
"Akhirnya, selesai juga!"
Setelah selesai merapikan tanaman, mereka yang lelah terduduk begitu saja.
"Kalian semua sudah bekerja keras," ucap Raisa
"Melihat bunga yang ada di sini, aku jadi teringat kalau kita punya dua pot bunga yang layu di dalam."
"Benarkah? Sejak kapan bunganya layu?" tanya Raisa
"Sudah cukup lama, tapi kami masih menyimpannya. Karena menyayanginya, kami tidak tega membuangnya."
"Ya, sepertinya itu sudah mati sekarang."
"Kenapa tidak bilang? Aku mungkin bisa membantu agar bunga itu hidup kembali," ujar Raisa
"Benarkah?"
Raisa mengangguk. Lalu, bangkit berdiri.
"Di mana kalian letakkan pot bunganya? Biar kulihat," ujar Raisa yang berjalan hendak masuk ke dalam panti asuhan.
"Tapi, Kak Raisa! Jangan masuk!"
Beberapa anak mulai mencegah dan menghalangi jalan Raisa yang ingin masuk.
"Tidak apa. Yang sedang belajar di dalam pasti juga sudah selesai," kata Raisa yang terus memaksa ingin masuk.
"Raisa, ini kenapa? Tadi dia sendiri yang meminta kita untuk tidak masuk seperti kata anak-anak, tapi sekarang dia sendiri yang memaksa ingin masuk?" heran Ian bertanya-tanya.
Setelah terus berusaha, akhirnya Raisa berhasil masuk ke dalam. Setelah Raisa, yang lain pun ikut masuk.
"Tuh, kan? Lihat ... mereka sudah selesai belajar," kata Raisa
"Kak Raisa, benar!"
Saat mereka masuk, yang ada di dalam sedang membereskan yang terlihat berserakan.
"Ada apa?"
"Kak Raisa bilang, ingin melihat pot bunga yang kita simpan. Katanya, mungkin masih bisa diselamatkan dan bunganya hidup kembali."
Beberapa anak diam-diam berbisik-bisik.
"Apa kalian sudah selesai membuatnya?"
"Sudah, tenang saja. Semua juga sudah disimpan baik-baik untuk diberikan besok."
"Bagus!"
"Jadi, di mana kalian menyimpan pot bunganya?" tanya Raisa
"Biar kami ambilkan pot bunganya. Kak Raisa, duduk saja."
Raisa pun menurut. Duduk bersama teman-temannya.
Dua anak pun datang dengan membawa masing-masing satu pot bunga dan menghampiri Raisa.
Kondisi pot bunga sungguh miris. Hanya tersisa kayu yang sudah layu. Benar-benar telah mati.
"Tanaman bunga yang malang. Pasti senang jika melihat tanaman bunga ini bisa hidup dan mekar lagi," ujar Raisa
"Apa sudah seperti ini juga bisa hidup kembali, Kak Raisa?"
"Akan kucoba. Mungkin masih bisa," jawab Raisa
"Pasti bisa! Kami sudah pernah melihat Raisa melakukan hal semacam ini. Tidak usah khawatir," ucap Morgan
Raisa pun mengangkat satu pot bunga kecil itu. Ia menyentuh tanahnya dengan satu jari dan satu tangannya juga menyentuh batang kayu yang sudah terkulai layu, lalu dalam sekejap bunga kembali tumbuh bermekaran dengan segar. Tanaman pada pot bunga itu pun hidup kembali!
Raisa juga melakukan hal yang sama pada satu pot bunga lainnya.
Melihat itu, anak-anak merasa takjub dan senang. Tanaman bunga kesayangan mereka hidup kembali!
"Wah, ini sungguhan! Tanaman bunganya hidup dan mekar lagi!"
"Terima kasih banyak, Kak Raisa!"
Raisa tersenyum.
