Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
163 - Penghijauan Dan Bulan Tiruan.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Di pagi hari, beberapa warga membawa seorang pemuda ke tempat tersembunyi di bawah tanah. Dengan tali yang kengikat kedua tangannya, pemuda itu diserahkan pada Raisa dan teman-teman.


"Setelah berjaga semalaman, tidak ada orang mencurigakan lainnya, hanya ada dia! Dia adalah anak tunggal Tuan Philip, jadi kami bawa dia ke sini."


"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-Tuan sekalian," ucap Chilla


"Sama-sama. Kalau begitu, kami kembali berjaga dulu. Permisi ...."


"Tolong, ikat lelaki ini bersama yang lain," pinta Aqila


"Baiklah," patuh Morgan


Bersama Rumi, Morgan pun mengikat tubuh pemuda itu seperti para pelaku lainnya.


Beberapa warga yang menyerahkan pemuda itu pun pergi. Sedangkan pemuda yang ditangkap dan ditahannya hanya berdiam diri tanpa penolakan walau diperlakukan seperti apa pun.


"Katanya, kau anak Tuan Philip. Kenapa kau hanya diam saja?" tanya Raisa


Lelaki itu mengangkat pandangannya dan menatap Raisa.


"Kau ... Sang Dewi!" serunya


Sedikit terkejut, Raisa bingung dengan respon lelaki di hadapannya. Ia terlalu pasrah dan seperti mengenali sosok Raiaa yang disebut Dewi oleh para roh dan monster penghuni hutan.


"Siapa namamu?" tanya Raisa


"Petra," singkatnya menjawab.


"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya, Petra," ujar Raisa


"Bukankah kau ingin ini semua cepat berakhir? Aku pun sama! Maka, aku akan bekerja sama denganmu dengan baik," ucapnya


"Apa kau tidak tahu kalau Ayahmu melakukan kejahatan? Apa yang kau pikirkan dan harapkan dari seorang Ayah sepertinya?" tanya Raisa


"Terserah kau mau melakukan apa saja, asalkan itu yang menurutmu baik," katanya


"Ya, baiklah. Sepertinya kau tidak terlalu peduli. Aku berharap baik padamu, semoga kau tidak sama seperti Ayahmu," ucap Raisa yang berlalu meninggalkannya.


Pagi hari menjelang siang, pasukan polisi yang dibawa Paman Aiden pun tiba di Desa Daun. Para warga menunjukkan tempat para pelaku kejahatan ditahan, yaitu ke tempat tersembunyi di bawah tanah di kediaman Philip.


"Jadi, mereka semua pelaku yang menyebabkan kerusakan hutan dan bencana di desa? Hanya mereka saja?" tanya Paman Aiden


Ian mengangguk cepat.


"Kami hanya menemukan mereka di kediaman besar ini. Jika ada orang yang dicurigai sebagai pelaku lainnya, akan kami tangkap nanti," ucap Raisa


"Apa kalian tidak ingin kembali ke Desa Daun bersama kami yang akan menahan semua pelalu ini?" tanya Paman Aiden


"Masih ada tugas lainnya yang harus kami lakukan di desa ini. Kami akan kembali nanti," jawab Raisa


"Baiklah. Selesaikan misi kaliaan di sini dan segeralah kembali," kata Paman Aiden


Raisa mengangguk.


"Oh, iya, Paman! Menurutmu, semua hasil rampasan hutan yang ada di tempat ini harus kami apakan?" tanya Raisa


"Semuanya ... dibagikan saja untuk para warga di sini, utamakan untuk yang membutuhkan. Karena memang sudah tidak bisa dikembalikan ke hutan, maka guhakan saja sebaik mungkin. Dan yang bisa dikembalikan, maka kembalikan seperti para hewan," jawab Paman Aiden


"Kau benar. Terima kasih, Paman! Mohon bantuannya juga untuk para pelaku di sini," ucap Raisa


"Sama-sama. Kalau begitu, sku dan pasukanku akan langsung kembali ke Desa Daun untuk menahan semua pelaku ini," ujar Paman Aiden


"Ian, terus berhati-hatilah selama di sini. Kau dan teman-temanmu yang lain harus saling melibdungi satu sama lain," pesan Paman Aiden


"Ya. Aku mengerti, Ayah!" kata Ian


Setelah semua pasukan siap membawa semua pelaku kejahatan, mereka semua dan Paman Aiden pun kembali menuju ke Desa Daun.


