
Setelah melihat rupa tanaman obat yang sangat diperlukan melalui sebuah lukisan, Raisa langsung ke luar dari bangunan pusat pengobatan itu untuk segera mencari sebidang tanah. Ian bersama beberapa sukarelawan mengikutinya.
"Nona, untuk apa Anda mencari tanah subur di sini?"
"Yang penting tanah di sini subur dan bisa digunakan untuk menanam tumbuhan, kan?" ujar Raisa bertanya balik tanpa memberi tahu maksud tujuannya.
Beberapa orang di sana mengangguk untuk menjawab Raisa. Mereka yang bingung pun menatap Ian, berharap ia bisa membantu memberi mereka penjelasan. Ian yang ditatap seperti itu pun merasa bingung sendiri. Dan akhirnya menghela nafas.
"Aku tidak tahu apa yang akan Raisa lakukan. Jangan tanya padaku atau menatapku seperti itu," ucap Ian
"Aku juga tidak mengerti, Raisa. Sebidang tanah, untuk apa? Tunggu! Jangan bilang kau--" Ian menggantungkan perkataannya begitu saja.
Akhirnya, semua pun terdiam.
Raisa mulai berjongkok. Kedua tangannya menyentuh tanah dan sepasang matanya terpejam. Cukup lama, sampai akhirnya.
Rumput hijau bercampur ungu tumbuh begitu saja bersamaan mata Raisa yang kembali terbuka. Itu adalah tanaman obat yang sedang dibutuhkan dan itu memenuhi sebidang tanah di depan bangunan pusat pengobatan. Raisa menumbuhkan tanaman obat tersebut dengan menggunakan sihir.
"Apa benar seperti ini tanaman obatnya?" tanya Raisa yang kembali bangkit berdiri.
Semua yang ikut menyaksikan terperangah melihat tanaman obat yang termasuk langka tumbuh melimpah di depan mata.
"Benar! Ini tanaman obatnya! Sungguh tidak menyangka!"
"Wah, kau sungguh menakjubkan," kata Ian
"Ternyata kau benar-benar bisa menumbuhkannya," lanjut Ian yang sebelumnya sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan Raisa setelah mencari-cari sebidang tanah.
"Apa jumlah ini cukup?" tanya Raisa
"Sangat cukup bahkan mungkin akan ada lebihnya."
"Terima kasih banyak, Nona!"
"Kalau begitu, ambillah secukupnya untuk obat bagi yang membutuhkan. Sisanya biarkan mereka terus tumbuh agar bisa berguna untuk waktu yang lama," ujar Raisa
"Baik, kami mengerti!"
"Sekali lagi, terima kasih!"
Raisa pun tersenyum.
"Kalau begitu, saya kembali ke dalam dulu," kata Raisa
"Aku juga akan kembali ke dalam," ikut Ian
Raisa dan Ian pun kembali ke dalam pusat pengobatan untuk mengobati para pasien.
"Ian, kau sudah kembali ... " ujar Aqila
"Kenapa di luar ribut sekali? Habis melakukan apa?" tanya Morgan
"Seperti biasa, Raisa melakukan hal menakjubkan lainnya. Dia menumbuhkan tamanan obat yang sangat diperlukan itu di luar setelah hanya melihat lukisannya," jawab Ian
"Luar biasa," kata Chilla
"Dia sangat bekerja keras dalam misi kali ini, rupanya ... " ucap Devan
"Terima kasih sudah tetap berjaga di sini, Rumi," ucap Raisa yang baru kembali.
Rumi pun mengangguk.
"Nona, apa urusannya sudah selesai?"
"Kalau begitu, bisakah langsung membangunkan mereka yang masih tertidur di sini?"
Raisa mengangguk.
"Aku akan melakukannya aatu per satu secara bergiliran. Jadi, mohon untuk tetap tenang, ya ... " ujar Raisa
Raisa pun mulai penanganan pada pasien pertama. Seorang pria tua yang selalu ditemani sang istri selama dua bulan ini di sana.
Dengan sebaskom air, Raisa menggunakan sihirnya untuk mengendalikan air tersebut dan memulai penanganan. Tubuh pasien diselimuti air yang telah tersalur tenaga sihir untuk membangunkan pasien dari tidur panjangnya karena pengaruh roh kegelapan. Selama penanganan air yang menyelimuri pasien mengeluarkan cahaya.