"Nah, sekarang kalian harus menyiram bunganya dengan air. Dia pasti haus setelah melawan kematian yang melanda sebelumnya," ujar Raisa
"Kak Raisa, benar!"
Salah satu anak pun berlari mengambil penyemprot air untuk pot bunga. Dan langsung menyemprot bunga begitu kembali.
"Lalu, apa yang dibutuhkan setelah menyiram tanaman? Dia butuh cahaya, bukan? Ayo, taruh pot bunganya di dekat jendela agar terkena cahaya matahari," tutur Raisa
"Ya ya ya!"
Dua anak pun berlarian membawa masing-masing satu pot bunga untuk diletakkan di dekat jendela agar dapat terkena cahaya.
"Kalau hanya hal seperti ini ... pasti mudah bagi Raisa," kata Uan
Keesokan harinya.
__ADS_1
Hari saat kepulangan Raisa dan teman-teman.
Sejak pagi, Raisa dan teman-teman telah bersiap untuk kembali menuju ke Desa Daun. Saat sarapan bersama, banyak anak yang curi-curi pandang untuk dapat melihat mereka untuk yang terakhir kalinya. Usai sarapan bersama, banyak anak yang menampakkan kesedihannya tak rela jika mereka pergi. Saat berpamitan, semua anak mengerubungi dan memeluk mereka sebagai upaya pencegahan mereka pergi. Namun, mereka tetap harus pergi!
Akhirnya semua anak dan pihak panti asuhan melepas mereka pergi. Saat itu juga mereka semua memberikan sesuatu pada mereka.
Itu adalah kejutan yang dipersiapkan kemarin. Saat beberapa anak meminta mereka merapikan halaman luar, Raisa sudah tahu bahwa kejutan sedang dipersiapkan.
Sebuah kotak yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Pihak panti asuhan juga memberikan bekal makanan untuk mereka selama di perjalanan nanti.
"Kakak, kalau ada waktu dan kesempatan lain, nanti datang lagi ke sini, ya."
"Kalian semua, berhati-hatilah selama di perjalanan. Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua selama ini di Desa Bambu," ucap Tuan Derril
Setelah perpisahan singkat, Raisa dan teman-teman pun berlalu meninggalkan Panti Asuhan Cahaya Kasih.
Mereka langsung menuju ke stasiun untuk kembali ke Desa Dsun. Saat menuju stasiun pun banyak warga yang memberi salam perpisahan pada nereka bertujuh.
Sampai stasiun, semua kereta di sana sudah bekerja seperti biasanya dan pulih kembali. Tidak ada lagi kereta yang menganggur karena pemblokiran jalan oleh roh atau monster misterius seperti sebelumnya, semua orang pun kembali sibuk dan bekerja seperti biasa.
Devan, Ian, Chilla, Aqila, Morgan, Rumi, dan Raisa pun menaiki salah satu gerbong kereta menuju Desa Daun. Semuanya duduk dengan tenang dan bisa menikmati waktu sambil beristirahat selama perjalanan berlangsung.
"Akhirnya, kita sudah bisa pulang ... " lega Morgan
"Aku teringat dengan anak-anak panti. Mengingat mereka jadi teringat Raihan saat kecil dulu," gumam Raisa
"Kau kau memegang kenang-kenangan dari mereka. Kau buka saja," ujar Chilla
Raisa melihat pada kotak yang ada di pangkuannya. Ia langsung memberikan kotak itu pada Aqila yang dekat dengannya.
"Kau saja yang membukanya, Aqila," kata Raisa
"Raisa, kau ini tipe orang akan terus mengingat walau sudah berpisah, ya? Makanya, kau tidak ingin membuka kotak ini karena bisa teringat dan rindu dengan mereka, ya?" ujar Aqila bertanya.
Raisa mengangguk.
