Bertemu Dan Jatuh Cinta

Bertemu Dan Jatuh Cinta
[Season 2] 65 - Misi Terakhir Sementara.


__ADS_3

Raisa dan Rumi pergi ke suatu tempat makan untuk makan siang. Di sana keduanya kembali bertemu dengan pasangan dua tim. Yaitu, Amy-Dennis, Wanda-Billy, dan Sandra-Marcel.


Sayangnya, saat Raisa dan Rumi datang. Pasangan dua tim sudah menyelesaikan makan siangnya dan hendak pergi.


"Padahal sudah bertemu lagi, tapi sayangnya kami sudah harus pergi lagi," ujar Marcel


"Memangnya kalian semua sudah selesai makan? Kalian semua ingin pergi ke mana?" tanya Raisa


"Kami sibuk mengurus banyak hal. Ini dan itu," jawab Sandra


"Iya. Padahal aku masih ingin bersama Raisa ... mengobrol," kata Amy


"Sudah ... jangan mengganggu Raisa dan Rumi lagi. Biarkan saja mereka berdua," ucap Dennis yang langsung menggenggam tangan Amy.


Sejak diledek Raisa, Amy jadi mudah tersipu saat bersama Dennis, pacarnya. Raisa yang melihat itu hanya tersenyum kecil.


Ketiga pasangan itu tidak memberi tahu Raisa tentang hal yang mereka urus karena mengira Rumi sudah memberi tahu pacar cantiknya itu. Sedangkan Raisa, meski ingin tahu, ia segan untuk bertanya karena takut dibilang tukang ikut campur. Jadi, Raisa memilih untuk diam.


"Kalau begitu, kami tidak akan mengganggu kalian berdua lagi. Nikmatilah waktu makan siang kalian berdua di sini," ujar Billy


"Ya. Bersenang-senanglah dan sampai jumpa lagi," kata Wanda


"Sampai jumpa ... " balas Raisa


Ketiga pasangan itu pun beranjak ke luar dan pergi dari tempat makan tersebut. Sedangkan Raisa dan Rumi fokus pada pesanan makanan mereka berdua yang sudah diantar ke meja makan.


"Hari ini kita berdua hanya bertemu mereka berenam saja. Yang lainnya ke mana, ya?" tanya Raisa


"Mungkin yang lain juga sedang sibuk mengurus sesuatu," jawab Rumi


"Kalau begitu, mereka semua sangat sibuk, ya," ujar Raisa


Lagi-lagi, Raisa hanya memilih diam neski penasaran dengan apa yang membuat semuanya jadi sibuk akhir-akhir ini. Rumi pun menikmati diamnya Raisa tanpa memberi tahu apa pun pada gadis cantik tercintanya itu.


"Apa tidak masalah hanya kita berdua saja yang santai seperti ini?" tanya Raisa


"Tidak apa, yang lain pasti mengerti. Kita makan saja dulu dan pikirkan nanti masalah itu," jawab Rumi


Raisa pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dan setuju. Bagaimana pun juga makanan sudah dipesan dan telah dihidangkan.


"Selamat makan!"


"Selamat makan!"


Raisa dan Rumi pun menyantap hidangan makan siang yang sudah dipesan dan disuguhkan pada keduanya hingga keduanya pun menghabiskan dan menyelesaikan makan siang bersama.


"Terima kasih atas makanannya!"


"Terima kasih atas makanannya!"


Untuk makan siang kali ini, Rumi yang membayar seluruhnya. Biasanya Rumi dan Raisa membayar sendiri-sendiri secara terpisah.


Usai makan siang, Raisa dan Rumi pun beranjak ke luar dari tempat makan tersebut.


Setelah ke luar dari sana, keduanya bertemu dengan Devan, Ian, dan Chilla.


