
Setelah lama mengobrol, akhirnya keempat teman Raisa pamit untuk pulang. Mereka tak mau lebih lama lagi mengganggu waktu istirahat Raisa di rumahnya.
Setelah berpamitan, Raisa nengantar keempat temannya sampai depan pintu rumahnya. Awalnya, keempat temannya itu melarang dan menyuruh Raisa istirahat saja di dalam rumahnya. Namun, Raisa bersih kukuh ingin mengantar mereka, toh hanya sampai depan pintu untuk melihat mereka pergi saja. Akhirnya keempat temannya menyetujui dan memperbolehkan keinginan Raisa untuk mengantar mereka sampai depan pintu rumahnya.
Raisa pun melambaikan tangan kanannya yang masih bebas bergerak saat melihat keempat temannya pergi menjauh dari rumahnya menggunakan sepeda motor mereka...
Terlalu fokus melihat kepergian keempat temannya, Raisa tidak sadar dan tiba-tiba merasakan sesuatu yang halus tengah menggeliat dan menggesek-gesek di kakinya. Raisa pun melirik ke arah kakinya dan terkejut dengan sesuatu yang menggemaskan itu...
"Ada kucing! Ih, lucu banget sih... Gemes deh!" Kata Raisa yang sudah berjongkok agar bisa menyentuh bulu-bulu halus kucing tersebut.
Kucing berbulu putih dan memiliki pupil mata berwarna biru itu sangat cantik dan menggemaskan! Raisa tak henti-hentinya mengusap-usap bulu-bulu halus kucing tersebut.
"Raisa, teman-teman kamu udah pada pulang ya?" Tanya Bu Vani sambil mencari keberadaan Raisa ke luar rumah.
"Iya, Bu. Barusan aja pada pergi naik motor." Jawab Raisa
"Kamu ngapain jongkok di situ? Emang gak capek? Gak pegal?" Tanya Bu Vani
"Enggak, Bu. Ini lagi main sama kucing sebentar. Ibu tahu gak ini kucing siapa?" Ujar Raisa
"Oh, kucing itu! Dia emang sering ke sini, terus Bapak-mu kasih makan. Ibu gak tahu itu kucing siapa, kayaknya gak ada yang punya deh." Ucap Bu Vani
"Oh, bagus deh kalau begitu!" Kata Raisa
Setelah berlama-lama bermain manja dengan bulu-bulu halus kucing putih itu, akhirnya Raisa menggendong kucing kecil itu menggunakan tangan kanannya yang masih bebas bergerak itu.
"Kamu mau ngapain sampai gendong-gendong kucing itu segala?" Tanya Bu Vani
"Mau aku pelihara." Jawab Raisa
"Kamu ini... Kasih makan sih boleh aja, gampang. Tapi, kalau sampai mau dipelihara segala emang gak masalah? Ingat loh, kamu gak boleh sampai kelelahan." Ujar Bu Vani
"Bisa, Bu, tenang aja. Kucing ini anteng kok nurut sama aku. Nih, lihat... Aku gendong begini dianya diam aja, dia bersahabat banget sama aku. Makanya, aku mau pelihara dia. Boleh kan, Bu?" Ucap Raisa diakhiri meminta izin pada sang Ibu untuk memelihara kucing kecil tersebut.
Miauw~
Kucing putih itu malah bertingkah inut dengan suara menggemaskannya...
"Kalau Ibu larang, pasti kamu tetap keukeuh mau pelihara kucing itu kan? Akhirnya malah bujuk Bapak-mu yang suka sama kucing juga. Ibu bolehin kamu pelihara kucing ini, tapi gak boleh sampai kecapekan cuma buat ngurusin dia doang. Kamu tetap harus ingat kondisi kamu sekarang..." Ucap Bu Vani sambil berpesan pada Raisa.
"Siap deh, Bu. Kalau cuma ngurus kucing kecil satu doang mah, aku gak bakal capek kok. Aku bawa ke halaman belakang lewat samping rumah aja deh." Kata Raisa
Akhirnya dari pada membuat sang Ibu mengomel karena membawa masuk kucing ke dalam rumah, Raisa pun membawa kucing putih itu ke belakang rumah sambil menggendongnya.
