
@ Panti Asuhan Cahaya Kasih
Saat sampai di Desa Bambu, mereka bertujuh langsung menuju Panti Asuhan Cahaya Kasih setelah bertemu dengan Tuan Derril yang menyambut kedatangan mereka.
Ditemani Tuan Derril, Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa duduk di ruang khusus tamu di dalam panti. Disuguhi beberapa camilan sederhana dan masing-masing segelas minuman, mereka pun berbincang-bincang tentang misi yang akan dijalankan di Desa Bambu tersebut.
"Bisa tolong jelaskan pada kami... Kenapa bisa sampai muncul roh kegelapan? Padahal data misi yang kami dapat hanya memberi tahu bahwa ada monster misterius yang menyerang Desa Bambu. Monster dan roh sangat berbeda," pinta Devan
Tuan Derril terdiam.
Ia ragu untuk menjawab dan seoerti takut untuk mengatakan semuanya dengan jelas.
"Tolong katakan dengan jujur! Kalau kami tidak tahu apa yang akan kami hadapi mungkin saja kami malah tidak bisa membantu sama sekali karena bisa saja nantinya bukan hanya satu dari kami yang terluka seperti sekarang. Kami butuh kejelasannya untuk menyusun perencanaan yang matang sebelum bertindak supaya kami tahu apa saja yang harus kami lakukan dan bagaimana cara melindungi semua rakyat di desa ini," ucap Rumi
"Baik-baik! Akan saya jelaskan semuanya pada kalian," kata Tuan Derril
Tuan Derril pun tampak mengingat-ingat semua yang telah terjadi di Desa Bambu sebelum benar-benar menceritakannya~
"Sebenarnya, awalnya roh kegelapan yang datang menyerang kami bukan monster misterius," ungkap Tuan Derril
"APA?!!"
"Bagaimana bisa?!"
"Sudah kuduga ini tidak akan sesederhana yang kita tahu," gumam Devan
"Semua berawal dari desa ini kesulitan pangan dua bulan yang lalu. Karena kondisi itu, beberapa dari kami pun memutuskan untuk berburu di hutan bambu. Kami berburu hewan dan mengambil tanaman obat dan sayur-sayuran. Terus sampai pedalaman hutan. Setelah beberapa hari berburu di hutan, saat kami hendak kembali, dari pedalaman hutan itu muncul roh kegelapan yang muncul menyerang orang-orang yang ikut berburu. Merasa tidak bisa mengalahkan roh tersebut kami memilih untuk ke luar dari dalam hutan secepatnya. Setelah berhasil ke luar dari hutan, roh kegelapan tidak lagi mengejar atau menyerang kami.
Namun, besoknya saat hari mulai gelap roh itu ke luar dari dalam hutan menyerang siapa pun yang ditemuinya dan menghancurkan desa. Kejadian itu terus terjadi saat malam hari selama seminggu lamanya. Selama seminggu keadaan desa terus kacau balau, setelah itu keadaan mereda dan tidak ada lagi serangan roh-roh kegelapan. Kami kira itu benar-benar sudah selesai. Namun, beberapa hari kemudian kejadian itu terulang lagi. Bahkan roh kegelapan membawa pasukan hewan bertubuh besar yang aneh untuk ikut menyerang seisi desa. Dua bulan keadaan seperti ini tidak kunjung mereda atau menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, kami mulai putus asa dan akhirnya meminta bantuan," jelas Tuan Derril
"Dari serangan yang terjadi dalam waktu dua bulan ini, mana yang lebih banyak melakukan penyerangan? Roh kegelapan atau monster misterius?" tanya Ian
"Roh kegelapan hanya lebih sering menyerang pada awal-awal dua bulan lalu, walau terkadang mereka juga masih suka menyerang, tapi jumlahlah tak lagi sebanyak monster misterius yang belakangan ini terus menyerang desa," jawab Tuan Derril
"Kalau jumlahnya terus berkurang dan dia hanya aktif dan ke luar dari dalam kegelapan kenapa ada juga yang menyerang kami saat siang hari tadi?" tanya Morgan
"Entahlah. Mungkin karena kalian orang luar dan tidak diterima kedatangannya oleh mereka," jawab Tuan Derril
"Kejadian seperti ini sudah terjadi selama dua bulan terakhir. Apa di Desa Bambu ini tidak ada ahli sihir yang bisa melindungi dari serangan para monster?" ujar Aqila bertanya.