"Ternyata, benar ... kalian berdua ada di sini dan benar kata Tuan Pemimpin Desa. Kalau Raisa ada di Desa Daun," ujar Devan


"Kalian bertiga tahu kita berdua ada di sini dari siapa?" tanya Rumi


"Kami tahu dari Wanda dan yang lainnya. Kami bertemu mereka di jalan," jawab Chilla


"Raisa, apa kau tidak merasa heran ... kenapa Tuan Pemimpin Desa bisa tahu kau ada di Desa Daun?" tanya Ian


"Tidak. Aku tahu kalau Tuan Nathan bisa mengetahui tenaga sihir milik siapa saja yang ada di Desa Daun ini. Ibumu, Bibi Irene, juga punya kemanpuan ini. Jadi, mungkin juga ibumu yang memberi tahu Tuan Nathan tentang keberadaanku di Desa Daun," jelas Raisa


"Kupikir karena biasanya hanya kau yang tahu segalanya, kau juga merasa terheran-heran saat orang lain tahu tentang dirimu. Sampai aku jadi lupa jika kau memang tahu segalanya ... kau juga pasti tahu jika orang lain juga bisa tahu tentang dirimu," ucap Ian


"Tahu segalanya? Aku tidak sehebat itu," ujar Raisa


"Kau merendah untuk meroket, ya," kata Chilla

__ADS_1


"Tidak seperti itu kok. Omong-omong, ada perlu apa sampai kalian bertiga mencari dan menemui kami berdua di sini?" tanya Raisa


"Tuan Pemimpin Desa mencari Rumi untuk sebuah misi bersama kami. Tapi, karena katanya kau juga ada di sini, kami disuruh sekalian memanggil kalian berdua saja," jawab Devan


"Sepertinya itu terdengar penting. Ayo, kita pergi sekarang saja," kata Raisa


Mereka berlima pun beranjak pergi bersama menuju kantor Pemimpin Desa untuk memenuhi panggilan.


Begitu sampai, mereka berlima langsung masuk ke dalam ruangan Pemimpin Desa. Begitu masuk ke dalam, ternyata di sana sudah ada Morgan dan Amon yang menunggu bersama Tuan Nathan dan Tuan Rafka selaku Pemimpin Desa dan Penasehatnya.


"Maaf, sudah memanggil kalian semua secara mendadak, terutama Rumi dan Raisa yang baru kembali dari kediaman Tuan Rommy," ucap Tuan Nathan


"Tuan Rommy sendiri yang mengatakan padaku lewat telepon bahwa putra dan putrinya baru saja kembali ke Desa Daun. Aku sempat bingung, siapa yang dia maksud dengan putrinya. Setelah kupikir-pikir itu pasti Raisa," sambung Tuan Nathan


Setelah Tuan Nathan berkata seperti itu, semua orang di sana langsung menatap ke arah Rumi dan Raisa secara bergantian. Semua bertanya-tanya tentang sebutan putri untuk Raisa dari Tuan Rommy dan perkiraan mereka jatuh pada mengira bahwa Raisa telah diakui sebagai putri Tuan Rommy karena Rumi telah resmi memperkenalkannya sebagai pasangan yang akan hidup bersama.


Sementara semua merasa penasaran, Rumi dan Raisa malah terlihat sangat fokus seolah menanti alasan pemanggilan misi kali ini karena merasa panggilan kali ini sangat penting. Namun, di balik fokusnya, sebenarnya Raisa sedang menahan rasa malu. Sedangkan, Rumi tampak sangat senang dan tenang.


"Tidak perlu lanjut basa-basi lagi. Panggilan dadakan kali ini karena adanya misi teramat penting dan sangat mendesak yang membutuhkan kinerja kalian semua sekaligus untuk bekerja sama," ungkap Tuan Rafka


"Lokasi tujuan misi adalah perbatasan antara Desa Lumpur dan Desa Batu, Negara Tanah. Kalian harus menangkap buronan yang mencuri benda langka bersejarah milik Negara Api kita. Pastikan kalian membawa buronan serta mengamankan kembali benda bersejarah yang langka itu. Kalian harus pergi malam ini juga," sambung Tuan Rafka


Tuan Nathan pun menyerahkan sebuah gulungan kertas.


"Data dan informasi penting misi kali ini sudah tertulis di gulungan kertas ini," kata Tuan Nathan


"Misi ini akan berbahaya bagi kalian, tapi kalian semua harus kembali dengan selamat. Terutama kau, Morgan. Ini akan jadi misi terakhir sementara untukmu," sambung Tuan Nathan selaku Ayah Morgan.


"Misi terakhir sementara ... kenapa begitu?" tanya Raisa yang awalnya hanya bergumam.


"Kau belum tahu, Raisa? Apa Rumi masih belum memberi tahu padamu?" tanya balik Amon


Raisa menggeleng pelan seolah menjawab belum tahu dan tidak ada yang memberi tahu.