"Hei, kucing... Kamu harus ingat gak boleh masuk ke rumah ya, nanti Ibu bisa marah! Kamu cuma boleh di luar rumah, di halaman depan atau belakang, dan di kedua sisi samping rumah. Ngerti ya, harus ingat loh!" Gumam Raisa mengajak kucing dalam gendongannya untuk bicara.
Meong!
Seolah mengerti, kucing tersebut menyahut dengan meongannya...
Raisa bertekad untuk memelihara kucing imut tersebut.
•••
Keseharian Raisa kini mulai berjalan seperti biasa. Raisa juga sudah mulai kembali membuat konten video bersama Maura dan Nilam. Bersama dengan teman yang hampir tidak ada memori tentang mereka mungkin saja bisa memulihkan ingatan Raisa yang hilang. Seperti terapi yang berjalan baik, ingatan Raisa pun sedikit demi sedikit pulih secara perlahan. Walau tidak bisa mengingat semuanya secara langsung, setidaknya saat mampu mengingat hal yang dilupakannya, Raisa tidak lagi terganggu dengan rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba muncul.
Namun, ingatan yang terus berangsur kembali hanyalah ingatan tentang dunia aslinya berada. Ingatan dunia sihir? Tak ada satu pun ingatan itu yang menyangkut di antara salah satu dari sekian banyak ingatan yang mulai pulih. Seakan-akan Raisa telah melupakan semua tentang dunia yang berbeda itu. Karena rasa sakit saat mencoba mengingat tentang hal itu, kini Raisa hanya mengabaikan potongan ingatan yang pernah muncul sebelumnya. Semua telah terlupakan, seolah-olah ingatan itu tak pernah ada.
Saat di rumah, Raisa sering bermain bersama kucing putih miliknya yang kini telah diberi nama Mina.
..."Waktu menamai Mina, aku teringat dengan nama Mika. Aku seperti ingat itu adalah nama kucing seseorang. Lebih tepatnya seorang teman. Tapi, siapa? Semakin ingin diingat, semakin tak bisa untuk mengingat. Lelah sekali rasanya!" Batin Raisa...
Mina, si kucing putih itu kini sudah mulai tumbuh besar setelah beberapa minggu dipelihara. Terbukti dari perutnya yang mulai membuncit. Kini Mina sedang bermain di bawah tangan Raisa. Meminta Raisa untuk membelai lembut bulu halusnya.
"Mina, aku merasa melupakan sesuatu yang sepertinya penting bagiku. Aku ingin berusaha mengingat, tapi tidak bisa. Menurutmu, aku harus apa?" Gumam Raisa mengajak kucing peliharaannya berbicara.
Kucing putih itu terlihat bingung saat diajak bicara. Namun, ia malah menggesek-gesek kepalanya pada tangan Raisa.
"Tapi, tak apa Mina! Aku sudah hampir sepenuhnya sembuh. Ingatanku pun terus kembali. Jadi, kau tak perlu khawatir ya! Aku baik-baik saja sekarang." Ujar Raisa
Raisa memperhatikan tangan kirinya yang masih dibalut perban walau gipsnya sudah dilepas. Dan ia pun teringat sesuatu!
"Oh, iya! Hari ini kan waktunya periksa ke dokter!" Kata Raisa
Raisa pun beranjak menghampiri Bu Vani.
"Bu, hari ini kan aku ada jadwal periksa ke dokter. Aku lupa nih!" Ucap Raisa
"Oh, iya! Ibu juga lupa! Yah, tapi gimana dong? Bapak lagi kerja, Ibu mau jenguk Arini yang lagi sakit di rumahnya." Ujar Bu Vani
"Kalau nunggu siang, nanti jam dokternya keburu habis. Aku pergi sendiri ke rumah sakit deh. Ya, Bu? Gak apa, kan?" Ujar Raisa
"Apa gak mau tunggu besok aja ke rumah sakitnya?" Tanya Bu Vani
"Besok aku udah ada janji sama Maura dan Nilam. Aku pergi sendiri naik taksi aja deh, Bu. Aku bisa sendiri kok, nanti aku kabarin Ibu juga deh." Jawab Raisa
"Raihan, juga lagi ekskul di sekolahnya, sih! Kalau gak, kan, dia bisa temanin kamu ke rumah sakit. Benar nih, kamu gak apa pergi sendiri?" Ujar Bu Vani
Raisa pun mengangguk.