"Desa kami hanya daerah terpencil di perbatasan kedua negara, jumlah ahli sihir di sini tidak banyak dan kebanyakan telah terluka karena serangan yang terjadi selama ini. Sisanya sudah pergi entah ke mana, mungkin mereka takut jika harus menghadapi bahaya serangan monster jadi mereka pergi meninggalkan Desa Bambu," jelas Tuan Derril
"Baiklah, kami sudah mengerti. Tuan Derril, bisa tinggalkan kami semua? Kami ingin berdiskusi sebentar dan tidak ingin diganggu," ujar Devan
"Baik, saya mengerti. Kalau begitu, saya tinggal dulu," kata Tuan Derril
"Terima kasih atas perngertian Anda," ucap Chilla
Tuan Derril pun meninggalkan ruangan tersebut agar mereka bertujuh bisa berdiskusi dengan tenang.
"Raisa, dari tadi kenapa kau diam saja? Sepertinya kau punya pemahaman lebih tentang roh kegelapan, jadi nenurutmu bagaimana?" ujar Devan bertanya.
"Aku mungkin tahu lebih banyak tentang roh kegelapan, tapi tidak tentang monster nisterius yang kemungkinan besar adalah hewan sihir yang hanya ada di dunia ini. Menurutku, karena roh kegelapan yang pertama kali muncul dan menyerang pasti kejadian ini bersangkutan dengan mereka lebih dari monster misterius. Kemungkinan besar roh kegelapan bisa mempengaruhi monster misterius untuk menyerang desa ini. Alasan roh kegelapan mempengaruhi monster misterius adalah karena kemarahannya. Alasan roh kegelapan marah adalah mungkin karena tempatnya bersemayam diusik, ada yang telah mengganggu ketenangannya. Karena menurutku roh adalah makhluk yang hidup berdampingan dengan kita dan mereka tidak akan menjadi gelap karena amarah jika bukan karena ketenangan hidup mereka diganggu. Dan saat mereka terganggu adalah mungkin saat perburuan ke hutan yang dikatakan oleh Tuan Derril tadi. Kita harus menenangkan amarah roh kegelapan," tutur Raisa
"Itu mungkin akan sulit karena peranan mereka yang melakukan penyerangan sebagian besar telah digantikan oleh para monster misterius," ucap Ian
"Kita harus cari tahu alasan kenapa mereka marah dan berujung menyerang desa. Kalau keberadaan mereka yang menyerang desa telah digantikan mungkin kita harus menyelidiki sampai ke hutan tempat mereka pertama kali muncul! Ini akan menjadi misi yang sangat sulit," usul Raisa
"Itu terdengar sangat berbahaya," jata Rumi
"Namun, itu harus dilakukan jika ingin menyelesaikan misi ini sampai tuntas," timpal Raisa
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Chilla
Baru saja mereka akan berdiskusi lebih lanjut, ada keributan yang terdengar dari luar panti asuhan. Saat dilihat dari dalam ternyata itu sebagian warga desa yang sedang menunjukkan aksi di depan panti asuhan!
"Katanya, orang-orang yang akan mengurus masalah monster misterius sudah datang dan sekarang ada di dalam? Biarkan mereka ke luar! Yang perlu mereka lindungi bukan hanya panti asuhan ini, tapi kami semua juga!"
"Ya, suruh mereka ke luar!"
"Kaki juga butuh dilindungi!"
"KE LUAR!!"
"LINDUNGI KAMI SEMUA!!!"
