Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
153 - Lelucon Tidak Lucu!


__ADS_3

Saat Rumi berkata ingin mencoba untuk terbang menggunakan sayap sihir milik Raisa, tanpa bertanya lebih banyak. Raisa pun mengabulkan keinginan Rumi dengan membagikan sihirnya dan membuat Rumi memiliki sepasang sayap di balik punggungnya.


Raisa juga langsung mempersilakan Rumi untuk mencoba kesempatan sementara pemberian darinya untuk terbang di udara tanpa menanyakan alasan khusus kekasihnya yang ingin mencoba untuk terbang.


Namun, begitu Raisa tidak mempermasalahkan itu semua. Rumi malah menariknya untuk terbang bersama dengan menggendong (ala bride style) dan memeluk tubuhnya~


Saat terbang mengudara bersama, keduanya saling berpelukan, lalu saling bertatap mesra.


Kemudian,


CHU~


CUP!


Muah~~


Raisa dan Rumi berciuman. Itu membuat keduanya cukup panas di tengah terpaan udara bebas saat sedang terbang tinggi.


Raisa menjauhkan dirinya untuk menghentikan ciuman itu dengan mendorong Rumi~


"Aku ingin mencoba melakukan ini. Terbang bersamamu dan tidak ada orang yang melihat saat kita sedang berdua seperti ini," ungkap Rumi


"Hanya untuk itu?" heran Raisa bertanya.


"Asalkan bisa bersamamu sepertinya semua akan kulakukan, termasuk mencoba sensasi baru seperti ini," kata Rumi


Bluushh~


Wajah Raisa merona merah.


Rumi mulai mendekatkan kembali wajahnya pada wajah Raisa. Namun, Raisa segera menjauh darinya~


"Raisa, belakangan ini perasaanku jadi aneh dan kurang nyaman," ungkap Rumi


..."Apa Rumi merasakan sesuatu ... seperti firasat?" batin Raisa...


Raisa tak menanggapi ucapan Rumi dan malah sibuk memikirkan hal lain.


"Raisa, kenapa aku merasa kau sedang mencoba menghindariku?" tanya Rumi


DEG!


"Kenapa bisa begitu? Aku hanya menolak kau mendekatiku, lalu kau sudah khawatir berlebihan seperti ini?" tanya balik Raisa


Kali ini, Rumi yang bingung ingin menjawab apa.


"Kalau begitu, begini saja ... " ujar Raisa dengan senyum jahilnya.


CUP!


Sekilas Raisa mencium bibir Rumi, lalu secepat kilat melepaskannya~


"Kau begitu khawatir aku menjauh darimu, bagaimana jika aku benar-benar akan menjauh?" tanya Raisa


"Tidak akan kubiarkan," jawab Rumi


"Kalau aku bersikeras ingin pergi menjauh?" tanya Raisa lagi.


"Akan kuraih dirimu lagi," jawab Rumi


"Apa kau yakin bisa melakukannya?" Lagi-lagi Raisa bertanya.


"Tentu sa-" Perkataan Rumi terpotong dengan reaksi terkejutnya.


Itu karena belum selesai Rumi menjawab, Raisa sudah mendorong Rumi untuk benar-benar nenjauh darinya. Hingga pelukan keduanya lepas dan Raisa terjun bebas dari ketinggian karena Rumi sedang membawanya terbang bersama.


Rumi terkejut melihat Raisa terjauh lepas dari pelukannya~


"Raisa!!~" panik Rumi memekik.


Raisa terus terjun jatuh sambil menghadap ke arah Rumi dan tersenyum padanya.


Melihat itu, Rumi pun tidak tinggal diam dan berusaha meraihnya kembali. Namun, Raisa seolah menolak uluran tangan Rumi yang hendak menggapainya~


Dalam situasi tersebut, Raisa pun menghunakan sihirnya untuk memunculkan sepasang sayap di balik punggungnya supaya dapat terbang dengan kemampuannya sendiri.


