Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 70 - Ikatan Pernikahan.


__ADS_3

Setelah mengatakan akan membantu kapan pun jika dibutuhkan, Aqila jadi suka memanggil Raisa untuk membantunya dalam beberapa hal persiapan pernikahan. Salah satu contohnya saja adalah memilih tipe undangan.


Aqila memanggil dan meminta bantuan Raisa untuk ikut memilih kartu undangan.


"Memilih kartu undangan, ya. Untuk hal ini harusnya kau berdiskusi dengan Morgan, pasanganmu," kata Raisa


"Inginnya juga seperti itu, tapi dia menyerahkan semua ini padaku sepenuhnya tanpa niat membantu memilihnya bersamaku. Aku merasa kesal sekali dengannya. Sebenarnya dia niat ingin menikah atau tidak, sih!? Rasanya aku seperti menikah seorang diri tanpa pasangan karena lebih banyak aku yang menentukan ini dan itu untuk pernikahan kami," ujar Aqila


"Tidak di mana pun semua lelaki sama saja. Seolah masa bodoh dengan masalah seperti ini dan hanya menyerahkan pada pihak perempuan, tapi kalau ada hal yang tidak sesuai dengan keinginannya dia hanya akan menyalahkan," ucap Raisa


"Tidak apa, Aqila. Baiklah ... kalau Morgan tidak mau ikut membantumu, aku akan bantu pilihkan yang cocok dengan karakter kalian berdua. Tentunya dengan persetujuanmu," sambung Raisa


"Karena kau bilang aku boleh minta bantuan kapan saja, aku jadi langsung terpikir untuk memanggilmu. Semoga kau tidak merasa terbebani," ucap Aqila


"Tidak kok. Aku juga senang bisa membantumu," kata Raisa


"Kau bisa jadikan saat-saat membantuku sebagai reverensi jika kau ingin merencanakan pernikahanmu juga nanti," ujar Aqila


Mendengar itu, Raisa hanya bisa menanggapi dengan tertawa kecil. Entah keinginannya untuk menikah dengan Rumi bisa terwujud atau tidak. Hatinya terasa sedikit miris seolah teriris.


"Kartu undangan di sini sangat jauh berbeda dengan yang ada di duniaku, tapi bukan masalah. Ini hanya seperti memilih tema pada kartu ucapan saja," ucap Raisa


Ada banyak kartu undangan berjejer di hadapan Aqila dan Raisa.


"Di antara banyaknya kartu undangan, apa ada yang membuatmu tertarik? Kau pilihlah beberapa dulu dan aku akan membantumu menyeleksinya," ujar Raisa


"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Aqila


Aqila pun memilih 3 kartu undangan.


"Semua pilihanmu sangat memperlihatkan karaktermu. Dari ketiga pilihanmu, jika memikirkan Morgan akan memilihnya bersamamu ... aku sarankan kau memilih kartu undangan yang satu ini. Karena terlihat seperti penggabungan karakter antara dirimu dan Morgan," ucap Raisa


Dari ketiga kartu undangan pilihan Aqila, Raisa memilih satu di antaranya yang mungkin cocok dengan karakter Aqila dan Morgan. Yaitu, kartu undangan dengan tema warna merah dan gold.


"Nah, kini aku akan bantu pilihkan beberapa kartu udangan yang lain dan kau yang akan menyeleksinya sendiri. Kau bandingkanlah dengan pilihan awal, mana yang lebih kau suka? Atau kau juga bisa bertanya pada Morgan untuk memilih yang lebih bagus dari kedua pilihan hari ini," ujar Raisa


Raisa pun bantu pilihkan 3 opsi kartu undangan lain.


"Dari tiga yang kupilihkan ini. Kau lebih suka yang mana?" tanya Raisa


"Aku tertarik dengan yang ini," jawab Aqila memilih satu kartu undangan dengan tema warna putih, pink, dan merah.


"Nah, dari dua pilihan kartu undangan yang ada kau tinggal memilih satu yang paling kau suka. Kau bisa bertanya pada Morgan juga untuk pilihan akhirnya," kata Raisa


"Baiklah. Lebih mudah memilihnya bersama dari pada sendiri. Aku sangat terbantu. Terima kasih banyak," ucap Aqila


"Sama-sama," balas Raisa sambil tersenyum.


Di lain waktu, Aqila jadi sering meminta bantuan Raisa dalam hal memilih karena merasa Raisa adalah pemilih yang baik dengan tetap memikirkan seleranya.


Seperti halnya memilih dekorasi pelaminan, desain gaun pengantin, dan lain-lain.


