
Raisa ikut maju menangani para penyusup yang terkena pengaruh sihir itu.
Raisa bersiap dengan pedang miliknya tanpa mengeluarkannya dari sarung pelindungnya.
Raisa bersiap menerima serangan dan menangkisnya. Namun, begitu berhadapan dengan para penyusup yang hendak menyerangnya ... belum sempat para penyusup melakukan serangan, para penyusup itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
Berulang kali, Raisa menghadapi penyusup satu per satu. Reaksi mereka semua tetap sama. Meski telah bersiap melakukan serangan, para penyusup itu sudah lebih dulu tumbang sebelum melancarkan serangan pada Raisa.
Semua pun tercengang. Tak menyangka sekaligus tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Raisa pun sama bingungnya dengan keempat temannya. Namun, lagi-lagi Raisa punya dugaannya sendiri.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka langsung tak sadarkan diri begitu berhadapan dengan Raisa meski belum sempat melancarkan serangan?" tanya Morgan dengan segala kebingungannya.
Raisa pun diam mematung. Meski punya dugaannya sendiri, Raisa tetap tidak menyangka.
"Ayo, kita segel para penyusup ini supaya tidak dapat dikendalikan lagi oleh dalang dari semua ini!" tegas Aqila
Aqila, Morgan, Rumi, dan Amon pun menggunakan jurus sihir masing-masing untuk menyegel pergerakan dan kesadaran para penyusup agar tidak dapat bangkit dan kembali dikendalikan oleh dalang tak bertanggung jawab atas semua kejadian kala itu.
"Raisa, kau baik-baik saja, kan?" tanya Rumi
Raisa mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Bukankah sekarang sudah saatnya kau memberi penjelasan pada kami semua?" Amon menuntut penjelasan dari Raisa dengan enggan menyebut nama gadis itu.
"Aku hanya bisa menduga-duga, tapi kemungkinan besar dugaanku ini adalah benar. Dalang dari kejadian kali ini adalah orang yang sama dengan yang datang 4 tahun yang lalu mengincar Rumi untuk dijadikan tumbal. Ini semua ulah Sang Dewa," ungkap Raisa
"Lalu, bagaimana kau bisa mengetahui kelemahan sihirnya yang mengendalikan para penyusup ini?" tanya Morgan
"Karena aku yang memberikan dia kemampuan itu. Karena pemilik asli kemampuan sihir ini adalah aku. Karena 4 tahun yang lalu ... akulah yang membiarkannya merampas semua kemampuan sihir yang kumiliki," jawab Raisa
"Kalau seperti ini, bukankah ini berbahaya untukmu ... jika kau kembali bertemu dengannya?" Rumi merasa sangat khawatir karena Sang Dewa-lah penyebab kehilangan seluruh kemampuan sihir milik Raisa.
"Dari awal, aku tidak pernah takut dengannya. Lagi pula, yang sebenarnya berada dalam bahaya adalah dirimu, Rumi! Dia datang karena mengincarmu," ujar Raisa
"Tapi, saat itu ... karena dia mengambil seluruh kemampuan sihirmu, kau hampir saja-" Rumi tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.
"Saat itu, hampir saja aku kehilanganmu. Aku tidak mau itu sampai terjadi lagi padamu," sambung Rumi
__ADS_1
"Akulah yang tidak bisa kehilangan dirimu jika kau benar-benar dijadikan tumbal olehnya!" tegas Raisa
Tiba-tiba saja, Amon mencekal tangan Raisa dengan sangat kuat.
Raisa meringis merasakan sakit di tangannya yang dicekal Amon dengan sangat kuat.
"Semua kekhawatiran itu hanyalah omong kosong! Kalau kuingat-ingat lagi ... semua penjelasanmu dan semua cerita tentangmu ... kaulah yang menyebabkan semua ini terjadi! Pasti kau sengaja memberikan seluruh kemampuan sihir milikmu pada Sang Dewa itu supaya dia bisa lebih mudah kembali datang menyerang desa seperti ini, kan!? Ucapanku benar kalau kau adalah komplotannya, kan!? Kau adalah pengkhi*nat desa!" Amarah Amon meledak begitu saja dan menuduh Raisa atas semua yang sedang terjadi.