Lalu, ia pun mencoba agar dapat terbang lebih seimbang dari pada saat ia jatuh~


"Kenapa kau melakukan hal berbahaya seperti itu, Raisa?" tanya Rumi saat berhasil mendekat ke arah Raisa.


"Lihatlah, kau sangat panik! Sampai wajahmu terlihat lucu," kata Raisa sambil tertawa.


"Itu tidak lucu! Bagaimana bisa kau menganggap kekhawatiran seseorang akan sebuah kehilangan adalah sesuatu yang lucu!?!" ujar Rumi marah.


Raisa terdiam dan memerhatikan wajah perubahan ekspresi wajah Rumi yang marah karena khawatir padanya.


Lalu, Raisa tersenyum hangat~


"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Terkadang hidup itu berjalan tak sesuai dengan apa yang selalu kau harapkan, kau bisa saja gagal saat ingin meraih sesuatu yang ingin kau miliki, dan itu semua kembali tergantung pada bagaimana cara kau menghadapinya. Apa kau bisa menerima kenyataannya atau tidak dan tentang seberapa keras usahamu melupakan kegagalanmu lalu mencoba meraih hal baru yang lebih baik dari pada sebelumnya. Aku ingin kau hidup seperti itu, Rumi. Teruslah berpikir positif walau kau menemukan jalan buntu atau kegagalan sekali pun. Cobalah untuk meraih dan memimpikan hal baru yang jauh lebih baik," tutur Raisa


"Kau ini bicara apa? Meski begitu, kita juga boleh menikmati kebahagiaan yang sudah ada, kan?" bingung Rumi seolah enggan mendengar perumpamaan yang Raisa ucapkan.


Raisa menggeleng kecil.


"Jangan hanya menikmati, tapi berusahalah juga untuk menjaga kebagagiaan itu agar tetap utuh dan selalu ada bersamamu. Dengan sedikit kebebasan, jangan terlalu mengekang kebahagiaanmu," ucap Raisa


"Contohnya seperti ... cobalah tangkap aku," ujar Raisa yang lalu terbang menjauh dari Rumi.


Rumi pun mengikuti permainan Raisa dan mencoba menangkapnya. Dan saat usahanya hampir berhasil, Raisa pun berhasil meloloskan diri dari usaha penangkapan yang Rumi lakukan dengan mengelak darinya~


"Dan, satu lagi! Saat kau tidak berhasil menangkap apa yang kau inginkan, maka lepaskanlah saja itu. Biarkan itu pergi, lalu cobalah menemukan kebahagiaanmu yang baru. Semua intinya sama, yaitu usaha, tekad, dan keikhlasan hati," ungkap Raisa


"Aku akan bisa menangkapmu kali ini," kata Rumi seolah benar-benar tidak mendengar ucapan Raisa.


"Maka, aku akan berusaha agar keras lolos darimu. Cobalah, apa kau bisa menangkapku?!" ujar Raisa menantang.


Terjadilah usaha kejar-kejaran dua sejoli di udara bebas sambil terbang ke sana ke mari~


Raisa terus berhasil lolos dari usaha tangkapan Rumi dan akhirnya ia terbang menurun kemudian mendarat di tanah pijak.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau mendarat tanpa Rumi? Katanya, kau sedang malas terbang?" tanya Morgan begitu melihat Raisa mendarat seorang diri.


"Aku hanya melepaskan diri dari Rumi," jawab Raisa


"Itu dia, Rumi ... " kata Aqila


"Raisa, jangan coba-coba lakukan hal berbahaya seperti tadi lagi," ucap Rumi


"Memangnya melakukan apa?" tanya Aqila dan Morgan secara serempak.


"Tidak ada. Kami hanya bermain kejar-kejaran saja," jawab Raisa sambil teesenyum simpul.


Raisa pun menghilangkan sayap sihirnya begitu juga pada Rumi~


"Kau sudah puas dengan pengalaman terbangmu, kan? Tidak apa kalau aku melenyapkan sayapmu, kan?" tanya Raisa

__ADS_1


"Kalau tahu kau akan melepaskan diri dariku, aku tidak ingin mencoba untuk terbang," ujar Rumi tanpa menjawab pertanyaan Raisa.


