Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
45 - Senandung Di Malam Sunyi~


__ADS_3

Setelah membahas beberapa hal, mereka melanjutkan makan malam dengan tenang...


Setelah usai makan, para gadis bahu membahu membereskan peralatan bekas makan. Sedangkan para lelaki malah asik duduk-duduk di ruang santai sembari mencoba mengutak-atik remot televisi, mencoba menonton sesuatu yang menyenangkan, mencari chanel yang tepat.


"Apakah ada yang menyenangkan untuk ditonton? Biasanya jika malam hari, di televisi hanya ada banyak drama. Ada juga beberapa acara lain sih, tapi entah, apakah sesuai dengan selera tonton kalian atau tidak?" Ujar Raisa yang datang membawakan camilan malam sebagai makanan penutup.


"Wah, Raisa, terima kasih camilannya..." Kata Chilla yang juga berada di sana.


"Setelah makan banyak kau masih mau makan camilan, Chilla? Kau sungguh sanggup?" Tanya Ian


"Camilan kan memang untuk dimakan, lagi pula, Raisa sudah repot menyiapkanya. Sebagai tamu yang baik, maka aku harus memakannya." Jawab Chilla dengan senangnya.


"Chilla, benar kok. Aku mengeluarkan camilan ini memang untuk kalian makan. Makanlah, makanan penutup ini... Anggap saja, sebagai makanan pencuci mulut." Kata Raisa


"Kalau, mau sesuatu, cari saja aku di dapur. Aqila dan Sanari juga di sana membantuku. Nikmatilah waktu kalian..." Sambung Raisa


Raisa pun kembali ke dapur untuk membersihkan semua peralatan makan tadi, dibantu oleh Aqila dan Sanari.


Sambil mencuci piring, ketiganya mengobrol ringan bersama.


"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Tadi, aku hanya membawakan camilan tanpa membuatkan yang lain minuman. Bisakah kalian berdua membuatkan minum dan mengantarnya ke ruang kumpul pada mereka? Kalian juga santai saja bersama mereka semua. Biar aku yang urus sisa cucian ini. Hanya tersisa sedikit, aku bisa selesaikan sendiri." Ucap Raisa


"Baiklah..." Kata Aqila


Aqila dan Sanari pun membuat minuman untuk semua dan hendak mengantarkan ke ruang berkumpul.


"Aku dan Aqila, duluan ya, Raisa. Segeralah menyusul..." Ujar Sanari


"Ya, tolong ya. Nanti aku menyusul." Kata Raisa


Aqila dan Sanari pun meninggalkan Raisa sendiri di dapur dan membawa nampan berisi minuman bersama mereka berdua.


Raisa pun kembali fokus pada cuciannya di washtafel. Mencucinya dengan telaten~


Lalu, ia mendengar suara derap kaki melangkah mendekat menuju dapur...


"Kenapa kembali lagi? Ada sesuatu yang terlupa?" Tanya Raisa tanpa menoleh untuk melihat siapa yang datang.


Raisa kira, itu adalah Aqila atau Sanari yang datang. Rupanya yang merespon pertanyaannya adalah seorang lelaki.


"Tidak, aku baru datang." Jawabnya menyahut.


Mendengar suara lelaki yang menjawab pertanyaannya, apalagi ia hafal betul suara siapa saja teman dunia lainnya itu... Raisa pun sontak menoleh dengan cepat~


"Eh, itu kau, Rumi... Ada apa sampai datang ke dapur? Memerlukan sesuatu? Katakan saja..." Tanya Raisa lagi setelah mengetahui dan mendapati Rumi yang datang menghampirinya di dapur.


Tak ingin lama menatap orang yang selalu membuatnya goyah, Raisa kembali fokus pada cucian piring di tangannya.


"Tadi, aku hendak ke toilet." Jawabnya


"Toilet ada tepat sebelum belokan ke kiri ke arah dapur. Kenapa bisa sampai ke sini? Kau menyasar karena belum hafal letaknya?" Sambar Raisa dengan cepat.


"Aku sudah selesai di toilet. Aku memang sengaja mencarimu." Ucapnya


"Ada perlu mencariku? Atau, kau bukan memerlukan sesuatu melainkan memerlukan bantuanku? Perlu bantuan apa?" Tanya Raisa


"Raisa, kau menghindariku?" Tanya balik Rumi dengan kepekaannya.


