Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 111 - Tuan Garry si Mulut Bawel.


__ADS_3

Setelah aktivitas panasnya bersama sang suami, Raisa tidak bisa tertidur pulas. Wanita itu bahkan membuka kedua matanya selang beberapa waktu sekali. Niatnya ingin sekali bangun dan bangkit dari ranjang empuk itu, namun dirinya sudah tidak memiliki lagi tenaga setelah Rumi menggempurnya habis-habisan siang tadi.


Raisa sangat yakin saat ini sudah memasuki waktu malam hari meski ia bahkan tidak sanggup menoleh untuk sekadar mencari keberadaan jam untuk melihat waktu yang lebih pasti. Karena sedang berada di kediaman ayah mertuanya, Raisa merasa dirinya harus menunjukkan wajah di hadapan orang lainnya di sana untuk memenuhi adab sopan santun.


Raisa hanya bisa membuang nafas kasar saat dirinya lagi-lagi gagal mengumpulkan tenaga dan malah kembali terlena dengan kasur empuk tempatnya berbaring itu. Saat itu tangan Rumi yang melingkar di pinggangnya mengeratkan rengkuhan hingga tubuh keduanya yang berada di bawah selimut itu saling berhimpitan.


"Rumi, apa kau masih tidak puas memelukku semalam? Tubuhku rasanya pegal karena tidak bisa bergerak saat kau terus memelukku semalam. Sekarang bahkan rasanya tubuhku sudah remuk dibuat olehmu, tapi kau juga masih tidak bosan memelukku?" tanya Raisa


"Habisnya kalau tidak memelukmu dengan erat seperti ini aku takut kau pergi meninggalkanku. Setelah sah menjadi suami istri aku bisa merasa lega karena bisa memelukmu dengan bebas seperti ini. Lalu, untuk yang semalam siapa suruh kau yang lebih dulu membuatku merasa paranoid dengan pura-pura marah hingga aku tidak punya pilihan selain memelukmu dengan sangat erat karena takut kehilanganmu. Meski tanpa kau marah pun aku akan selalu memelukmu seperti ini saat kita tidur," ungkap Rumi


Saat ini posisi tidur keduanya sama persis seperti semalam, yaitu Raisa yang membelakangi tubuh Rumi.


Rumi pun bergerak membalikkan tubuh Raisa agar bisa berhadapan langsung dengannya.


"Kenapa kau membuang nafas seperti tadi, hmm? Apa kau masih belum puas dengan pelayananku? Apa pelayananku masih kurang?" tanya Rumi


"Ini yang aku kurang suka darimu sekarang. Kau jadi pandai dan lancar sekali berkata-kata mesum," ungkap Raisa


"Dan yang ada kaulah yang kurang membuat tubuhku lebih terasa remuk lagi. Kau sendiri yang tidak merasa puas," sambung Raisa


"Maaf, Sayang. Aku hanya sangat mencintaimu," kata Rumi


Raisa tersenyum lembut karena meski merasa tubuhnya remuk, ia mengerti perbuatan Rumi hanya karena mencintainya dan ingin memberikan banyak cinta padanya.


"Aku mengerti dan aku juga sangat mencintaimu, tapi sepertinya kita harus bangun sekarang juga. Yang lain pasti mencari kita karena tidak kunjung muncul," ujar Raisa


"Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak suka melakukannya di siang hari. Kalau di rumah kita sendiri, sih, mending saja karena setelahnya kita bisa saja bermalas-malasan sesuka hati karena hanya berdua. Kalau sedang di rumah orangtua, kan, jadi merasa tidak enak jika kita malah malas-malasan di dalam kamar," sambung Raisa


"Jadi, kalau sedang di rumah ... siang pun boleh?" tanya Rumi


"Asal tidak berlebihan atau hal yang melewati batas, aku ingin menjadi istri yang patuh dan menurut dengan kata dan keinginan suami," jawab Raisa


"Bukankah katanya kau merasa lelah dan lemas? Kenapa tidak lanjut dan puaskan tidur saja?" tanya Rumi


"Tidak bisa. Ini kediaman ayahmu. Aku harus sopan dengan menunjukkan wajah di depannya demi menghormatinya. Kita harus segera ke luar dari kamar," jawab Raisa