"Dari awal memang kau yang tidak bilang ingin membawaku pergi terbang bersamamu, lagi pula aku hanya ingin bermain suatu permainan denganmu," ucap Raisa


"Permainan yang kau anggap lelucon itu tidak lucu sama sekali," kata Rumi yang berlalu pergi dengan amarah.


"Ada apa dengannya?" tanya Aqila


"Sepertinya dia marah dan tidak ingin melihatku," jawab Raisa


Yang melihat tentu tahu tentang itu, yang coba Aqila tanyakan adalah kenapa Rumi bisa marah pada kekasihnya yang sangat dicintainya itu? Namun, apa pun itu tidak ada yang ingin mencampuri urusan pribadi antara Raisa dan Rumi.


"Biar aku menyusulnya," kata Morgan lalu pergi menghampiri Rumi.


"Raisa, bukankah kita perlu memeriksa Andrew? Dia belum juga mendarat atau pun terlihat dari tadi," ujar Aqila bertanya dengan khawatir.


"Tenang saja. Aku merasakannya akan segera mendarat ke sini," jawab Raisa


Raisa memang bisa merasakan keberadaan sosok Andrew karena Andrew bisa terbang berkat sihir milik Raisa yang dibagikan padanya.


Seperti kata Raisa, selang beberapa saat kemudian Andrew terlihat sedang nendarat tak jauh dari sana.


"Menakjubkan! Ini pengalaman yang menyenangkan!" riang Andrew


"Apa kau sudah puas terbang? Apa kau ingin mencoba sekali lagi dengan terbang lebih baik atau sudahi saja?" tanya Raisa


"Sudahi saja. Ini hanya kesempatan sementara yang kau berikan padaku, lagi pula aku sudah melihat banyak hal yang belum kulihat sebelumnya. Termasuk saat kau bermain-main bersama Rumi," jawab Andrew


Walau Andrew menyinggung soal dirinya dan Rumi, Raisa tidak ingin membahasnya. Raisa pun bergeming, hanya melenyapkan sayap sihirnya pada Andrew.


"Ya, sudah. Selamat kau telah mencoba pengalaman sekali seumur hidup hari ini," ucap Raisa sambil tersenyum kecil


 


"Ada apa denganmu? Kenapa kau marah dengan Raisa?" tanya Morgan setelah menghampiri Rumi.


"Aku hanya merasa Raisa sedang mencoba pergi menjauh dariku. Aku jadi merasa tidak berdaya," jawab Rumi


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Bukankah kau sudah bersenang-senang terbang sambil bermain-main dengannya tadi?" ujar Morgan bertanya.


"Tidak. Dia membuatku takut," jawab Rumi


"Sabarlah, Rumi. Tenangkan dirimu," kata Morgan yang tak tahu harus berkata apa lagi.


•••


Sudah berhari-hari dilewati bersama Andrew untuk menjadi pengawalnya. Tidak ada yang istimewa. Setiap hari hanya melihat Andrew berlatih sambil sesekali berlatih bersamanya dan Tuan Mario.


Sejak hari itu, Raisa dan Rumi kembali seperti biasa seolah kejadian terbang bersama itu tidak pernah terjadi. Namun, jika diperhatikan keduanya seperti sedang saling menjauh. Acuh tak acuh~


Hari ini, Andrew kembali berlatih bersama Tuan Mario dengan kedua anjingnya Mako dan Milo juga anjing miliknya, Noel.


Sementara Andrew berlatih, seperti biasa Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa tidak akan jauh-jauh dari sekitar tempatnya.


Karena tidak diperhatikan, Raisa memilih untuk memanjat dan duduk di atas pohon. Bersandar pada batang pohon besar dan memejamkan matanya sejenak~


Saat matanya terpejam, Raisa merasa ada yang ikut naik ke atas pohon tersebut. Raisa pun membuka matanya dan dilihatnya, Rumi sudah berada di depan matanya.


