Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
34 - Cara Penyelesaiannya Sendiri.


__ADS_3

Saat Raisa dengan baik hati meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk mencarikan solusi terbaik, si pelaku malah bertambah geram! Emosinya bertambah dan amarahnya kembali memuncak!


Si pelaku melancarkan serangan bertubi-tubi pada Raisa... Raisa pun terus menghindari serangannya~


Saat Raisa terus dipukul mundur oleh amarah si pelaku, suatu sihir meliliti tubuhnya. Menyeretnya ke belakang untuk menyelamatkannya~


Dan, akhirnya Raisa berakhir dalam pelukan seseorang. Seseorang bersama yang lain yang datang setelah melewati rintangan untuk bertemu dan membantunya...


Orang itu adalah, Rumi!


Rumi datang bersama dengan yang lain...


Morgan, Aqila, Sanari, Devan, dan Sandra...


Sedangkan yang lainnya lagi, sedang berjaga untuk menahan dan mengawasi orang-orang terpengaruh sihir dengan sihir penyegel...


Saat Raisa berada dalam pelukan Rumi, jantungnya kembali berdetak lebih kencang dari biasanya~


Raisa tak memungkiri jika ia telah sangat merindukan sosok itu. Ia pun masih tak menyangka sosok yang ia rindukan itu datang menemuinya di dunianya dan sekarang berada dalam pelukan sosok itu...


Setelah mengungkapkan dirinya tidak apa-apa, Rumi pun setuju melepaskan pelukannya pada Raisa walau masih jelas terlihat cemas di wajahnya...


Seseorang di antara mereka mengepalkan tangannya dengan geram melihat ke arah si pelaku...


"Jadi, dia yang membuatmu kesulitan itu?!" Geram Morgan yang siap melayangkan serangannya pada si pelaku.


"Morgan, hati-hatilah... Hatinya sedang diliputi dendam, dirinya dikuasai amarah. Kau bisa terluka karenanya..." Teriak Raisa


Morgan pun terlibat dalam pertarungan dengan si pelaku dan Aqila bersamanya membantu dan mengawasinya...


"Kau diam saja, Sandra?" Tanya Devan


"Kau juga sama! Aku di sini cuma mau melihat langsung kehebatan orang yang sering kalian sebut-sebut itu..." Kata Sandra


Melihat Morgan yang dengan seenaknya melakukan penyerangan, Aqila terus mencoba menghentikannya juga sekaligus membantunya menghentikan serangan si pelaku.


"Kalian berdua, berhentilah! Dia yang menaruh dendam padaku. Dengan kalian ikut menyerangnya, itu percuma saja... Yang ada membuat dendamnya padaku semakin besar." Ucap Raisa


Raisa pun menarik mundur Morgan dan Aqila dengan sihir elemen tanah miliknya. Ia menggerakkan tanah yang Morgan dan Aqila berdiri di atasnya ke belakang~


Menghentikan pertarungan di antara mereka...


"Kenapa kau menarikku mundur? Kenapa kau menghentikan kami!? Dia yang sudah berbuat jahat mengendalikan pikiran orang lain dan menyusahkanmu! Kau boleh melarang kami agar tidak menyerang kelima korbannya yang dikendalikan pikirannya olehnya, tapi jangan larang aku untuk memberi pelajaran padanya...!" Kesal Morgan


"Aku tau kau bersusah payah datang ke mari untuk membantuku. Tapi, di sini duniaku. Jika terjadi apa-apa padamu, aku takut tidak bisa bertanggung jawab atas itu. Aku berjuang sendiri karena lebih tak mau ada yang terluka, terlebih jika itu dirimu dan kalian semua. Kalian adalah teman-temanku yang berharga. Kumohon, berjaga-jagalah saja..." Tutur Raisa


Sudah mendengar Raisa berkata seperti itu, Morgan pun hanya mampu diam.


Melihat itu, si pelaku menyeringai picik. Tenaganya kembali terkuras, nafasnya pun terengah-engah...


"Heh, persahabatan yang mengharukan... Tapi, melihatnya saja sudah membuatku sangat muak!"