"Memangnya kau tidak bisa cukup pedulikan dan bersama denganku saja?" tanya Rumi


"Untuk hal ini ... maaf, Sayang. Di dunia itu tentu ada yang namanya hukum timbal balik. Jika, kita ingin orang lain bersikap baik pada kita, kita juga harus bersikap baik pada orang lain ... contohnya dengan menunjukkan rasa hormat dan sopan santun," jelas Raisa


"Duh ... istriku ini baik hati sekali, sih. Pantas saja bisa buat aku jatuh cinta. Aku memang tidak salah pilih," ucap Rumi


"Tapi, rasanya aku tidak punya tenaga untuk bangun," kata Raisa


"Sini, kupeluk dulu. Supaya bisa menambah kekuatan untukmu," ujar Rumi


Raisa pun tersenyum dan dengan senang hati masuk ke dalam pelukan Rumi yang mendekapnya dengan erat.


Perlu diingatkan sekali lagi berada di dekat Rumi memang mampu dan merupakan cara paling ampuh untuk Raisa mendapat kekuatan.


Namun, belum juga lama berada di dalam pelukan Rumi, Raisa sudah merasakan adik milik suaminya itu kembali menegang di bawah sana hingga nenusuk dirinya.


"Rumi, ini, sih, kau yang dapat kekuatan lagi dan aku akan merasa lebih lemas," kata Raisa sambil menatap tajam ke arah suami tampannya.


"Maaf, Sayang ... ini reaksi yang normal karena suamimu ini sangat perkasa. Hal yang wajar bagi naluri seorang pria," ujar Rumi


"Jadi, bolehkah kita main satu kali lagi saja? Aku janji setelah itu kau akan terbebas dari diriku," sambung Rumi meminta.


Raisa menghela nafas pasrah, sedangkan Rumi hanya tersenyum menentikan jawaban dari sang istri yang sudah pasti tidak akan mungkin membuatnya merasa kecewa.


"Kuharap ini tidak akan lama," pasrah Raisa mematuhi keinginan suami.


"Semoga saja," kata Rumi sambil terus menyunggingkan senyuman pada bibirnya.


Raisa sudah bertekad untuk menjadi istri yang patuh terhadap kata dan keinginan suami. Ia pun hanya bisa menyerahkan dirinya dengan pssrah.


Rumi pun kembali menyanggahi dan mengukung tubuh istri cantiknya. Pria itu kembali beraksi. Sedangkan Raisa hanya bisa menerima perbuatan suaminya dengan senang hati dan sepenuh hati kembali melayani sang suami.


...

__ADS_1


Usai beraktivitas di dalam kamar, Raisa dan Rumi ke luar dan kembali menampakkan diri di hadapan yang lainnya di dalam kediaman tersebut.


"Sayang, apa perlu kugendong?" tanya Rumi yang melihat Raisa berjalan dengan langkah lemas.


"Tidak perlu. Nanti kau hanya membuatku merasa malu lagi," jawab Raisa


"Tapi-"


"Kita hanya perlu bergandeng tangan seperti ini saja," kata Raisa yang langsung nengalungkan tangannya pada lengan Rumi.


"Kuatlah dan tahan. Sepertinya aku akan benar-benar melimpahkan beban tubuhku padamu," sambung Raisa


"Aku sangat kuat. Kau tidak perlu khawatir," ungkap Rumi


..."Ya. Kau sangat kuat dan kaulah yang membuatku lemas hingga seperti ini dengan kekuatanmu itu," batin Raisa...


Raisa dan Rumi pun berjalan sambil bergandengan tangan. Saat ke luar, ternyata semuanya sudah siap untuk makan malam dengan hidangan yang telah lengkap tersaji di meja makan.


"Rumi, Raisa ... akhirnya kalian berdua ke luar dari kamar juga. Kalau kalian tak kunjung muncul, tadinya aku akan membawakan makan malam ke kamar kalian setelah ini," ujar Nona Rina


"Maaf, tadi Rumi merajuk, jadi aku harus membujuknya dulu," kata Raisa


"Jadi, setelah diminta cepat punya anak ... bikinnya pun langsung cepat, ya," gumam pelan Nona Rina


"Membujuk dengan berlama-lama bermesraan di dalam kamar, rupanya, ya ... " sindir Tuan Garry


Raisa menyesal. Harusnya ia tidak perlu mengungkapkan apa pun dan hanya perlu diam saja. Kata-katanya sendiri menjadi boomerang untuknya. Hingga kini wajahnya sudah sangat memerah karena malu.


