
Sang Dewa yang tak sadarkan diri karena pengaruh bola sihir milik Raisa yang dimasukkan ke dalam jantungnya mulai mengeluarkan air dari kedua matanya yang terpejam. Tangisan Sang Dewa tampak begitu memilukan.
"Raisa, coba katakan ... apa yang sebenarnya kau lakukan pada Sang Dewa? Kau tidak mungkin membunuh atau menyikaanya, kan? Aku tahu dengan jelas kalau kau bukan orang yang seperti itu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada Sang Dewa? Kenapa dia malah menangis pilu seperti itu?" tanya Aqila
"Aqila, benar. Aku tahu bahwa istriku ini adalah orang yang sangat baik dan pemaaf. Jadi, cobalah jelaskan pada kami semua, apa yang kau lakukan dan apa yang terjadi pada Sang Dewa?" tanya Rumi meminta.
"Aku berkata dengan jujur saat bilang aku sedang memberi kesempatan dan pencerahan untuk hidup yang lebih baik pada Sang Dewa. Bola sihir yang telah aku masukkan ke dalam jantung hatinya bukanlah sebuah kutukan atau ilusi, melainkan pencerahan akan pengalaman hidup baik seluruh alam semesta. Itu adalah bola kehidupan. Dengan bola sihir itu, saat ini Sang Dewa sedang melihat pengalaman hidup penuh cinta kasih dari berbagai macam makhluk hidup yang ada di seluruh dunia alam semesta," ungkap Raisa
"Aku melakukan ini untuk membiarkan Sang Dewa belajar dari penglihatan yang kuperlihatkan kali ini tentang ... bahwa hidup itu bukan hanya tentang ambisi dan obsesi untuk harus bisa meraih apa yang ingin kita dapat, tapi juga tentang hidup dengan tenang dan damai dengan sesama makhluk hidup lainnya dengan perasaan penuh cinta kasih. Agar Sang Dewa bisa menyadari kesalahan yang telah diperbuat selama ini dan bisa berubah menjadi lebih baik agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi," sambung Raisa menjelaskan.
"Kau benar-benar orang yang baik hati, Raisa. Kau sudah melakukan hal yang benar," kata Devan.
"Memberi hukuman pada seseorang bukanlah kewajibanku, tapi sudah menjadi tugasku sebagai sesama makhluk hidup untuk menyadarkan seseorang yang melakukan kesalahan agar kembali ke jalan hidup yang benar. Aku hanya ingin kita semua bisa hidup dengan baik, tenang, damai, dan juga saling berdampingan," ucap Raisa
"Ya, itu adalah keputusan yang paling baik," kata Aqila
"Tapi, apa Sang Dewa bisa menyadari kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik?" tanya Ian
"Dia harus seperti itu karena memang tidak punya pilihan lain," kata Chilla
"Ya ... kalau memang dia tidak berubah dan menyadari kesalahannya saat itu barulah kita bisa bertindak memberikan hukuman padanya dengan berupa kematian," ujar Rumi
"Aku harap itu tidak terjadi dan kali ini bisa berjalan sesuai dengan harapan baik kita semua," kata Raisa
Sang Dewa memegangi kepalanya dengan kuat, sepertinya kesadaran Dewa Naga itu mulai kembali pulih. Sang Dewa bernama Arion itu masih saja terus menangis.
"Dewi-ku, kau sungguh kejam. Bisa-bisanya kau dengan teganya memberi hukuman seperti ini padaku. Harusnya kau bunuh saja aku yang telah melakukan banyak kesalahan besar ini dan biarkan aku mati dengan tanpa tahu kesalahan yang telah kuperbuat selama ini. Jika seperti ini jadinya, bagaimana bisa aku menebus semua kesalahanku? Aku merasa tidak pantas bahkan aku merasa malu untuk hidup," ujar Sang Dewa
"Dasar, tidak tahu malu! Harusnya kau berterima kasih karena Raisa telah memberi kesempatan padamu untuk tetap hidup! Harusnya kau bisa lebih bisa menghargai nyawa dan hidupmu!" seru Morgan karena kesal.
