
Di pagi hari ini, banyak yang sudah menjenguk Raisa di rumah sakit. Mereka datang bersamaan. Morgan, Aqila. Devan, Ian, Chilla. Marcel, Dennis, Billy. Sanari, Amy, Wanda.
"Raisa, kami datang!"
"Ah, masuklah. Kalian datang sepagi ini. Memangnya tidak sibuk?" ujar Raisa bertanya, menyapa semua.
"Tidak. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu kami sudah tidak menerima tugas. Lalu, kejadian pertarungan besar itu terjadi. Sekarang semua orang sibuk memulihkan diri. Kau pun terluka karena itu," ungkap Aqila
"Raisa, kami bawakan buah-buahan untukmu," ujar Amy
Amy pun memberikan sepaket buah-buahan pada Raisa. Raisa pun menerimanya dengan senang hati.
"Terima kasih banyak. Aku jadi merepotkan kalian," ucap Raisa
"Tidak kok. Supaya kau cepat pulih," kata Wanda
"Ibuku juga menitipkan bunga ini untukmu. Dia bilang, 'Maaf telah mencurigaimu sebelumnya. Terima kasih sudah banyak membantu kami. Dan, semoga kau cepat sembuh'. Dia mengharuskanku mengatakan semuanya padamu. Sekarang aku sudah menyampaikan pesannya," ucap Ian
Ian memberikan serangkaian bunga pada Raisa. Raisa pun menerimanya.
"Cantik sekali! Sampaikan ucapan terima kasihku pada Bibi Irene. Aku minta maaf jika keadaanku malah menguras isi tokonya, maaf telah merepotkan," ujar Raisa
"Kau juga tau Ibuku memiliki toko bunga?" tanya Ian terheran.
"Tentu saja ... aku tau," kata Raisa
"Sebenarnya apa saja, sih, yang kau tau tentang kami? Jangan-jangan kau juga mengetahui semua rahasia kami," selidik Ian
"Memangnya kalian punya rahasia apa?" tanya balik Raisa
"Tidak ada sih," kata Ian
"Kalau begitu, kalian tak perlu khawatir. Hal yang kutau hanya hal-hal yang wajar saja kok," ungkap Raisa
"Biar ku bukakan paket buah ini untukmu, Raisa. Berikan itu padaku. Kau mau makan apa? Kau harus makan sesuatu karena kau belum makan sama sekali," ucap Rumi
"Terima kasih. Tolong ambilkan saja apel untukku," ujar Raisa
Rumi pun mengambil bingkisan buah-buahan dari tangan Raisa. Dan mengambilkan buah apel untuk Raisa lalu memberikan padanya. Yang kemudian Raisa memakan buah apel tersebut.
"Buah-buahan ini ada banyak. Aku takkan bisa menghabiskannya sendiri. Kalian juga makanlah sesuatu darinya. Tidak apa, kan, Amy?" ujar Raisa bertanya.
"Sebenarnya buah-buahan itu kami semua yang membelikannya untukmu," ujar Sanari
"Kalian kan membelikannya untukku, kita makan bersama saja," jata Raisa
"Kalau begitu, aku ambil satu ya. Terima kasih, Raisa," ucap Chilla yang mengambil satu jenis buah dari paket tersebut dan memakannya.
"Hei, kau! Apa-apaan kau? Kau yang membelikan untuk orang, kau juga yang memakannya," tegur Devan
"Raisa saja tidak masalah. Aku pun sudah berterima kasih padanya," ujar Chilla
"Iya, Chilla. Dari pada kau, Rumi lebih berhak. Karena dia yang selalu menjaga Raisa selama dia tak sadarkan diri," ucap Morgan
"Kalau begitu, Rumi juga ambil saja buahnya," kata Chilla
__ADS_1
"Tunggu. Apa maksudnya, Rumi menjagaku selama itu?" tanya Raisa yang dikejutkan oleh apa yang didengarnya.
"Benar. Rumi selalu berada di sampingmu setelah kejadian itu. Dia menjagamu selama ini," jelas Marcel
"Kenapa kau melakukannya, Rumi? Kau pasti sangat tidak nyaman menjagaku sepanjang hari." ujar Raisa bertanya.