"Ya sudah. Kamu hati-hati dan kabarin Ibu ya!" Pesan Bu Vani
"Iya, Bu. Ya sudah, kalau begitu aku siap-siap dulu." Kata Raisa
Raisa pun bersiap dan mengganti pakaiannya untuk ke luar rumah. Setelah selesai dan berpamitan, Raisa pun pergi. Berangkat menuju rumah sakit setelah pesanan taksi online tiba di depan rumah.
•••
@ Rumah Sakit Pelita Kasih
__ADS_1
Setelah menunggu giliran antre untuk konsultasi dengan dokter, akhirnya Raisa pun dipanggil ke dalam ruang konsult.
"Raisa, ya? Bagaimana kabarmu?" Tanya dokter
"Baik, Dok." Jawab Raisa
"Sekarang waktunya periksa perban di tangan ya? Mari, saya lihat." Ujar Dokter
Raisa pun mengulurkan tangan kirinya. Dokter pun membuka perban di tangannya untuk memeriksa tangannya yang tempo hari patah tulang.
"Perbannya diganti secara teratur, kan? Hari ini datang sendiri aja?" Tanya Dokter
Raisa hanya mengangguk sebagai ganti jawabannya.
Dokter memerhatikan Raisa yang membisu dan terlihat tegang saat diperiksa.
"Tidak perlu tegang seperti itu, Raisa. Tanganmu pulih dengan baik. Bahkan mungkin kau sudah bisa melepas perbanmu hari ini juga. Ini ajaib sekali!" Ucap Dokter
"Benarkah?" Tanya Raisa
Dokter memang berkata seperti itu, namun Dokter itu pun terlihat seperti memikirkan sesuatu. Itu membuat Raisa merasa cemas dan kembali terlihat tegang.
"Ya, ini ajaib sekali! Bahkan seharusnya kamu masih memakai gips sampai tiga bulan lebih saat terjadi kecelakaan parah, tapi sekarang kamu malah sudah bisa bebas bahkan tanpa perban? Proses pemulihan tubuhmu terjadi sangat cepat! Ini sangat mengherankan! Makanya, saya bilang ini ajaib!" Ujar Dokter
Ekspresi wajah Raisa kembali mengalami perubahan. Sekarang ia tampak bingung...
"Mengetahui penjelasan suster yang mendengar cerita dari saksi saat kecelakaanmu terjadi, seharusnya tanganmu digips sampai setidaknya tiga bulan, barulah lepas gips dan menyisakan perban untuk pemulihan secara bertahap. Tapi, kamu malah lepas gips setelah satu bulan. Dan setelah 3 minggu lepas dari gips, kamu juga sudah bisa bebas tanpa perban? Ini bahkan belum genap dua bulan! Dari kecelakaan parah yang menimpamu, saat itu kamu terbilang masih mengalami luka yang ringan. Sesuatu yang aneh, tapi nyata! Bukankah itu ajaib?!" Ujar Dokter
Raisa semakin merasa bingung dengan penjelasan Dokter tentang kondisi tubuhnya.
"Raisa, coba katakan... Sebenarnya, apa rahasiamu? Apa kamu meminum obat lain selain yang saya resepkan? Atau ramuan herbal yang ternyata lebih cocok untuk pemulihanmu?" Tanya Dokter
"Tidak ada. Saya memang sempat minum obat herbal, tapi setelah konsultasi dengan Dokter dan Anda mengatakan untuk tidak meminumnya lagi, saya pun berhenti minum herbal itu. Apa pun itu saya adalah orang yang patuh pada petunjuk Dokter. Saya hanya minum obat dari Dokter dan mengganti perban saat di rumah sesuai anjuran Dokter." Jawab Raisa
"Lalu, sebenarnya kondisi apa yang terjadi padamu? Apa kamu memiliki hal seperti kemampuan khusus atau semacamnya?" Tanya Dokter
Raisa pun menaikkan sebelah alisnya, merasa heran dengan apa yang ditanyakan oleh Dokter padanya.
