
•••
Sudah dua bulan sejak Raisa kembali melakukan aktivitas belajarnya di sekolah...
Raisa memang memiliki pribadi yang giat dan rajin belajar. Dirinya kini telah disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan di lingkungan hidupnya yang asli, termasuk juga kegiatannya belajar di sekolah.
Belajar, mengerjakan tugas seperti Pekerjaan Rumah ataupun kerja kelompok itu sudah seperti konsumsi pokok bagi Raisa yang menjadi titik tumpu dan memenuhi pikirannya sekarang.
Kesibukannya itu sudah menjadi-jadi sekarang karena ia sudah berada di tingkat kelas akhir di tingkatan sekolahnya. Di kelas 12 ini, Raisa benar-benar disibukkan dengan persiapan ujian kelulusannya di semester kedua nanti.
Di aktivitasnya yang cukup memusingkan ini, Raisa sangat merasa lega di saat-saat waktu jam istirahat.
Raisa dapat mengalihkan pikirannya pada hal lain yang menyegarkan selain rumus-rumus yang rumit ataupun hafalan yang sulit. Mengistirahatkan otaknya sejenak dan merentangkan otot-ototnya yang juga ikut menegang akibat berpikir dengan keras.
Di kantin sekolah, Raisa kembali berkumpul dengan kedua sahabatnya. Maura dan Nilam...
Mereka bertiga duduk di tempat duduk di meja yang sama. Sambil menyantap masing-masing makanan favorit yang tersedia di kantin tersebut, mereka mengobrol ringan dengan santai bersama. Di sela-sela obrolan mereka, mereka pun tertawa kecil dengan bahagia karena gurauan yang saling mereka lontarkan.
Di tengah kebahagiaan yang sederhana itu, Raisa terdiam dalam lamunan...
Sebuah ingatan terlintas dalam pikiran Raisa membuatnya merenung diam.
Momen kebahagiaan lain yang pernah ia lewati dan rasakan kembali terlintas di benaknya.
Kebahagiaan yang tengah ia rasakan, tiba-tiba digantikan dengan rasa rindu yang memenuhi dada.
Raisa menghela napas pelan untuk meredakan sesak di dada karena kerinduan yang membuncah...
Raisa pun mengeluarkan ponselnya dari saku di bagian dada seragamnya. Membuka kunci ponselnya dan beralih pada deretan menu yang terdapat di dalamnya. Lalu membuka Menu 'Berkas File', meng-klik file 'Gambar', kemudian membuka momen gambar yang ia kunci di dalamnya.
Raisa pun mengetik satu kalimat yang menjadi password untuk membuka kumpulan gambar tersebut.
Ke-delapan huruf dalam satu kalimat kunci untuk membuka.
[********]
Selesai!
Di dalamnya, Raisa melihat-lihat dan memperhatikan banyak potret gambar. Senyumnya kembali mengembang~
Kebahagiaan yang ia rasakan saat mengambil foto-foto itu kembali merekah di dalam hatinya...
Gerakan tangannya memelan saat melihat beberapa foto. Dan kemudian terhenti saat melihat foto yang paling disukainya dalam momen gambar tersebut.
Gambar-gambar itu adalah potret momen kebersamaan bersama teman-teman dunia lainnya. Raisa benar-benar bahagia saat mengalami momen tersebut di dunia lain di dimensi yang berbeda. Dan kini, kebahagian itu kembali ia rasakan di dalam hatinya. Kejadian membahagiakan itu kembali terlintas di benaknya.
Raisa memperbesar gambar foto yang menampilkan sosok dirinya berada tepat di samping seorang yang paling ia rindukan di antara ke-dua belas orang lainnya.
Raisa kembali mengingat kejadian di mana hari pengambilan gambar foto tersebut. Ia kembali merasakan debaran di dadanya meningkat saat mengingat sosok lelaki tersebut berada tepat di sampingnya. Di sisinya!
Blussh~
Pipi Raisa perlahan merona merah saat mengingat dirinya dan sosok itu pernah saling menoleh, menatap, dan bahkan mata mereka saling bertemu dan terkunci pandangannya satu sama lain...
BOM!!~
Rona merah di kedua pipi Raisa kini menyebar ke seluruh wajah sampai di kedua telinganya...
Wajahnya hampir saja meledak! Detak jantungnya pun sama~
Raisa membali membayangkan kejadian di mana dirinya dan lelaki itu hanya berdua di dalam suatu ruangan dan melakukan...