"Kalau begitu, dua hari lalu kenapa kau beri tahu mereka jika kita ingin pulang? Tahu begini, kita pergi diam-diam saja jika kau seolah tidak rela meninggalkan mereka seperti sekarang," ujar Ian
"Itu tidak adil bagi mereka. Saat itu aku sengaja berkata di depan mereka jika kita akan pulang, mereka jadi bisa mempersiapkan diri dan mereka pun sampai menyiapkan kenang-kenangan. Itu artinya mereka merelakan kepergian kita walau terasa berat, sama sepertiku. Yang seperti ini baru adil bagi semuanya," jelas Raisa
"Kemarin itu ... kau tahu mereka sedang menyiapkan kenang-kenangan itu untuk kita, kan, Raisa? Makanya kau setuju saat mereka membawa kita ke luar dan melarang masuk ke dalam?" tanya Devan
Raisa mengangguk.
"Kita harus menghargai usaha orang lain yang ingin membuat kita merasa senang. Kau juga tahu, makanya kau bertanya, kan, Devan?" ujar Raisa bertanya balik.
"Aku sekadar tahu saja, banyak menanggapi itu merepotkan, jadi aku hanya diam," kata Devan
"Raisa, sebelumnya kau pernah memberi tahu pada kami tentang kemampuan sihir milikmu. Bukankah kau sudah memberi tahu semuanya, tapi kenapa kau masih bisa mengeluarkan sihir cahaya juga?" tanya Aqila
"Aku sudah pernah beri tahu semua juga tentang aku yang melatih sihirku seorang diri. Sebenarnya kemampuan sihirku masih belum sepenuhnya dan masih tahap berkembang. Aku pun tidak tahu jika aku punya kemampuan sihir cahaya, sihir itu ke luar begitu saja saat keadaan terdesak, yaitu saat aku ingin menolong kalian dari roh kegelapan," ungkap Raisa
"Dengan sihir elemen tanah! Aku bisa merasakan apa pun yang ada di tanah melalui getaran, entah itu di atas atau di bawah tanah," jelas Raisa
"Kalau begitu, kenapa kau masih butuh bantuanku saat harus mencari sumber air untuk dijadikan sumur saat itu?" tanya Ian
"Karena pernah dan masih dalam masa kekeringan, aku sulit merasakan air di dalam tanah. Kadar air yang menyusut sulit kurasakan getarannya apa lagi sifat air itu tenang, lagi pula kemampuan ini masih perlu kuasah karena cukup sulit juga untuk menguasainya," ungkap Raisa
"Kalau begitu, ceritakan juga kemampuanmu tentang roh kegelapan! Bagaimana cara kau menguasai sihir tentang itu?" tanya Morgan
"Kau penasaran tentang itu? Bukankah sudah kubilang aku menemukan buku kuno tentang sihir roh? Menceritakan itu di sini rasanya kurang nyaman," ujar Raisa
Mengingat keberadaannya sedang dalam gerbong kereta membuat Raisa tidak nyaman mengungkapkan kemampuan sihirnya. Banyak telinga yang bisa mendengar percakapan mereka di sana, walau bukan sesuatu yang harus dirahasiakan, tapi Raisa khawatir ada orang yang akan menyalah-gunakan teknik sihir tingkat tinggi itu.
"Sayang sekali! Padahal aku sangat ingin tahu," kata Morgan
"Teknik sihir roh adalah sihir tersulit yang pernah kupelajari sejauh ini karena tekniknya menyangkut pengendalian emosi dan ketenangan batin atau roh kita sendiri. Ada tiga jenis elemen sihir yang bisa menguasai teknik sihir roh pada bagian tertentu. Yaitu, sihir air yang bisa menenangkan amarah roh kegelapan yang tak terkendali dan mengobati pasien yang terkena pengaruh roh pada pada tahap awal, sihir api yang bisa nengobati pasien yang terkena pengaruh roh pada tahap tersulit, dan sihir angin yang membuat roh pribadi mencari keberadaan roh korban yang menghilang," ungkap Raisa
"Hanya itu yang bisa kuceritakan. Jika ingin tahu lebih banyak, lain kali akan kubawakan buku kuno teknik sihir roh untuk kalian pelajari sendiri. Walau jenis sihir dunia kita berbeda, mungkin saja kalian berjodoh dengan jenis sihir dari dunia asalku. Seperti sihirku yang juga bisa kugunakan di dunia ini, itu artinya sihir duniaku cocok dan berjodoh dengan sihir di dunia ini. Apa ada pertanyaan lainnya lagi?" sambung Raisa bertanya.
