Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 110 - Siang yang Panas.


__ADS_3

Setelah Farah benar-benar terlelap, Raisa pun berhenti bernyanyi.


Tanpa menatap ke arah Rumi dan tak membiarkan suaminya itu bicara padanya, Raisa pun beranjak turun dari atas ranjang secara perlahan agar tidak membangunkan Farah yang tertidur. Rumi pun dengan cepat mengikuti sang istri. Saat Raisa melangkah ke luar dari kamar tersebut, Rumi pun langsung mengekorinya.


"Raisa, Rumi, Farah udah tidur?" tanya Raina


"Udah, Kak," jawab Raisa sambil mengangguk kecil.


Saat itu mereka menyadari adanya suara bising dari luar kediaman.


"Itu suara apa, ya?" tanya Raisa


"Kami juga gak tahu. Kan, dari tadi kami berdua terus menunggu di sini," jawab Arka


"Ya. Semoga aja gak membangunkan Farah yang udah tidur," kata Raina


"Terima kasih, ya, Raisa, Rumi ... udah menemani Farah sampai dia tidur," sambung Raina


"Terima kasih dan maaf merepotkan," ucap Arka


"Sama-sama, Kak. Gak repot kok," balas Raisa


"Kalau begitu, aku mau lihat ke luar dulu," sambung Raisa


"Kak Raina, Kak Arka, silakan istirahat saja bersama Farah di dalam kamar. Mohon maaf atas ketidak-nyamanan yang ada," ucap Rumi


"Gak perlu sampai segitunya. Gak apa kok. Kalau begitu, kami masuk dulu. Sekali lagi terima kasih," ujar Raina


Rumi hanya mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Lalu, ia pun mengikuti langkah Raisa yang lebih dulu pergi meninggalkannya untuk beranjak menuju ke luar kediaman. Sedangkan, Raina dan Arka melenggang bersama masuk ke dalam kamar untuk menemani Farah tidur siang.


Raisa ingin segera melihat untuk memastikan suara bising apa yang ditimbulkan dan terjadi di luar kediaman tanpa memedulikan Rumi yang memanggil namanya karena dirinya pun masih saja berpura-pura marah dengan suaminya itu.


Begitu ke luar dari kediaman, Raisa melihat para penjaga di sana malah sedang sibuk bekerja membangun sesuatu di pekarangan kosong nan luas di sana.


Di tempat itu selain hanya ada kediaman Tuan Rommy yang tampak seperti goa dari luar memang tidak ada bangunan lainnya di sekitar sana seluas mata memandang. Benar-benar hanya tanah kosong yang sangat luas dan hanya terdapat satu goa besar yang sebenarnya adalah kediaman Tuan Rommy.


Dulunya tempat itu adalah area beracun terlarang. Tempat itu sengaja diberi racun mematikan di sekelilingnya oleh Tuan Rommy yang ingin menjadikan itu sebagai tempatnya untuk menyendiri sambil meneliti banyak hal. Namun, itu dulu dan berbeda dengan yang sekarang, meski tetap menjadikan tempat itu sepi seperti dulu.


Raisa melihat ke sekeliling. Ia tidak tahu para penjaga ingin membangun apa di sana. Yang ia tahu harusnya penjaga bertugas menjaga tempat itu bukannya malah bekerja membangun sesuatu di sana. Itu membuatnya merasa heran.


Rupanya, di sana juga ada Nona Rina dan Logan yang seolah sedang mengawasi para penjaga yang bekerja di sana.


Terbalik, bukan? Nona Rina dan Logan termasuk kerabat dekat Tuan Rommy yang harusnya diawasi dan dijaga ketat oleh para penjaga di sana, bukannya malah sebaliknya.


Raisa pun berinisiatif untuk menghampiri Nona Rina dan Logan untuk bertanya.


"Bibi Rina, Kak Logan, sebenarnya ada apa ini? Para penjaga itu sedang melakukan apa? Mereka semua sedang membangun apa di sini?" tanya Raisa


"Bukankah sudah jelas? Mereka semua sedang mendirikan dekorasi untuk acara pernikahan kedua kalian berdua yang akan dilangsungkan di sini sebentar lagi. Semuanya sedang menghias tempat ini supaya tampak cantik dan tidak menakutkan lagi. Aku dan Logan sedang mengawasi mereka semua. Mereka semua mau bekerja sukarela karena Tuan Pemimpin Desa juga yang menyuruh langsung," ungkap Nona Rina


"Jadi, ini yang dimaksud Tuan Nathan untuk menikmati liburan. Karena dia sendirilah yang juga ikut menyiapkan acara ini meski mungkin hanya menyuruh saja," gumam Raisa


"Lho, memangnya Rumi tidak memberi tahukan padamu, Raisa?" tanya Logan


"Tidak," jawab Raisa dengan singkat yang lalu menoleh pada Rumi yang berada dan berdiri tepat di sampingnya.