"Entahlah, saya juga tidak tahu. Kalau Dokter bertanya pada saya, lalu saya harus bertanya pada siapa? Lalu, saya juga tidak mengerti tentang kemampuan khusus yang Dokter bicarakan, saya tidak percaya hal semacam itu. Saya seperti ini mungkin hanya karena daya tahan tubuh atau proses pemulihan yang dimiliki tubuh saya memanglah cepat. Saya datang karena ingin konsultasi, menanyakan kondisi saya. Kalau Dokter bertanya macam-macam tentang hal yang tidak saya ketahui, lalu saya harus apa? Saya jadi bingung..." Ujar Raisa
"Jadi, kamu pun tidak tahu, ya..." Gumam Dokter
"Lalu, memangnya kenapa? Dokter ingin melakukan semacam percobaan eksperimen dengan atau pada tubuh saya? Begitu?" Tanya Raisa
"Tidak, saya hanya bertanya." Jawab Dokter
"Maaf, atas sikap saya ini, Dok. Tapi, saya tidak suka jika Dokter bertanya macam-macam seolah-olah sedang mengintrogasi dan mencurigai saya. Walau Dokter tidak bermaksud menjadikan saya seperti penjahat, saya tetap tidak suka itu." Ucap Raisa
"Saya mengerti. Maaf, saya terlalu berprasangka berlebihan. Ini hanya keingin-tahuan saya sebagai Dokter, juga demi kebaikan pasien. Mau bagaimana pun juga, saya harus tahu kondisi menyeluruh dari pasien yang saya tangani." Ujar Dokter
"Baik, saya juga bisa mengerti itu. Tidak masalah." Kata Raisa
"Ucapannya menjadi tajam saat dia merasa terancam seperti disudutkan. Ini seperti pertahanan diri. Tapi, sebenarnya dia memang tidak tahu, tidak menyadari, atau memang menyembunyikan sesuatu tentang kemampuan tubuhnya? Benar juga! Raisa kan juga mengalami amnesia sebelumnya!" Batin Dokter
"Ya, ingatan saya sudah banyak kembali. Aktivitas saya pun sudah kembali normal seperti sebelumnya." Jawab Raisa
"Apa perlu saya beri rujukan ke poliklinik psikolog atau neurolog? Supaya bisa lebih banyak ingatanmu yang pulih?" Tanya Dokter
"Saya rasa tidak perlu. Saya yakin itu akan pulih dengan sendirinya, lagi pula ingatan saya sudah hampir kembali seutuhnya." Jawab Raisa
"Jadi, hari ini hanya konsultasi patah tulang di tangan, ya. Seperti yang saya katakan, sebenarnya ini masih terlalu dini untuk Raisa terbebas dari balutan perban, walau saya merasa tanganmu sudah pulih. Jadi, saya sarankan untuk setidaknya Raisa di-rongten dulu." Kata Dokter
"Hari ini juga?" Tanya Raisa
Dokter pun mengangguk.
"Baiklah. Jadi, saya masih harus menunggu di sini?" Ujar Raisa
"Ya. Karena kamu juga datang sendirian, saya sendiri yang akan mengantar dan mengurus sesi rongten. Jadi, tunggulah sebentar saja." Ucap Dokter
Raisa pun mengangguk mengerti...
Ke luar dari ruang konsultasi, Raisa langsung mengabari Bu Vani. Jika, masih harus menunggu untuk melakukan pemeriksaan rongten lebih dulu dengan Dokter hari ini.
...
Setelah melakukan rongten, Raisa pun kembali berhadapan dengan Dokter.
