Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
175 - Pemeriksaan Terakhir.


__ADS_3

Sejak terapi mulai membuahkan hasil, Raisa terus bersemangat untuk latihan berjalan. Saat terapi dalam pengawasan Bibi Sierra, Raisa terus memperlihatkan hasil yang meningkat. Tanpa pengawasan Bibi Sierra pun terkadang Raisa berlatih seorang diri secara diam-diam.


Raisa sudah tidak sabar untuk bisa berjalan normal sendiri tanpa bantuan alat atau orang lain lagi. Raisa ingin segera bisa bebas beraktivitas seperti sedia kala. Jadi, terkadang saat tidak ada siapa pun, Raisa mencoba berjalan merambat pada dinding.


Raisa pun sudah bisa berjalan sendiri ke toilet sendiri sambil merambat di dinding tanpa bantuan orang lain atau pun kursi roda lagi. Seperti saat ini.


Saat Raisa sedang berada di dalam toilet, Rumi masuk ke dalam kamar rawatnya. Dilihatnya, tidak ada siapa pun di dalam kamar rawat tersebut. Kursi roda masih berada di sana dan selimut di ranjang rawat terlihat berantakan. Rumi mulai panik dan berimajinasi yang tidak-tidak terhadap Raisa.


"Raisa, kau di mana?!" seru Rumi mencari keberadaan Raisa.


Rumi mencari ke seisi ruangan tersebut, namun ia melewatkan untuk memeriksa toilet. Tidak menemukan Raisa di kamar rawat tersebut, Rumi pun berhegas untuk mencari keberadaannya di luar.


Koridor, taman rumah sakit.


Rumi mencari ke semua tempat yang mungkin disinggahi Raisa selama masih di rumah sakit. Bahkan juga ke ruang laboratorium dan ruang pemeriksaan lainnya. Namun, Rumi terus mencarinya seorang diri tanpa bertanya atau neminta bantuan perawat atau orang sekitar sana.


Perasaannya mulai menjadi kalut dan pikirannya jasi kacau. Rumi pun kembali untuk mencari keberadaan Raisa di dalam kamar rawatnya. Mungkin saja, Raisa sudah kembali ke kamar rawatnya, pikir Rumi.


Saat kembali, kamar rawat masih kosong. Barulah Rumi terpikir untuk bertanya atau meminta bantuan pada perawat untuk mencari Raisa. Baru ingin ke luar dari kamar rawat, Rumi mendengar suara knop pintu yang terbuka. Rumi pun mengurungkan niatnya untuk ke luar dan melihat ke seisi kamar rawat tersebut.


Pintu toilet yang berada dalam kamar rawat tersebut terbuka dan muncullah sosok yang sedang dicarinya dari dalam sana. Rumi pun langsung berlari ke arahnya dan berhambur memeluk tubuh orang tersebut. Rumi memeluknya dengan sangat erat sampai yang dipeluk hampir terjungkal ke belakang karena terkejut!


Raisa yang baru ke luar dari dalam toilet merasa terkejut saat tiba-tiba ada yang menubruk dan memeluk tubuhnya dengan sangat tiba-tiba. Raisa menyadari bahwa yang memeluknya adalah Rumi.


"Rumi, ada apa?" tanya Raisa yang bingung dengan Rumi yang tiba-tiba saja datang dan memeluknya.


"Kupikir kau menghilang. Aku hampir gila saat berpikir aku kehilanganmu lagi," ungkap Rumi


"Kau mencariku?" tanya Raisa lagi.


Rumi mengangguk saat masih memeluk Raisa sebagai ganti dari jawabannya.


"Kalau kau mencariku, kenapa tidak berpikir untuk memeriksa toiletnya?" ujar Raisa bertanya.


Raisa bisa merasakan tubuh Rumi yang sedikit gemetar saat memeluknya. Tangan Raisa pun bergerak mengusap punggung Rumi untuk menenangkannya.


