Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
35 - Masalah Terselesaikan.


__ADS_3

Raisa menatap si pelaku yang terus tertunduk karena telah menyadari semuanya. Menyesali ketidaktahuannya...


Raisa pun mengeluarkan sihirnya~


Mengalirkan air yang ke luar dari telapak tangan kanannya dan dalam sekejap mata dibekukannya menjadi sebilah pedang es panjang dalam genggamannya...


Dan mengarahkan pedang es itu pada leher si pelaku~


"Apa gunanya menyesal sekarang? Nah, sekarang bersiaplah bertemu dengan para kawanmu itu... Aku sendiri yang akan mengirimmu ke sisi mereka~" Ucap Raisa yang bersiap dengan pedang es di tangannya...


Semua yang di menyaksikan terkejut dengan ucapan dan tindakan Raisa!


Mereka semua tak percaya jika Raisa yang memiliki pribadi yang cukup lembut ternyata juga mampu untuk membunuh... Membunuh seorang yang lemah tak berdaya yang telah menyesali semuanya. Ya, walaupun orang itu pantas mendapatkannya karena telah berbuat kekacauan dan keributan besar di mana-mana~


"Hei, kau berlebihan! Kau tidak perlu membunuhnya, kan? Dia sudah menyadari kesalahannya dan telah menyesali perbuatannya. Bukankah itu sudah cukup?" Ucap Morgan mencoba melarang Raisa dari jauh di sana...


Lagi-lagi si pelaku mondongak. Namun, berbeda dari sebelumnya... Kini tatapannya tak lagi mendelik tajam melainkan tatapan sendu penuh sesal yang terpancar~


"Yasudah, kau bunuh saja aku! Sudah tak ada harapan dan gunanya lagi aku hidup... Lebih baik aku mati saja! Lebih baik juga kau yang membunuhku. Jadi, silahkan saja lakukan... Aku akan siap. Bunuhlah aku sekarang juga!" Ucap si pelaku


"Jangan lakukan itu!" Larang Morgan yang lebih menyukai kedamaian.


Pedang es yang dipegang Raisa yang dijulurkan ke arah leher si pelaku, kini beralih ke arah dada kirinya... Tepat di jantungnya!


"Sebenarnya, saat Sang Dewa itu mati... Aku juga ikut peran dalam membantu orang Desa Daun untuk menghabisinya. Apa kau tau bagaimana caraku melakukannya? Kau mau tau?" Ujar Raisa


"Tunggu apa lagi! Tak perlu membuang waktu dengan menceritakan hal yang tak penting tak berguna... Bunuhlah aku!"


"Saat itu, aku menghunuskan es tajam nan runcing seperti pedang es ini tepat pada posisi jantungnya! Dan melalui es yang tertancap pada jantungnya itu, aku menyebarkan es tersebut secara menyeluruh ke seluruh tubuhnya hingga membeku menjadi patung es~ Setelah itu, orang Desa Daun melancarkan pukulan mautnya pada tubuh Sang Dewa yang membeku itu hinga hancur berkeping-keping!~~" Ungkap Raisa menceritakannya pada si pelaku.


"Terima kasih karena sudah membantuku membalaskan dendamku dengan lebih dulu membunuhnya. Sekarang aku akan lebih senang bertemu dengan para kawanku. Jadi, bunuhlah aku! Kirim aku ke sisi mereka seperti yang kau ucapkan sebelumnya."


"Membunuhnya atau tidak, sekarang keputusan itu ada di tangannya. Masalah yang sekarang terjadi adalah pada dunianya. Dia bebas melakukan apapun... Jangan melarangnya." Ucap Devan


"Lebih baik kita diam saja. Berikan hak kebebasan itu padanya. Dia bebas bertindak di dunianya..." Ujar Aqila yang ikut menyaksikan...


"Apa kematian seseorang adalah hak kebebasan orang lain? Meskipun ini dunianya, tidak seharusnya seperti itu! Bagaimana pun aku tidak pernah membenarkan perbuatan membunuh itu!" Tukas Morgan yang tau hanya bisa menyaksikan maka dari itu ia hanya bisa berkoar untuk membuat Raisa mengurungkan niat untuk membunuh. Melarangnya untuk melakukan perbuatan keji itu!