"Garry, kau jangan meledek Raisa!" seru Rumi sambil mendelik tajam ke arah Tuan Garry.


"Merajuk ... maksudnya, Uncle Rumi ngambek, ya? Terus gimana cara Onty Icha ngebujuknya?" tanya Farah dengan polosnya.


"Main kuda-kudaan," celetuk Tuan Garry


"Kayak anak kecil aja," kata Farah yang langsung percaya begitu saja.


"Anak manis, memangnya kau tidak tahu? Semakin dewasa, orang bisa jadi lebih seperti anak kecil. Jadi, seperti itulah ... " ujar Tuan Garry


Seketika saja nyali Tuan Garry langsung menciut setelah Tuan Rommy bicara langsung untuk memberi peringatan padanya. Sedangkan Raisa hanya bisa menunduk karena merasa sangat malu.


"Sudahlah, jangan hiraukan si mulut bawel itu. Rumi, bantu Raisa untuk duduk di sini," ujar Logan


Tanpa melepas gandengan tangan keduanya, Rumi membawa Raisa melangkah untuk duduk di atas kursi untuk makan malam bersama yang lain. Lalu, ia sendiri duduk di kursi yang ada tepat di samping Raisa.


Kali ini pun Rumi yang gantian mengambilkan makanan di atas piring untuk Raisa.


"Terima kasih," ucap Raisa saat menerima sepiring makanan yang diberikan oleh Rumi untuknya.


"Sama-sama, Sayang. Pulihkan tenagamu dan habiskan makanannya," kata Rumi


Raisa hanya mengangguk kecil. Lagi-lagi ia merasa malu karena saat Rumi mengatakan pulihkan tenagamu yang lain pasti langsung mengerti bahwa keduanya benar-benar telah melakukan kegiatan yang melelahkan bagi Raisa. Wanita itu tidak bisa bicara apa pun lagi.


Akhirnya semua pun bisa memulai makan malam dengan tenang.


Usai makan malam, Raisa menyempatkan diri untuk duduk dan bermain. Kali ini banyak sekali yang ikut bermain. Seperti Tuan Garry, Nona Rina, Logan, Arka, Raina, Farah, tentunya juga Raisa dan Rumi. Mereka bermain beramai-ramai. Hanya sedikit yang tidak ikut bermain, yaitu Bu Vani, Pak Hilman, Tuan Rommy, dan Tuan Johan. Namun, mereka berempat saling berbincang ringan sambil sesekali memperhatikan lainnya yang sedang asik bermain.


Setelah cukup lama bermain, mereka pun menghentikan permainan karena sudah tiba waktunya untuk istirahat malam dan tidur.


"Farah, ini udah malam. Waktunya bobok ... yuk," kata Raina yang mengajak putri kesayangannya untuk tidur malam.


"Tapi, aku belum ngantuk, Mih," ungkap Farah


"Begini, deh ... kalau bobok siangnya kelamaan, jadi terjaga sampai malam," ujar Arka


"Udah waktunya bobok harus bobok, Farah. Tuh, lihat ... Onty Icha aja udah kelihatan ngantuk," ucap Raihan


Yang lain pun langsung melihat ke arah Raisa yang mulai diserang rasa kantuk. Kedua matanya sayu dan satu tangannya sesekali mengucek matanya agar tetap bisa bertahan. Namun, Raisa tetap menjaga agar dirinya tetap tersenyum.


"Bukannya tadi Onty Icha juga bobok siang? Kok udah ngantuk aja padahal bobok siangnya lebih lama dari pada aku? Apa Onty Icha kecapekan?" tanya Farah

__ADS_1


"Iya, nih, kayaknya Onty Icha kecapekan. Jadi, udah bobok siang lama pun tetap aja ngantuk terus. Farah lebih kuat dari pada Onty Icha, ya," jawab Raisa sambil tertawa kecil karena menambahkan alasan palsu.