"Kenapa kau tidak beri tahu aku apa pun soal ini?" tanya Raisa menambahkan dan beralih bertanya pada sang suami.


"Kau sendiri yang terus tidak mau bicara denganku dan selalu pergi meninggalkan aku," jawab Rumi sambil berbisik.


Raisa langsung menyenggol pelan pinggang Rumi dengan sikutnya.


"Jaga sikapmu di depan Bibi Rina dan Kak Logan," bisik Raisa yang sebenarnya takut jika Nona Rina dan Logan mendengar perkataan Rumi dan mencurigai tingkah laku mereka berdua yang sedang perang dingin.


Rumi sedikit pun tidak merasa keberatan saat Raisa menyikut pinggangnya. Karena meski sadar itu hanya menjadi peringatan untuknya, Raisa sudah mau kembali bersentuhan dengannya bahkan juga mau kembali bicara dengannya. Seperti itu saja sudah membuat Rumi merasa senang.


"Apa ada yang perlu kubantu di sini?" tanya Raisa


"Tidak perlu. Kau akan menjadi tokoh utama dalam acara ini nantinya, Raisa. Jadi, kau tidak perlu membantu apa pun dan hanya perlu menunggu dengan tenang serta persiapkan dirimu dengan baik," jawab Logan


"Ya. Kau serahkan saja pekerjaan ini pada kami semua," ujar Nona Rina


"Kak Logan, Rina ....kami tinggal dulu, ya. Ada yang ingin kubicarakan dengan Raisa," ucap Rumi


Rumi pun langsung meraih dan menarik tangan Raisa untuk menjauh dari sana. Namun, baru beberapa langkah pergi, Raisa sudah menarik tangannya kembali hingga terlepas dari Rumi.


"Ingin bicara apa ... bicara di sini saja," kata Raisa

__ADS_1


"Kau yakin ingin kita bicara di sini saja?" tanya Rumi


Raisa hanya diam tanpa menjawab.


..."Apa aku sudahi saja sandiwaranya saat ini juga?" batin Raisa...


Rumi menghela nafas pelan sebelum mulai kembali bicara.


"Raisa, sebenarnya kau kenapa terus diam denganku? Apa kau masih marah padaku? Apa kesalahanku kali ini? Apa karena aku melarangmu membantu saat piknik semalam?" tanya Rumi bertubi-tubi.


"Siapa juga yang marah denganmu? Aku ... tidak kok," ujar Raisa


"Lalu, apa maksudnya perang dingin yang kau mulai sejak semalam?" tanya Rumi lagi.


"Aku hanya ingin diam ... itu saja," kata Raisa


"Apa maksusnya itu? Jadi, kau mengerjaiku ... begitu?" tanya Rumi untuk ke sekian kalinya.


Raisa berusaha keras untuk menahan diri agar tidak tertawa bahkan tersenyum sedikit pun meski melihat wajah Rumi yang menurutnya sangat menggemaskan karena merasa bingung dibuatnya.


"Kau ini benar-benar ... kita harus bicara berdua. Hanya empat mata," kata Rumi


Rumi pun bergerak menggendong Raisa ala bridal style dan berlalu pergi dari sana begitu saja kembali ke dalam kediaman tanpa memedulikan pekikan istrinya yang memintanya untuk berhenti dan menurunkan tubuh wanita itu.


Rumi terus berjalan masuk ke dalam kediaman hendak menuju kamar. Namun, saat itu ada Tuan Garry dan Tuan Johan yang hendak ke luar dari kediaman hingga mereka pun berpapasan.


"Ada Paman Garry dan Paman Johan, turunkan aku," pinta Raisa


Rumi masih saja mengabaikan permintaan Raisa dan terus saja berjalan. Raisa pun mencoba diam saja. Namun, karena Tuan Garry dan Tuan Johan menyapa keduanya, Raisa pun meminta Rumi untuk berhenti.


"Rumi, Raisa, kalian mau ke mana? Ada apa dengan Raisa hingga harus digendong seperti itu?" tanya Tuan Garry usai menyapa.


"Rumi, berhenti dan turunkan aku ... " kata Raisa


Rumi pun menghentikan langkahnya, namun tidak menurunkan Raisa dari gendongannya.


"Aku sudah menurutimu untuk berhenti, tapi aku tidak akan menurunkan kau," tegas Rumi


"Aku baik-baik saja, Paman. Paman Garry dan Paman Johan, habis dari mana saja? Kenapa baru kelihatan sekarang?" tanya balik Raisa pada kedua Paman itu.