Namun, fokus Raisa terhenti bersamaan penanganannya. Air ditarik kembali dari tubuh pasien dan dikembalikan ke dalam baskom.
Raisa menghela nafas. Matanya sayu seperti merasa pasrah.
"Ada apa, Raisa?" tanya Rumi
"Nona, kenapa berhenti? Suami saya masih belum bangun ...."
"Sudah kuduga ini akan sulit. Suami Nyonya sudah terpengaruh ke dalam kegelapan yang sangat dalam, sudah sangat sulit untuk membangunkannya. Pasien sedang dalam situasi hidup dan mati," jelas Raisa dengan wajah murungnya.
"Apa?! Bagaimana mungkin? Bukankah Nona bilang bisa membangunkannya?"
"Saya hanya bilang akan berusaha," kata Raisa
"Tidak mungkin! Nona, bilang akan membangunkannya! Suami saya tidak mungkin mati!"
"Bagaimana ini?"
"Kalau suami Nyonya itu saja tidak bisa bangun lagi, bagaimana dengan yang lain?"
"Apa mereka semua sudah tidak bisa bangun lagi?"
"Jadi, mereka berlima akan dianggap mati begitu saja?"
"TIDAK!!"
Seperti seorang Nyonya yang mulai histeris karena suaminya bisa saja sudah mati, para wali pasien lainnya mulai gaduh dan meributkan nasib keluarga mereka yang sama.
"Nona ... saya mohon, bangunkan suami saya! Berjanjilah, Nona pasti bisa membangunkan suami saya!"
"Nona, apa keluarga kami juga sudah tidak bisa bangun lagi?"
"Apa mereka akan dinyatakan mati begitu saja?"
"Situasi ini bisa saja sama bisa juga tidak, jadi mungkin yang lain masih bisa diselamatkan," ucap Raisa
"Tidak! Sebelum menyelamatkan yang lain, pastikan Nona menyelamatkan suami saya lebih dulu! Tolong buat suami saya sadar lagi!"
"Sudahlah, Nyonya! Kalau suami Anda dinyatakan telah mati, ikhlaskan saja! Masih ada pasien lain yang harus diselamatkan selain suami Anda!"
"Tidak, suami saya tidak mati! Dia pasti masih hidup!"
"Semuanya, mohon tenang ... " lerai Rumi
Raisa terdiam. Hatinya ikut tersayat mendengar permohonan Nyonya itu yang menginginkan suaminya sadar kembali.
Raisa pun berpikir keras tentang nyawa seseorang yang mungkin masih bisa diselamatkan.
"Raisa, apa sudah tidak ada cara lain?" tanya Rumi
..."Mungkinkah masih ada cara lain? Nyonya itu, kasihan sekali dia! Mungkin saja suaminya adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa," batin Raisa...
__ADS_1
Saat ia terus berpikir, tiba-tiba cara lain muncul bagai ide dalam pikiran Raisa.
"Sebenarnya, masih ada satu cara! Tapi, cara ini kemungkinan akan sangat beresiko. Jika penanganan kali ini dihentikan di tengah jalan, akan sangat membahayakan nyawa. Saya terlebih dulu ingin meminta persetujuan Nyonya ... apa masih ingin melanjutkan dengan cara satu ini?" ujar Raisa bertanya.
"YA! Apa pun caranya asalkan suami saya selamat dan bisa sadar lagi! Tolong, lakukan saja, Nona!"
"Saya tidak yakin dan bilang pasti bisa diselamatkan. Tapi, jika suami Anda memiliki niat hidup yang besar, masih ada harapan. Jadi, semua tergantung keinginan hidup suami Anda," ucap Raisa
"Suami saya pasti ingin kembali hidup dan menemani saya!"
"Penanganan ini adalah cara pemanggilan roh yang tenggelam dalam pengaruh kegelapan hingga sulit mencari cahaya untuk hidup dan sadar kembali. Saya akan mencoba menuntun dan memanggil roh suami Anda. Cara sebelumnya pun sebebarnya sama saja, namun kali ini akan sangat beresiko," gumam Raisa mengungkapkan.