"Aku tak tau jika kau juga bisa memohon dan berterima kasih pada orang lain. Aku tau yang kau lakukan sebelumnya itu hanya karena terpaksa atau dorongan jahat dari orang lain dan kekhilafan seorang manusia. Kau ternyata masih memiliki sisi baik..." Ujar Raisa yang menurunkan pedang esnya dari hadapan dada si pelaku...


"Lalu, siapa juga yang ingin membunuhmu? Aku, tentu tidak! Aku bukan orang yang berpikiran sempit dengan membunuh orang hanya karena kesalahan yang diperbuatnya. Aku tidak memiliki peran untuk menghukum seseorang atau menghakiminya, karena aku bukan Tuhan. Pedang es ini kujulurkan padamu, hanya demi untuk sedikit menghiburmu. Siapa tau dengan kau tau cara matinya orang yang kau benci, kau akan merasa lega dan luluh..." Imbuh Raisa menambahkan.


Kemudian, Raisa membatalkan sihirnya~


Mencairkan es yang membeku itu hinga mencair kembali menjadi air...


Mata si pelalu yang menatap sendu Raisa, kini kembali berubah menjadi tatapan tajam tak percaya. Walau ketajaman tatapannya tidak separah dan tidak seberapi-api sebelumnya. Ia hanya heran yang menyayangkan keputusan Raisa yang urung membunuhnya. Padahal itu adalah keinginan terbesarnya...


Hanya dengan mati ia bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan para kawannya yang berharga~


"Kenapa kau membatalkan untuk membunuhku!? Kesempatan emas tepat ada di depan matamu! Aku tak lagi melawan bahkan tak lagi bertenaga, tak berdaya... Kau hanya akan menjadi orang bodoh dengan keputusanmu kali ini. Orang yang telah mengacaukan duniamu telah menyerah dan berserah diri! Kau seharusnya tak melewatkan kesempatan sebagus ini! Bunuhlah aku seperti perkataanmu sebelum kau goyah itu...! Jangan hanya berbohong dan beromong kosong!! Bunuh aku sekarang!!!"


Huft!


Fyuuuhh~


Semua yang menyaksikan menghembuskan nafas lega~ Terutama Morgan!


Ternyata Raisa masih bisa berpikir jernih dan secara sehat. Entah tindakannya sebelumnya adalah gurauan atau main-main. Yang terpenting, Raisa tidak asal mengambil keputusan yang salah, berbuat keji untuk membunuh orang, saat pikirannya kacau yang akan membuatnya menyesalinya di kemudian hari...


Sedangkan Sandra hanya diam mematung, menyaksikan semuanya.


"Kau pikir dengan membunuhmu adalah cara satu-satunya untukku bisa mengirimmu ke sisi kawanmu? Apa kau pikir hanya dengan kau mati, kau baru bisa bertemu kawanmu? Tentu tidak! Aku mempunyai cara dan solusi yang lain yang tentunya lebih baik..." Ujar Raisa

__ADS_1


"Apa maksudmu kau bisa menghidupkan kembali mereka yang sudah mati?" Tanya si pelaku dengan tatapan penuh harap.


"Eh, bukan begitu juga... Kematian mereka yang mati adalah takdir setiap manusia yang tak bisa dielakkan. Walaupun tidak mati karena terluka parah dan kelaparan, mereka yang sudah ditakdirkan akan mati pasti tetap akan mati juga. Mungkin jika saat itu kalian semua tetap hidup dan Sang Dewa itu juga masih hidup, mungkin kawanmu tetap akan mati di tangan Sang Dewa yang marah karena tujuannya untuk merebut kekuatan orang Desa Daun gagal. Mungkin mereka mati karena amarah Sang Dewa yang dilimpahkan pada mereka karena bagaimana pun kalian hanyalah kambing hitamnya. Dengan gagalnya tujuan Sang Dewa itu, pasti dia melampiaskan amarahnya dengan membunuh kawanmu. Seperti itulah contohnya... Kematian adalah takdir mutlak seorang manusia. Jadi, relakan saja kematian mereka. Hilangkan rasa benci dan dendammu, bukalah lembaran hidup baru yang lebih indah dengan pemikiran yang lebih positif. Tinggalkanlah dan lupakanlah pemikiran negatif yang lama. Ubahlah cara hidupmu dengan sesuatu yang lebih bermakna yang berarti." Ucap Raisa