Rumi mengintip dari jendela.
"Mereka yang datang berteriak ingin dilindungi juga," ungkap Rumi
"Mereka cemas akan kelangsungan hidup mereka. Harus ada yang menenangkan mereka seperti kita yang ingin menenangkan para roh kegelapan," ucap Raisa
"Semua jadi sangat merepotkan," dumel Devan
"Aku akan ke luar untuk bicara dengan mereka. Aqila, kau tetap di sini," ujar Morgan
"Tunggu, Morgan! Aku ikut," kata Raisa
Morgan dan Raisa pun beranjak ke luar dari panti asuhan, diikuti Rumi di belakang keduanya.
"Semuanya, mohon tenang. Mereka baru saja sampai dan ada juga yang terluka, jadi mereka butuh istirahat sebentar," ucap Tuan Derril
"Kalau mereka saja terluka, bagaimana mereka ingin melindungi desa ini?"
"Ya, bagaimana dengan kami?!!"
Morgan, Rumi, dan Raisa pun ke luar dari dalam panti asuhan.
"Tolong semuanya untuk tenang dulu!" pekik Morgan
"Itu mereka! Mereka sudah datang dan ada di dalam!"
"LINDUNGI KAMI JUGA!"
"LINDUNGI KAMI SEMUA!!"
"Kami mengerti! Kami akan melindungi kalian seperti yang kalian minta, tapi kami butuh waktu untuk berdiskusi tentang apa yang harus kami lakukan... Jadi, mohon beri kami waktu," ucap Morgan
"Sepertinya mereka tidak benar-benar ingin mendengarkanmu, Morgan," kata Rumi
"Jangan berdiam saja! Jangan hanya lindungi panti asuhan ini! Kami juga ingin dilindungi!!"
__ADS_1
"LINDUNGI KAMI JUGA!!"
"LINDUNGI KAMI SEMUA!!!"
"Kami butuh perencanaan yang matang agar bisa lakukan semaksimal mungkin seperti yang kalian inginkan dan melindungi kalian semua. Jadi, mohon pengertiannya," ungkap Morgan
Sebelum keinginan mereka diwujudkan mereka tidak ingin mendengarkan ucapan orang lain yang menurutnya tidak penting seperti omong kosong. Mereka yang datang terus berteriak inhin dilindungi dan meminta perlindungan menyeluruh.
"SEMUANYA, HARAP TENANG! Kami mengerti kecemasan kalian, tapi di sini juga ada banyak anak kecil lemah dan tidak berdaya lebih dari pada kalian yang sebelumnya banyak jadi korban. Kami akan berusaha keras mewujudkan keinginan kalian juga melindungi kalian. Kami akan melakukan patroli ke sekeliling desa untuk memastikan keamanan kalian semua! Namun, kalian juga harus pulang! Kalian yang lebih tahu dari pada kami jika hari mendekati malam seperti inilah yang paling berbahaya karena pada waktu inilah para monster akan datang menyerang... Jadi, pulanglah pastikan keamanan kalian sendiri masing-masing! Jangan ada yang ke luar agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan! Beri tahukan semua orang juga untuk tetap berdiam diri di rumah dan tidak boleh ada yang ke luar begitu hari mulai gelap demi keamanan semuanya! Sampai di sini, saya harap kalian bisa mengerti dan mengambil tindakan yang benar serta tidak menyia-nyiakan wakt," tutur Raisa
Saat dan setelah Raisa bicara, orang-orang yang awalnya ribut pun terdiam dan langsung membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Untung ada kau, Raisa! Mereka langsung menuruti ucapanmu," ucap Rumi
"Ya, kalau tidak alu tidak tahu harus berkata seperti apa lagi," kata Morgan
"Mereka hanya cemas dan butuh himbauan yang tepat. Mereka juga tidak ingin ada yang terluka lagi," ujar Raisa
"Maaf, atas keributan tadi," kata Tuan Derril
"Tidak apa, Kakek. Bukan salahmu mereka jadi begitu," ucap Morgan
Setelah keributan selesai ditangani, Morgan, Rumi, dan Raisa kembali ke dalam dan berkumpul bersama yang lain.