"Ya! Semuanya, bersiap-siaplah! Kita masih ada tugas hari ini! Ke luarkan semua gulungan kertas sihir yang kalian punya, simpan semua barang di sini ke dalam gulungan kertas sihir! Bagikan menjadi dua kelompok!


Pertama, yang akan kita kembalikan ke hutan, aku yang akan menyimpinnya ke dalam ruang penyimpanan sihirku, yaitu para hewan dan benih-benih tumbuhan dan tunas-tunas yang bisa kita gunakan untuk ditanam kembali untuk penghijauan hutan. Kedua, yaitu sisanya kalian yang akan simpan ke dalam gulungan kertas sihir, semua akan kita bagikan pada para warga di desa. Apa kalian punya gulungan kertas sihir yang cukup untuk ini semua? Kalau tidak cukup mintalah bantuan para warga lagi untuk membawanya. Kita juga masih membutuhkan bantuan mereka untuk tugas hari ini," tutur Raisa


Semua gulungan kertas sihir yang dimiliki pun dikeluarkan.


"Baiklah, kami mengerti! Aku, Ian, dan Chilla akan menyimpan semua barang ke dalam gulungan kertas sihir. Raisa juga pasti tetap berada di sini. Jadi, Aqila, Morgan, dan Rumi yang akan memanggil dan meminta bantuan para warga," ujar Devan


"Baiklah, kami akan pergi mengumpulkan warga desa untuk meminta bantuan," kata Morgan


Aqila, Morgan, dan Rumi pun bergegas pergi meminta bantuan warga di desa.


Selang beberapa lama, ketiganya kembali dengan membawa beberapa warga yang bersedia membantu. Saat mereka tiba kembali di tempat tersembunyi di bawah tanah, semua barang dan hewan di sana sudah tersisa hanya sedikit karena yang lainnya sudah disimpan ke dalam kertas gulungan sihir dan ke dalam ruang pemyimpanan sihir Raisa.


"Para warga sekalian, kami butuh bantuannya lagi untuk melakukan penghijauan dan mengembalikan para hewan buruan ke dalam hutan. Kita akan menanam kembali tunas-tunas pohon dan benih-benih tumbuhan di pedalaman hutan. Lalu, melepas liarkan kembali hewan di sana. Semua barang lainnya dan para hewan sudah kami simpan menggunakan sihir. Sisa yang masih ada di sini, mohon bantuan kalian membawanya ke dalam hutan," ucap Raisa


"Ke pedalaman hutan? Apa tidak berbahaya? Kami memang pernah masuk ke sana, tapi hanya sampai di tepi pinggiran pedalaman hutannya saja, belum pernah sampai ke pedalaman hutan bambu yang sesunggunya."


"Semuanya, tenang saja. Para roh dan monster hutan sudah berdamai dengan kita semua, lagi pula ada kami yang akan melindungi kalian semua. Beberapa dari kami juga sudah pernah masuk ke pedalaman hutan bambu yang sesungguhnya untuk melakukan perjanjian damai dengan para roh dan monster hutan yang kami lakukan kemarin. Namun, salah satu syarat para roh hutan dan monster ingin berdamai adalah melakukan penghijauan dan mengembalikan para hewan yang telah ditangkap ke sana, jadi kami butuh bantuan kalian. Tenang saja, semuanya dijamin aman," tutur Rumi


"Baiklah, kami percaya pada kalian dan akan membantu."


Para warga pun bahu-membahu membawa barang-barang yang akan ditanam kembali ke dalam hutan.


"Ayo, kita segera masuk ke hutan bambu!" seru Aqila


Mereka semua pun berjalan menuju dan masuk ke dalam hutan bambu sampai ke pedalaman hutan. Selama perjalanan masuk hutan, walau suasana sekitar terlihat suram dan menakutkan, tidak ada roh atau monster yang menghadang jalan, hanya saja beberapa jalan memang sulit dilewati.