Morgan menjadi emosi mendengar cacian si pelaku. Ia terlihat berusaha menahan amarahnya.


Raisa menoleh ke arah si pelaku~


"Aku sudah membatasi pergerakan dan pengeluaran tenaganya dan sedang mencoba bicara baik-baik dengannya. Ini akan berjalan dengan baik, kalian tenang saja..." Ujar Raisa


"Kau berusaha bicara baik-baik dengannya yang sudah dibutakan dengan dendam?! Otaknya itu sudah tidak bekerja dan hanya mementingkan amarahnya saja! Apa kau tidak merasa usahamu itu sia-sia!?" Heran Morgan


"Temanmu si bocah berandal itu benar! Hanya dengan membalaskan dendamku dengan menghabisimu aku baru bisa berhenti. Dan membiarkan semuanya jadi sia-sia!"


"Kau dengar itu!? Dia yang mulai kehabisan tenaganya saja masih sanggup bicara seperti itu berarti dendamnya padamu sudah tidak bisa tertolong lagi! Dan kau masih mau berbaik-baik dengannya?!" Ucap Morgan tak habis pikir.


"Aku rasa, itu benar. Kita masih bisa bicara baik-baik dengannya. Itu pilihan yang baik..." Kata Sanari yang mencoba mendekati si pelaku. Dan bertanya padanya...


"Sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini? Apa penyebab dendammu itu? Aku tau kau mungkin pernah terluka, tapi tak bisakah kita mencari solusi terbaik dari masalah ini semua?" Tanya Sanari dengan kelembutannya.


"Cih, kau membuang waktumu, Nona... Bicara seperti itu tidak membuatku terpengaruh sedikit pun. Kau malah membuatku bertambah muak dengan mengulangi pertanyaan seperti teman sok pahlawanmu itu!!" Si pelaku pun mencoba menyerang Sanari yang ada di depannya. Namun, Raisa berhasil membatalkan sihir yang ia lancarkan dengan kemampuannya...


Raisa pun menarik mundur Sanari seperti yang ia lakukan pada Morgan dan Aqila.


"Kau tak apa, Sanari?" Tanya Raisa


"Aku baik-baik saja. Kau menolongku tepat waktu. Terima kasih..." Jawab Sanari


"Kau lihat! Perlakuannya pada ketua kelas tak bisa dibiarkan!" Marah Morgan hendak menyerang lagi.


Aqila yang berada di sampingnya pun menahan Morgan untuk kembali menyerang.

__ADS_1


"Biarkan dia. Dia sudah memutuskan berarti dia bisa mengatasinya. Dia sudah meminta kita untuk hanya berjaga saja. Tenanglah dulu..." Ucap Aqila


Raisa pun melangkah mendekati si pelaku sampai tepat di depannya. Ia menunduk, menatap tajam si pelaku yang terduduk lemah di tanah karena tenaganya yang telah dibatasi dan terus terkuras...


"Kau tau siapa aku, kan? Dan juga mereka... Kau merasa muak karena melihatku, terlebih lagi saat tau mereka semua datang untuk membantuku. Karena kau tau jelas... Apa yang telah terjadi saat itu!" Ucap Raisa


Si pelaku pun mendongak untuk menatap langsung Raisa...


"Aku tau... Tentu saja, ITU KAU! Kau dengan sihir sepasang sayap burung... Bagaimana bisa hanya dengan topeng itu mengecohku!? KALIAN SEMUA YANG TELAH MEMBUNUH MEREKA SEMUA!! DENDAMKU BUKAN HANYA PADAMU, TAPI PADA KALIAN SEMUA!!!"


Awalnya mereka yang menyaksikan merasa bingung mendengar perkataan Raisa pada si pelaku. Tapi, saat si pelaku sudah bicara dengan menatap langsung Raisa, mereka baru menyadarinya. Mereka mengetahui siapa pelaku tersebut!