"Arion, biar aku beri tahu padamu ... seseorang yang telah dinyatakan sekarat pun masih memiliki kesempatan untuk hidup jika dia memang belum mati. Tidak ada seorang pun yang bisa memutuskan kapan kita akan mati, kecuali kita memang telah mati. Itu juga berlaku padamu. Kau hanya tersesat tanpa tahu arah dan aku hanya membantu memberi petunjuk ke arah yang benar. Setelah kau mengetahui kebenarannya, maka hiduplah dengan baik. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang telah diberikan padamu," ucap Raisa
"Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa menebus kesalahan yang telah kuperbuat di masa lalu?" tanya Sang Dewa
"Hiduplah tanpa membuat kesalahan yang sama. Ingatlah kesalahanmu dan berusahalah jadi lebih baik lagi," jawab Raisa
"Berusaha jadi lebih baik? Yang ada aku hanyalah sendiri di sini. Satu-satunya yang hidup bersamaku adalah pelayanku yang setia. Ya, aku akan hidup dalam kesendirian. Dengan begini, aku tidak akan bisa mengganggu hidup orang lain lagi. Ya, aku akan selalu hidup seperti ini," ujar Sang Dewa
"Jika hanya pelayanmu satu-satunya yang menemanimu, maka berbuatlah baik padanya dan kau jangan pernah menyusahkan dia. Jika kau masih merasa hidupmu itu kurang ... bukankah dari dunia milikmu ini kau masih bisa melihat kehidupan orang lain di bumi sana? Jika kau melihat orang yang hidup dalam kesusahan, maka tolonglah dia. Dosamu mungkin akan terampuni jika kau melakukan banyak perbuatan baik," ucap Raisa
"Bagaimana bisa kau begitu baik padaku, Dewi-ku?" tanya Sang Dewa
"Sudah kubilang, aku tidak suka panggilan darimu untukku itu. Kau bisa panggil namaku, kau pasti tahu namaku. Lagi pula, aku belum melakukan perbuatan baik apa pun padamu dan aku baru akan melakukannya padamu. Untuk itu, aku meminta izin darimu dulu. Jika kau izinkan, maka tolong pejamkan dua matamu," ujar Raisa
"Kau tidak perlu izin dariku. Aku sudah tidak berhak untuk menolak lagi," kata Sang Dewa
__ADS_1
Sang Dewa pun menutup kedua matanya sesuai yang diinginkan oleh Raisa. Raisa langsung menaruh telapak tangannya pada kedua mata Sang Dewa yang tertutup dan Sang Dewa langsung tampak merasa kesakitan dengan merintih bahkan hingga memekik keras.
ARGHH!!
"Apa lagi yang Raisa lakukan kali ini?" tanya Morgan bergumam.
Saat Raisa menjauhkan tangannya dari kedua mata Sang Dewa ternyata wanita itu sedang menggunakan dan mengeluarkan kemampuan sihir elemen api dari telapak tangannya itu.
Semua yang melihat langsung bergidik dengan ngeri, kecuali Rumi yang malah tersenyum.
"Raisa, apa yang kau lakukan pada Sang Dewa dengan sihir api itu? Bukankah katanya kau tidak ingin membunuh atau menyiksanya?" tanya Ian.
"Aku baru saja melakukan dan membuat penerangan," jawab Raisa yang langsung melenyapkan sihir elemen api dari telapak tangannya.
Sang Dewa menyentuh kedua matanya yang tertutup dan mulai kembali tenang dengan sesekali mengusap kedua matanya. Lalu, pria dewa bernama Arion itu pun mulai membuka kedua matanya yang buta secara perlahan. Dan yang terjadi adalah hal di luar dugaan.
"Rasanya sangat perih dan sungguh aneh," ungkap Sang Dewa
"Lalu, bagaimana dengan setelah itu?" tanya Raisa
"Ini ... tidak mungkin! Sungguh aku tidak nenyangka dan tidak percaya! Bahwa aku bisa melihat lagi!" seru Sang Dewa
"Selamat karena kau telah mendapat penglihatan normal dengan mata milikmu itu," ucap Raisa
Awalnya mata Sang Dewa memang buta dan berwarna merah merah yang menandakan kerusakan parah, bukan karena pupil matanya berwarna seperti itu. Namun, setelah Raisa menyembuhkan kebutaan mata Sang Dewa berubah menjadi warna hijau dan itu adalah warna asli pupil mata Sang Dewa.