Hingga sampailah mereka di pedalaman hutan yang sesungguhnya.


"Suasana di dalam hutan memang menyeramkan, tapi benar-benar tidak ada tanda-tanda bahaya di sini. Sungguh melegakan!"


"Benar, semua akan aman! Jadi, ayo kita mulai menanam kembali tunas dan benih tumbuhan di sekitar sini," ucap Raisa


"AYO!!"


Mereka semua pun mulai bekerja sama menanam kembali tunas dan benih tumbuhan, melakukan penghijauan di pedalaman hutan yang sebelumnya hancur.


"Sepertinya walau kita menanam semuanya kembali, semua ini tidak cukup!"


"Ya, lalu perlukan bekas pohon yang terbakar di seliling ini kita tebang? Agar tidak mengganggu pertumbuhan tunas dan benih yang baru kita tanam kembali ...."


"Tidak perlu, jangan ditebang! Semua itu masih berguna," cegah Raisa

__ADS_1


"Apa maksudmu, Raisa? Semua pohonnya sudah mati, untuk apa juga dibiarkan terus begitu saja?" bingung Chilla bertanya.


Raisa berlutut di atas tanah pedalaman hutan tersebut. Kedua tangannya terulur menyentuh tanah.


"Aku yang akan menumbuhkan kembali semua pohonnya dengan sihirku," ungkap Raisa


Saat Raisa menggunakan sihirnya, semua pohon yang mati karena terbakar itu kembali hidup dan dedaunan tumbuh kembali~


Begitu juga tunas dan benih tumbuhan yang baru ditanam tadi, semuanya langsung tumbuh dengan subur. Walau Raisa tidak menumbuhkan semuanya sampai berbuah lebat, setidaknya semuanya akan berbuah secara alamiah nantinya.


Semua pun terperangah dan merasa takjub melihat keadaan pedalaman hutan yang semula mati menjadi kembali hidup dan hijau dengan subur. Sungguh menyegarkan mata!


"Tidak menyangka bisa melihat yang seperti ini dengan mata kepala sendiri!"


"Ya, sungguh ajaib sekali!"


"Benar juga! Raisa memiliki kemampuan sihir tetumbuhan! Tidak heran dia bisa melakukan ini semua," ungkap Rumi


"Yang tadinya suram, sekarang sangat hijau menyegarkan mata. Menakjubkan sekali," ucap Ian


"Sekarang tinggal melepaskan para hewan," kata Raisa


Raisa menggunakan sihirnya untuk membuka ruang penyimpanan sihirnya. Melepaskan semua hewan yang sebelumnya ditangkap kembali ke habitatnya semula.


Semua hewan terlihat gembira bisa kembali pada tempat tinggal mereka dan luka yang semula ada sudah sembuh dan hilang sepenuhnya.


"Apa tidak masalah kita melepas hewan-hewan yang masih kecil begitu saja? Apa tidak bisa biarkan warga merawat mereka dulu sampai tumbuh dewasa? Kasihan mereka karena sudah tidak punya orang tua ... " ujar Aqila


"Para hewan ini semuanya hewan liar, tidak baik juga dirawat oleh manusia karena mungkin bisa berbahaya. Ini tempat tinggal mereka, tidak lama juga mereka ditangkap, mereka pasti bisa hidup sendiri di sini. Lagi pula, ada roh pelindung hutan yang menjaga mereka. Mereka semua pasti baik-baik saja," jawab Raisa


"Raisa, benar! Kau tidak perlu khawatir, Aqila," kata Morgan


"Semua tugas di sini sudah selesai ... ayo, kita kembali ke desa," ujar Devan


Mereka semua pun berbalik arah untuk kembali menuju desa.


Setibanya kembali di desa, para rombongan pun berhenti.


"Kami akan melakukan sesuatu di sini! Kami butuh bantuan dari beberapa orang lagi untuk memanggil semua warga ke sini," ucap Devan


"Baik, kalau begitu kami akan memanggil semua orang ke sini!"