"Pada awalnya kau menuduhku membunuh semua kawanmu dan sekarang kau mengatakan kami semua yang melakukan pembunuhan itu. Bukankah sebenarnya kau yang datang bersama semua kawanmu untuk membunuh kami saat itu!?! Aku atau pun mereka tidak melakukan apapun padamu atau kalian semua saat itu, bagaimana kau bisa memutuskan bahwa kami semua telah melakukan pembunuhan!?" Tegas Raisa


"Kau sudah mengetahui siapa dia dari awal? Kenapa kau tidak beritau kami sejak tadi?!" Tanya Morgan


Pertanyaan Morgan tak mendapat balasan apapun dari Raisa. Raisa merasa percuma menjelaskan saat mereka sudah mengetahuinya, terlebih lagi saat ini bukan waktunya untuk menjelaskan sesuatu...


"Mereka memang tak melakukan apapun. Tapi, kau! Kau melakukan strategi untuk mengurung dan menjebak kami di tempat itu. Kau tidak tau bagaimana kami bisa terbebas dan mencoba bertahan hidup di tempat yang tak berpenghuni itu! Kami sengsara saat tak ada jalan ke luar dan perlahan mati satu persatu! DAN ITU KARENA KAU BERUSAHA KERAS MELINDUNGI SEMUA TEMANMU!! KALIANLAH PENYEBAB MATINYA KAWANKU! KALIAN TELAH MEMBUNUH MEREKA SEMUA!!!"


Si pelaku adalah orang yang datang menyerang Raisa dan yang lain saat terjebak di dimensi asing akibat portal yang rusak. Ia berhasil bertahan hidup dan ke luar dari dimensi asing tak berpenghuni dan berhasil pergi dari dimensi asing tersebut dan datang ke dimensi dunia tempat Raisa berada dan tinggal.


Melihat si pelaku yang terus terbakar emosi, Rumi menjadi khawatir dan hendak menghampiri Raisa untuk mendampingi di sisinya. Namun, Devan berhasil menahan Rumi...


"Medan perang ini adalah miliknya. Kita di sini hanya ingin membantu. Saat dia merasa mampu melakukannya sendiri, biarkanlah dia... Berikanlah dia kebebasan melakukan haknya." Ucap Devan


Rumi pun tak bisa berkutik. Ia hanya memperhatikan... Saat ia melihat Raisa butuh bantuan, ia akan langsung menghampiri dan membantunya sekuat tenaga...


Dan di sana, Sandra terus memegang ucapannya. Ia benar-benar hanya berdiam diri menyaksikan untuk melihat dan mengetahui kehebatan Raisa yang selalu terdengar luar biasa dari ucapan teman-temannya~


"Kau tau betul bahwa bukan aku yang membunuh kawanmu itu. Aku atau temanku tidak bersalah atas kematian kawanmu. Kawanmulah yang tak bisa beradaptasi dan perlahan tewas di tempat asing tak berpenghuni itu. Kau tau tapi kau terus menyangkalnya karena sebenarnya kaulah yang merasa bersalah. Dan akhirnya kau melimpahkan kesalahan itu padaku karena tak bisa menjaga kawanmu dan bertahan hidup bersama sampai akhirnya mereka semua tewas dan hanya berhasil hidup sendiri. Kau marah pada dirimu sendiri tapi kau melampiaskannya pada orang lain yang tak bersalah." Bongkar Raisa seakan tau dan mampu memprovokasi si pelaku.


Amarah si pelaku pun kembali berkobar, emosinya kembali memuncak! Pancaran matanya seakan berapi-api~


Ia pun bangkit dan menyerang Raisa sekuat tenaga!


Raisa terus berusaha bertahan dan menghindar. Ia tau apa yang telah dilakukannya... Ia yang menyanggupi berbicara dengan pelaku dan memprovokasinya, ia tau apa yang akan terjadi saat ia memutuskan begitu. Dan ia akan terus menghadapinya...


"Berhentilah berbuat percuma! Jangan lagi melibatkan orang-orang yang tak bersalah! Merenunglah, jangan sampai berbuat seenaknya dan terus membuat kerusakan hanya karena kau merasa bersalah dan tak terima dengan kenyataan...!" Ucap Raisa


"Bagaimana tidak bersalah?! Kau, itu KAU! BUKAN AKU! Kau yang membuat kawanku mati! Kau yang bersalah atas kematian mereka! AKU AKAN BALASKAN DENDAM MEREKA PADAMU!!"


