
2 hari telah berlalu.
Usai kembali dari perjalanan misi di Desa Es, Negara Salju, Raisa dan yang lain pun menyerahkan laporan misi pada Tuan Nathan di ruang kerjanya di kantor Pemimpin Desa.
"Baiklah. Kuterima laporan misi dari kalian," kata Tuan Nathan selaku Pemimpin Desa Daun.
"Selamat menikmati liburan untuk kalian," sambung Tuan Nathan
"Maaf, tapi ucapan itu hanya untuk sepasang pengantin baru atau berlaku juga bagi kami semua di sini?" tanya Chilla
"Baiklah ... itu berlaku untuk kalian semua," jawab Tuan Nathan
"Terima kasih banyak, Tuan Pemimpin Desa," ucap Ian
"Terima kasih, Tuan Nathan," ucap Raisa
"Sama-sama," balas Tuan Nathan
"Kalau begitu, kami semua mohon undur diri. Pemisi ... " ujar Sanari
Raisa, Rumi, Amon, Sanari, Chilla, Devan, dan Ian pun melangkah pergi dari ruang kerja Pemimpin Desa.
"Akhirnya dapat jatah libur untuk menenangkan pikiran," ujar Devan
"Raisa, karena sudah diperbolehkan untuk liburan ... bagaimana kalau kita pergi mengunjungi Ayah?" tanya Rumi
"Pergi berkunjung ke kediaman Ayah Rommy ... itu ide bagus. Ayo, kita ke sana," jawab Raisa
"Kalau begitu, ayo, kita pulang untuk bersiap-siap," ujar Rumi
"Pengantin baru sudah punya rencana, rupanya ... " kata Amon
Rumi pun langsung mengajak Raisa pulang untuk bersiap-siap pergi ke kediaman Ayah Rommy.
"Rumi, apa kita akan langsung pergi sekarang juga?" tanya Raisa
"Ya. Kita langsung pergi saja. Tunggu ... apa kau ingin istirahat dulu dan pergi nanti?" tanya balik Rumi usai menjawab pertanyaan sang istri.
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja tidak biasanya kau terburu-buru seperti ini," jawab Raisa
"Tidak apa. Lebih cepat pergi, lebih cepat sampai, maka lebih baik. Kalau kau merasa lelah, kau bisa istirahat sepuasnya saat tiba di sana nanti," ujar Rumi
"Mana bisa seperti itu," kata Raisa
"Bisa. Lagi pula, di sana ada yang ingin bertemu denganmu," ujar Rumi
"Ingin bertemu denganku? Siapa?" tanya Raisa
"Kau akan segera tahu begitu tiba di sana," jawab Rumi
Sesampainya di rumah, Raisa dan Rumi langsung berkemas untuk bersiap pergi ke kediaman Tuan Rommy.
Di sisi dunia lain.
Aqila baru saja menutup portal sihir teleportasinya setelah tiba di suatu tempat bersama sang suami.
"Akhirnya kita sampai juga," kata Morgan
"Kau bicara seperti itu seolah kita habis melakukan perjalanan panjang saja. Padahal kita hanya melintas menggunakan portal sihir teleportasi," ujar Aqila
"Jangan terus mengeluh. Ayo, kita langsung pergi ke rumah orangtua Raisa," sambung Aqila
"Baiklah," patuh Morgan
Mereka berdua pun langsung beranjak pergi menuju ke rumah orangtua Raisa.
...
"Nek, karena udah nikah ... Onty Icha jadi udah gak tinggal di sini dan pindah ke rumah baru sama Uncle Rumi, ya?" tanya Farah dengan wajah polosnya.
"Iya, Sayang. Sama kayak Mami yang sekarang tinggal sama Papi dan Farah, tapi kalau nanti ada waktu Onty Icha dan Uncle Rumi bakalan main ke sini kok," jawab Bu Vani
"Aku jadi makin jarang bisa main sama Onty Icha dong?" tanya Farah
"Kan, ada Om Ehan. Ayo, kita majn bareng," ujar Raihan
"Ya, ayo ... " kata Farah
Ya, saat ini Raina memang sedang berkunjung ke rumah orangtuanya bersama Arka dan Farah.
"Permisi!"
"Kayaknya ada yang datang, tuh. Apa ada kiriman paket online?" tanya Arka yang langsung beranjak melihat ke luar jendela.