Beberapa warga yang sebelumnya ikut masuk ke dalam hutan pun pergi menyebar untuk memanggil para warga lainnya ke sana.


Setelah semua warga dipanggil, tempat berkumpul yang awalnya hanya tanah lapang kosong, kini terdapat banyak pasokan makan di sana. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, sampai tanaman obat. Semuanya adalah sisa hasil rampasan hutan yang sudah tidak bisa dikembalikan untuk penghijauan hutan.


Itu adalah barang-barang hasil hutan yang sebelumnya disimpan ke dalam gulungan kertas yang kini telah dikeluarkan kembali untuk dibagi-bagikan.


"Ada kabar baik, semuanya! Desa ini kini sudah bebas dari ancaman serangan para roh dan monster, Desa Bambu sudah kembali damai. Beberapa dari kami pun sudah selesai melakukan penghijauan ke dalam hutan untuk kembali menjaga kelestarian hutan, kini hutan bisa kembali tempat mata pencaharian warga tanpa khawatir adanya bahaya.


Namun, kami berpesan! Jika ingin mengambil hasil hutan untuk kebutuhan hidup, ingatlah hutan juga adalah tempat tinggal makhluk hidup lainnya. Kalian boleh mengambil hasil hutan, tapi ingatlah untuk mengambil secukupnya saja. Ambil apa yang diperlukan dan jangan sampai membuat para roh dan monster hutan marah lagi seperti perbuatan orang-orang jahat sebelumnya.


Dan yang terakhir, semua bahan pangan dan obat yang di sini adalah hasil jarahan orang-orang kediaman Philip sebelumnya. Karena semua ini sudah tidak bisa dikembalikan mau pun digunakan untuk penghijauan hutan kembali, jadi kami memutuskan untuk membagikan semuanya pada para warga di sini," tutur Raisa


"Syukurlah ...."


Para warga pun menjadi heboh karena senang akan mendapat bahan pangan dan persediaan tanaman obat.


"Semuanya dapat! Semua akan dibagikan secara rata! Harap semuanya berbaris dan mengantre untuk mengambilnya!" pekik Aqila


Semua warga pun menurut membagi kelompok menjadi tiga baris dan mengantre dengan tertib.


"Untuk yang sudah dapat, sudah bisa pulang. Tolong bantu umumkan pada yang lain yang belum mendapat pembagian untuk ikut mengantre di sini!" pekik Morgan


Semua barang hasil hutan dibagikan sampai habis tak bersisa~


...


Setelah acara pembagian barang... Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa pun kembali ke panti asuhan untuk beristirahat.


Karena sebagian besar tugas penting sudah diselesaikan, malam harinya mereka beristirahat di panti sambil bermain dengan anak-anak di sana. Berbincang, bercerita, bermain, mendongeng, bernyayi... Semuanya dilakukan bersama-sama anak-anak panti untuk menghibur mereka.


Semuanya berkumpul bersama anak-anak.


Mereka juga menceritakan tentang keseharian mereka melakukan misi di Desa Bambu tersebut.


Selesai bernyanyi dan bercerita, kini mulailah giliran anak-anak yang memberi tanggapan mereka yang beraneka ragam.


"Kak Raisa, ternyata pandai bernyanyi, ya!"


"Hobi Raisa memang bernyanyi," ungkap Chilla


"Tapi, kakak tidak sepandai itu. Suara kakak juga tidak terlalu bagus," ucap Raisa


"Dari pada bernyanyi, menurut cerita tadi... Apa Kak Raisa benar-benar seorang Dewi?"


"Ya! Apa Kak Raisa bisa terbang dan bisa punya sayap sungguhan?"


"Bisakah kakak membawa kami terbang?"


"Ya, kami juga ingin mencoba terbang!"


"Tidak bisa, anak-anak. Kalau membawa kalian semua untuk mencoba terbang, Kak Raisa bisa kelelahan. Apa lagi belakangan ini Kak Raisa sudah banyak menggunakan tenaganya untuk menyelesaikan semua masalah di desa," ujar Aqila


"Benar juga, sih ...."


"Yah, sayang sekali!"