Rumi menepis kuat tangan Amon sampai cekalannya pada tangan Raisa terlepas.
"Kau yang tidak tahu apa pun tidak berhak menuduh Raisa seperti itu! Jadi, jangan sakiti Raisa!" tegas Rumi
"Kau salah besar kalau kau menuduh Raisa, Amon. Dia merelakan semua kemampuan sihir miliknya dirampas oleh Sang Dewa demi melindungi kami semua serta seluruh desa. Dan juga, dia tidak mau Rumi, orang yang dicintainya sampai dijadikan tumbal dan mati begitu saja. Dia telah banyak mengorbankan dirinya sendiri. Demi keselamatan semua orang di sini ... dia telah mengorbankan keselamatan dirinya sendiri. Tuduhanmu itu tidaklah benar," jelas Aqila
"Kalianlah yang salah besar karena telah percaya padanya! Kalian semua telah dibutakan oleh tipu muslihatnya!" bentak Amon
"Pasti tanganmu sangat sakit, ya, Raisa? Amon, tadi mencengkram tanganmu terlalu kuat, kan?" tanya Rumi merasa khawatir.
"Tidak apa kok. Ini tidak terlalu sakit," jawab Raisa sambil tersenyum kecil.
Meski berkata seperti itu, tapi Raisa terus memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Amon tadi.
"Raisa, masih adakah hal yang belum kau jelaskan pada kami? Tolong ... jelaskan semuanya," ujar Aqila meminta Raisa memberikan penjelasan yang lebih lengkap.
"Karena kemampuan sihirnya ini awalnya adalah milikku ... aku tahu kelemahannya! Sihir ini adalah kekuatan yang suci, pemiliknya sama sekali tidak boleh memiliki niat jahat atau pun kotor sedikit pun. Kelemahan Sang Dewa yang telah memiliki kemampuan ini adalah perbuatan jahatnya," ungkap Raisa
"Jika, pemilik kemampuan ini berniat jahat atau kotor sedikit saja ... dia akan mendapatkan hukuman! Sebelum aku mengetahui kalau akan ada ganjaran tertentu, aku akan merasakan kesakitan saat aku menggunakan kemampuan sihir untuk berbuat hal yang tidak baik, meski itu sedikit saja. Berbeda dengan Sang Dewa yang memiliki pribadi yang kuat meski sedang terluka sekali pun. Dia pasti mampu mengabaikan rasa sakit yang timbul sebagai ganjarannya akibat perbuatan jahatnya, tapi kelemahan dari kemampuan ini bukan hanya itu saja. Kelemahan lainnya adalah ... saat dia berbuat jahat terus menerus, kekuatannya akan semakin melemah seiring waktu dan pada akhirnya kemampuan sihirnya akan lenyap sepenuhnya dengan sendirinya," sambung Raisa menjelaskan.
"Begitu, rupanya ... " kata Morgan yang dapat mengerti penjelasan dari Raisa.
