
Pagi di keesokan harinya, saat Raisa dan Rumi beranjak menuruni anak tangga dari lantai atas rumah tempat kamar keduanya, di lantai bawah sudah ada keponakan dan kakak perempuannya yang menunggu pasangan suami istri itu untuk bergabung.
Raina, Arka, dan Farah yang menginap sebagai tamu di sana memang memilih untuk bermalam di kamar yang ada di lantai bawah semalam. Dengan alasan tidak ingin mengganggu penilik rumah, mereka bertiga seolah memberi sedikit batasan agar lebih paham situasi rumah pengantin baru. Farah pun yang biasanya selalu mengikuti di dekat Raisa dan Rumi, kini sudah bisa lebih pengertian dengan tidak mengganggu Onty dan Uncle-nya.
"Kok berdua aja? Kak Arka mana?" tanya Raisa masih sedang menuruni anak tangga bersama sambil saling bergenggaman tangan dengan sang suami.
"Maaf, nih, gak minta izin dulu. Arka udah lagi masak di dapur. Habis Kakak udah keburu merasa lapar tak tertahankan, jadi biar Arka aja yang masak," jawab Raina
"Tidak masalah. Anggap saja di rumah sendiri," kata Rumi
"Onty Icha, Uncle Rumi!" seru Farah menyapa dengan penuh riang seperti biasa sambil melambaikan tangan.
"Halo, Farah ... " balas sapa Raisa dan Rumi secara bersamaan.
Karena ingin membalas lambaian tangan keponakan perempuannya, Raisa memilih untuk melepas genggaman tangannya dengan sang suami. Namun, saat wanita itu hendak melambaikan tangannya, tiba-tiba saja pandangannya langsung menjadi gelap seketika dan bagai daun tertiup angin, Raisa seakan terhempas begitu saja terjatuh saat sedang menuruni anak tangga
Wanita cantik itu mengedipkan kedua mata untuk berusaha kembali memfokuskan pandangan, namun malah merasa sakit tak tertahankan pada kepalanya dan pendengarannya menjadi tidak stabil dan samar hingga tidak mendengar dengan jelas saat yang lain meneriaki sambil menyebut namanya.
"RAISA // ONTY ICHA!"
Pandangan Raisa secara perlahan kembali, namun masih tampak buram.
"Farah, awas! Cepat minggir atau Onty bakal jatuh menindih kamu!" teriak Raisa yang lebjh dulu mementingkan keselamatan orang lain dari pada dirinya sendiri.
"Papi! Cepat ke sini!" teriak Raina yang memanggil sang suami setelah menarik sang anak untuk mendekat ke arahnya supaya tidak tertindih sang adik yang terjatuh meski tidak menginginkan hal buruk terjadi.
Meski pun terasa sangat sulit, Raisa berusaha menggunakan kemampuan sihir miliknya agar membuat dirinya kembali berdiri dengan seimbang atau bahkan tidak terjatuh. Namun, sebelum terjadi apa pun, Rumi sudah lebih dulu bertindak. Pria itu menggunakan kemampuan sihir elastistik untuk memanjangkan lengannya hingga berhasil menangkap dan melingkari tubuh sang istri.
Untung saja saat Rumi menggunakan kemampuan sihir miliknya, yang melihat hanya mereka yang sudah tahu identitasnya sebagai ahli sihir. Hingga pria itu bisa segera mengambil tindakan menolong sang istri tanpa harus merasa khawatir akan rahasia yang seharusnya ditutupi saat di dunia itu.
Berhasil menangkap tubuh Raisa yang hampir terjatuh, Rumi pun berjalan cepat menuruni anak tangga untuk mendekat ke arah sang istri. Pria itu langsung memeluk istri tercinta dan mengembalikan wujud tangannya ke ukuran semula. Tampak Raisa yang meringis merasa kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Raisa // Onty Icha!"
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Rumi yang merasa cemas.
"Sepertinya aku baik-baik saja," jawab Raisa
"Kalau bilang sepertinya, itu artinya kamu gak baik-baik aja," ujar Raina yang ikut merasa cemas.
"Aku gak apa-apa kok, Kak," elak Raisa
"Onty, jangan bohong. Kalau emang ada sesuatu yang terasa, bilang aja yang benar," ucap Farah
"Jangan khawatir karena itu gak baik untuk psikis Farah dan calon dedek bayi yang ada di dalam perut Kak Raina. Aku cuma pusing sedikit aja kok," ujar Raisa sambil berusaha untuk tetap tersenyum meski sebenarnya sulit.