...'Bagaimana dia bisa tau? Padahal sebelumnya, dia tidak terlalu paham dengan hal seperti ini, tidak. Bahkan dia sangat polos untuk hal seperti ini. Bagaimana dia menyadarinya? Aku harus jawab apa?' Batin Raisa...


"Aku? Untuk apa menghindarimu? Maaf, baru kali ini aku kedatangan tamu dari jauh yang bahkan bukan dari duniaku. Aku terlalu antusias sampai terlalu sibuk agar melakukannya dengan baik. Aku tidak bermaksud untuk menghindar kok... Maaf, jika kau merasa begitu." Jawab Raisa dengan segala alasannya.


"Oh, begitu..." Kata Rumi


"Hmn, iya. Begitulah..." Sahut Raisa


"Emn, Raisa... Soal yang kau katakan saat kau berada di Rumah Sakit Desa Daun kami. Aku...-"


"Ah, Rumi! Soal yang kubicarakan saat di waktu itu, bisakah kau lupakan saja? Maksudku, kau bisa menyimpan itu sendiri tanpa mengingat jika aku yang mengatakannya. Tolong, ya. Dan, jangan tanyakan alasannya kenapa." Raisa memotong ucapan Rumi dengan cepat. Ia tak sanggup dengan segala kemungkinan yang akan didengarnya.


Raisa tak bisa membayangkan atau menebak apa yang akan Rumi katakan. Tidak, ia terlalu membayangkan segala kemungkinan yang akan Rumi katakan. Makanya, ia sudah merasa takut sendiri jika benar-benar mendengarnya.


Raisa tak mau punya harapan lebih lagi. Ia sudah memutuskan untuk menyerah akan perasaannya terhadap Rumi. Ia terlalu takut di hadapi dengan kenyataan akan perpisahan. Tidak, bahkan itu adalah kenyataan bahwa mereka berdua takkan mungkin bisa bersama. Alasannya cukup kuat! Karena dunia mereka berbeda~


Itu sungguh menyesakkan!


"Tapi, kenapa?" Rumi yang malah bertanya.


"Kenapa, apanya? Kan, sudah kukatakan, jangan tanya alasannya..." Heran Raisa sedikit kesal dengan kepemaksaan Rumi.


"Bukan alasan sebenarnya... Tapi, bukankah yang kau katakan itu adalah suatu pelajaran yang berarti? Kenapa kau malah mau menganggap jika itu bukan kau yang mengatakannya?" Bingung Rumi


Pelajaran yang berarti-


Blush~~


...'Kau sampai menganggapnya pelajaran yang berarti? Tolong, jangan goyahkan hatiku lagi... Aku tak ingin terjebak oleh perasaanku yang sia-sia ini lagi untuk ke sekian kalinya.' Batin Raisa...

__ADS_1


"Aku hanya menganggap itu pelajaran dasar yang sudah seharusnya dimengerti. Jadi, kau melupakan jika hal itu adalah dariku yang mengatakannya adalah hal yang biasa. Itu hal yang wajar saja. Bukan masalah besar... Tidak ada alasan tertentu. Aku hanya ingin kau begitu. Lupakanlah saja!" Ucap Raisa beralasan.


"Aku bingung... Tapi, aku bisa mengabulkannya." Kata Rumi


"Terima kasih sudah mau mengerti..." Ujar Raisa


Raisa mengobrol dengan Rumi dengan terus terfokuskan dengan aktivitas mencuci piringnya. Ia tak menatap langsung lawan bicaranya. Ia sudah bertekat untuk menguatkan hatinya agar benar-benar bisa memupuskan perasaannya yang tak ada harapan itu...


Melihat Raisa yang tidak menatapnya saat bicara, membuat Rumi memberanikan diri menggapai dan menggenggam sebelah tangannya. Benar saja, Raiaa sontak langsung menoleh padanya yang ada tepat di sampingnya~


"Raisa, sebenarnya aku mencarimu untuk mengatakan sesuatu...-"


"Aku sudah selesai! Semua piring sudah bersih kucuci. Rumi, kau kembalilah bergabung dengan yang lain. Aku akan menyusul kalian. Tapi, karena terlalu lama di dapur, aku ingin mencari udara segar di di luar dulu sebentar. Kalau ada yang mencariku, katakan aku ada di luar, ya." Ucap Raisa yang lagi-lagi memotong ucapan Rumi.


