
Setelah mengetahui tentang Arga dan Daffa, Rumi jadi merasa penasaran dengan lelaki lain yang mungkin juga pernah disukai oleh sang istri.
"Selain dua lelaki itu, Arga dan Daffa, apa kau pernah menyukai lelaki lain lagi?" tanya Rumi
"Banyak. Kan, sudah kubilang kalau aku suka dengan sesuatu yang indah. Setiap merasa ada yang tampan, aku langsung menyukainya. Ini memang memalukan, tapi aku tetap perempuan normal. Aku tidak mungkin menceritakannya satu per satu, tapi yang kali ini aku sudah pernah mengatakannya padamu bahwa aku pernah berpacaran dulu saat kelas menengah sekolah menegah atas. Mantan pacarku itu bernama Bayu. Lalu, jauh sebelum mereka semua aku pernah suka dengan teman kecilku, namanya Beni," ungkap Raisa
"Apa aku ini lelaki yang tidak normal karena tidak pernah menyukai perempuan lain selain dan sebelum mengenal dirimu?" tanya Rumi yang merasa dirinya salah karena telah bertanya hal seperti itu.
"Jadi, apa kau merasa aku ini bukan pilihan yang normal dan tidak tepat untukmu, begitu? Atau kau seolah mengatakan aku yang tidak normal? Apa maksudmu pertanyaanmu itu?" tanya balik Raisa yang rasa sensitif hatinya jadi bangkit.
"Tidak, bukan seperti itu maksudku, Sayang. Aku hanya diriku agak aneh, kan?" tanya balik Rumi lagi.
"Jadi, aku ini orang aneh yang kau pilih, begitu?" tanya balik Raisa lagi
"Bukan seperti itu juga. Kau salah paham dengan maksud perkataanku, Sayang," jawab Rumi
Rumi merasa takut dengan reaksi Raisa yang salah paham dengannya. Apa lagi saat ini sikap dan suasana hati sang istri seolah berubah-ubah. Saat sang istri merajuk Rumi langsung merasa takut kehilangan jika saja sang istri memilih untuk meninggalkannya. Rumi pun merutuki dirinya sendiri yang salah dalam mengajukan pertanyaan.
Raisa yang memasang wajah ketus sambil cemberut langsung berubah menjadi tersenyum.
"Aku mengerti kok, tapi aku tidak suka jika kau menilai atau memandang dirimu aneh, tidak normal, atau rendah. Dulu kau hanya belum mengerti yang namanya cinta dan bahkan tidak peduli dengan hal semacam itu. Itu bukan hal yang salah, aneh, rendah, atau tidak normal. Semua orang memang berbeda-beda," ucap Raisa
"Ya, memang benar. Aku baru mengerti dan mengenal apa yang namanya cinta setelah aku bertemu denganmu. Aku merasa bersyukur karena kau hadir hingga membuatku mengerti dan merasakan cinta itu sendiri. Aku sangat beruntung saat bisa mempersunting dirimu sebagai istriku dan menjadi suamimu," ucap Rumi
"Aku juga sama. Sebelum mengenal dan bertemu dirimu, aku memang sudah banyak menyukai lelaki, tapi saat menyukai mereka yang ada aku malah berakhir dengan perasaan sakit hati. Aku merasa sangat bersyukur dan beruntung saat ternyata kaulah jodohku," ungkap Raisa
Yang Rumi tahu, para wanita memang sulit ditebak. Namun, kali ini berbeda. Raisa yang sikap dan suasana hatinya mudah berubah membuat Rumi merasa aneh dan penasaran sekaligus merasa sang istri sangat sulit untuk ditebak.
"Sayang, kau jangan marah, ya ... dengar, aku ingin bertanya. Ada apa denganmu? Sejak pulang ke rumah kau jadi agak aneh dan sepertinya suasana hatimu jadi berubah-ubah. Apa ada sesuatu yang kau rasakan dan kau sembunyikan?" tanya Rumi
"Memangnya aku terlihat seperti apa?" tanya balik Raisa
"Hmm ... entahlah. Saat pergi kau baik-baik saja, tapi setelah pulang kau bahkan terburu-buru mengganti pakaian seolah kau tidak nyaman memakainya yang padahal awalnya kau sangat senang saat menggunakannya, kau tiba-tiba seperti sedang merajuk, tapi katamu hanya bercanda. Kau mudah jadi cemberut, lalu tersenyum lagi," jelas Rumi
"Aku tidak tahu kalau aku seperti itu dan juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Mungkin karena aku sedang lapar dan ingin makan, makanya suasana hatiku jadi mudah berubah-ubah," ungkap Raisa
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Apa benar hanya karena itu ... kau ingin makan?" tanya Rumi lagi.