Raisa pun mulai kembali fokus untuk menangani pasien.
"Tunggu dulu! Kalau cara ini terlalu beresiko, bukankah artinya juga akan mempertaruhkan nyawamu, Raisa? Bukankah ini terlalu bahaya untukmu?" tanya Rumi
"Tidak akan," jawab Raisa
"Kenapa kau sangat yakin?" tanya Rumi lagi.
"Karena aku punya bantuan," jawab Raisa
"Lagi pula, tugas seorang medis adalah menyelamatkan nyawa pasien," lanjut Raisa
"Kalau begitu, mintalah bantuan padaku apa pun yang kau perlukan," ujar Rumi
"Tidak perlu," kata Raisa
"Kalau kau tidak meminta bantuan, bagaimana dengan dirimu? Pikirkanlah baik-baik," cemas Rumi
"Tolong jangan membuatku jadi ragu, Rumi. Karena aku tidak boleh merasa begitu. Kau hanya perlu menahan gangguan selama penanganan berlangsung. Karena cara kali ini akan beresiko, mungkin Nyonya itu akan berubah pikiran dan menghentikanku di tengah jalan. Tolong, pastikan itu tidak terjadi dan malah jadi menggangguku," bisik Raisa
"Baiklah, aku mengerti," pasrah Rumi walau masih merasa khawatir pada Raisa.
"Aku akan memberikan cahaya sebagai petunjuk untuk memanggil roh pulang supaya kesadarannya kembali. Maka pasien akan bangun dari tidur panjangnya," ungkap Raisa
Raisa memejamkan matanya dan memulai penanganan. Kali ini, penanganan tidak membutuhkan dan menggunakan air sebagi media pemanggilan roh. Melainkan dengan menggunakan api! Inilah cara yang dikatakan akan beresiko.
Seperti sebelumnya, air menyelimuti tubuh pasien. Kali ini api-lah yang menyelimuti tubuh pasien.
"Apa-apaan ini? Nona! Kenapa kau membakar suamiku! Kalau begini, kau akan membunuh suamiku meski dia masih hidup sekali pun. Hentikan! Jangan bakar suamiku lagi!"
Seperti yang diduga sebelumnya, penanganan diminta berhenti di tengah jalan sebelum Raisa menyelesaikannya. Namun, Raisa mengabaikan gangguan itu dan meneruskan penanganan. Rumi pun mengambil alih peran untuk menenangkan wali pasien.
"Nyonya, tenanglah! Seperti yang dikatakan sebelumnya, penanganan tidak boleh dihentikan di tengah-tengah prosesnya atau akan sangat membahayakan nyawa. Baik yang sedang ditangani atau yang menangani. Tunggulah dulu sebentar lagi," ucap Rumi
"Penanganan menggunakan sihir api?"
"Apa-apaan itu? Bukankah itu akan membakar pasien?"
"Pasien bisa saja mati kalau begini, seperti kata Nyonya itu!"
"Apa empat orang lainnya juga akan ikut dibakar saat penanganan? Kalau begitu, mereka semua mungkin malah akan mati!"
Ikut merasakan hawa panasnya api, Raisa mulai berkeringat. Matanya yang terpejam fokus selama penanganan mulai terbuka bersamaan selesainya penanganan. Api pun dipadamkan dari tubuh pasien.
Api telah menghilang. Pasien pun mulai sadar dan membuka matanya. Pasien juga bergumam saat mulai tersadar. Wali pasien yang merupakan istrinya pun terkejut dan berhenti menangis.
"Ibu ...."
"Ayah? Suamiku sadar!"
Sang istri pun berhambur memeluk suaminya yang masih terbaring.
"Dua bulan! Dan Ayah diselamatkan oleh Nona ini."
"Sungguh, terima kasih, Nona!"
"Terima kasih banyak, Nona. Maaf, sudah berburuk sangka dan meneriakimu tadi."
Raisa tersenyum.