"Kalian tenang saja, keributannya sudah selesai," kata Morgan
"Kau berkata seperti itu, seperti kau saja yang membubarkan mereka," ledek Ian
"Apa kalian sudah memutuskan sesuatu selama keributan di luar tadi?" tanya Rumi
"Ada keributan seperti itu, bagaimana kami bisa berdiskusi dan mengambil keputusan dengan tenang?" ujar Chilla bertanya.
"Raisa, dari tadi kau hanya diam, tapi tindakanmulah yang paling tepat dan membuat semuanya lebih baik di sini. Sebenarnya kau sedang memikirkan apa sampai sebegitunya?" ujar Aqila bertanya.
"Aku hanya memikirkan keselamatan semua orang dan ingin melakukan yang terbaik dalam misi kali ini," jawab Raisa
"Aqila, benar! Kau yang bertindak paling baik untuk keselamatan semua orang seperti yang sedang kau pikirkan juga. Raisa, bagaimana kalau kau saja yang memimpin dalam misi kali ini? Kau lebih tahu banyak tentang roh kegelapan dan bisa menenangkan amarahnya, kau juga menenangkan keributan orang-orang yang cemas tadi. Kupikir kau juga bisa menenangkan amarah roh kegelapan atau monster misterius setelah ini dan menyelesaikan misi dengan baik. Bagaimana, apa kau mau mempertimbangkan posisi ketua dalam misi kali ini?" usul Devan bertanya.
"Aku mungkin memang bisa menangani dan menenangkan roh kegelapan atau apa pun itu, tapi dalam hal strategi aku masih kurang handal dan butuh bantuan," ucap Raisa
"Menurutmu, kita harus apa setelah ini?" tanya Devan
"Seperti yang kukatakan pada orang-orang di luar tadi.Setelah ini, kita harus berpatroli menjaga keamanan desa dan melihat serta memastikan adakah roh atau monster yang menyerang supaya tidak ada lagi korban. Tapi, kita juga harus mencari tahu dan menyelidiki penyebab kemarahan roh kegelapan agar bisa menenangkannya seperti yang kukatakan saat diskusi tadi untuk menyelesaikan misi ini. Inilah hal utamanya dan yang paling penting," jelas Raisa
"Sudah ada keputusan dalam benakmu, berarti kau juga sudah menyusun strategimu," kata Devan
"Kau hanya belum pernah melakukan ini sebelumnya. Tenang saja, kami akan membantumu. Kami akan bekerja sama denganmu, untuk itulah kita dikirim ke sini bersama-sama," ucap Aqila
"Kalau begitu, sudah diputuskan! Raisa yang akan menjadi ketua dan memimpin dalam misi kali ini " ujar Devan menetapkan keputusan.
"Sepertinya saat kami di luar tadi, kalian hanya sibuk memutuskan ingin menjadikan Raisa ketua misi. Benar, tidak?" tebak Morgan bertanya.
"Tepat sekali," tanggap Chilla
"Jangan khawatir, Raisa. Kami akan mendukung dan membantumu," kata Rumi
"Terima kasih sudah mempercayakanku untuk mempimpin dalam misi kali ini," ucap Raisa
"Sebentar lagi, hari akan menjadi gelap. Lakukan patroli seperti yang kukatakan! Beberapa orang tetap di panti asuhan untuk menjaga tempat ini. Lalu, kita masih harus masuk ke hutan untuk menyelidiki kemarahan roh kegelapan. Dan aku masih ingin melihat korban yang terluka untuk membantu mereka dan mungkin bisa memulihkan mereka," jelas Raisa
"Patroli kita lakukan setiap menjelang malam. Mulai besok kita akan masuk hutan untuk mulai penyelidikan, dan sebelum pulang kita bisa mengunjungi korban untuk membantu pemulihan. Seperti ini, apa kau sudah puas, Raisa?" ujar Devan bertanya.