"Biarkan dia. Ini strateginya! Dia hanya mengulur waktu sambil memprovokasi si pelaku sampai akhirnya menyerah dengan sendirinya dan menyadari sendiri kesalahannya. Ini seperti taktik mengecoh dengan mengoceh... Bukankah itu memang keahliannya? Bicara berputar-putar namun akhirnya mengenai tepat di inti sasaran~ Dia tau apa yang dia lakukan... Kita hanya perlu menunggu hasil dan diam mengawasi di sini." Jelas Devan


"Devan benar, ini medan tempurnya. Makanya kau jangan gegabah dan tenanglah. Dia akan baik-baik saja." Ujar Aqila


"Semoga dia bisa dan berhasil menghadapi penjahat itu." Kata Sanari yang tak berniat lagi untuk ikut campur.


Yang lain memang beranggapan seperti itu. Tapi, Rumi masih saja cemas dalam hatinya. Namun, ia hanya bisa gelisah menyaksikan.


Sedangkan Sandra hanya diam bagai patung yang menonton...


"Dari awal memang kalianlah yang bersalah telah menyerang orang yang bersalah dan ingin membunuh kami. Pada akhirnya kawanmu tewas, kau marah pada diri sendiri tak bisa menjaga mereka. Mulai menyerang orang tak bersalah dengan alasan dendam kawanmu." Tutur Raisa


"Kau penyebab semua ini! Gara-gara kau, aku kehilangan kawanku yang sudah seperti keluargaku sendiri! Kau tidak tau betapa sulitnya kami semua saat berada di tempat itu! Ke luar dari perangkap sihirmu saja sangat sulit dan membuat banyak dari kami yang terluka... Sudah terbebas dari perangkap sihir, kami masih harus bertahan hidup di tempat asing tak berpenghuni itu. Di tempat yang tak ada makhluk lain selain kami, sangat sulit mendapat obat dan bahan makan untuk kelangsungan hidup kami. Banyak dari kami yang terluka akhirnya mati karena kelaparan tak berdaya. Hanya menyisakan dua orang saja! Setelah lama bermeditasi di sana, aku baru bisa membawa pergi seorang kawanku setelah pulihnya kemampuanku dan berhasil membuka portal ke dunia ini. Tapi, dia sangat lemah karena terluka parah dan akhirnya mati di sini. Aku pun terpaksa memakamkannya di pemakaman umum yang sebenarnya bukan keinginanku sama sekali untuk melakukannya. Kau tidak tau rasanya kehilangan mereka yang berharga! Tak berdaya menyaksikan mereka mati dengan mata sendiri! ITU SEMUA KARENA KAU! KALAU BUKAN KARENA KAU YANG BERUSAHA MENYELAMATKAN TEMANMU DENGAN MEMERANGKAP KAMI DENGAN SIHIR!! SEMUA TAKKAN JADI BEGINI JIKA BUKAN KARENA KAU!!!"


"Kalau kau pun mampu berpikir seperti itu, seharusnya itu bukanlah salahku... Jika kau beranggapan seperti itu, aku pun bisa berpikir sama! Kalau saja bukan karenamu dan semua kawanmu datang untuk membunuh kami semua saat itu, aku takkan berbuat demikian yang berusaha menyelamatkan temanku saat itu... KALAU KAU SAJA INGIN MENYELAMATKAN KAWANMU KENAPA AKU TAK BOLEH MENYELAMATKAN TEMANKU?! Itu bukan salahku! Kalau kau menganggapku yang bersalah, kenapa aku tak bisa beranggapan kaulah penyebab ini semua!? Padahal kau yang lebih dulu membahayakan kami! Bedanya aku benar-benar mampu menyelamatkan semua temanku... Kau tidak menyadari kesalahamu! Atau sebenarnya kau sudah menyadarinya, tapi kau mengelak dari kenyataan! BAHWA KAULAH PENYEBAB INI SEMUA TERJADI! KAU SENDIRI PENYEBAB KEMATIAN SEMUA KAWANMU! Pertama kawqnmu terluka karena kesalahanmu membuat keputusan, dan akhirnya kawanmu tewas karena ketidakberdayaanmu! KAU YANG MEMBAWA KAWANMU PADA KEMATIANNYA!!!"


