
Menyadari ada yang aneh sekaligus janggal pada apa yang terjadi saat itu, Lina langsung menghubungi antek-anteknya yang berada di Puncak yang sudah ia bayar sebelumnya.
"Halo, Zara. Ini aku, Lina. Tolong kabari aku jika Raisa dan teman-temannya udah kembali ke vila di sana."
"Saya baru aja dari sana, Teh Lina. Saya lihat Teh Raisa dan teman-temannya udah balik. Mereka semua udah ada di vila lagi."
"Kamu serius? Kalau Arif yang bawa bus sama tunangannya itu sudah sampai di sana belum?"
"Iya, saya serius. Kalau Kang Arif dan Teh Sinta, belum sampai. Busnya aja belun kelihatan. Kan, gak mungkin kalau saya gak sadar atau lihat ada bus besar yang datang. Mereka berdua emang belum sampai. Mungkin Teh Raisa dan teman-temannya balik duluan ke sini."
"..." Lina terdiam merenung.
"Halo. Teh Lina? Sebenarnya, nih ... aneh. Bus yang dibawa Kang Arif, kan, udah disewa sama Teh Raisa. Tapi, kok Teh Raisa malah balik duluan gak naik bus sewaannya, ya, Teh? Aneh, kan? Sayang banget."
"Kalau soal itu, saya juga gak tahu. Udah dulu, ya. Saya tutup teleponnya. Terima kasih atas infonya, Zara."
"Sama-sama, Teh Lina."
Tut!
Sambungan telepon terputus.
Zara adalah anak dari Pak Danu, penjaga vila milik keluarga besar Raisa yang kini sedang Raisa tinggali bersama teman-temannya. Sesekali Zara ikut ke vila bersama orangtuanya untuk sekadar memeriksa atau bersih-bersih di sana.
Merasa Zara bisa dimanfaatkan untuk ikut memata-matai Raisa, Lina pun mengajaknya bekerja sama dengan membayarnya dengan sejumlah uang. Tidak ada orang yang tidak butuh uang. Karena itulah Zara setuju untuk bekerja sama setelah dibayar.
Zara tidak tahu apa-apa tentang alasan Lina membayarnya untuk jadi mata-mata. Zara hanya mengira Lina adalah penggemar Raisa, maka dari itulah Lina menyuruhnya memantau dan memata-matai Raisa. Zara tidak tahu jika Lina justru berniat jahat.
Setelah menelepon dan mendapat informasi dari Zara, Lina semakin merasa kejanggalan yang terjadi terlalu aneh, tapi nyata. Lina berulang kali berpikir ada kemungkinan yang terlewat olehnya, tapi itu tetap tidak mungkin. Terlalu mustahil dijabarkan seperti apa pun juga.
"Bahkan Zara pun bilang ini aneh. Yang lebih aneh lagi adalah Kak Raisa dan teman-teman udah ada di vila Puncak padahal baru ada lima menit setelah mereka menghilang dan bahkan Kang Arif dan Teh Sinta yang naik bus aja belum sampai di sana padahal bus mereka berdua udah lebih dulu pergi," gumam Lina
"Kalau pun Kak Raisa dan teman-temannya naik kendaraan lain, kayaknya gak mungkin mereka semua sampai duluan di Puncak sebelum Kang Arif dan Teh Sinta. Lebih gak mungkin lagi kalau mereka naik pesawat ke Puncak, kan? Ini seolah mereka pergi pakai pintu ke mana saja dari kantong ajaib Doraemon atau ... teleportasi! Sulap atau sihir atau teknologi? Apa mungkin ada yang seperti itu?" batin Lina yang sudah berusaha berpikir keras, tapi tetap tidak menemukan jawaban.
"Ini benar-benar aneh, terutama Kak Raisa! Aku harus selidiki ini sampai tuntas," gumam Lina
Karena telah diberitahu jika Raisa dan teman-temannya sudah ada di Puncak, Lina pun bergegas menuju ke Puncak untuk menyelidiki segala keanehan yang ia temukan.