Semua yang menyaksikan ikut bingung dengan maksud ucapan Raisa. Cara apa lagi yang ia maksud yang dipilihnya? Jika bukan dengan membunuh atau menghidupkan kembali, lalu apa lagi?


Mereka semua pun menantikannya...


Kejutan dari temannya yang satu ini!


Raisa, gadis yang penuh kejutan~


"Apa maksudmu!? Jangan berbelit-belit lagi! Kenapa kau malah menyuruhku merelakan kematian mereka yang berharga untukku? Kau yang bilang sendiri, ingin mempertemukanku dengan kawanku. Jika bukan dengan cara yang sama yaitu kematian, bagaimana caraku untuk bisa bertemu dengan kawqnku? Cukup omong kosongnya! Ayo, bunuh aku!"


"Sudah kubilang, kematian bukanlah cara satu-satunya! Memangnya kau pikir seluruh kawanmu itu mati semua? Apa hanya orang-orang yang bersamamu sajalah kawanmu? Coba kau pikir ingat lagi... Sekali lagi dengan teliti. Bukankah semua orang yang dibawa Sang Dewa itu adalah juga kawanmu? Termasuk orang-orang yang mengacaukan Desa Daun! Kawanmu bukan hanya yang ikut denganmu ke dimensi asing tak berpenghuni itu, kan? Orang-orang yang mengacaukan Desa Daun dibawah perintah Sang Dewa juga termasuk kawanmu, kan? Mereka yang bertarung besar-besaran di Desa Daun tidak seluruhnya mati. Bahkan mungkin banyak dari mereka yang selamat. Jadi, masih ada kesempatan untukmu bertemu mereka. Mereka yang berharga yang sudah seperti keluarga bagimu. Mereka yang masih hidup dan selamat... Hidupmu masih ada harapan!" Ungkap Raisa


"Benarkah masih ada dari mereka yang selamat? Benarkah tidak semua dari kami berakhir dengan tragis? Benar! Benar, bahwa mereka yang di Desa Daun juga kawanku. Kawanku yang berharga lainnya! Jika, mereka masih ada yang hidup... Satu saja! Hidupku akan lebih berarti dari sekarang ini. Aku benar-benar masih punya kesempatan! Itu juga jika yang kau katakan adalah benar...!" Ujar si pelaku dengan ceria.


"Ya, ada dari mereka yang masih dan tetap hidup. Walaupun sebelumnya kubilang, bahwa aku bukanlah Tuhan yang mempunyai hak untuk menghukummu. Tapi, masih ada orang yang lebih pantas untuk menghukum kalian semua. Petugas yang berwajib, Polisi! Kemungkinan besar yang sudah pasti yang sekarang terjadi pada kawanmu yang lain adalah mereka semua ditahan di penjara karena kesalahan mereka yang sudah memporak-porandakan sebuah desa. Mereka yang terselamatkan sekarang telah hidup dalam tahanan, jika kau ingin bertemu mereka, nasibmu pasti akan sama mendekam di penjara seperti halnya mereka yang memiliki kesalahan yang sama sepertimu. Kau tetap mau, masih ingin bertemu mereka? Kau yakin? Bagaimana pun kau dan juga mereka tetap harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kalian lakukan. Apa kau tidak menyayangkan pilihan ini dan mau mengakui kesalahanmu juga siap menghadapi kenyataan? Kau akan masuk penjara untuk membayar semua kesalahanmu!" Ucap Raisa