"Aku panik! Kursi roda masih ada di dalam kamar, ranjangmu berantakan, aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku langsung mencarimu ke luar, tapi aku tidak terpikir untuk memeriksa toilet," jelas Rumi


"Di dalam toilet, aku tidak mendengarmu masuk ke kamar ini atau saat kau mencariku. Maaf, sudah membuatmu khawatir," ucap Raisa


Raisa melepaskan pelukan Rumi perlahan-lahan.


"Namun, lihatlah! Rumi, aku sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit sambil merambat pada dinding." Ungkap Raisa


Rumi baru menyadarinya saat melihat Raisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri.


"Kau hebat! Selamat, Raisa!" puji Rumi


"Ya. Walau sebenarnya kakiku masih terasa sedikit lemas," kata Raisa


"Kalau begitu, kau pasti lelah terus berdiri seperti ini. Maaf, sudah menahanmu terlalu lama sambil berdiri seperti ini. Ayo, kubantu kau berjalan kembali ke ranjang," ujar Rumi


Raisa pun kembali menuju ke ranjang rawatnya dengan bantuan Rumi yang memegangi kedua sisi tubuhnya.


"Aku sudah merasa cukup kuat, makanya aku coba berjalan sendiri walau sambil nerambat di dinding. Lagi pula, aku sudah tidak tahan ingin ke toilet," jelas Raisa


"Biar pun begitu, tetap saja berbahaya. Bagaimana kalau saat di dalam toilet terjadi sesuatu padamu dan tidak ada orang yang tahu? Lain kali, mintalah bantuan saat kau sendiri. Kau, kan, bisa memencet bel darurat agar perawat datang untuk membantumu," ujar Rumi berpesan.


"Baiklah. Maaf," kata Raisa


"Bukan maksudku melarangmu berlatih seorang diri, tapi aku sungguh khawatir padamu," ucap Rumi


"Aku mengerti. Tidak apa, Rumi. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi," kata Raisa sambil tersenyum.


Rumi sempat berpikir jika ada yang datang menculik Raisa, makanya ia menjadi panik dan kalut seperti tadi. Namun, kini perasaannya sudah kembali lega dan tenang setelah melihat Raisa baik-baik saja.


Beberapa hari kemudian.


Hari ini adalah hari yang membahagiakan. Setelah terus terapi dan berlatih jalan, hari ini akhirnya Raisa sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya tanpa bantuan orang lain atau alat bantu. Meski langkah kaki Raisa masih terbilang pelan dan berhati-hati, bisa dibilang Raisa telah pulih kembali.


Raisa pun sudah tidak merasa malu atau terganggu saat semua temannya menyaksikan sesi terapi berjalannya. Seperti saat ini.


"Bagus, Raisa! Selamat! Kau sudah pulih dan bisa berjalan lagi," ucap Bibi Sierra


Raisa pun tersenyum puas melihat hasil usahanya selama ini.


"Bibi Sierra, sekarang aku sudah bisa berjalan. Apa aku sudah boleh pulang, ke luar dari rumah sakit?" tanya Raisa


"Kau baru saja pulih, setidaknya istirahatlah di sini selama satu malam lagi dan besok kau sudah boleh pulang," jawab Bibi Sierra


"Baiklah," patuh Raisa


"Kau sudah berusaha ...."


"Hasil tidak akan mengkhianati usaha!"


"Selamat, ya, Raisa!"


Semua teman Raisa ikut merasa senang dan memberi Raisa banyak ucapan selamat.


"Terima kasih, semuanya!" ucap Raisa

__ADS_1


"Karena semuanya sudah selesai, aku pergi dulu, yab... " ujar Bibi Sierra


"Terima kasih untuk selama ini, Bibi Sierra," ucap Raisa


"Aku tidak berbuat apa-apa, selama ini aku hanya memperhatikanmu," kata Bibi Sierra


"Meski begitu, tetap saja. Terima kasih banyak," ujar Raisa


"Meski sudah pulih, jangan terlalu memaksakan diri atau terlalu lelah. Istirahatlah baik-bakk malam ini. Aku pergi dulu, ya," ucap Bibi Sierra sambil tersenyum.