"Aduh ... kamu khawatir aja dulu sama diri kamu sendiri, gak usah malah khawatir sama orang lain. Rumi, tolong bawa Raisa untuk duduk dulu," pinta Raina
Rumi mengangguk dengan cepat. Pria itu langsung nenggendong Raisa ala bridal style ke arah sofa untuk duduk di sana.
"Katakan dengan jujur, yang lain juga nengerti dengan keadaanmu, tapi tetap merasa khawatir. Sebenarnya, ada apa denganmu? Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Rumi
"Sebenarnya, tadi tiba-tiba saja pandanganku jadi gelap dan pendengaranku jadi tidak jelas, sampai saat ini pun pandanganku masih saja buram meski tidak lagi gelap. Entah kenapa, aku juga baru pertama kali seperti ini. Padahal sampai bangun tidur tadi juga masih baik-baik saja," ungkap Raisa
Saat itu, barulah Arka tiba-tiba datang dari arah dapur.
"Mih, ada apa, sih? Tadi kamu panggil aku, ya?" tanya Arka
"Tadinya aku mau minta bantuan, tapi kamu telat datang. Tadi Raisa hampir jatuh pingsan," ungkap Eaina
"Kok bisa seperti itu?" tanya Arka lagi.
"Bisa ajalah, Pih," sahut Farah
"Raisa, lebih baik kamu pergi ke rumah sakit untuk periksa," ucap Raina
"Gak perlu sampai ke rumaah sakit segala. Aku cuma sedikit pusing kok, mungkin aku cuma masuk angin," tolak Raisa
"Kalau hanya masuk angin biasa, tidak mungkin kau hampir jatuh pingsan seperti tadi. Benar kata Kak Raina, kau harus pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan," ujar Rumi
"Aku hanya perlu istirahat sebentar, nanti juga kembali pulih kok," kata Raisa yang kembali menolak.
"Sayang, jangan menolak dan patuhlah," pinta Rumi
Melihat yang lain menatapnya dengan raut wajah cemas, Raisa jadi merasa tidak tega. Namun, ia sendiri merasa enggan jika harus pergi ke rumah sakit.
"Baiklah, aku akan menurut dengan patuh. Tapi, apa boleh pergi ke rumah sakitnya nanti saja? Aku ingin makan lebih dulu karena aku pun sudah merasa lapar," ujar Raisa sambil menunjukkan cengiran manis khasnya.
"Benar juga. Yang paling penting adalah mengisi perut yang kosong. Tapi, apa kau masih sanggup menahan? Bukankah kepalamu terasa sakit?" tanya Rumi
"Aku bisa tahan kok, ini cuma sedikit pusing. Lagi pula, kalau memang benar aku masuk anhin, justru aku harus makan. Kalau tidak, saat diperiksa dokter nanti dan ketahuan perutku kosong, yang ada akan kena omel," jawab Raisa
__ADS_1
"Ya udah, kita makan dulu aja. Kebetulan Arka juga udah masak," kata Raina
"Omong-omong, Kak Arka, masak apa?" tanya Raisa
"Aku masak martabak mie karena Raina mau makan itu. Sama ada sosis goreng juga," jawab Arka
"Wah ... enak, tuh. Udah lama aku gak makan martabak mie," kata Raisa
Martabak mie adalah mie yang sudah lebih dulu direbus, lalu digoreng bersama dan dicampur dengan telur. Dan setelah matang, maka akan dipotong menjadi beberapa bagian.
"Ya udah, ayo kita makan dulu. Udah aku siapin di meja makan masakannya tadi," ujar Arka
"Sayang, apa aku harus menggendongmu lagi?" tanya Rumi
"Tidak perlu. Hanya ke meja makan, kau papah saja tubuhku," jawab Raisa
Namun, nyatanya Rumi malah langsung menggendong tubuh sang istri ala bridal style lagi untuk beralih menuju ke meja makan.
"Biar kugendong saja supaya lebih cepat," kata Rumi
"Kalau kau mau memutuskannya sendiri, lalu buat apa bertanya lagi padaku. Dasar ... malu, tahu ... " gumam pelan Raisa
"Kau tidak perlu merasa malu, Sayang," sahut Rumi
Memang benar. Niat Raisa menolak sebenarnya hanya karena malu karena saat ini di rumah itu tidak hanya ada pasangan suami istri itu berdua saja, terlebih lagi ada Farah yang masih kecil.