Raisa mengangguk sambil tersenyum.
"Malam hari kita harus patroli, tapi besok sudah harus melakukan penelidikan. Berarti penyelidikan mulai dilakukan saat pagi hari, tapi apakah bisa! Bukankah roh kegelapan hanya banyak ke luar saat gelap?" tanya Ian
"Tidak juga. Buktinya kita diserang siang hari tadi," jawab Chilla
"Benar! Pada dasarnya roh bersifat netral juga sebenarnya kebanyakan mereka berdiam di suatu tempat untuk melestarikan tempat tersebut. Mereka hanya akan berubah menjadi kegelapan saat menjadi marah. Bisa jadi terdapat roh di semua tempat hanya saja tidak semua orang dapat melihatnya. Kalau memang roh hanya ada dalam kegelapan. Bukankah semakin terang cahayanya, akan ada tempat yang semakin gelap karena cahaya itu tidak bisa sampai ke tempat tersebut? Pasti ada tempat yang seperti itu, apa lagi jika itu di pedalaman hutan," ujar Raisa
"Semua jadi masuk akal," kata Aqila
"Kalau begitu, bukankah kita harus membagi tim untuk misi kali ini?" ujar Morgan bertanya.
"Morgan, benar. Aqila untuk hari ini kau tetaplah di sini, tidak perlu ikut patroli malam. Kau masih butuh memulihkan diri dan tolong lindungi panti," ucap Raisa
"Aku akan menemani Aqila berjaga di panti asuhan," kata Chilla
"Kalau begitu, selain Aqila dan Chilla yang berjaga di panti asuhan, yang lainnya akan berkeliling untuk melakukan patroli," ujar Devan
Setelah selesai berdiskusi, Raisa, Rumi, Morgan, Devan, dan Ian pun bersiap untuk berangkat melakukan patroli.
Saat mereka berlima berpamitan hendak pergi, beberapa anak panti asuhan ke luar untuk menemui mereka.
"Apakah benar kalian akan melindungi kami dari serangan monster?"
"Tentu saja. Kami dalam misi besar di sini," jawab Morgan
"Benar! Kami masih belum memperkenalkan diri. Aku Aqila dan ini Chilla. Kami berdua akan menjaga kalian di sini selama yang lain pergi," Uuar Aqila
"Lalu, aku Morgan. Devan, Ian, Rumi, dan Raisa. Kami akan keluar sebentar. Kalian tidak oerlu khawatir, istirahat saja dengan tenang," sambung Morgan melanjutkan.
"Kami tidak ingin berdiam diri dan hanya dilindungi. Kami juga ingin melakukan sesuatu! Kami tidak ingin hanya menjadi anak kecil lemah yang tidak berdaya!"
..."Sepertinya mereka mendengar ucapanku di luar tadi dan merasa tersinggung ... " batin Raisa...
Raisa pun mendekati anak-anak tersebut dan merangkul mereka sambil berlutut. Raisa tersenyum lembut.
"Maaf, sudah membuat kalian tersinggung. Itu salahku. Sebenarnya menurutku, kalian tidak lemah sama sekali. Tadi itu aku berkata seperti itu hanya untuk membuat orang-orang yang membuat keributan di luar panti asuhan," ucap Raisa
"Benarkah? Bukan karena kami hanya jadi penghambat kalian?"
"Tentu, bukan begitu! Kalian adalah anak-anak pemberani dan kuat menghadapi musibah serangan para monster. Buktinya kalian bisa bertahan, kan?" Ujar Raisa bertanya.
"Benarkah?"