Setelah tiba di Puncak, Lina malah langsung beristirahat di penginapannya karena merasa lelah terus menyetir mobil seorang diri bolak balik dari Jakarta ke Puncak. Sebagai gantinya, ia menyuruh Zara untuk pergi memantau ke vila yang Raisa tempati.
"Semua gara-gara Kak Raisa, aku jadi capek banget hari ini karena harus nyetir bolak-balik padahal malam aja belum datang. Untungnya aku punya anak buah," batin Lina
Menjelang malam, Rumi pergi menemui Raisa seorang diri dan ingin berduaan saja dengan gadis cantik itu.
Begitu melihat Raisa, Rumi langsung berhambur memeluk tubuh gadis tercintanya itu dan mendekapnya dengan erat.
Raisa merasa bingung dengan Rumi yang tiba-tiba memeluknya. Namun, Raisa tetap tidak dapat menolaknya.
"Kenapa tiba-tiba ... ada apa, Rumi?" tanya Raisa
Rumi melepaskan pelukannya dan mencium sekilas bibir Raisa, lalu menempelkan keningnya dengan kening pujaan hatinya itu.
"Terima kasih. Aku senang kau sudah memperjelas hubungan kita pada para media. Aku sudah melihat wawancaramu tadi dari internet," ucap Rumi
"Wawancara tadi sudah disiarkan di internet? Tapi, aku tidak memperjelas hubungan kita. Hubungan kita bahkan tidak jelas seperti ini. Maaf," ujar Raisa
"Tidak, ini sudah cukup. Kau mengungkap tentang diriku, lelaki yang kau suka. Aku sudah sangat senang dengan itu," kata Rumi
"Kau sangat mudah senang, tapi aku-"
"Jangan merasa tidak enak atau merasa bersalah padaku. Cukup berikan cintamu padaku saja." Rumi memotong ucapan Raisa agar gadis cantik itu tidak merasa rendah diri.
Raisa tersenyum mendapati kebaikan hati Rumi yang terus saja memaklumi dan menerimanya.
"Jadi, kau seperti ini hanya untuk berterima kasih padaku karena senang dengan hasil wawancara itu?" tanya Raisa
__ADS_1
"Aku lebih senang kau memelukku untuk berterima kasih dari pada menciumku. Itu seolah kau memanfaatkan kesempatan," sambung Raisa
"Itu karena aku tidak bisa menahan diri. Lagi pula, itu hanya kecupan," kata Rumi
"Rumi, apa yang kau pikirkan tentang masa depan kita atau yang ingin kau lakukan saat kita hanya sedang berdua?" tanya Raisa ingin menguji Rumi karena merasa penasaran.
Rumi tampak berpikir. Kemudian wajahnya langsung memerah sebelum ia sempat menjawab.
Raisa bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Rumi.
..."Ternyata, wajah Rumi bisa memerah juga. Terlihat menggemaskan," batin Raisa...
Namun, Raisa langsung tersadar. Ia tidak boleh merasa seperti itu saat melihat reaksi Rumi yang demikian.
"Ini berbahaya. Sepertinya kita tidak boleh sering bertemu hanya berdua saja seperti ini. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan," ucap Raisa langsung melangkah mundur untuk menjaga jaraknya dari Rumi.
"Tidak ... jangan. Aku janji akan menahan diri," kata Rumi
"Namun, sepertinya aku tidak boleh terlalu dekat denganmu," ujar Raisa
Rumi langsung terlihat murung. Ia harus ekstra menahan diri mulai sekarang. Pikirannya sudah jauh lebih dewasa.
Raisa terkekeh kecil. Padahal ia pun sulit menahan diri, tapi ia harus tetap tegas pada Rumi agar tidak saling melewati batas.
"Soal wawancara tadi pasti akan ditayangkan di televisi. Kalau kau masih ingin yang teman-teman tahu kita ini pacaran, maka mereka tidak boleh menonton televisi," ujar Raisa karena dalam wawancaranya dengan para reporter, ia mengungkap bahwa hubungannya dengan Rumi adalah hubungan tanpa status bukan sepasang kekasih.
"Sepertinya tidak ada waktu lagi untuk menonton televisi karena besok kami akan kembali ke dunia asal," kata Rumi dengan sedih hati.