"Ya, aku ingin makan, tapi malas karena tidak ada makanan di rumah karena aku belum masak," jawab Raisa
"Kali ini kau yang pesankan makanan untuk kita makan dari aplikasi pemesanan online dong, Sayang. Aku ingin makan makanan yang berkuah. Pesankan saja soto rawon dan soto babat. Aku sangat ingin coba makan itu. Tidak perlu pesan nasinya karena kalau nasi aku sudah buat di rumah. Pesan dari yang jual terdekat saja supaya lebih cepat sampai," sambung Raisa meminta.
"Baiklah. Akan langsung kupesan sekarang," kata Rumi
Rumi pun langsung mengeluarkan ponsel dari saku miliknya san memesan makanan yang sang istri inginkan dari aplikasi pemesanan online dengan cara yang telah diajarkan oleh sang istri padanya.
Saat Rumi masih sedang memesan makanan lewat aplikasi pemesanan online menggunakan ponselnya, Raisa tiba-tiba saja mendekat hingga bersandar pada bahu sang suami dengan manja dan mesra.
"Sebentar, ya, Sayang. Makanannya baru selesai kupesan. Kau sudah merasa lapar, ya?" tanya Rumi
"Memang, sih ... tapi, aku hanya sedang merasa senang saat ini," jawab Raisa sambil tersenyum manis ke arah sang suami.
Rumi langsung mengecup bibir sang istri sekilas. Pria itu merasa istrinya terlihat sangat menggemaskan saat sedang bermanja dengannya. Berbeda jika saat sedang merajuk yang membuatnya seolah serba salah. Rumi memang merasa senang jika sang istri sedang ingin bermanja mesra dengannya seperti saat ini.
Keduanya pun menunggu hingga pesanan sampai sambil melanjutkan menonton serial kartun di TV. Raisa terus beesandar pada bahu milik sang suami dan Rumi pun merengkuh pinggang milik sang istri dari belakang.
Saat bel rumah berbunyi, Raisa langsung menegakkan tubuh dari posisi duduknya.
"Itu mungkin pesanan makanan yang sudah tiba. Aku ingin cepat makan, jadi tolong kau buka pintu untuk ambil dan bayar pesanannya, ya, Sayang. Aku akan langsung menyiapkan nasi untuk kita makan bersama," ujar Raisa
"Baiklah," kata Rumi
"Nanti langsung menuju meja makan saja, ya, Suamiku!" seru Raisa yang langsung memberikan kecupan singkat di pipi kanan sang suami.
__ADS_1
Raisa langsung bangkit berdiri dan beranjak menuju ke dapur, sedangkan Rumi bangkit berdiri dan berjalan menuju ke luar rumah untuk mengambil pesanan layanan antar makanan dengan perasaan senang setelah mendapat kecupan manis dari sang istri.
Usai menerima dan membayar makanan yang dipesan, Rumi kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke meja makan seperti yang sudah dikatakan oleh sang istri.
Rumi melihat sang istri yang baru saja selesai menata piring nasi di atas meja makan.
Raisa meletakkan dua mangkuk kosong untuk wadah 2 soto, dua piring nasi lengkap dengan sendok, dan dua gelas air minum untuknya makan bersama sang suami.
"Kau sudah mengambil pesanannya, kan, Sayang? Ke marilah ... makan bersamaku," ujar Raisa
"Ya. Biar aku saja yang menuangkan soto pesananmu ke mangkuk," kata Rumi
Raisa dan Rumi pun duduk di kursi yang berbeda dengan meja makan yang memisahkan keduanya yang duduk dengan posisi berhadapan. Lalu, Rumi langsung menuangkan masing-masing soto rawon dan soto babat ke dalam mangkuk yang berbeda.