Perkataan Raisa seakan menusuk relung hatinya. Mampu menguak rasa bersalah yang telah tergantikan menjadi dendam mendalam. Rasa bersalah karena tak mampu mejaga kawannya ia gantikan dengan alasan untuk membalas dendam...


Si pelaku pun terus menyerang Raisa dengan tenaganya yang tersisa. Ia ingin meluapkan ketidakberdayaannya yang sebelumnya untuk membalaskan dendam pribadinya.


"TIDAK! BUKAN AKU, KAULAH PENYEBAB INI SEMUA!! AKU AKAN MEMBUNUHMU UNTUK MEMBALASKAN DENDAM MEREKA YANG TELAH MATI KARENAMU!!!"


Si pelaku mengeluarkan semua tenaganya yang tersisa. Ia lupa bahwa Raisa telah memblokir sebagian tenaga sihirnya. Dengan ia mengeluarkan tenaga yang tersisa, itu akan berakibat fatal. Ia dapat terluka dengan sendirinya karena ulahnya. Terbukti dengan darah segar yang keluar dari mulutnya~


ARGGH!!~


UHUKK...


Hanya dengan pukulan kecil Raisa mampu membuat si pelaku tersungkur karena telah terluka parah.


"Bukan salahku kawanmu tewas. Dan kau tidak bersalah sepenuhnya... Apa kau tau siapa yang salah sepenuhnya atas kebencianmu sekarang ini? Apa kau sadar siapa yang punya salah terbesar atas semua ini? Kau hanya bodoh karena tak sadar bahwa kau telah dimanfaatkan..." Ucap Raisa


Lagi-lagi, si pelaku mendongakkan kepalanya menatap tajam Raisa di balik ketidakberdayaannya~


"Apa maksud ucapanmu? Kalau bukan aku atau kau yang punya salah terbesar atas semua ini, lalu siapa lagi!? Dan, apa maksudmu aku telah dimanfaatkan? Siapa yang memanfaatkanku hingga akhirnya aku malah kehilangan semua kawanku yang berharga?!"


Jackpot!

__ADS_1


Raisa berhasil memengaruhi pemikiran si pelaku. Setelah berlama-lama memprovokasinya, ternyata si pelaku masih bisa masuk dalam jebakan kata-katanya yang berbelit-belit. Ia telah masuk perangkap!


"Baru sekarang kau sadar kau juga punya salah atas semua yang telah terjadi? Setelah banyak kekacauan yang kau perbuat, kau baru menyadari kesalahanmu?!" Ujar Raisa mengulur waktu, mencoba menarik ulur perasaannya yang sedang kacau. Hingga akhirnya ia mampu membuat si pelaku memihak saat mendengar perkataannya...


"JANGAN BANYAK OMONG KOSONG! KATAKAN SIAPA ORANG YANG PALING BERSALAH ATAS SEMUA YANG TELAH TERJADI!!!"


"Kau bodoh karena tidak menyadarinya! 'Sang Dewa!'... Dia yang telah memanfaatkanmu! Dia telah memberimu harapan palsu yang sangat besar... Dia mengiming-imingi kalian semua dengan kekuatan yang jauh lebih besar... Dia yang memberimu perintah untuk menyerang dan menghabisi orang-orang Desa Daun di dimensi sana agar mendapat kekuatan yang sangat besar dari sana. Kau tidak pernah sadar bahwa kalian hanyalah batu sandungannya untuk mendapatkan seluruh kekuatan besar itu sendiri! Dan akhirnya kalian hanya menjadi korban atas pertarungannya demi kekuatan itu. Sang Dewa itu sudah menduga akhir ini semua... Kalian semua akan mati dan dia menggapai kekuatan terbesar itu. Seperti sekarang, hanya kau yang tersisa dari keegoisannya. Ya, walaupun Sang Dewa itu akhirnya mati di tangan orang Desa Daun... Dan kau kehilangan semua orang yang berharga bersamamu itu~" Ungkap Raisa