"Oh ... bukan. Kayaknya itu temannya Raisa," sambung Arka
"Bukannya itu Aqila dan Morgan?" Raina langsung mendekati sang suami dan melihat siapa yang datang.
Raina pun langsung melangkah ke luar dari rumah untuk menyambut kedatangan Aqila dan Morgan. Raisa membuka pagar rumah dan menghampiri kedua tamu yang datang.
"Ini ... Aqila dan Morgan, ya? Ada perlu apa? Mau cari tahu alamat rumah Raisa dan Rumi yang baru?" tanya Raina
"Iya, Kak. Tapi, kami datang bukan untuk itu. Apa Bibi dan Paman ada di dalam?" tanya balik Aqila
__ADS_1
"Oh .... ada. Kebetulan kami semua lagi berkumpul," jawab Raina
"Kalau begitu, ayo, masuk dulu ... " sambung Raina yang langsung mempersilakan Aqila dan Morgan untuk masuk ke dalam rumah.
Aqila dan Morgan pun beranjak masuk dan melewati pagar rumah tersebut.
"Bu, Pak, ini ... dicari sama temannya Raisa. Aqila dan Morgan," pekik Raina
"Baru kali ini kedatangan tamu yang datang dari jauh lagi setelah Rumi dan Elvano waktu itu. Aqila dan Morgan, ada perlu apa, ya?" tanya Pak Hilman
Farah pun langsung mendekat pada Aqila dan Morgan.
"Bibi Aqila, Paman Morgan, apa Bibi dan Paman datang ke sini karena disuruh Onty Icha dan Uncle Rumi?" tanya Farah
"Bukan, tapi hanya Uncle Rumi yang suruh kami datang ke sini karena Onty Icha tidak tahu rencana ini," jawab Aqila
"Baru kali ini aku dipanggil dengan sebutan Paman. Padahal Rumi sendiri dipanggil dengan sebutan Uncle," gumam pelan Morgan
Karena Farah memanggil Raisa dengan sebutan Onty, otomatis Rumi pun dipanggil dengan sebutan Uncle. Namun, untuk teman-teman Rumi yang lain, Farah memanggil mereka dengan sebutan Bibi atau Paman.
"Farah, mau bertemu dengan Onty Icha dan Uncle Rumi tidak?" tanya Morgan
"Mau banget," jawab Farah
"Tapi, bukannya Kak Raisa dan Kak Rumi lagi ada di kampung halaman Kak Rumi di sana?" tanya Raihan
"Ya. Karena itu kami berdua datang ke sini untuk menjemput kalian semua agar bisa pergi ke sana," jawab Aqila
"Oh ... ternyata, Kak Rumi mau menepati janji yang bilang mau ikut bawa kami semua liburan di sana dengan cara menyuruh Kak Aqila dan Kak Morgan datang jemput kami di sini," ujar Raihan
Keluarga Raisa sepakat nenyebut dunia asal suaminya sebagai kampung halaman sang suami.
Raihan langsung menoleh ke arah Farah. Begitu juga dengan Raina yang langsung menatap ke arah anaknya itu.
"Kalau kita semua harus ke sana ... bagaimana cara jelasin ke Farah? Kan, kampung halaman Rumi ada di dimensi dunia yang berbeda," batin Raina
Raina dan Raihan pun langsung mendekat ke arah Farah dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu.
"Farah, betulan mau pergi ketemu sama Onty Icha dan Uncle Rumi?" tanya Raina
"Iya, Mih. Aku udah kangen," jawab Farah
"Farah, tahu, kan ... kalau Onty Icha bisa sulap dan ini rahasia," ujar Raina
Farah mengangguk dengan wajah polosnya.
"Uncle Rumi dan teman-temannya juga bisa sulap dan ini juga rahasia," kata Raina
"Iya, aku tahu. Terus emangnya kenapa, Mih?" tanya Farah
"Jadi, begini, Farah ... kampung halamannya Uncle Rumi itu juga tempat rahasia. Karena di sana banyak orang yang bisa sulap, jadi semua orang di sini gak boleh ada yang tahu tempat itu, kecuali keluarga kita. Jadi, Farah harus jaga rahasia ini dan anggap aja kita pergi ke luar negeri," jelas Raihan yang mengarang cerita dan alasan.