"Menyerang desa, melukai banyak orang, menginginkan tumbal ... itu semua adalah kejahatan yang bertentangan dengan sifat suci dari kemampuan sihir ini. Cara untuk mengalahkan Sang Dewa adalah dengan membiarkannya menyerang dengan membabi buta hingga seluruh kemampuan sihirnya lenyap dengan sendirinya," ucap Raisa
"Raisa, apa kau tidak merasa sayang jika kemampuan sihir itu lenyap? Bagaimana pun juga awalnya pemilik dari kemampuan sihir itu adalah dirimu, kan?" tanya Rumi
"Mau tidak mau aku harus nerelakannya. Bagaimana pun juga kemampuan sihir itu tidak bisa kembali menjadi milikku lagi, jadi dari pada dimiliki oleh orang yang jahat, maka lebih baik hilang sepenuhnya, kan? Lagi pula, hanya ini satu-satunya cara untuk menghentikan semua perbuatan Sang Dewa," jawab Raisa
"Lalu, bagaimana kau bisa bebas dengan mudah dari serangan para penyusup itu? Kenapa para penyusup itu langsung berjatuhan tak sadarkan diri padahal belum sempat menyerangmu dengan satu serangan pun?" Amon akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
__ADS_1
"Kali ini pun hanya dugaanku saja ... alasan mereka seperti itu adalah karena bagaimana pun pemilik asli kemampuan sihir ini adalah aku. Sang Dewa mengendalikan mereka. Bukan hanya tidak bisa dan tidak boleh melukai orang dengan kemampuan sihir ini, sihir ini pun menyadari pemilik aslinya. Jadi, mereka yang dikendalikan Sang Dewa untuk menyerangku takkan berhasil. Karena kemampuan sihir ini takkan melukai pemilik aslinya," ungkap Raisa
"Singkatnya ... Sang Dewa mengendalikan mereka untuk menyerangku, karena kemampuan Sang Dewa yang mengendalikan mereka adalah milikku pada awalnya, makanya serangan mereka tidak mempan terhadapku. Karena kemampuan sihir ini tidak akan melukai pemilik aslinya," sambung Raisa menjelaskan.
"Bicaramu berputar-putar sekali. Benar-benar merepotkan," kata Amon
"Rupanya, kau merasa penasaran juga, ya, Amon ... " sindir Morgan
"Kau mau bertanya soal ini, itu artinya kau sudah percaya pada Raisa, kan?" tanya Aqila
"Aku hanya bertanya! Bukan berarti aku sudah percaya padanya!" tegas Amon
"Kalian pergilah ke tempat yang bisa menyebarkan informasi tadi pada semua orang. Mungkin kalian bisa mencari keberadaan Bibi Irene. Aku yang akan menangani sisi timur dan tetap berada di sini. Serangan mereka tidak akan mempan terhadapku. Tenang saja," ucap Raisa
"Beritahu untuk tidak perlu membuang-buang tenaga dengan menghalangi atau membalas serangan, semuanya hanya perlu menahan serangan yang ada. Tunggu sampai Sang Dewa muncul dengan sendirinya dan menyerang dengan membabi buta. Maka, semuanya akan segera berakhir karena dia akan kehilangan kemampuan sihirnya sepenuhnya dengan sendirinya," sambung Raisa
"Meski begitu, aku juga akan tetap di sini bersamamu, Raisa!" tegas Rumi
"Tidak perlu-"
"Aku juga akan tetap berada di sini untuk mengawasimu secara langsung ... untuk berjaga-jaga jika kau mungkin penipu yang berkomplot dengan Sang Dewa itu," ucap Amon
"Kalau begitu, Raisa, Rumi, dan Amon akan tetap berada di sini. Kami berdua yang akan pergi," ujar Morgan
"Sudah diputuskan. Kalau begitu, kami berdua pergi dulu untuk menyampaikan informasi," kata Aqila
Aqila dan Morgan pun pergi mencari keberadaan Bibi Irene untuk menyampaikan dan menyebarkan informasi pada semua pasukan dengan kemampuan sihir transmisi suara yang dimiliki Bibi Irene.
Awalnya, Raisa ingin melarang Rumi terus menetap bersamanya. Karena jika sesuatu terjadi padanya, Raisa tak punya kemampuan apa pun untuk melindungi atau menyelamatkannya lagi. Namun, Amon ikut menetap bersama mereka berdua. Itu jadi lebih baik. Karena Raisa bisa meminta Amon untuk ikut melindungi Rumi jika sesuatu sampai terjadi padanya. Keputusan pun telah dibuat. Raisa jadi tidak mampu menolak atau melarang lagi.
Meski begitu ... Raisa, Rumi, dan Amon. Suatu kombinasi yang aneh, bukan? Rumi adalah orang yang mencintai dan dicintai Raisa, sedangkan Amon orang yang tak suka dan tak percaya dengan Raisa.
Jika bersama Raisa, sesuatu yang aneh pun dapat terjadi dengan nyata!
.
•
__ADS_1
Bersambung...