"Sudah kubilang, maksudku hanya ingin berterima kasih padamu," ucap Rumi
"Apa maksudmu, berterima kasih? Saat itu, Raisa menyelamatkan Morgan bukan kau, Rumi," ujar Billy
"Karena, Morgan adalah Matahariku," ungkap Rumi
"Hei, Rumi! Kau jangan mengatakan seperti itu di depan teman-teman," ucap Morgan
"Oh ya, Raisa. Terima kasih karena kau sudah menyelamatkanku malam itu," sambung Morgan
"Tugasku adalah memastikan kalian semua baik-baik saja. Tak perlu sungkan seperti itu," ucap Raisa
"Rumi, kalau begitu, kau makanlah sesuatu dari buah-buahan ini. Kau tidak boleh menolaknya, aku memaksamu. Aku tidak tau sama sekali tentang kau yang selalu menjagaku, padahal kau tidak perlu melakukannya," ujar Raisa
"Baiklah. Aku akan ambil satu. Terima kasih," kata Rumi lalu mengambil salah satu dari buah-buahan tersebut, lalu memakannya.
"Aku yang seharusnya banyak berterima kasih padamu, Rumi. Kau sudah menyelamatkanku saat aku terjatuh malam itu dan kau juga menjagaku selama ini. Terima kasih banyak," ucap Raisa
"Sesama teman tidak perlu sungkan," kata Rumi
"Sekarang, bagaimana keadaanmu, Raisa? Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Dennis
"Aku baik-baik saja. Jauh lebih baik dari saat pertama aku sadar semalam. Toh, aku takkan mati," jawab Raisa
"Percaya diri itu bagus. Tapi, sepertinya kau berlebihan. Mana ada manusia yang tidak mati. Kematian pun hal yang tidak bisa ditebak," ucap Devan
"Seperti biasa, kau memang percaya diri," kata Morgan
"Bukankah sama saja sepertimu? Dan setidaknya, jika aku mati di sini pun, aku tidak akan mati di waktu dekat ini. Karena perjalananku di sini baru saja dimulai," ucap Raisa
"Tapi, sepertinya ... dari kejadian ini kalian jadi tau tentang kelemahanku ya. Aku harap kalian masih mau berteman denganku," sambung Raisa yang terlihat agak sedih.
"Tentu saja! Sebelumnya, kami hanya salah paham mengiramu punya niat jahat. Memiliki fisik lemah hanya salah satu kekuranganmu. Namun, kau masih punya banyak kelebihan. Kebaikanmu menolong kami, juga kekuatanmu sangatlah hebat," hibur Morgan
Raisa tersenyum hangat.
"Aku tersanjung! Benar-benar senang sekali mendengarnya dari mulutmu, walau kutau kau hanya menghiburku. Kau juga tak kalah hebat dariku," yjar Raisa
"Itu sih sudah pasti," kata Morgan. Raisa terkekeh pelan mendengarnya.
"Oh ya, Raisa. Aku hampir lupa. Aku membawakan tas kecil yang kau bawa saat itu. Mama menyimpannya untukmu dan sekarang kukembalikan padamu. Dan, ini pakaianmu. Sudah bersih," ujar Aqila
Aqila pun memberikan pakaian lengkap dan sebuah tas pinggang (khusus wanita) milik Raisa pada sang pemiliknya. Dan Raisa menerimanya dengan sumringah...
(*saat ini Raisa sedang memakai pakaian pasien rumah sakit.)