Raisa terus menatap ke arah sang suami sambil tersenyum manis.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar ingin makan sotonya, ya, Sayang?" tanya Rumi
"Kan, yang kulihat bukan sotonya, tapi dirimu," kata Raisa
"Lalu, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang ingin kau makan adalah aku, bukan sotonya?" tanya Rumi lagi.
"Karena kau tampan, aku menyukaimu dan mencintaimu. Aku juga merasa sangat berterima kasih padamu, makanya aku tidak bisa berhenti menatapmu," ungkap Raisa
"Aku merasa senang mendengarnya. Kalau bukan karena saat ini kita sedang ingin makan, mungkin aku yang akan memakanmu. Namun, sudahlah ... kita makan saja dulu sekarang," ujar Rumi
Dua soto pun sudah dituangkan oleh Rumi ke dalam mangkuk yang berbeda dan Raisa terkekeh pelan setelah mendengar perkataan sang suami. Lalu, keduanya pun mulai makan bersama.
"Selamat makan!" seru Raisa dan Rumi secara bersamaan.
Dua soto itu tidak dimakan masing-masing satu mangkuk porsi oleh Raisa dan Rumi. Melainkan keduanya saling berbagi dua soto itu bersama.
"Kau terlihat sangat ingin makan dua soto ini. Apa kau sudah pernah makan kedua soto ini sebelumnya?" tanya Rumi
"Kedua bahan utama soto ini adalah jeroan sapi. Terasa enak. Meski belum pernah makan sotonya, olahan babat lain sudah pernah kumakan sebelumnya," sambung Raisa
Keduanya makan bersama hingga hanya menyisakan alat bekas makan saja.
"Bagaimana rasa makanannya? Enak tidak?" tanya Raisa
"Apa pun yang kumakan bersamamu akan selalu terasa enak, tapi aku lebih menyukai masakan buatanmu," jawab Rumi
"Kau selalu saja menjawab seperti itu. Harusnya tadi aku tidak usah bertanya saja," kata Raisa
"Apa kau senang setelah bisa makan makanan yang kau mau?" tanya Rumi
Raisa mengangguk sambil teesenyum senang sebagai ganti jawabannya atas pertanyaan dari sang suami.
"Sayang, maaf, ya ... karena kau jadi kena imbas dari keanehan suasana hatiku yang berubah-ubah saat ini. Aku juga tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini. Lain kali aku akan beri tahu padamu jika suasana hatiku sedang tidak enak, jadi kau tidak perlu terkena pengaruhnya seperti saat ini," ujar Raisa
"Tidak apa. Ya, tapi kau bisa selalu mengatakan padaku apa pun yang kau rasakan," kata Rumi
Raisa tersenyum senang saat Rumi membelai rambut dan kepalanya dengan penuh cinta kasih dan kelembutan.
Sebenarnya, Raisa sudah menduga alasan perubahab suasana hatinya yang drastis saat ini dan kemungkinannya adalah fifty-fifty. Namun, memang karena suasana hatinya yang sedang berubah-ubah saat ini, wanita itu tidak terlalu memedulikannya.
...
Malam harinya.
Raisa dan Rumi baru saja masuk ke dalam kamar, bersiap untuk istirahat dan tidur.
Begitu masuk ke dalam kamar, Raisa langsung merebahkan tubuhnya dengan asal di atas ranjang dalam posisi telentang, lalu wanita itu menghela nafas cukup panjang.
__ADS_1
"Entah kenapa rasanya aku sangat lelah, padahal setelah pulang kita hanya bersantai di rumah," gumam Raisa
"Mungkin memang karena sejak pagi hingga menjelang sore hari ini kau terus beraktivitas di luar, makanya kau jadi merasa lelah," ujar Rumi
"Selain itu aku juga mengantuk dan rasanya ingin langsung tudur saja," kata Raisa yang langsung memejamkan kedua matanya.
"Jangan tidur dulu, Sayang. Ganti pakaianmu dulu sebelum tidur," ucap Rumi
"Baiklah," patuh Raisa yang langsung membuka kembali kedua matanya.