Raisa pun mengangguk mengerti.


Bibi Sierra pun beranjak pergi ke luar dari kamar rawat tersebut.


"Senang sekali rasanya setelah sembuh. Ini semua berkat kalian semua yang selalu memberi semangat dan dukungan untukku. Terima kasih, semuanya!" ungkap Raisa


"Kami hanya bicara dan tidak berbuat apa-apa, tapi kaulah yang terus berusaha dan berjuang keras melewati semuanya," ucap Rumi


"Selamat, ya, Raisa!" kata Morgan


"Ingat kata Mamaku, Raisa. Kau tidak boleh merasa lelah, jadi istirahatlah dengan baik!" pesan Aqila


"Siap, dimengerti!" tegas Raisa


Untuk hari ini, Raisa tak henti-hentinya tersenyum cerah ceria. Kesembuhan telah mengembalikan semangatnya seperti semula.


"Setelah Raisa pulang besok ... bagaimana kalau kita adakan pesta kecil? Sekalian merayakan kepulihannya kali ini," saran Marcel


"Pesta lagi? Merepotkan sekali!" dumel Devan


"Meski begitu, kau tetap senang saat pesta diadakan, kan, Devan!?" terka Billy


"Untuk besok, pikirkan besok lagi saja! Yang penting adalah saat ini! Bagaimana kalau kita makan-makan dulu? Ayo, beli sesuatu untuk dimakan," ujar Chilla


"Dalam pikiranmu itu selalu saja tentang makan dan makanan! Sepertinya tidak ada lagi yang kau pikirkan selain itu!" oceh Ian


"Tapi, aku setuju dengan Chilla," kata Wanda


"Benar juga ... " sahut Amy


"Apa pun makanannya, harus ada kentang goreng untuk caliman setelah makan! Sangat cocok untuk makanan pencuci mulut," ucap Sandra


"Setuju ... " sambar Chilla


"Kalau begitu, ayo bagi tugas untuk beli makanannya," ujar Dennis


Semua pun mulai berdiskusi untuk membagi tim untuk membeli makanan. Tim makanan utama dibagi jadi dua, lalu tim camilan, juga tim minuman.


"Kau ingin makan apa, Raisa? Akan kubelikan untukmu ... " ujar Rumi bertanya.


Saat pergi membeli makanan, sementara waktu Raisa ditinggal seorang diri di kamar rawatnya.


Namun, Raisa tidak terlalu lama sendiri. Mereka yang sudah berhasil membeli yang telah ditugaskan, kembali menemui Raisa. Dan mereka pun menunggu mereka yang lain yang belum datang bersama sambil menemani Raisa.


Setelah semua kembali, mereka semua pun mulai mempersiapkan semua makanan dan segera menghidangkannya untuk dimakan.


"Selamat makan!"


"Selamat makan, semuanya!"


Semua pun makan bersama.


Sambil makan, mereka juga bercakap-cakap bersama tentang banyak hal. Yang paling banyak dibahas adalah rencana mengadakan pesta kecil besok setelah Raisa ke luar dari rumah sakit dan pulang ke rumahnya.


Pesta akan lebih seru jika diadakan seperti ini, seperti itu.


"Katanya hanya ingin mengadakan pesta kecil? Kenapa kalian membahasnya seolah ingin mengadakan pesta yang sangat besar?" geran Raisa bertanya.