"Terima kasih banyak, Aqila. Tas ini sangat penting untukku. Kalau kau tak mengatakannya, aku pun akan lupa dan kehilangan barangku, bajuku juga sudah dicuci bersih. Sampaikan juga terima kasihku pada Mamamu karena telah menyimpannya untukku," ucap Raisa
"Di dalam tas kecil itu, memangnya kau bisa membawa barang penting apa?" tanya Wanda
__ADS_1
"Isinya benda yang umum dipakai saja. Tapi, ini penting bagiku. Seperti dompet berisi uang dan kartu tanda kependudukanku di dimensi duniaku. Minyak aroma terapi (roll on), masker (penutup hidung dan mulut), dan ponsel," ungkap Raisa
"Selain dompet, apa pentingnya benda lain milikmu, Raisa? Sepertinya benda itu biasa saja?" tanya Sanari
"Kalian juga tau fisikku lemah. Aku membutuhkan minyak angin jika merasa tak enak badan. Kelemahanku adalah dingin! Jika kedinginan, minyak angin ini bisa sedikit membantu menghangatkanku. Aku juga lemah terhadap polusi udara atau bau menyengat. Entah itu, asap, debu, atau bau yang tidak sedap, masker ini membantuku meminimalisir menghirupnya. Dan, ini ponsel atau telpon seluler, ini benda pribadi. Atau juga telpon genggam, fungsinya sama seperti telepon tapi berada digenggaman dan mudah dibawa. Di duniaku disebut handphone atau HP. Sebenarnya, ponsel ini mungkin tidak berfungsi di sini. Karena sinyal di duniaku pasti berbeda dengan dunia ini, aku tidak bisa menghubungi siapa pun. Tapi, ponsel ini dilengkapi kamera, dan mungkin saja jika hanya kameranya saja, masih bisa berfungsi di sini," jelas Raisa
"Jadi, maksudmu kita bisa menggunakannya untuk berfoto?" tanya Wanda
"Tentu! Mungkin saja bisa. Coba, aku akan membuka aplikasi kameranya," ujar Raisa
Raisa pun membuka aplikasi kamera pada ponselnya. Mengaturnya pada kamera depan. Melihat layar ponselnya, ternyata kamera ponselnya masih berfungsi walau bukan di dunianya.
"Berfungsi! Kalau begitu, ayo! Kita semua berfoto bersama," jata Raisa sekaligus mengajak semua berfoto bersama.
Raisa pun menekuk kedua kakinya, agar yang lain dapat berkumpul mendekat untuk berfoto bersama.
"Siapa yang akan mengambil gambarnya? Siapa yang tangannya lebih panjang, aku minta tolong pegangi ponselnya dan memfoto," ycap Raisa
"Biar aku saja," kata Rumi
Raisa pun memberikan ponselnya pada Rumi dan memintanya memotret mereka semua termasuk dirinya. Rumi pun menerima ponsel Raisa.
"Mohon bantuanmu, Rumi. Kau bisa menekan tombol kamera di tengah bawah situ jika sudah siap untuk memotret," ujar Raisa
"Aku mengerti," kata Rumi
Rumi pun memegangi ponsel Raisa. Menggunakan sihir untuk memanjangkan lengan tangannya. Mencari posisi yang pas untuk berfoto...
"Baikah... Bersiap. 1 2, 3!" Rumi mengucapkan aba-aba.
Cekrek!
Cekrekk~
"Sekali lagi," kata Marcel
Cekrek...
"Coba, lihat hasilnya ... " girang Morgan
Rumi memberikan kemnali ponsel tersebut pada Raisa. Semua mendekat untuk melihat hasil fotonya.
"Bagus! Terima kasih, Rumi ... " ucap Raisa
Raisa menoleh pada Rumi. Ternyata, Rumi berada tepat di sampingnya. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Raisa saat asik melihat hasil jepretannya pada layar ponsel Raisa. Jantung Raisa mulai kembali berpacu.
DEG! DEG...
DEG~
"Sudah kuduga, aku selalu tetap cantik!" puji Chilla pada dirinya sendiri.
"Hebat! Aku bisa meminta Papaku untuk memproduksinya. Tapi, bgaimana cara membuat benda ini?" ucap Denis bertanya-tanya
"Ehm~ Aku juga tak tau. Aku hanya tinggal memakainya setelah membelinya di toko yang ada di duniaku," jawab Raisa. Mendengar Dennis tertarik dengan ponselnya, Raisa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak lagi memandang Rumi.
__ADS_1
•
Bersambung...