Raisa pun bangkit dari posisi rebahnya dan melihat Rumi yang sedang berganti pakaian di sana. Meski masih merasa agak canggung setiap melihat sang suami membuka pakaian di depan matanya, Raisa hanya bisa membiarkannya saja. Karena hal itu memang wajar terjadi pada insan suami istri seperti mereka berdua.
Raisa mengambil piyama tidurnya dan langsung beranjak untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Usai ke luar dari kamar mandi, Raisa melihat Rumi yang menepuk-nepuk posisi kosong ranjang di sebelanya. Meminta istri cantiknya itu ikut berbaring bersama di sampingnya.
Raisa tersenyum dan langsung menghampiri sang suami untuk berbaring bersama.
Rumi langsung memeluk tubuh sang istri begitu wanita itu berbaring di sampingnya.
"Kita selalu tidur sambil saling berpelukan, sebenarnya dari dulu aku juga ingin merasakan tidur dengan kepalaku berada di atas dadamu. Tapi, aku takut memberatkanmu dan membuat dadamu jadi terasa sesak, belum lagi jika aku malah ileran di atas pakaianmu. Kan, jadinya bukan menyenangkan, tapi malah memalukan," ungkap Raisa
"Tidak apa kok. Kau bisa mencobanya sekarang," kata Rumi
Sambil terkekeh kecil, Rumi langsung mengangkat bagian atas tubuh sang istri dan menaruh kepala Raisa untuk berbaring di atas dadanya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rumi
"Rasanya sangat nyaman karena aku bisa mendengar suara detak jantungmu," jawab Raisa
"Katamu, kau merasa lelah? Apa kau juga merasa pegal? Apa kau butuh aku untuk memijat tubuhmu?" tanya Rumi
"Bukankah kau juga tahu yang membuatku merasa lelah adalah karena hampir seharian ini aku terus saja berdiri? Jika terus berdiri itu bukannya yang terasa pegal adalah kaki? Kenapa malah tanganmu berusaha memijat bagian yang lain?" tanya balik Raisa
"Karena saat terlalu lama berdiri yang terasa pegal itu bukan hanya kaki, tapi pinggang juga. Lalu, aku juga bisa memijat kakimu ... nanti," jelas Rumi
Saat ini satu tangan Rumi mulai menyelusup masuk ke dalam pakaian tidur Raisa dan menjalar ke sana ke mari di balik balutan kain itu.
Raisa langsung mengarahkan kepalanya untuk menatap sang suami. Dan karena suasana yang telah tercipta dan sangat mendukung itu, akhirnya pasangan suami istri itu saling menempelkan bibir satu sama lain.
Baru beberapa detik berciuman dan tangan Rumi yang mulai dnaik dari meraba perut sang istri berpindah ke gundukan dada, Raisa merasakan sesuatu hingga menginterupsi dengan cara melepaskan tautannya dari sang suami.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rumi saat menyadari ekspresi wajah sang istri tidak biasa.
"Sebentar. Aku merasa perutku sakit. Maaf, Sayang," jawab Raisa
Raisa langsung bangkit dari ranjang dan berlarian masuk ke dalam kamar mandi.
Rumi pun hanya bisa menghela nafas panjang karena aktvitas menuju belah durennya menjadi tertunda atau mungkin malah gagal sepenuhnya. Namun, pria itu lebih merasa khawatir dengan keadaan sang istri saat ini.
"Sayang, ada apa denganmu? Apa perutmu terasa sangat sakit?" tanya Rumi dengan sedikit berteriak.
"Tidak apa kok. Aku baik-baik saja," jawab Raisa dengan suara keras dari dalam kamar mandi.
Rumi menunggu sang istri ke luar dari kamar mandi sambil terduduk di atas ranjang. Karena merasa sang istri telah cukup lama berada di dalam kamar mandi, Rumi pun ingin memeriksa dari dekat. Namun, baru saja hendak bangkit, Raisa sudah lebih dulu ke luar dari dalam kamar mandi.
"Bagaimana, Sayang? Apa perutmu masih terasa sakit?" tanya Rumi
Raisa menggeleng pelan sambil terus berjalan menghanpiri sang suami yang duduk di atas ranjang.
.
•
__ADS_1
Bersambung.