Di suatu kesempatan, Aqila dan Raisa bertemu dengan Morgan saat sedang memilih.


"Hei, Morgan! Harusnya kau bantu Aqila memilih untuk perencanaan pernikahan kalian. Yang menikah itu kalian berdua bukan hanya Aqila saja," tegur Raisa


"Aku menyerahkannya pada Aqila karena merasa pilihannya selalu bagus dan terlihat sempurna sedangkan aku adalah pemilih yang buruk," ungkap Morgan


"Tetap saja ... setidaknya kau, kan, bisa menemani calon istrimu," ujar Raisa


"Aku mengerti. Untuk itu aku ke sini sekarang," kata Morgan


"Bagus. Hampir saja aku melaporkanmu pada Bibi Sierra dan Paman Elvano supaya kau dihajar. Kalau tidak ingin dipecat jadi calon menantu dan suami, jadi perhatianlah meski hanya sedikit," ucap Raisa


"Jangan seperti itu dong, Raisa. Aku tahu salah ... " sesal Morgan


Pada hari itu, akhirnya Morgan ikut bersama Raisa untuk menemani Aqila memilih berbagai hal persiapan pernikahan.


Di lain hari, Raisa harus berpamitan untuk kembali ke dunianya. Sejak itu, Aqila hanya melakukan persiapan pernikahan bersama Morgan atau anggota keluarga lainnya.


•••

__ADS_1


Hanya tinggal tersisa satu bulan lagi sebelum hari pernikahan antara Aqila dan Morgan. Keduanya pun melakukan acara makan sebelum melepas masa lajang bersama teman-teman karib di sebuah kedai makan.


Pada malam itu, banyak yang mengucapkan selamat pada Aqila dan Morgan meski keduanya masih belum resmi menikah.


"Selamat pada calon pengantin kita, Aqila dan Morgan, yang sebentar lagi akan menikah dan menjadi suami istri!"


"Kalian berdua hampir melepas masa lajang, jadi makan malam kali ini kalian berdua yang traktir, ya ... " ucap Chilla


"Iya, iya. Pesan sewajarnya aja, ya," kata Aqila sambil tertawa kecil.


Chilla pun mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Malam ini yang tidak bersama pasangan ada Chilla, Devan, Amon, dan Rumi, ya," ujar Morgan


"Jangan ingatkan aku yang masih belum punya pasangan atau aku bisa meledakkan tagihan makan kali ini," ucap Chilla


"Kalau diingat-ingat, hanya aku saja yang belum punya pasangan di sini," sambung Chilla


"Kalau kau makan berlebihan, kau bayar sendiri tagihanmu, Chilla," kata Morgan


"Bagaimana kabar Sanari, Amon?" tanya Aqila


"Dia baik. Dia selalu merasa tidak enak karena tidak bisa menemanimu saat kau merencanakan pernikahanmu, tapi dia berjanji akan datang saat kau menikah nanti," jawab Amon


Sanari memang harus kembali pada pekerjaannya hingga harus pergi dari Desa Daun.


"Bagaimana kabar, Yolanda? Ternyata, kau berjodoh dengan gadis asal kampung halaman ibumu. Kalau begitu, kau sama seperti ayahmu," ujar Ian


"Kami masih berhubungan baik dan dia juga baik-baik saja. Dia juga akan datang saat pernikahan Morgan dan Aqila nanti bersama 2 teman anggota satu timnya," ungkap Devan


"Sudah sampai tahap mana hubungan kalian? Apa setelah Morgan dan Aqila, yang menyusul menikah lebih dulu adalah kau dan Yolanda?" tanya Ian


"Entahlah. Kami menjalin hubungan jarak jauh dan juga jarang bertemu. Untuk sampai ke tahap pernikahan sepertinya jalan kami masih panjang," jawab Devan


"Bukankah harusnya kita bertanya pada Rumi? Di antara kita semua, yang paling awal menjalin hubungan asmara adalah Rumi dan Raisa," sambung Devan


Orangtua Devan yang merupakan orang asli Desa Daun, Negara Api adalah Ayahnya, Tuan Rafka. Sedangkan Ibu Devan, Nyonya Tania berasal dari Desa Pasir, Negara Angin. Namun, setelah menikah keduanya memilih untuk tinggal di Desa Daun dan Nyonya Tania harus meninggalkan kampung halamannya. Dan, kali ini Devan juga memiliki kekasih asal Desa Pasir, Negara Angin.