"Tidak apa. Saya mengerti, Nyonya takut. Sihir yang saya lakukan saat penanganan tadi bukanlah api biasa yang membakar hingga mati, tapi itu adalah api abadi yang telah dipinjamkan Burung Api Legendaris pada saya. Api itu bersifat hidup dan menyalurkan energi yang menuntun roh suami Anda yang terperangkap dalam kegelapan pada cahaya kehidupan semula. Begitulah cara suami Anda bisa kembali sadar. Tentu saja, saya berusaha menyelamatkan dan tidak ada niat membunuh sama sekali. Dan saya mengerti, Nyonya hanya salah paham tadi," ungkap Raisa
"Saya minta maaf sekali lagi dan terima kasih banyak, Nona!"
"Sama-sama," balas Raisa
"Sudah kuduga, kau pasti bisa menemukan cara lain dan berhasil membangunkan pasien! Selamat, Raisa!" ucap Rumi
Raisa tersenyum.
"Tapi, ini belum selesai. Lanjut, ke pasien berikutnya ... " kata Raisa
Raisa pun berlanjut menangani pasien berikutnya. Penanganan pasien tidak semua harus menggunakan sihir api, semuanya diawali dengan mencoba dengan sihir air. Jika pasien langsung sadar, penanganan dengan sihir api tidak diperlukan lagi, kecuali pasien tidak bisa disadarkan dengan menggunakan sihir air, maka Raisa beralih menggunakan sihir api.
Dari lima pasien, hanya dua pasien yang mengharuskan Raisa menggunakan sihir api untuk penanganan membangunkan pasien dari tidur panjang karena pengaruh roh kegelapan, tiga di antaranya langsung terbangun saat penanganan menggunakan sihir air.
Di antara lima pasien, hanya pasien pertama dan terakhirlah yang harus ditangani dengan sihir api menggunakan api abadi dari Phoenix.
Semua berjalan lancar. Kelima pasien yang tertidur panjang berhasil dibangunkan kembali. Semua berkat Raisa dan banyak yang berterima kasih padanya. Namun, ada keanehan yang terjadi pada pasien yang terakhir dibangunkan. Pasien tersebut tidak mengingat apa pun termasuk tentang keluarganya yang menjadi wali pasiennya yang terus menunggunya sadar di sana.
"Ada apa ini, Nona? Mengapa adik saya tidak ingat dengan saya? Dengan keluarganya di sini?"
"Ternyata, adik Anda terpengaruh oleh kegelapan sangat parah. Bukan hanya tidak bisa dibangunkan dengan sihir air melainkan dengan sihir api, juga ingatannya telah hilang karena pengaruh kegelapan sebelumnya. Jejak pengaruh kegelapan masih ada di dalam dirinya," jelas Raisa sambil memeriksa nadi pasien terakhir.
"Lalu, bagaimana ini? Bukankah sama saja jika dia tidak ingat apa pun?"
"Jangan begitu. Yang penting adik kita sudah kembali sadar lagi."
"Apa ingatan pasien bisa pulih secara perlahan, Raisa?" tanya Rumi
Raisa menggeleng pelan.
"Sayangnya, tidak. Jika itu pengaruh kegelapan dari roh yang bahkan sudah tidak lagi hidup, maka berarti itu sudah lenyap sepenuhnya. Jika saja tidak ada keluarganya di sini, pasien bisa saja menggunakan identitas baru setelah dari sini," jawab Raisa
"Tina, apa kau tidak ingat kami? Dia, Tika. Saudari kembarmu dan aku, Tino, kakak kalian."
Pasien menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Apa sudah tidak ada cara lain, Raisa? Kau, kan, selalu punya cara," ujar Rumi
"Mungkin, memang ada. Pasien baru saja sadar hari ini dan belum lama, mungkin aku masih bisa mengembalikan ingatannya," ucap Raisa
"Sudah kuduga, kau pasti punya cara! Jadi, bagaimana caranya?" ujar Rumi bertanya.
"Jika, aku bertemu dan berkomunikasi dengan roh dalam dirinya ... dengan cara masuk ke dalam pusat roh dan pikirannya," kata Raisa
"Ada cara seperti itu?" tanya Rumi
"Cara ini seperti jurus sihir Ian yang memasuki dan mengontrol pikiran seseorang," jawab Raisa
Raisa pun mendekati pasien yang bingung dengan semua yang ada di sekitarnya.