Raisa menyentuh bibirnya•••
Lalu, ia menggeleng pelan demi mengusir bayang-bayang kejadian saat itu...
...'Berhenti membayangkan hal yang enggak-enggak, Raisa! Yang kamu rindukan bukan hanya dia! Tapi, semuanya... Ya! Bukan hanya Rumi... Tapi, yang lainnya juga!' Batin Raisa...
Huft~
"Raisa, kamu kenapa? Kok tiba-tiba diem gitu aja? Mukanu merah banget, Raisa! Kamu kepedesan?!" Tanya Maura yang khawatir dengan temannya yang tiba-tiba saja terdiam.
Raisa tersentak!
__ADS_1
Ia terkejut saat mendengar suara temannya yang melontarkan banyak pertanyaan. Dengan cepat, Raisa pun menarik tangannya yang memegang ponsel dan menyembunyikannya.
"Ah, aku gapapa kok. Ga lagi kepedasan juga. Aku kan ga terlalu suka pedas, mana mungkin sampe kepedasan. Emangnya mukaku merah banget ya?" Ujar Raisa kembali bertanya.
"Iya, merah banget tauk!" Kata Maura
Satu teman Raisa lainnya, Nilam, menatap Raisa dengan tatapan yang menyelidik. Bahkan Raisa pun sampai bergidik ngeri mendapat tatapan tajam dari temannya itu.
"Apa yang lagi kamu umpetin itu, Raisa? Coba liat!" Selidik Nilam
"Apaan sih?! Enggak ada kok. Kamu ngapain natap aku sampe begitu banget sih?" Elak Raisa merasa risih dengan tatapan mata Nilam.
"Coba, aku liat, sini! Itu... HP kamu!?" Kata Nilam yang sedikit memaksa saat melihat ponsel Raisa dan gelagat mencurigakan pemiliknya.
"Iya, ini HPku. Cuma HP doang, ga ada yang perlu dilihat..." Raisa kembali mengelak dan lebih menyembunyikan ponselnya lagi agar tak dapat direbut oleh temannya yang sudah kerasukan rasa penasaran itu...
"Aku tau... Sadar banget muka kamu merah pas lagi liat HP itu. Kamu liatin apa sih sampe segitunya? Kamu juga jadi ga fokus sama apa yang lagi kita omongin! Hayoo, kamu lagi liat apa?" Ucap Nilam
"Oh ya? Begitu? Emang kamu lagi liat apa sih, Sa? Kamu liat sesuatu yang aneh-aneh atau macem-macem gitu ya? Ih, coba liat!" Ujar Maura yang sudah tertular rasa penasaran.
Maura dan Nilam pun mencoba meraih dan merebut ponsel Raisa dati pemiliknya demi melihat apa yang sedang dilihat Sang Empunya itu...
Dan, Raisa pun terus mengelakkan tangannya yang memegang ponsel dari raihan tangan kedua sahabatnya itu~
"Ga ada apa-apa kok! Ga ada hal-hal aneh atau semacamnya, aku juga ga lagi liat apa-apa... Beneran deh! Lagi, kalian kok kepo banget sih!?" Sangkal Raisa beralasan...
Raisa pun kembali mengunci ponselnya agar tetap aman. Yang kemudian berhasil direbut oleh sahabatnya, Nilam...
"Ih, dikunci... Raisa, curang! Jelas-jelas tadi aku liat foto! Kamu lagi liat foto apa, siapa? Kenapa disembunyiin dari kita?!" Ucap Nilam dengan kesalnya.
"Foto... Kamu punya pacar ya, Raisa? Siapa? Kok ga bilang-bilang? Ga pernah cerita sama kita?" Tanya Maura, menyelidik.
"Ngawur! Siapa juga yang punya pacar, coba!? Aku, mana ada..." Ujar Raisa
"Atau ada cowok yang lagi kamu suka? Apa lagi, coba! Yang bikin muka kamu merah banget kayak kepiting rebus kalo bukan perihal pujaan hati... Ayo, coba jujur!" Desak Nilam
"Ga ada... Beneran deh, ga bohong!" Kata Raisa
"Raisa, mah... Ga seru, ah! Main rahasia-rahasiaan!" Ambek Maura
"Ulu-uluh... Udah, jangan ngambek gitu, ah! Manisnya hilang~ Ayo, makan lagi. Habisin! Bentar lagi udah bel masuk kelas." Bujuk Raisa
"Fix! Tadi itu pasti foto cowok... Raisa punya cem-ceman!" Kata Nilam, berkata pasti. Seolah dapat menebak pribadi Raisa.