"Menjadi yang pertama yang menjalin hubungan bukan berarti akan jadi yang pertama kali menikah. Pikirkan saja ... Devan dan Yolanda yang menjalin hubungan berbeda negara saja sulit membicarakan tentang pernikahan, apa lagi Rumi dan Raisa yang terpisah dengan dunia yang berbeda. Aku tidak bermaksud bicara buruk tentang hubungan kalian, tapi ini kenyataannya," tutur Chilla


"Kak Raisa juga pernah bicara padaku dan Kak Aqila, kalau kisahnya dengan Kak Rumi mungkin akan sangat panjang karena terus berada di dunia yang berbeda. Mereka belum pernah bicara tentang pernikahan. Kak Raisa hanya berharap pada takdir dan biarkan hubungan asmaranya seperti air yang mengalir dan juga menjalaninya apa adanya," ungkap Monica


Aqila mengangguk pelan membenarkan ucapan Monica.


Akhirnya, semua mata pun tertuju pada Rumi.


"Rumi, seperti apa hubunganmu dengan Raisa sekarang? Hubungan kalian berdua baik-baik saja, kan?" tanya Morgan


"Hei, kita jangan berpikir yang aneh-aneh. Buktinya Rumi dan Raisa terlihat semakin mesra. Hubungan mereka berdua pasti baik-baik saja bahkan terlihat awet. Meski tidak dalam waktu dekat, cepat atau lambat juga pasti akan ada kabar baik," sambung Morgan yang berusaha mengubah suasana karena Rumi masih belum juga menjawab pertanyaannya.


"Entahlah." Akhirnya ada saru kata yang ke luar dari mulut Rumi.


"Sebenarnya kami sudah putus sejak lama," ungkap Rumi


Semua pun menjadi syok setelah mendengar pernyataan dari Rumi.


"Yang benar saja ... Rumi, kau jangan bercanda," kata Billy


Rumi hanya bisa diam. Tak lama kemudian ia mengangguk dengan maksud membenarkan pertanyaannya sendiri.


"Sejak kapan kalian berdua putus?" tanya Dennis


"Sudah sangat lama. Sekitar 4 tahun yang lalu," jawab Rumi


"Lalu, selama ini yang kita lihat hubunganmu dan Raisa itu apa?" tanya Marcel


"Meski awalnya aku tidak terima saat Raisa berkata ingin putus, akhirnya kami tetap purus baik-baik, tapi kami juga tetap berhubungan baik," jelas Rumi


"Aku tidak mengerti. Coba kau katakan lebih jelas lagi," pinta Wanda


"Raisa bilang dia merasa terbebani dengan hubungan kami yang seolah tak pasti karena kami tinggal di dunia yang berbeda. Awalnya aku juga tidak mengerti, tapi alhirnya aku merelakan putusnya hubungan kami karena Raisa tampak merasa tertekan sungguhan. Namun, kami berdua mengungkap bahwa kami masih saling mencintai. Menjalani hubungan apa adanya, biarkan mengalir seperti air, berharap pada takdir ... itu semua benar adanya. Seperti itulah hubungan kami berdua. Raisa menyebutnya menjalin hubungan tanpa status," ungkap Rumi

__ADS_1


"Mengetahui kenyataan Morgan dan Aqila menikah lebih dulu dari pada Rumi dan Raisa yang lebih dulu menjalin hubungan saja ... jujur, aku masih merasa aneh karena kukira Rumi dan Raisa dulu yang akan menikah. Sekarang malah mengetahui kalau Rumi dan Raisa ternyata sudah putus sejak lama. Aku sungguh tidak menyangka," ujar Sandra


"Rumi dan Raisa sudah putus sejak lama, tapi tidak ada di antara kita yang tahu tentang ini. Kalian berdua pandai sekali menutupinya, tapi pasti kalian juga merasa sangat sulit setiap harinya," ucap Amy


"Aku memang tidak tahu rasanya. Menjalin hubungan berbeda dunia pasti sulit. Saling mencintai dengan ketidak-pastian juga sangat sulit. Kasihan sekali, Raisa. Rumi juga ... " sambung Amy


"Aku tidak menyangka kalau kisah cinta kalian berdua akan serumit ini," kata Chilla


"Bersabarlah, Rumi. Dilihat dari kuatnya perasaan kalian berdua, pasti akan ada hal baik. Kau cukup percaya dengan itu dan teruslah berjuang demi cintamu," sambung Chilla


Rumi pun mengangguk lesu seperti ekspresi pada raut wajahnya.


Acara makan malam masih terus berlangsung. Namun, suasana tidak lagi meriah seperti saat awal. Suasana berubah jadi canggung setelah membicarakan tentang Rumi dan Raisa. Semua jadi merasa tidak enak hati pada Rumi.


