
Kedua pasangan berjalan menuju rumah Raisa. Raisa dan Rumi, Aqila dan Morgan.
Mereka berempat pun sampai di rumah Raisa sambil terus saling bergenggaman tangan.
"Sudah sampai. Kunci rumahku ada padamu, kan, Rumi? Bukalah pintunya," ujar Raisa
"Pintu rumahmu tidak dikunci, langsung dibuka saja," kata Rumi
"Apa katamu? Rumahku tidak dikunci? Kenapa begitu? Bagaimana kalau ada orang jahat yang masuk ke dalam?!" oceh Raisa mengomel.
Sudah lama kunci rumah Raisa dipercayakan pada Rumi. Namun, Raisa tak menyangka... Rumi malah membiarkan pintu rumahnya tidak terkunci tanpa pengawasan.
Rumah itu adalah bentuk tunjangan yang diberikan Pemerintah Desa padanya. Bagaimana kalau sesuatu terjadi di rumahnya dan Raisa tidak bisa bertanggung-jawab untuk itu? Benar-benar tidak habis pikir!
Raisa masih saja mengoceh saat Rumi memutar knop pintu rumahnya. Dan saat pintu rumahnya terbuka, Raisa pun terkejut!
"KEJUTAN!!~"
Begitu pintu rumah terbuka, terompet dibunyikan dan confetti bertaburan! Tentu saja, Raisa terkejut dibuatnya! Ternyata, di dalam rumahnya sudah ada teman-temannya yang lain sudah menunggunya.
"Ya ampun! Kalian semua membuatku terkejut!" seru Raisa
"Tentu saja! Bukan kejutan namanya, kalau tidak bisa membuatmu terkejut," kata Amy
"Kalian yang menyiapkan ini semua? Sejak kapan kalian mulai menyiapkannya? Jangan bilang, sejak kemarin?!" Raisa yang bertanya juga menjawabnya sekaligus dengan dugaannya.
Semuanya mengangguk membenarkan dugaan Raisa.
"Kalian sudah bekerja keras! Kalian pasti lelah setelah menyiapkan semuanya. Terima kasih, semuanya!" ucap Raisa
"Ini bukan pesta besar, kami hanya menyiapkannya kecil-kecilan. Kami tidak merasa lelah," kata Wanda
Kemarin mereka memang membahas perihal rencana mengadakan pesta kecil. Namun, Raisa tak menyangka kalau mereka juga sampai menyiapkan kejutan untuknya. Raisa mengira pesta yang dimaksud hanya acara kumpul biasa sepulangnya dari rumah sakit, bukan kejutan yang menyambutnya tepat saat pulang ke rumah.
Saat itu juga Raisa ditarik untuk masuk ke dalam rumahnya dan langsung disuruh duduk di sofa.
"Kau baru saja pulang dari rumah sakit, jadi kau duduk saja. Istirahat di sini, biar kami yang mengurus semua yang lainnya," ucap Sandra
"Kau juga, Rumi. Duduklah, temani Raisa di sampingnya," kata Aqila yang memaksa Rumi duduk dan mensejajarkan posisinya dengan Raisa.
"Saking senangnya diperbolehkan pulang ke rumah, kau pasti belum sempat makan di rumah sakit, kan? Jadi, kami membuatkan bubur jagung untukmu semalan dan telah kami panaskan lagi. Makanlah, Raisa," ujar Chilla yang memberikan semangkuk bubur untuk Raisa.
"Terima kasih. Kalian juga pasti belum makan. Ayo, makanlah bersama!" ucap Raisa
Mereka pun menyiapkan makanannya masing-masing seorang diri dan tidak ingin merepotkan Raisa yang baru saja pulang dari rumah sakit. Lagi pula, pesta kali ini memang diadakan untuk Raisa. Jadi, Raisa diperlakukan layaknya Ratu sehari. Hanya dilayani dan tidak membiarkannya melayani.
"Selamat makan, semuanya!"
Semuanya pun mulai makan bersama-sama.
"Maaf karena sempat memarahimu tadi, Rumi. Aku tidak tahu kalau kalian langsung menyiapkan pestanya dan memberiku kejutan seperti ini," ucap Raisa
"Tidak apa. Pesta ini memang dibuat untukmu dan artinya pesta kali ini telah sukses," kata Rumi
Setelah makan bersama. Mereka mulai bermain sambil memakan camilan bersama.