"Aku tetap pada pilihanku! Aku tetap ingin bersama kawanku di mana pun kami berada nantinya... Aku mengaku salah dan telah menyadarinya, juga menerima semua kenyataan. Aku mohon maaf atas kesalahan yang telah kuperbuat padamu dan juga kalian semua. Dan, terima kasih padamu untuk semuanya. Kau telah menyadarkanku... Aku akan menerima sekalipun aku akan tinggal di penjara. Kumohon dan meminta bantuanmu untuk mempertemukan dan mempersatukanku kembali dengan para kawanku yang masih hidup." Ucap si pelaku dengan sungguh-sungguh.


"Baiklah, itu pilihan yang tepat! Ternyata kau masih bisa memilih pilihan yang baik..." Ujar Raisa


Semua yang menyaksikan tersenyum dan bernafas lega~


Mereka pun mendekati Raisa...


Morgan, Aqila, Rumi, Devan, Sanari, dan Sandra...


Morgan pun menepuk pundak Raisa~


"Akhirnya kau bisa mengakhiri pertarungan ini. Selamat, kau dapat menghadapi semua sendiri!" Ucap Morgan memberi Raisa ucapan selamat...


"Ya, kami semua khawatir dengan kondisimu sampai berbondong-bondong datang ke sini. Ternyata kau dengan mudah bisa menghadapi ini semua sendirian." Ujar Aqila


"Tidak juga... Ini juga berkat bantuan kalian yang sudah datang. Jika bukan karena yang lain membantuku menahan kelima orang tadi, mungkin akan sulit bagiku untuk menghalau dan mengejarnya sampai sini. Terima kasih karena sudah mau datang~" Ucap Raisa


"Kau ini benar-benar mendramatisir... Merepotkan saja!" Kata Devan


"Menurutku kau malah penuh dengan kejutan! Sebelumnya membuat kami semua khawatir dan terus kemudian terkagum dengan tindakanmu." Ucap Rumi


"Terima kasih atas pujiannya. Sudah kubilang, ini semua berkat kalian. Jika bukan mendapat bantuan dari kalian, aku pasti masih kesulitan menghadapi 5 orang yang terus menghalangiku tadi dan mungkin semua menjadi sangat kacau sekarang." Ujar Raisa


Raisa memperhatikan, ternyata ada kehadiran Sandra di antara mereka. Orang yang tidak ada saat Raisa pergi ke dimensi di dunia yang lain karena sedang pergi mengunjungi kampung halaman...


"Ah, maaf! Aku tidak memperhatikan sebelumnya... Ternyata kau ada di sini juga, Sandra. Senang bertemu denganmu. Aku sangat menantikan untuk bertemu denganmu sebelumnya." Ucap Raisa


"Aku juga menantikan saat bertemu denganmu. Tapi, bagaimana kau tau namaku? Mereka yang memberitaumu sebelum ini?" Ujar Sandra yang baru pertama kali bertemu dengan Raisa.


Raisa hanya tersenyum menanggapinya.


"Kau terkejut, bukan? Responmu sama denganku saat pertama kali bertemu dengannya. Saat itu tim Morgan lebih dulu bersamanya..." Kata Devan


"Apa benar semua kata mereka, kau banyak mengetahui tentang kami seperti peramal?" Tanya Sandra


"Kuanggap itu bukan sebagai ramalan melainkan keberuntungan belaka yang menghampiriku untuk tau tentang kalian sebelum pertemuan kita. Kau hanya berlebihan..." Ujar Raisa sambil mengumbar senyum ramahnya yang manis itu.


Sandra yang bingung, tak ingin ambil pusing dan ia pun hanya kembali terdiam...


Raisa menoleh pada pelaku yang sudah terkulai lemah tak bertenaga~


Raisa pun mendekati dan berjongkok di hadapannya...

__ADS_1


"Aku akan menyembuhkanmu. Tapi, tenaga sihir dan kemampuanmu akan tetap kublokir demi keamanan yang bersifat sementara. Kuharap kau bisa memakluminya." Ucap Raisa pada si pelaku.