"Aku mengerti. Aku bakal jaga rahasia kok," kata Farah
"Syukurlah, kalau Farah mengerti. Anak Mami emang pintar," ujar Raina sambil melontarkan pujian pada putri kecil kesayangannya.
"Tapi, gimana cara kita pergi ke kampungnya Uncle Rumi? Kalau tempat itu banyak sulapnya, apa kita ke sana pakai cara sulap juga?" tanya Farah dengan pikiran cerdasnya.
"Benar, Farah. Kita akan pergi menggunakan pintu sulap rahasia dan Bibi Aqila yang akan buka pintu sulap rahasia itu." Kali ini Aqila yang memberi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Farah.
Farah pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau begitu, ayo, kita siap-siap dulu," ujar Bu Vani
Semua pun mulai berkemas dan bersiap untuk pergi ke kampung halaman Rumi, sedangkan Aqila dan Morgan hanya diam menunggu di sana.
Setelah siap, semuanya pun beranjak menuju ke halaman belakang rumah untuk membuka portal sihir teleportasi di sana.
"Maaf, ya, Aqila, Morgan ... karena buru-buru mau pergi jadi gak sempat makan nareng dulu," ujar Bu Vani
"Tidak apa, Bibi. Setelah kita sampai nanti, kita bisa makan bersama ... dengan Raisa dan Rumi juga. Tenang saja," kata Morgan
"Kita akan langsung menuju kediaman Tuan Rommy, Ayah Rumi. Jangan terlalu terkejut setelah sampai di sana nanti, ya," sambung Morgan
"Semua siap, ya ... pegangan yang erat dan perhatikan langkah kalian. Jangan sampai ada yang tettinggal," ucap Aqila
Aqila pun menggunakan kemampuan sihirnya untuk membuka portal sihir teleportasi. Lingkaran misterius pun muncul dan terbuka begitu saja.
"Aku ingat sekarang ... dulu Onty Icha pernah pakai sulap ini juga untuk pergi ke vila," ucap Farah
"Benar. Bibi Aqila juga bisa pakai sulap ini seperti Onty Icha," kata Aqila
"Bibi Aqila akan jadi yang pertama masuk. Setelah itu yang lain masuk satu per satu dan Morgan akan masuk terakhir," sambung Aqila
Semua mengangguk mengerti.
Seperti yang Aqila katakan, ia jadi orang pertama memasuki portal sihir teleportasi, lalu keluarga Raisa masuk satu per satu dan Morgan yang paling akhir memasuki portal sihir teleportasi.
Begitu melangkah ke luar, mereka semua tiba di pekarangan kediaman Tuan Rommy yang terlihat asing. Pemandangan yang tidak biasa, tapi tidak ada yang berkomentar.
"Kita sudah sampai," kata Aqila
"Mari, semuanya masuk dulu," sambung Aqila
"Di mana Raisa dan Rumi, ya? Kami ingin bertemu mereka berdua dulu karena sepertinya akan canggung dan asing," ujar Bu Vani
__ADS_1
"Sepertinya mereka berdua masih dalam perjalanan menuju ke sini. Sebentar, aku akan menghubungi mereka dulu," ucap Morgan
"Katanya di sini gak ada HP? Terus kalian berkomunikasi jarak jauh dengan apa?" tanya Raina
Morgan pun mengeluarkan ular sihir milik Rumi dari dalam tss pinggang yang dibawa olehnya.
"Ah ... ular itu! Aku pernah lihat ular itu! Ular itu bisa digunakan sebagai perantara komunikasi sihir," pekik Raihan
"Apa itu ular sihir punya Rumi?" tanya Arka
"Benar. Rumi yang memberikannya supaya kami jadi lebih mudah berkomunikasi," jawab Morgan
"Rumi, kami semua sudah sampai. Bibi bilang ingin menunggu kalian sampai dulu baru ingin masuk bersama," sambung Morgan yang mengirimkan pesan suara melalui ular sihir milik Rumi.
"Baiklah." Ada balasan singkat yang datang dan itu adalah suara Rumi.
"Singkat sekali. Dasar, Rumi ... " gumam Morgan
"Kita hanya perlu menunggu. Sebentar lagi Raisa dan Rumi akan sampai," kata Aqila
"Ada di mana Raisa dan Rumi? Apa rumah mereka jauh dari sini?" tanya Pak Hilman
"Memang lumayan jauh, Paman. Rumah mereka terletak di dalam desa di ibukota negara. Sedangkan di sini hanyalah desa pinggiran," jelas Aqila
Rumi terlihat sedang mengeluarkan ular sihir miliknya untuk berkomunikasi.