Permainan yang dimainkan adalah permainan sederhana yang pernah Raisa mainkan bersama teman-teman saat menginap di vila keluarganya di dunia asalnya. Yaitu, tebak gaya, Truth or Dare, Jenga, dan lain-lain.
Usai lelah bermain, semuanya duduk dan tergeletak begitu saja di lantai rumah Raisa. Kecuali hanya Raisa dan Rumi yang duduk di atas sofa berdua layaknya Ratu dan Raja sehari.
"Kami semua lelah bermain juga sudah tidak minat lagi untuk makan. Tapi, kau masih saja terus makan camilannya! Apa kau sungguh tidak bisa hidup kalau tidak makan sebentar saja, Chilla?" sewot Ian
"Terserah aku, dong! Biar saja aku makan camilannya, dari pada tersia-siakan begitu saja," kata Chilla sambil terus mengambil dan memasukkan camilan ke dalam mulutnya dengan menggunakan tangannya.
"Sepertinya kita butuh suasana baru. Ada ide tidak?" ujar Morgan bertanya.
"Kenapa kau tiba-tiba?" heran Devan bertanya.
"Hanya sedang ingin saja. Habisnya, sehari-hari kita hanya mengerjakan atau menunggu misi. Aku ingin kita melakukan sesuatu yang baru, mumpung sedang ada waktu luang bersama beberapa hari ke depan," ungkap Morgan
"Benar juga! Kita butuh menyegarkan diri untuk mengisi ulang tenaga," kata Billy
"Bagaimana kalau kita pergi ke pemandian air panas bersama? Sejak datang ke sini, aku sangat ingin pergi, tapi terus tidak sempat sampai sekarang," ujar Raisa memberi saran.
"Ide bagus! Aku setuju! Pemandian air panas juga baik untuk meningkatkan daya vitalitas tubuh!" ucap Marcel
"Itu juga bagus untuk melancarkan aliran darahku yang sempat terganggu sebelumnya, makanya aku jadi sangat ingin pergi," kata Raisa
"Kalau begitu, kapan kita pergi?" tanya Rumi
"Ayo, pergi bersama besok," jawab Morgan dengan penuh semangat.
"Baiklah. Setuju," sahut Raisa
"Sepakat!" Serempak yang lainnya.
"Nah, sekarang ... ayo, kita menonton! Kalian semua lelah, kan? Saat seperti ini, akan asik jika kita menonton! Ayo, matikan lampunya," ujar Dennis
"Kau ingin kita menonton apa sampai harus mematikan lampu?" tanya Marcel
"Aku ingin memproyeksikan videonya pada layar yang sudah kusiapkan di depan kita semua. Jadi, tolong matikan lampunya dan aku akan mengatur proyeksi videonya," jelas Dennis
"Kau tidak membuat kita menonton video yang aneh-aneh, kan?" tanya Ian
"Tentu saja, tidak. Ini rekaman video Raisa bernyanyi," jawab Dennis
"Apa?! Kau dapat rekamannya dari mana?" tanya Raisa yang terkejut saat Dennis mengungkapkan tentang rekaman dirinya.
"Saat menyiapkan pesta, Rumi meminjamkan kunci rumahmu pada kami. Saat itu juga Rumi membawa ponselmu, aku menanyakan tentang ponselmu dan Rumi menunjukkan padaku videomu yang tersimpan di sana. Ternyata video dari ponselmu bisa kirimkan pada laptopku, jadi aku ingin memproyeksikannya agar kita semua dapat menontonnya bersama-sama," ungkap Dennis
"Apa itu artinya aku bisa menggunakan ponselku saat berada di sini?" tanya Raisa
__ADS_1
"Bisa, tapi kau tidak bisa menggunakan sinyal milikmu yang berasal dari duniamu itu, melainkan harus memakai sinyal yang ada di sini. Kau bisa menggunakan sinyal yang ada di akademi, misalnya ... " ungkap Dennis
"Ya, biasanya Dennis juga memakai sinyal dari akademi jika sinyal miliknya terganggu atau kuota datanya habis. Dia mengetahui sandi kuncinya," ungkap Billy
Raisa mengangguk mengerti.