"Lakukan saja seperti maumu. Aku akan mengikuti. Aku hanya menantikan waktu berkumpul kembali dengan kawanku..." Kata si pelaku yang sudah pasrah.


"Baiklah... Maafkan aku sebelumnya." Sungkan Raisa berbaik hati dan bermaksud sopan.


Raisa pun mengulurkan tangannya untuk menyembuhkan si pelaku. Lalu, tangannya bergerak untuk mengunci di beberapa titik tubuh untuk memblokir kemampuan dan tenaga sihir si pelaku.


Si pelaku hanya memasrahkan dirinya pada perlakuan Raisa yang masih memikirkan dirinya dan berbaik hati padanya untuk menyembuhkan semua lukanya.


"Terima kasih karena kau masih berbaik hati mau menyembuhkanku. Tapi, dengan tenaga sihirmu terblokir, aku tak bisa menghilangkan pengaruh sihir pengendali pikiran pada orang yang terpengaruh tadi. Karena sepertinya mereka masih dalam pengaruh sihirku yang melekati mereka berlima." Ucapnya


"Apa!? Bagaimana bisa? Kau dengar, kan? Dia masih tak mau berbelas kasih dan menghilangkan pengaruh sihirnya! Padahal kau sudah berbaik hati menyembuhkan lukanya..." Protes Morgan


"Tidak apa. Aku masih punya cara... Kau tidak memengaruhi orang lain selain berlima orang tadi, kan?" Ujar Raisa


Si pelaku hanya menggelang lemah...


"Kurasa, Ian, bisa mencoba melepas pengaruh sihirnya. Dia juga punya kemampuan pengendali pikiran yang diturunkan Ibu nya padanya." Ucap Aqila


"Itulah yang kumaksudkan!" Kata Raisa


"Benar. Nyonya Irene adalah putri pengendali pikiran yang hebat di Desa. Ian, putranya juga pasti memiliki kemampuan yang sama..." Ujar Rumi


"Ya, Ian, dari timku memang punya kemampuan itu. Kurasa dia akan berhasil." Kata Devan


"Baiklah... Kau ikut denganku ke tempat tadi bersama mereka juga." Ujar Raisa


Mereka semua pun kembali ke tempat sebelumnya, tempat yang lain menahan lima orang terpengaruh sihir pengendali pikiran dengan sihir penyegel.


Dengan si pelaku bersama Raisa yang membawanya.


•••


.



Bersambung...


¤: [Kutipan Author.]


"Halo, semuanya~


Author kembali hadir!


Seperti biasa, Author ingin mengucapkan terima kasih banyak pada kalian semua yang sudah mau membaca dan sudah berjasa dalam mendukung karya Author yang jauh dari kata sempurna ini. Baik itu berupa like, komentar, menambahkan ke favorit, rate, atau pun vote... Author sangat-sangat berterima kasih pada kalian semua.


Dan, pada kesempatan kali ini, selain ucapan terima kasih, Author mau mengucapkan 'SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA.' pada kalian yang menjalankannya...


Tak terasa bulan Ramadhan telah hadir kembali. Dan dengan adanya bulan penuh berkah dan ampunan ini, Author pun mau mengucapkan maaf beribu maaf bila ada kesalahan yang mungkin telah menyinggung kalian, para pembaca sekalian. Baik itu melalui kata-kata pada cerita yang kurang menyenangkan atau pun balasan komentar Author yang tak berkenan di hati kalian semua. Author nengucapkan maaf bila banyak kekurangan dari diri Author yang mungkin sudah kalian sadari melalui penulisan cerita novel ini...


Sekian kutipan yang ingin Author sampaikan...


Untuk kalian para pembaca selamat menantikan kembali kelanjutan cerita novel ini, seperti biasa yang update setiap 3hari/ episode.


Dan, semoga kalian semua terhibur~


^^^Tertanda^^^


^^^[Author:^^^


^^^Dilawrsmr.]"^^^

__ADS_1


__ADS_2