Sang Dewa Tertinggi tidak dapat menyembuhkan penglihatan mata Arion yang buta, namun masih mampu mengajarkan Arion kemampuan menggunakan sihir yang membuatnya melihat dengan jelas meski bukan kemampuan langsung dari kedua matanya. Entah sejak kapan, Arion mulai mempunyai rasa ketidak-puasan. Ia merasa rendah diri hanya karena dirinya seorang anak angkat, ia merasa iri dengan anak dewa-dewi lainnya yang terlahir normal dan sempurna, ia merasa kurang karena kemampuan sihirnya terbilang lemah. Karena matanya yang buta dan hanya bisa melihat dengan bantuan kemampuan sihir, tenaga sihir Arion sering terkuras hanya karena digunakan untuk melihat.
Karena rasa ketidak-puasan itu, suatu hari Arion bertekad untuk berlatih dengan sangat keras agar menjadi lebih hebat dan kuat. Tidak peduli dengan matanya yang buta, Arion terus berlatih untuk memperkuat kemampuan sihirnya juga sekaligus memperkuat kemampuan sihir untuk melihat dengan cara mempertajam insting sihirnya. Setelah menjadi kuat, Arion memulai misi merebut takhta Dewa Tertinggi dengan membunuh Ayah angkatnya yang merupakan Dewa Tertinggi.
Masih merasa tak puas dengan takhta, ia membunuh seluruh anggota Dewa-Dewi di dunia itu untuk dirampas tenaga sihirnya demi membuatnya menhadi satu-satunya Dewa Tertinggi dan Terkuat. Satu-satunya yang tidak dibunuh olehnya adalah saudara sesama anak angkat Dewa tertinggi yang menyatakan tunduk dengannya, dia adalah yang kini menjadi pelayan setianya yang akan menuruti segala dan apa pun perintahnya.
"Sungguh ... terima kasih, Raisa," ucap Sang Dewa
"Aku merasa senang mendengarmu sudah bisa menyebut namaku dengan benar. Sama-sama," kata Raisa
"Bertemu denganmu sungguh merupakan berkah dan keberuntungan untukku. Mengucapkan terima kasih sampai kapan pun tidak aksn pernah cukup. Apa yang harus aku lakukan untukmu agar bisa membalas hutang budi ini?" tanya Sang Dewa
"Aku tidak menganggap ini sebagai hutang budi. Kau hanya perlu hidup dengan baik dan jangan berbuat kesalahan yang sama seperti dulu lagi. Namun, kalau kau memang ingin melakukan sesuatu, maka aku ada sedikit permintaan," jelas Raisa
"Apa itu? Apa pun itu akan aku lakukan untukmu," ujar Sang Dewa bertanya
"Kau hiduplah dengan penuh kebijaksanaan dan kasih sayang seperti harapan ayahmu yang memberikanmu nama, Arion. Meski pun bukan ayah kandung yang sedarah denganmu, dia tetaplah ayah yang telah merawat dan membesarkanmu," ungkap Raisa
"Wah, kau tega sekali membuka luka lamaku dengan menyadarkan aku bahwa aku telah membunuh seorang ayah yang amat berharga. Namun, ini sama saja dengan harapan yang kau ucapkan untukku sebelumnya. Apa kau benar-benar tidak punya permintaan?" tanya Sang Dewa
__ADS_1
"Ada, satu permintaan. Biarkan aku dan semua temanku memanggilmu dengan nama. Malas sekali rasanya menyebutmu dengan embel-embel Sang Dewa," jawab Raisa
"Aku kira permintaan apa ... rupanya, hanya ini. Baiklah. Tentu saja, boleh. Silakan," kata Sang Dewa
"Aku sudah menduga kalau Raisa akan menyembuhkan matanya yang buta, tapi Raisa meminta agar bisa memanggilnya hanya dengan nama dan dia menyetujuinya ... bukankah itu artinya kini mereka berdua mengumumkan bahwa mereka kini berteman? Haruskah aku berjaga-jaga karena ini?" batin Rumi yang mulai kembali merasa waspada dengan Sang Dewa.