Perasaan Raisa terlalu tak karuan saat Rumi menggenggam tangannya. Membuatnya ingin segera menjauh agar Rumi tak menyadari akan perasaan hatinya yang akan segera luluh begitu saja jika terus dibiarkan.


Raisa langsung tergerak melepaskan menggaman tangan Rumi. Dan, lalu melenggang pergi setelah mencuci tangannya hingga bersih dari busa sabun pencuci piring.


Raisa pergi berlalu begitu saja, meninggalkan Rumi di dapur. Ia ke luar melalui pintu dapur yang menghubungkan vila itu ke halaman belakang luar yang luas~


Rumi menatap punggung Raisa yang perlahan menjauh dengan perasaan kecewa dan terbesit kesedihan di hatinya...


•••


Raisa menatap langit malam yang luas, ia menghela nafas panjang~


Pandangannya beralih menyapu sekelilingnya...


Di halaman belakang vila terdapat beberapa pohon yang cukup besar yang dapat dihitung jumlahnya... Tak jarang sekelilingnya juga terdapat beberapa tanaman bunga yang telah lama ditanam dengan berjarak.


Lagi-lagi, Raisa menghela nafas berat~


Seharusnya pikirannya kini menerawang momen kenangan kebersamaan bersama keluarga besarnya yang kini sedang tak bersama dirinya. Tapi, kini pikirannya malah kacau seiringan hatinya yang resah, gundah gulana...


Benak Raisa terlalu kacau, dikacaukan oleh perasaannya yang tak pasti. Perasaan yang tak berarti dan sia-sia belaka... Perasaan yang seharusnya tak pernah ada, tak seharusnya dirasakan oleh hatinya~


Pandangan Raisa tak teralihkan dari bunga-bunga yang tertanam di sekitarnya. Tak sedikit yang layu, mungkin karena kurang dirawat karena sudah lama vila tersebut tak diinapi. Dan, si penjaga vila kurang memerhatikan halaman belakang. Padahal, halaman depan cukup dirawat dengan baik...


Pemandangan ini seperti yang dirasakan di hati Raisa. Persis yang dialami dirinya...


Dari luar, Raisa nampak baik-baik saja dan selalu ceria. Namun, berbeda dengan hatinya. Berbanding terbalik!


Hatinya kacau, perasaannya perlahan layu seiring kenyataan yang begitu menyakitkan dan menyesakkan dada!~


Sebenarnya, dirinya sama seperti bunga-bunga itu. Rapuh~


Tanpa disadarinya, tangan Raisa yang nengeluarkan sihir mengayun seperti sedang menari. Kesedihan dalam hatinya, membuatnya melakukan pergerakan secara spontan. Perlahan, gerakan kecil itu membuat sebuah tarian yang pasti. Dengan sendirinya, Raisa menari tarian balet sederhana seiring senandung yang ia lantunkan dalam hati.


Senandung hatinya, kini meluncur bebas melalui mulutnya menjadi sebuah nyanyian di malam yang sunyi~


Tatap matamu bagai busur panah


Yang kau lepaskan ke jantung hatiku


Meski kau simpan cintamu masih


Tetap nafasmu wangi hiasi suasana


Saat kukecup manis bibirmu


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Aku berdansa di ujung gelisah


Diiringi syahdu lembut lakumu


Kau sebar benih anggun jiwamu


Namun kau tiada


Menuai buah cintaku


Yang ada hanya sekuntum rindu


Cintaku tak harus,


Miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Malam-malamku bagai malam seribu bintang

__ADS_1


Yang terbentang di angkasa bila kau disini


'Tuk sekedar menemani, 'tuk melintasi wangi


Yang s'lalu tersaji di satu sisi hati


Cintaku tak harus, miliki dirimu


Meski perih mengiris


Iris segala janji


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la


Sya-lala-lala-la~


Tanpa Raisa sadari, seseorang nemperhatikannya dari kejauhan malam yang gelap.


Mata kuningnya menyalang di gelap malam. Bagai sosok lain misterius yang menyeramkan. Namun, bagi Raisa, itulah salah satu poin yang mampu menggetarkan hatinya. Bagi Raisa, mata itu sungguh mempesona... Raisa masih tak menyadari sosok itu yang terus menatap jauh dirinya.