"Tentang Phoenix! Burung Api Legendaris itu, bagaimana caramu menaklukkannya? Gerakan apa yang kau gunakan saat menghadapi burung api itu saat di pedalaman hutan?" tanya Aqila
"Sebenarnya bukan menaklukan juga, sih! Lebih tepatnya Phoenix itu mengenali gerakan suci itu," kata Raisa
"Ceritakan lebih jelas," pinta Chilla
"Pernah dengar tidak? Kalau Naga dan Phoenix atau Burung Api itu adalah keselarasan yang tak bisa dipisahkan!?" ujar Raisa bertanya.
Devan mengangguk karena pernah mendengar ungkapan seperti itu.
"Menurut legenda di duniaku, Phoenix adalah Master pengendali api suci setelah Naga yang artinya teknik pengendalian api keduanya selaras seperti makhluk pengendali yang berpasangan. Maksudnya bukan berarti keduanya adalah pasangan dengan artian sesungguhnya, tapi setiap ada pengendalian api Naga pasti ada pengendalian api Phoenix yang menjaga keselarasan pengendalian api suci. Gerakan yang kutunjukkan di hadapan Phoenix saat di pedalaman hutan adalah Harmoni Tarian Pengendalian Suci Naga Api. Phoenix mengakui dan mengenali gerakanku saat itu dan menjadi tenang setelahnya," jelas Raisa
"Jadi, itulah sebabnya saat kau menari, Phoenix seperti ikut nengiringi tarianmu?" tanya Aqila lagi demi memperjelasnya.
Raisa mengangguk.
"Jika, yang kulakukan adalah tarian manusianya, maka Phoenix melakukan tarian burungnya. Kalau saja juga ada Naga di sana, mungkin dia juga ikut menari tariannya sendiri. Maka, jadilah keselarasan tiga tarian pengendalian api suci yang dilakukan oleh manusia, Phoenix, dan Naga. Makanya, saat menari aku juga melakukan pengendalian api di saat yang bersamaan," ungkap Raisa
"Ada juga hal seperti itu, ya. Sayangnya saat itu terjadi hanya Aqila dan Rumi yang melihatnya secara langsung," ucap Ian
"Namun, bukankah Phoenix mengakuimu sebagai Tuannya? Katanya, kau adalah wujud dari reinkarnasi dari Dewi sebelumnya?" tanya Rumi ikut menanggapi.
"Itu keyakinannya. Phoenix meyakini aku adalah Dewi karena seorang reinkarnasi. Darah dan sihir yang ada di dalam diriku adalah yang pernah dimiliki Dewi sebelumnya. Aku hanya menghargai keyakinannya, namun aku tidak merasa begitu. Aku tidak meyakini diriku adalah seorang Dewi karena aku adalah manusia biasa. Aku hanya merasa dia percaya padaku karena aku mengetahui gerakan pengendalian api suci yang murni. Dia percaya aku adalah orang baik, itulah keyakinanku. Mungkin karena aku mengetahui gerak tarian pengendalian api suci yang sudah lama terlupakan dan sangat jarang ada yang mengetahuinya, Phoenix jadi menganggapku seorang Dewi. Itu pendapatku, semua kembali pada keyakinan masing-masing," jawab Raisa
"Kau tidak ingin menjadi atau dianggap sebagai seorang Dewi, Raisa? Bukankah menjadi Dewi adalah hal yang hebat?" tanya Devan
__ADS_1
Raisa menggeleng.