"Rumi! Jangan jauh-jauh, nanti kau jatuh. Mendekatlah sedikit," kata Raisa saat melihat Rumi menaiki di ujung dahan yang mengerucut kecil.


Saat diberi kesempatan untuk sedikit mendekat, Rumi malah sepenuhnya mendekat hingga sisi tubuhnya menempel dengan sisi tubuh Raisa. Raisa tidak menolak itu dan membiarkannya saja.


"Sedang apa kau di sini sendirian, Raisa?" tanya Rumi


"Aku ingin bersembunyi untuk memejamkan mataku sebentar. Semalam tidurku kurang nyenyak," jawab Raisa


"Kau bisa nenebaknya, rupanya ... " ujar Raisa


Rumi memang mengetahui keseharian Raisa, termasuk tentang 'Tamu Bulanan' Raisa yang tidak menentu di setiap bulannya.


"Apa perlu aku memberimu pijatan perut seperti saat itu lagi?" tanya Rumi


"Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat dan mengurangi aktivitas sejenak," jawab Raisa


Raisa memang menjawab seperti itu, tapi satu tangan Rumi sudah berada pada perut Raisa dan memijat-mijat kecil di sana~


Jika, Rumi sudah bersikeras, maka Raisa tak bisa lagi melarangnya.


Raisa pun kembali bersandar pada batang pohon dan memejamkan, namun Rumi menggunakan satu tangan lainnya untuk menarik kepala Raisa agar bersandar pada bahunya~


Raisa pun hanya diam tentang itu dan menurutinya.


"Kupikir, kau masih marah padaku," jata Raisa


"Aku tidak marah. Mana mungkin aku bisa marah padamu," bantah Rumi


"Apakah begitu? Padahal sudah dua minggu lebih kau seolah acuh tak acuh," yjar Raisa


"Kalau kau memang menganggapku marah, kenapa kau tidak membujukku agar kemarahanku reda?" tanya Rumi


"Selama ini hanya aku yang selalu marah padamu, kupikir kau juga butuh kesempatan untuk melakukan hal yang sama padaku. Makanya, aku membiarkanmu dan memberimu waktu sendiri, ternyata kau malah ingin aku membujukmu. Aku sudah salah, rupanya ... " ujar Raisa menjawab.


Sejenak, Rumi terdiam.


"Raisa, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku hari itu?" tanya Rumi. Hari itu yang dimaksudnya adalah sast keduanya terbang bersama.


"Apa yang ingin kusampaikan sudah kukatakan hari itu. Mungkin kau masih belum ingin memahaminya saat ini, tapi suatu saat nanti kau pasti akan mengerti tentang apa yang kumaksud," jawab Raisa


Raisa tidak berkata, masih belum memahami melainkan masih belum ingin memahami karena sebenarnya ia tahu bahwa Rumi sudah bisa mengerti apa yang ia maksud. Hanya saja Rumi sedang berusaha untuk menyangkalnya.


"Sepertinya kau begitu karena masalah siklus bulananmu yang sudah datang, ya? Kudengar emosi seorang gadis akan jadi tidak karuan selama siklus bulanannya terjadi," ujar Rumi yang lagi-lagi berusaha menyangkal untuk mengerti ucapan Raisa.


Raisa tak menjawab pertanyaan Rumi dan malah terdiam.


..."Siklus bulananku tidak berlangsung selama itu sampai bertahan selama dua minggu lebih. Saat itu tamu bulananku belum datang. Ternyata kau memang berusaha keras ingin menyangkal apa yang sudah kau mengerti tentang semua ucapanku saat itu," batin Raisa...


"Kau itu orang yang cerdas, Rumi. Kau selalu mengerti aku dan ucapanku. Saat kau masih belum ingin mengerti, maka mungkin kau akan mengerti saat kau mengalaminya langsung," tutur Raisa


Raisa menggenggam tangan Rumi yang sedang memijat perutnya supaya pijatannya berhenti.


