihat jelas dirinya yang sedang menonton televisi di sana.
"Paman Elvano, kau masih di sini? Kupikir kau sudah istirahat di kamar tidur," ujar Raisa
"Dari pada tidak melakukan apa pun, aku memilih untuk menyalakan televisi dan menonton. Tak kusangka hampir semua siaran menampilkan dirimu, Raisa," ungkap Paman Elvano
Memang, kini Paman Elvano sedang menonton siaran ftv tang dibintangi oleh Raisa sebagai tokoh utamanya.
Rumi dan Raisa pun ikut duduk di sofa. Keduanya duduk di sofa panjang. Sedangkan Paman Elvano duduk di sofa yang dikhususkan untuk seorang diri.
"Benarkah Raisa ada di semua tayangan televisi?" tanya Rumi yang rasa penasarannya langsung bangkit begitu saja.
"Tidak hanya aku yang memikirkanmu di mana pun aku berada, ternyata kau juga ada di mana-mana bahkan dalam siaran televisi. Itu menandakan bahwa semua orang juga memikirkanmu," sambung Rumi
"Lihat saja sendiri," kata Paman Elvano
Paman Elvano pun menggunakan remot ubtuk menukar chanel televisi. Dan memang benar, selain siaran iklan atau berita, semuanya adalah tayangan yang menampilkan sosok Raisa. Bahkan ada juga iklan yang menggunakan Raisa sebagai bintang iklannya.
"Paman, tolong berhenti dulu di sini. Aku ingin menontonnya," pinta Rumi saat Paman Elvano sampai pada siaran acara gosip.
Paman Elvano pun berhenti menukar chanel televisi sesuai permintaan Rumi.
"Kau yakin ingin menonton acara ini, Rumi? Hanya acara gosip ... kau menyukai acara seperti ini?" tanya Paman Elvano
__ADS_1
"Apa salahnya? Dalam acara ini juga menampilkan Raisa. Mungkin juga menginformasikan tentang keseharian Raisa, makanya aku ingin menyaksikannya," ujar Rumi
"Acara gosip seperti ini tidak selalu menayangkan kabar yang sesungguhnya, kan? Bagaimana kalau dalam acara ini diketahui bahwa Raisa sedang dekat dengan lelaki lain?" tanya Paman Elvano
"Seperti kata Paman tadi, ini hanya acara gosip yang tidak sepenuhnya benar. Aku sangat percaya pada Raisa dan juga tentang hubungan kami atau soal perasaannya untukku. Aku hanya ingin melihat seperti apa keseharian Raisa atau pendapat publik tentang dirinya," jawab Rumi
"Baiklah. Kalau begitu, saksikan saja," kata Paman Elvano
Raisa tak menyangka jika Paman Elvano akan melontarkan pertanyaan seperti itu pada Rumi. Namun, ia mengerti bahwa tujuan Paman Elvano hanya ingin mengetes rasa kepercayaan yang dimiliki oleh Rumi untuknya. Ia senang saat mendengar Rumi yang berkata percaya padanya.
Namun, perkataan Paman Elvano seperti sebuah ramalan. Ternyata, kabar dalam gosip tersebut mengatakan bahwa Raisa sedang dekat dengan teman sesama artisnya dan keduanya seolah menjalin hubungan cinta lokasi syuting secara diam-diam.
Raisa pun menjadi gelisah. Gadis cantik itu sedang menunggu dan ingin mengetahui reaksi Rumi setelah menyaksikan gosip miring tentangnya. Sedangkan Rumi terlihat fokus menyaksikan acara gosip tersebut.
"Telah menjadi isu dan perbincangan hangat akhir-akhir ini. Artis yang awalnya seorang model dan kini juga sering menunjukkan bakat aktingnya dalam sejumlah serial film atau sinetron, yang namanya kian meroket ... Raisa Putri! Dikabarkan sedang dekat dengan lawan mainnya dalam sinetron xxx yang bernama V***. Namun, sebenarnya selalu baik pada siapa pun. Entah itu lelaki atau pun perempuan."