"Padahal kami juga sangat ingin bisa terbang dan mencobanya."


Raisa menunjukkan ekspresi tidak enak dan merasa bersalah karena memang benar ia tidak bisa mengabulkan permintaan anak-anak yang ingin mencoba terbang.


"Begini, anak-anak ... dengarkan kakak! Kak Raisa bukan seorang Dewi, namun kekuatan Dewi diturunkan pada kakak, yaitu kemampuan sihir yang membuat kakak bisa punya sayap dan bisa terbang. Jadi, kakak tidak punya sayap dan bisa terbang sungguhan, itu semua hanya kemampuan sihir!


Lalu, kakak memang tidak bisa membawa kalian semua pergi untuk mencoba terbang... Tapi, sebagai gantinya kakak bisa berikan satu hadiah untuk kalian semua. Bagaimana, mau tidak?" tawar Raisa


"MAU!!"


"Tapi, kami semua ada banyak. Masa hadiahnya hanya satu? Bagaimana kalau nanti kami semua jadi berebut untuk memilikinya?"


Raisa terkekeh kecil penuh kehangatan.


"Hadiah ini sangat istimewa yang hanya bisa ada satu seperti aslinya. Walau hadiah ini hanya tiruan dari yang asli, tapi itu akan tetap ada untuk menemani kalian selamanya seperti yang aslinya yang akan selalu ada," jelas Raisa

__ADS_1


"Memangnya ada benda tiruan seistimewa itu?"


"Kakak akan membuatnya ada," kata Raisa


"Jadi, hadiah ini buatan Kak Raisa sendiri?"


Raisa mengangguk pelan.


"Kalau begitu, mana hadiahnya?"


"Ya, kami ingin lihat hadiah yang dibuat oleh Kak Raisa sendiri!"


"Tapi ... kalian harus janji dulu! Karena hadiah ini sangat istimewa dan hanya ada satu, kalian harus menjaganya baik-baik dan tidak boleh berebut untuk memilikinya karena ini milik bersama," ujar Raisa


"Baiklah."


"Kami berjanji!"


"Sebenarnya, kau ingin memberi mereka apa, sih, Raisa?" tanya Chilla


"Ya. Aku juga jadi penasaran," kata Aqila


Raisa tersenyum kecil.


"Hadiah ini akan kakak buat langsung di hadapan kalian semua, jadi kalian semua tidak perlu merasa penasaran lagi," ucap Raisa


"Kami tetap penasaran karena Kak Raisa tidak memberi tahu kami ingin memberi dan membuatkan hadiah apa untuk kami!"


"Lihat baik-baik! Pembuatannya akan menggunakan sihir," kata Raisa


Raisa memejamkan matanya untuk berkonsentrasi.


"Helio, pinjamkan dan berikan api abadimu untukku! Aku memintanya langsung padamu, bisakah kau memberikannya padaku?" batin Raisa berkomunikasi dengan Phoenix yang ada dalam dirinya.


"Aku adalah milikmu, Tuanku. Kau bisa mengambil apiku semaumu, tidak perlu mendapat izin dariku karena kau bebas atas diriku," balas Helio


"Aku hanya membutuhkan sedikit, namun aku tetap harus mendapat izin darimu karena api tubuhmu adalah milikmu dan kau bebas dari kepemilikanku. Artinya dirimu adalah milikmu sendiri, seperti itulah seluruh makhluk hidup di alam semesta ini! Dan juga, terima kasih karena sudah mau memberikan aku api abadimu, Helio!" batin Raisa


"Sama-sama, Tuanku ... " balas Helio


Raisa memperlihatkan kedua tangannya yang dari salah satunya muncul kobaran api kecil dan satu tangannya yang lain membungkusnya dengan es hingga mengkristal. Jadilah sebuah Api Kristal Abadi!


"Apa itu?!"


"Es bisa membungkus api?" bingung Chilla


"Kenapa esnya tidak meleleh dan apinya tidak padam?" heran Aqila bertanya.


"Kalau begitu, ini sungguh ajaib!"


"Benar-benar istimewa!"


Mereka semua menatap Raisa dengan serius untuk meminta penjelasan darinya.