"Rupanya begitu." Hanya dua kata itu yang bisa Raisa lontarkan karena ia pun sebenarnya enggan berpisah dengan Rumi dan teman-temannya.
Keesokan harinya.
Lina merasa kesal karena tidak dapat informasi apa pun dari Zara dengan alasan Raisa tidak membiarkannya berada di vila untuk sekadar bantu-bantu karena Raisa dan teman-temannya bisa mengurus semua hal di vila.
Raisa dengan baik hati terus menyuryuh Zara pulang karena bisa mengatasi semuanya tanpa bantuan. Zara pun terpaksa pergi tanpa mengantongi hasil atau informasi apa pun untuk dilaporkan pada Lina. Padahal Zara datang ke sana dengan niat ingin menjadi mata-mata untuk Lina.
Setelah diberitahu oleh Zara bahwa ia tidak dapat informasi apa-apa, hari ini Lina pun bergegas masuk ke pekarangan vila Raisa secara diam-diam tanpa diketahui orang. Lina benar-benar melakukan aksi mata-matanya seorang diri kali ini.
Dengan sangat hati-hati saat tidak ada orang yang melihat, Lina mulai mengintip ke dalam vila melalui jendela depan. Namun, ia tidak melihat ada orang di dalam ruangan tersebut. Lina pun beralih dan pindah mengintip di beberapa jendela samping setelah berjalan mengendap-endap. Lina mendapati targetnya berkumpul di dalam suatu ruangan di sana. Lina melihat Raisa sedang bicara dengan teman-temannya.
"Ternyata mereka semua ada di sini. Itu Rumi-ku! Tapi, kok mereka kelihatan lagi siap-siap, ya? Apa mereka mau pergi? Kalau mereka pergi berarti mereka akan ke luar dan aku juga harus segera pergi dari sini dong? Tapi, belum tentu juga. Jadi, aku pantau aja dulu," batin Lina
Usai sarapan bersama, kecuali Raisa yang memang pada dasarnya selalu berpakaian rapu, sebenarnya yang lain sedang bersiap-siap untuk kembali ke dunia asal mereka di dimensi lain.
Kini Raisa sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya.
"Kalian memang mau kembali hari ini, tapi apa tidak tunggu agak siang dulu baru pergi? Apa sekarang gak terlalu awal?" tanya Raisa
"Sebenarnya kami semua akhir-akhir ini memang sangat senggang sampai bisa berkunjung ke sini dalam formasi lengkap, tapi bukan itu yang penting. Kami harus kembali hari ini karena tidak mungkin kami berlama-lama di sini," ujar Aqila
"Lalu, alasan kami ingin pergi sekarang karena kalau terus ditunda-tunda takutnya kami malah semakin sulit untuk pergi karena enggan berpisah denganmu," sambung Aqila
"Kehidupan sehari-hari di sini sangat menyenangkan. Kami semua sangat menikmatinya. Semua berkat kau, Raisa," ungkap Rumi
"Aku hanya berusaha untuk jadi pemandu yang baik," kata Raisa
"Saat kau tidak sibuk, berkunjunglah juga ke tempat kami. Tidak ... datanglah karena di sana pun adalah rumahmu dan kau adalah bagian dari kami," ucap Morgan
"Sukses terus untuk karir gemilangmu. Nikmatilah saat-saat kau berjuang dengan rasa bahagia seperti saat ini. Jangan lupa harus tetap menjaga kondisi tubuh dan istirahat yang cukup," pesan Chilla
"Terima kasih." Raisa tersenyum senang.
Ada suatu perasaan yang membuatnya menoleh ke suatu titik. Raisa menyembunyikan perasaan waspadanya dan memeriksa hanya dengan lirikan mata.
Raisa yang tiba-tiba menoleh dan menatap ke arah jendela samping membuat Lina secara refleks berbalik dan merunduk agar tidak terlihat atau tertangkap basah dengan cara menyembunyikam diri.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba menoleh dan menatap ke sini, sih? Untung aku cepat bersembunyi. Gerak refleks-ku masih bagus," batin Lina
Karena tidakmelihat apa pun yang mencurigakan, Raisa membuang pandangannya dari jendela samping vila tersebut dan kembali fokus pada teman-temannya.