"Aku merasa heran. Arion, matamu memang buta, tapi bukankah kau masih bisa melihat dengan menggunakan kemampuan sihir? Kenapa kau senang sekali saat Raisa menyembuhkan penglihatan matamu?" tanya Chilla
"Wah, kau langsung saja memanggilnya dengan nama, Chillla," takjub Ian
"Kenapa tidak? Dia sudah berkata boleh, maka aku tidak akan segan lagi," ujar Chilla
"Itu karena sejak dulu aku memang ingin sekali bisa melihat dengan kedua mataku sendiri. Merupakan kebahagiaan dan penantian tersendiri bagiku. Aku tidak perlu menghabiskan tenaga sihirku hanya demi kupakai untuk melihat lagi. Kini aku tidak buta lagi," ungkap Sang Dewa atas pertanyaan dari Chilla sebelumnya.
"Jika saja warna mata Arion adalah kuning, maka akan jadi mirip persis seperti Rumi," kata Aqila
"Benar juga. Aku baru sadar kalau wajah Arion mirip sekali dengan Rumi. Bagaimana bisa? Ini bukan suatu kebetulan, kan?" tanya Morgan
Mereka semua pun langsung menoleh dan melihat ke arah Raisa.
"Kenapa kalian semua malah melihat ke arahku dan bukannya melihat ke arah Arion?" tanya Raisa yang merasa bingung dengan maksud tatapan mata teman-temannya.
"Karena kami terlalu malas bertanya alasannya pada Arion dan karena biasanya kaulah yang selalu tahu banyak hal," jawab Devan
"Yang aku ketahui bukannya tidak terbatas. Aku hanya tahu hal yang telah terjadi di masa lalu yang diperlihatkan padaku melalui mimpi ajaib dan yang sedang kalian pertanyakan tidak termasuk yang ada di dalam mimpi ajaibku, jadi aku benar-benar tidak tahu. Harusnya kalian bertanya pada Arion yang masa hidupnya jauh lebih lama dari pada aku yang semua yang telah aku lihat melalui mimpi ajaibku," ucap Raisa
"Entahlah, sepertinya dia tidak ada niat untuk memberi tahu," kata Ian
"Itu karena kalian yang belum dan lebih tidak ingin bertanya padanya," ujar Raisa
Sang Dewa hanya diam sambil tersenyum simpul.
"Bagaimana dengan penampilanku sekarang? Dengan penampilanku yang seperti ini, apa kau tidak ingin mempertimbangkan lagi untuk memilih bersamaku dan berpisah dengan suamimu itu, Raisa?" tanya Sang Dewa
Saat itu juga Rumi langsung mendelik tajam dan segera memeluk sang istri dengan erat dari belakang.
"Aku peringatkan sekali lagi, jangan pernah coba macam-macam dengan istriku! Kami berdua adalah suami istri yang tidak akan pernah berpisah! Penglihatanmu adalah pemberian dari istriku dan istrimu bisa saja merusaknya kembali jika ingin!" seru Rumi
"Kau sudah bisa bercanda rupanya, Arion. Jangan berlebihan. Atau suamiku yang akan menggantikan aku untuk bertindak," ujar Raisa sambil menyentuh lembut kedua tangan Rumi yang memeluknya dari belakang.
"Baiklah, aku tidak akan bercanda lagi. Kalian berdua, pasangan suami istri memang cocok sekali. Sangat menyeramkan saat sedang marah," ucap Sang Dewa
Sungguh tidak disangka-sangka. Sang Dewa benar-benar telah berubah dan menyadari kesalahannya, tidak lagi keras dan menyombongkan diri bahkan langsung menjadi akrab dengan Raisa dan yang lainnya. Sang Dewa tampak bisa menyesuaikan diri dengan baik.
.
__ADS_1
•
Bersambung.