"'Sang Dewa'! Dewa itu... Br*ngs*k!" Umpat si pelaku yang memelan di akhir kalimatnya


"Kau bahkan tidak bisa menyadarinya dari awal? Coba kau pikir sendiri... Dia memerintahkanmu bersama kawanmu melintas dan pergi ke dimensi asing tak berpenghuni hanya untuk membunuh sekelompok remaja yang sedang dalam keadaan lemah, kenapa? Karena dia tau kalian takkan bisa ke luar dari sana dan terpengkap selamanya. Sebenarnya kalian hanya menghalanginya dan dia membuang kalian ke sana... Dia ingin meraih kemenangannya sendiri!" Tutur Raisa


Si pelaku kembali menunduk dan menangis dalam diam. Ia menyesal telah menyadarinya dengan sangat terlambat. Bahkan ia mengetahui semua fakta itu dari orang yang ia kira bertanggung jawab atas semua ini sampai menyimpan dendam padanya...


...'Kenapa aku benar-benar tak bisa menyadari kenyataan ini dari awal? Br*ngs*k, Dewa si*l*n itu...! Sekarang aku telah kehilangan semua orang-orangku yang berharga. Dewa si*l*n itu juga sudah mati. Dendamku yang sebenarnya juga sudah terlunasi dengan tuntas... Lalu, untuk apa aku hidup sekarang? Lebih baik aku mati!' Batin si pelaku...


"Kau telah menyadarinya? Apa sekarang matamu sudah terbuka? Apa kenyataan ini sudah menyadari pikiranmu itu? Kau menyesal baru menyadarinya sekarang...?" Tanya Raisa


Si pelaku masih diam dalam tunduknya. Hanya bisa menyembunyikan tangisnya karena penyesalannya yang sangat besar...


Raisa menatap si pelaku yang terus tertunduk karena telah mrnyadari semuanya. Menyesali ketidaktahuannya...


Raisa pun mengeluarkan sihirnya~


Mengalirkan air yang ke luar dari telapak tangan kanannya dan dalam sekejap mata membekukannya menjadi sebilah pedang es panjang dalam genggamannya...


Dan mengarahkan pedang es itu pada leher si pelaku~


"Apa gunanya menyesal sekarang? Nah, sekarang bersiaplah bertemu dengan para kawanmu itu... Aku sendiri yang akan mengirimmu ke sisi mereka~" Ucap Raisa yang bersiap dengan pedang es di tangannya...


.



Bersambung...


- ¤: [Kutipan Author~]


"Halo, pembaca sekalian...


Di sini Author datang untuk menyampaikan sesuatu. Tidak disangka ternyata novel dengan cerita berjudul 'BERTEMU DAN JATUH CINTA' akhirnya mencapai episode ke-34! Author mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk semua pembaca yang sudah berbaik hati mendukung cerita novel ini... Baik itu yang menyukai, memberi komentar, menambah ke favorit, memberi rate, atau vote sekali pun. Terima kasih banyak para pembaca yang budiman!


Dan di kesempatan kali ini, Author mau menyampaikan... Cerita ini diakhiri cukup sampai di sini~


Tidak sangka Author hanya mampu berimaginasi sampai titik ini di episode 34... Huh, sungguh sangat disayangkan!


Alasannya, karena...-


...


-


~


Pfft!


Anda semua tertipu!


[APRIL MOP!!~~]


-


HAHAHAHA


Wkwkwk~


Bohong deh...!


Cerita novel ini masih terus berlanjut kok. Seperti biasa akan update 3hari/ episode yaa~


Mohon untuk tetap sabar menunggu...


Silahkan menantikan kelanjutannya 3 hari lagi...!


Dan semoga dengan episode kali ini, kalian semua dapat terhibur!~~


^^^Tertanda:^^^


^^^[Author:^^^

__ADS_1


^^^Dilawrsmr~.]"^^^


__ADS_2