Raisa merasa malu saat anak kecil saja bisa berjalan sendiri, tapi dirinya malah digendong. Padahal nyatanya tidak ada yang peduli akan hal itu karena saat ini Raisa sedang tidak enak badan.
Mereka semua pun beralih menuju ke meja makan. Rumi pun mendudukkan sang istri di salah satu kursi meja makan.
Para perempuan pun hanya diam dan para pria yang bergerak melayani sarapan pagi itu.
Rumi juga tak lupa menyendokkan makanan, nasi dan lauk, ke atas piring yang diberikan untuk Raisa.
"Ayo, makan yang banyak," kata Rumi
"Baiklah, tapi jangan terlalu banyak," sahut Raisa
Akhirnya mereka pun makan bersama.
"Terima kasih buat makanannya, Kak. Maaf, harusnya kami sebagai pemilik rumah yang melayani tamu dengan baik, tapi ini malah sebaliknya," ucap Raisa
"Rumi bilang sendiri, anggap aja seperti rumah sendiri. Atau sebenarnya kalian merasa keberatan karena kami mengacak-acak seisi rumah ini, ya?" tanya Raina
"Gak kok, Kak. Maksudnya bukan seperti itu," jawab Raisa
Rumi merasa senang saat melihat sang istri makan dengan lahap.
"Yang lain, udah selesai makannya? Itu martabak mienya masih ada satu potong lagi, boleh buat aku gak? Farah, masih mau martabak mienya gak, Sayang?" tanya Raisa
"Gak, Onty. Aku udah kenyang. Itu buat Onty aja," jawab Farah
"Ya udah, ambil aja martabak mienya, buat kamu. Dari dulu, kan, kamu emang selalu kurang puas kalau cuma makan satu potong martabak mie. Pasti selalu minta tambah," ujar Raina
"Terima kasih," ucap Raisa yang langsung mengambil alih satu potong martabak mie yang tersisa untuk dimakan.
"Nah, seperti ini dong. Aku senang melihatmu makan dengan lahap yang banyak," kata Rumi
"Makanya, aku bilang, aku baik-baik saja. Kalau seperti ini, aku tidak perlu pergi ke rumah sakit untuk periksa, kan?" tanya Raisa
"Tidak, tetap harus pergi ke rumah sakit. Kau tidak boleh menolak atau membantah," jawab Rumi
Raisa pun menghela nafasnya. Wanita itu telah gagal saat mencoba menolak.
"Baiklah, tapi aku mau minum susu dulu. Tolong ambilkan susu kemasan kotak di lemari es dong, Sayang," pinta Raisa
"Masih pagi seperti ini kau jangan minum susu dingin. Bagaimana kalau aku buatkan susu seduh hangat saja untukmu?" tanya Rumi
"Baiklah. Tolong, ya," jawab Raisa
"Tunggu sebentar," kata Rumi
Rumi pun langsung beralih bangkit. Setelah membereskan bekas alat makan yang telah terpakai, pria itu pun menyeduhkan susu hangat untuk sang istri.
Tak butuh waktu lama, Rumi pun kembali dengan membawakan segelas susu hangat untuk sang istri.
"Ini, minumlah susunya ... " kata Rumi sambil memberikan segelas susu hangat buatannya pada sang istri.
"Terima kasih," ucap Raisa yang langsung menerima segelas susu hangat dari sang suami.
Raisa pun langsung menenggak susu hangat tersebut. Namun, wanita itu tidak menghabiskan susunya. Mungkin karena sudah merasa kenyang.
__ADS_1
"Sayang, aku sudah kenyang. Tapi, aku ingin nelihatmu yang menghabiskan susunya. Maukah kau meminum susunya untukku kali ini saja?" tanya Raisa meminta.
"Baiklah," kata Rumi yang langsung mengambil alih meminum susu yang sudah kurang dari setengah gelas itu hingga tandas.
"Bagaimana? Apa masih kurang? Kalau iya, kau bisa buat lagi sendiri," ujar Raisa sambil terkekeh pelan.
"Tidak, ini sudah cukup," sahut Rumi
"Omong-omong, Kak Raina ... apa saja yang harus disiapkan sebelum pergi ke rumah sakit?" tanya Rumi yang beralih bicara pada sang kakak ipar.