"Apakah sifat baiknya ini adalah bentuk dari memberikan harapan palsu dan suka mempermainkan hati lelaki? Lalu, bagaimana dengan nasib asmaranya dengan lelaki yang diketahui berasal dari negara Sakura, Jepang, yang bernama Rumi Ryan? Apakah Raisa tidak serius menjalin hubungan dengan Rumi seperti status hubungan mereka yang hanya sekadar 'HTS-an' alias hubungan tanpa status? Apakah benar yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa Raisa adalah seorang PlayGirl?"
"Mari kita simak kisah selengkapnya ... berikut ini!"
Acara gosip tersebut pun menayangkan jejak kedekatan antara Raisa dengan teman sesama artis yang berinisial V. Salah satu contohnya adalah ketika keduanya sedang melakukan proses reading bersama alias melatih dialog demi mendalami peran serta penghayatan emosi.
"Lalu, seperti apakah tanggapan para teman artis tentang Raisa? Mari kita lihat sejumlah hasil wawancara berikut ini!"
"Raisa itu orang yang baik. Dia cantik dan ceria juga mudah diajak bicara. Omongan kami selalu nyambung, orangnya gak neko-neko. Selama syuting dan jadi lawan mainnya, saya merasa nyaman dan kami hanya teman. Untuk seterusnya saya gak tahu bakal jadi seperti apa, tapi saya berharap kami tetap bisa berhubungan dengan baik," ungkap V***
"Saat V*** bicara tentang Raisa, ia selalu tersenyum. Matanya tak selalu tersorot ke arah kamera seolah merasa gugup, namun dirinya seperti penuh harap pada sosok Raisa yang sedang dibicarakan. Apakah ini adalah salah satu bukti bahwa Raisa adalah seorang pemberi harapan palsu? Dan benarkah artis cantik satu ini seorang PlayGirl?"
"Mari kita saksikan bersama hasil wawancara lainnya, berikut ini!"
"Ya, saya kenal dengan kak Raisa. Kami adalah alumni dari sekolah yang sama saat SMA, tapi dari tahun kelulusan yang berbeda. Dia memang selalu baik sama semua orang, juga sama saya, juniornya. Tapi, kabar tentang dia yang tukang PHP, suka mainin perasaan orang, itu gak benar. Terlepas dari apa status hubungan dia dengan Rumi, saya peracya keduanya punya perasaan yang sama. Kedekatannya dengan V*** cuma gosip aja. Saya pernah bermain dalam drama yang sama sama kak Raisa. Dia orangnya baik, ramah, ceria, suka menolong. Sayang banget, saya belum dapat kesempatan main dalam drama atau sinetron lain lagi dengannya." Itu adalah keterangan dari artis baru bernama Luna.
"Saya tidak pernah punya niat untuk mempermainkan perasaan siapa pun. Saya dan V*** hanya teman dan lawan main akting. Dan saya masih terus berhubungan dan berkomunikasi dengan Rumi dengan baik." Seperti itulah keterangan yang diungkap langsung oleh Raisa.
"Jadi, siapakah lelaki yang akan lebih dipilih oleh Raisa nanti? V*** atau Rumi?"
*tulisan bercetak tebal dan miring; pembawa acara gosip.
tulisan bercetak miring: hasil wawancara sejumlah artis.
Rumi berhenti fokus pada siaran televisi dan beralih menatap ke arah Raisa.
Ditatap oleh Rumi setelah menyaksikan gosip miring tentangnya bersama, membuat Raisa menjadi merasa gugup. Mungkin ia akan disembur oleh beberapa pertanyaan seolah sedang diintrogasi oleh Rumi.
Memikirkan dirinya akan disalah-pahami oleh Rumi, Raisa hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tetap tenang. Raisa pun tersenyum kecil sambil membalas tatapan dari Rumi. Menunggu lelaki tampan itu bereaksi sesukanya.
###
Iluatrasi rumah baru Raisa bergaya minimalis berlantai 2.
Tampak luar *tanpa mobil, ya.
Ruang tamu. Bisa dijadikan ruang keluarga.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...