"Tentu saja! Kalian ingin ikut melakukan sesuatu, bukan? Kalau begitu, kalian tetap di sini. Bisakah kalian melindungi teman-teman kalian yang lain? Jadilah lebih berani dari pada yang lain dan saling melindungilah satu sama lain. Jika ada monster yang bergerak ke sini dan menyerang, ikutilah kata Kak Aqila dan Kak Chilla untuk membuat benteng pertahanan yang kuat! Dengan bekerja sama kita akan menjadi kuat! Itulah bantuan yang paling kami perlukan... Tolong kami, ya! Kalian tahu sebdiri, pengurus dan penjaga panti asuhan bukanlah orang yang masih muda. Jadi, kalianlah yang harus mengambil tindakan dan saling melindungi satu sama lain. Bisa, kan?" tanya Raisa
"Baiklah. Tentu, kami bisa! Kami akan membantu kalian dan saling melindungi satu sama lain!"
"Bagus! Satu lagi, bisakah kalian menyertai kami dengan doa? Yang kutahu, doa anak-anak itu paling ampuh dan didengar. Doakanlah kami agar bisa kembali dengan selamat dan bermain dengan kalian," ucap Raisa
__ADS_1
Mereka mengangguk.
"Kami doakan kakak-kakak kembali dengan selamat. Saat kembali nanti, akan kami undang para kakak untuk bermain permainan yang seru!"
"Itu akan sangat menyenangkan! Aku sudah tak sabar ingin bermain! Kalau begitu, kami pergi dulu dan jaga diri kalian baik-baik," kata Raisa
Raisa pun kembali bangkit berdiri.
"Kalian berhati-hatilah," kesan Aqila
"Kau juga, jaga diri baik-baik," balas Morgan
Mereka berlima pun melambaikan tangan dan pergi~
"Kau bisa menenangkan sekaligus menghibur mereka yang merasa tidak puas, ya, Raisa?" tanya Rumi
"Menerutku, itu hal yang merepotkan," kata Devan
"Tidak juga. Bagi mereka yang tidak puas, kita hanya perlu bicara baik-baik. Jika kita bisa tahu apa yang mereka inginkan sedikit saja, maka bicaralah. Katakan kalau kita bisa jadi seperti yang mereka harapkan atau mereka bisa melakukan seperti yang mereka harapkan. Dan berikan harapan lainnya juga yang mampu menyenangkan mereka. Maka, mereka akan tenang," ucap Raisa
"Itu hanya masalah umum tentang psikologis. Seperti mengiming-imingi mereka dengan harapan yang mereka inginkan, tentu bukan hanya harapan palsu, tapi kita harus buktikan harapan itu bisa menjadi nyata. Itu sangat kuperlukan untuk kemampuan sihirku. Jika, sudah tahu pikiran tentang harapan orang lain, akan lebih mudah untuk membaca pikiran lain dari orang tersebut," ujar Ian yang memiliki kemampuan sihir pembaca dan pengendali pikiran.
"Itu juga tentang kemampuan bicara seseorang," kata Morgan
Mereka berlima terus berjalan sampai ke suatu tempat. Dari kejauhan di sana, terlihatlah hutan bambu yang dimaksud Tuan Derril pada ceritanya, yaitu tempat munculnya para roh kegelapan dan monster misterius.
"Dari sini hutannya sudah terlihat, ya. Ternyata, tidak jauh," kata Morgan
"Tapi, kita tidak tahu seberapa dalam hutan itu," sahut Ian
"Satu hal yang belum kuberi tahu pada kalian. Para roh bisa merasakan hal yang kita rasa. Jika, kalian merasa marah atau takut, mereka bisa mengetahui energi negatif tersebut dan bereaksi dengan negatif pula atau semakin marah. Saat berharapan dengan roh kegelapan, jika ingin menangani dan menenangkannya, diri kalian juga harus merasa tenang," ungkap Raisa
"Kami mengerti," kata Rumi
"Nyonya, sedang apa Anda di sana?!" pekik Devan saat melihat seorang wanita berdiri seorang diri menatap hutan belantara dari kejauhan.
Mereka berlima pun menghampiri wanita tersebut.