"Ini karena kami sangat antusias," kata Amy


"Saat sedang makan, kita harus fokus pada kenikmatan rasanya. Jangan terlalu banyak bicara! Jika sudah saatnya makan camilan, barulah bisa lebih bebas bicara. Jadi, aku tidak akan bicara banyak untuk rencana pesta besok, yang penting di pesta yang diadakan besok, yaitu harus ada makanan yang enak!" ucap Chilla


"Sudah kuduga kau akan, seperti ini lagi! Tidak jauh-jauh dari makanan," kata Ian


"Menurutmu, bagaimana, Raisa? Kau ingin pesta yang seperti apa?" tanya Wanda


"Entahlah, aku tidak pandai merencanakan pesta. Jika hanya untuk pesta kecil, seperti sekarang ini juga tidak buruk! Makan bersama! Yang penting adalah kita semua bisa berkumpul bersama! Kebersamaan adalah yang terpenting," jawab Raisa


"Kau benar, Raisa!" setuju Rumi


Di saat kebersamaannya bersama teman-teman dan juga mengingat perkataannya barusan, Raisa tiba-tiba saja termenung. Tangannya terus bergerak menyuap makanan dan mulutnya tetap mengunyah. Orang yang melihatnya sedang makan dan bibirnya pun tersenyum.


Namun, di dalam benaknya, Raisa merasa ada yang kurang.


Lagi-lagi, ia teringat dengan keluarganya. Seketika gerakan makannya melambat, senyumannya memudar, pandangannya sedikit hampa di tengah keramaian yang mengelilinginya. Di tengah kebahagiaannya yang sedang berlangsung, Raisa juga merasa sedih. Namun, Raisa mencoba menahan dan menyembunyikan rasa sedih di hatinya. Satu-satunya yang menyadari kesedihanya adalah Rumi, yang tepat berada di sisinya.


Rumi yang berniat ingin menghiburnya pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Raisa dan mengusapnya perlahan. Meski tidak bisa langsung menghibur dan menghilangkan kesedihan yang sedang diam-diam Raisa rasakan, Rumi ingin menyalurkan perasaan nyaman pada Raisa melalui sentuhannya.


Raisa yang terkejut dengan sentuhan Rumi yang terbilang tiba-tiba pun hanya bisa tersenyum kecil. Raisa tahu bahwa Rumi menyadari sesuatu darinya, namun ia masih ingin menyembunyikan kesedihannya dari pria itu meski sebenarnya telah diketahui.


"Makanannya enak," kata Raisa yang mencoba mengubah suasana.

__ADS_1


"Kalau begitu, makanlah yang banyak ... " ujar Rumi


"Aku tipe orang yang bisa langsung merasa kenyang meski makan sedikit, jadi aku tidak bisa makan banyak," ungkap Raisa


"Kalau begitu, lain kali aku akan belikan lagi makanan yang sama untukmu. Saat kau ingin atau kapan pun itu, apa pun yang kau mau akan kuberikan," ucap Rumi


"Terima kasih!" Raisa tersenyum.


Rumi pun hanya membalas ucapan terima kasih Raisa dengan senyuman yang sama dengannya.


"Hei! Kami sedang merencanakan acara bersama, tapi kalian berdua malah asik dengan acara kalian berdua dan sibuk pacaran saja, ya, Rumi, Raisa!" sindir Morgan


"Siapa yang pacaran!? Kan, sudah kubilang, aku, sih, sejutu saja seperti apa pun kalian merencanakan pestanya. Asalkan tidak menimbulkan sesuatu seperti keributan," ujar Raisa dengan tegas serta tatapan intens seolah sedang memberi peringatan.


"Hiiy! Semua gadis akan jadi menyeramkan saat marah. Mengerikan!" ucap Billy


"Memangnya siapa yang marah? Aku tidak marah ... " kata Raisa sambil tersenyum. Namun, di balik senyumnya, ia seolah berkata jangan macam-macam padaku!


"Kami tidak akan ribut, tapi mungkin hanya akan jadi sangat ramai saja," ucap Dennis


"Bukannya itu sama saja?" heran Sandra merasa bingung.


Meski suasana sempat menjadi tegang karena ekspresi marah Raisa, namun setelah itu mereka pun tertawa bersama.


Rumi yang melihat Raisa ikut tertawa pun merasa lega. Meski Rumi pun tahu, di balik keceriaannya itu, Raisa masih menyimpan kesedihan di hatinya.


•••


Keesokan harinya.


Karena hari ini sudah diperbolehkan pulang, Raisa bangun dan bersiap lebih awal saking semangatnya. Pagi-pagi pun Rumi sudah ada di sana untuk menemuinya.