"Rumi, turunkan aku. Tidak sopan jika aku terus bicara seperti ini," bisik Raisa


"Tidak akan," kata Rumi


"Kalau begitu, kami mohon bantuan kalian berdua untuk menyiapkan acar penting kami nanti. Maaf, kami harus pergi. Masih ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Raisa. Permisi," sambung Rumi yang kemudian berlalu pergi begitu saja dari sana.


"Yang muda yang bercinta ... pengantin baru," gumam Tuan Johan


"Harusnya kau turunkan aku tadi. Buat malu saja," kesal Raisa


"Harusnya kau tidak perlu berhenti atau menghiraukan Garry dan Johan, jadi kau tidak perlu merasa malu," kata Rumi


"Mana bisa seperti itu? Tidak sopan," ujar Raisa


"Bisa dan biarkan saja," jawab Rumi bersikeras.


Rumi membuka pintu kamar yang memang tidak tertutup terlalu rapat dan kembali menutupnya nenggunakan kakinya yang menendang kecil.


Setelah masuk, Rumi mendudukkan Raisa di tepi ranjang. Dengan langkah cepat, pria itu mengunci pintu dan menyembunyikan kuci tersebut. Lalu, kembali mendekati sang istri.


"Jadi, katakan ... apa maksudmu mengerjaiku dengan bersikap diam padaku?" tanya Rumi dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin," jawab Raisa sambil menghindari bertatapan mata langsung dengan suaminya.


"Hanya ingin ... begitu?" tanya Rumi lagi sambil mencolek pinggang kiri Raisa yang merupakan salah satu area sensitif istrinya.


Raisa pun terjingkat kaget dan langsung melayangkan tatapan protes pada sang suami.


"Rumi, geli!" protes Raisa


"Geli, ya ... rasakan ini!" seru Rumi yang lalu menggelitik pinggang Raisa berulang kali.


Raisa hanya bisa tertawa dan berusaha menghindari tangan Rumi. Namun, suaminya itu terus mencecarnya dengan gelitikan di pinggangnya.


"Rasakanlah, ini adalah pembalasan untukmu yang terus bersikap cuek padaku," ujar Rumi


"Ampun, Rumi ... aku minta maaf," kata Raisa yang masih terus berusaha menghentikan tangan Rumi.

__ADS_1


Raisa terus tertawa keras hingga akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Rumi yang terus mencecarnya pun kini berada di atas tubuhnya dalam posisi mengukungnya dan tangan masih berada di kedua sisi pinggangnya.


"Katakan kalau kau tidak akan melakukannya lagi," tegas Rumi


"Suamiku ini pendendam, rupanya ... " kata Raisa


"Berjanjilah bahwa kau tidak akan mengulangi hal yang sama lain kali," pinta Rumi mengulang kata-katanya.


"Aku tidak bisa berjanji untuk hal ini," tolak Raisa


Rumi pun mendekatkan wajahnya ke arah wajah Raisa sambil menatap lekat-lekat istrinya. Sedangkan Raisa membalas tatapan Rumi sambil menggenggam kedua tangan suaminya itu agar tidak menggelitiknya lagi.


"Jadi, menyenangkan bagimu saat kau mengerjaiku, begitu?" tanya Rumi


"Hmm ... aku minta maaf. Kuharap ini sudah cukup," kata Raisa tanpa menjawab pertanyaan dari Rumi.


"Kalau begitu, karena kita ada sudah di sini dan Farah juga sedang tidur ... bagaimana kalau kita lanjutkan hal yang terpaksa batal kemarin?" tanya Rumi


Kini kedua tangan Rumi beralih memeluk pinggang Raisa. Raisa pun hanya bisa membiarkannya dan kedua tangan Raisa pun beralih menangkup wajah Rumi. Lalu, wanita itu mengingat kembali apa hal yang terpaksa batal kemarin. Seketika saja Raisa mengerti maksud dari keinginan Rumi.


"Jadi, maksudmu keponakanku itu terus jadi penghalang bagimu, begitu? Kau jahat sekali," ujar Raisa


"Maksudku bukan seperti itu," kata Rumi yang tidak tahu harus beralasan seperti apa.


Raisa pun tersenyum lembut.


"Jadi, kali ini adalah hukuman untukku atau-" Raisa sengaja menghentikan perkataannya karena berharap Rumi yang melanjutkannya sendiri.


Seolah mengerti maksud Raisa, Rumi pun ikut tersenyum dan menempelkan keningnya dengan kening milik istrinya itu.