"Apa apa, Raisa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ian
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya teralihkan sesaat," jawab Raisa
"Apa kau merasa lelah, Raisa? Kenapa kau mendadak jadi tidak fokus?" tanya Rumi yang langsung merasa khawatir.
"Tidak. Aku hanya masih belum rela jika kalian pergi," jawab Raisa
"Aku juga masih ingin bersama Kak Raisa karena ini pertama kali kita bertemu dan dalam waktu lama," ucap Monica
"Lain kali kita masih bisa bertemu, Monica. Nanti aku yang akan menemuimu," kata Raisa
"Baiklah. Karena kalian ingin pergi, aku akan mengantar kalian," sambung Raisa
Raisa dan teman-temannya pun langsung beranjak menuju ke halaman belakang vila karena di sanalah tempat yang selalu digunakan untuk membuka portal sihir teleportasi.
"Jadi, teman-teman Kak Raisa mau pergi? Mereka mau pulang? Kenapa bukannya ke luar, tapi malah ke dalam?" batin Lina merasa heran.
Dari jendela samping itu, Lina mengikuti arah mereka semua pergi dari sisi samping luar vila. Ternyata, ia sampai pada halaman belakang vila dan melihat mereka semua ada di sana dari suatu sudut.
"Kenapa mereka malah ke halaman belakang? Mereka mau apa?" batin Lina merasa bingung.
Lina terus memantau situasi sebagai mata-mata.
"Raisa, kalau kau merasa lelah-"
"Tidak, aku tidak lelah sama sekali. Biar aku saja," kata Raisa yang langsung memotong ucapan Aqila yang berniat ingin membuka portal sihir teleportasi.
Namun, Raisa tidak nembiarkan Aqila bicara atau pun membuka teleportasi. Raisa yang akan melakukannya sendiri.
"Kalau kalian semua yakin ingin pergi sekarang, aku akan langsung membuka portalnya," ujar Raisa
"Kami memang yakin, tapi sepertinya kaulah yang tidak yakin, Raisa. Aku tahu kau dari tadi merasakan sesuatu yang disembunyikan dari kami. Sebenarnya ada apa?" tanya Devan
Raisa tersenyum tipis.
"Bukan begitu," singkat Raisa
Raisa pun menggerakkan satu tangannya dan saat itu juga portal sihir teleportasi pun terbuka. Raisa menggunakan kemanpuan sihirnya dan Lina melihat itu.
"Hanya saja sepertinya kepergian kalian harus tertunda karena kita kedatangan tamu tak diundang," ucap Raisa
Lina terperangah dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka telah melihat peristiwa besar yang tampak sangat mustahil untuk terjadi. Namun, itulah kenyataannya.
"Itu ... sihir! Kak Raisa bisa menggunakan sihir! Ternyata begitu, kalau begini semuanya jadi jelas. Inilah alasannya semua rangkaian tak masuk akal yang terjadi belakangan ini," batin Lina
Raisa menyadari orang lain yang menjadi tamu tak diundang ada di sana.
"Tamu tak diundang? Apa maksudmu? Siapa?" tanya Rumi
Lina tersenyum miring. Ia merasa sudah melihat rahasia besar Raisa dan telah menangkap basah dirinya. Lina pun dengan berani melangkah mendekat ke arah Raisa dan teman-temannya.
"Dia datang," ungkap Raisa
"Wah, wah, wah! Apa yang kulihat ini? Ada rahasia besar yang disembunyikan oleh Raisa si artis populer yang sedang terkenal dan lagi naik daun! Sungguh mengejutkan! Kak Raisa, kamu bisa menggunakan dan punya kemampuan sihir?" Lina muncul sambil menepuk-nepuk kedua tangannya seolah seperti boss besar yang memergoki kesalahan atau pengkhianatan anak buahnya.
Dengan tak tahu malu, Lina muncul sebagai tamu tak diundang.
.
•
__ADS_1
Bersambung ...