Tok-tok-tok!


"Silakan masuk ...."


Dari balik pintu, Bibi Sierra, Aqila, dan Morgan pun masuk.


"Aku datang untuk pemeriksaan terakhir!" seru Bibi Sierra


"Oh, kau sudah datang, ya, Rumi ... " kata Morgan


"Aku memang selalu datang lebih pagi untuk bertemu Raisa," ungkap Rumi


"Kau sudah siap, ya, Raisa?" tanya Aqila


"Ya. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa pulang," jawab Raisa dengan girang.


"Kau sudah tidak sabar ingin meninggalkan tempat ini, ya, Raisa?" tanya Bibi Sierra yang sudah mulai melakukan pemeriksaan pada Raisa.


"Bukannya aku tidak senang selama bertemu denganmu di sini, Bibi Sierra. Namun, aku bosan dengan suasana di sini. Kalian juga tahu, memangnya siapa, sih, yang betah berlama-lama di rumah sakit ... " ujar Raisa


"Kau benar. Kuharap lain kali jika kita bertemu lagi, tempat itu bukan lagi di rumah sakit. Setidaknya, kau bukan lagi pasienku saat kita bertemu lagi nanti," ucap Bibi Sierra


"Semoga saja. Aku pun mengharapkan hal yang sama," kata Raisa


"Apa kau akan langsung pulang setelah ini?" tanya Bibi Sierra


"Ya, jika kau mengizinkan," jawab Raisa sambil mengangguk pada orang yang berstatus sebagai Dokter-nya.


"Tentu saja, kau sudah boleh pulang. Aku yang sudah mengatakannya kemarin dan hasil pemeriksaan saat ini pun tidak ada masalah, kau baik-baik saja. Selamat, kau sudah pulih, Raisa, dan kau sudah boleh pulang," ungkap Bibi Sierra


"Terima kasih banyak!" ucap Raisa


Setelah itu, Raisa pun beranjak pergi meninggalkan kamar rawatnya saat itu bersama Rumi, Morgan, dan Aqila, yang akan menemaninya pulang sampai ke rumahnya. Bibi Sierra pun terlihat mengantarkan Raisa sampai ke lobi rumah sakit.


"Sebenarnya kau tidak perlu repot-repot mengantarku, Bibi Sierra. Kau pasti sangat sibuk," ujar Raisa


"Tidak apa. Lagi pula, aku hanya akan mengantarmu sampai sini. Hati-hatilah saat berjalan pulang ... " kata Bibi Sierra berpesan.


Raisa pun mengangguk sambil tersenyum.


"Sekali lagi, terima kasih banyak, Bibi Sierra!" ungkap Raisa


Bibi Sierra pun tersenyum.


Raisa pun berjalan ke luar dari rumah sakit bersama Rumi, Morgan, dan Aqila.


Bagi yang bertanya-tanya tentang biaya administrasi selama Raisa di rawat di rumah sakit... Biaya itu ditanggung oleh Pemerintahan Desa. Karena bagaimana pun, Raisa adalah salah satu anggota yang bekerja untuk desa dan selama masa kerjanya itu, kehidupan Raisa telah ditanggung seperti mempunyai asuransi.


"Senang sekali rasanya sudah bisa pulang dan berjalan sendiri," ungkap Raisa


"Apa kau masih merasa kesulitan untuk berjalan, Raisa?" tanya Rumi


"Tidak kok. Tapi, kalau kau memang khawatir ... bagaimana kalau kau genggam saja tanganku seperti ini ... " ujar Raisa yang berinisiatif menggenggam tangan Rumi lebih dulu secara terang-terangan.


"Baiklah," patuh Rumi dengan senang hati membalas genggaman tangan Raisa sambil tersenyum.


Saat itu juga, diam-diam Morgan menggenggam tangan Aqila. Aqila pun hanya membiarkannya karena bagaimana pun juga status mereka berdua adalah berpacaran!


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2