"Hukuman ... tentu saja, tidak. Ini adalah bentuk cintaku untukmu," ungkap Rumi


Rumi pun langsung mendaratkan bibirnya pada bibir milik Raisa. Keduanya nenempel seolah tak ingin lepas. Raisa pun menyambutnya dengan senang hati dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Rumi.


Lidah Rumi pun mencari akses lebih untuk masuk ke dalam rongga mulut Raisa dan mengabsen seluruh isi di dalam sana. Tak lupa pula Rumi mengajak lidah Raisa untuk menari-nari bersama, saling membelit dan berbagi nafas. Ciuman itu terasa begitu memabukkan bagi dua insan itu.


Saat keduanya mulai kehabisan stok oksigen, Rumi pun melepaskan tautan pada bibir Raisa. Namun, tangannya tak tinggal diam. Satu tangan Rumi menyusup masuk ke balik atasan Raisa dan satu tangan lainnya meraba bagian bawah istrinya serta bergerak lihai melepaskan celana luar yang dikenakan sang istri hingga membuatnya mudah untuk membelai paha dan segitiga bermuda yang masih terbungkus kain kacamata segitiga.


Raisa hanya bisa melenguh tertahan begitu merasakan sensasi dari sentuhan yang diberikan Rumi padanya. Seolah membuatnya terbang melayang di awang-awang.


"Katakan dengan jujur ... kenapa kau sampai mengerjaiku dengan terus diam seperti tadi?" tanya Rumi


"Ahh ... hahh~ kau masih saja bersikeras ingin tahu dan merasa penasaran, rupanya ... " kata Raisa sambil terus mengeluarkan lenguhan dari mulutnya.


"Uuh~ mmh ... aku merasa tidak tahan dengan sikapmu yang terus berusaha romantis padaku. Sepertinya aku lebih suka kau yang dingin seperti dulu," sambung Raisa mengungkapkan.


Rumi cukup terkejut dengan jawaban dari Raisa dan sedikit tidak menyangka. Pria itu langsung menundukkan dan membenamkan kepalanya di antara bukit kembar milik Raisa yang masih terhalang pakaian itu.


"Maafkan aku jika kau tidak suka dengan perubahan sikapku ini. Aku hanya merasa tidak tahan kalau tidak mengungkapkan rasa cintaku padamu di setiap waktunya," ucap Rumi yang terdengar lirih.


..."Hei ... maksudku bukan ingin jadi seperti ini," batin Raisa...


Raisa menarik pelan satu tangan Rumi yang meski seperti itu masih saja asik bermain di area bawah miliknya.


"Kau tidak perlu selalu mengungkapkan rasa cintamu padaku di setiap waktu, cukup dengan kau yang selalu ada di sampingku dan terus menggenggam tanganku. Aku sudah merasa sangat senang ... seperti ini," ucap Raisa yang langsung menggenggam satu tangan Rumi dengan erat.


"Lagi pula, bukan aku tidak suka dengan perubahan sikapmu yang terus mengungkapkan cintamu itu. Hanya saja jantungku jadi tidak tahan, rasanya jadi berdebar tak karuan dan bisa saja lepas dari tempatnya kapan saja," sambung Raisa dengan nada suara yang sangat lembut.


Sepertinya Rumi sudah kembali bersemangat. Terbukti dengan Raisa yang merasa geli pada lehernya karena sapuan dari bibir suaminya itu.


"Jadilah dirimu sendiri karena seperti apa pun dirimu, aku akan tetap selalu sangat mencintaimu. Cukup dengan aku yang mengetahui bahwa cintamu untukku sangat besar, tapi kau tidak boleh melupakan atau tidak peduli pada hal yang lainnya. Karena baik perasaan cinta atau aku sendiri bukanlah satu-satunya yang terpenting bagimu," ucap Raisa


Rumi menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah Raisa dengan tatapan protes, namun penuh kasih sayang.


"Tidak benar. Kau adalah satu-satunya yang terpenting bagiku yang harus kupedulikan dan aku tidak akan pernah melupakan semua tentangmu. Aku akan selalu mengingat semua tentang kita," ujar Rumi


"Dan, tentu saja ... aku akan selalu jadi diriku sendiri yang selalu mencintaimu," sambung Raisa


Rumi tersenyum lembut penuh cinta. Lalu, pria itu bergerak melepaskan pakaian atas milik Raisa. Dan entah sejak kapan kini keduanya telah dalam keadaan polos tanpa balutan kain sehelai pun.


Ada Rumi yang gagah perkasa dan Raisa yang patuh penuh kelembutan. Saat itu merupakan siang hari yang panas membara bagi kedua insan yang saling berbagi cinta kasih dan mencintai satu sama lain.


.



Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2