"Lupakan saja. Tidak enak jika aku memakai jaringan alademi secara diam-diam, lagi pula untuk apa aku bermain ponsel. Lebih baik bermain bersama kalian," ucap Raisa
"Lalu, untuk apa kau membawa ponselmu ke sini jika tidak kau gunakan?" tanya Sandra
"Untuk hiburan saat sedang sendiri atau berfoto-foto. Ponselku lebih mudah dibawa karena memang praktis," jawab Raisa
"Sudah cukup bicara tentang ponselnya. Katanya mau menonton video Raisa bernyanyi? Ayo, segera dimulai," ujar Wanda
"Ya.. Aku tidak sabar ingin menontonnya," kata Amy
Lampu pun dimatikan. Gorden ditutup. Ruangan pun menjadi gelap.
Semua tertuju pada layar yang telah disiapkan. Saat Dennis selesai mengatur proyeksinya, gambar yang bergerak pun mulai terlihat di layar dan sudah dapat disaksikan bersama-sama.
Semuanya menonton rekaman Raisa satu per satu.
"Kebanyakan lagu yang dinyanyikan menyiratkan kesedihan," ucap Chilla
"Itu karena aku lebih suka nada yang mengalun dengan lambat, itu selalu ada pada lagu yang sedih dan menggambarkan kesedihan " ungkap Raisa
"Tapi, pengekspresian Raisa sangat baik, suaranya pun enak didengar," kata Aqila
"Tidak sebagus itu," sangkal Raisa
Semua hanya menyaksikan. Namun, ada satu orang yang mengerti dengan apa yang disampaikan Raisa melalui lagu yang dinyanyikan. Penyampaian perasaan sedih dari lirik dan nada yang bisa dimengerti saat mendengar sambil menghayatinya dalam hati. Orang itu adalah Rumi!
Rumi yang bisa mengerti dengan apa yang Raisa maksud dalam nyanyiannya yang terdengar sendu, miris, dan terkadang juga menyayat hati.
Mungkin yang lain juga dapat mengerti, tapi tidak tahu jika itu juga perasaan Raisa yang sesungguhnya. Mereka yang lainnya mungkin mengira lagu yang dinyanyikan hanya karena Raisa suka dengan pemilihan lagunya. Namun, Rumi-lah yang tahu bahwa itu semua adalah perasaan yang sungguh Raisa rasakan.
Rumi menatap Raisa yang menoleh padanya. Tatapan Rumi seolah sedang berkata ternyata inilah perasaan yang selama ini kau rasakan, ya, Raisa.
Raisa yang mengerti dengan tatapan Rumi yang menyadari perasaannya pun tersenyum lembut.
"Aku memang ingin membiarkan kalian menonton rekamanku saat bernyanyi jika ada kesempatan, tapi saat semuanya sudah terlihat di depan mata, aku jadi malu. Tidak bisakah proyeksi layarnya dimatikan saja?" ujar Raisa bertanya.
"Tidak bisa, dong! Kau sendiri yang bilang ingin membiarkan kami menontonnya, jadi biarkan kami menontonnya sampai selesai!" ucap Devan
"Rasanya aku ingin bersembunyi saja saking malunya," kata Raisa
Raisa pun hanya bisa memejamkan kedua matanya karena merasa malu saat dirinya yang sedang bernyanyi terekspos dengan sangat jelas.
Raisa yang terus memejamkan matanya, lama-lama tertidur tanpa ada yang menyadarinya.
"Lagu terakhir tadi sungguh sangat sedih, hampir saja aku menangis tadi," ucap Chilla
"Ya, kalau aku sampai berkaca-kaca," kata Wanda
"Orang di video yang membuat kita menyaksikan kesedihan, sekarang malah sedang tertidur," ucap Morgan
Semuanya pun menoleh ke arah Raisa. Dan benar saja, gadis itu sudah tertidur dengan posisi sambil bersandar pada bahu Rumi.