•••
Di sisi dunia lain...
Terdapat segerombolan remaja yang berkumpul melepas lelah dari kesibukan aktivitas mereka.
Beberapa dari mereka ada yang terdiam dalam lamunan, ada yang menghela nafas panjang, ada yang melakukan gerakan kecil sederhana untuk mengusir kebosanan, dan salah satunya sibuk mengemil dan memasukkan potongan tipis keripik kentang kemasan ke dalam mulutnya.
"Kita semua sedang apa sih sekarang? Kenapa semua diam saja? Lalu, untuk apa kita berkumpul seperti ini? Merepotkan saja!" Gerutunya yang merasa bosan karena tak melakukan apa-apa.
"Padahal kita semua sedang berkumpul... Dan biasanya kalau saat seperti ini pasti ada hal seru atau mengasyikan yang kita lakukan. Entah kenapa saat ramai, malah merasa hampa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Akh~ Kenapa saat hari-hari seperti ini tidak ada tugas yang harus dilakukan, sih!?!" Oceh lainnya
"Aku tidak tau apa kalian juga merasakan hal yang sama... Saat seperti ini, aku malah merindukan Raisa. Huhu..." Ucapnya, seorang gadis yang berusaha menahan tangisnya akibat merindu~
"Sudahlah, Amy... Kalau kau sampai menangis, yang ada kau makin merusak suasana yang membosankan ini." Ujarnya pada teman satu timnya, Amy. Ya, dia adalah Wanda.
"Memangnya, siapa sih Raisa itu?" Tanyanya yang tidak tau siapa sosok yang disebutkan namanya oleh teman satu timnya. Dia adalah Sandra. Satu-satunya orang yang tidak tau menahu saat seorang itu datang berkunjung ke desa karena sedang pulang ke kampung halamannya di desa negara lain.
Mereka semua adalah teman dunia lain Raisa.
Morgan, Aqila, Rumi. Devan, Ian, Chilla. Billy, Dennis, Marcel. Amy, Wanda, Sanari. Ditambah Sandra yang telah lama kembali dari kampung halamannya.
Mereka semua sedang berkumpul saat tidak ada aktivitas yang menyibukkan mereka. Bebas adalah kata yang tepat saat hari ini...
"Bukankah sudah pernah kami ceritakan padamu tentang Raisa yang pernah datang ke desa kita?" Ujarnya, seorang Gadis bernama Aqila.
"Kalian memang pernah menceritakannya. Tapi, aku tidak benar-benar tau siapa dan bagaimana orang yang kaliam sebutkan itu. Lagi pula, sebagus, sepenting, atau sehebat apa sih gadis bernama Raisa itu sampai kalian semua lesu tak bertenaga seperti ini?" Ucap Sandra
"Kau memang tidak tau! Tapi, Raisa telah banyak berjasa di desa ini, tau... Ingatlah saja hal itu!" Kata Chilla sembari asik memakan makanan favoritnya.
__ADS_1
"Kalau menurut yang kalian ceritakan, pasti Raisa itu sangat hebat! Aku jadi penasaran ingin melihat seperti apa kemampuannya... Akan kuajak bertarung nanti jika ia datang kembali ke sini!" Ungkap Sandra
"HIIYYY!!~ Jangan! Akan berbahaya jika kau memutuskan tekad untuk melakukan pertarungan. Desa bisa menjadi kacau!" Amy sampai bergidik ngeri membayangkan kekuatan Sandra yang menggunakan senjatanya.
"Huh! Walaupun desa sampai hancur pun, kurasa Raisa akan tetap berdiri dengan tegak jika berterung denganmu, Sandra." Yakin Wanda
"Jika kau berkata begitu, aku jadi semakin menantikannya." Kata Sandra
"Lagi pun, aku heran kenapa Raisa bisa sangat memberi pengaruh pada kita semua. Apa yang telah dilakukannya saat kepergiannya kali itu? Apa dia sempat menanamkan sihir ilusi pada kita semua sampai memikirkannya terus seperti ini." Tutur Ian dengan sebalnya karena terus memikirkan Raisa.