"Bagiku tidak! Apa hebatnya menjadi Dewi kalau mereka yang menganggap dirinya Dewa atau Dewi hanya bisa merusak dunia seperti yang kalian lihat sebelum-sebelumnya ... " ujar Raisa
"Benar. Akhir-akhir ini kita selalu berurusan dengan Dewa yang kejam," kata Chilla
"Semuanya hanya seperti sifat atau kata yang berpasangan dan hanya berbeda tipis. Senang-Sedih, Sehat-Sakit, Kuat-Lemah, Mudah-Sulit, Cinta-Benci, Baik-Jahat, Kasar-Halus, Indah-Buruk, Dewa-Iblis! Lebih baik jadi manusia yang biasa-biasa saja, tidak selalu berbuat baik, tapi tidak semuanya akan dinilai jahat. Karena manusia bisa punya kelebihan dan kekurangan masing-masing," ucap Raisa
Raisa pun tersenyum.
"Benar juga! Rumi, kau ada pertanyaan untuk Raisa lagi atau tidak? Dari tadi kau hanya diam atau bertanya sebagai tanggapan saja," ujar Morgan
Rumi terdiam tampak berpikir.
"Sebenarnya, kemarin apa yang kau tulis saat kita semua berada di luar panti bersama anak-anak, Raisa?" tanya Rumi
"Aku juga sempat mendengarnya, katanya itu rahasia, ya?" tanya Chilla
..."Ternyata, Rumi, masih penasaran dan diam-diam memikirkannya. Kalau tidak dibahas sekarang, mungkin aku juga akan lupa jika ingin memberi tahu pada mereka!" batin Raisa...
Raisa terkekeh kecil. Ia pun mengeluarkan sebuah buku dari tas yang dibawanya.
"Sebenarnya, ini bukan rahasia sungguhan, sih, ini hanya hobiku saja. Buku ini adalah kumpulan catatan misi yang pernah kujalani termasuk yang kali ini, aku mencatat selama misi berlangsung dengan detail. Aku menulis semua misiku karena suka saat-saat menulis, kupikir ini mungkin akan membantu. Karena laporan misi harus ditulis di kertas khusus, mungkin laporannya bisa disalin dari tulisanku. Kupikir ini bisa jadi kejutan, tapi sepertinya tidak juga karena tidak ada istimewanya sama sekali," ungkap Raisa
"Walau bukan kejutan, ini sungguh sangat membantu. Boleh kupinjam buku catatanmu, Raisa? Biar aku saja yang menulis laporan misi kali ini," ujar Aqila
"Silakan saja, aku memang berniat ingin meminjamkan bukunya. Catatan misi kali ini sudah kutempeli kertas penanda agar kau mudah menemukannya dalam sekali cari. Kau bisa kembalikan bukunya padaku kapan saja, Aqila," ucap Raisa
"Kupinjam dulu bukunya, ya, Raisa. Selesai menyalinnya, akan langsung kukembalikan padamu. Terima kasih," kata Aqila
Raisa mengangguk. Aqila pun menyimpan buku milik Raisa ke dalam tas yang dibawanya.
"Ternyata itu hanya catatan misi! Kupikir itu sangat rahasia sampai kau tidak ingin memberi tahu pada kami dan membuatku merasa sangat penasaran. Maafkan aku yang sudah berpikir macam-macam, Raisa," ucap Rumi
"Tidak apa. Wajar kalau kau merasa penasaran, kalau jadi kau pasti aku juga merasa begitu," kata Raisa memaklumi.
Setelah pertanyaannya dijawab dengan jelas, Rumi diam-diam merasa lega bahkan sampai tersenyum tipis.
Setelah sesi tanya jawab dalam bercerita, semuanya terdiam dan sibuk pada pikirannya masing-masing dalam mengistirahatkan diri.