"Mungkin Raisa lelah, biarkan saja dia tidur. Lagi pula, Morgan! Memangnya kau mrngerti dengan makna dan maksud dari lagu yang dinyanyikan Raisa? Dulu, saat kau menonton film di bioskop bersamaku dan Chilla saja. Kau tidak mengerti alur filmnya yang bernuansa cinta yang menyedihkan," ujar Aqila
"Itu, kan, dulu. Lagi pula, dulu aktor dan aktrisnya saja yang kurang bisa memainkan filmnya, tapi kali ini video Raisa sangat menyentuh di hati," jelas Morgan
"Aku meragukan ucapanmu," kata Ian
"Teman-teman, bisakah kalian memelankan suara kalian? Raisa sedang tidur ... " pinta Rumi dengan suara pelan.
Mereka melihat, Raisa menggeliat dalam tidurnya dan Rumi sibuk membelai kepala Raisa agar kembali tertidur dengan nyaman.
"Maaf," sesal Morgan
"Kita harus membersihkan kekacauan di rumah Raisa. Tapi, kali ini jangan berisik!" ucap Aqila yang bersuara pelan, namun penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
"Sudah, Rumi. Kau di sini saja, menjaga tidur Raisa agar tetap nyaman," kata Sandra
Mereka semua pun mulai membereskan bekas-bekas pesta dan permainan yang dilakukan sebelumnya. Kecuali Raisa yang tertidur dan Rumi yang dibiarkan menjaga Raisa yang sedang tidur.
Hari sudah menjelang sore saat semuanya selesai membersihkan rumah Raisa. Satu per satu dari mereka pun pamit untuk pulang. Pemilik rumah masih tertidur, jadi mereka hanya bisa berpamitan pada Rumi yang menjaga gadis si pemilik rumah tersebut.
Yang terakhir berpamitan adalah Aqila dan Morgan.
"Bisa kupastikan semuanya sudah beres," kata Aqila
"Rumi, kau akan tetap membiarkan Raisa tidur seperti itu? Apa kau akan terus di sini dan menemaninya sampai besok saat dia terbangun?" tanya Morgan
"Tidak, aku akan pulang. Sebelum itu, aku akan memindahkan Raisa agar bisa tidur di dalam kamarnya. Kalian berdua pulang saja duluan " jawab Rumi
"Baiklah," kata Morgan
"Kami duluan, ya, Rumi ... " pamit Aqila
Rumi mengangguk.
Aqila dan Morgan pun beranjak ke luar dari rumah Raisa bersamaan.
Setelah Aqila dan Morgan pergi, Rumi pun menggendong (ala bride style) dan memindahkan tubuh Raisa yang tertidur ke dalam kamar sampai membaringkannya di atas ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Raisa.
Usai membaringkan tubuh Raisa, Rumi mengecup kilas kening Raisa.
"Tidurlah. Istirahatlah, Cintaku!" bisik Rumi
Setelah itu, Rumi pun beranjak ke luar dari kamar bahkan rumah Raisa.
__ADS_1
Malam harinya.
Raisa terbangun begitu saja dan melihat di sekelilingnya sudah sepi. Bahkan dirinya tidak lagi berada di ruang tamu rumahnya, melainkan di dalam kamar tidurnya. Ia juga baru sadar kalau hari sudah malam.
"Bagaimana bisa aku tertidur dan tidak sadar kalau hari sudah malam? Teman-teman, semuanya sudah pulang ... " gumam Raisa
Raisa pun beranjak ke luar dari kamar tidurnya. Langsung menuju dapur karena merasa lapar.
"Semua piring dan peralatan bekas pesta pun sudah dibereskan kembali. Tapi, siapa yang memindahkanku ke dalam kamar, ya?"
..."Apa itu... Rumi?!" batin Raisa...
Raisa mencari-cari makanan bekas pesta yang mungkin saja tersisa. Saat itu, ia melihat ada kotak makan di atas meja di dapurnya. Di tutup kotak makan itu, ada catatan kecil di secarik kertas tempel.
'Kau bisa memakan ini jika lapar, setelah memanaskannya. Juga ada makanan lainnya di dalam lemari pendingin.
Selamat makan, Cintaku!'
Raisa tersenyum setelah membaca catatan kecil itu.
"Bukan lagi Sayangku, tapi Cintaku?! Perasaannya masih tetap sama setelah aku mengecewakannya dan memutuskannya," gumam Raisa
..."Terima kasih, Rumi! Semuanya juga ... " batin Raisa...
Raisa pun bergegas memanaskan makanan di dalam kotak makan tersebut karena sudah merasa lapar.
•••
Keesokan harinya...