"Sudah cukup bersembunyinya, kita harus kembali. Ayo turun," ujar Raisa


Kali ini, Raisa yang lebih dulu turun meninggalkan Rumi~


"Sudah selesai berlatihnya, Andrew?" tanya Raisa yang menghampiri Andrew.


"Ya. Sudah," jawab Andrew


Andrew pun istirahat usai berlatih.


"Hari-hari jadi menyenangkan saat ada kalian bersamaku. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir kalian bersamaku. Harusnya aku sudah meninggalkan desa ini beberapa hari yang lalu, namun Ayahku memperpanjang sedikit masa pekerjaannya di sini. Mungkin besok aku sudah harus pergi, saat itu harap kalian mengantar kepulanganku sampai stasiun kereta," ujar Andrew


"Seperti waktu itu," gumam Morgan


"Baiklah. Kami akan mengantarmu ke stasiun kereta," kata Aqila

__ADS_1


"Hari ini, maukah kalian menemaniku berbelanja?" tanya Andrew


"Baiklah, kami akan menemanimu. Itu sudah tugas kami sebagai pengawalmu," jawab Rumi


...


Setelah berbelanja, Andrew pun kembali ke hotel dengan riang gembira. Ditemani Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa, juga asistennya. Andrew pergi berkeliling desa sejenak. Untung saja barang belanjaannya yang sangat banyak itu akan langsung dikirim ke hotel, hingga mereka tidak perlu repot membawanya.


"Senang sekali rasanya! Setiap hari aku hanya selalu berlatih, setelah ke luar ternyata rasanya menyenangkan sekaligus melegakan," ucap Andrew


"Kau sendiri yang mengurung diri untuk melakukan pelatihan ketat. Untunglah kau masih punya waktu untuk jalan-jalan seperti ini untuk menyegarkan pikiranmu," kata Morgan


WUUUSHH~~


Begitu tiba di lahan kosong yang dijadikan taman terpencil, mereka dicegat oleh sekelompok perampok!


"Apakah menyenangkan jalan-jalannya?"


Sejumlah enam orang menyeringai jahat sambil tertawa.


"Siapa mereka semua?" tanya Andrew dengan panik.


"Halo, Tuan Muda! Tugas kami adalah membawamu pergi dari sini!"


Mengetahui niat jahat mereka, Andrew langsung gemetar ketakutan. Ingatan tentang kejadian buruk yang menimpanya saat kecil kembali bermunculan dalam benaknya. Karena motif kejahatan saat ini sama dengan saat itu, yaitu penculikan!


Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa langsung bersiap dalam posisi siaga!


"Jangan ganggu kami! Apa mau kalian!?" ujar Aqila bertanya.


"Bukankah sudah kami beri tahu tadi? Jadi, mohon maaf atas gangguannya. Karena bagaimana pun juga dia harus ikut dengan kami!"


'Dia' yang dimaksud merujuk pada Andrew sebagai Tuan Muda kaya raya anak dari seorang petinggi negara.


Andrew langsung menggenggam erat tangan Raisa karena takut dan meminta perlindungannya.


Kelompok perampok itu mulai bergerak menyerang! Aqila, Morgan, dan Rumi langsung mengatasi mereka. Menyisakan Raisa untuk melindungi Andrew dan asistennya di belakang.


"Raisa, kau diam saja di sana! Lindungi Andrew dan Pak Frans!" pekik Rumi


Aloh-alih melindungi Andrew dan Pak Frans, Rumi tidak menginginkan Raisa ikut bertarung karena khawatir Raisa akan terluka lagi.


"Andrew, cepat lepaskan aku! Aku harus membantu mereka bertarung," ujar Raisa


"Kau tidak dengar kata pacarmu tadi!? Diamlah di sini, lindungi aku dan Pak Frans! Aku hanya akan merasa aman jika kau ada bersamaku!" Andrew enggan melepaskan Raisa.


"Kami bertujuh! Jelas sekali kalian akan kalah!"


Jelas sekali yang menyerang ada enam orang, tapi mereka berkata ada tujuh! Ada yang janggal! Dan semua menyadarinya!