"Raisa kelelahan seperti itu, makannya kau jangan terlalu bekerja keras sampai membuat istrimu lelah, Rumi ... " ujar Tuan Garry


"Oh, Onty Icha habis kerja bareng sama Uncle Rumi, ya, makanya sampai kecapekan?" tanya Farah


Raisa dan Rumi pun hanya mampu tersenyum kecil menanggapi pertanyaan dari Farah.


"Sudah, Garry. Kau jangan terus bicara yang aneh-aneh karena di sini ada anak kecil. Tidak baik," tegur Nona Rina


"Ya. Kalau tidak anak kecil di sini pasti Rina sudah memukulmu karena mulut bawelmu itu, Garry," ujar Logan


"Rumi, bawalah Raisa ke dalam kamar untuk istirahat," sambung Logan


Rumi mengangguk dengan patuh.


"Tuh, Onty Icha sama Uncle Rumi aja udah mau bobok. Farah, bobok juga ... yuk," ajak Raina


"Ya. Om Ehan aja juga mau bobok. Ya, kan, Om?" tanya Arka


"Iya. Om mau cepat-cepat bobok habis ini," jawab Raihan


"Iya, deh. Aku bobok juga," kata Farah


"Semuanya, aku sama Mami Papi duluan, ya ... " sambung Farah berpamitan.


Semua pun mengangguk sambil tersenyum melihat tingkah laku pintar gadis kecil itu. Farah, Arka, dan Raina pun beranjak menuju ke kamar. Bahkan Raihan juga ikut beranjak menuju ke kamarnya.


"Rumi, tolong bantu aku untuk berdiri," pinta Raisa


Rumi mengangguk dan langsung hendak menggendong Raisa. Namun, istrinya itu segera melarangnya.


"Tak perlu kau gendong aku. Cukup bantu aku berdiri," kata Raisa


"Baiklah," patuh Rumi yang menuruti kata Raisa agar istrinya itu tidak marah sungguhan padanya.


Rumi pun langsung bergerak membantu Raisa bangkit berdiri. Setelah berpamitan untuk kembali istirahat pada semua yang ada di sana, keduanya pun langsung beranjak menuju ke kamar.


Kali ini, Raisa kembali mengalungkan satu tangannya pada lengan Rumi. Wanita itu bergelayut pada sang suami, nanun kali ini lebih pada karena merasa mengantuk untuk berjalan normal sendiri.


Setelah bersiap-siap sebelum tidur, Raisa langsung merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk yang sudah menunggunya itu disusul dengan Rumi yang ikut merebahkan diri di sampingnya.


"Tidurlah, Sayang. Karena jika persiapan dekorasi tempat sudah siap, besok kita akan mengadakan acara pernikahan kedua. Jadi, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu lagi," ujar Rumi


"Memangnya kalau besok tidak ada acara apa pun yang diadakan, kau masih ingin melakukannya lagi?" tanya Raisa


Rumi hanya terkekeh kecil menanggapi pertanyaan dari sang istri.


"Kalau besok dekorasinya masih belum jadi, mungkin acara pernikahan kedua kita akan dilangsungkan besok lusa," jelas Rumi yang tidak menyambung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Raisa.


"Dasar ... aku benar-benar sudah sangat mengantuk sekarang," kata Raisa


Raisa pun memejamkan kedua matanya secara perlahan untuk mulai tidur malam dan masuk ke dalam mimpi yang indah. Rumi membelai pelan rambut Raisa untuk mempercepat istrinya tertidur lelap.


Pria itu sangat senang melihat wajah polos sang istrinya yang selalu terlihat cantik meski saat tertidur sekali pun. Rumi pun mengecup singkat kening dan bibir istri cantiknya. Lalu, ia pun menutup kedua matanya untuk tidur lelap dan menyusul sang istri ke dalam dunia mimpi yang indah.


Keduanya pun tertidur dengan nyenyak.


•••


2 hari kemudian.


Raisa dan Rumi terbangun di pagi hari seperti biasa dan langsung bersiap.


Setelah siap dan telah berpakaian dengan rapi, seperti biasa Rumi hendak meminta jatah morning kiss dari Raisa. Namun, keinginannya itu harus ditunda karena ada suara pintu yang diketuk dari luar.


.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2