Meski begitu, semua tetap berusaha memeriahkan acara makan bersama kali ini walau kemeriahan itu tidak terlalu terasa menyenangkan karena ada rasa sedih yang kental terasa dari salah satu orang di sana.


Di akhir acara makan bersama, satu per satu dari mereka pun pergi dari kedai makan tersebut.


"Maaf karena sudah menyinggung tentang hubunganmu dan Raisa saat aku tidak tahu kesulitan kalian berdua. Aku sudah salah bicara," ucap Devan sambil menepuk bahu Rumi.


"Tidak apa. Aku juga salah karena tidak memberi tahu kenyataannya pada semua dan malah menyembunyikannya," kata Rumi


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Permisi," ujar Devan yang lalu beranjak pergi dari sana.


Kini tersisa Rumi, Morgan, dan Aqila saja.


"Maafkan aku karena masalahku membuat makan malam yang kalian berdua adakan jadi tidak meriah dan terasa canggung. Harusnya aku tidak mengungkap masalahku malam ini. Maaf," ucap Rumi


"Tidak apa. Kalau kau tidak memberi tahu pada kami sekarang, mungkin kami tidak pernah tahu sampai kapan pun juga. Kau memang harusnya menceritakan masalahmu pada kami, teman-temanmu. Bukan salahmu," ujar Aqila


"Aku juga salah karena terus mendesak pertanyaan soal pernikahan saat aku tidak tahu apa pun tentang hubunganmu dan Raisa," kata Morgan


"Apa kau baik-baik saja, Rumi?" tanya Aqila


"Bohong kalau aku bilang baik-baik saja saat aku tidak merasa sepenuhnya seperti itu. Tapi, ini adalah masalah pribadiku, tidak perlu khawatir. Kalian berdua cukup mempersiapkan diri sampai hari pernikahan," jawab Rumi


"Rumi, apa tidak ada solusi untuk hubunganmu dengan Raisa?" tanya Morgan dengan sangat hati-hati.


"Hubunganku dengan Raisa adalah yang pertama sekaligus yang terakhir. Aku ini tidak tahu banyak masalah soal cinta dan tidak bisa melakukan apa-apa," jawab Rumi


"Aku merasa ... sebenarnya ada solusinya. Cara terakhir yang paling tepat agar tidak ada lagi kata ketidak-pastian dan kalian bisa bersatu dan bersama selamanya," ujar Aqila


"Apa itu? Langsung katakan saja," kata Morgan


"Kata-kataku barusan adalah solusinya. Hanya perlu menghilangkan beban tekanan yang Raisa rasakan dari sebuah ketidak-pastian itu sendiri, itu adalah satu-satunya cara untuk saling bersatu dan bersama selamanya. Yaitu, dengan ikatan pernikahan," ungkap Aqila


"Pernikahan adalah status yang paling pasti. Rumi, kalau kau ingin bersatu dan bersama dengan Raisa selamanya, maka kau harus menikahinya. Setelah menikah ... di dunia mana pun kalian berada, itu akan jadi dunia kalian berdua. Sama seperti kalian yang bersatu, dunia kalian berdua juga akan bersatu. Saat kalian bersama ... dunia ini akan menjadi dunia Raisa dan dunia sana akan menjadi duniamu. Aku rasa Raisa juga menginginkan kepastian dari sebuah ikatan pernikahan, hanya saja dia tidak bisa mewujudkannya. Dia berada dalam kebimbangan. Kau hanya perlu memberanikan diri untuk mewujudkan pernikahan itu dan menikah dengannya," samnung Aqila


"Tapi, mewujudkan pernikahan juga bukan hal yang mudah," kata Morgan


Aqila langsung menatap tajam ke arah Morgan.


"Maksudku, harus ada yang membantu Rumi karena dia tidak mungkin mewujudkan pernikahan seorang diri," imbuh Morgan


Saat itu Paman Elvano pun datang.


"Paman Elvano!" seru Rumi


"Aku datang menjemput Aqila. Karena tidak baik seorang gadis yang sudah jadi calon pengantin terus berada di luar hingga larut malam," ucap Paman Elvano


"Maaf, Papa ... " kata Aqila


"Soal bantuan yang dikatakan Morgan tadi, aku bersedia membantu Rumi. Anggap saja aku adalah wali karena aku pernah berguru dengan Tuan Rommy," ungkap Paman Elvano


"Rumi, sudah kubilang ... aku bersedia membantumu dalam hal apa pun yang berkaitan dengan Raisa," sambung Paman Elvano


.



Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2