"Bahkan Ian yang bermulut pedas dan berlidah tajam pun mengakuinya. Aku akui, aku pun memikirkannya." Kata Billy
"Hei, bukankah kau sama saja srpertiku!?" Kesal Ian
"Walaupun aku sering bersikap cuek. Tapi, lidahku tidak setajam punyamu, tau!" Ungkap Billy
"Sampai Ian dan Billy pun mengakui hal yang sama. Raisa ini benar-benar orang yang merepotkan!" Ucap Devan
"Mulutmu berkata dia merepotkan. Tapi, kau juga memikirkannya kan, Devan?" Tanya Morgan meledek.
"Kau pun sama kan, Morgan? Jadi, diamlah saja!" Kata Devan
"Aku juga sama memikirkan Raisa." Ujar Dennis
"Aku juga merindukannya." Kata Marcel
"Yang benar-benar diam di sini adalah Rumi dan Ketua Kelas. Kalian ini kenapa? Sedang memikirkan Raisa juga?" Tanya Morgan
"Ya, aku memikirkannya. Teringat kembali saat dia menginap selama beberapa hari di rumahku. Dia sangat baik dan ramah. Aku menyukai pribadinya. Dia bahkan meninggalkansebagian uangnya padaku. Katanya, untuk balasan karena membolehkannya menginap di rumahku. Walau aku menolak, dia tetap memaksaku. Aku bahkan tak bisa memakai uang pemberiannya dan terus menyimpan uang itu. Kuanggap uang itu, dia hanya menitipkannya padaku. Akan kukembalikan saat dia datang lagi ke sini." Ungkap Sanari yang dipanggil Ketua Kelas oleh Morgan.
"Padahal, kalau mendengar ada yang punya uang lebih, aku ingin sekali minta ditraktir makan oleh orang itu. Tapi, kali ini bahkan aku tidak tega melakukannya untuk memintainya." Ucap Chilla
"Kalau, kau, Rumi... Apa yang sedang kau pikirkan sampai membuatmu terus terdiam? Ya, walaupun kau memang bukan pribadi yang terbuka juga sih..." Ujar Aqila
"Sepertinya... Aku pun juga merindukan Raisa." Jujur Rumi
"Hoho... Ada apa denganmu, Rumi? Ekspresi itu...?" Tanya Morgan yang merasa aneh dengan ekspresi Rumi saat mendengar pengakuannya yang juga merindukan Raisa.
"Kenapa memang? Aku telah mengungkapkan maksudku..." Kata Rumi yang bingung sendiri dengan respon Morgan Sang Mataharinya itu...
"Iya juga sih..." Kata Morgan yang kalah telak. Ia benar-benar tak bisa menebak isi hati atau pikiran sahabatnya yang satu ini.
Setelah yang mereka lakukan hanya asik mengobrol...
Satu persatu dari mereka pun bubar. Melenggang melangkah menjauh dari tempat berkumpul mereka semula.
Hanya tinggal menyisakan Sanari dan Rumi yang masih sama-sama terdiam di tempat dan tak melakukan pergerakan yang berarti.
"Rumi, saat hari pertama Raisa datang untuk menginap di rumahku. Raisa sempat melihat-lihat isi kamarku dan mengatakan sesuatu..." Ujar Sanari
"Memangnya apa yang dikatakannya?" Tanya Rumi yang sempat bingung mengapa Sanari membicarakan ini padanya. Tapi, ia lebih merasa penasaran apa yang Raisa katakan.
"Dia melihat boneka ular pemberianmu dan bilang menyukainya. Katanya, itu lucu dan menggemaskan... Kubilang, dia bisa memilikinya jika menginginkannya. Tapi, Raisa menolak mengambilnya karena katanya itu pemberianmu untukku. Itu milikku dan dia tidak berhak mengambil dan memiliki yang milik orang lain dan bukan miliknya." Ungkap Sanari
"Dia berkata begitu...?" Gumam Rumi terlihat seperti berpikir.
"Maksudku memberitaumu, kau kan yang memberikan boneka itu. Kau pasti tau cara mendapatkannya, entah itu beli atau kau membuatnya sendiri. Raisa sepertinya sangat menginginkan boneka itu... Ini sih terserahmu saja. Tapi, kalau boleh aku menyarankan... Jika bisa, kau berikanlah apa yang Raisa inginkan itu." Ucap Sanari
"Terima kasih telah memberitauku..." Kata Rumi
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin Raisa merasa senang saat dia berada di sini waktu berkunjung lagi nanti." Ujar Sanari
"Aku mengerti." Paham Rumi
.
.
.
•
Bersambung...
__ADS_1