"Jadi, apa Nona ingin ingatan Anda kembali dan dapat mengingat semuanya lagi?" tanya Raisa
__ADS_1
Pasien tersebut mengangguk lemas.
"Kalau begitu, tekuk kaki Anda dan duduk bersila. Lalu, ikuti saya ... " ujar Raisa
Pasien pun menurut dan mulai duduk bersila di atas ranjang pembaringan. Raisa ikut naik ke atas ranjang pasien tersebut dan duduk bersila tepat di hadapannya.
"Tutup mata Anda. Atur nafas dengan baik, tenang dan rileks, tapi fokuslah pada tujuan Anda untuk mencari ingatan yang hilang dalam diri Anda. Percayalah pada saya yang sedang membantu Anda mengingat semuanya," tutur Raisa
Pasien menutup matanya, begitu juga dengan Raisa. Setelah memberi bantuan aba-aba, keduanya hening. Roh Raisa sudah masuk ke dalam pusat roh dan pikiran pasien yang ada di hadapannya.
Di dalam sana hanya dipenuhi kegelapan di sekeliling. Dan Raisa membuat cahaya dengan menggunakan sihir apinya.
"Di sini gelap dan tidak ada apa-apa, aku juga tidak ingat apa pun!"
"Tidak apa, tenanglah. Percayalah pada saya, ingatan Anda bisa kembali.l," kata roh Raisa yang berkomunikasi dengan roh pasiennya, Tina.
Raisa mengulurkan salah satu tangannya.
"Genggam tanganku! Kata keluargamu, namamu adalah Tina. Ayo, kita cari kembali ingatanmu yang terkubur dan tersembunyi di suatu tempat," ucap Raisa
Pasien yang bernama Tina itu pun menggenggam tangan Raisa dan keduanya berjalan menyusuri kegelapan untuk mencari kembali ingatan yang hilang.
Yang berkomunikasi dan berinteraksi adalah roh dari Raisa dan Tina, sedangkan raga mereka berdua hanya duduk bersila dan berdiam diri sambil memejamkan mata. Orang-orang di sekeliling mereka berdua, tidak ada yang tahu apa yang keduanya lakukan di dalam alam bawah sadar.
Saat seperti itu, Rumi mendekati Raisa yang terus terdiam. Rumi menjaga Raisa di sisinya, sedangkan pasien di hadapan Raisa dijaga oleh keluarganya di sana.
"Sekarang, roh mereka berdua mungkin sedang berkomunikasi di alambawah sadar. Jangan menganggu atau membangunkan mereka karena kondisi mereka sedang sangat rentan," ucap Rumi
Di alam bawah sadar yang hanya diterangi secercah cahaya yang Raisa buat, Raisa dan Tina berjalan menyusuri kegelapan. Setelah cukup lama berjalan, mereka menemukan suatu tempat.
"Sudah sampai. Kau tahu ini tempat apa? Apa kau ingat sesuatu, Tina?" tanya Raisa
Tina menggeleng pelan.
"Tempat ini adalah pusat ingatanmu," Kata Raisa
"Ingatanku? Di sini hanya ada satu pohon besar yang sudah mati kekeringan," ujar Tina
"Ya, memang. Di sanalah ingatanmu terkubur, bersama pohon yang mati itu," ucap Raisa
"Kau lihat, pohon itu punya celah? Masuklah, maka kau akan dapat semua ingatanmu kembali," ujar Raisa
Setelah Tina masuk ke dalam celah pohon, Raisa pun ikut masuk untuk menemaninya.
Di dalam pohon tersebut, terdapat banyak seperti layar proyeksi dari banyak ingatan semasa Tina hidup.
"Kau lihat? Ini semua adalah ingatanmu," ujar Raisa
"Aku tidak tahu. Aku tidak ingat apa pun dan merasa asing dengan semua ini," kata Tina
"Itu karena ingatanmu memang sudah hilang sebelum datang ke sini. Kau hanya perlu menyerap kembali semua ingatanmu yang ada di sini. Duduklah, bersila. Fokus dan pejamkan matamu. Aku akan membantumu mengingat semua tentang hidupmu lagi," ucap Raisa
Tina pun menurut. Duduk bersila, memejamkan matanya, dan fokus. Raisa juga ikut bersila di hadapannya.