"Rumi, kau sedang apa dengan ularmu itu? Ada yang mengirim pesan? Kenapa baik ular itu atau dirimu tidak ada yang bicara? Apa itu adalah pesan rahasia?" tanya Raisa
"Aku adalah pemilik dari ular sihir ini. Tanpa kami saling bicara pun kami bisa saling mengerti dan menyampaikan pesan," jawab Rumi
"Ternyata memang benar pesan rahasia, ya?" tanya Raisa lagi dengan tebakannya.
"Orang-orang yang ingin bertemu denganmu sudah menunggu," ungkap Rumi yang merasa istrinya penasaran dengan apa isi pesan yang dikirim melalui ular sihir miliknya itu.
"Orang-orang berarti bukan hanya satu? Sebenarnya siapa mereka?" tanya Raisa
"Sebentar lagi kau juga akan langsung mengetahuinya," jawab Rumi
"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita langsung pergi temui mereka. Aku sudah selesai bersiap-siap," ujar Raisa
Raisa dan Rumi pun langsung beranjak ke luar dari dalam rumah. Begitu berada di luar, Raisa langsung membuka portal sihir teleportasi menuju ke kediaman Tuan Rommy.
"Kau sudah merasa penasaran dan tidak sabar, rupanya ... " ujar Rumi
"Siapa suruh kau malah bersikap rahasia seperti itu padaku. Menggunakan portal sihir teleportasi akan cepat sampai. Kita akan langsung tiba di kediaman Ayah," kata Raisa
Keduanya pun langsung melamgkah memasuki portal sihir teleportasi. Tak pernah lupa untuk saling bergenggaman tangan dengan erat. Pada langkah berikutnya, keduanya pun tiba di kediaman Tuan Rommy.
Muncul lingkaran misterius dari portal sihir teleportasi lain di kediaman Tuan Rommy.
"Itu ... mereka berdua sudah sampai," kata Aqila
Raisa dan Rumi terlihat melangkah ke luar dari lingkaran misterius dari portal sihir yang dibuka oleh Raisa sendiri.
Raisa tampak terkejut saat melihat keluarganya ada di sana. Rupanya, orang-orang yang ingin bertemu dengannya adalah keluarganya sendiri. Dan ini adalah rahasia sekaligus kejutan dari Rumi untuknya.
Farah pun langsung berlarian menghampiri Raisa dan berhamburan memeluk Onty kesayangannya itu. Genggaman tangan antara Raisa dan Rumi otomatis terlepas saat wanita itu membalas pelukan dari keponakannya.
"Onty Icha, aku rindu!" teriak Farah kegirangan.
"Onty juga rindu, Sayang ... " balas Raisa yang langsung mengangkat tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
"Aku udah besar, Onty ... jangan gendong lagi," kata Farah
"Iya, ya. Farah udah makin besar dan berat sekarang," ujar Raisa
"Jadi, ini yang kamu rahasiakan dari aku sampai buat aku penasaran?" tanya Raisa pada sang suami yang berada di sampingnya.
"Aku hanya ingin ini jadi kejutan untukmu," kata Rumi
"Kalau begitu, sini ... biar Farah aku saja yang gendong," sambung Rumi yang sudah merentangkan kedua tangannya dan.
"Kalau digendong sama Uncle Rumi, aku mau. Karena Uncle pasti lebih kuat," ujar Farah
Rumi pun langsung mengambil alih tubuh Farah dari Raisa ke dalam gendongannya sendiri.
"Farah, jangan manja sama Onty dan Uncle. Sini ... kalau mau gendong sama Papi aja," ucap Arka
"Aku cuma mau peluk Uncle Rumi sebentar aja kok, Pih ... " kata Farah
Farah pun mengeratkan rengkuhan kedua tangannya pada leher Rumi dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Uncle tercintanya untuk memeluk suami dari Onty kesayangannya.
"Aku mau turun, Uncle," bisik Farah pada telinga Rumi.
Rumi pun menurunkan Farah dari gendongannya dan gadis kecil itu pun berlarian kembali ke arah Papi-nya. Lalu, Arka pun menggendong tubuh putri kesayangannya itu.
.
•
Bersambung.
__ADS_1