Rumi...


Dia cukup lama memandang sosok Raisa dari kejauhan. Ia juga melihat diri Raisa yang menari dengan indah sembari melantunkan nyanyian dengan suara merdu.


Mendengar dengan seksama...


Syair lagu yang menggetarkan jiwa, menghanyutkan hati. Dan makna yang membingungkan.


Untuk apa dan pada siapa, Raisa menyanyikan lagu itu?


Raisa menggerakkan tubuhnya dengan lemah lembut gemulai di akhir lagunya sembari mengeluarkan sihir air guna menyirami tanaman di sekitarnya. Namun, di akhir gerakan tariannya, Raisa menghentakkan tangannya dengan kuat sembari mengeluarkan sihir api seriringan emosinya yang meluap!


Dihempaskannya api sihir itu ke bawah. Membuat rumput di tanah terbakar api menjadi unggun yang menyala-nyala~


Nafas Raisa memburu merasakan sesak di dadanya. Dadanya pun naik turun menstabilkan nafas yang terengah. Matanya menyapu sekeliling dengan lebih luas. Ia terkejut! Mendapati sosok lelaki yang belum lama sempat mengobrol dengannya kini tengah menatapnya dari jauh~


Raisa hanya mampu diam tak melakukan apapun...


Dilihatnya, dari belakang sosok itu, muncul serombongan orang yang adalah teman-temannya.


"Rumi, sedang apa kau diam di situ? Di mana, Raisa? Kami semua mencari kalian berdua. Tadi, kami mendengar suara seseorang menyanyi. Apa itu, Raisa? Di mana dia?" Tanya Morgan yang baru datang dengan semua teman lainnya.


"Itu, Raisa! Di sana... Ayo, kita hampiri dia." Kata Chilla


Raisa hanya tersenyum menyambut kedatangan teman-temannya yang menghampirinya.


"Kalian ke mari? Kenapa tidak menunggu di dalam saja?" Tanya Raisa


"Kau yang dicari tak kunjung datang, malah di sini... Kami mencarimu." Ucap Chilla


"Ah, maaf. Aku sedang mencari udara segar ke luar sebentar." Kata Raisa


"Tadi, kami dengar seperti ada yang menyanyi. Apa itu kau?" Tanya Aqila


"Ya, hanya ingin memecah keheningan malam." Jawab Raisa


"Kami tidak mendengar jelas nyanyianmu. Hanya terdengar kau bersenandung di akhir. Suaramu bagus, Raisa." Ujar Sanari


"Jika, kau hanya mendengar saat kubersenandung di akhir. Bagaimana kau bisa tau suaraku terdengar bagus? Aku tak semahir itu dalam bernyanyi." Ucap Raisa


"Aku mendengar nyanyianmu. Nyanyianmu bagus, suaramu indah, Raisa. Kenapa kau bernyanyi sambil bermain sihir air? Lihat, kau ikut basah! Jangan sampai kau sakit lagi." Ujar Rumi


...'Sejak kapan dia mendengarku bernyanyi dari sana? Apa dia menyadari maksudku? Kuharap, tidak!' Batin Raisa...


"Terima kasih atas perhatianmu, Rumi. Tadi, aku sekalian ingin menyirami bunga-bunga yang terlihat layu ini. Kalian tau kan, di siang hari, di sini cuacanya cukup terik. Mungkin, itu sebabnya, bunga-bunga ini jadi layu. Tapi, bukan masalah besar." Kata Raisa sambil mengeringkan dirinya sendiri dengan sihir seperti biasa yang pernah ia lakukan.


"Kenapa di sini ada api?" Tanya Amy


"Aku sengaja membuatnya. Menghangatkan suasana malam yang dingin." Jawab Raisa


Padahal Raisa tak sengaja mengeluarkan sihir api itu saat emosinya meluap tadi.


"Tapi, kita jadi bisa berkumpul di sini. Bercerita sambil memandang langit yang indah. Bukankah cukup menyenangkan?" Ujar Raisa


"Benar juga. Kau masih berhutang cerita pada kami semua tentang kehidupanmu." Ingat Morgan


"Kalau begitu, duduklah..." Kata Raisa


Sebelum duduk, Raisa memagari api unggun buatannya dengan sihir tanah yang mengelilingi api itu. Agar tidak api menyebar, merambat ke mana-mana.


.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2