"Kristal es ini membungkus api di dalamnya, tapi ini bukan api sembarangan. Di dalam sini adalah Api Abadi milik Burung Api Legendaris yang mempunyai sifat energi kehidupan. Api ini memang panas, namun tidak sampai membahayakan karena itulah arti kehidupan sesungguhnya. Seperti ini ... api tidak selamanya melambangkan kehancuran dan kematian, tapi juga melambangkan energi dan kehidupan, apa lagi jika itu adalah Api Abadi!


Jadi, api ini tidak akan padam dan kristal es yang merupakan sihir murni ini tidak akan meleleh. Bola Api Kristal Abadi ini adalah sebuah benda tiruan dari Bulan! Yang akan selalu bercahaya dan hanya ada satu untuk semua orang. Benda ini memang tidak mirip sama sekali dengan bulan asli, tapi benda ini bisa mengungkapkan arti bulan bagi kehidupan yang ada. Bagaimana, bagus tidak? Bulan tiruan ini ... jelek sekali, ya ... " ungkap Raisa


Raisa sangat menantikan respon anak-anak. Semua anak terdiam, Raisa takut anak-anak tidak suka dengan hadiah pemberiannya.


"Bagaimana bisa ada hadiah seperti ini?!"


"Hadiah ini bagus sekali!"


"Mana mungkin hadiah istimewa seperti ini dibilang jelek?"


"Siapa yang bilang hadiah ini jelek, akan kuhajar dia!"


"TERIMA KASIH ATAS HADIAH ISTIMEWANYA, KAK RAISA!!"


"KAMI SANGAT MENYUKAI HADIAHNYA!"


"AKAN KAMI JAGA DENGAN BAIK!"


Raisa tersenyum senang melihat anak-anak yang senang dengan hadiah pemberian darinya.


"Kakak serahkan hadiah ini pada kalian semua. Jangan berebut, ya ... " ujar Raisa


Bulan buatan itu diambil oleh salah satu anak panti untuk diletakkan di suatu tempat.


"Rasanya dingin sekaligus hangat saat menyentuhnya."


"Hati-hati jangan sampai kau memecahkannya."


"Aku ingin coba menyentuhnya!"


"Kalian semua bisa coba menyentuhnya setelah diletakkan di suatu tempat. Tunggu dulu sebentar!"


"Bagaimana kalau diletakkan di rak lemari kayu itu?"


"Ide bagus!"


"Kosongkan salah satu tingkat raknya, itu khusus untuk bulan ini saja!"


Salah satu tingkat rak itu dikosongkan untuk tempat bulan buatan itu diletakkan.


"Ada saja ide Raisa untuk memberikan hadiah dan menghibur anak-anak di sini," ucap Morgan


"Raisa selalu bisa memberikan kejutan," kata Rumi


"Pantas saja anak-anak itu suka saat berada di dekatnya," ujar Ian


"Ya. Walau itu agak merepotkan," oceh Devan


Walau semua bergabung dengan anak-anak panti, hanya para gadislah yang berinterakai dengan anak-anak, para lelaki hanya diam mendengarkan seperti anak-anak panti lainnya. Namun, tidak memberi tanggapan khusus, benar-benar hanya diam memperhatikan saja...


..."Aku membuat bulan tiruan itu untuk menunjukkannya padamu juga, Rumi, karena kau selalu merasa rendah hanya karena kau merasa mirip seperti bulan. Selain arti bulan bagi kehidupan yang kubilang tadi. Bulan itu tidak selamanya diliputi kegelapan, tapi juga kehangatan dari orang-orang yang membutuhkan dan senang melihatnya. Karena bulan tidak selamanya hanya sendirian, tapi juga ditemani oleh banyak bintang di sekelilingnya. Tapi, bagiku kau tetap Bintang Favoritku yang Paling Terang. Kau hanya tidak tahu betapa istimewanya dirimu dan betapa berharganya dirimu bagi orang lain," batin Raisa...


Setelah bulan buatan diletakkan, semua anak berbondong-bondong untuk melihatnya dari dekat juga bergantian menyentuhnya.


.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2