"S**l*n," decak Morgan


"Raisa!!" pekik Rumi


Ternyata, satu orang lagi bersembunyi! Ia pun muncul dan memilih Raisa sebagai seorang pengawal untuk dijadikan sandera!


Mereka berpikir melumpuhkan para pengawal akan mempermudah mereka membawa pergi Abdrew dengan cepat!


Orang itu mengunci pergerakan Raisa dengan mengailkan satu tangannya di leher Raisa dan satu tangan lainnya mengarahkan belati ke arah leher Raisa pula~


"Pak Frans, cepat bantu Andrew menjauh dari sini," pinta Raisa


Tanpa berpikir panjang, Pak Frans langsung menarik Andrew untuk menjauh.


"Sudah ingin meregang nyawa, kau masih peduli dengan majikanmu? Gadis hebat!"


Raisa tersenyum simpul.


"Terima kasih atas pujiannya! Terima kasih juga telah memilihku sebagai sandera," ucap Raisa


"Aku salah, ternyata gadis ini gila! Dia masih bisa tersenyum padahal sudah mau mati!"


"Begitu, ya? Tapi, kau sudah salah karena telah mengulur waktu untuk membunuhku hanya untuk menyombongkan diri," ujar Raisa


"APA??!"


Raisa mengeluarkan seluruh jurus menggunakan sihirnya untuk menggulingkan ketujuh perampok itu sekaligus! Mereka pun jatuh tersungkur dalam kekalahan yang sangat telak~


Semua pun bernafas lega. Aqila, Morgan, dan Rumi pun mengingat ketujuh orang perampok itu. Lalu, Rumi mendekati salah satu perampok yang tadi menodongkan belati ke arah Raisa.


"Kau yang tadi bilang pacarku akan mati, bukan?" gumam Rumi bertanya.


Padahal Rumi sudah berusaha keras membuang pikirannya tentang kehilangan Raisa, tapi perampok itu malah memancing emosinya dengan berkata Raisa akan mati.


BUGH!


Rumi menghadiahinya satu pukulan keras~


"Sudahlah, Rumi. Tidak perlu emosi. Aku baik-baik saja," ujar Raisa


"Tapi, lehermu berdarah! Itu pasti karena belati tadi," kata Rumi yang langsung menghampiri Raisa dengan khawatir.


"Oh, ya? Aku tidak menyadarinya, ternyata agak perih," ujar Raisa


Raisa pun menutupi luka berdarah di lehernya dengan satu tangan dan begitu tangannya disingkirkan. Luka itu sudah menghilang seperti tidak pernah ada~


Raisa menyembuhkan dirinya sendiri menggunakan sihir medis.


"Hanya luka kecil, sudah hilang juga," kata Raisa


"Syukurlah," lega Rumi langsung memeluk Raisa.


"Kalian semua hebat! Terutama kau, Raisa!" puji Andrew


Raisa terdiam. Ia mengirimkan sihir transmisi suara pada Paman Aiden selaku kepala polisi tentang adanya kumpulan perampok yang telah mereka kalahkan. Tak butuh waktu lama, Paman Aiden pun datang dengan pasukan untuk membawa kelompok perampok itu ke penjara.


"Terima kasih atas laporanmu melalui sihir transmisi suara, Raisa. Kami akan mengurus para perampok ini, jadi kami pergi dulu," ucap Paman Aiden yang langsung kembali pergi setelah datang untuk membawa para perampok itu ke penjara.


"Sekarang, ayo kembali ke hotel," kata Aqila


Mereka pun kembali menuju ke hotel.


•••


Keesokan harinya.


"Selamat jalan, Andrew!"


"Jangan kapok untuk datang ke sini lagi, ya!"


"Sampai jumpa lagi!"


Seperti permintaan Andrew, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa pun mengantar kepulangan Andrew hingga ke stasiun kereta. Kereta yang Andrew tumpangi pun perlahan mulai berjalan pergi dan terus menjauh~


.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2