"Jadi, bagaimana, Dok? Hasil rongten-nya tidak ke luar hari ini juga, kan?" Tanya Raisa
"Karena Raisa tidak mau tinggal untuk observasi lanjutan, saya perbolehkan Raisa pulang dengan bebas perban. Lagi pula, melihat hasil rongten di layar monitor tadi, sepertinya tanganmu sudah baik-baik saja. Tapi, tetap harus perhatikan pergerakan pada tangan yang sebelumnya patah itu. Sama seperti sebelumnya, tidak boleh banyak bergerak, tidak boleh mengangkat atau beraktivitas berat yang menggunakan tangan secara berlebihan. Pastikan istirahat yang cukup." Jawab Dokter
"Saya mengerti." Kata Raisa sambil menganggukkan kepala.
"Lalu, bagaimana rasanya setelah lepas perban?" Tanya Dokter
"Rasanya sangat lega, seperti sebelumnya berada di ruang sempit, lalu pergi ke tempat terbuka. Sedikit merasa pegal dan kebas karena sebelumnya terus dililit perban seperti diikat tali." Jawab Raisa
"Apa ada rasa ngilu atau linu?" Tanya Dokter
Raisa menggeleng...
"Bagus sekali. Sepertinya tanganmu sudah benar-benar baik-baik saja sekarang." Kata Dokter
"Jadi, saya sudah boleh pulang?" Tanya Raisa
"Ya. Harap kembali lagi tiga atau lima hari lagi untuk mengambil hasil rongten hari ini dan melakukan pemeriksaan akhir." Jawab Dokter
Raisa pun mengambil selembaran yang diberikan oleh Dokter untuk menebus hasil rongten dan jadwal pemeriksaan akhir untuk berikutnya nanti.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pulang dulu. Permisi, Dokter." Pamit Raisa
"Ya, silakan." Ujar Dokter
Sebelum pulang, Raisa lebih dulu mampir untuk membeli kue untuk camilan di rumah.
"Katanya, toko kue yang baru buka di sini terkenal karena rasa kuenya yang enak. Akhirnya ada kesempatan beli untuk cobain rasanya." Gumam Raisa
Setelah masuk dan mengantre untuk memesan kue untuk dibawa pulang, Raisa pun menunggu sambil duduk di salah satu kursi kosong di sana.
Suasana toko cukup ramai dan semua pun terlihat menantikan untuk merasakan lezatnya kue yang dirumorkan, yang sedang memakan kue pun terlihat sangat menikmatinya. Semua aman terkendali sampai seorang pria membuat keributan yang menghebohkan dengan membawa sebuah pisau di tangannya.
Raisa sudah curiga saat pertama kali pria tersebut melangkah masuk ke dalam toko. Bukannya pergi, Raisa malah mendekati seorang anak kecil yang terlihat sendirian tanpa penjagaan orang dewasa di sana. Takut-takut anak kecil itu menjadi sasaran orang jahat.
"Halo, Adik cantik! Lagi apa sendirian di sini? Kamu datang sama siapa ke sini?" Tanya Raisa menyapa anak kecil di sana.
Anak perempuan itu terdiam sambil memeluk erat boneka beruang kecil di tangannya. Ia tampak ketakutan saat Raisa menghampirinya.
"Gak usah takut! Kakak bukan orang jahat kok, kakak lagi nunggu kue yang kakak pesan di sini." Ujar Raisa
..."Aku justru mau selamatin kamu dari orang jahat! Tapi, bagus! Anak ini punya pertahanan dari orang asing." Batin Raisa...
Masih melakukan pendekatan walau yang diajak bicara enggan merespon. Pria yang dicurigai Raisa sebelumnya pun mulai melancarkan aksinya. Seorang wanita berteriak keras saat ditodong sebuah pisau olehnya. Semua pun nampak terkejut! Ada yang langsung pergi karena takut, ada juga yang mematung di tempat, dan ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk merekam situasi di sana.
"Semuanya diam di tempat! Kalau tidak, bakal ada banyak darah berceceran di sini! Jangan ada yang merekam! Jatuhkan HP kalian semua! Kalau sampai ada yang melanggar, bakal ada nyawa yang melayang di sini!"
Anak kecil yang Raisa ajak bicara semakin merasa takut dan ia pun lari karena tidak juga merasa aman saat di dekat Raisa yang asing baginya. Namun, itu membuatnya dalam bahaya. Seperti dugaan Raisa, pria jahat berpisau itu mulai mengganti sasarannya dan mengincar anak kecil yang berlarian itu.