Di pagi hari, Raisa telah siap dengan membawa tas kecil miliknya. Begitu ke luar dari rumah, Raisa melihat Rumi sedang berjalan ke arah rumahnya. Tak menunggu sampai Rumi datang padanya, Raisa lebih dulu menghampirinya.
"Kau sudah siap? Sepertinya kau sudah tidak sabar, ya, Raisa?" tanya Rumi
Raisa mengangguk.
"Tentu saja, aku yang mengusulkan ide kemarin. Jadi, aku sangat menantikannya," jawab Raisa
"Meski begitu, pemandian air panas mungkin masih belum buka sepagi ini. Jadi, kita akan berkumpul di tempat biasa dulu bersama yang lain," ujar Rumi
"Tidak apa. Berkumpul dengan teman-teman juga menyenangkan," kata Raisa
Hari ini, keinginan Raisa untuk pergi ke pemandian air panas pun terwujud.
Setelah berkumpul di tempat biasa, saat waktunya tempat pemandian air panas dibuka, mereka semua langsung pergi ke sana seperti rencana yang diusulkan Raisa kemarin.
Setibanya di sana, semua langsung berganti pakaian dengan pakaian khusus.
Semuanya berpencar menikmati fasilitas yang ada di pemandian air panas tersebut. Entah itu bermain, makan, atau sekadar berkumpul untuk berbincang dan menonton televisi. Namun, yang pasti adalah Raisa selalu tidak terpisahkan dengan Rumi, Morgan, dan Aqila.
Saat waktunya tiba, mereka berendam bersama ke dalam air panas. Namun, pastinya pemandian lelaki dan perempuan berada di ruangan yang terpisah.
Saat berendam, Raisa terlihat sangat menikmatinya.
"Raisa, kau tidak mendengarkan kami, ya?!" sentak Chilla mengejutkan Raisa.
Raisa yang menikmati watu berendamnya sambil memejamkan matanya pun langsung membuka matanya.
"Kau sangat menikmatinya, ya, Raisa?" tanya Aqila
"Maaf, aku sangat menantikan san menikmati saat berendam. Tidak sadar, aku jadi mengabaikan kalian," jawab Raisa
"Tidak apa, Raisa. Hanya saja, kami pikir kau tertidur saat berendam," kata Amy
Raisa pun tertawa kecil.
"Jadi, bagaimana rasanya berendam air panas, Raisa?" tanya Wanda
"Sangat menyegarkan! Rasanya, otot-ototku yang masih kaku jadi lemas. Namun, rasanya malah menambah tenaga," ungkap Raisa
"Benar! Aku juga sudah lama tidak ke pemandian air panas seperti ini," ucap Sandra
Mereka semua berada di pemandian air panas untuk sehari semalam. Malam ini akan menginap dan pulang besok pagi setelah sarapan. Tentu saja, kamar inap terpisah antara lelaki dan perempuan.
Setelah sarapan satu per satu dari mereka ke luar dari tempat pemandian air panas tersebut untuk pulang.
"Makanan di sini sangat enak," kata Chilla
"Untunglah kita dapat potongan harga karena datang dalam jumlah lebih dari sepuluh orang," ucap Ian
"Potongan harga 10%, itu lumayan besar," kata Marcel
"Ini karena Raisa, kita bisa dapat potongan harga! Kau tetap membawa keberuntungan, meski kemampuan sihirmu telah hilang," ucap Morgan
"Morgan, kau harusnya tidak membahas tentang sihir secara terang-terangan dengan Raisa," tegur Dennis berbisik.
"Mulutmu memang merepotkan, ya, Morgan," jata Devan
Semua pun melirik ke arah Raisa yang mungkin merasa tersinggung. Karena bagaimana pun juga sebagai orang yang kehilangan kemampuan sihirnya belum lama ini, Raisa pasti masih merasa sedih.
"Maaf ... " sesal Morgan
"Akhir-akhir ini, mulutmu sering sekali berkata maaf," kata Billy
Raisa sadar dirinya sedang ditatap dengan perasaan mengasihani.
"Aku tidak apa kok," ucap Raisa sambil tersenyum cerah seolah menandakan dirinya sudah baik-baik melupakan tragedi yang dialaminya.
.
__ADS_1
•
Bersambung...