"Kita hanya pergi untuk periksa. Kalau begitu, siapkan aja dompet dan HP. Bawa aja tas yang sering Raisa pakai. Lalu, kalau mau bawa makanan seperti camilan juga boleh," jelas Raina
"Tidak perlu bawa camilan. Kalau mau makan sesuatu, di rumah sakit juga bisa beli. Tapi, tolong ambilkan masker dan kacamata hitam milikku," kata Raisa
"Benar, tuh. Onty Icha itu artis terkenal, jadi wajahnya harus tersembunyi. Kalau gak, sampai di rumah sakit nanti bakal dikerumunin banyak orang," ucap Farah
"Baiklah. Kalau begitu, aku siapkan dulu," ujar Rumi
Rumi pun kembali beralih untuk menyiapkan keperluan sebelum pergi ke rumah sakit. Saat kembali, pria itu melihat sang istri sudah sedang berdiri dan berjalan sambil berpegangan tangan dengan gadis kecil keponakan perempuannya.
"Sayang, hati-hati. Jangan sampai terjatuh," kata Rumi
"Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah lebih baik setelah makan tadi," sahut Raisa
"Meski begitu, kau harus tetap pergi ke rumah sakit untuk periksa," ujar Rumi
"Ya, aku mengerti," kata Raisa
"Udah siap pergi ke rumah sakit? Kalau begitu, aku panasin mobil dulu," ujar Arka
Setelah itu, Raisa pun pergi menuju ke rumah sakit bersama sang suami dan diantarkan oleh kakak dan kakak iparnya serta keponakan perempuannya yang juga ikut serta dengan menaiki mobil milik keluarga sang kakak.
Saat tiba di rumah sakit, Raisa turun dari mobil dengan mengenakan masker dan kacamata hitam untuk menyamarkan penampilan wajahnya.
"Bukannya itu Rumi, suaminya Raisa?"
"Kalau begitu, yang pakai masker dan kacamata hitam di sampingnya itu Raisa dong?"
"Itu Raisa sama Rumi datang ke rumah sakit."
Orang-orang yang sadar dan melihatnya langsung memotret Raisa dan Rumi dari kejauhan secara diam-diam.
"Aku rasa percuma saja jika aku menyembunyikan wajahku, sedangkan kau tidak. Karena kau sama terkenalnya sepertiku, keberadaanku juga ikut terungkap jika bersama denganmu," ucap Raisa
"Tenang saja. Aku akan menjagamu agar kau tetap aman," sahut Rumi
"Aku ingin lepas masker saja. Aku merasa tidak bebas dan pengap," kata Raisa
Akhirnya, Raisa pun melepas makser. Namun, Raisa merasa bersyukur karena keberadaannya tidak menimbulkan kehebohan meski tetap ada saja yang memotretnya secara diam-diam.
"Mih, kamu bisa sekalian cek kehamilan selagi ada di rumah sakit," ucap Arka
"Dahulukan Raisa yang mau periksa dulu. Aku khawatir sama adikku. Lagi pula, bissanya aku gak periksa di rumah sakit ini dan belum waktunya cek juga, jadi nanti aja," ujar Raina
"Terserah kamu aja, deh ... " kata Arka
Mereka pun langsung menuju ke poli dokter umum untuk mendaftar dan mengantre di sana.
"Banyak banget orang yang antre," gumam Farah
"Karena ini dokter umum, Sayang. Semoga aja gak lama antrenya," kata Raisa
Begitu nomor antreannya disebutkan, Raisa pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan bersama sang suami. Sedangkan, sang kakak, kakak ipar, dan keponakan perempuannya menunggu di luar.
"Pasien punya keluhan apa?" tanya Dokter tersebut.
"Istri saya tiba-tiba saja hampir pingsan pagi ini, Dok. Biasanya tidak pernah seperti itu. Jadi, kami memutuskan untuk periksa," jelas Rumi
"Oke. Saya periksa dulu, ya."
Sambil berbaring di pembaringan, Raisa pun diperiksa oleh Dokter rumah sakit.
"Sepertinya Ibu Raisa salah memilih poliklinik tujuan hari ini. Harusnya Anda berdua pergi ke poli kandungan."
Raisa dan Rumi pun terkejut saat mendengar penuturan dari Dokter.
.
•
Bersambung.
__ADS_1