"Semua ingatanmu yang terkubur di sini akan perlahan-lahan masuk kembali ke dalam dirimu, tidak perlu takut atau menolaknya, terima saja dengan tenang secara perlahan-lahan. Tidak perlu cemaskan apa pun," ujar Raisa
Diam-diam Raisa kembali pada kesadarannya, rohnya juga telah kembali pada tubuhnya sendiri. Saat sadar dan membuka matanya kembali, Raisa langsung menyentuh dahi Tina. Dahi Tina yang Raisa sentuh langsung mengeluarkan sinar terang~
"Raisa, kau sudah kembali ... " seru Rumi
"Nona, kenapa Tina tidak sadar juga sepertimu?"
"Tina masih dalam proses mengingat kembali ingatannya yang hilang, dia akan sadar begitu ia mengingat sesuatu tentang dirinya. Biarkan dia dan jangan ganggu prosesnya mengingat kembali," ungkap Raisa
Begitu selesai, Raisa segera turun dari pembaringan. Tubuhnya yang tidak seimbang langsung ditopang oleh Rumi.
"Raisa, kau harus istirahat. Kau pasti kelelahan," kata Rumi
"Rumi, bisakah kau menopang tubuhku sebentar lagi? Aku ingin menunggu Tina membuka matanya dan memastikannya sadar, baru aku akan istirahat. Tubuhku sedikit tidak bertenaga," ujar Raisa meminta.
"Baiklah. Aku akan selalu di sisimu," patuh Rumi
"Terima kasih, Rumi!" ucap Raisa
Setelah menunggu beberapa menit, Tina akhirnya sadar dan membuka matanya.
"Tina, kau baik-baik saja?" tanya Raisa
"Tina, kau ingat sesuatu? Apa kau ingat kami?"
"Kak Tino, Tika, aku sudah mulai ingat semuanya lagi. Tapi, kepalaku jadi pusing."
"Itu hal yang wajar saat mengingat kembali ingatan yang hilang. Istirahat saja, kondisimu akan pulih bersamaan ingatanmu yang kembali. Saya juga akan istirahat sebentar," ucap Raisa
"Kalau begitu, terima kasih, Nona."
"Terima kasih banyak, Nona!"
"Benar! Semua berkat Nona kami semua bisa kembali sadar dan kembali pada keluarga kami."
"Terima kasih banyak, Nona!"
Raisa tersenyum lembut.
"Kalau begitu, saya dan teman saya permisi dulu, ujar Raisa
Rumi pun membantu memapah Raisa ke suatu tempat untuk beristirahat di sana.
"Kau duduklah dulu, aku akan ambilkan mimum untukmu," kata Rumi
Raisa mengangguk.
Rumi pun pergi dan kembali membawa segelas air minum untuk Raisa.
"Raisa, minumlah ...."
"Terima kasih. Kau tahu saja aku sedang haus," ucap Raisa yang langsung meneguk habis air dalam gelas yang diberikan oleh Rumi.
"Kau pasti lelah. Beberapa hari ini kau terus menerus menggunakan tenagamu dalam jumlah banyak, hari ini kau bahkan mengeluarkan roh dari dalam tubuhmu untuk membantu seseorang. Lihat, kau sampai banyak berkeringat seperti ini!" oceh Rumi
Rumi pun membantu mengelap keringat di wajah dan leher Raisa menggunakan ujung lengan pakaiannya.
"Eh, nanti pakaianmu jadi kotor. Keringatku ini juga akan hilang dengan sendirinya, jadi biarkan saja ... " kata Raisa
Setelah semua urusan di pusat pengobatan selesai, Raisa dan teman-teman pamit untuk kembali ke panti asuhan tempat mereka menginap di Desa Bambu.
Semua orang di pusat pengobatan banyak mengucapkan terima kasih, terutama pada Raisa dan bersorak untuknya karena bantuan besar yang telah diberikannya untuk warga yang menjadi korban.
Saat hendak kembali menuju ke panti asuhan, Rumi tidak membiarkan Raisa berjalan satu langkah pun dan langsung menggendongnya (ala bride style).
.
•
Bersambung...
__ADS_1