Saat ingin mendapatkan anak kecil itu untuk menjadi sandera, Raisa pun mencegah pria jahat itu melakukan niatnya dengan mencekal salah satu tangannya.
"Mohon, jangan jadikan anak kecil sebagai sasaran niat jahat Anda!" Ucap Raisa dengan berani.
"Cih, berisik!"
Pria jahat itu pun mengayunkan pisaunya ke arah Raisa. Namun, dengan cepat Raisa dapat menghindar...
"Cuma cewek lemah aja mau sok jadi pahlawan! Kalau bukan dia, apa mau lo aja yang gua sandera?!"
Pria jahat itu lagi-lagi ingin menyerang Raisa...
"Cukup diam aja, kalau mau aman!"
Pria jahat itu memang bicara seperti itu, namun Raisa berhasil menahan tangannya yang memegang pisau. Mencekalnya dengan erat. Pria jahat itu berusaha menambah tenaganya supaya menang melawan Raisa. Raisa terus bertahan, lalu memelintir tangannya yang memegang pisau hingga pisau itu terjatuh ke lantai. Raisa pun meninju wajah pria tersebut dengan kencang!
"Cepat, lapor polisi!" Pekik Raisa
Seseorang di sana pun langsung menghubungi polisi seperti yang Raisa minta.
Raisa memblokir pergerakan pria jahat itu dengan memelintir kedua tangannya ke belakang badannya.
"Bawakan tali untuk mengikatnya!" Pinta Raisa
Seseorang pun bergerak cepat dan memberikan Raisa tali yang panjang. Raisa pun mengikat tangan serta badan penjahat tersebut ke tiang di dalam toko. Di akhir, Raisa memberikan tinjuan besar di perut pria jahat tersebut supaya tak mampu banyak bergerak.
"Banyak pilihan dalam hidup ini. Kenapa Anda malah memilih untuk menjadi penjahat? Sayang sekali!" Ujar Raisa
"Saya sudah memanggil polisi. Apa tidak apa dia dibiarkan di sini seperti ini?"
"Tidak apa. Saya akan bantu mengawasinya di sini." Kata Raisa
Anak kecil yang tadi Raisa selamatkan berlarian menghampiri wanita yang bersama Raisa. Ia memeluk kaki wanita itu dengan erat...
"Ibu!"
"Nak, kamu pasti ketakutan ya? Maafin Ibu yang gak bisa selalu sama kamu."
Anak kecil itu mengangguk.
"Kak, maafin aku tadi ya."
Raisa berjongkok untuk menyamai tinggi anak kecil tersebut. Lalu, tersenyum...
"Gak apa. Yang penting kamu baik-baik aja." Kata Raisa
"Bu, tadi kakak ini selametin aku dari penjahat itu."
"Terima kasih, Nona. Sekali lagi, terima kasih banyak! Anda sudah menyelamatkan toko saya, juga anak saya yang berharga. Saya berhutang budi pada Anda!"
..."Oh, ternyata dia anak pemilik toko ini. Pantas aja dia main sendirian, pasti karena Ibunya sibuk." Batin Raisa...
"Tidak perlu sampai berhutang budi. Saya juga hanya kebetulan datang. Saya tidak mungkin membiarkan anak kecil berada dalam bahaya." Ucap Raisa
"Walau begitu, saya tetap harus berterima kasih. Terima kasih banyak!"
"Sama-sama." Balas Raisa
-
Bersambung...
Kutipan Author:》
"Halo, semuanya!
Author kembali setelah 3 bulan HIATUS karena harus istirahat dan berobat. Seperti janji sebelumnya, cerita ini terus berlanjut sampai tamat nanti. Harap-harap masih ada yang terus menunggu dan mengintip cerita novel ini. Seperti biasa waktu update 3 hari/ eps, ya. Selamat menikmati cerita di episode kali ini... Dan, jumpa lagi tiga hari kedepan dan seterusnya~
Babay~~"
__ADS_1
^^^Salam rindu: Author^^^
^^^Dilawrsmr.^^^