"Setelah misi ini, Morgan akan diberhentikan sementara dari penerimaan misi karena sebentar lagi dia dan Aqila akan menikah. Dia akan mengambil cuti panjang," jelas Tuan Rafka


"Itu sebabnya Aqila tidak ikut dalam misi kali ini. Karena dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Morgan," ungkap Chilla


Sejujurnya Raisa sangat terkejut dengan informasi yang terlambat diketahuinya ini. Namun, ia berusaha bersikap normal seperti biasa.


"Raisa tidak bertanya. Kupikir dia akan senang jika mengetahuinya sendiri," kata Rumi


"Hei, Rumi! Hal seperti ini tidak penting bagi Raisa bertanya atau tidak, atau tahu dari siapa. Yang jelas dia harus tahu. Itu saja," ujar Devan


"Rumi memang tipe orang yang kurang peka. Harusnya aku yang lebih sensitif dan bertanya lebih dulu," ucap Raisa


"Maaf, terlambat mengetahui tentang pernikahanmu dan kuucapkan selamat untukmu, Morgan. Untuk Tuan Nathan juga," sambung Raisa


"Ya. Ayahku juga menitipkan salam dan ucapan selamat untuk Tuan Pemimpin Desa," ungkap Rumi


"Masih terlalu awal kalian mengucapkan selamat, Raisa, Rumi," kata Tuan Nathan


"Benar kata Ayah. Pernikahanku dan Aqila masih dalam tahap persiapan. Itu masih lama sekali. Bukankah terlalu awal untuk kalian mempersiapkan hadiah?" tanya Morgan


"Harus mempersiapkannya dari sekarang kalau tidak saat sudah dekat hari pernikahanmu, kami sudah kehabisan hadiah bagus untuk diberikan untukmu dan Aqila nanti," jawab Chilla


"Kalau begitu, terserah kalian saja. Padahal tidak memberi hadiah pun tidak apa," ujar Morgan


"Tidak bisa seperti itu dong," kata Amon


"Kalau memang benar, sebentar lagi Morgan akan menikah. Apa tidak masalah jika Morgan ikut dalam misi kali ini? Bukankah ini adalah misi yang berbahaya?" tanya Raisa


"Tidak apa. Aku akan tetap ikut," jawab Morgan


"Seperti yang sudah kukatakan, misi ini butuh kerja sama kalian semua karena ini misi yang sulit. Semua sudah dipertimbangkan sebelumnya, jadi tidak apa. Namun, aku berharap kalian semua bisa kembali dengan selamat," jelas Tuan Nathan


"Malam ini kalian semua pergilah sebelum terlalu larut dan cepatlah kembali setelah menyelesaikan misi," kata Tuan Rafka


"Jika ini adalah misi penting, kenapa kami semua harus pergi malam ini juga? Bukankah kami harus melakukan persiapan yang matang lebih dulu?" tanya Devan


"Karena keberadaan target kali ini selalu berubah-ubah dan selalu berpindah-pindah karena telah menjadi buronan dalam waktu yang sangat lama. Dia sangat pandai menghilangkan jejak," jawab Tuan Rafka selaku Ayah Devan.

__ADS_1


"Apa yang harus kami perhatikan dalam misi kali ini?" tanya Raisa


"Buronan kali ini sangat hebat dan memiliki banyak tipu muslihat. Keberadaannya di dekat Desa Lumpur juga sesuatu yang berbahaya. Karena dari yang terdengar, wilayah itu kini sudah menjadi wilayah abu-abu dari Negara Tanah yang artinya tempat itu tidak terjamah oleh hukum setempat dan termasuk tempat perkumpulan para penjahat kelas atas. Kalian harus sangat berhati-hati," ungkap Tuan Nathan


"Baik. Kami mengerti!"


Setelah pembicaraan tentamg misi selesai, Morgan, Amon, Rumi, Raisa, Chilla, Ian, dan Devan pun ke luar dari ruang kerja Pemimpin Desa.


Mereka pun harus mulai bersiap-siap dari sekarang sebelum keberangkatan misi di malam hari.