Raisa memandang ke arah luar jendela dan tiba-tiba merasa sebuah firasat datang padanya.
Kereta berhenti di pemberhentian sebelum di Desa Daun. Namun, saat itu juga semua penumpang diminta untuk turun di stasiun tersebut.
"Ada apa lagi ini? Kenapa semuanya diminta turun di sini? Ini bukan stasiun pemberhentian kita, tujuan kita adalah stasiun berikutnya di Desa Daun ... " bingung Ian bertanya-tanya.
Semuanya pun terpaksa turun di sana saat itu juga sesuai arahan.
"Hah, yang benar saja! Apa kita harus berjalan lagi sampai tujuan akhir? Memikirkannya saja sudah sangat melelahkan bagiku!" oceh Chilla
Semua pun membubarkan diri di stasiun tersebut, pergi ke tujuan masing-masing. Saat itu langkah Raisa terhenti dan raut wajahnya terlihat tidak baik.
"Ada apa, Raisa?" tanya Rumi ikut memberhentikan langkahnya.
Yang lain pun ikut berhenti.
Raisa memegangi dadanya dan merasa khawatir.
"Devan, apa kau merasakannya? Kalian semua juga?" tanya Raisa
Tidak ada yang mengerti dengan yang Raisa maksud, hanya Devan yang menganggukkan kepalanya dan raut wajahnya pun tak jauh berbeda dengan Raisa.
"Apa yang kalian berdua maksud? Kami tidak mengerti," ujar Morgan bertanya.
Melihat wajah Raisa dan Devan secara bergantian, yang lain jadi mengerti walau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu yang buruk sedang terjadi, itu adalah pertanda!
"Harap kalian tidak terkejut. Sejak masih dalam kereta setelah bercerita, aku merasa sesuatu yang buruk akan atau bahkan sedang terjadi. Awalnya aku harap ini hanya kekhawatiranku yang berlebihan, tapi saat semua penumpang diminta turun, aku rasa sesuatu memang terjadi," jelas Raisa
"Melihat wajah kalian berdua, sepertinya memang benar. Sepertinya petugas stasiun di sini juga melarang orang-orang pergi memasuki wilayah selanjutnya ... yaitu Desa Daun," ucap Aqila
"Apa pun yang terjadi, sepertinya kita harus segera kembali menuju ke Desa Daun! Ayo ... cepat," kata Devan
Raisa masih saja terdiam. Pandangannya menunduk dan tangannya langsung menggenggam tangan Rumi dengan sangat erat.
"Apa pun yang terjadi, aku mohon kalian semua dapat berjaga-jaga dan bisa melindungi diri sendiri," pesan Raisa
Begitu menyelesaikan ucapannya, Raisa langsung menatap Rumi lekat-lekat.
..."Terutama kau, Rumi! Walau tahu siapa yang akan dalam bahaya jika kembali ke Desa Daun, aku tidak mungkin bisa melarang jika semuanya ingin kembali. Jadi, aku harap semuanya akan baik-baik saja," batin Raisa...
Semua pun mengangguk.
Rumi menyentuh tangan Raisa yang menggenggam erat tangannya, menyalurkan rasa aman melalui sentuhan lembutnya.
"Tenanglah, Raisa. Aku akan selalu ada di dekatmu," kata Rumi
Raisa tersenyum karena mendengar hal yang ia inginkan. Raisa memang menginginkan Rumi ada di dekatnya. Bukan karena ingin dijaga oleh Rumi, melainkan ia yang ingin menjaga Rumi dari dekat.
Mereka bertujuh pun mulai bergegas menuju ke Desa Daun. Petugas stasiun di sana sempat melarang, namun mereka tetap bersikeras dan langsung pergi begitu saja dengan cepat.
"Bisa-bisanya kalian para bocah ingin menghentikanku?! Kalian tidak akan bisa menahanku di sini!"
.
__ADS_1
•
Bersambung...