Wanita itu berdiri dengan wajah cemas sambil memengang mainan anak-anak.
"Saat malam hari adalah waktu yang berbahaya untuk berkeliaran di luar rumah. Apa Nyonya tidak tahu itu? Apa Nyonya tidak takut?" ujar Morgan bertanya.
"Saya tahu dan juga takut, tapi anak-anak saya belum juga pulang dari bermain. Saya sebagai ibu tentu sangat khawatir," ucapnya
"Kenapa Nyonya tidak mencari mereka lebih awal?" yanya Ian
"Nak, bisakah tolong saya ... tolong carikan anak-anak saya," pintanya
"Seperti apa ciri-ciri anak Nyonya?" tanya Raisa
"Sepasang anak kembar lelaki dan perempuan berusia 6 tahun. Memakai pakaian berwarna merah dan hijau," jawabnya
"Saya akan mencari mereka. Salah satu dari kalian temani Nyonya ini di sini, sisanya berpencar untuk mencari," ujar Raisa
Raisa langsung mengeluarkan sayap sihirnya dan memerintahkan pencarian.
"Siang ini mereka masih bermain di halaman rumah. Mereka menjadikan topik serangan monster sebagai cerita saat bermain boneka. Saya sangat khawatir," ungkapnya
Ian menemani wanita tersebut dan yang lain berpencar melakukan pencarian. Raisa mencari dari atas dengan cara terbang~
Dari atas Raisa bisa melihat ke bawah dengan cukup jelas walau hari sudah tidak lagi terang. Dan akhirnya Raisa menemukan dua anak kecil sesuai dengan ciri-ciri yang wanita tadi katakan.
Raisa pun langsung terbang menurun dan mendarat. Lalu, menghampiri dua anak yang dilihatnya. Dua anak tersebut tampak sedang ketakutan.
"Adik-adik, kenapa kalian bermain sampai ke sini?" tanya Raisa
"Tolong, kami tersesat!"
"Aku menemukan dua anak yang dikatakan itu. Kembali ke tempat Nyonya tadi," pesan Raisa yang dikirim kepada keempat teman yang berpencar dengan sihir transmisi suara.
Raisa memeluk kedua anak tersebut untuk menenangkan mereka.
"Kalian peluk kakak yang erat! Kita akan terbang dan menemui Ibu kalian," ucap Raiaa
Tangan mungil yang bergetar itu memeluk Raisa dengan erat. Raisa pun memeluk kedua anak tersebut. Dan membawa keduanya terbang bersama~
Kedua anak itu masih gemetar ketakutan, namun mereka merasa takjub saat Raisa membawa keduanya terbang.
"Jangan khawatir, anak anak Nyonya sudah ditemukan salah satu teman kami. Itu dia! Raisa, ucap Ian
Raisa pun membawa kedua anak itu mendarat di tempat Ibunya menunggu dan langsung menghampirinya.
Kedua anak itu langsung menghampiri Sang Ibu~
"Ibu!!"
"Syukurlah, kalian ketemu!"
"Lain kali, ingatlah jangan main terlalu jauh sampai tersesat seperti hari ini lagi," pesan Raisa
"Terima kasih karena sudah bantu mencari dan menemukan anak-anak saya. Terima kasih banyak!"
Raisa mengangguk.
"Sekarang, kalian cepatlah pulang. Di luar sini sangat berbahaya dan tetaplah di rumah," Ucap Ian
Wanita itu pun membawa anak-anaknya untuk segera pulang~
"Raisa, apa kau merasakannya? Devan sedang bertemu bahaya," ujar Ian
Raisa mengangguk dengan cepat.
"Ayo, kita ke sana," kata Raisa
Raisa dan Ian pun langsung mencari keberadaan Devan dengan kecepatan tinggi. Tidak lupa untuk memberi tahu Morgan dan Rumi untuk ikut berkumpul dan mencari keberadaan Devan dengan sihir transmisi suara~
.
•
Bersambung...
__ADS_1