"Sepertinya kita harus segera bersiap-siap dari sekarang," kata Amon


"Kau benar," sahut Morgan


"Morgan, kau harus temui Aqila dulu sebelum pergi dan beri tahu padanya agar dia tidak terlalu merasa khawatir," ujar Chilla


"Aqila pasti bisa mengerti. Tapi, ya. Aku pasti akan memberi tahu dia," kata Morgan


"Lalu, kalian berdua juga ... Rumi dan Raisa," timpal Ian


"Ada apa dengan kami berdua?" tanya Rumi


"Entah bagaimana bisa kalian berdua sampai bisa kurang komunikasi. Bisa-bisanya Raisa tidak tahu tentang pernikahan Morgan dan Aqila, padahal kalian berdua bahkan pergi ke tempat Tuan Rommy bersama-sama," ujar Ian


"Kalau ada kesalah-pahaman atau apa pun itu, selesaikan dulu sekarang. Jangan sampai kalian berdua tidak kompak dan mengacaukan misi kita nantinya," sambung Ian


"Benar kata Ian. Bicaralah baik-baik dan bersiap-siaplah. Kita akan berkumpul di stasiun kereta listrik begitu hari mulai gelap. Lebih cepat pergi maka akan lebih baik," ucap Devan


Usai mengambil keputusan, mereka semua pun membubarkan diri.


Setelah semua bubar, kini hanya tersisa Raisa dan Rumi.


"Raisa, apa kau marah karena aku tidak memberi tahu padamu soal pernikahan Morgan dan Aqila?" tanya Rumi


"Tidak kok," jawab Raisa sambil tersenyum.


"Lebih baik kita pulang untuk bersiap-siap untuk misi malam ini," sambung Raisa


Raisa dan Rumi pun bergegas pulang untuk bersiap.


Meski saat pulang lebih dulu melewati rumah Rumi. Namun, lelaki tampan itu tidak pulang ke rumahnya dan malah ikut Raisa pulang ke rumah gadis cantik itu. Dan Raisa membiarkan Rumi masuk ke dalam rumahnya tanpa sadar.


"Rumi, kok kau malah ikut ke rumahku? Kenapa tidak pulang ke rumahmu?" tanya Raisa begitu sadar Rumi terikut masuk ke dalam rumahnya.


"Raisa, kau marah padaku, ya? Kenapa sedari tadi kau diam saja?" tanya balik Rumi


"Setiap kali aku sedang berpikir tentang hal lain, kau selalu saja mengira aku sedang marah. Apa di matamu aku ini orang yang pemarah?" tanya balik Raisa lagi.


"Tentu saja, tidak. Kau adalah orang yang lembut dan pengertian," jawab Rumi


"Tapi, kau terdiam setelah tahu tentang pernikahan Morgan dan Aqila. Kalau kau tidak marah karena aku tidak memberi tahu padamu tentang pernikahan mereka berdua, lalu kenapa kau terdiam begitu lama?" tanya Rumi melanjutkan.


"Pernikahan Aqila dan Morgan memang penting, tapi itu pun masih tahap perencanaan dan persiapan. Itu tidak jadi prioritasku sekarang. Aku hanya sedang memikirkan soal misi kita malam ini dan aku tidak marah padamu tentang apa pun," jawab Raisa


"Kau memang tipe orang yang seperti ini. Kurang peduli dan kurang peka terhadap situasi. Aku tidak masalah untuk itu dan tidak boleh bagiku untuk selalu mempermasalahkannya. Aku juga bukan tipe orang yang selalu memperhitungkan masalah kecil. Intinya aku tidak marah," sambung Raisa


"Kau tidak marah? Sungguh?" tanya Rumi lagi untuk lebih meyakinkan.


Merasa lelah terus ditanyai dan dikira sedang marah, Raisa pun menatap ke arah Rumi dengan serius.


"Sebenarnya bukan berarti aku tidak marah juga, sih. Agak kesal rasanya saat terlambat tahu informasi penting seperti ini. Karena itu ... bolehkah aku lampiaskan rasa kesalku padamu?" tanya balik Raisa


"Silakan. Kau boleh lakukan apa saja padaku," jawab Rumi sambil mengangguk pelan.


Rumi pun bersiap untuk mendapat hukuman dari Raisa. Lelaki itu mengira akan mendapat pukulan keras pada salah satu bagian tubuhnya. Namun, gadis cantik tercintanya itu malah hanya menarik hidungnya.


Raisa menarik hidung Rumi sekeras mungkin hingga berwarna merah.


.


__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2